The Rainy Night
Jena, berjalan sendirian di tengah gemericik air hujan yang cukup deras. Waktu menunjukkan pukul 21:20 ia menyusuri sepanjang trotoar yang cukup sepi. Tangan kanannya menenteng blazer basah, beberapa saat yang lalu ia menutupi kepalanya dari terpaan air hujan menggunakan blazer tersebut. Dalam hati kecilnya, menangis di tengah hujan memang sangat tepat. Orang-orang tidak akan melihat air matanya yang terus mengalir.
Entah sudah berapa kali tubuhnya terkena cipratan air yang menggenang di tepi jalan. Blouse berwarna putih yang ia kenakan menjadi sangat kotor.
“Hari ini benar-benar sial. Kerja lembur, pulang kehujanan.“
“Lebih sialnya lagi, gue kira hubungan bakalan baik-baik aja, ternyata dia balik buat ngasih undangan pernikahan. Bangsat!”—gerutu Jena.
Air matanya kembali jatuh, ia mengusapnya dengan punggung tangan dan kembali melangkahkan kakinya. Hampir empat tahun mempertahankan long distance relationship kenyataannya sia-sia. Impian yang pernah di bangun bersama sang kekasih akhirnya melebur bersama hujan yang turun malam itu. Jena terus mengayunkan langkah kakinya tanpa menghiraukan sekitar. Dari arah belakang satu mobil berwarna hitam berjalan perlahan.
Bim.. Bim..
“Jen.. Jenaya!” Seorang lelaki setengah berteriak memanggil Jena dari dalam mobil sembari menurunkan kaca. Langkah Jena terhenti dan menatap lamat lelaki yang berada di belakang kemudi.
“Jen, masuk..” Perintah lelaki itu. Ternyata Jeffrian, atasannya.
“Tapi saya basah pak.”
“Gapapa, masuk aja.”
Tanpa berpikir panjang Jena menuruti perintah Jeff. Tubuh Jena sedikit menggigil karena hampir setengah jam ia berjalan di bawah hujan dan sekarang ia duduk di dalam mobil ber-AC. Beberapa kali Jena mengusap lengan dan telapak tangannya secara bergantian untuk menghilangkan hawa dingin di tubuhnya.
“AC-nya udah yang paling kecil Jen, masih dingin ya? Pakai jas ini.” Ucap Jeff sembari melepas jas yang ia kenakan lalu memberikan pada Jena.
“Makasih pak.” Jena mengenakan jas itu, terlihat kebesaran namun setidaknya bisa memberi sedikit rasa hangat. Di tengah perjalanan keduanya lebih banyak diam, Jena dan Jeff sama-sama canggung. Padahal mereka setiap hari bertemu di kantor setelah Jena di angkat menjadi sekretaris Jeff.
“Emang biasanya kamu pulang jalan kaki?” Tanya Jeff tiba-tiba.
“E—nggak pak. Biasanya saya naik taksi online atau gojek.”
“Barusan kenapa jalan kaki? Hujan juga, kalau sakit besok kamu gak bisa kerja.”
“Dompet saya ketinggalan pak, gak ada yang jemput.” Jawabnya lirih.
“Pacar kamu? Tadi pagi bukannya kamu dianterin?” Tanya Jeff sekali lagi. Pasalnya Jeff sedikit curiga dengan Jena. Seharian sekretarisnya tidak fokus bekerja, matanya juga terlihat sembab.
“Saya baru aja putus tadi pagi pak.” Ucap Jena, nada suaranya semakin melemah. Wanita itu tertunduk, ia kembali meneteskan air matanya. Membuang pandangan ke arah luar lalu mengusap pipinya, kasar.
“Kamu tinggal dimana? Jauh? Mampir rumah saya dulu ya?”
“Tapi pak, saya pulang aja deh. Atau kalau pak Jeff gak mau nganterin, saya turun disini aja.”
Jeff tidak menggubris, ia memutar kemudinya dan berbelok ke kanan. Sedangkan arah rumah Jena harusnya masih lurus sekitar dua kilometer lagi.
