Imagine ✨

Hansel sibuk mengolesi roti tawar dengan coklat Nutella kesukaannya. Beberapa kali melirik sang kekasih yang duduk di hadapannya. Sedangkan Ara sepertinya tak punya nafsu makan setelah bertengkar kecil dengan Hansel, dua tangannya sibuk memainkan ponsel. Lelaki itu lebih baik diam dari pada berdebat dengan Ara. Percuma, Ara terlalu keras kepala.

Satu potong roti ia sodorkan pada sang kekasih namun Ara masih diam saja.

“Kamu marah? Nggak mau sarapan?” Tanya Hansel sembari mengunyah secuil roti. Kekasihnya masih membisu, dan tidak sedetikpun menatap wajah Hansel.

Lelaki itu beranjak dari duduknya, membuka lemari es dan mengambil sekotak susu cair. Menuangkan susu itu ke dalam gelas dan ia letakkan di atas meja, tepat dihadapan Ara.

“Kalau nggak mau makan roti, minum susu aja.” Pinta Hansel. Wanita itu menatap sekilas wajah kekasihnya. Kemudian meraih gelas itu dan meminumnya hingga habis. Hansel berjalan meninggalkan Ara yang masih duduk di ruang makan. Ia ke ruang tengah dan merebahkan tubuhnya pada sofa.

Ara masih tak bergeming tetapi beberapa menit setelahnya, wanita itu menoleh ke belakang dan melihat kekasihnya tengah melihat tayangan televisi secara acak. Akhirnya Ara membuang jauh rasa gengsinya terhadap Hansel. Rasa rindu yang tertahan karena jarak membuat dirinya tidak bisa diam lebih lama lagi. Wanita itu berjalan menghampiri Hansel dan tiba-tiba merubuhkan dirinya di samping sang kekasih kemudian memeluknya sangat erat.

“Aku kangen tapi kamu ngambek?” Tanya Ara tiba-tiba.

“Ngambek? Aku apa kamu?”

Ara membisu. Seharusnya Hansel berhak marah, bukan dirinya.

“Ra, aku cuma pengen kamu jujur aja. Aku nggak akan marah.” Ujarnya. Raut wajah Ara memerah seketika. Kemudian memeluk tubuh Hansel, lebih erat lagi. Menatap kekasihnya dari bawah, memasang wajah memohon agar Hansel tidak marah padanya. Lelaki itu-pun membalas tatapan Ara, mengunci dua matanya hingga Ara terlihat sedikit salah tingkah. Hansel tersenyum tipis lalu mengecup singkat bibir Ara.

“Kangen?” Tanya Hansel. Wanita itu hanya menganggukkan kepala saja.

Hansel kembali tersenyum, tangannya merapikan dan menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga Ara. Menangkup pipi wanitanya lalu mencium bibirnya pelan. Berciuman dengan Ara sangat candu baginya, menikmati rasa manis bibir Ara hingga kelamaan melumatnya dengan sangat rakus. Hansel memang belum menuntaskan hasratnya, mood-nya hilang dalam sekejap setelah melihat kaus milik sahabatnya sendiri tergantung di belakang pintu kamar mandi. Meskipun Ara berusaha menutupi, toh tidak akan bertahan lama. Hansel sempat mencari tau kebenaran lewat pesan yang di kirim untuk Marcell. Dan sahabatnya itu sengaja berkata jujur. Tinggal tunggu waktu saja, apa yang akan di lakukan Hansel selanjutnya.

Lumatan yang terkesan sangat menuntut itu membuat Ara kehabisan nafas. Ia melepas pagutan dua bibir mereka, dengan tatapan sayu Ara tersenyum tipis pada sang kekasih.

“Ayo lanjut yang tadi pagi..” Pinta Ara sedikit merengek. Sedangkan Hansel terkekeh melihat kekasih hati merengek dan manja padanya.

“Jadi kamu mau sarapan yang lain?” Ucap Hansel sembari merentangkan kedua tangannya. Wanita itu-pun masuk ke dalam pelukannya, kemudian Hansel membawanya dengan menggendong tubuh Ara bak seekor koala. Senyum sumringah terbit di bibir manis Ara dan beberapa kali mengecup pipi kanan dan kiri Hansel.

Batin Ara, ia berhasil membuat Hansel tak lagi marah dengannya.

Setibanya di kamar, Hansel merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang. Menindih tubuh Ara dan menyerangnya dengan kecupan-kecupan singkat pada bibir sang kekasih. Dua tangannya melucuti baju yang di kenakan Ara, kemudian menciumi lehernya, menyesap hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tangan Hansel meremas perlahan payudara milik Ara dan sesekali memainkan putingnya.

Lenguhan dan desahan kecil keluar dari bibir Ara. Jemari Hansel sangat lihai memberikan rangsangan untuknya. Sesekali Ara meremas rambut Hansel saat lelaki itu menggigit kecil puting kemerahan miliknya.

Ara sesungguhnya teramat sangat merindukan Hansel. Senyumnya, canda dan tawanya, bahkan aroma tubuh lelaki itu seperti candu. Perlahan jemari lelaki itu meraba bagian bawah sang kekasih yang sudah lembab dan basah. Menyapa klitoris milik Ara dan memutarnya perlahan, membuat sang empu mendesah karena nikmat.

“Baru bentar udah basah banget, sayang..” Kata Hansel, jarinya masih sibuk memainkan milik Ara di bawah sana. Raut wajah Ara memerah dan tersipu, ia tersenyum tipis sembari memandang wajah Hansel yang begitu manis.

Karena sudah sangat basah, tanpa aba-aba Hansel memasukkan dua jari sekaligus ke dalam liang vagina milik Ara. Sang kekasih sedikit tersentak, tangannya meremas sprei dan mendesah kencang sembari memejamkan matanya. Hansel tak pernah gagal, jarinya sangat lihai menciptakan rasa nikmat untuk dirinya.

Hansel menggoda kekasihnya dengan melumat payudara secara bergantian. Sesekali menggigit putingnya dan memainkannya dengan lidah. Dua jarinya mengoyak liang kenikmatan sang kekasih hingga membuatnya terus mendesah kenikmatan.

“Aahhh... Sel, terushh..” Lenguhnya.

Hansel menikmati pemandangan indah di hadapannya, saat Ara terlihat sangat frustasi ingin mendapatkan pelepasannya. Suara desahan yang semakin kencang, serta tubuhnya terus menggeliat resah. Lelaki itu tersenyum tipis lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir sang kekasih.

“Sel.. M-mau keluar..” Ucap Ara ketika sebentar lagi ia hendak mencapai klimaksnya. Hansel menambah tempo kocokan di bawah sana, membuat wanita itu mengerang sembari meremas lengan Hansel. Desahan kencang keluar dari bibir Ara bersamaan dengan cairan miliknya yang membasahi jari Hansel.

Lelaki itu mengeluarkan dua jarinya, menyesap sisa cairan milik kekasihnya.

“Manis, kayak kamu sayang.” Ujarnya.

Ara hanya menatap lamat wajah sang kekasih sembari mengatur nafasnya. Hansel merangkak di sebelah Ara berbaring, mengambil pengaman di laci nakas. Hansel sengaja menyimpan beberapa condom untuk berjaga-jaga ketika ia pulang dan menginap di apartemen Ara.

Lelaki itu menggigit ujung kemasan guna merobek plastik pembungkusnya. Kemudian mengenakan pada miliknya sendiri sembari menatap sang puan. Wajah Ara memerah dan menggigit bibir bawahnya saat melihat batang penis milik Hansel yang sudah menegang sempurna.

“Let's play?” Bisik Hansel di telinga Ara, membuat dirinya bergidik merinding. Lelaki itu melumat kembali bibir sang puan sembari menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina Ara.

Ara mencengkeram kuat lengan Hansel ketika lelaki itu mendorong penuh miliknya pada tubuh Ara. Penis Hansel terasa penuh di bawah sana, dua kaki wanita itu melingkar pada pinggang Hansel saat sang kekasih menggerakkan pinggulnya pelan.

Berkali-kali Hansel mengecup lembut wajah kekasihnya guna menyalurkan rasa sayangnya pada Ara, mulai dari dahi, pipi, lalu bibirnya. Hansel benar-benar mengesampingkan kebohongan Ara saat itu. Ia merasa bahwa bisa menyelesaikan masalahnya tanpa ada perdebatan diantara keduanya. Namun ada kalanya Hansel tersulut emosi saat mengingat pesan yang di kirim Marcell beberapa saat sebelum ia melakukan hal dosa dengan Ara. Kepalanya panas seakan hampir meledak, hatinya cukup sakit ketika sahabat dan kekasihnya bermain di belakangnya.

Saat teringat hal itu, Hansel sengaja menghentakkan pinggulnya keras hingga penuh dan menghantam g-spot milik kekasihnya.

“Ahh... Sel...” Desah Ara, tubuhnya melengkung ketika Hansel berkali-kali menghantam keras miliknya. Tubuh wanita itu mulai bergetar, liangnya mengetat dan berkedut, hampir menjemput pelepasannya.

“S-sel.. M-mau keluar.. Ahh..” Seketika Hansel mencabut miliknya dari tubuh Ara. Wanita itu sontak kaget dan frustasi dengan kelakuan Hansel. Selama berhubungan dengan Hansel, selama melakukan berkali-kali having sex dengan kekasihnya, tak pernah sekalipun ia menggodanya seperti itu. Raut wajah Ara berubah drastis, batinnya kesal dengan kelakuan Hansel.

“Hansel!”

“Gimana rasanya main belakang? Ha?” Tanya Hansel tiba-tiba. Ara tak menjawab, ia masih mencerna kalimat yang terlontar dari bibir lelaki itu. Tanpa aba-aba, Hansel membalikkan tubuh Ara hingga posisinya menjadi tertelungkup. Menindih tubuh wanita itu kemudian melesatkan kembali batang penisnya dari belakang.

“Aahhh...” Desah Ara saat, tubuhnya di masuki tanpa aba-aba. Hansel menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat membuat Ara terus mendesah nikmat. Beberapa kali Hansel menghentakkan penisnya keras, hingga menumbuk titik g-spot milik Ara. Wanita itu mendongakkan kepalanya, tangannya meremas sprei ketika hendak mencapai pelepasannya.

“Hansel, pleaseee...”

Mendengar kekasihnya memohon, Hansel-pun mempercepat tempo di bawah sana, menghentakkan miliknya beberapa kali. Penis lelaki itu terasa sesak dan penuh begitu juga liang kenikmatan milik Ara mulai berkedut. Dua sejoli ini hendak mencapai klimaks yang hampir bersamaan. Hansel menghentakkan miliknya sembari mendorong keras hingga penuh, cairannya menyembur diantara lateks tipis yang membungkus kepunyaannya. Tubuh Ara menggelinjang hebat, kakinya bergetar saat mencapai titik orgasm-nya.

Hansel melepaskan pertautan di bawah sana sembari mengecup bibir Ara, singkat. Ia kemudian membuang condom bekas pakainya di dalam tempat sampah setelah sebelumnya ia bungkus dengan beberapa lembar tissue.

Lelaki itu kembali menghampiri Ara, ia rebahkan tubuhnya di samping sang kekasih. Tangannya mengusap pelan pipi Ara, kemudian mengecupnya singkat. Sedangkan wanita itu masih mengatur nafasnya, bibirnya tersenyum tipis. Kali ini hasrat keduanya telah di tuntaskan.

Satu tangan Hansel merangkul tubuh polos Ara, wajah lelaki itu ia dekatkan pada ceruk leher sang puan. Hembusan nafas Hansel berkali-kali membuat dirinya bergidik merinding. Tiba-tiba saja Hansel membisikkan sesuatu yang membuatnya terkejut.

“Ra.. Selama kita LDR, kamu udah berapa kali main sama Marcell?”

Deg!

Jantung wanita itu seakan lepas dari posisinya. Ara membeku, suaranya seakan tercekat. Selama ini ia pandai menyembunyikan semua rahasia di belakang Hansel. Tetapi tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba Ara merasa seperti tersambar petir.

“M-maksud kamu?” Tanya Ara sedikit terbata.

“Nggak usah bohong Ra, aku cuma pengen kamu jujur. Aku nggak akan marah asalkan kamu mau ngomong yang sebenernya.” Ujarnya. Jantung wanita itu rasanya benar-benar hampir lepas. Ara hancur, ia harus mulai dari mana untuk menjelaskan semua pada Hansel. Ia ingin mengaku salah tetapi bibirnya tak sanggup berkata.

“Sel...” Ucap Ara lirih, tubuhnya mendekat perlahan. Sedangkan Hansel menatap tajam dua bola mata Ara, membuat wanita itu berulang kali membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia sama sekali tidak berani menatap mata Hansel.

“Sel, aku minta maaf tapi ini nggak separah yang kamu pikir.” Ucap Ara sembari mengeratkan pelukannya. Hansel tak bergeming, ia hanya tersenyum tipis. Lelaki itu sudah bisa menebak hal apapun yang di lakukan kekasihnya tanpa harus Ara menjawabnya dengan jujur.

“Sel... Kamu tau dari mana? Marcell?”

Hansel mengangguk. Air mata Ara hampir tumpah, ia bersalah, ia berdosa. Lelaki yang sangat halus perangainya, humoris, bahkan tidak pernah marah sekalipun telah ia khianati. Hal sebesar ini, sudah jelas ia bersalah namun Hansel masih tenang tanpa tersulut emosi sedikitpun.

Air mata yang beberapa menit lalu ia tahan akhirnya tumpah juga. Mengalir membasahi pipinya yang mulus. Hansel menoleh ke arah sang kekasih. Ia usap lembut pipinya, menghapus air mata yang mengganggu pemandangannya.

“M-maafin aku, sayang.. Aku salah..” Ucap Ara dengan suara terisak. Ia beranikan diri untuk menatap dua manik mata milik sang pujaan hati. Tatapan Hansel begitu dalam dan sendu. Bahkan tak tersirat amarah sedikitpun. Suara tangis kian terdengar menelisik telinga Hansel. Lelaki itu kemudian memeluk erat tubuh tak berdaya sang puan. Ia mengusap punggung polos itu perlahan, menyalurkan rasa hangat dan sayangnya terhadap Ara.

Hansel sudah memaafkan wanita itu, juga Marcell. Bukan salah Ara sepenuhnya, ini juga merasa bersalah. Hansel dulu pernah menitipkan Ara pada sahabatnya saat dirinya berpindah tempat tinggal, memberikan kesempatan keduanya untuk bermain di belakangnya. Memang sakit, tetapi Hansel tidak pernah terpikir untuk meninggalkan Ara.

“Udah jangan nangis, jelek.” Hansel melepaskan pelukannya sembari menatap dua manik mata sang kekasih.

“Aku cuma butuh kamu jujur, Ra. Aku nggak suka di bohongi.”

