Lose Control
Birthday gift. Pt.2
Hari ini Elissa pulang kantor lebih awal. Sebenarnya ia sudah mendapatkan ijin dari Jeff untuk cuti selama seminggu penuh. Tetapi ia merasa sungkan pada Jeff jika meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas.
17:20 Elissa menikmati setiap tetes wine favoritnya sembari menatap ke arah luar jendela. Rintik hujan yang turun membuat bumi terasa lebih sejuk. Tak beda jauh dengan ruang tengah yang kini ia tempati, udara dingin menyeruak hingga menusuk sampai ke tulang. Sebelum kekasihnya datang, setidaknya wanita itu mencari kehangatan lewat satu botol berisi wine yang sudah hampir habis.
Elissa tersenyum tipis, otaknya masih berkutat dengan sosok sang kekasih yang tak pernah lepas dari ingatannya. Sampai detik ini, pencapaiannya sudah cukup baginya. Mempunyai karir yang menjanjikan, finansial yang lebih dari cukup dan Jodie. Lelaki berperawakan tinggi, gagah serta wajah rupawan adalah anugerah bagi Elissa. Tak ada kurangnya.
Entah sudah berapa jam tubuh mungil Elissa terbujur tanpa daya. Efek dari wine yang ia minum membuatnya sedikit fly and turn on. Ia tengok arloji yang menempel di tangan kirinya, menunjukkan pukul 20:15 tetapi sang kekasih tak kunjung datang. Hujan semakin deras terlihat dari balik jendela kaca yang terbentang di sampingnya. Wanita itu menghembuskan nafasnya sedikit kasar lalu memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman bersandar di sofa, dan memejamkan matanya. Ia tak peduli dengan Jodie, Elisa menunggu terlalu lama.
Beberapa menit setelahnya, tubuh wanita itu merasakan hembusan nafas hangat menyapa permukaan kulitnya di tambah kecupan-kecupan kecil yang cukup mengusiknya.
Kecupan yang terasa sedikit basah itu dengan cepat membangkitkan gairah sex-nya. Pasalnya bibir Jodie terus menggoda dengan mendaratkan kecupan pada telinga, leher juga bahu Elissa. Wanita itu bergerak kecil lalu membuka mata dan membalikkan tubuhnya. Senyum cerah sang kekasih terlihat nyata di hadapannya.
“Hei.. Udah lama sayang?” Sapa Elissa dengan mata sayu. Senyum kekasihnya selalu membuat dirinya lemah, sangat tampan dan Elissa menyukainya.
“Baru aja. Kamu ngapain tidur disini? Kalau abis minum ya tidur di kamar, bukan di sofa. Nanti punggungnya sakit.” Ucap Jodie sembari mengusap lembut pucuk kepala Elissa.
“Aku nggak tidur, cuma merem aja. Kepalaku agak pusing.” Jelasnya.
“Habis dua botol, kamu bilang agak pusing? Emang doyan minum ini pacarnya aku.” Ujarnya. Jodie terkekeh, jemarinya mengusap lipbalm berwarna pink sebelum akhirnya melumat bibir Elissa dengan rakus. Suara decapan ketika dua bibir saling menyatu terdengar jelas hingga lenguhan kecil keluar dari bibir sang puan.
Jodie melepaskan pagutan keduanya lalu menggendong tubuh mungil sang kekasih layaknya bridal style dan membawanya ke kamar.
“Pindah kamar ya? Nanti punggungnya sakit kalau di sofa?” Ucap Jodie.
Setibanya di kamar, lelaki itu merebahkan tubuh Elissa perlahan di atas ranjang besar. Baru saja Jodie beranjak dari sana, Elissa bangun dan meraih tubuh sang kekasih. Kini wanita yang tengah di lingkupi nafsu birahi itu mencium kasar bibir Jodie sembari melepaskan satu per satu kancing pada kemeja yang di kenakan lelaki itu.