“Saya gak ada niatan nyulik kamu. Mampir rumah saya dulu, kamu bisa mandi, ganti baju biar gak masuk angin.” Jelas Jeff.
Mobil yang mereka tumpangi masuk ke sebuah komplek perumahan mewah, menyusuri beberapa blok dan berhenti di depan rumah berwarna abu muda. Pintu garasi otomatis terbuka, kemudian Jeff memarkirkan mobilnya. Entah kenapa, jantung Jena terus berdetak semakin kencang. Wanita itu di lingkupi rasa takut dan was-was. Jena memang sudah mengenal Jeff selama satu tahun terakhir namun menjadi lebih dekat serta lebih banyak berinteraksi mereka lakukan setelah Jena naik jabatan menjadi sekretaris Jeff.
Jeff dan Jena melangkahkan kakinya memasuki rumah berukuran sedang, di dalamnya tampak sepi. Ya, karena Jeff hanya tinggal sendiri. Sedari tadi Jena hanya mengekor di belakang Jeff.
“Kamu mandi dulu, disana.” Perintah Jeff sembari menunjuk kamar mandi tamu.
“Handuk ada di dalam. Nanti saya ambilkan baju.” Lanjut Jeff.
“Ya pak.” Jawab Jena singkat. Jeff lalu membalikkan tubuhnya dan naik ke lantai atas. Sedangkan Jena menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat yang mengalir dari shower cukup membuatnya lebih relax. Tubuh yang awalnya menggigil kini terasa lebih hangat. Ternyata hari ini ia tidak benar-benar sial, Jeff datang secara tiba-tiba dan menolongnya. Jika tidak ada Jeff, kemungkinan besar ia akan pulang berjalan kaki atau bahkan akan ada hal buruk yang tidak ia ketahui.
Sekitar dua puluh menit Jena membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi masih berbalut handuk putih yang cukup besar. Menutupi tubuh hingga lututnya. Baru satu langkah, Jena di kagetkan oleh sosok lelaki yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Pak Jeff?!”
“Pakai ini. Disini gak ada baju perempuan.” Kata Jeff sembari menyodorkan satu kaus berwarna putih kebesaran. Jena mengernyitkan dahinya namun ia tetap menerima baju itu karena tidak ada pilihan lain.
Jena mengangguk.
“Kalau udah, nanti ke ruang tengah. Saya udah buatkan teh hangat.”
“Baik pak, makasih.” Ucap Jena kemudian berbalik badan, ia kembali ke kamar mandi untuk mengenakan baju yang di berikan Jeff. Karena semua yang di kenakan Jena benar-benar basah hingga pakaian dalamnya. Kali ini wanita itu mau tidak mau memang harus memakai milik Jeff, begitu juga celana boxer yang di selipkan di dalam kaus. Oke, tidak masalah, batin Jena. Celana boxer itu mungkin baru saja Jeff beli karena masih ada tag yang menggantung.
Menit kemudian, Jena berjalan ke ruang tengah lalu duduk di sofa bed bersebelahan dengan Jeff yang sedang menyaksikan tayangan Netflix.
“Minum dulu tehnya.” Ucap Jeff tanpa menatap wanita yang berada di sebelahnya, Jeff lebih fokus pada layar datar di depan sana.
“Ya pak, makasih.” Balas Jena, ia mengambil secangkir teh yang berada di meja. Meniupnya beberapa kali kemudian menyeruput perlahan.
“Pak, saya diantar pulang kapan ya?” Tanya Jena. Jujur ia merasa kurang nyaman berada di rumah Jeff. Tampak asing dan yang lebih mengganggu pikirannya adalah mereka hanya berdua dalam satu rumah.
“Ujan gede Jen, apalagi ini udah malam. Saya gak mau ambil resiko.”
“Saya antar pulang besok pagi, sekalian berangkat ke kantor.” Bujuk Jeff. Sedangkan Jena, tidak bisa menyangkal apapun. Keadaan yang membuat ia harus menuruti perkataan lelaki itu. Menginap di rumah Jeff memang bukanlah pilihan, hujan yang sangat lebat membuat dirinya harus tinggal semalam di rumah itu.