“Kamu masih mau ulangi lagi? Atau—”

“Sel, aku janji nggak akan bohong lagi. Maafin aku... Jangan pergi...” Jawab Ara memohon, air matanya tumpah untuk yang kesekian kali. Hansel mengusap butiran yang membasahi pipi sang kekasih. Mengecup dahi dan bibir Ara, singkat.

“Aku nggak akan pergi. Aku sekarang tinggal disini. Aku pulang Ra... Kita nggak akan jauh lagi. Kita bisa tiap hari ketemu.”

“Maksudnya?” Ara tak mengerti dengan ucapan Hansel.

“Aku pulang Ra, aku stay disini. Kata papa, aku di suruh jagain kak Hanna sama Halsey.” Jelas lelaki itu. Sontak senyum Ara merekah sempurna. Ia memeluk lagi tubuh gagah sang kekasih, mengecup beberapa kali pipinya.

“Ra, dengerin aku.” Ara-pun mendongak, menatap wajah Hansel.

“Kalau ada apa-apa itu ngomong, kalau kangen harusnya bilang ke aku. Bukan diem-diem main belakang sama Marcell. Nggak kayak gitu konsepnya, aku nggak suka, aku marah. Paham?”

Ara mengangguk, ia paham dengan yang di jelaskan Hansel panjang lebar.

“Maafin aku...” Sekali lagi Ara memohon pada lelaki itu untuk di maafkan. Hansel tersenyum dan mengangguk, ia mencium kening Ara lembut dan mengusap pucuk kepalanya. Kini Hansel akan tetap tinggal, yang Ara butuhkan adalah sosok lelaki penyayang dan humoris itu. Bukan Marcell.


Hi! Hansel X Ara is back! Give me a feedback, please ❤ Any questions, drop on my CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Jena, berjalan sendirian di tengah gemericik air hujan yang cukup deras. Waktu menunjukkan pukul 21:20 ia menyusuri sepanjang trotoar yang cukup sepi. Tangan kanannya menenteng blazer basah, beberapa saat yang lalu ia menutupi kepalanya dari terpaan air hujan menggunakan blazer tersebut. Dalam hati kecilnya, menangis di tengah hujan memang sangat tepat. Orang-orang tidak akan melihat air matanya yang terus mengalir.

Entah sudah berapa kali tubuhnya terkena cipratan air yang menggenang di tepi jalan. Blouse berwarna putih yang ia kenakan menjadi sangat kotor.

“Hari ini benar-benar sial. Kerja lembur, pulang kehujanan.“

“Lebih sialnya lagi, gue kira hubungan bakalan baik-baik aja, ternyata dia balik buat ngasih undangan pernikahan. Bangsat!”—gerutu Jena.

Air matanya kembali jatuh, ia mengusapnya dengan punggung tangan dan kembali melangkahkan kakinya. Hampir empat tahun mempertahankan long distance relationship kenyataannya sia-sia. Impian yang pernah di bangun bersama sang kekasih akhirnya melebur bersama hujan yang turun malam itu. Jena terus mengayunkan langkah kakinya tanpa menghiraukan sekitar. Dari arah belakang satu mobil berwarna hitam berjalan perlahan.

Bim.. Bim..

“Jen.. Jenaya!” Seorang lelaki setengah berteriak memanggil Jena dari dalam mobil sembari menurunkan kaca. Langkah Jena terhenti dan menatap lamat lelaki yang berada di belakang kemudi.

“Jen, masuk..” Perintah lelaki itu. Ternyata Jeffrian, atasannya.

“Tapi saya basah pak.”

“Gapapa, masuk aja.”

Tanpa berpikir panjang Jena menuruti perintah Jeff. Tubuh Jena sedikit menggigil karena hampir setengah jam ia berjalan di bawah hujan dan sekarang ia duduk di dalam mobil ber-AC. Beberapa kali Jena mengusap lengan dan telapak tangannya secara bergantian untuk menghilangkan hawa dingin di tubuhnya.

“AC-nya udah yang paling kecil Jen, masih dingin ya? Pakai jas ini.” Ucap Jeff sembari melepas jas yang ia kenakan lalu memberikan pada Jena.

“Makasih pak.” Jena mengenakan jas itu, terlihat kebesaran namun setidaknya bisa memberi sedikit rasa hangat. Di tengah perjalanan keduanya lebih banyak diam, Jena dan Jeff sama-sama canggung. Padahal mereka setiap hari bertemu di kantor setelah Jena di angkat menjadi sekretaris Jeff.

“Emang biasanya kamu pulang jalan kaki?” Tanya Jeff tiba-tiba.

“E—nggak pak. Biasanya saya naik taksi online atau gojek.”

“Barusan kenapa jalan kaki? Hujan juga, kalau sakit besok kamu gak bisa kerja.”

“Dompet saya ketinggalan pak, gak ada yang jemput.” Jawabnya lirih.

“Pacar kamu? Tadi pagi bukannya kamu dianterin?” Tanya Jeff sekali lagi. Pasalnya Jeff sedikit curiga dengan Jena. Seharian sekretarisnya tidak fokus bekerja, matanya juga terlihat sembab.

“Saya baru aja putus tadi pagi pak.” Ucap Jena, nada suaranya semakin melemah. Wanita itu tertunduk, ia kembali meneteskan air matanya. Membuang pandangan ke arah luar lalu mengusap pipinya, kasar.

“Kamu tinggal dimana? Jauh? Mampir rumah saya dulu ya?”

“Tapi pak, saya pulang aja deh. Atau kalau pak Jeff gak mau nganterin, saya turun disini aja.”

Jeff tidak menggubris, ia memutar kemudinya dan berbelok ke kanan. Sedangkan arah rumah Jena harusnya masih lurus sekitar dua kilometer lagi.

“Saya gak ada niatan nyulik kamu. Mampir rumah saya dulu, kamu bisa mandi, ganti baju biar gak masuk angin.” Jelas Jeff.

Mobil yang mereka tumpangi masuk ke sebuah komplek perumahan mewah, menyusuri beberapa blok dan berhenti di depan rumah berwarna abu muda. Pintu garasi otomatis terbuka, kemudian Jeff memarkirkan mobilnya. Entah kenapa, jantung Jena terus berdetak semakin kencang. Wanita itu di lingkupi rasa takut dan was-was. Jena memang sudah mengenal Jeff selama satu tahun terakhir namun menjadi lebih dekat serta lebih banyak berinteraksi mereka lakukan setelah Jena naik jabatan menjadi sekretaris Jeff.

Jeff dan Jena melangkahkan kakinya memasuki rumah berukuran sedang, di dalamnya tampak sepi. Ya, karena Jeff hanya tinggal sendiri. Sedari tadi Jena hanya mengekor di belakang Jeff.

“Kamu mandi dulu, disana.” Perintah Jeff sembari menunjuk kamar mandi tamu.

“Handuk ada di dalam. Nanti saya ambilkan baju.” Lanjut Jeff.

“Ya pak.” Jawab Jena singkat. Jeff lalu membalikkan tubuhnya dan naik ke lantai atas. Sedangkan Jena menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat yang mengalir dari shower cukup membuatnya lebih relax. Tubuh yang awalnya menggigil kini terasa lebih hangat. Ternyata hari ini ia tidak benar-benar sial, Jeff datang secara tiba-tiba dan menolongnya. Jika tidak ada Jeff, kemungkinan besar ia akan pulang berjalan kaki atau bahkan akan ada hal buruk yang tidak ia ketahui.

Sekitar dua puluh menit Jena membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi masih berbalut handuk putih yang cukup besar. Menutupi tubuh hingga lututnya. Baru satu langkah, Jena di kagetkan oleh sosok lelaki yang berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Pak Jeff?!”

“Pakai ini. Disini gak ada baju perempuan.” Kata Jeff sembari menyodorkan satu kaus berwarna putih kebesaran. Jena mengernyitkan dahinya namun ia tetap menerima baju itu karena tidak ada pilihan lain.

Jena mengangguk.

“Kalau udah, nanti ke ruang tengah. Saya udah buatkan teh hangat.”

“Baik pak, makasih.” Ucap Jena kemudian berbalik badan, ia kembali ke kamar mandi untuk mengenakan baju yang di berikan Jeff. Karena semua yang di kenakan Jena benar-benar basah hingga pakaian dalamnya. Kali ini wanita itu mau tidak mau memang harus memakai milik Jeff, begitu juga celana boxer yang di selipkan di dalam kaus. Oke, tidak masalah, batin Jena. Celana boxer itu mungkin baru saja Jeff beli karena masih ada tag yang menggantung.

Menit kemudian, Jena berjalan ke ruang tengah lalu duduk di sofa bed bersebelahan dengan Jeff yang sedang menyaksikan tayangan Netflix.

“Minum dulu tehnya.” Ucap Jeff tanpa menatap wanita yang berada di sebelahnya, Jeff lebih fokus pada layar datar di depan sana.

“Ya pak, makasih.” Balas Jena, ia mengambil secangkir teh yang berada di meja. Meniupnya beberapa kali kemudian menyeruput perlahan.

“Pak, saya diantar pulang kapan ya?” Tanya Jena. Jujur ia merasa kurang nyaman berada di rumah Jeff. Tampak asing dan yang lebih mengganggu pikirannya adalah mereka hanya berdua dalam satu rumah.

“Ujan gede Jen, apalagi ini udah malam. Saya gak mau ambil resiko.”

“Saya antar pulang besok pagi, sekalian berangkat ke kantor.” Bujuk Jeff. Sedangkan Jena, tidak bisa menyangkal apapun. Keadaan yang membuat ia harus menuruti perkataan lelaki itu. Menginap di rumah Jeff memang bukanlah pilihan, hujan yang sangat lebat membuat dirinya harus tinggal semalam di rumah itu.

Suasana semakin sepi, suara derasnya hujan masih terdengar jelas. Keduanya tampak tenang tanpa ada percakapan sedikitpun, masing-masing fokus pada film. Hawa dingin menembus masuk ke dalam ruangan hingga membuat Jena berulang kali mengusap lengannya guna mencari kehangatan. Jeff hanya diam, dan sesekali melirik ke arah wanita yang duduk di sebelahnya.

“Jen, apa masalahnya dia putusin kamu?” Tanya Jeff tiba-tiba dan tanpa menatap Jena, sontak wanita itu kaget.

“Ha?”

“Emm.. Salah satunya karena jarak. Dan mungkin dia udah dapet perempuan yang lebih baik dari saya.” Tutur Jena, suaranya lirih seakan malas untuk mengulang kembali kenangan menyakitkan itu. Jeff semula fokus pada film yang ia lihat kini menatap lamat wajah sekretarisnya. Meskipun ruang tengah minim pencahayaan namun wajah cantik Jena tetap terlihat jelas.

“Long distance relationship kuncinya saling percaya, saling setia. Kalau sekalinya selingkuh, dia akan terus selingkuh.” Ucap Jeff. Dan semua yang di katakan tidak ada yang salah. Jena kemudian berpikir, kesalahannya adalah terlalu percaya hingga dirinya sangat mudah untuk di bohongi. Air mata di pelupuk hampir saja tumpah, wanita itu membuang pandangan ke sembarang arah dan mengusap butiran air mata yang menetes.

“Jenaya...”

Wanita itu menoleh ke arah Jeff, dua bola mata mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain. Perlahan Jeff mendekat, mengusap lembut pipi Jena dan mengecup singkat bibir wanita itu. Jena terperanjat, ia mendorong dada bidang Jeff pelan agar menjauh darinya.

“Dia cukup bodoh ninggalin kamu. He throw the diamond and i found it. So I will protect her.” Ucap Jeff, tiba-tiba saja lelaki itu menangkup kedua pipi Jena dan mencium bibirnya dengan lembut. Tangan Jena yang semula memegangi pergelangan tangan Jeff untuk menahan serangan dari lelaki itu, perlahan melunak dan mengikuti arah permainan Jeff.

Jena terbawa kini terbawa suasana. Dinginnya malam karena hujan yang tak kunjung reda, ruangan yang minim cahaya seakan mendukung aktivitas mereka. Suara lenguhan dan desahan kecil yang keluar dari bibir Jena membuat Jeff lebih bersemangat. Ini pertama kalinya bagi Jeff dengan jena, bukan sebagai sepasang kekasih.

Berawal dari ciuman yang sangat lembut, kini berubah menjadi lumatan yang sangat rakus. Jeff sudah tidak bisa menahan nafsunya terhadap Jena. Sekretarisnya terlalu sayang untuk di sia-siakan begitu saja. Jena-pun tidak mau munafik, ia sangat membutuhkan afeksi.

Perlahan tangan Jeff menelusup ke dalam kaus kebesaran yang di kenakan Jena. Meraba perutnya hingga menemukan dua gundukan payudara tanpa di lapisi bra.

“Mmphh..” Lenguh Jena, pagutan keduanya semakin intens hingga decapan terdengar semakin jelas. Jeff meremas dengan lembut payudara Jena, memainkannya secara bergantian. Tangan satunya perlahan bergerilya menjamah area kewanitaan Jena yang sudah basah, namun secepat mungkin Jena menahan tangan lelaki itu agar tidak melanjutkannya.

Jeff melepaskan pagutan keduanya, lalu menatap lamat wajah Jena.

“Why?” Ucap Jeff, menaikkan satu alisnya. Suara berat milik lelaki itu membuat detak jantung Jena semakin cepat.

“Jangan pak, saya belum pernah ngelakuin itu.” Jawab Jena pelan.

“Oh.. Maaf Jena saya gak tau.”

Jena hanya mengangguk. Perasaannya kini campur aduk, ia merasa ini kesempatan yang seharusnya tidak di sia-siakan. Bercinta dengan Jeff adalah hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun di sisi lain Jena merasa sudah sangat jauh mempertahankan keperawanannya hingga kini. Pilihan yang sulit baginya. Tiba-tiba Jeff mengecup singkat bibir Jena dan tersenyum.

“Mau coba? Pasti sakit Jen, tapi kamu bisa melampiaskan rasa sakit itu dengan apapun. Mau pukul aku, gigit aku, terserah kamu.”

Jena membeku, kalimat yang terucap dari bibir Jeff seakan menyihir dirinya. Wanita itu memang membisu tapi perlahan menganggukkan kepalanya dengan pasti. Seakan-akan ia sudah siap memberikan keperawanannya pada Jeff. Ia tak memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya, Jena sama sekali tidak peduli. Saat ini ia hanya membutuhkan afeksi dan healing.

Setelah mendapatkan persetujuan dari wanita itu, Jeff melepaskan celana serta kaus yang di kenakan Jena. Lelaki itu beberapa kali mengecup singkat bibir Jena sembari mengusap lembut pipinya.

“Foreplay lebih lama ya? Biar kamu relax.”

Jena mengangguk lagi, tetapi ia menutup rapat-rapat kedua kakinya.

“Kamu kenapa?” Tanya Jeff sembari terkekeh melihat raut wajah Jena memerah, samar.

