Not For Love
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan dari bandara Ngurah Rai, Bali menuju Ubud, sampailah mereka di kediaman Willy. Dua sejoli yang awalnya rekan satu profesi ini terlibat kedekatan yang saling menguntungkan. Pasalnya keduanya di pertemukan dalam suatu film dan produser nya adalah suami Elena sendiri.
“Sebenernya lo ada kerjaan apa El seminggu di Bali?” Tanya Willy sembari membuka pintu rumahnya yang cukup mewah dan besar.
“Ngecek villa di Pecatu.”
“Aneh kan? Ngapain gue jauh-jauh ke Ubud?!” Gerutu Elena dengan menarik satu buah koper berukuran sedang kedalam rumah. Willy hanya terkekeh mendengarnya, lalu menutup pintu rumah.
“Lo sendirian Will? Gak takut?” Ucap wanita itu seraya merebahkan tubuhnya diatas sofa berwarna abu muda. Kemudian di ikuti oleh Willy yang duduk di sebelahnya.
“Iya.–”
“Tunangan lo? Ke Paris? Berapa lama?” Tanya Elena sembari memainkan ponsel di tangan kanannya.
“Sebulan paling, jadi model di acara fashion show, sekalian liburan katanya.”
“Makanya gue minta lo nginep di sini aja, biar gue ada temennya.” Lanjut Willy.
“Modus lo!”– ketus Elena.
Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, langkah kakinya menuntun ke bagian belakang rumah yang terdapat kolam renang cukup besar menghadap ke sawah. Panorama senja sangat indah dengan semburat warna orange menghiasi langit sore. Elena berdiri di tepi kolam renang dengan melipat kedua tangan di depan dada, angin semilir membelai rambut panjang nya hingga mengekspos leher jenjang yang terlihat begitu menggoda di mata Willy.
Lelaki itu berjalan perlahan dari arah belakang, lalu tangan kiri nya merangkul tubuh Elena, sedangkan tangan kanan menangkup gundukan payudara dari celah tanktop crop yang di kenakan Elena.
“Are you ready?” Bisik Willy tepat di telinga wanita itu dengan menggoda, ia gigit perlahan telinga Elena. Sontak gadis itu merinding, suara khas lelaki itu cukup membuat libido nya naik.
Elena menatap sayu mata Willy kemudian di balas dengan ciuman singkat di bibirnya . Lelaki itu menuntun gadis nya kearah kursi santai di tepi kolam renang yang beralaskan matras warna coklat muda. Willy duduk kemudian bersandar, tangannya menarik perlahan tubuh Elena agar duduk di pangkuannya. Suasana senja dan tenggelamnya matahari di ufuk barat sangatlah mendukung untuk melancarkan aktivitas seksual keduanya.
Lelaki itu mulai memanaskan suasana dengan merogoh serta melepas kaitan bra yang di kenakan Elena. Wanita itu tak tinggal diam, ia lalu melepas tanktop crop serta jeans ripped yang di kenakannya hingga kini hanya tinggal tersisa celana dalam berjenis 'tanga' berwarna merah.
Willy lalu mendaratkan ciuman kasar pada bibir Elena, wanita itu sangat menikmati ciuman yang kelamaan berubah menjadi lumatan penuh nafsu. Tangannya meraba dada bidang Willy yang masih terbungkus kaos warna hitam, sedangkan lelaki di depannya sibuk meremas dan memilin payudara Elena yang sudah mulai menegang.
Elena yang sudah tak sabar dan terburu nafsu, ia lepaskan pagutan diantara keduanya kemudian melucuti pakaian yang di kenakan Willy. Mulai dari kaos serta celana pendek dan hanya menyisakan celana dalam boxer dengan gurat penis yang menegang sempurna. Dengan sangat sensual dan menggoda lelaki di hadapannya, Elena menggesekkan bibir vaginanya di atas penis Willy yang sudah menegang. Sontak membuat lelaki tampan itu mengerang meminta lebih .
“Ughh... El, huhhh...” Nafas Willy mulai terasa berat .
Jari kanan Willy tengah meraba dan mengelus permukaan vagina gadisnya yang masih terbungkus celana dalam, dan sudah terasa lembab.
“El, masih belum basah ini..” Ucap Willy dengan jemari yang masih mengusap-usap permukaan lubang vaginanya. Sedangkan Elena menggigit bibir bagian bawah untuk menahan desahannya.
Detik berikutnya, Elena menyatukan tubuhnya diatas tubuh kekar Willy lalu memulai ciuman panas kembali. Kedua tangan lelaki itu kemudian berpindah meremas kedua bokong sintal milik Elena. Terus meremas dengan sedikit kasar lalu jemarinya menjelajah kedalam balik celana dalam untuk menggesek lubang vagina gadisnya yang mulai basah.