Suasana semakin sepi, suara derasnya hujan masih terdengar jelas. Keduanya tampak tenang tanpa ada percakapan sedikitpun, masing-masing fokus pada film. Hawa dingin menembus masuk ke dalam ruangan hingga membuat Jena berulang kali mengusap lengannya guna mencari kehangatan. Jeff hanya diam, dan sesekali melirik ke arah wanita yang duduk di sebelahnya.
“Jen, apa masalahnya dia putusin kamu?” Tanya Jeff tiba-tiba dan tanpa menatap Jena, sontak wanita itu kaget.
“Ha?”
“Emm.. Salah satunya karena jarak. Dan mungkin dia udah dapet perempuan yang lebih baik dari saya.” Tutur Jena, suaranya lirih seakan malas untuk mengulang kembali kenangan menyakitkan itu. Jeff semula fokus pada film yang ia lihat kini menatap lamat wajah sekretarisnya. Meskipun ruang tengah minim pencahayaan namun wajah cantik Jena tetap terlihat jelas.
“Long distance relationship kuncinya saling percaya, saling setia. Kalau sekalinya selingkuh, dia akan terus selingkuh.” Ucap Jeff. Dan semua yang di katakan tidak ada yang salah. Jena kemudian berpikir, kesalahannya adalah terlalu percaya hingga dirinya sangat mudah untuk di bohongi. Air mata di pelupuk hampir saja tumpah, wanita itu membuang pandangan ke sembarang arah dan mengusap butiran air mata yang menetes.
“Jenaya...”
Wanita itu menoleh ke arah Jeff, dua bola mata mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain. Perlahan Jeff mendekat, mengusap lembut pipi Jena dan mengecup singkat bibir wanita itu. Jena terperanjat, ia mendorong dada bidang Jeff pelan agar menjauh darinya.
“Dia cukup bodoh ninggalin kamu. He throw the diamond and i found it. So I will protect her.” Ucap Jeff, tiba-tiba saja lelaki itu menangkup kedua pipi Jena dan mencium bibirnya dengan lembut. Tangan Jena yang semula memegangi pergelangan tangan Jeff untuk menahan serangan dari lelaki itu, perlahan melunak dan mengikuti arah permainan Jeff.
Jena terbawa kini terbawa suasana. Dinginnya malam karena hujan yang tak kunjung reda, ruangan yang minim cahaya seakan mendukung aktivitas mereka. Suara lenguhan dan desahan kecil yang keluar dari bibir Jena membuat Jeff lebih bersemangat. Ini pertama kalinya bagi Jeff dengan jena, bukan sebagai sepasang kekasih.
Berawal dari ciuman yang sangat lembut, kini berubah menjadi lumatan yang sangat rakus. Jeff sudah tidak bisa menahan nafsunya terhadap Jena. Sekretarisnya terlalu sayang untuk di sia-siakan begitu saja. Jena-pun tidak mau munafik, ia sangat membutuhkan afeksi.
Perlahan tangan Jeff menelusup ke dalam kaus kebesaran yang di kenakan Jena. Meraba perutnya hingga menemukan dua gundukan payudara tanpa di lapisi bra.
“Mmphh..” Lenguh Jena, pagutan keduanya semakin intens hingga decapan terdengar semakin jelas. Jeff meremas dengan lembut payudara Jena, memainkannya secara bergantian. Tangan satunya perlahan bergerilya menjamah area kewanitaan Jena yang sudah basah, namun secepat mungkin Jena menahan tangan lelaki itu agar tidak melanjutkannya.
Jeff melepaskan pagutan keduanya, lalu menatap lamat wajah Jena.
“Why?” Ucap Jeff, menaikkan satu alisnya. Suara berat milik lelaki itu membuat detak jantung Jena semakin cepat.
“Jangan pak, saya belum pernah ngelakuin itu.” Jawab Jena pelan.
“Oh.. Maaf Jena saya gak tau.”