“Saya malu pak, ini pertama kali buat saya.” Jelas Jena tersipu, dua tangannya tiba-tiba ia lipat di depan dada guna menutupi payudaranya yang menyembul.

“Jen, kamu yakin gak? Kalau gak yakin mending stop aja.”

“Ya—Yakin pak.” Jawab Jena terbata.

“Oke, kamu relax ya? Jangan takut. Satu lagi, mulai sekarang panggil Jeff aja kalau di luar kantor. Paham?”

Jena menganggukkan kepalanya beberapa kali, tanda ia paham dengan semua ucapan Jeff.

Jeff memulai dan mendominasi permainan malam ini. Melakukan foreplay dengan sangat lembut. Melumat bibir ranum sang puan, sembari memainkan dua payudaranya pelan. Semua Jeff lakukan agar Jena merasa relax. Benar saja, tubuh wanita itu awalnya kaku dan tegang lama kelamaan menjadi lebih tenang dan relax mengikuti semua permainan Jeff. Dua tangan Jena yang awalnya sangat tegang, mencengkeram lengan jeff kini melingkar pada perpotongan leher lelaki itu tanpa melepaskan ciumannya.

Setelah kedua bibir mereka puas beradu, Jeff perlahan turun dan melahap dua gundukan payudara sintal milik Jena. Tubuh wanita itu mulai menggeliat resah dan mulai menerima rangsangan yang di ciptakan oleh Jeff.

Jeff melakukannya dengan sangat lembut, mengulum dan memainkan payudara Jena secara bergantian. Memutar dan memilin putingnya yang sudah mencuat, tegang. Lenguhan dan desahan kecil-pun lepas dari bibir Jena.

Jenaya. Mulai merasakan kenyamanan di dekat Jeff, tatapan matanya, senyumnya, aroma tubuhnya, usapan lembut jemarinya dan deru nafas yang berhembus membuatnya gila. Malam itu Jena sudah berniat untuk memberikan seluruh tubuhnya pada Jeff. Tangan lelaki itu tak bisa tinggal diam, perlahan meraba dan menyapa liang surgawi milik Jena yang sudah sangat basah. Sesekali menekan dan memutar klitorisnya pelan hingga membuat Jena meremas rambut lelaki itu.

“A—aahhh..” Desah Jena saat jari tengah Jeff masuk tanpa aba-aba. Lelaki itu menggerakkan jarinya perlahan.

“Jen, aku tambah satu jari lagi ya?” Tanya Jeff meminta persetujuan sang puan.

“S-sakit gak?”

“Punyamu udah basah banget sayang, kalau di tambah satu lagi gak akan sakit.” Jelas Jeff. Wanita itu-pun mengangguk tanda setuju, terlebih setelah ia di panggil sayang oleh Jeff. Jena seperti melayang menembus langit ke tujuh.

Jeff perlahan memasukkan satu jari lagi ke dalam liang vagina wanita itu. Menekannya perlahan hingga membuat tubuh Jena melengkung dan tangannya meremas lengan Jeff.

“A-ahh.. Jeff, sakit..” Rintih Jena. Jantungnya berdetak semakin kencang, butiran keringat-pun menetes membasahi tubuhnya yang mulus.

“Ini pelan, relax oke?”

Jena mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya, tangannya masih mencengkeram lengan Jeff guna melampiaskan rasa sakit. Jeff menggerakkan dua jarinya sangat pelan agar tidak menyakiti wanita itu. Ia berusaha keras membuat liang kenikmatan milik Jena lebih basah agar mengurangi rasa sakit ketika Jeff hendak memasukinya nanti.

Jeff yang sudah kepalang kalap dengan nafsunya sendiri tiba-tiba mengeluarkan dua jarinya, kemudian ia melucuti sendiri pakaian yang dikenakan. Sedangkan Jena terpaku melihat tubuh atletis milik Jeff, abs-nya terbentuk sempurna dan kejantanannya terlihat sudah keras dan menegang.

Lelaki itu mengubah posisi sofa menjadi bed dan merebahkan tubuh Jena di atas sana. Jeff perlahan merangkak dan menindih tubuh wanita itu, mengecup kening, kedua matanya, pipi dan yang terakhir bibir ranum nan indah milik sekretarisnya.

Jeff, mengurut beberapa kali batang penisnya kemudian menggesekkan pada bibir vagina milik Jena. Sedangkan wanita itu menelan ludahnya sendiri ketika melihat penis milik Jeff yang besar dan panjang. Jena sedikit ketakutan terhadap rasa sakitnya nanti, namun ia ingin tetap terlihat siap dan tenang di hadapan Jeff. Detik berikutnya lelaki itu mengarahkan ujung penisnya pada liang vagina Jena. Dua tangannya melebarkan kaki Jena agar ia lebih mudah saat hendak memasukkan penisnya.

“Jen, udah siap?” Ucap Jeff, lalu mengecup singkat bibir Jena. Wanita itu tak banyak bicara, ia hanya mengangguk yakin. Kali ini ia sudah pasrah tanpa perlawanan. Setelah menempelkan ujung penisnya pada liang milik Jena, ia perlahan memasukkan miliknya. Sontak dua tangan Jena meremas lengan Jeff dan mendongakkan kepalanya. Ia sudah berantakan, rasa sakit dan nyeri itu seakan menembus hingga ujung kepalanya.

“Aahhh... Jeff..”

Jena merintih kesakitan, sedangkan Jeff baru mendorong ujung penisnya dan belum sepenuhnya masuk. Lelaki itu kemudian mengusap-usap pucuk kepala Jena, menyeka keringat yang mengalir di dahinya lalu mencium lembut bibirnya guna menyalurkan rasa nyaman untuk Jena. Agar wanita itu tidak terlalu fokus pada rasa sakitnya.

“Jen, peluk aku. Mungkin ini lebih sakit lagi, tapi kamu bisa lampiaskan semua ke aku.”

Tubuh Jeff lebih mendekat di atas Jena, mengungkung wanita itu kemudian Jena memeluk erat tubuh Jeff. Secara bersamaan lelaki itu perlahan mendorong miliknya hingga penuh dan ujung penisnya berhasil menumbuk titik g-spot milik Jena.

“Aahhh... Ssshh... Ahh...” Desah Jena lebih keras, rasa sakit di bawah sana terasa menyengat. Kedua tangannya reflek meremas dan mencakar punggung Jeff. Namun lelaki itu cukup tenang. Penisnya ia diamkan menancap di bawah sana dan telah berhasil merobek selaput dara milik Jena.

“Masih sakit?” Tanya Jeff tersenyum tipis pada wanita yang berada di bawah kendalinya.

Jena menggeleng.

“Aku gerakin pelan ya?”

“Pelan ya Jeff..” Ucap Jena memohon.

“Iya sayang, pelan..”

Jeff menggerakkan pinggulnya pelan, rintihan dan desahan terus keluar dari bibir Jena menjadi candu bagi lelaki itu. Jeff benar-benar merasa berhasil mendapatkan Jenaya seutuhnya.

“Sakit?” Tanya Jeff di tengah-tengah penetrasi.

“Nggak.. Ahhh...” Rasa sakit dan nyeri pada awalnya perlahan berubah menjadi nikmat. Jena merasa lebih nyaman dari sebelumnya, rintihan kesakitannya terus berubah menjadi desahan penuh kenikmatan. Jeff kemudian melumat bibir Jena sembari menambah tempo gerakan pinggulnya sedikit lebih cepat, hingga suara pertautan di bawah sana terdengar keras bersahutan dengan desahan yang keluar dari bibir Jena. Tak lama liang vagina milik wanita itu berkedut dan mengetat, sebentar lagi Jena hendak menjemput pelepasannya.

“Jen, you wanna cum?” Jeff tau pasti jika wanita itu hendak mencapai klimaksnya. Jena mengangguk sembari bersusah payah mengatur nafasnya. Jeff menggoyangkan pinggulnya lebih cepat, sesekali menghentakkan keras milik Jena hingga wanita itu mendongakkan kepalanya. Pada hentakan ke tiga, Jeff mendorong penuh miliknya hingga kembali menghujam g-spot milik Jena. Sperma Jeff menyembur bersamaan dengan Jena yang mencapai titik orgasm-nya. Cairan kenikmatan keduanya melebur memenuhi rahim Jena. Tak ayal cairannya mengalir di sela pahanya serta bercak darah yang terlihat samar, pertanda selaput daranya sudah robek. Namun Jena sama sekali tidak menyesal, ia benar-benar menyerahkan segalanya untuk Jeff.

“Jen, thank you honey..” Ucap Jeff sembari mengecup bibir Jena.

Jeff kemudian melepaskan pertautan di bawah sana, membersihkan milik Jena menggunakan kaus-nya dan mengecup singkat milik wanita itu hingga membuatnya bergidik merinding. Jeff kemudian beranjak dari sana, hendak menyiapkan air hangat di dalam bathup. Namun tiba-tiba Jena menarik tangan Jeff dan menahannya. Jeff menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah sekretarisnya yang masih terbaring lemah di atas sofa bed.

“Jeff, kenapa keluarin di dalam?” Tanya Jena tiba-tiba. Jeff terdiam beberapa saat, menatap lekat wajah sayu wanita itu kemudian tersenyum.

“Biar kamu gak lepas dari aku Jen. Aku siap tanggung jawab apapun resikonya.” Tutur Jeff, lelaki itu kemudian menghampiri Jena. Mengecup kening lalu bibirnya singkat. Mengusap pucuk kepala wanita itu dengan lembut dan tulus.

“Jangan takut, kamu percaya aku kan?” Tanya Jeff lagi, ia ingin memastikan Jena yakin padanya. Jena-pun tersenyum lalu mengangguk.

“Aku siapin air hangat dulu ya.. Kita mandi terus tidur.”

Jena menatap lamat-lamat sosok Jeff yang berjalan meninggalkan ruang tengah. Lelaki gagah nan rupawan, seorang CEO perusahaan ternama. Sungguh tak pernah terlintas sebelumnya, ia akan melakukan perbuatan dosa yang penuh dengan kenikmatan bersama bos-nya sendiri. Hal yang cukup gila bagi dirinya, melepaskan keperawanan pada Jeff setelah bertahun-tahun mempertahankannya. Dalam hati Jena berharap besar pada Jeff, dan semoga lelaki itu tidak akan pernah meninggalkan Jenaya.


Hi! Finally JJH au! Semoga kalian suka sama ceritanya. Anw, cerita Jeffrian & Jenaya ini mau lanjut nggak? Isi yukk... https://curiouscat.me/deorphic

Birthday gift. Pt.2

Hari ini Elissa pulang kantor lebih awal. Sebenarnya ia sudah mendapatkan ijin dari Jeff untuk cuti selama seminggu penuh. Tetapi ia merasa sungkan pada Jeff jika meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas.

17:20 Elissa menikmati setiap tetes wine favoritnya sembari menatap ke arah luar jendela. Rintik hujan yang turun membuat bumi terasa lebih sejuk. Tak beda jauh dengan ruang tengah yang kini ia tempati, udara dingin menyeruak hingga menusuk sampai ke tulang. Sebelum kekasihnya datang, setidaknya wanita itu mencari kehangatan lewat satu botol berisi wine yang sudah hampir habis.

Elissa tersenyum tipis, otaknya masih berkutat dengan sosok sang kekasih yang tak pernah lepas dari ingatannya. Sampai detik ini, pencapaiannya sudah cukup baginya. Mempunyai karir yang menjanjikan, finansial yang lebih dari cukup dan Jodie. Lelaki berperawakan tinggi, gagah serta wajah rupawan adalah anugerah bagi Elissa. Tak ada kurangnya.

Entah sudah berapa jam tubuh mungil Elissa terbujur tanpa daya. Efek dari wine yang ia minum membuatnya sedikit fly and turn on. Ia tengok arloji yang menempel di tangan kirinya, menunjukkan pukul 20:15 tetapi sang kekasih tak kunjung datang. Hujan semakin deras terlihat dari balik jendela kaca yang terbentang di sampingnya. Wanita itu menghembuskan nafasnya sedikit kasar lalu memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman bersandar di sofa, dan memejamkan matanya. Ia tak peduli dengan Jodie, Elisa menunggu terlalu lama.

Beberapa menit setelahnya, tubuh wanita itu merasakan hembusan nafas hangat menyapa permukaan kulitnya di tambah kecupan-kecupan kecil yang cukup mengusiknya.

Kecupan yang terasa sedikit basah itu dengan cepat membangkitkan gairah sex-nya. Pasalnya bibir Jodie terus menggoda dengan mendaratkan kecupan pada telinga, leher juga bahu Elissa. Wanita itu bergerak kecil lalu membuka mata dan membalikkan tubuhnya. Senyum cerah sang kekasih terlihat nyata di hadapannya.

“Hei.. Udah lama sayang?” Sapa Elissa dengan mata sayu. Senyum kekasihnya selalu membuat dirinya lemah, sangat tampan dan Elissa menyukainya.

“Baru aja. Kamu ngapain tidur disini? Kalau abis minum ya tidur di kamar, bukan di sofa. Nanti punggungnya sakit.” Ucap Jodie sembari mengusap lembut pucuk kepala Elissa.

“Aku nggak tidur, cuma merem aja. Kepalaku agak pusing.” Jelasnya.

“Habis dua botol, kamu bilang agak pusing? Emang doyan minum ini pacarnya aku.” Ujarnya. Jodie terkekeh, jemarinya mengusap lipbalm berwarna pink sebelum akhirnya melumat bibir Elissa dengan rakus. Suara decapan ketika dua bibir saling menyatu terdengar jelas hingga lenguhan kecil keluar dari bibir sang puan.

Jodie melepaskan pagutan keduanya lalu menggendong tubuh mungil sang kekasih layaknya bridal style dan membawanya ke kamar.

“Pindah kamar ya? Nanti punggungnya sakit kalau di sofa?” Ucap Jodie.

Setibanya di kamar, lelaki itu merebahkan tubuh Elissa perlahan di atas ranjang besar. Baru saja Jodie beranjak dari sana, Elissa bangun dan meraih tubuh sang kekasih. Kini wanita yang tengah di lingkupi nafsu birahi itu mencium kasar bibir Jodie sembari melepaskan satu per satu kancing pada kemeja yang di kenakan lelaki itu.

Setelah melepaskan kemejanya, tangan mungil wanita itu bergerak ke bawah, melepas belt serta resleting celana Jodie. Dengan gusar Elissa menurunkan celana yang di kenakan kekasihnya. Tangan Jodie tiba-tiba menangkup wajah Elissa, menatap dua bola matanya dan tersenyum.

“Kamu kenapa? Buru-buru banget. Katanya tadi takut nggak bisa jalan?” Goda lelaki itu.

“Aku kayaknya bentar lagi haid, babe.. Tadi waktu di sofa, aku ngerasa cepet banget turn on.” Ujarnya.

