Imagine ✨

Pernikahan adalah ikatan dua manusia untuk hidup bersama, saling menyayangi, mengasihi, berbagi dan melengkapi tanpa saling menyakiti.

Tetapi apa arti sebuah pernikahan jika terselip pengkhianatan? Meleburkan kepercayaan? Sumpah dan janji di hadapan Tuhan rasanya sia-sia. Jika mampu bertahan dengan segala perih, serta memilih bersama sebab adanya rasa cinta, dialah Elissa Tirana.

Elissa pov

Pernikahan yang sakral pernah aku agung-agungkan sebab seorang lelaki yang aku cinta bernama Jodie Narendra Yoda adalah muara; dimana aku temui kenyamanan hati. Aku merasa Jodie adalah rumah, bukan sekedar tempat singgah. Menikah dengannya ku rasa sebuah anugerah.

Aku berpacaran dengan Jodie hampir enam tahun sampai pada akhirnya kami memutuskan melepas masa lajang. Di atas janji suci; bahwa kami senantiasa saling mencintai serta ingin sehidup semati.

Hari-hari kami di penuhi rasa bahagia, Jodie tidak pernah lepas dari aku barang sedetikpun. Mulai fajar menyingsing hingga senja menyapa, ia pastikan aku tidak lepas dari dua pasang netranya. Hatiku luluh lantak mana kala Jodie memujaku tanpa henti, saat itu aku masih menjadi satu-satunya.

Aku tidak tau bagaimana dan mulai dari mana; Jodie yang ku gadang-gadang layaknya manusia menyerupai malaikat, tiba-tiba berubah seperti iblis.

Mulanya air mataku tak pernah habis untuk menangisi Jodie, namun kini aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa Jodie pernah beberapa kali meniduri wanita selain aku. Bahkan Jodie selalu berkata jujur jika aku tanya perihal wanita yang dekat dengannya.

Sudah hampir dua puluh empat jam, Jodie membiarkan aku melakukan apa-apa sendirian. Mulai meeting dan sedikit pekerjaan di kantor, dengan sangat terpaksa aku menggantikan posisi Jodie, lantaran ia tak bisa hadir. Tubuhku cukup lelah karena aktivitas seharian yang tak kunjung usai dan aku memutuskan kembali ke rumah sore hari, sembari menunggu Jodie.


Elissa tiba di apartemen yang ia tinggali bersama Jodie sekitar pukul lima sore. Dirinya bergegas berjalan ke kamar mandi setelah melempar secara asal beberapa benda yang berada di tangannya; tas, ponsel, serta kunci mobil tergeletak di atas sofa.

Wanita itu memutar tuas dan air hangat pun mengucur membasahi ujung kepala hingga ujung kaki. Air yang menghujani dirinya berhasil membuat pikiran Elissa sedikit tenang. Meski beberapa jam yang lalu kepalanya seakan-akan mendidih, air yang membasahi seluruh tubuhnya ternyata ampuh menenangkan pikiran Elissa untuk beberapa saat.

Tangan Elissa mengusap tiap inchi permukaan kulitnya yang basah, ia pejamkan kedua matanya ketika wanita itu menengadahkan kepala. Terbesit sekilas pikiran kotor Elissa, tiba-tiba saja ia membayangkan tengah bercumbu dengan Jodie di bawah pancuran air hangat. Pikirannya menerjang banyak hal yang pernah mereka lakukan, bercinta di kamar mandi adalah salah satu tempat favorit keduanya.

Pantas jika Elissa berpikiran kotor sejak tadi.

Jemari Elissa reflek mengusap perlahan dua payudaranya secara sensual, kemudian salah satu tangannya meraba titik sensitif miliknya sendiri. Ia sedang membayangkan jika dirinya sedang di cumbu oleh Jodie, pikirannya tiba-tiba saja melayang ketika membayangkan Jodie tengah memainkan organ intimnya menggunakan dua jarinya. Meskipun jemari Elissa hanya bermain pada permukaan bibir vagina serta klitorisnya, secara naluri iya terangsang hingga tidak sengaja meloloskan desah yang menggema di dalam bilik kamar mandi.

Hanya beberapa menit saja Elissa menjamah tubuhnya sendiri, sebelum akhirnya kedua telapak tangannya mendarat di kedua pipinya. Mengusap wajahnya dan Elissa menyadari bahwa Jodie belum pulang. Percuma jika ia melakukan self service, Elissa merasa tidak ada tantangan jika Jodie tidak melihatnya secara langsung.

Hampir tiga puluh menit, Elissa pun keluar dari bilik kamar mandi. Elissa singgah sebentar di walk in closet guna memilih baju tidur yang hendak ia kenakan malam itu.

Elissa memilih untuk menggunakan lingerie berbahan satin warna hitam, satu set dengan piyama yang menutupi bagian luarnya. Baju tidur itu baru saja ia beli dua hari lalu, lantaran Jodie sangat menyukai Elissa ketika memakai lingerie berwarna hitam.

Di dalam walk in closet menggantung banyak baju tidur dengan nuansa hitam karena warna itu adalah favorit Jodie. Jodie sering mengatakan jika Elissa mengenakan lingerie berwarna hitam, sontak libidonya bangkit tanpa permisi.

Elissa meloloskan senyum seringai pada pantulan cermin, ketika selesai mengenakan baju tidurnya. Lantas wanita itu berjalan ke ruang tengah, ia menyalakan televisi sebelum memasuki dapur untuk membuat teh hangat.

Sembari menunggu air panas, pikiran Elissa sempat menerawang segala kenangan yang pernah ia bangun dengan Jodie. Sampai detik ini Elissa masih mencintai Jodie, terlepas dari hal yang membuatnya sakit hati, lelaki itu tidak akan pernah terganti.

Elissa yakin bahwa Jodie tidak pernah serius dengan beberapa wanita yang dekat dengannya, Elissa yakin jika sampai kapanpun dirinya adalah tempat pulang bagi Jodie. Wanita itu memimpikan menjadi seorang ibu, dengan satu anak laki-laki dan satu lagi perempuan sebagai buah cintanya dengan Jodie.

Terbias senyum kecil menghiasi bibir ranumnya, namun tak berapa lama senyum itu hilang saat decitan suara teko menandakan bahwa air sudah mendidih. Lamunan Elissa pecah seketika, ia segera matikan kompor dan menyeduh teh beralaskan cangkir berwarna putih gading.

Elissa membawa secangkir teh tersebut ke ruang tengah, ia meletakkan cangkir di atas meja kemudian duduk menyilangkan kaki sembari melihat tayangan televisi yang di putar secara acak.

Hampir satu jam Elissa fokus pada tayangan di televisi, dengan volume yang cukup kencang hingga dirinya tidak mengetahui bahwa Jodie sudah tiba di rumah. Secara tiba-tiba Jodie melayangkan satu kecupan di pipi Elissa hingga membuat wanita itu terperanjat kaget. Elissa melirik sinis pada lelaki yang tengah tersenyum jail kearahnya.

“Hey.. Baby.”

Elissa tak bergeming, kedua netranya kembali fokus pada layar televisi. Merasa tidak mendapat perhatian dari Elissa, lelaki itu lantas mendekap tubuh si puan dari belakang dan membubuhkan beberapa kecupan pada pipi, telinga serta leher Elissa.

Elissa memang tidak bisa menghindar namun ia mencoba melepaskan diri dari tangan kokoh si tuan. Wanita itu melepaskannya sembari berkata; “Take a bath, baby.”