Jena hanya mengangguk. Perasaannya kini campur aduk, ia merasa ini kesempatan yang seharusnya tidak di sia-siakan. Bercinta dengan Jeff adalah hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun di sisi lain Jena merasa sudah sangat jauh mempertahankan keperawanannya hingga kini. Pilihan yang sulit baginya. Tiba-tiba Jeff mengecup singkat bibir Jena dan tersenyum.
“Mau coba? Pasti sakit Jen, tapi kamu bisa melampiaskan rasa sakit itu dengan apapun. Mau pukul aku, gigit aku, terserah kamu.”
Jena membeku, kalimat yang terucap dari bibir Jeff seakan menyihir dirinya. Wanita itu memang membisu tapi perlahan menganggukkan kepalanya dengan pasti. Seakan-akan ia sudah siap memberikan keperawanannya pada Jeff. Ia tak memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya, Jena sama sekali tidak peduli. Saat ini ia hanya membutuhkan afeksi dan healing.
Setelah mendapatkan persetujuan dari wanita itu, Jeff melepaskan celana serta kaus yang di kenakan Jena. Lelaki itu beberapa kali mengecup singkat bibir Jena sembari mengusap lembut pipinya.
“Foreplay lebih lama ya? Biar kamu relax.”
Jena mengangguk lagi, tetapi ia menutup rapat-rapat kedua kakinya.
“Kamu kenapa?” Tanya Jeff sembari terkekeh melihat raut wajah Jena memerah, samar.
“Saya malu pak, ini pertama kali buat saya.” Jelas Jena tersipu, dua tangannya tiba-tiba ia lipat di depan dada guna menutupi payudaranya yang menyembul.
“Jen, kamu yakin gak? Kalau gak yakin mending stop aja.”
“Ya—Yakin pak.” Jawab Jena terbata.
“Oke, kamu relax ya? Jangan takut. Satu lagi, mulai sekarang panggil Jeff aja kalau di luar kantor. Paham?”
Jena menganggukkan kepalanya beberapa kali, tanda ia paham dengan semua ucapan Jeff.
Jeff memulai dan mendominasi permainan malam ini. Melakukan foreplay dengan sangat lembut. Melumat bibir ranum sang puan, sembari memainkan dua payudaranya pelan. Semua Jeff lakukan agar Jena merasa relax. Benar saja, tubuh wanita itu awalnya kaku dan tegang lama kelamaan menjadi lebih tenang dan relax mengikuti semua permainan Jeff. Dua tangan Jena yang awalnya sangat tegang, mencengkeram lengan jeff kini melingkar pada perpotongan leher lelaki itu tanpa melepaskan ciumannya.
Setelah kedua bibir mereka puas beradu, Jeff perlahan turun dan melahap dua gundukan payudara sintal milik Jena. Tubuh wanita itu mulai menggeliat resah dan mulai menerima rangsangan yang di ciptakan oleh Jeff.
Jeff melakukannya dengan sangat lembut, mengulum dan memainkan payudara Jena secara bergantian. Memutar dan memilin putingnya yang sudah mencuat, tegang. Lenguhan dan desahan kecil-pun lepas dari bibir Jena.
Jenaya. Mulai merasakan kenyamanan di dekat Jeff, tatapan matanya, senyumnya, aroma tubuhnya, usapan lembut jemarinya dan deru nafas yang berhembus membuatnya gila. Malam itu Jena sudah berniat untuk memberikan seluruh tubuhnya pada Jeff. Tangan lelaki itu tak bisa tinggal diam, perlahan meraba dan menyapa liang surgawi milik Jena yang sudah sangat basah. Sesekali menekan dan memutar klitorisnya pelan hingga membuat Jena meremas rambut lelaki itu.
“A—aahhh..” Desah Jena saat jari tengah Jeff masuk tanpa aba-aba. Lelaki itu menggerakkan jarinya perlahan.
“Jen, aku tambah satu jari lagi ya?” Tanya Jeff meminta persetujuan sang puan.
“S-sakit gak?”