“Udah tanggalnya?” Tanya Jodie dan mengecup singkat bibir sang kekasih. Elissa mengangguk sedangkan Jodie hanya tersenyum, tanpa basa basi lelaki itu bergerak cepat melucuti pakaian yang di kenakan Elissa. Tanpa sisa, hingga tubuh wanita itu kini tampak mulus tanpa sehelai kain yang menutupi.

“No condom, oke?”

“Yes, babe...” Bisik wanita itu tepat di telinga Jodie.

Jodie memberikan serangan bertubi-tubi pada bibir Elissa, mengecupnya berkali-kali hingga wanita itu ambruk di atas ranjang dan menindihnya. Tapi Elissa justru tak mau kalah, membaringkan tubuh kekasihnya dengan paksa dan kini ia berada di atas tubuh Jodie.

Elissa mulai mendominasi permainan, ia bergerak agresif. Mengecup dan menjilat leher Jodie, kemudian turun ke bawah pada dada bidangnya. Jemarinya meraba abs yang terbentuk sempurna. Gerakan dan permainan lidah Elissa kelamaan turun semakin kebawah, ia meraba dan mengusap batang penis milik Jodie yang sudah menegang dan keras. Wanita itu mensejajarkan wajahnya dengan milik Jodie yang baru saja mengeluarkan cairan pre-cum karena beberapa kali Elissa mengocoknya pelan.

“Wait.. Wait.. El, aku nggak mau.” Tiba-tiba saja tangan Jodie menahan pergerakan Elissa agar tidak melakukan blowjob. Elissa mendongak, menatap wajah kekasihnya dari bawah.

“Kenapa?”

“Aku nggak mau sayang.. Mulut itu buat makan, buat cium aku, bukan buat makan yang nggak semestinya.” Jelas Jodie. Lelaki itu teramat menyayangi Elissa, sampai ia tidak rela jika sang kekasih melakukan hal yang mungkin menjijikkan bagi beberapa orang.

“Tapi banyak orang yang mau, Jo.. Temen kantor aku aja sering sama pacarnya. Kenapa kamu nggak mau?”

“Oh.. Jadi kamu cuma ikut-ikutan temen kantor?” Tanya Jodie sembari menaikkan satu alisnya.

“Nggak. Maksud aku, kamu pasti bakalan suka. Kita pacaran udah dua tahun sayang.. Kamu nggak mau ngerasain sensasi yang beda?” Tawarnya, sedikit memaksa. Batin Elissa, ia hanya ingin membuat Jodie merasakan sensasi yang berbeda.

“El, dengerin aku. Aku nggak mau debat— aaghhh... El!!” Jodie memekik saat merasakan mulut mungil milik sang kekasih melahap batang penisnya. Elissa mendorong mulutnya hingga penuh namun penis Jodie terlalu panjang dan besar hingga menyisakan di genggamannya.

Elissa mengulum penis milik lelaki itu, sesekali menjilati batangnya dan memainkan lidahnya pada ujung penisnya. Membuat Jodie tak henti mengerang karena nikmat. Tak mau terlalu lama Elissa bermain di bawah sana, Jodie menarik lengan wanitanya dan membawa ke atas tubuhnya. Ia bertumpu menggunakan dua lututnya. Jemari Jodie perlahan mengusap bibir vagina milik wanita itu beberapa kali sebelum akhirnya menyapa klitoris dan menekan lalu memutarnya pelan.

“Ssshh... Ahh...” Lenguh Elissa.

“Belum apa-apa udah basah, babe...”

Elissa tersipu ketika Jodie melontarkan kalimat itu. Ya, memang Elissa sudah sangat horny. Lelaki itu mengocok penisnya pelan dan menggesekkan pada bibir vagina milik kekasihnya beberapa kali. Elissa mengernyitkan alisnya tampak sedikit frustasi karena Jodie menggodanya.

Melihat Elissa menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram tangannya, Jodie-pun bersiap melesatkan miliknya pada liang surgawi sang kekasih. Dengan satu hentakan, Jodie meloloskan miliknya pada pusat tubuh Elissa.

“Aahhh....” Desahan lolos juga dari bibir wanita itu. Elissa menggerakkan pinggulnya perlahan, tangannya bertumpu pada dada bidang milik Jodie. Lelaki itu-pun tak tinggal diam, dua tangannya memegang pinggul Elissa. Membantu menggoyangkan dengan tempo sedang.

Di tengah-tengah penetrasi, beberapa kali Jodie menghentakkan pinggulnya hingga ujung penisnya menumbuk titik g-spot milik Elissa, membuat wanita itu lebih cepat menjemput pelepasannya.

“Aahhh.. Jo...” Desah Elissa, ia semakin cepat menggerakkan pinggulnya.

“You wanna cum, babe?” Bisiknya lirih. Elissa mengangguk, kepalanya mendongak. Tangan yang semula berada di atas dada Jodie, kini bertumpu pada headboard. Dua payudara sintal milik Elissa menyembul tepat di depan wajah Jodie. Lelaki itu melahap payudara sang kekasih dengan rakus secara bergantian. Memainkan putingnya dengan lidah, membuat rangsangan yang mempercepat Elissa mencapai klimaksnya.

“Jo, mau keluar..” Reflek, Jodie menghentakkan pinggulnya ke atas dan bersamaan cairan kental milik Elissa membasahi milik Jodie yang masih tertanam di bawah sana. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh Elissa. Nafasnya masih memburu, dan tubuhnya sedikit kehabisan daya. Jodie mengecup beberapa kali bibir ranum milik sang kekasih dan merapikan rambut yang menutupi wajah Elissa.

“You like it?” Tanya Jodie lirih. Elissa mengangguk sembari menetralkan nafasnya.

“Tapi aku belum keluar, sayang...”

Elissa sontak membelalakkan matanya. Ia pikir Jodie sama-sama mencapai pelepasannya sesaat tadi. Jodie terkekeh melihat raut wajah Elissa yang tiba-tiba berubah. Tanpa pikir panjang, Jodie merangkul kekasihnya dan membalikkan tubuh mungil Elissa, kini wanita itu berada di bawah Jodie.

Jodie menatap lekat dua bola mata Elissa seakan menguncinya. Wanita itu tak tahan jika berlama-lama di pandangi oleh sang kekasih, seolah-olah tatapan mata Jodie sedang mengintimidasi dirinya. Lelaki itu melayangkan ciuman panjang penuh nafsu, kakinya melebarkan kedua paha Elissa.

Tanpa aba-aba Jodie melesatkan batang penisnya kedalam Elissa, mengungkung tubuh wanita itu sembari mengusap pipinya. Ia gerakkan pinggulnya perlahan dan sesekali ia hentakkan dengan keras.

“Ngghh.. Ahh..” Lenguh wanita itu, saat ujung penis milik Jodie kembali menghantam g-spot miliknya. Jodie menggoyangkan pinggulnya pelan, sembari mengubah posisi kaki Elissa. Semula dua kaki wanita itu melingkar pada pinggang Jodie, kini Jodie melebarkan dua kakinya dan menahan pada kedua tangannya hingga lelaki itu dapat memperdalam miliknya hingga penuh. Jodie mengecup singkat bibir Elissa dan menatap wajah wanita itu. Mengamati setiap detik sang kekasih merintih, mendengarkan setiap desahan yang keluar dari bibirnya, menatap gemas ketika Elissa meremas bantal dan mendongakkan kepalanya saat ia sengaja mendorong penuh miliknya. Pemandangan yang luar biasa bagi Jodie dan baginya melihat Elissa seperti saat ini saja sudah membuatnya puas. Tidak perlu berbagai macam fantasi, melihat Elissa berkali-kali orgasme dalam satu kali permainan saja sudah membuatnya berada di puncak. Menurutnya Elissa bukanlah obyek fantasi, Elissa adalah kekasihnya, wanita yang sangat di cintainya.

“Joo...”

“Hm?”

“Faster pleaseehhh...” Rintihnya.

Jodie hanya tersenyum, bahkan ia masih dalam tempo yang sama. Tidak mempercepat gerakan pinggulnya.

“Jo, please.. I beg you..”

“Babe, not faster but harder. Oke? Faster can hurt you but harder can take you to heaven.” Suara lirih di tengah deru nafas yang memburu dan erangan dari sang puan membuat lelaki itu ingin menjemput pelepasannya bersama dengan Elissa. Ia hanya menambah sedikit tempo gerakannya sembari mendorong penuh miliknya pada tubuh wanitanya. Tubuh Elissa mulai menegang, dua tangannya meremas kuat-kuat lengan sang kekasih dan mengeluarkan desahan yang keras. Sekali lagi Jodie mendorong miliknya keras hingga menumbuk pada titik terdalam milik sang kekasih.

“Ahh... Fuck Jo!” Tubuh wanita itu menegang dan menggelinjang hebat ketika mencapai titik puncak orgasm-nya. Dadanya membusung dan kepalanya mendongak ketika ia merasakan kenikmatan surga dunia yang di janjikan oleh Jodie. Bersamaan dengan itu Jodie-pun sengaja melepaskan cairan cintanya kedalam rahim Elissa. Menyatu di dalam sama hingga penuh dan perlahan mengalir lewat sela paha sang kekasih.

Perlahan Jodie melepaskan tautan di bawah sana, tubuhnya ambruk di sebelah Elissa yang tengah mengatur nafasnya. Tangan Jodie memeluk tubuh wanita itu dan Elissa merubah posisinya kini saling berhadapan. Elissa mengusap lembut pipi Jodie dan tersenyum.

“I love you, Jo..”

“I love you more...” Balas Jodie sembari mengecup singkat bibir Elissa.

“Capek.” Ucap Elissa singkat sembari memejamkan matanya.

“Nggak mandi dulu, sayang?” Tanya Jodie, ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh keduanya.

“Bentar lagi ya? Nafas dulu.”

Jodie terkekeh mendengar jawaban dari kekasihnya. Ia mengusap dan merapikan rambut Elissa yang sebagian menutupi wajahnya.

“Emang dari tadi nggak nafas?” Tanya Jodie, tangannya mulai jail meremas pelan payudara milik wanita itu dan sesekali memainkan putingnya.

“Jooo... Jangan ganggu.” Ujarnya. Tangan Elissa berusaha menahan agar Jodie berhenti menggodanya. Tetapi bukan Jodie kalau hal kecil seperti itu dia akan menuruti perkataan Elissa, justru dia semakin menggoda sang kekasih sembari tertawa kecil.

“Aku punggungi nih, biar tangannya diem. Nggak bisa pegang-pegang!”

Elissa benar-benar berbalik arah dan memunggungi sang kekasih sembari menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun apa yang terjadi? Jodie lebih gencar menggoda Elissa dengan menggesekkan batang penisnya yang kembali menegang. Lelaki itu beberapa kali menggesekkan miliknya di sela bokong sintal milik Elissa.

“Jooo!! Ih!!” Ucap Elissa kesal sembari menggerakkan pinggulnya justru membuat gesekan itu lebih terasa. Jodie semakin terpancing dengan ulah wanitanya.

“Ay, tau nggak? Kamu udah keluar dua kali, tapi aku baru satu kali. Curang...” Bisik Jodie lirih tepat di telinga Elissa membuat wanita itu bergidik merinding.

Elissa tidak merespon, bahkan ia pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan kekasihnya.

“Shower or bathup?” Tanya Jodie sembari mengangkat tubuh Elissa dengan entengnya dan menggendong seperti bridal.

“Jooo!! Turunnnn!!”

“Are you ready for the second round???“

Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, Nico pun segera pulang menuju rumah Adel. Kekasihnya itu tinggal sendirian di sebuah komplek perumahan yang cukup mewah, ia memang tidak tinggal satu kota dengan orang tuanya sehingga Nico sangat bebas keluar masuk rumah Adel kapanpun dia mau.

Memarkirkan mobilnya di garasi, kemudian memasuki rumah tanpa harus menekan bel karena Nico sudah hafal dengan pin smartlock door di rumah Adel.

Malam itu lantai bawah tepatnya ruang tamu, dan ruang santai tampak gelap. Hanya dapur dan ruang makan saja yang di terangi lampu, lelaki itu berjalan menuju dapur lalu mengambil satu kaleng beer di dalam kulkas dan membawanya ke kamar atas milik kekasihnya.

“Yangg...” Panggil Nico sambil membuka pintu kamar milik Adel namun si empu nya tak menyahut. Nico memandang kesegala arah dan ternyata kekasihnya sedang mandi, air shower yang mengucur deras membuat Adel tak mendengar apapun sejak kedatangan Nico.

Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan mengecilkan temperatur AC lalu menyamankan posisinya sambil memejamkan matanya.


“Ouw... Anjir gue lupa gak bawa handuk” Gumam Adel.

Ia lalu keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh masih basah dan telanjang. Wanita itu mencium aroma wangi parfum milik kekasihnya yang ternyata sedang meringkuk diatas tempat tidur membelakangi posisi Adel saat ini. Pikiran nakal Adel tiba-tiba saja muncul karena memang ia sudah sangat rindu dengan belaian Nico yang tidak didapatkan karena berhari-hari sibuk dengan pekerjaannya.

Adel melepas kuncir lalu menggerai rambutnya dan di buatnya sedikit acak-acakan, ia bermaksud membuat dirinya tampak sexy di depan Nico karena lelaki itu sangat suka jika melihat Adel telanjang dengan rambut yang berantakan. Pelan-pelan wanita itu naik keatas tempat tidur, dan mendapati Nico tertidur beberapa saat karena menunggu Adel mandi.

Adel mulai menggoda Nico dengan menciumi pipi, lalu berpindah ke telinga juga menjilatnya dengan nafsu. Lelaki itu-pun terbangun dan mengerjapkan mata setelah merasakan lidah kekasihnya yang tengah menggoda. Nico membalikkan badannya dan tersenyum smrink melihat Adel yang sudah telanjang dengan rambut yang berantakan.

“Eghh... Yangg... Udah berdiri nih...”

“Mana? Ini?” Ucap wanita itu sembari mengelus penis Nico yang sudah mengeras dan terasa sesak di balik celana kerjanya.

“Adel kenapa masih basah? Handuk lo mana?” Tanya Nico sembari tangannya mengusap dan memutar klitoris kekasihnya.

“Ouwhh fuck!“

“Enak sayang? Kya gini?” Tawar Nico sambil memasukkan dua jari ke dalam lubang vagina milik Adel juga memainkan klitorisnya, membuat wanita itu mengerang dan meremas lengan Nico.

“Aaghhhh... Nicooo.. I like it.”

“Gue cepetin mau?”

“Hm... Faster please...”

Jemari Nico dengan lincah mengocok liang vagina kekasihnya dengan tempo yang cepat, membuat tubuh Adel terasa bergetar. Wanita itu semakin melebarkan kedua kakinya yang menumpu tubuhnya dengan posisi berada diatas Nico, satu tangannya meremas pundak Nico dan tangan kirinya mencengkeram pahanya sendiri. Adel merasakan dua jari Nico yang bermain di bawah sana akan membawanya pada pelepasan yang pertama.