Jodie mengangguk dan mengecup bahu Elissa sebelum akhirnya bergegas meninggalkannya di ruang tengah. Sedangkan wanita itu masih duduk di sofa sembari menikmati teh hangat yang hampir habis.

Dua puluh menit setelahnya Jodie keluar dari kamar mandi dengan tubuh shirtless dan handuk yang melilit di pinggangnya.

“Sayang, aku mau teh juga.” Ucap Jodie yang berdiri bersandar pada tembok.

Elissa tidak langsung menjawab, ia hanya menoleh ke arah sumber suara. Lantas wanita itu menatap Jodie sekilas kemudian beranjak dari duduknya.

“Tunggu di kamar, aku buatin dulu.” Jodie mengangguk dan tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar. Sedari tadi Jodie enggan untuk tidak memperhatikan sang istri. Memutuskan menikahi Elissa adalah keinginannya sejak lama, mempunyai istri seperti Elissa adalah satu keberuntungan bagi dirinya.

Elissa sebenar-benarnya adalah wanita yang patut di puji karena kesabarannya seluas samudera, serta patut di puja lantaran kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya. Elissa itu sempurna.

Tak perlu lama menunggu, Elissa tiba di kamar dengan membawa secangkir teh hangat di tangan kanannya kemudian meletakkan cangkir tersebut di meja sebelah Jodie.

Ekor mata Jodie tidak lepas dari sosok Elissa yang kini tidak lagi mengenakan piyama —tubuhnya semakin terekspos.

Elissa merasa bahwa sorot mata Jodie tidak lepas dari dirinya, ia hanya melirik sekilas sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang dan menyilangkan kakinya.

“Jo.. Will you play with me?“

“Huh..??” Jodie menoleh ke arah Elissa. Senyuman wanita itu sungguh sulit di artikan, membuat Jodie menaikkan satu alisnya.

“Will you play with me?” “Yes or no?”

Elissa tampak santai, dengan gerakan sensual tangannya meraba lutut hingga batas pangkal paha hingga lingerie yang ia kenakan terangkat dan mengekspos kulit mulusnya.

“Nantangin?” Balas Jodie segera beranjak dari duduknya namun segera di tahan oleh Elissa.

“Stop!” “Tetap duduk di situ, sayang.”

Dengan gerak reflek, Jodie kembali duduk di atas sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang tidurnya.

“Jangan gerak sedikitpun, kamu cuma boleh liat aku tanpa sentuh aku.” Elissa berujar sembari mengangkat kedua tangannya dan memberi isyarat agar Jodie tetap berada di tempat duduknya.

“Maksud kamu apa? Kamu cuma mau nyiksa aku?”

“Nope.” “Aku nggak akan nyiksa kamu. Kamu tinggal duduk manis di situ dan liatin aku self service, oke?”

“Ck..” Jodie berdecak kesal sembari memalingkan wajahnya, sebab Jodie tidak pernah bisa tahan jika Elissa menggodanya dengan bermain sendiri.

“Jangan gerak sedikitpun, atau aku nggak akan lanjutin.”

“Kalau kamu kalah, aku mau tidur sendiri, kamu tidur di kamar tamu, seminggu. Deal?“

“Deal.” Jawab Jodie asal.

Lelaki itu sempat ragu, ia hanya takut tidak bisa menahan diri. Sedangkan Elissa itu wanita paling kuat akan segala godaan.

Jodie mengubah posisi sofa yang semula membelakangi tempat tidur, kini menjadi saling berhadapan. Ia mematikan saluran televisi dan memastikan suhu pada pendingin udara di ruang kamarnya lebih dingin dari biasanya.

Elissa tersenyum sinis mana kala menatap Jodie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu hanya menggunakan celana boxer tanpa mengenakan kaos, sedangkan udara terasa lebih dingin.

Elissa yang semula duduk menyilangkan kaki, kini mulai membuka kedua pahanya. Dengan sangat sensual dan perlahan jemarinya menari di atas tubuhnya. Tanpa melepaskan pandangan pada kedua mata Jodie, wanita itu terus menggoda dengan meremas payudaranya sendiri.

Perlahan ia melepas satu tali pengait yang menggantung di bahunya, payudara milik Elissa yang ranum sudah mulai terlihat mengeras, puncak payudaranya pun terlihat sudah menegang.

Dengan gerakan sensual jemari Elissa mulai menyentuh titik sensitifnya, kedua pahanya lebih melebar hingga Jodie dapat melihat liang surgawi yang menjadi favoritnya tengah di pamerkan tepat di depan matanya secara terang-terangan.

Jodie hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ia hembuskan nafasnya kasar namun ia berusaha mati-matian untuk tidak bergerak sedikitpun.

Jodie merasa kepalanya mulai mendidih dan hampir meledak ketika melihat Elissa bergerak menjauh dari hadapannya. Wanita itu merangkak membelakangi Jodie; bokong sintal milik Elissa terlihat jelas di depan matanya. Mungkin jika Elissa tidak menetapkan peraturan pada sesi bercintanya kali ini, detik itu juga Jodie lekas menghajar Elissa tanpa ampun. Wanita itu lantas menuju headboard untuk menyandarkan tubuhnya, sorot matanya kembali menangkap sosok Jodie yang mulai bergerak resah. Satu persatu Elissa melepaskan kain sebagai penutup tubuhnya dan ia buang lingerie hitam itu ke lantai.

Tangan kanannya kembali meremas payudaranya sendiri secara sensual tanpa melepaskan pandangan pada Jodie, kemudian dua jarinya bergerak menuntun pada belah bibirnya untuk di jamah. Elissa memasukkan dua jarinya ke dalam mulutnya sendiri kemudian menambah satu jari lagi. Ke tiga jarinya kini telah di basah oleh liurnya sendiri.

Peluh mulai menetes di wajah Jodie, pendingin udara seakan-akan tidak mempan oleh hawa panas yang di ciptakan oleh Elissa.

Elissa membuka kedua pahanya semakin lebar mana kala jemarinya menyentuh klitoris yang mulai membengkak. Wanita itu memutar pelan klitorisnya sebelum akhirnya menambah tempo hingga dirinya tak kuasa meloloskan desahan yang bergema di ruang kamarnya.

Jodie mulai gusar dan tidak tenang. Berulang kali iya menyamankan duduknya guna menyaksikan Elissa yang sedang bermain, namun hasratnya di paksa bangkit, nafsunya di diobrak tanpa permisi. Jodie sudah kepalang terangsang, tetapi ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak bergerak. Hingga pada saat Elissa memasukkan dua jarinya kedalam liangnya sendiri, Jodie secara reflek berdiri dari duduknya. Membuat Elissa memekik di tengah desahannya.

“Stop it” “Atau aku berhenti.”

Jodie mengepalkan telapak tangannya, namun tetap menuruti perkataan Elissa dan kembali duduk. Ia mengingat kembali bahwa Elissa meminta dirinya untuk menyaksikan tanpa menyentuh.

Elissa menggerakkan dua jarinya pelan, tangan satunya ia gunakan untuk meremas payudaranya secara sensual. Lenguh dan desahan wanita itu semakin jelas terdengar ketika jarinya bergerak lebih cepat demi mengejar titik kepuasan.

Erangan serta desah yang semakin keras membuat libido Jodie naik seketika. Berkali-kali ia menelan ludahnya sendiri lantaran suara decap pada liang vagina Elissa yang sangat basah semakin nyaring terdengar, ketika dua jari wanita itu terus memainkan pusat tubuhnya semakin cepat.

“Ouh.. Fuck!“

Elissa bergumam sendiri ketika dengan sengaja ia mengeluarkan jarinya. Jodie sontak kaget, ia tengah berpikir, apalagi yang akan di perbuat Elissa guna memuaskan dirinya sendiri.