“Mmpphh....” Desahnya pelan.
Elena kembali menyudahi ciuman panasnya, ia sudah tidak sabar lalu melepas sendiri celana dalamnya dan membuang ke sembarang arah hingga kini ia benar-benar telanjang. Wanita itu memposisikan dirinya setengah berdiri diatas tubuh Willy yang masih bersandar pada kursi, dengan kedua lutut yang menumpu tubuhnya. Wanita itu lalu menarik tangan kanan Willy dan mengarahkan ke area vaginanya sendiri.
“I miss your fingers, Will...” Ujarnya, dengan tatapan yang menggoda.
Tanpa aba-aba Willy melesatkan dua jarinya kedalam lubang vagina milik Elena, ia memainkan jemarinya. Mengeluarkan dan memasukkannya kembali dengan tempo sedang, membuat wanita di hadapannya itu mendesah keenakan.
“Ngghh... Aahhh...” Dengan tangan mencengkeram pundak lelaki di hadapannya dan tangan kanan nya meremas payudaranya sendiri. Willy terlalu gemas dengan raut wajah Elena yang penuh nafsu. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Elena dan mengarahkan keatas pundaknya agar berpegangan. Kemudian tangan kiri lelaki itu meremas dan memilin payudara Elena.
“Aahhh.. Will, disitu ahh...”
“Disini sayang? Hm?” Ucap Willy dengan jemari yang masih menusuk serta mengocok lubang kenikmatan milik Elena. Dan hanya di balas dengan anggukan oleh gadisnya yang hampir mencapai orgasme.
“Ahhh ... Will, ak-u... Ssssshh.. Ahhh...”
Mengetahui wanitanya hampir sampai pada pelepasannya, Willy dengan cepat malah mengeluarkan jarinya. Elena sontak kaget, sebelum wanita itu mengumpat Willy dengan cepat mengarahkan penisnya yang sudah menegang kearah lubang vagina Elena dan memasukkan dengan sekali hentakan.
“AAHHH.... SHIT!!” Desah Elena sedikit berteriak karena merasakan penis Willy yang besar dan keras terasa penuh sesak menghujam lubangnya. Elena dengan mahir menggoyangkan pinggulnya, memaju mundurkan gerakan serta gesekan-gesekan untuk mengejar kenikmatan.
“Ughhh... Lubang lo enak banget El” Rancu Willy, dengan kedua tangan memegangi pinggul Elena membantu menggerakkan pinggul wanita itu. Sedangkan kedua tangan Elena bertumpu pada sandaran kursi sehingga kedua gundukan payudaranya menjuntai di depan muka Willy.
Dengan beringas, bibir lelaki itu meraup payudara sintal milik Elena, putingnya ia mainkan dengan lidah sedangkan tangan kanannya meremas dan memilin payudara sebelahnya.
“Aaahh... Willy... Ngghh...” Elena terus mengeluarkan desahan yang semakin keras dan kasar. Pinggulnya terus ia gerakkan maju mundur dan sesekali ia naik turunkan dengan tempo yang cepat hingga menusuk tepat pada g-spot miliknya.
“Will !! Ahhh... Mau kelu-ar ahhh...”
“Wait me... Ugghh....”
Willy kemudian membantu mempercepat gerakan pinggul keduanya, menyamakan tempo lebih cepat agar mencapai klimaks secara bersamaan. Ketika lubang vagina Elena mulai berkedut dan mengetat, Willy menghentakkan pula penisnya jauh kedalam lubang surgawi milik wanita itu dan menyemburkan sperma kedalam rahim Elena. Cairan keduanya bercampur di dalam sana hingga penuh dan mengalir di sela pahanya.
Lelaki itu tersenyum puas, ia meraih dan merangkul tumbuh mungil Elena. Mengusap-usap punggungnya dengan lembut, kemudian wanita itu membenamkan kepalanya pada dada bidang milik Willy.
“I like it.” Bisik Elena.
“C6an i have you?” Lanjutnya, lirih.
“Gak bisa El.. Lo udah punya suami, dan gue udah tunangan.” Ucap Willy sambil mengusap rambut panjang Elena. Wanita itu mendongakkan kepala, memandang raut wajah tampan lelaki di hadapannya dan tersenyum tipis.
“Kita masih bisa kaya gini lagi El, sampai kapanpun kita mau” Lanjut Willy.
Senyum manis Elena merekah sempurna. Mungkin ada sesuatu yang ia tak dapatkan dari suaminya. Sehingga dua sejoli ini akan terus melakukannya dengan komitmen tanpa ada rasa cinta.