“Nic... Aku...mau keluar...”

Adel merasakan dua jari terus bergerak dengan cepat dan ibu jarinya terus memainkan klitoris milik Adel hingga membuatnya lebih cepat mencapai orgasm-nya.

“Aghhh.... Nic... Enak banget...”

“Bentar doang keluar” Goda Nico sembari mendorong tengkuk Adel lalu mencium bibirnya singkat.

“Bawel!! Ya gue udah sange duluan!”

“Iyaaa.. Gak usah ngegas..”

“Sini naik biar tambah enak...” Lanjut Nico dengan memegangi pinggul Adel dan mengarahkan tepat diatas kepalanya. Wanita itu pun berjongkok diatas wajah Nico, dua tangannya berpegangan pada headboard.

Nico menjilat juga melumat bibir vagina Adel yang masih basah, lidahnya juga memainkan klitorisnya dan menusuk ke dalam lubang milik Adel.

“Mmm... Huhh... Mmm....”

Decapan bibir Nico yang memainkan liang vagina milik Adel semakin keras terdengar membuat wanita itu kembali terangsang.

“Oughhh... Ssshh... Aahhh...”

“Nicoo please hhh...” — “Stopphhh....”

Adel meminta berhenti pada aktivitas tersebut karena ia tak kuat dengan permainan lidah kekasihnya. Nico pun menyelesaikan aktivitas yang cukup menjijikkan tetapi nikmat, dua tangannya lalu menopang tubuh Adel yang lemas akibat permainannya.

Adel lalu mensejajarkan tubuhnya diatas Nico yang masih berbaring, wanita itu dengan beringas melucuti semua pakaian kantor yang Nico kenakan juga bagian bawah hingga lelaki itu benar-benar telanjang. Wanita itu kemudian meraih batang milik Nico yang keras dan memainkannya perlahan. Mengocoknya dengan tempo yang sedang hingga membuat lelaki itu melenguh merasakan nikmat yang kini di ciptakan oleh kekasihnya.

“Aagghhh... Enak Del...” — “Ouwhhh.. “

Tanpa di minta tiba-tiba Adel memasukkan penis yang panjang sudah mengeras itu kedalam mulutnya, memaju mundurkan dengan tempo yang sedang. Nico dibuatnya melayang karena oral sex yang di ciptakan oleh Adel benar-benar sangat nikmat.

“Agghhh... Del... Ouwhh... Hhh...”

“Terusshhh.... Sayangghhh....”

Nico terus merancu sembari meremas rambut kekasihnya yang sudah berantakan juga memaju mundurkan kepada Adel guna mencari kenikmatan lebih.

“Del... Udahhh...”

Adel mengeluarkan penis dari mulutnya lalu tersenyum nyengir.

“Lemah lo Nic, haha...”

“Gak gitu sayang... Bibir lo enak banget sih...”

Adel tersenyum menggoda lalu ia merangkak keatas tubuh Nico, berjongkok dan mengusap penis kekasihnya beberapa kali sebelum akhirnya ia memasukkan batang penis itu hingga penuh ke dalam lubang vaginanya sendiri.

“Aahh... Nic, makin besar aja.. “

Wanita itu menggoyangkan pinggulnya dengan tempo sedang, lalu dua tangan Nico tak membiarkan dua gundukan payudara indah milik Adel kosong. Dua tangan tersebut ia gunakan untuk meremas payudara juga memilin puting milik kekasihnya yang sudah menegang. Lalu Nico pun meraup payudara satunya dengan bibirnya, ia mengulum, serta memainkan puting menggunakan lidahnya.

“Ahhh....” Adel kembali mendesah kenikmatan. Salah satu posisi favorit wanita itu adalah wot karena selain bisa membuatnya cepat mencapai klimaks juga ia merasa menang karena bisa memimpin permainan.

“Ouwhh... Ahhh....” Di susul Nico yang juga melenguh karena lubang vagina kekasihnya yang sempit juga membuatnya candu, terasa sangat ketat hingga terus menyalurkan nikmat di bawah sana. Semakin lama, Adel menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Desahan demi desahan keluar dari mulut keduanya hingga wanita itu merasakan hendak mencapai klimaks untuk yang kedua kali. Nico menyadari bahwa setiap Adel mempercepat tempo pada saat dia posisi diatas sudah pasti wanita itu hendak menjemput pelepasannya.

“Aahhh... Nic mau cum aahhh...”

Nico mendengar hal itu kemudian memegangi pinggul Adel, membantu menggoyang juga memaju mundurkan pinggul kekasihnya.

“Aahh... fuck! Nic...gak kuathhh...”

“Bareng yok yangghhhh”

Adel mendongakkan kepalanya kearah atas sambil memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang di ciptakan penyatuan keduanya. Kini lelaki itu mempercepat gerakannya, ia membantu menaik turunkan pinggul Adel dalam hentakan ke tiga keduanya sama-sama mencapai klimaks.

“Aahhhh....”

“Ouwgghhh.....”

Dua sejoli ini mendesah kenikmatan secara bersamaan. Tubuh wanita itu menggelinjang hebat hingga dua kakinya terasa lemas. Cairan milik Adel juga Nico pun bercampur hingga terasa sesak dan penuh, sampai mengalir di sela dua pahanya.

“Hahhhh...”

“Nic, lo the best deh... Love you Nico...” Ucap Adel sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuh Nico lalu memeluknya.

“Love you too, sayang...” Jawab Nico sambil mengusap-usap pucuk rambut Adel juga mengecupnya singkat.

Dengan sangat terpaksa akhirnya Kevin, membatalkan kelas pagi itu demi Tasya. Hubungan dosen dan mahasiswi tersebut sudah berjalan satu tahun terakhir. Dosen yang terkenal introvert ini ternyata bisa jatuh hati pada seorang wanita cantik yang ceria namun manja.

Ting tong...

Suara bel apartemen berbunyi, Tasya tau pasti yang berada di luar adalah kekasihnya. Ia berlari kecil keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu dan masih mengenakan lingerie berwarna broken white yang sangat tipis.

“Pak dosenku sayangggg...” Pekik Tasya.

Wanita itu berjingkrak kegirangan sembari memeluk Kevin, persis seperti anak kecil. Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya.

“Ehh... Kok gak ganti baju sih sayang?” Tanya Kevin menatap bola mata Tasya, kemudian tersenyum tipis. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala wanita itu.

“Mager, gini aja...” Jawab Tasya dengan senyum manja. Dan kedua tangannya memeluk erat Kevin seakan tak mau lepas.

“Kenapa sih ini pagi-pagi manja banget?” Tanya Kevin lagi, jarinya menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga Tasya.

“Jadi terpaksa cancel kelas kan...” Lanjut Kevin.

Tasya malah nyengir tanda ia berhasil membuat Kevin mengikuti kemauannya. Yang dilakukan Tasya benar-benar sangat manja, kedua kakinya berjinjit diatas masing-masing kaki Kevin sambil memeluk lelaki itu dari depan. Lalu kedua tangan Kevin melingkar di pinggang Tasya dan berjalan pelan kearah sofa. Baru beberapa langkah, tiba-tiba tangannya berpindah mengalung di leher Kevin dan dua kakinya melingkar ke pinggul lelaki itu. Dengan sigap Kevin menggendong nya dan membawa duduk di sofa. Kini Tasya berada di pangkuan Kevin dengan posisi yang saling berhadapan.

“Sayang...” Ucap Tasya manja dengan menggesekkan bagian bawahnya kearah milik Kevin.

“Hm?” Kevin membelalak kan matanya dengan senyum yang sulit di artikan.

“Mau peluk? Ini udah di peluk loh sayang...” Kevin berusaha mendekap lebih erat tubuh kekasihnya.

“Mau di elus...” Pinta Tasya.

“Kaya gini?” Kevin lalu mengusap-usap punggung Tasya dengan lembut.

“Bukan yang ituuu....” Gerutu Tasya, sembari memanyunkan bibirnya.

“Lah??” Tanya Kevin memancing, ia pura-pura tidak paham dengan keinginan kekasihnya.

“Yang ini....” Ujarnya, lalu Tasya memegang tangan Kevin dan mengarahkan ke area intimnya sendiri yang berbalut sehelai g-string.

“Ini minta di apain?” Tanya Kevin dengan menggesek dan memaju mundurkan jarinya ke bibir vagina milik Tasya juga menyentuh klitoris nya.

“Ssshh... Ahh... Terus sayang...”

Kevin menuruti apa yang di ucapkan wanita itu. Seperti biasa, jika menjelang siklus bulanannya Tasya akan lebih manja dan lebih cepat horny. Sedikit sentuhan jari Kevin membuat libidonya naik.

“Baru di sentuh bentar kok udah basah sih sayang... Horny banget ya?” Tanya lelaki itu sembari terus menggodanya. Jarinya masih sibuk di bawah sana, menggesek dan memainkan milik Tasya. Wanita itu tidak menjawab hanya memanyunkan bibir nya. Kevin terkekeh, kemudian detik berikutnya ia mendaratkan ciuman ke bibir wanita itu.

Ciuman yang begitu lembut dan dan sedikit menuntut itu perlahan berubah menjadi lumatan yang di penuhi dengan nafsu. Tangan Kevin tak tinggal diam, melepas dan menurunkan lingerie yang di kenakan kekasihnya hingga menampilkan dua gundukan payudara yang padat dan kenyal.

Kevin menyudahi ciuman yang membangkitkan birahinya, kemudian berikutnya, bibir yang bergerak ke leher serta belakang telinga Tasya. Mengecup juga memainkan dengan lidah serta sesekali menyesapnya membuat gadis itu merasa benar-benar terangsang. Ia mendongakkan kepalanya tanda menikmati setiap kecupan mesra seorang Kevin.

Kecupan yang awalnya hanya di bagian atas saja, perlahan turun ke bawah hingga sampai pada dua payudara Tasya yang sintal. Putingnya terlihat sudah menegang, kemudian bibir Kevin meraup dalam-dalam putingnya. Menghisap seperti bayi yang kelaparan, ia memainkan puting kekasihnya lalu memutarnya dengan lidah membuat tubuh Tasya menggeliat karena permainan Kevin membuat dirinya seakan terbang.

“Ahh....” Tasya melenguh pelan.

Kevin masih sibuk dengan mainan yang ada di hadapannya. Bibir juga tangannya cukup lihai memainkan dua payudara milik Tasya. Tangan kanannya meremas dengan lembut juga memutar serta memilin puting kekasihnya yang sudah menegang sedari tadi.

“Ngghhh... Ahh...” Desahan wanita itu tiba-tiba lolos begitu saja. Tasya sangat menikmati foreplay yang di berikan kevin. Setelah puas memainkan payudara Tasya kini jemari Kevin menjelajahi bagian bawah milik wanita itu. Ia gesek bibir vagina milik Tasya menggunakan jemarinya juga menyentuh klitorisnya dan memutar dengan ibu jarinya membuat Tasya melengkungkan tubuhnya juga membusungkan dada tepat di depan wajah Kevin.

Lelaki yang di sodori dua gundukan payudara itu tak membuang kesempatan, ia kulum puting kekasihnya juga sesekali menghisap nya dengan kencang. Detik berikutnya tanpa ada aba-aba Kevin melesatkan dua jarinya ke lubang milik Tasya hingga membuat gadis itu kaget dan mengerang.

“Aahhhh.... Sayang....”

“Hm? Kamu suka kan?” “Pelan aja ya?” Tawar Kevin.

“No! Kencengin!”

Lelaki itu tersenyum tipis lalu menuruti apa yang di ucapkan kekasihnya. Ia memperdalam jarinya juga mempercepat tempo kocokan pada liang kenikmatan milik Tasya. Wanita itu tampak menikmati permainan jemari Kevin hingga mendesah berkali-kali.

“Aahhh.... Sayang terus!”

“Sssshhh..... Ahh.. Ma..u keluarrr yanggg...”

Mendengarnya Kevin kemudian mengocok liang milik Tasya dengan tempo yang cepat, hingga wanita itu mencapai pelepasannya yang pertama hanya dengan menggunakan jari Kevin. Cairan dari lubang vagina Tasya keluar dan membasahi jemari lelaki itu.

“Udah lega sayang?” Tanya Kevin dengan mengeluarkan dua jarinya yang sangat basah akibat pelepasan kekasihnya lalu tanpa ada rasa jijik, Kevin menjilati dan menyesap cairan itu.

“Jijik tau sayang...” Tasya memegang tangan Kevin. Lelaki itu hanya tersenyum dan terus menjilati jarinya hingga cairan yang menempel itu habis tak tersisa.

“Lanjut?” Tanya Kevin.

Tasya tersenyum dan mengangguk kepala tanda setuju lalu menanggalkan lingerie yang di kenakan juga g-string dan membuangnya ke lantai. Tasya berdiri diatas sofa dengan melebarkan dua kakinya menghadap ke arah Kevin yang masih duduk dan sedang sibuk melepas semua pakaian yang di kenakannya. Hingga dua sejoli itu tampil naked. Terlihat jelas batang penis besar dan berotot milik Kevin sudah mengacung tanda siap untuk menggempur milik Tasya.

“Sini...” Ucap Kevin pada Tasya sambil menepuk pahanya. Namun Tasya yang sudah tidak sabar setelah melihat penis kekasihnya, tanpa ada tawar menawar ia memegang penis itu dan mengarahkan ke lubang vaginanya sendiri yang sudah basah. Wanita itu menggerakkan pinggulnya juga menekan penis Kevin ke bawah agar masuk dengan sempurna.

“Egghhhh....” Kevin mengerang, merasakan nikmatnya lubang milik kekasihnya yang terasa sempit. Tanpa di perintah, dengan lihai Tasya menggerakkan pinggulnya juga memaju mundurkan dengan tempo yang sedang. Dua tangan Kevin memegang bokong kekasihnya lalu menggerakkan seirama dengan tempo yang di ciptakan oleh Tasya.

“Ahhh... Enak banget sayang....” Tasya merancau tanpa sadar karena penis yang terasa sesak dan penuh itu terasa menyentuh titik g-spot miliknya membuat Tasya lebih cepat hendak mencapai klimaksnya. Tangan wanita itu melingkar di leher Kevin dan ia mendongakkan kepalanya karena nikmat di bawah sana. Payudara yang menyembul sempurna tepat di hadapan wajah Kevin, membuat lelaki itu semakin beringas. Ia menyesap juga memainkan putingnya dengan lidah. Tasya benar-benar dibuatnya melayang hingga langit ketujuh.

“Aahh... Sayaangghh... Mau cumhh...”