Setelah melepaskan kemejanya, tangan mungil wanita itu bergerak ke bawah, melepas belt serta resleting celana Jodie. Dengan gusar Elissa menurunkan celana yang di kenakan kekasihnya. Tangan Jodie tiba-tiba menangkup wajah Elissa, menatap dua bola matanya dan tersenyum.
“Kamu kenapa? Buru-buru banget. Katanya tadi takut nggak bisa jalan?” Goda lelaki itu.
“Aku kayaknya bentar lagi haid, babe.. Tadi waktu di sofa, aku ngerasa cepet banget turn on.” Ujarnya.
“Udah tanggalnya?” Tanya Jodie dan mengecup singkat bibir sang kekasih. Elissa mengangguk sedangkan Jodie hanya tersenyum, tanpa basa basi lelaki itu bergerak cepat melucuti pakaian yang di kenakan Elissa. Tanpa sisa, hingga tubuh wanita itu kini tampak mulus tanpa sehelai kain yang menutupi.
“No condom, oke?”
“Yes, babe...” Bisik wanita itu tepat di telinga Jodie.
Jodie memberikan serangan bertubi-tubi pada bibir Elissa, mengecupnya berkali-kali hingga wanita itu ambruk di atas ranjang dan menindihnya. Tapi Elissa justru tak mau kalah, membaringkan tubuh kekasihnya dengan paksa dan kini ia berada di atas tubuh Jodie.
Elissa mulai mendominasi permainan, ia bergerak agresif. Mengecup dan menjilat leher Jodie, kemudian turun ke bawah pada dada bidangnya. Jemarinya meraba abs yang terbentuk sempurna. Gerakan dan permainan lidah Elissa kelamaan turun semakin kebawah, ia meraba dan mengusap batang penis milik Jodie yang sudah menegang dan keras. Wanita itu mensejajarkan wajahnya dengan milik Jodie yang baru saja mengeluarkan cairan pre-cum karena beberapa kali Elissa mengocoknya pelan.
“Wait.. Wait.. El, aku nggak mau.” Tiba-tiba saja tangan Jodie menahan pergerakan Elissa agar tidak melakukan blowjob. Elissa mendongak, menatap wajah kekasihnya dari bawah.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau sayang.. Mulut itu buat makan, buat cium aku, bukan buat makan yang nggak semestinya.” Jelas Jodie. Lelaki itu teramat menyayangi Elissa, sampai ia tidak rela jika sang kekasih melakukan hal yang mungkin menjijikkan bagi beberapa orang.
“Tapi banyak orang yang mau, Jo.. Temen kantor aku aja sering sama pacarnya. Kenapa kamu nggak mau?”
“Oh.. Jadi kamu cuma ikut-ikutan temen kantor?” Tanya Jodie sembari menaikkan satu alisnya.
“Nggak. Maksud aku, kamu pasti bakalan suka. Kita pacaran udah dua tahun sayang.. Kamu nggak mau ngerasain sensasi yang beda?” Tawarnya, sedikit memaksa. Batin Elissa, ia hanya ingin membuat Jodie merasakan sensasi yang berbeda.
“El, dengerin aku. Aku nggak mau debat— aaghhh... El!!” Jodie memekik saat merasakan mulut mungil milik sang kekasih melahap batang penisnya. Elissa mendorong mulutnya hingga penuh namun penis Jodie terlalu panjang dan besar hingga menyisakan di genggamannya.
Elissa mengulum penis milik lelaki itu, sesekali menjilati batangnya dan memainkan lidahnya pada ujung penisnya. Membuat Jodie tak henti mengerang karena nikmat. Tak mau terlalu lama Elissa bermain di bawah sana, Jodie menarik lengan wanitanya dan membawa ke atas tubuhnya. Ia bertumpu menggunakan dua lututnya. Jemari Jodie perlahan mengusap bibir vagina milik wanita itu beberapa kali sebelum akhirnya menyapa klitoris dan menekan lalu memutarnya pelan.
“Ssshh... Ahh...” Lenguh Elissa.
“Belum apa-apa udah basah, babe...”