“El, cukup. Aku ini suamimu kalau kamu lupa.”

“Shut up!” Ucapnya sembari mengambil satu benda yang terletak di dalam laci nakas.

Jodie tidak tau apa yang akan di lakukan Elissa selanjutnya, ia hanya berharap bahwa Elissa tidak sanggup menyelesaikan dan meminta Jodie untuk melayaninya. Namun salah. Elissa justru mengeluarkan vibrator dari dalam laci nakas.

“El, dari kapan kamu beli itu?”

“Shut up!” “Aku bilang diam!”

Bibir Jodie mengatup rapat, ia hanya bisa memandang dengan lekat sosok Elissa yang mengulum benda itu guna membasahi vibrator dengan air liurnya. Setelah dirasa sudah basah, kemudian di detik berikutnya wanita itu memasukkan vibrator pada miliknya sendiri.

Elissa melenguh keras mana kala vibrator itu ia tanam sendiri pada pusat tubuhnya. Tangan kanannya menyambar remote dan mengatur kecepatannya di level sedang.

“El...” “Baby...”

“Shit! Ouh...” Tangan Elissa reflek meremas payudaranya sendiri. Alat tersebut bergetar di bawah sana, beberapa kali kaki Elissa bergerak resah akibat vibrator itu mengoyak miliknya.

Desah dan racau semakin lantang terdengar di telinga ketika Elissa dengan sengaja mengatur getaran vibrator tersebut menjadi lebih cepat. Tangan kirinya meremas seprei kuat-kuat sebab getaran di bawah sana memicu dirinya untuk segera menjemput pelepasannya.

Tangan kanan Elissa memutar klitorisnya guna mempercepat mencapai puncak kenikmatan yang ia damba. Wanita itu tidak peduli lagi dengan Jodie yang gusar karena ulahnya. Elissa tidak peduli dengan mimik muka Jodie yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.

Pada saat kaki Elissa mulai bergerak tidak beraturan, bisa di pastikan gelombang pelepasan hendak menghampiri dirinya. Dinding vaginanya mulai berkedut, hingga Elissa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Jodie melihat tubuh Elissa mulai menggelinjang dengan kaki yang bergerak asal, desahan yang keluar dari bibir wanita itu mulai terdengar lebih keras dan nyaring —pun lelaki itu beranjak dari duduknya. Jodie sama sekali tidak peduli dengan aturan dari kesepakatan mereka, yang ia tau bahwa Elissa hendak mencapai klimaks dengan vibrator sialan itu, bukan dengan miliknya.

Jodie kesal, ia melepaskan boxer yang ia kenalan sembari naik ke atas ranjang.

“A-aku mau keluar, minggir.” Elissa memekik lantaran Jodie berada di bawahnya sembari memegangi kedua kakinya. Tangan Jodie baru saja terulur untuk melepaskan vibrator dari pusat tubuh Elissa, namun cairan yang keluar lebih dulu membasahi tangannya. Dengan gerakan cepat, Jodie mengeluarkan vibrator itu dan melemparnya ke tembok sekencang mungkin.

“Aku nggak suka liat kamu liar pakai alat itu.” Ucap Jodie sesaat sebelum dirinya melumat bibir ranum milik Elissa. Tubuh wanita mulai lelah, pada akhirnya ia akan pasrah dengan apa yang akan di lakukan Jodie terhadapnya.

Jodie melebarkan kedua paha Elissa, ia mencumbu si puan dengan buas. Jodie menyesap cairan sisa pelepasan yang masih mengalir di liang vaginanya. Sontak Elissa melenguh sembari meremas rambut Jodie. Suara decapan bibir lelaki itu sukses membuatmu Elissa frustasi.

Setelah selesai membersihkan cairan di bawah sana, Jodie mulai bergerak keatas. Ia menatap lekat Elissa yang berada di bawahnya, detik berikutnya Jodie melumat bibirnya dengan terburu. Menyesap, melumat, serta menjilat apapun yang tampak di depan matanya.

Jodie membubuhkan kecupan-kecupan basah pada telinga, leher, serta payudara Elissa. Membuat tanda kepemilikan sebanyak mungkin sembari memainkan puncak dada Elissa, hingga wanita itu tidak sanggup menahan lenguh serta desah yang tidak bisa ia tahan.

“Jo..”

“Hmm..”

“Kenapa kamu gak suka kalau aku pakai alat itu? Bukannya lebih baik dari pada aku sama laki-laki lain?”

“Nope.” “Aku nggak suka, apalagi sama laki-laki lain. Aku bakalan bikin orang itu nggak bisa jalan kalau sampai nyentuh kamu.” Jodie berujar sembari menggesek klitoris Elissa yang membengkak.

“Aahh.. Jo!” Elissa memekik ketika dua jari milik Jodie melesak ke dalam liangnya. Lelaki itu menggerakkan jarinya perlahan dan menambah tempo dengan sangat pelan dan teratur agar tidak menyakiti Elissa.

“Enak? Huh?“

Elissa tidak bergeming, sejak beberapa detik yang lalu wanita itu memejamkan kelopak matanya sembari meremas bantal.

“Enak sama jari ku kan? Dari pada pakai alat itu?”

“Jo! Bisa diem gak?!” “Aahh... Jodie!”

Elissa tidak mau berkata iya, atau hanya sekedar mengangguk saja sebab apa yang di katakan Jodie itu adalah benar adanya. Vibrator tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan jari bahkan milik Jodie sendiri.

Setelah puas bermain dengan jarinya, lantas Jodie mengocok batang penisnya perlahan dan menepuk-nepuk ujungnya di atas klitoris milik Elissa. Wanita itu ingin menggeram sebab kesal dengan Jodie yang terus menggodanya, bahkan kini batang penis itu iya gesekkan pada bibir vagina hingga menyentuh klitorisnya berulang kali.

“Jo!”

Elissa memekik ketika kejantanan milik Jodie melesak dalam satu kali hentak. Ujung penisnya berhasil menabrak titik paling sensitif di dalam sana.

Jodie tidak berkedip barang sedetikpun demi memandang wajah sayu Elissa. Seolah-olah Jodie tidak mau melewatkan pemandangan indah yang pada saat Elissa mendesah dan mengerang di bawah kendalinya.

“Jo... Kamu nggak capek?”

“Nggak.”

“Sama Natasha berapa kali?” “Aahh...”

Jodie sengaja menghentak miliknya dalam-dalam pada liang kenikmatan Elissa sebab pertanyaan yang di lontarkan Elissa beberapa detik lalu, sesungguhnya membuat Jodie merasa tidak senang karena mengganggu konsentrasi.

“Sekali.” Jawab Jodie singkat. Lantas Elissa menaikkan satu alisnya sembari berkata; “percuma kamu buang-buang duit ke Natasha kalau dia nggak bisa muasin kamu.”

Jodie geram kemudian membalikkan tubuh Elissa kesamping tanpa melepaskan pertautan di bawah sana. Jodie berada di belakang Elissa dan wanita itu membelakangi Jodie.

Bibir Jodie tepat berada di sebelah telinga Elissa dan berbisik; “Emang cuma kamu yang bisa muasin aku, nggak ada lawan. I love you, baby.“

Tidak lama dengan gaya spooning, Jodie mengubah posisi keduanya.

Jodie kini duduk bersandar pada headboard dan menarik tubuh Elissa untuk berada di atasnya dan melesakkan kembali batang penisnya ke dalam liang vagina milik Elissa.