Belum selesai kalimat yang keluar dari bibir Tasya, lelaki itu sudah paham bahwa kekasihnya hendak mencapai pelepasannya lagi. Ia cengkeram pinggul kekasihnya lalu ia gerakkan lebih cepat, penis Kevin terasa membesar dan penuh sesak serta vagina Tasya yang mulai berkedut tanda keduanya hendak mencapai titik orgasm-nya.

“Egghhh... Aku juga mau keluar sayang... Bareng ya...”

“Aaahhh... *Fasterrr pleasehh...” Pinta Tasya di tengah penetrasinya.

Dua sejoli itu sama-sama mempercepat tempo gerakan, desahan semakin keras dan menggema ke seluruh ruangan. Kevin terus menghentakkan pinggulnya hingga batang penis itu menumbuk titik g-spot dan mereka mencapai klimaks bersamaan. Cairan sperma juga cairan milik Tasya bercampur di bawah sana memenuhi lubang vaginanya. Tubuh wanita itu ambruk ke pelukan Kevin tanpa melepas pertautan di bawah sana. Lelaki itu mengusap dengan lembut kepala juga punggung kekasihnya.

“Udah enakan? Lega?” Tanya Kevin dengan berbisik di telinga kekasihnya dan di jawab dengan anggukan kepala saja.

“Thank you... Dosen kesayangan aku...” Ucap Tasya sembari tersenyum puas. Kevin membalas dengan mengecup singkat bibir wanita masih berada di pangkuannya itu.

“Sayang mandi yuk?” Pinta Kevin.

Tasya mengangguk dan merentangkan kedua tangannya memberi kode pada lelaki itu agar menggendongnya. Kevin menuruti apapun permintaan Tasya.

Baginya, Tasya adalah gadis kecil yang lucu dan manja.

Setelah mendapat persetujuan dari kekasihnya, Nico bergegas kerumah Adel, menjemput kemudian mengajaknya singgah di apartemen nya.

“Del, bawa baju kerja sekalian, tidurnya di apart ya?” Ujar Nico yang kini sedang tiduran diatas ranjang kamar Adel. Wanita itu menganggukkan kepala tanda setuju kemudian membawa satu stel baju kerja, ia masukan ke dalam totebag lalu mengemasi make up, juga laptop sebagai alat tempurnya saat bekerja.

“Baju tidur?” Tanya adel.

“Gak usah, pakai baju gue aja.” Tutur Nico. Adel mengangguk lagi, ia mengambil handbag-nya dan menyodorkan totebag nya kearah Nico. Lelaki itu paham lalu mengambil alih totebag bag milik Adel. Dua sejoli itu kemudian pergi ke apartemen Nico.

Sesampainya di apartemen Nico, lelaki itu bergegas menaruh totebag di kamarnya. Sedangkan Adel sibuk berada di dapur.

“Lo ngapain yang?” Tanya Nico berjalan kemudian berdiri di belakang Adel.

“Bikin kopi” Jawab Adel singkat.

Mata Nico cukup tergoda dengan tubuh Adel yang saat itu, Adel menggunakan hotpants yang hanya menutupi pantatnya saja. Sedangkan atasannya ia menggunakan tanktop. Saat wanita itu berjinjit mengambil kopi di rak kitchen set yang berada diatas, lekuk tubuh Adel terlihat sangat menggoda birahi Nico. Lelaki itu kemudian menghampiri Adel yang tengah mengaduk kopi dan menggodanys dengan menggesek area intimnya menggunakan jari tengah.

“Enghhh...” Adel kaget dan melenguh pelan.

“Nico, awas ini kopinya panas. Jangan ganggu ahh.”

Nico hanya tersenyum smrink dan terus menggoda wanita itu. Ia malah mengungkung tubuh kekasihnya dengan kedua tangan hingga Adel tak bisa bergerak kemanapun. Lelaki itu lalu menciumi tengkuk, leher juga telinga Adel hingga wanita itu merasa geli dan bergidik merinding. Sesungguhnya Adel merasa sedikit kesal karena ia ingin menikmati kopinya tetapi terus di ganggu oleh Nico. Detik berikutnya wanita itu membalikkan tubuhnya kemudian mereka saling berhadapan.

“Katanya lo mau liat kupu-kupu babe? tanya Nico dengan nada menggoda dan memainkan lidahnya. Adel tersipu mendengar ucapan Nico dan menahan tawanya. Wanita itu tau pasti maksud perkataan kekasihnya.

“Mmm... Kupu-kupu yang ini, apa yang ini?” Kata Adel iseng sembari memegang bagian perut Nico yang bertattoo lalu beralih ke penis kekasihnya yang sudah mulai ereksi. Nico merespon cepat kelakuan Adel yang tengah menggodanya. Lelaki itu mengangkat tubuh kekasihnya keatas meja, lalu melucuti tanktop serta bra yang di kenakan Adel .

“Nic, lo tanpa basa basi banget sih...”

“Salah siapa godain mulu.–” Ucap Nico sambil melepas “hotpants* Adel hingga tersisa G-string-nya saja.

“Hmmm.. Ini juga sengaja kan pake G-string?” Ucap Nico nakal dengan meremas area intim Adel.

“Eghhh...” Lenguhan tak sengaja keluar dari bibir Adel karena ulah jail kekasihnya. Nico lalu mendorong tengkuk Adel, membawa ke dalam ciumannya dan melumat bibir ranum milik Adel penuh nafsu. Tangannya tak tinggal diam, meremas gundukan payudara kekasihnya. Ia terus meremas perlahan lalu memilin dan memutar puting Adel yang mulai menegang. Wanita itu mulai terangsang, ia menahan desahan dengan melumat bibir Nico.

Jemari Nico kemudian meraba perut kekasihnya lalu semakin turun, mengusap paha dan terus bergerilya hingga sampai menyentuh milik Adel yang dirasa sudah basah. Dua jarinya menggesek perlahan sebelum akhirnya melesat menembus lubang kenikmatan milik Adel.

“Ahh... Nic, pelan.”

Dua jemari Nico keluar masuk liang vagina kekasihnya dengan tempo sedang, memutar ibu jarinya memutar klitoris dengan kasar membuat Adel mendesah sangat kencang.

“Ngghhh... Ahh....”

Nico tau betul cara membuat kekasihnya menikmati semua permainannya. Kedua tangan Adel bertumpu pada meja saat liangnya di mainkan oleh Nico. Ia terus mendongakkan kepalanya menikmati jemarin Nico yang sangat lincah bermain di bawah sana.

“Ahhh... Nic, ahh... A aku...”

“Udah mau keluar yang?” Tanya Nico yang masih memainkan jarinya lalu bibirnya menciumi leher Adel. Wanita itu merasa ia hampir sampai pada pelepasannya, namun dengan iseng Nico malah mengeluarkan jarinya membuat Adel kesal.

“Nico!” Pekik Adel sambil menepuk pundak kekasihnya. Sedangkan lelaki itu hanya terkekeh melihat wanitanya tampak kesal. Nico lalu melepas semua pakaian yang ia kenakan, juga melepas G-string yang masih menempel disana. Dan keduanya kini dalam keadaan telanjang. Nico lalu menarik tubuh Adel agar merapat dengan tubuhnya. Kedua tangan wanita itu masih bertumpu pada meja makan dan kedua kakinya di naikkan keatas meja. Tanpa aba-aba, Nico melesatkan penis besarnya yang sudah tegang dan keras dalam satu kali hentakan.

“Ahh... Nic!”

Lelaki itu memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang. Lalu bibirnya sibuk menciumi leher sang kekasih hingga meninggalkan bekas ruam kemerahan.

“Ughh... Kenapa sih lo enak banget Del.. Sayang banget sama lo” Ucap Nico di sela permainan nya.

“Ahh... Tattoo lo bikin tambah sexy Nic...” Rancu Adel di tengah penetrasi. Lelaki itu terus menggoyangkan pinggulnya semakin lama semakin cepat, lalu bibirnya mulai menjamah dua gundukan payudara Adel. Ia menyesapnya seperti bayi yang sedang kelaparan. Memainkan putingnya dengan lidah, kemudian mutarnya dan sesekali menggigit puting Adel karena gemas.

“Ahh Nico jangan digigit!” Pekik Adel.

Ketika lelaki itu sibuk menggenjot dan terus menambah temponya, jari Nico bermain dengan klitoris milik wanita itu, ia putar dengan cepat membuat Adel mendesah kencang dan merasakan hendak mencapai klimaks.

“Ngghhh... Ahh... Nic, m-mau keluar...”

“Bareng ya sayang...”

Nico kemudian menambah tempo gerakannya, ia percepat karena Adel sudah tak bisa menahan pelepasannya. Ia hentakkan beberapa kali sampai menyentuh titik g-spot milik Adel dan keduanya mencapai klimaks bersamaan.

“Ahhh... Nic...”

“Ughhh...”

Mereka mendesah bersamaan saat mencapai klimaksnya. Cairan milik Adel juga Nico bercampur menjadi satu hingga lubangnya tak mampu menampung. Nico memeluk erat tubuh kekasihnya lalu mengusap lembut punggungnya. Tangannya menarik tissue yang berada di belakang Adel, mengambilnya beberapa lembar kemudian membantu membersihkan kepunyaan Adel.

“Sini gue bersihin, abis ini mandi bareng ya babe..”

“Mm..” Jawab Adel juga dengan anggukan kepala.

“Gendong Nic...” Ucap Adel manja.

“Belakang aja ya?” Tawar Nico lalu memberikan punggungnya pada kekasihnya. Wanita itu kemudian merangkul punggung Nico, tangannya melingkar di leher kekasihnya dan lelaki itu membawanya ke kamar mandi.

“Lo bikin tattoo kapan Nic? Sama siapa?” Tanya Adel sembari membenamkan wajahnya pada ceruk leher Nico.

“Sama Jovan, dua hari yang lalu.” Jelas Nico.

“Dasar! Gak bilang-bilang.” Ucap Adel sambil menepuk pundak lelaki itu.

“Lah dari pada lo tergila-gila sama Park jae on, mending gila nya sama gue Del..”

Mendengar jawaban Nico, wanita itu tertawa lepas tanpa beban. Keduanya kemudian berendam di dalam bathup berisi air hangat guna melepaskan rasa lelah di sekujur tubuhnya.

Ketika hampir memasuki siklus menstruasi rata-rata wanita mengalami mood swing. Perubahan suasana hati menjadi tidak stabil, cepat marah bahkan tiba-tiba menangis tanpa sebab. Nathalie pun juga mengalami hal yang sama, bahkan dengan mudah tersulut emosinya. Sebelumnya pun sudah membuat pertengkaran kecil dengan Jeremy. Dan lelaki itu sempat terpancing emosinya. Jika sudah seperti ini biasanya Jeremy akan bersikap lebih memanjakan Nathalie. Memeluknya sampai tertidur, mengusap pinggang yang mulai terasa nyeri, bahkan jika kekasihnya merasa heat Jeremy akan membuatnya relax dengan sentuhan jemarinya.

Jeremy mengangkat tangan kirinya dan menatap arloji yang menempel di tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Ia bergegas meninggalkan meja kerjanya, menenteng jas dan kunci mobil kemudian berjalan keluar gedung dan segera menemui Nathalie yang sudah menunggunya.

Ketika sampai di depan unit apartemen Nathalie, lelaki itu menekan pin smartlock yang menempel pada pintu. Membukanya perlahan kemudian langkah kakinya mengarahkan pada kamar kekasihnya. Sudah bisa di pastikan Nathalie berada di kamarnya.

“Sayang....”

Jeremy memanggil Nathalie dan disambut dengan jawaban singkat tanpa menoleh sedikitpun kearah suara itu.

“Hmm....”

Nathalie sedang meringkuk diatas sofa dengan tangan yang memeluk bantal serta matanya fokus pada serial drama yang ia tonton. Jeremy kemudian menghampirinya, mengelus punggung kekasihnya lalu meraih tubuh mungil itu dan memeluknya. Nathalie sangat menikmati hangatnya tubuh Jeremy serta aroma parfum yang khas tercium membuat libidonya naik ketika berada di pelukan Jeremy.

“Mana yang nyeri? Sini biar aku usap-usap.”

“Jadi ini yang memancing emosi dari tadi siang?” Lanjut Jeremy dengan nada bicara yang lembut dan sedikit berbisik ke telinga Nathalie hingga membuatnya merinding. Wanita itu lalu membenamkan kepalanya pada leher Jeremy dan membalas pelukannya seakan tak mau lepas. Jeremy merasakan detak jantung kekasihnya berdegup begitu kencang juga sikapnya yang terlihat gelisah.

“Sayang.. Jangan emosian ya, sekarang aku udah disini peluk kamu.” — “Mau relax gak? Hm?” Tawar Jeremy.

Nathalie hanya menatap dua bola mata Jeremy seakan meng-iya-kan tetapi dengan kode, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Lalu di balas dengan senyuman oleh Jeremy.

Jeremy kemudian melepas hoodie yang di kenakan Nathalie. Wanita itu hanya mengenakan celana dalam saja, payudaranya di biarkan terbebas tanpa bra yang menutupi. Seperti sudah siap dengan permainan jari-jari kekasihnya. Jeremy mendekat dan mendaratkan tangan kanannya pada payudara Nathalie. Memutar perlahan, meremasnya dan merasakan payudaranya mengeras pertanda gadis itu sudah mulai terangsang.

Jeremy lalu mencium bibir wanita itu. Ciuman yang awalnya sangat lembut tiba-tiba Nathalie mengubahnya menjadi lumatan yang sedikit kasar. Jeremy tau pasti jika kekasihnya sudah mulai terangsang.

Tangan Jeremy masih meremas payudaranya dengan lembut, memainkan dan memilin putingnya yang terasa sudah menegang. Kemudian lelaki itu perlahan merebahkan tubuh kekasihnya di sofa. Bibirnya bergerilya menjamah setiap lekuk tubuh Nathalie. Sesekali menjilatinya, membuat wanita itu semakin gelisah . Payudara Nathalie yang sangat pas di genggaman itu sangat menggoda lelaki di hadapannya itu. Tanpa mengulur waktu, Jeremy menyesap payudara kekasihnya seperti bayi yang kelaparan. Tangan kanannya sibuk memilin payudara satunya.

“Ngghh...” Lenguh Nathalie.

Setelah puas memainkan payudara dengan bibirnya, Jeremy kemudian melepaskan celana dalam Nathalie dan menampilkan vagina Yang sudah basah. Perlahan jarinya ia gunakan untuk memutar klitorisnya dengan sedikit kasar membuat gadis itu mendesah karena nikmat.

“Aahhhh.... Sayang..”

“Kamu suka?” Tanya Jeremy dan hanya di balas dengan anggukan saja. Terlihat raut wajah Nathalie seakan memohon untuk secepat mungkin di buatnya relax. Tanpa aba-aba, dua jarinya melesatkan kedalam lubang kenikmatan milik Nathalie. Jarinya sangat terampil mengocok lubang vagina kekasihnya hingga membuat wanita itu melenguh kencang

“Aahhh... Jer.”