Elissa tersipu ketika Jodie melontarkan kalimat itu. Ya, memang Elissa sudah sangat horny. Lelaki itu mengocok penisnya pelan dan menggesekkan pada bibir vagina milik kekasihnya beberapa kali. Elissa mengernyitkan alisnya tampak sedikit frustasi karena Jodie menggodanya.
Melihat Elissa menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram tangannya, Jodie-pun bersiap melesatkan miliknya pada liang surgawi sang kekasih. Dengan satu hentakan, Jodie meloloskan miliknya pada pusat tubuh Elissa.
“Aahhh....” Desahan lolos juga dari bibir wanita itu. Elissa menggerakkan pinggulnya perlahan, tangannya bertumpu pada dada bidang milik Jodie. Lelaki itu-pun tak tinggal diam, dua tangannya memegang pinggul Elissa. Membantu menggoyangkan dengan tempo sedang.
Di tengah-tengah penetrasi, beberapa kali Jodie menghentakkan pinggulnya hingga ujung penisnya menumbuk titik g-spot milik Elissa, membuat wanita itu lebih cepat menjemput pelepasannya.
“Aahhh.. Jo...” Desah Elissa, ia semakin cepat menggerakkan pinggulnya.
“You wanna cum, babe?” Bisiknya lirih. Elissa mengangguk, kepalanya mendongak. Tangan yang semula berada di atas dada Jodie, kini bertumpu pada headboard. Dua payudara sintal milik Elissa menyembul tepat di depan wajah Jodie. Lelaki itu melahap payudara sang kekasih dengan rakus secara bergantian. Memainkan putingnya dengan lidah, membuat rangsangan yang mempercepat Elissa mencapai klimaksnya.
“Jo, mau keluar..” Reflek, Jodie menghentakkan pinggulnya ke atas dan bersamaan cairan kental milik Elissa membasahi milik Jodie yang masih tertanam di bawah sana. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh Elissa. Nafasnya masih memburu, dan tubuhnya sedikit kehabisan daya. Jodie mengecup beberapa kali bibir ranum milik sang kekasih dan merapikan rambut yang menutupi wajah Elissa.
“You like it?” Tanya Jodie lirih. Elissa mengangguk sembari menetralkan nafasnya.
“Tapi aku belum keluar, sayang...”
Elissa sontak membelalakkan matanya. Ia pikir Jodie sama-sama mencapai pelepasannya sesaat tadi. Jodie terkekeh melihat raut wajah Elissa yang tiba-tiba berubah. Tanpa pikir panjang, Jodie merangkul kekasihnya dan membalikkan tubuh mungil Elissa, kini wanita itu berada di bawah Jodie.
Jodie menatap lekat dua bola mata Elissa seakan menguncinya. Wanita itu tak tahan jika berlama-lama di pandangi oleh sang kekasih, seolah-olah tatapan mata Jodie sedang mengintimidasi dirinya. Lelaki itu melayangkan ciuman panjang penuh nafsu, kakinya melebarkan kedua paha Elissa.
Tanpa aba-aba Jodie melesatkan batang penisnya kedalam Elissa, mengungkung tubuh wanita itu sembari mengusap pipinya. Ia gerakkan pinggulnya perlahan dan sesekali ia hentakkan dengan keras.
“Ngghh.. Ahh..” Lenguh wanita itu, saat ujung penis milik Jodie kembali menghantam g-spot miliknya. Jodie menggoyangkan pinggulnya pelan, sembari mengubah posisi kaki Elissa. Semula dua kaki wanita itu melingkar pada pinggang Jodie, kini Jodie melebarkan dua kakinya dan menahan pada kedua tangannya hingga lelaki itu dapat memperdalam miliknya hingga penuh. Jodie mengecup singkat bibir Elissa dan menatap wajah wanita itu. Mengamati setiap detik sang kekasih merintih, mendengarkan setiap desahan yang keluar dari bibirnya, menatap gemas ketika Elissa meremas bantal dan mendongakkan kepalanya saat ia sengaja mendorong penuh miliknya. Pemandangan yang luar biasa bagi Jodie dan baginya melihat Elissa seperti saat ini saja sudah membuatnya puas. Tidak perlu berbagai macam fantasi, melihat Elissa berkali-kali orgasme dalam satu kali permainan saja sudah membuatnya berada di puncak. Menurutnya Elissa bukanlah obyek fantasi, Elissa adalah kekasihnya, wanita yang sangat di cintainya.