Dua tangan Jodie melingkar pada pinggang dan punggung si puan, ia menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Kedua tangan Jodie sengaja mendekap tubuh Elissa agar tidak bergerak kemanapun.

Elissa berkali-kali meloloskan desah dan racau, dirinya seakan-akan tidak bisa lepas dari Jodie yang mulai liar dan mendominasi. Ujung penis milik Jodie berhasil menabrak berulang kali titik paling nikmat di dalam sana, hingga membuat Elissa merasakan gelombang pelepasan yang mulai mendekat.

Semakin keras Elissa mendesah, semakin keras pula Jodie menghentakkan penisnya pada milik Elissa.

“Jo... Aku nggak ku-att.”

“Lepasin, sayang. Keluarin bareng aku.”

Elissa hanya bisa pasrah, dua tangannya hanya bisa meremas rambut Jodie namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher lelaki itu. Batang penis Jodie terus ia hentakkan hingga Elissa berhasil mencapai pelepasannya yang ke dua dan di susul oleh Jodie yang sama-sama melepaskan spermanya ke dalam rahim Elissa.

Tubuh Elissa bergetar hebat, suaranya habis ia gunakan untuk berteriak karena nikmat yang Jodie hantarkan berhasil membuat dirinya mendapatkan klimaks yang ia damba.

Jodie dengan telaten mengusap punggung si puan guna menyalurkan rasa nyaman dan tenang, agar Elissa dapat mengatur nafasnya yang belum juga stabil. Wanita itu masih berada di atas Jodie, meringkuk tanpa melepaskan pertautan intimnya.

“Enak? Lega? Lebih enak sama aku, kan? Di banding pakai vibrator?”

Elissa tidak bergeming, ia memilih memejamkan mata sembari menstabilkan nafasnya.

Tangan Jodie bergerak mengusap puncak kepala Elissa dan membubuhkan kecupan pada kening wanita-wanita itu. Satu tangan yang lain melingkar di punggung Elissa, lelaki itu mendekapnya erat-erat.

“Baby, i love you. Thank you foreverything.”

“Hmm...”

“I love you.”

Elissa membuka mata dan mendongak ke arah Jodie hingga keduanya saling menatap seolah-olah sedang mengisyaratkan sesuatu.

“I love you? Buat apa?”

“Because you're my wife.”

“Wife? Tapi suami ku bertingkah kayak bajingan. Apa masih bisa di sebut suami?” Elissa hendak beranjak dari atas tubuh Jodie. Ia menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu di atas dada bidang si tuan. Pada saat Elissa bergerak mundur, tangan Jodie lebih dulu menahan bokongnya agar pertautan organ intim mereka tidak lepas.

“Jo, apa kita mau kayak gini terus? Sampai pagi?!”

Jodie tersenyum miring kemudian membalikkan tubuh Elissa, melandaskan tubuhnya di atas ranjang.

“Jo..!”

Elissa memekik ketika Jodie menggerakkan pinggulnya pelan sembari mencium bibir Elissa hingga beberapa detik.

“Let's make a baby, sweetheart.”

“Jo, aku mau punya anak tapi kamu harus berhenti jadi bajingan.”

“Sayang, aku udah berhenti. Mulai kemarin aku udah jelasin sama Natasha, kalau semalam itu yang terakhir ketemu dia.”

“Just bullshit.” “Aku nggak mau punya anak kalau kamu belum berubah. Oke?”

“Please, El.” “Aku mau buktiin kalau aku serius. Aku mau punya anak sama kamu.” Ujarnya sembari mengecup kening Elissa. Tangannya merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya, hingga dirinya bisa menatap wajah cantik wanitanya.

“I promise you.”

Kalimat yang keluar dari bibir Jodie layaknya penyejuk, Elissa hanya membutuhkan keyakinan bahwa Jodie benar-benar berubah untuknya.

Jodie kembali menggerakkan pinggulnya pelan, sesekali ia hentakkan hingga penuh. Kedua kaki Elissa ia lingkarkan di pinggangnya, mengapit tubuh tegap Jodie. Dua tangan Elissa ia satukan dan di letakkan di atas kepala wanita itu. Jodie mencengkeram erat kedua tangan Elissa, hingga benar-benar ia tak bisa bergerak.

Elissa mendesah tertahan lantaran bibir Jodie membungkam bibirnya, tubuhnya sudah terasa lelah hingga dirinya hanya mengikuti alur yang Jodie ciptakan.

Semakin lama, tempo gerakan Jodie semakin cepat. Sesekali ia menarik pinggulnya hingga kejantanannya hampir keluar namun dengan cepat ia hentakkan kembali ke dalam Elissa hingga membuat wanita itu mengerang dan mendesahkan nama Jodie berulang kali.

Aliran darah Elissa mengalir lebih cepat, tubuhnya mulai melengkung dan menggelinjang. Perlahan Jodie melepaskan cengkeraman pada tangan Elissa dan mengecup kening si puan hingga beberapa detik.

“Mau keluar?”

Elissa hanya mengangguk sembari meremas lengan bertatto milik Jodie.

“Bisa tahan bentar?”

Elissa tidak menjawab, wanita itu terus mengerang dengan raut wajah yang seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan.

“Baby, doggy style right now?” “Please..”

Elissa mengangguk pasrah, secepat kilat Jodie mengecup bibir ranum milik Elissa dan mengangkat tubuhnya. Jodie membantu Elissa merubah posisinya, kini Jodie bertumbuh menggunakan kedua lututnya dan berada di belakang wanita itu.

Jodie mencium dan menjilati telinga, leher, serta bahu Elissa. Menghirup aroma tubuh wanita itu seperti memancing hasratnya kembali. Sedangkan Elissa menahan berat tubuhnya menggunakan kedua tangan tepat di atas bantal.

Wanita itu melenguh ketika tangan kanan Jodie mengusap klitorisnya, dan menggesekkan ujung penis pada liang vagina Elissa.

Dengan sekali hentak, batang penis milik Jodie yang kokoh kembali menembus liang kenikmatan Elissa.

Jodie menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat sembari memutar klitoris Elissa hingga membuat wanita itu meloloskan desah serta rancu semakin nyaring terdengar. Tangan kiri Jodie perlahan menarik tubuh Elissa agar melekat di tubuhnya, merangkul tubuh mungil itu dan terus menghujam milik si puan.

Hembusan nafas Jodie yang terburu dan ketika lelaki itu menggeram, hawa panas semakin terasa menembus permukaan kulit leher Elissa. Tubuhnya cukup sensitif dengan rangsang yang memicu dirinya untuk segera mencapai klimaks.

“Jo...”

“Hm? You wanna cum?”

“Mmm..”

“Keluarin, sayang. Bentar lagi aku juga mau keluar.” Jodie berujar sembari terus menambah temponya. Elissa terlihat sudah sangat pasrah hanya bisa menengadahkan kepalanya yang bersandar pada dada bidang Jodie, sembari meloloskan desahan yang menyerukan nama si tuan.

Tubuh Elissa menggelinjang hebat mana kala liang vaginanya berkedut dan mengeluarkan cairan pelepasan. Tangan Jodie mengeratkan tubuh Elissa yang mulai melemas agar tidak terjatuh, hingga hentakan ke tiga Jodie melepaskan cairan spermanya ke dalam rahim Elissa.

Tubuh Elissa seolah-olah tak bertulang, untuk berpindah posisi saja wanita itu tidak mampu. Lantas Jodie mengangkat tubuh wanita itu dan merebahkan di atas ranjang yang sudah sangat berantakan. Jodie mencium ranum Elissa dan di balas dengan ciuman ringan oleh wanita itu, sebelum akhirnya Jodie beranjak dari atas tubuh Elissa untuk mengambil beberapa helai tisu.