Jeremy terus mengocok lubang kenikmatan milik Nathalie dengan tempo yang sangat kencang dan kasar, tangan kirinya ia gunakan untuk memainkan puting Nathalie hingga membuatnya hendak mencapai klimaks.

“Jer.. Aahhh... A-aku mau keluar” Ujar Nathalie.

Mendengar hal itu Jeremy semakin mempercepat kocokan di bawah sana, lubang vagina milik Nathalie terasa sangat basah, tak lama tangan wanita itu meremas sisi pada sofa dan mendesah dengan sangat kencang ketika mencapai pada pelepasannya.

Cairan milik Nathalie terasa hangat membasahi jari-jari kekasihnya. Jeremy lalu mengeluarkan jarinya dari lubang vagina Nathalie. Detik kemudian, Jeremy merenggangkan kedua kaki Nathalie, tanpa berpikir panjang, lelaki itu menyesap dan menjilati lubang surgawi milik kekasihnya. Sesekali memainkan klitoris dengan lidahnya. Nathalie terus mengerang dan mendesah akibat permainan yang di ciptakan Jeremy di bawah sana terlalu nikmat. Setelah semua cairan ia bersihkan menggunakan bibirnya, lalu Jeremy mencium singkat bibir dan kening Nathalie.

“Udah enakan sayang? Lebih relax kan?” Tanya lelaki itu sembari mengusap pucuk kepala Nathalie. Pertanyaan yang keluar dari bibir Jeremy membuat wanita itu tampak tersipu malu dan hanya menjawab dengan anggukan kepala juga senyuman yang merekah di wajah Nathalie.

“Sini aku gendong, bersih2 dulu ya sayang..”

Nathalie kemudian merangkul tubuh Jeremy, dan kekasihnya itu menggendong tubuh Nathalie ala bridal style menuju kamar mandi. Tak ada yang menyadari malam itu sesungguhnya ada seseorang yang sedang mengawasi Nathalie. Terlebih ia lupa tak menutup gordyn sehingga kegiatan berdosa itu terlihat dari luar.

Ting tong...

Denting bel rumah Sherin berbunyi nyaring, sedikit mengagetkan wanita yang sedang duduk bersantai di ruang tengah sembari menikmati satu cup ice cream strawberry berukuran sedang kesukaannya. Sherin kemudian beranjak dari duduknya dan berlari kecil, membukakan pintu untuk sang kekasih. Senyum Noah merekah ketika melihat Sherin hanya mengenakan bralette dan celana pendek atas lutut dengan warna senada.

“Yanggg.. Kok gak pakai baju, sengaja ya?” Ucap Noah dengan deep voice-nya seraya berbisik di telinga sang kekasih.

“Gerah tau...” — “Aku lagi makan ice cream di ruang tengah.” Lanjut Sherin.

“Mau ice cream, suapin..–” Ujarnya, manja kepada Sherin.

Sherin menggandeng tangan Noah dan mengajaknya duduk bersantai di ruang tengah. Wanita itu sengaja tidak memberi tau bahwa ice cream yang ia makan sejak tadi adalah rasa strawberry, varian rasa yang amat di benci oleh Noah.

“Nih, mau?” Sherin menyodorkan ice cream ke hadapan kekasihnya.

“Hih! Sher! Wleekk...” — “Jijik gak suka strawberry.” Lanjut Noah.

“Enak tauu...” Sherin terkekeh sembari menatap raut wajahnya sang kekasih yang tampak manis kala poni menutupi keningnya, tampak menggemaskan. Pikiran nakal Noah muncul seketika, lelaki itu memang sedari tadi mencuri pandang ke arah dua gundukan payudara yang padat dan menyembul milik kekasihnya.

“Ayangg, aku mau ini, sama ini.–” Ucap Noah dengan menaikkan satu alisnya, sedangkan tangannya bergantian meremas payudara dan berpindah ke area vagina kekasihnya.

“Masih nge-ganjel kaya gini?” Lanjut Noah tersenyum miring sembari meremas area kewanitaan milik Sherin.

“Ya kan aku udah bilang, lagi dapet. Kamu aja yang napsu-an.” Gerutunya.

“Lagi dapet, malah makan ice cream.”

“Sengaja, biar darahnya berhenti bentar.” Ucap Sherin dengan menatap dua bola mata kekasihnya. Dan di balas dengan tatapan penuh intimidasi oleh Noah.

“Yangg.. Udahan makan ice creamnya, pengin ngewe sih....” Ujarnya. Lelaki itu sedikit memohon dengan tangan kanannya mengusap-usap payudara Sherin.

“Tunggu di kamar, aku mandi dulu.” Sherin beranjak dari duduknya dan berbalik badan. Noah lalu mengekor di belakang sambil meremas lagi bokong sintal milik gadisnya.

“Ihh, Noah.. Gak tahan banget sih..”

“Kontolku dari tadi udah berdiri tau yangg...” Ucap lelaki itu sembari mengusap kepunyaannya dari luar celana jeans-nya.

Wanita itu menoleh kearah Noah lalu menggelengkan kepalanya. Kekasihnya ini memang lebih suka terang-terangan jika mengungkapkan sesuatu yang di inginkan nya terlebih tentang seks. Dua sejoli itu menaiki tangga ke lantai dua lalu masuk ke kamar Sherin yang di dominasi warna peach. Dinding kamar mandi di dalam terbuat dari kaca model etched glass sehingga Sherin yang tengah membersihkan tubuh nya di bawah pancuran shower itu terlihat jelas.

Noah yang merasa gerah dan penisnya sudah ereksi sedari tadi, sudah tidak kuat menahan nafsunya sendiri. Ia lalu menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya, sampai benar-benar tampil naked. Ia berjalan kearah kamar mandi, sambil mengocok perlahan penisnya sendiri.

Sherin tak menyadari jika sang kekasih sudah berada di dalam kamar mandi beberapa saat lalu, pasalnya wanita itu tengah asik memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya menikmati air yang mengalir.

Noah merapatkan badannya di belakang Sherin, hingga penisnya menyentuh sela bokong wanita itu. Sedangkan kedua tangannya menangkup payudara sintal milik Sherin, kemudian meremas-remas perlahan dan memainkan putingnya agar gadisnya cepat terangsang.

“Yangg...”

“Hm?”

“Kontolmu keras banget sih, jangan di gesekin gitu...” Ucap Sherin yang mulai terangsang, ia memejamkan kedua matanya sembari merasakan gesekan di bawah sana.

“Kenapa?” Tanya Noah berbisik di telinga kekasihnya.

“Ngghhh... Pengin cepet di masukin aja...” Desahan Sherin lepas begitu saja ketika merasakan penis Noah yang terus di gesekkan di selah bokongnya dan menyentuh klitoris nya.

“Baru di gesek udah desah, enak yang?” Ucap Noah yang terus menggoda gadisnya dengan terus menggesek lubang vagina milik Sherin.

“Egghh.... Noah, please...” Erang Sherin, sudah tak tahan dengan rangsangan yang di berikan sang kekasih. Noah menuntun dua tangan Sherin agar menumpu pada tembok dan mengarahkan tubuh gadisnya agar sedikit condong.

“Lebarin kakinya Sher,–”

Sherin menuruti apa yang di ucapkan Noah, melebarkan kakinya dan memposisikan tubuh menungging ala doggy style. Lelaki itu kemudian mengambil shower jet spray yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Lalu menyemprot lubang vagina milik Sherin juga mengenai klitorisnya. Sontak gadis itu berteriak karena kaget dan nikmat yang bercampur di bawah sana.

“Aaahhh... Ngghh.. Noah!” Pekiknya.

“Enak yang?” Tanya Noah sambil menggoda kekasihnya.

“Ahhh... Brengsek Noah!” Wanita itu mendesah juga mengumpat karena ulah kekasihnya. Lelaki itu lalu menyudahi aksi menghujam lubang kekasihnya menggunakan air, dan dengan secepat mungkin memasukkan dua jarinya ke lubang surgawi milik Sherin.

“Aahhh... I like it, Noah! Fasterr please ngghh...” Rancu Sherin, merasakan jemari kekasihnya yang mengocok lubangnya dengan tempo yang cepat hingga membuatnya hampir mencapai klimaks.

“Ahhh... Babe, mau keluar.”

“Wait yangg... Keluarnya pake kontolku aja ya?” Tawar Noah dengan melepas dua jarinya yang menancap dalam lubang milkk Sherin.

“Ihh Noaahhh, udah mau keluar padahal...” Rengek Sherin ketika hendak sampai tetapi malah kekasihnya itu seperti menggodanya.

“Keluar ya bareng Sher, ini lobang minta di kontolin ya? Seret amat..” — “Doggy ya sayang...” Lanjut Noah.

“Buru ih!” Sherin sudah tak sabar dengan permainan panasnya dengan Noah, doggy style adalah posisi favorit Sherin. Karena ia tak akan di buat kelelahan pada saat penetrasi dan bisa mempercepat orgasme. Noah melesatkan penisnya yang sudah tegang dan keras ke dalam lubang vagina milik kekasihnya dengan sekali hentakan.

“Egghhhh.....” Lenguh Sherin.

Lelaki itu menggoyangkan pinggulnya dengan tempo yang sedikit cepat, penis yang terasa penuh dan sesak itu tertanam di dalam lubang kenikmatan milik kekasihnya. Tangan kiri Noah memegangi pinggul Sherin, menyamakan tempo gerakan nya. Sedangkan tangan kanan nya bermain dengan klitorisnya, jari lelaki itu memutar klitoris milik Sherin dengan cepat dan kasar sehingga membuat wanita itu mendesah dan mengerang keenakan.

“Aahhh... Shit! Noah, faster please! Aahhh...”

Sherin terus mendesah tak karuan, tubuhnya seakan di bawa melayang oleh kenikmatan yang di ciptakan Noah.

“Ugghh... Enak banget Sher, ini lubang sempit enak.–” Rancu Noah.

“Aahh.. Aaku mau keluarr... Ngghh... Tusuk disitu yangg...”

“Barengan sayang...” Noah lalu menggenjot lubang kenikmatan milik kekasihnya dengan tempo yang makin cepat, ia hentakan berkali-kali hingga menyentuh g-spot milik Sherin dan dua sejoli ini mengerang dan mencapainya klimaks bersamaan. Spermanya melebur bercampur dengan cairan milik Sherin. Lelaki itu memeluk tubuh kekasihnya dari belakang, sedangkan penisnya masih tertanam di bawah sana. Sherin kemudian menarik tuas shower agar airnya mengalir lebih deras membasahi keduanya.

“Mandi lagi ya yangg...” Ucap Noah.

“Ehh, udahan dong..” Ujarnya, sembari memukul kecil dada bidang kekasihnya.

“Apanya? Kan emang udah. Lo mau lagi?” Ucap Noah menggoda Sherin yang tengah mengatur nafasnya.

“Itu kontolnya lepasin dulu sayang...” Gerutu Sherin, wajahnya gemas.

“Ohh iya...” Ucap Noah lalu melepaskan penisnya dari lubang milik Sherin. Dua sejoli ini saling membersihkan diri, dan sesekali Noah mengecup bibir, pipi serta leher kekasihnya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Sherin.

Tok tok tok...

“Sherin, kamu di dalam nak? Itu yang parkir mobil di depan gerbang siapa ya?” — “Mobil papa gak bisa masuk.”

“SHIT!!”

Jantung Sherin serasa mau copot. Mendengar suara papa nya yang berada di balik pintu kamar.

Nathalie meletakkan ponsel diatas nakas kemudian langkah kakinya menuntun keluar dari tempat peraduannya. Jauh di dalam sana, perempuan ini sesungguhnya tak begitu menginginkan Jovan. Hatinya tetap pada Jeremy. Jovan hanyalah sosok yang telah berhasil merobohkan kesetiaannya terhadap Jeremy. Ia merasa benar-benar terjebak dalam situasi yang sulit.

Isi pesan dari Jovan sudah bisa di pastikan bahwa ia harus bersiap untuk menerima serangan keganasan bosnya. Bagaimana tidak, Jovan sangat terobsesi dengan Nathalie, tubuh, suara, bahkan nafas sekretarisnya itu adalah candu baginya. Hati Nathalie mungkin bisa berkata tidak, tetapi tubuhnya tak bisa menolak, karena sentuhan Jovan semata-mata membuatnya menggila.

Nathalie membuka pintu unit apartemen dengan muka yang tampak datar. Di balik pintu sudah ada Jovan, kemejanya cukup berantakan, beberapa kancing bajunya terlepas dan tangan kirinya menggenggam sehelai dasi berwarna hitam. Tatapan matanya tampak haus akan nafsu yang tertahan.

Nathalie yang semula berdiri tepat di depan pintu, lalu bergeser dan sedikit merapat ke tembok agar ada celah untuk Jovan yang masuk tanpa di persilahkan olehnya. Lelaki di hadapannya itu kemudian membanting pintu dengan sedikit kasar dan membuat Nathalie tersentak kaget.

Kedua bola mata Nathalie tampak menelisik ditambah keingintahuan terhadap bosnya. Sedangkan Jovan menatap lekat sekretarisnya dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa berkedip barang sedetikpun. Jovan menelan ludahnya sendiri ketika melihat pemandangan tubuh Nathalie yang saat itu hanya mengenakan lingerie berwarna hitam, tanpa mengenakan bra.

Jovan mendekat dan merapatkan tubuhnya di hadapan Nathalie. Kedua tangannya bertumpu pada tembok didepannya dengan posisi mengunci Nathalie di dalamnya. Dua bola mata mereka bertemu, nafas keduanya pun mulai berat.

“Jov, mundur..” Ucap Nathalie. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong tubuh Jovan, namun gagal. Lelaki itu tak bergeming bahkan seperti mendapat kesempatan untuk bermain dengan sekretarisnya. Kedua tangan Nathalie yang masih menempel di dadanya itu lalu ia genggam dan mengikatnya dengan sehelai dasi yang dia bawa sejak tadi .

“Jovan! Apa-apaan sih?!”

“Sssttt... I miss your body, your lips and your moan..” Ucapnya dengan mendekatkan bibir ke telinga Nathalie hingga membuatnya merinding.

Jovan lalu melanjutkan kegiatan mengikat kedua tangan sekretarisnya itu dengan dasinya. Kemudian kedua tangan yang sudah terikat itu ia rapatkan ketembok dan menahannya dengan posisi diatas kepala Nathalie. Detik berikutnya Jovan mendaratkan lumatan kasar ke bibir Nathalie .

“Mmpph....” Sedikit desahan yang lolos keluar dari bibir Nathalie tampaknya membuat Jovan semakin gusar . Tangan kanannya meremas kasar payudara Nathalie yang sejak tadi tak mengenakan bra. Putingnya yang mulai mengeras tergambar nyata di balik lingerie tipisnya yang terus dimainkan oleh Jovan. Ia putar-putar putingnya dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya hingga membuat tubuh Nathalie bergerak gelisah.