“Joo...”
“Hm?”
“Faster pleaseehhh...” Rintihnya.
Jodie hanya tersenyum, bahkan ia masih dalam tempo yang sama. Tidak mempercepat gerakan pinggulnya.
“Jo, please.. I beg you..”
“Babe, not faster but harder. Oke? Faster can hurt you but harder can take you to heaven.” Suara lirih di tengah deru nafas yang memburu dan erangan dari sang puan membuat lelaki itu ingin menjemput pelepasannya bersama dengan Elissa. Ia hanya menambah sedikit tempo gerakannya sembari mendorong penuh miliknya pada tubuh wanitanya. Tubuh Elissa mulai menegang, dua tangannya meremas kuat-kuat lengan sang kekasih dan mengeluarkan desahan yang keras. Sekali lagi Jodie mendorong miliknya keras hingga menumbuk pada titik terdalam milik sang kekasih.
“Ahh... Fuck Jo!” Tubuh wanita itu menegang dan menggelinjang hebat ketika mencapai titik puncak orgasm-nya. Dadanya membusung dan kepalanya mendongak ketika ia merasakan kenikmatan surga dunia yang di janjikan oleh Jodie. Bersamaan dengan itu Jodie-pun sengaja melepaskan cairan cintanya kedalam rahim Elissa. Menyatu di dalam sama hingga penuh dan perlahan mengalir lewat sela paha sang kekasih.
Perlahan Jodie melepaskan tautan di bawah sana, tubuhnya ambruk di sebelah Elissa yang tengah mengatur nafasnya. Tangan Jodie memeluk tubuh wanita itu dan Elissa merubah posisinya kini saling berhadapan. Elissa mengusap lembut pipi Jodie dan tersenyum.
“I love you, Jo..”
“I love you more...” Balas Jodie sembari mengecup singkat bibir Elissa.
“Capek.” Ucap Elissa singkat sembari memejamkan matanya.
“Nggak mandi dulu, sayang?” Tanya Jodie, ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh keduanya.
“Bentar lagi ya? Nafas dulu.”
Jodie terkekeh mendengar jawaban dari kekasihnya. Ia mengusap dan merapikan rambut Elissa yang sebagian menutupi wajahnya.
“Emang dari tadi nggak nafas?” Tanya Jodie, tangannya mulai jail meremas pelan payudara milik wanita itu dan sesekali memainkan putingnya.
“Jooo... Jangan ganggu.” Ujarnya. Tangan Elissa berusaha menahan agar Jodie berhenti menggodanya. Tetapi bukan Jodie kalau hal kecil seperti itu dia akan menuruti perkataan Elissa, justru dia semakin menggoda sang kekasih sembari tertawa kecil.
“Aku punggungi nih, biar tangannya diem. Nggak bisa pegang-pegang!”
Elissa benar-benar berbalik arah dan memunggungi sang kekasih sembari menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun apa yang terjadi? Jodie lebih gencar menggoda Elissa dengan menggesekkan batang penisnya yang kembali menegang. Lelaki itu beberapa kali menggesekkan miliknya di sela bokong sintal milik Elissa.
“Jooo!! Ih!!” Ucap Elissa kesal sembari menggerakkan pinggulnya justru membuat gesekan itu lebih terasa. Jodie semakin terpancing dengan ulah wanitanya.
“Ay, tau nggak? Kamu udah keluar dua kali, tapi aku baru satu kali. Curang...” Bisik Jodie lirih tepat di telinga Elissa membuat wanita itu bergidik merinding.
Elissa tidak merespon, bahkan ia pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan kekasihnya.
“Shower or bathup?” Tanya Jodie sembari mengangkat tubuh Elissa dengan entengnya dan menggendong seperti bridal.
“Jooo!! Turunnnn!!”
“Are you ready for the second round???“