Jodie sangat telaten membersihkan sisa cairan yang mengalir di sela paha wanitanya, juga miliknya. Kemudian membuang tisu bekas pakai itu ke dalam tempat sampah yang taj jauh dari jangkauannya.

Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Elissa, memeluk si puan dari belakang, serta mencium leher dan bahu Elissa. Hembusan nafas hangat Jodie sangat jelas terasa ketika wajahnya ia benamkan pada ceruk leher Elissa, sembari berbisik; “Kita akan punya anak, kan?”

Elissa mengangguk meskipun kedua matanya sudah terpejam.

“Aku berhenti minum pil mulai besok.”

“Kamu minum pil, El?! Dari kapan? Kenapa kamu nggak bilang sama aku??”

“Padahal aku udah pengen banget punya anak.” Ucap Jodie sembari membalikkan tubuh Elissa hingga kini Jodie berada di atas Elissa.

“Dari kamu mulai deket sama perempuan lain.”

“Aku mutusin buat nunda punya anak, walapun cuma sepihak. Aku nggak mau hamil dalam keadaan yang stress karena kelakuan kamu.”

“El, i'm so sorry.. I promise.“ “Sekarang percaya sama aku, oke? Aku pengen punya anak sama kamu. Berhenti minum pil-nya.”

Elissa mengangguk pelan, Jodie tersenyum lega dan kembali mendaratkan ciuman di bibir Elissa hingga beberapa detik.

“I love you, baby.”

“I love you more, Jo..”

Jodie kembali merengkuh tubuh Elissa, menyalurkan rasa hangat dan nyaman pada tubuh wanitanya. Perlahan tangan Jodie menarik selimut agar menutupi kedua tubuh telanjang mereka.

“Let's sleep, sweetheart.”

Yang Elissa tau, Jodie kini memperbaiki kesalahannya, yang Elissa tau bahwa Jodie kembali untuknya, sebagai suami yang senantiasa bersamanya sehidup semati. Seperti janjinya pada Tuhan.

Marcello pov

Tangan ku bergerak cepat menyambar tas dan handuk kecil, aku berlari kecil sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Aku tidak peduli dengan Hansel yang berteriak sebab aku tinggalkan begitu saja. Dalam hatiku sudah di penuhi nama Hanna Venti Mahatma yang notabene adalah kakak kandung Hansel. Di otakku sudah terbayang senyum manis seorang Hanna yang setahun terakhir ini mengisi ruang di relung hati.

Kadang aku merasa tidak percaya telah menjatuhkan hati pada wanita yang usianya lebih tua dua tahun dari aku. Pun aku masih sering berpikir bahwa aku memacari kakak sahabat ku sendiri, tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Namun Hanna, mengubah cara pandang ku. Aku yang selalu merasa kesepian karena malas untuk mempunyai hubungan dengan perempuan. Aku pikir kebanyakan perempuan hanya bersikap ke kanak-kanakan, tidak beda jauh dengan beberapa perempuan yang dekat dengan ku. Tapi Hanna mengartikan cinta dengan sangat sederhana.

Kita hanya perlu saling percaya, mencintai seadanya tanpa harus banyak menuntut dan Hanna melakukan itu. Hanna adalah wanita mandiri yang ingin aku berikan apresiasi melalui cinta dan kasih yang aku miliki.

Hari-hari kami terlampau sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terhitung lima bulan aku bekerja di perusahaan papa, dan Hanna pun mempunyai kesibukan dengan pekerjaan selain harus mengurus dua adiknya Hansel dan Halsey.

Hampir dua minggu Hanna meninggalkan aku, ia berada ke Singapura lantaran kedua orang tuanya berada di sana. Rindu akan wanita cantik ini rasanya sudah tidak bisa aku bendung lagi.

Aku ingin memeluknya, aku tidak ingin wanita itu bergerak kemana pun. Ingin aku dekap sampai aku puas memandangi wajahnya, sampai tuntas aku menghirup aroma tubuhnya. Aku rindu mencumbunya, bahkan aku ingin mendengarkan erangan yang keluar dari bibirnya berulang kali.

Kedua mataku fokus pada jalanan ketika aku segera menghidupkan mobil dan mengendarainya dengan sedikit terburu. Namun di otakku cukup kotor dengan membayangkan Hanna yang tidak berdaya berada di bawah ku, serta mendengarkan rintihan suara seraknya ketika meloloskan desah yang menyebutkan namaku.

“Ah, pikiran ku terlalu kotor jika sedang merindukan Hanna.”

Sore ini aku sangat beruntung karena jalan Ibukota tidak terlalu ramai, aku bisa mengendarai mobil ku lebih cepat agar aku bisa sampai di rumah Hanna. Aku sempat melihat notif di layar ponselku ketika dering singkat menandakan pesan masuk dan pengirimnya adalah Hansel.

“Gue mau balik ke apart Ara aja, lo puasin kangennya sama kakak gue mumpung Halsey masih di Singapura.”

Isi pesan singkat dari Hansel sukses membuat senyum ku mengembang. Aku tidak akan membuang waktu karena menurutku, menghabiskan sisa hari ini dan menjemput hari esok dengan memeluk tubuh Hanna adalah salah satu keberuntungan selain memenangkan tender.

Hanna pov

Aku terkekeh geli ketika membaca pesan singkat Marcell yang terkesan terburu-buru, sebab aku memberikan kabar bahwa aku sudah berada di rumah sore ini.

Hampir dua minggu aku berada di Singapura karena kerinduan pada kedua orang tuaku sudah pada puncaknya. Hampir satu tahun kami tidak saling bertemu lantaran kesibukan masing-masing. Perihal pekerjaan, papa dan aku sama-sama gila bekerja. Terkadang aku lebih suka menghabiskan waktu dengan menyelesaikan pekerjaan bahkan jika harus lembur sekalipun.

Aku sampai tidak peduli dengan urusan percintaan, masa bodoh. Aku hanya fokus pada pekerjaan, dan dua adikku; Hansel dan Halsey. Sampai pada akhirnya aku tertarik dengan Marcell. Mungkin dari sekian banyak orang menganggap ku aneh karena sekarang aku tengah berpacaran dengan lelaki yang usianya dua tahun lebih muda dari aku. Aku hanya tersenyum sinis jika ada rekan kerja ku berkomentar tentang kisah cintaku.

Mereka tidak pernah tau bagaimana Marcell memperlakukan aku bak seorangpun ratu, yang mereka tau hanyalah pacar lebih muda itu sekedar memanfaatkan kemapanan ku.

Mereka salah besar, Marcell tidak pernah memanfaatkan aku. Dari segi pekerjaan dan finansial, Marcell punya porsinya sendiri dan dia jauh lebih mapan dari aku.

Orang lain berkomentar karena hanya melihat dari segi luarnya saja tanpa menelisik lebih dalam. Tetapi jika orang-orang di luaran sana berkeinginan untuk menelisik lebih dalam tentang Marcell, aku akan menolaknya mentah-mentah. Aku siap pasang badan karena aku tidak rela kehidupan pribadi kekasihku di umbar tanpa ragu.

Marcell adalah lelaki bernyali besar ketika menjatuhkan hatinya padaku. Lelaki itu mampu merobohkan benteng pertahanan ku, —yang dengan susah payah aku bangun bertahun lamanya lantaran rasa trauma ku terhadap masa lalu.

Aku tertarik dengan Marcell hanya karena hal yang sederhana.

Senyumnya.