Lumatan yang kian kasar itu kemudian berpindah dengan menjamah telinga, hingga leher dengan menggunakan bibir Jovan. Ia mengecup dan menjilati leher Nathalie hingga membuatnya naik dan basah.

“Stop Jov...” Pintanya, namun tak di gubris oleh Jovan.

Lelaki itu justru semakin kasar. Ia melepaskan lingerie yang di kenakan Nathalie, juga melepaskan celana dalamnya yang masih menempel. Kemudian dengan cepat membalikkan tubuh mungil Nathalie menghadap ke tembok. Tangan yang masih terikat itu sebagai tumpuan untuk menopang tubuhnya.

Tubuh mulus dan sintal Nathalie adalah pemandangan yang menyegarkan mata Jovan. Lelaki bertubuh kekar itu lalu berjongkok di belakang Nathalie, kedua tangannya ia gunakan untuk meremas bokong sintal itu lalu ia merenggangkan bokong Nathalie hingga terlihat liang vagina yang sudah basah. Detik kemudian Jovan menyesap lubang vagina milik Nathalie dan membuat gadis itu mengerang.

“Sss.. Ahhh....”

Di bawah sana, Jovan terus menyesap lubang vagina, lidahnya ia gunakan untuk menekan-nekan dan memainkan klitorisnya hingga Nathalie mengeluarkan desahan yang cukup keras.

“Ngghhh... Jovan! Aaahhh... Stop!“

Jovan seperti tuli, ia terus melakukan apa yang membuatnya senang tanpa mendengarkan Nathalie. Setelah dirasa lubang vaginanya cukup basah, barulah ia berhenti menjilatinya.

“Lets play.. Huh?!” Bisiknya ke telinga Nathalie.

Wanita itu diam saja, ia tengah mengatur nafas yang mulai memburu. Jovan lalu melepaskan celana serta boxernya hingga terlihat penis besarnya yang berotot itu tegap mengacung siap bersarang di vagina Nathalie. Jovan cukup nakal dengan menggoda Nathalie, ia gesekkan kepala penisnya berulang kali ke lubang vaginanya hingga sengaja mengenai klitorisnya.

“Aahhh Jov...”

Tanpa aba-aba, Jovan melesatkan penis besarnya dalam satu kali hentakan. Membuat wanita itu tersentak kaget dan menjerit karena penis itu menyodok tepat pada titik g-spot miliknya.

“Aaahhh...” Desahnya panjang.

Jovan terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, penisnya menyodok penuh kedalam lubang vagina Nathalie. Terasa sesak di bawah sana, namun itulah kenikmatan yang dirasakan oleh Jovan.

“Ughh.. I like that!” Ucap Jovan. Dengan gerakan memaju mundurkan pinggulnya begitu keras dan kasar. Kedua tangannya memegang pinggul Nathalie dan menggerakannya sesuai dengan tempo genjotannya. Wanita yang di hadapannya tak sanggup berontak, ia terus mengeluarkan desahan tanda kenikmatan yang di rasakan di bawah sana.

“Ngghh... Jov! A-aku mau.. Aahhh....”

“Mau keluar? Ha?” Lanjut Jovan. Dan hanya di balas anggukan oleh Nathalie.

Jovan melepaskan penisnya lalu mengubah posisi keduanya. Ia membalikkan tubuh Nathalie hingga berhadapan dengannya. Lalu mengangkat satu kaki Nathalie dan melesatkan kembali penisnya ke lubang kenikmatan milik sekretarisnya.

“Aaahhh... Jov, pelan..”

Jovan hanya mengecup singkat bibir Nathalie dan melanjutkan kegiatan menghujam keras-keras lubang vagina dengan penisnya yang besar. Tak lama, Nathalie mulai merasakan ingin mencapai klimaksnya.

“Aaahhh... Ma-u keluar.. Ngghhh...”

“Wait me.. Ughhh... Ahhh.. Yess!” Rancu Jovan menikmati permainan yang ia ciptakan begitu kasar. Ia lalu mengangkat kaki Nathalie dan mengalungkan ke pinggulnya seperti koala. Jovan tampak lebih mudah menggoyangkan pinggulnya semakin cepat.

Tangan Nathalie melingkar di leher Jovan, dan ke dua tangan Jovan ia gunakan untuk memegangi bokong gadis itu agar lebih mudah menyamakan gerakan saat penetrasi. Jovan semakin mempercepat gerakannya karena dirasa penisnya sudah semakin membesar dan sangat keras menandakan ia juga akan sampai pada pelepasannya. Lubang vagina Nathalie mulai mengetat dan berkedut. Wanita itu terus mendesah dan sedikit berteriak karena nikmat yang ia rasakan mengalir sampai pucuk kepalanya.

“Ahhh Jovan... Ahhh....”

Di hentakkan penis itu dengan keras dan menyodok g-spot milik Nathalie, bersamaan dengan pelepasan keduanya. Sperma Jovan menyembur di dalam rahim wanita itu bercampur dengan cairan milik Nathalie memenuhi lubang vagina hingga mengalir di sela pahanya.

Jovan tak urung melepaskan pertautan di bawah sana, ia masih dengan posisi menggendong Nathalie. Gadis itu membenamkan wajahnya di leher Jovan dan mengatur nafasnya yang terengah-engah. Lelaki itu mengecup singkat pucuk kepala Nathalie lalu berjalan menuju kamar mandi.

“Jov...” Suaranya terdengar sedikit parau.

“Hmm”

“Are you crazy?“

“Aku gila karena kamu Nathalie!”

Nathalie lalu terdiam dan tak melanjutkan ucapannya. Sesungguhnya ia sangat ketakutan dengan apa yang di lakukan saat ini, ia takut jika hubungannya di ketahui oleh Jeremy, juga takut ia terjebak lebih dalam dengan Jovan.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan dari bandara Ngurah Rai, Bali menuju Ubud, sampailah mereka di kediaman Willy. Dua sejoli yang awalnya rekan satu profesi ini terlibat kedekatan yang saling menguntungkan. Pasalnya keduanya di pertemukan dalam suatu film dan produser nya adalah suami Elena sendiri.

“Sebenernya lo ada kerjaan apa El seminggu di Bali?” Tanya Willy sembari membuka pintu rumahnya yang cukup mewah dan besar.

“Ngecek villa di Pecatu.”

“Aneh kan? Ngapain gue jauh-jauh ke Ubud?!” Gerutu Elena dengan menarik satu buah koper berukuran sedang kedalam rumah. Willy hanya terkekeh mendengarnya, lalu menutup pintu rumah.

“Lo sendirian Will? Gak takut?” Ucap wanita itu seraya merebahkan tubuhnya diatas sofa berwarna abu muda. Kemudian di ikuti oleh Willy yang duduk di sebelahnya.

“Iya.–”

“Tunangan lo? Ke Paris? Berapa lama?” Tanya Elena sembari memainkan ponsel di tangan kanannya.

“Sebulan paling, jadi model di acara fashion show, sekalian liburan katanya.”

“Makanya gue minta lo nginep di sini aja, biar gue ada temennya.” Lanjut Willy.

“Modus lo!”– ketus Elena.

Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, langkah kakinya menuntun ke bagian belakang rumah yang terdapat kolam renang cukup besar menghadap ke sawah. Panorama senja sangat indah dengan semburat warna orange menghiasi langit sore. Elena berdiri di tepi kolam renang dengan melipat kedua tangan di depan dada, angin semilir membelai rambut panjang nya hingga mengekspos leher jenjang yang terlihat begitu menggoda di mata Willy.

Lelaki itu berjalan perlahan dari arah belakang, lalu tangan kiri nya merangkul tubuh Elena, sedangkan tangan kanan menangkup gundukan payudara dari celah tanktop crop yang di kenakan Elena.

“Are you ready?” Bisik Willy tepat di telinga wanita itu dengan menggoda, ia gigit perlahan telinga Elena. Sontak gadis itu merinding, suara khas lelaki itu cukup membuat libido nya naik.

Elena menatap sayu mata Willy kemudian di balas dengan ciuman singkat di bibirnya . Lelaki itu menuntun gadis nya kearah kursi santai di tepi kolam renang yang beralaskan matras warna coklat muda. Willy duduk kemudian bersandar, tangannya menarik perlahan tubuh Elena agar duduk di pangkuannya. Suasana senja dan tenggelamnya matahari di ufuk barat sangatlah mendukung untuk melancarkan aktivitas seksual keduanya.

Lelaki itu mulai memanaskan suasana dengan merogoh serta melepas kaitan bra yang di kenakan Elena. Wanita itu tak tinggal diam, ia lalu melepas tanktop crop serta jeans ripped yang di kenakannya hingga kini hanya tinggal tersisa celana dalam berjenis 'tanga' berwarna merah.

Willy lalu mendaratkan ciuman kasar pada bibir Elena, wanita itu sangat menikmati ciuman yang kelamaan berubah menjadi lumatan penuh nafsu. Tangannya meraba dada bidang Willy yang masih terbungkus kaos warna hitam, sedangkan lelaki di depannya sibuk meremas dan memilin payudara Elena yang sudah mulai menegang.

Elena yang sudah tak sabar dan terburu nafsu, ia lepaskan pagutan diantara keduanya kemudian melucuti pakaian yang di kenakan Willy. Mulai dari kaos serta celana pendek dan hanya menyisakan celana dalam boxer dengan gurat penis yang menegang sempurna. Dengan sangat sensual dan menggoda lelaki di hadapannya, Elena menggesekkan bibir vaginanya di atas penis Willy yang sudah menegang. Sontak membuat lelaki tampan itu mengerang meminta lebih .

“Ughh... El, huhhh...” Nafas Willy mulai terasa berat .

Jari kanan Willy tengah meraba dan mengelus permukaan vagina gadisnya yang masih terbungkus celana dalam, dan sudah terasa lembab.

“El, masih belum basah ini..” Ucap Willy dengan jemari yang masih mengusap-usap permukaan lubang vaginanya. Sedangkan Elena menggigit bibir bagian bawah untuk menahan desahannya.

Detik berikutnya, Elena menyatukan tubuhnya diatas tubuh kekar Willy lalu memulai ciuman panas kembali. Kedua tangan lelaki itu kemudian berpindah meremas kedua bokong sintal milik Elena. Terus meremas dengan sedikit kasar lalu jemarinya menjelajah kedalam balik celana dalam untuk menggesek lubang vagina gadisnya yang mulai basah.

“Mmpphh....” Desahnya pelan.

Elena kembali menyudahi ciuman panasnya, ia sudah tidak sabar lalu melepas sendiri celana dalamnya dan membuang ke sembarang arah hingga kini ia benar-benar telanjang. Wanita itu memposisikan dirinya setengah berdiri diatas tubuh Willy yang masih bersandar pada kursi, dengan kedua lutut yang menumpu tubuhnya. Wanita itu lalu menarik tangan kanan Willy dan mengarahkan ke area vaginanya sendiri.

“I miss your fingers, Will...” Ujarnya, dengan tatapan yang menggoda.

Tanpa aba-aba Willy melesatkan dua jarinya kedalam lubang vagina milik Elena, ia memainkan jemarinya. Mengeluarkan dan memasukkannya kembali dengan tempo sedang, membuat wanita di hadapannya itu mendesah keenakan.

“Ngghh... Aahhh...” Dengan tangan mencengkeram pundak lelaki di hadapannya dan tangan kanan nya meremas payudaranya sendiri. Willy terlalu gemas dengan raut wajah Elena yang penuh nafsu. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Elena dan mengarahkan keatas pundaknya agar berpegangan. Kemudian tangan kiri lelaki itu meremas dan memilin payudara Elena.

“Aahhh.. Will, disitu ahh...”

“Disini sayang? Hm?” Ucap Willy dengan jemari yang masih menusuk serta mengocok lubang kenikmatan milik Elena. Dan hanya di balas dengan anggukan oleh gadisnya yang hampir mencapai orgasme.

“Ahhh ... Will, ak-u... Ssssshh.. Ahhh...”

Mengetahui wanitanya hampir sampai pada pelepasannya, Willy dengan cepat malah mengeluarkan jarinya. Elena sontak kaget, sebelum wanita itu mengumpat Willy dengan cepat mengarahkan penisnya yang sudah menegang kearah lubang vagina Elena dan memasukkan dengan sekali hentakan.

“AAHHH.... SHIT!!” Desah Elena sedikit berteriak karena merasakan penis Willy yang besar dan keras terasa penuh sesak menghujam lubangnya. Elena dengan mahir menggoyangkan pinggulnya, memaju mundurkan gerakan serta gesekan-gesekan untuk mengejar kenikmatan.

“Ughhh... Lubang lo enak banget El” Rancu Willy, dengan kedua tangan memegangi pinggul Elena membantu menggerakkan pinggul wanita itu. Sedangkan kedua tangan Elena bertumpu pada sandaran kursi sehingga kedua gundukan payudaranya menjuntai di depan muka Willy.

Dengan beringas, bibir lelaki itu meraup payudara sintal milik Elena, putingnya ia mainkan dengan lidah sedangkan tangan kanannya meremas dan memilin payudara sebelahnya.

“Aaahh... Willy... Ngghh...” Elena terus mengeluarkan desahan yang semakin keras dan kasar. Pinggulnya terus ia gerakkan maju mundur dan sesekali ia naik turunkan dengan tempo yang cepat hingga menusuk tepat pada g-spot miliknya.

“Will !! Ahhh... Mau kelu-ar ahhh...”

“Wait me... Ugghh....”

Willy kemudian membantu mempercepat gerakan pinggul keduanya, menyamakan tempo lebih cepat agar mencapai klimaks secara bersamaan. Ketika lubang vagina Elena mulai berkedut dan mengetat, Willy menghentakkan pula penisnya jauh kedalam lubang surgawi milik wanita itu dan menyemburkan sperma kedalam rahim Elena. Cairan keduanya bercampur di dalam sana hingga penuh dan mengalir di sela pahanya.

Lelaki itu tersenyum puas, ia meraih dan merangkul tumbuh mungil Elena. Mengusap-usap punggungnya dengan lembut, kemudian wanita itu membenamkan kepalanya pada dada bidang milik Willy.

“I like it.” Bisik Elena.

“C6an i have you?” Lanjutnya, lirih.

“Gak bisa El.. Lo udah punya suami, dan gue udah tunangan.” Ucap Willy sambil mengusap rambut panjang Elena. Wanita itu mendongakkan kepala, memandang raut wajah tampan lelaki di hadapannya dan tersenyum tipis.

“Kita masih bisa kaya gini lagi El, sampai kapanpun kita mau” Lanjut Willy.

Senyum manis Elena merekah sempurna. Mungkin ada sesuatu yang ia tak dapatkan dari suaminya. Sehingga dua sejoli ini akan terus melakukannya dengan komitmen tanpa ada rasa cinta.