“Punyamu udah basah banget sayang, kalau di tambah satu lagi gak akan sakit.” Jelas Jeff. Wanita itu-pun mengangguk tanda setuju, terlebih setelah ia di panggil sayang oleh Jeff. Jena seperti melayang menembus langit ke tujuh.
Jeff perlahan memasukkan satu jari lagi ke dalam liang vagina wanita itu. Menekannya perlahan hingga membuat tubuh Jena melengkung dan tangannya meremas lengan Jeff.
“A-ahh.. Jeff, sakit..” Rintih Jena. Jantungnya berdetak semakin kencang, butiran keringat-pun menetes membasahi tubuhnya yang mulus.
“Ini pelan, relax oke?”
Jena mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya, tangannya masih mencengkeram lengan Jeff guna melampiaskan rasa sakit. Jeff menggerakkan dua jarinya sangat pelan agar tidak menyakiti wanita itu. Ia berusaha keras membuat liang kenikmatan milik Jena lebih basah agar mengurangi rasa sakit ketika Jeff hendak memasukinya nanti.
Jeff yang sudah kepalang kalap dengan nafsunya sendiri tiba-tiba mengeluarkan dua jarinya, kemudian ia melucuti sendiri pakaian yang dikenakan. Sedangkan Jena terpaku melihat tubuh atletis milik Jeff, abs-nya terbentuk sempurna dan kejantanannya terlihat sudah keras dan menegang.
Lelaki itu mengubah posisi sofa menjadi bed dan merebahkan tubuh Jena di atas sana. Jeff perlahan merangkak dan menindih tubuh wanita itu, mengecup kening, kedua matanya, pipi dan yang terakhir bibir ranum nan indah milik sekretarisnya.
Jeff, mengurut beberapa kali batang penisnya kemudian menggesekkan pada bibir vagina milik Jena. Sedangkan wanita itu menelan ludahnya sendiri ketika melihat penis milik Jeff yang besar dan panjang. Jena sedikit ketakutan terhadap rasa sakitnya nanti, namun ia ingin tetap terlihat siap dan tenang di hadapan Jeff. Detik berikutnya lelaki itu mengarahkan ujung penisnya pada liang vagina Jena. Dua tangannya melebarkan kaki Jena agar ia lebih mudah saat hendak memasukkan penisnya.
“Jen, udah siap?” Ucap Jeff, lalu mengecup singkat bibir Jena. Wanita itu tak banyak bicara, ia hanya mengangguk yakin. Kali ini ia sudah pasrah tanpa perlawanan. Setelah menempelkan ujung penisnya pada liang milik Jena, ia perlahan memasukkan miliknya. Sontak dua tangan Jena meremas lengan Jeff dan mendongakkan kepalanya. Ia sudah berantakan, rasa sakit dan nyeri itu seakan menembus hingga ujung kepalanya.
“Aahhh... Jeff..”
Jena merintih kesakitan, sedangkan Jeff baru mendorong ujung penisnya dan belum sepenuhnya masuk. Lelaki itu kemudian mengusap-usap pucuk kepala Jena, menyeka keringat yang mengalir di dahinya lalu mencium lembut bibirnya guna menyalurkan rasa nyaman untuk Jena. Agar wanita itu tidak terlalu fokus pada rasa sakitnya.
“Jen, peluk aku. Mungkin ini lebih sakit lagi, tapi kamu bisa lampiaskan semua ke aku.”
Tubuh Jeff lebih mendekat di atas Jena, mengungkung wanita itu kemudian Jena memeluk erat tubuh Jeff. Secara bersamaan lelaki itu perlahan mendorong miliknya hingga penuh dan ujung penisnya berhasil menumbuk titik g-spot milik Jena.
“Aahhh... Ssshh... Ahh...” Desah Jena lebih keras, rasa sakit di bawah sana terasa menyengat. Kedua tangannya reflek meremas dan mencakar punggung Jeff. Namun lelaki itu cukup tenang. Penisnya ia diamkan menancap di bawah sana dan telah berhasil merobek selaput dara milik Jena.
“Masih sakit?” Tanya Jeff tersenyum tipis pada wanita yang berada di bawah kendalinya.