Entah kenapa senyum Marcell adalah senyum terhangat yang pernah aku lihat. Aku merasa tenang jika berbicara dengannya, senyum yang terukir di bibirnya bak sebuah mata air di tengah fatamorgana.


Langkah kaki Hanna mengantarkannya pada sebuah dapur berukuran sedang di sebelah ruang tengah. Handuk kecil masih terlilit di kepalanya serta baju tidur berbahan satin berwarna merah tua menggantung di tubuhnya, sungguh pemandangan yang indah.

Hanna menyandarkan tubuhnya pada kitchen bar sembari menunggu air yang ia panaskan mendidih. Tiba-tiba saja wanita itu menggigit bibir bawahnya ketika membayangkan Marcell tengah mencium bibirnya sembari meremas pinggangnya.

Bayang-bayang yang sempat membuat dirinya resah sendirian itu tiba-tiba saja pecah lantaran suara derap langkah kaki seseorang yang memasuki rumah tanpa permisi. Tanpa mengetuk pintu bahkan tidak ada suara bel yang berdenting nyaring.

Ekor mata Hanna menangkap seseorang yang ia kenal tengah berlari kecil menaiki tangga menuju lantai dua, dimana kamar utama berada di sana. Tanpa melihat sekitar, tanpa mengeluarkan suara bahkan tidak ada panggilan yang keluar dari bibir lelaki itu.

Hanna menahan kekehan ketika tak sampai satu menit lelaki itu setengah berteriak memanggil namanya lantaran tidak menemukan dirinya di kamar. Marcell sibuk mencari keberadaan Hanna sembari menyerukan namanya berulang kali. Lelaki itu menuruni tangga dan menemukan kekasihnya tengah berdiri dengan dua tangan yang terlipat di depan dada.

Senyum Hanna mengembang sempurna ketika melihat sosok Marcell yang rambutnya sedikit acak-acakan, nafas yang memburu karena harus naik turun tangga sembari berlari kecil. Wanita itu semakin meleleh saat Marcell menatapnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki —senyum seringai terlukis jelas pada bibir Marcell seolah-olah siap menerkam mangsa di depan matanya.

“Baby...”

Langkah Marcell tergesa menghampiri si puan yang tengah merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh Marcell yang melekat erat pada tubuhnya. Merengkuh penuh rasa rindu yang membuncah diantara keduanya, usapan lembut pada punggung Hanna menyalurkan rasa hangat dan nyaman. Aroma tubuh wanita itu bak sebuah candu bagi Marcell, hingga dirinya tak mampu berhenti mencium dan menghirup ceruk leher si puan.

“Hei.. Stop. Marcell, stop it.”

Marcell tidak bergeming dengan ucapan Hanna, bahkan ketika wanita itu berusaha melepaskan pelukannya, nihil. Sama sekali tidak berhasil, bahkan dengan sengaja Marcell membubuhkan kecupan basah pada ceruk leher Hanna hingga membuat tubuhnya merinding seketika.

Marcell berhasil menahan dua tangan Hanna hingga wanita itu tidak bisa bergerak, bibir Marcell bergerilya hingga menemukan titik terfavorit bagi dirinya.

Lantas lelaki itu melumat bibir ranum milik Hanna, ia menyesap bibir bawahnya hingga wanita itu membuka mulutnya untuk memberikan akses. Marcell mulai menginvasi tiap inchi rongga mulut Hanna tanpa jeda, membuat si puan hampir kehabisan pasokan oksigen.

Hanna ingin melepaskan pertautan keduanya namun di tahan oleh Marcell, tangan kiri lelaki itu menahan dan melekatkan tubuh Hanna pada dirinya. Tangan kanannya sibuk melucuti baju tidur berbahan satin yang menempel di tubuh Hanna.

Si puan berkali-kali melenguh tertahan karena tidak mampu bergerak bahkan meloloskan diri dari Marcell. Lelaki itu semakin bergerak agresif, setelah berhasil melucuti kain yang menempel pada tubuh Hanna kemudian mengangkat tubuh mungil itu ke atas kitchen bar.

Hanna merasakan aliran darahnya mengalir semakin cepat ketika Marcell mulai menjarah bagian titik sensitif miliknya.

Tangan kiri Hanna mencengkeram sudut pada kitchen bar, sedangkan tangan kanannya meremas lengan Marcell.

Hanna meloloskan erangan serta desah yang menyerukan nama lelaki itu mana kala lidah Marcell menyesap dan memainkan puncak dada menggunakan lidahnya. Tangan kanan wanita itu berpindah meremas rambut Marcell seolah-olah meminta lebih pada si tuan.

Setelah puas menjarah payudara Hanna, kemudian lelaki itu menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap lekat kedua mata wanita itu. Marcell tengah mengamati tiap inchi wajah sayu kekasihnya yang mulai di penuhi peluh. Nafas yang mulai memburu serta tubuh polosnya adalah aset paling berharga yang di miliki Marcell.

“Do you miss me?”

Hanna tersenyum sembari menaikkan alisnya, kemudian menjawab; “I miss you, babe.”

Tanpa aba-aba tangan Marcell bergerak mengusap titik sensitif yang masih berlapis celana dalam seamless, jemarinya bergerak sensual hingga membuat Hanna mengerang dan memejamkan kelopak matanya.

Menit berikutnya Marcell menanggalkan kain penutup terakhir aset milik Hanna setelah puas memancing hasrat si puan. Lelaki itupun tak kalah cepat ketika melepaskan kaos hitam yang ia kenakan serta celana pendek berbahan kain yang masih menggantung di tubuhnya.

Hanna menelan ludahnya sendiri lantaran ia melihat kejantanan Marcell yang sudah sepenuhnya ereksi dengan sempurna. Wanita itu tengah membayangkan dirinya tidak lama lagi akan di gempur tanpa ampun oleh sang kekasih.

Rasa rindu yang di tahan hampir dua minggu ternyata sukses membuat Marcell menjadi lebih agresif.

Tangan kanan Marcell perlahan mengocok batang penisnya dengan tempo pelan sembari menatap dua bola mata Hanna. Kerlingan mata nakal Marcell seakan-akan kode bahwa Hanna cukup menyiapkan tubuhnya untuk di jamah lebih lagi oleh si tuan.

Hanna sempat membeku, ia berpikir bahwa dirinya akan habis di setubuhi di atas kitchen bar, pada saat Marcell berjalan pelan mendekatinya. Namun lelaki itu justru kembali melumat bibir Hanna dengan gerakan sedikit kasar, melumat bibirnya sembari mencengkeram helaian rambut yang belum sepenuhnya kering tetapi kembali di basahi oleh peluh. Jemari lelaki itu memutar klitoris dengan gerakan menekan hingga membuat tubuh Hanna menggelinjang.

Ingin rasanya Hanna berteriak namun bibirnya di bungkam oleh bibir sang kekasih, hingga dirinya hanya bisa melenguh tertahan sembari meremas bahu Marcell.

Tanpa aba-aba dua jari Marcell berhasil menembus liang surgawi milik Hanna yang sudah sangat basah; sebab Marcell sangat gencar memancing libido si puan, membuat wanita itu kepalang kuyup dengan segala sentuhan yang menjarah titik sensitifnya.

Marcell menggerakkan jarinya perlahan, sembari ibu jarinya memainkan klitoris dengan gerakan memutar dan menekan. Beberapa kali tubuh Hanna bergetar, bibirnya di penuhi desah dan racau.

Senyum seringai Marcell kembali terukir di wajah tampannya ketika menatap wajah sayu Hanna, dengan bibir yang menganga mengeluarkan lenguh dan desahan yang semakin lama terdengar resah.

Dinding vagina milik Hanna terasa hangat dan sangat basah, memijit jemari Marcell yang masih bergerak di bawah sana dengan tempo yang kian cepat. Sampai pada titik dimana wanita itu merasakan gelombang kenikmatan.

“Cell, aku mau keluar.”

“Hm? Mau keluar?”

Hanna mengangguk resah, ia berharap Marcell menuntaskan apa yang dia mulai. Namun lelaki itu dengan entengnya mengeluarkan jarinya dengan cepat.

Raut wajah Hanna sontak berubah menjadi merah padam lantaran sedikit lagi ia mencapai titik ternikmat yang di damba namun di hempas begitu saja oleh Marcell. Wanita itu kecewa dan hampir saja menangis, namun Marcell menyambar bibir ranum si puan, mengecupnya hingga beberapa detik.

“Sorry, baby.”

“Kalau kayak gini lebih enak, kan?”

Marcell menggesekkan batang penisnya pada klitoris Hanna dan melesakkan tanpa aba-aba. Hanna hanya bisa meloloskan desahan yang nyaring terdengar. Lelaki itu menggerakkan pinggulnya pelan, kemudian mengangkat tubuh Hanna. Tangan kekarnya menahan berat tubuh Hanna dengan melingkarkan tangan pada pinggulnya, sedangkan kedua tangan Hanna bertengger pada perpotongan leher Marcell sembari menatap mata lelaki itu.

Marcell berjalan pelan, menaiki tangga dengan posisi menggendong tubuh Hanna yang masih bertaut dengannya. Marcell benar-benar mengatur nafasnya sebab menaiki anak tangga dengan beban yang bertumpu pada tubuhnya itu tidak mudah.

“Sayang, jangan main-main lah.” Gerutu Marcell ketika dengan sengaja Hanna menggerakkan pinggulnya memutar.

Hanna hanya terkekeh sembari menatap wajah Marcell dan mengecup singkat bibir lelaki itu.

Sesampainya di kamar, Marcell merebahkan tubuh Hanna di tepi ranjang. Mengangkat kedua kaki wanita itu kemudian meletakkan di atas bahunya.

Tanpa menunggu lama, Marcell mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Menggempur milik Hanna tanpa ampun. Desahan yang lolos dari bibir Hanna semakin membuat lelaki itu semakin candu, Marcell seakan-akan menginginkan lebih, desahan yang lebih keras, segala racau yang menyebutkan namanya adalah bagian paling favorit bagi lelaki itu.

Hentakan demi hentakan tanpa jeda hingga menumbuk titik sensitif milik Hanna.

Kedua tangan Hanna meremas erat apapun yang bisa ia raih. Sprei, bahkan bantal ia raih hanya untuk melampiaskan rasa nikmat melalui cengkeraman tangannya.

Hingga sampai pada saat keduanya hendak mencapai puncak kenikmatan bersama, hentakan keras semakin tidak beraturan, nafas Marcell semakin memburu hingga peluh yang mengalir pada wajah dan tubuhnya membuat lelaki itu jauh lebih tampan.

Desahan Hanna pun semakin nyaring, semakin tidak bisa di tahan.

“Keluar dimana, sayang?”

“Dalem aja, aku minum pil kok.”

Marcell mengangguk dan menyetujui, kemudian lelaki itu menuntaskan puncak ternikmat yang mereka rindukan. Ia hentakan beberapa kali hingga tubuh Hanna menggelinjang hebat karena wanita itu mencapai klimaksnya lebih dahulu dan di susul oleh Marcell yang sengaja menyemburkan cairan sperma di dalam sana.

Sebelum tubuh Marcell ambruk di sebelah Hanna, lelaki itu menyempatkan untuk membawa tubuh mungil kekasihnya pada posisi yang nyaman. Meletakkan bantal di bawah kepala Hanna, memeluk erat tubuh yang masih di penuhi peluh serta mencium aroma tubuh Hanna adalah salah satu alasan Marcell selalu tidur dengan posisi di belakang Hanna.

“Cell..”

“Hmm?”

“Tau gak? Masa kemarin temen ku ngatain kamu berondong. Terus ngatain kamu tuh cuma manfaatin aku doang.”

Marcell terkekeh, lalu mengecup bahu Hanna yang tidak pernah lolos dari jarahan bibir Marcell.

“Kenapa ketawa sih?” Hanna sedikit kesal karena Marcell hanya terkikik geli tanpa menjawab sepatah katapun.

“Udahlah, gak perlu di tanggapin serius. Di tempat kerja tuh banyak orang julid, jadi bersikap bodoh amat itu lebih baik.”

“Aku tertarik sama kamu tuh bukan dari apapun yang kamu punya, tapi karena kamu tuh cewek sederhana dan nggak kekanak-kanakan.”

“This is simple, and i like.”

Hanna tersenyum lega, salah satu bukti bahwa ia tidak salah menjatuhkan hati pada Marcell.

“Baby, sejak kapan kamu minum pil?” Tanya Marcell sembari mengusap lengan wanitanya.

“Sebulan yang lalu.”

“Aku mulai minum sebulan sebelum berangkat ke Singapura. Sebelum aku berangkat, kamu bukannya lupa gak beli kondom tapi emang sengaja mau di keluarin tanpa pengaman, kan?”

Hanna secara refleks menepuk tangan Marcell yang melingkar pada perutnya.

Mendengar Hanna tengah mengomel, lelaki itu justru meloloskan tawa ringan yang di susul rengkuh lebih erat pada tubuh Hanna.

Dua anak manusia ini pada akhirnya merealisasikan untuk menghabiskan sisa hari petang dengan saling memeluk, menyalurkan kehangatan serta kenyamanan.

Pukul satu dini hari Jenaya masih berkutat dengan laptop di hadapannya, di ruang kamar yang minim cahaya serta hawa dingin dari pendingin ruangan yang menyeruak menembus hingga ke tulang. Hampir satu minggu lamanya, Jena tinggal di rumah Jeffrian. Pada saat itu si tuan rumah sedang berada di luar kota sebab pekerjaan yang menuntutnya untuk meninggalkan Jena serta semua kesibukan di kantor. Jarak rumah Jeffrian tidak terlalu jauh dari kantor sehingga memudahkan Jena untuk melakukan segala aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan.

Satu jam yang lalu dua sejoli yang tengah merindu itu menyempatkan untuk berbicara melalui sambungan telepon, Jeff mengabarkan bahwa ia pulang esok hari karena masih ada satu hal lain yang belum di selesaikan. Jena hanya meng-iya-kan apapun yang di sampaikan oleh Jeff atas dasar saling percaya. Namun sebenarnya Jeff berbohong, pada saat itu Jeff sedang berada di balik kemudi mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah meskipun perjalanan tengah malam di tempuh tiga jam lamanya.

Jena melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, sudah berjam-jam dirinya duduk hingga ia merasa pegal di bagian punggung serta pinggangnya. Esok hari masih ada pekerjaan yang menanti sehingga dirinya bergegas untuk pergi tidur. Ranjang besar dengan balutan sprei berwarna putih gading bermotif garis horizontal mengingatkan Jena akan kegiatan intim dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu sebelum sang kekasih berada di luar kota.

Bayang-bayang dua raga yang tengah beradu birahi malam itu masih lekat di angan Jena, dimana Jeff benar-benar menghabiskan seluruh tenaganya untuk menyetubuhi dirinya dari tengah malam hingga pagi menjelang. Hendak memejamkan mata dan beristirahat barang sejenak pun sampai tidak bisa, karena Jeff enggan melewatkan waktunya untuk tidak menikmati tubuh Jena.