Jena menggeleng.
“Aku gerakin pelan ya?”
“Pelan ya Jeff..” Ucap Jena memohon.
“Iya sayang, pelan..”
Jeff menggerakkan pinggulnya pelan, rintihan dan desahan terus keluar dari bibir Jena menjadi candu bagi lelaki itu. Jeff benar-benar merasa berhasil mendapatkan Jenaya seutuhnya.
“Sakit?” Tanya Jeff di tengah-tengah penetrasi.
“Nggak.. Ahhh...” Rasa sakit dan nyeri pada awalnya perlahan berubah menjadi nikmat. Jena merasa lebih nyaman dari sebelumnya, rintihan kesakitannya terus berubah menjadi desahan penuh kenikmatan. Jeff kemudian melumat bibir Jena sembari menambah tempo gerakan pinggulnya sedikit lebih cepat, hingga suara pertautan di bawah sana terdengar keras bersahutan dengan desahan yang keluar dari bibir Jena. Tak lama liang vagina milik wanita itu berkedut dan mengetat, sebentar lagi Jena hendak menjemput pelepasannya.
“Jen, you wanna cum?” Jeff tau pasti jika wanita itu hendak mencapai klimaksnya. Jena mengangguk sembari bersusah payah mengatur nafasnya. Jeff menggoyangkan pinggulnya lebih cepat, sesekali menghentakkan keras milik Jena hingga wanita itu mendongakkan kepalanya. Pada hentakan ke tiga, Jeff mendorong penuh miliknya hingga kembali menghujam g-spot milik Jena. Sperma Jeff menyembur bersamaan dengan Jena yang mencapai titik orgasm-nya. Cairan kenikmatan keduanya melebur memenuhi rahim Jena. Tak ayal cairannya mengalir di sela pahanya serta bercak darah yang terlihat samar, pertanda selaput daranya sudah robek. Namun Jena sama sekali tidak menyesal, ia benar-benar menyerahkan segalanya untuk Jeff.
“Jen, thank you honey..” Ucap Jeff sembari mengecup bibir Jena.
Jeff kemudian melepaskan pertautan di bawah sana, membersihkan milik Jena menggunakan kaus-nya dan mengecup singkat milik wanita itu hingga membuatnya bergidik merinding. Jeff kemudian beranjak dari sana, hendak menyiapkan air hangat di dalam bathup. Namun tiba-tiba Jena menarik tangan Jeff dan menahannya. Jeff menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah sekretarisnya yang masih terbaring lemah di atas sofa bed.
“Jeff, kenapa keluarin di dalam?” Tanya Jena tiba-tiba. Jeff terdiam beberapa saat, menatap lekat wajah sayu wanita itu kemudian tersenyum.
“Biar kamu gak lepas dari aku Jen. Aku siap tanggung jawab apapun resikonya.” Tutur Jeff, lelaki itu kemudian menghampiri Jena. Mengecup kening lalu bibirnya singkat. Mengusap pucuk kepala wanita itu dengan lembut dan tulus.
“Jangan takut, kamu percaya aku kan?” Tanya Jeff lagi, ia ingin memastikan Jena yakin padanya. Jena-pun tersenyum lalu mengangguk.
“Aku siapin air hangat dulu ya.. Kita mandi terus tidur.”
Jena menatap lamat-lamat sosok Jeff yang berjalan meninggalkan ruang tengah. Lelaki gagah nan rupawan, seorang CEO perusahaan ternama. Sungguh tak pernah terlintas sebelumnya, ia akan melakukan perbuatan dosa yang penuh dengan kenikmatan bersama bos-nya sendiri. Hal yang cukup gila bagi dirinya, melepaskan keperawanan pada Jeff setelah bertahun-tahun mempertahankannya. Dalam hati Jena berharap besar pada Jeff, dan semoga lelaki itu tidak akan pernah meninggalkan Jenaya.
Hi! Finally JJH au! Semoga kalian suka sama ceritanya. Anw, cerita Jeffrian & Jenaya ini mau lanjut nggak? Isi yukk... https://curiouscat.me/deorphic