Masih lekat pada ingatan Jena, lima hari yang lalu dirinya di buat lemas tak berdaya hingga terpaksa meninggalkan pekerjaan satu hari penuh. Jeff berhasil membuat Jena sampai tidak bisa berjalan normal seperti biasa, malam itu Jeff menggempur Jena tanpa ampun hingga wanita itu mencapai empat kali orgasme.

Tenaga Jeff tidak main-main, bahkan pagi hari ia harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam lamanya menuju Bandung —pun ia lakoni tanpa beban, tanpa lelah dan kantuk.

Jena tersenyum kala mengingat banyak momen yang sudah ia lakoni bersama Jeff, ia kemudian beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Jena membasuh muka dan mengamati tubuhnya yang pucat. Terlihat samar ruam keunguan menghias permukaan kulit di dadanya sudah hampir hilang. Jena tersenyum tipis, ia memikirkan semua hal tentang Jeff yang sukses membuat dirinya seperti satu-satunya wanita di dunia yang paling beruntung.

Terlalu banyak kata jika di rangkai dalam bentuk kalimat untuk mengungkapkan betapa besar rasa cinta Jenaya kepada Jeffrian, rasa sayang dan rasa saking memiliki satu sama lain —pun juga sebaliknya. Terlalu banyak waktu untuk di lalui berdua, hingga hari-harinya di penuhi banyak hal manis yang senantiasa urung untuk di lupakan.

Jena merebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar, memposisikan tubuhnya menyamping dan meletakkan satu guling di sebelahnya. Jena menepuk-nepuk guling itu kemudian tersenyum dan mulai memejamkan matanya. Sekilas ia membayangkan Jeff ada di sebelahnya saat itu dan hal yang ingin Jena lakukan adalah memeluk kekasihnya erat-erat hingga pagi tiba, jena tidak akan menjauhkan tubuhnya dari Jeff barang satu inchi-pun. Wanita itu ingin menikmati hangat tubuh Jeff di dalam rengkuh senyaman pelukan, selembut usapan, hingga membuat dirinya melupakan sejenak pekerjaan yang sudah menguras waktu dan tenaganya.

Beberapa menit setelah Jena memejamkan mata, tidak perlu lama untuk memasuki alam mimpi. Tubuh serta pikiran yang lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang Jena rasakan membuat dirinya lebih mudah tidur meskipun sudah lewat tengah malam.


Sekitar pukul tiga pagi, Jeff tiba di rumah. Suara mobil yang memasuki garasi serta derap langkah Jeff ketika memasuki rumah menuju ruang pribadinya sama sekali tidak membuat Jena terusik. Wanita yang mengenakan dress piyama satin berwarna hitam itu masih terbujur di atas ranjang tanpa bergerak sedikitpun meski suara decitan pintu kamarnya terdengar jelas bergesekan.

Jeff menatap lamat-lamat sosok sang kekasih di tengah ruang minim pencahayaan. Mengamati tiap lekuk tubuh Jena, tergambar jelas ketika baju tidur yang di kenakan wanita itu terangkat hingga atas paha.

Rasa rindu juga nafsu Jeff yang tertahan beberapa hari membuat hasrat untuk menyetubuhi Jena semakin membara. Kejantanannya bergejolak di balik celana jeans panjang yang melekat pada kakinya dan mulai membuat tidak nyaman.

Jeff melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan, mulai dari hoodie dan celana jeans hingga menyisakan kaos hitam dan boxer dengan warna senada.

Jeff berjalan perlahan mendekati Jena yang masih tertidur pulas, si puan tidak menyadari bahwa lelaki yang ia rindukan beberapa hari itu sudah tiba di rumah. Kini Jeff sudah berada di ruang kamar dan berada tepat di sebelah Jena. Jeff mengusap lengan wanitanya, usapan lembut itu kelamaan menjadi usapan yang seduktif.

Deru nafas Jeff yang hangat menyapa kulit Jena, sembari ia bubuhkan kecupan-kecupan basah pada leher, bahu, lengan dan berhasil membuat wanita itu terbangun dari mimpinya. Jena mengerjapkan kedua matanya dan mengusapnya menggunakan punggung tangan beberapa kali hingga ia sadar bahwa di sebelahnya ada sosok lelaki yang ia rindukan.

“Jeff? Kamu udah pulang?” Tanya Jena sembari mengusap pipi kekasihnya. Memastikan bahwa yang berada di hadapannya adalah sebenar-benarnya Jeff dan ia tidak sedang bermimpi. Lelaki itu tersenyum simpul, terlihat jelas lesung pipi menambah kesan manis pada Jeff.

“Yes. I'm at home. Do you miss me, love?”

Bukan Jeff namanya jika saat itu juga si tuan berhasil membuat wanitanya melambung, meski belum sepenuhnya bangkit dari tidur. Jena merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, kemudian jemarinya ia gunakan untuk menyisir rambut Jeff yang sedikit berantakan.

“I miss you. Aku kangen, kangen banget.” Balas Jena sembari tersenyum tipis dan di balas senyuman yang tak kalah mematikan oleh Jeff. Lantas lelaki itu mendaratkan ciuman mesra pada bibir Jena dan segera di balas oleh wanita itu. Jena membiarkan Jeff menikmati rasa manis di setiap sela bibir ranum wanitanya, membiarkan lidah dan bibir Jeff bergerak agresif.

Jena menikmati cumbuan sarat akan gejolak nafsu yang di ciptakan Jeff, membiarkan lelaki itu menyesap dan melumat bibirnya, bertukar saliva hingga mengeksplorasi seluruh rongga mulut Jena yang haus akan kecupan serta lumatan agresif yang sering di lakukan Jeffrian.

Tubuh Jena yang sensitif terhadap sentuhan pun di buatnya merinding ketika Jeff meraba dua buah dada sintal miliknya dari balik dress piyama miliknya. Jena meremat kaos yang masih melekat di tubuh Jeff ketika jemari lelaki itu meremas pelan payudaranya. Tanpa Jena sadari, lenguh serta desah kecil pun lolos dari bibirnya.

Jeff memainkan puncak payudara Jena dengan sentuhan lembut, memutar puting kemerahan yang sudah menegang. Bibirnya masih beradu dan berbelit semakin agresif, membuat wanita itu berkali-kali melenguh tertahan.

Dua anak manusia itu sama-sama merangkum banyak hasrat dan gejolak birahi yang tertahan selama mereka terpisah lima hari lamanya. Rasa rindu yang menggebu serta cumbu mesra yang terburu membawa keduanya untuk saling melucuti kain yang masih melekat di tubuh satu sama lain.

Bibir berpagut semakin dalam dan mesra, membuat Jena semakin larut dalam permainan kekasihnya. Dua tangan Jeff awalnya menjadi tumpuan untuk menahan berat tubuhnya, kini perlahan ia gunakan untuk bergerilya dan menjamah seluruh tubuh wanitanya.

Payudara milik Jena menjadi bagian favorit lelaki itu mana kala puncaknya sudah mencuat tegang. Jeff meraup dan melumat puncak payudara Jena sangat rakus. Menyesap dua payudara Jena secara bergantian, memainkan puncaknya menggunakan lidah Jeff hingga membuat wanita itu melenguh dan mendesah karena nikmat.

“Ouh.. Jeff..” “Nghh...”

Dua tangan Jena melampiaskan rasa nikmat dengan meremas surai milik Jeff, dan mendorong kepala lelaki itu agar tetap tinggal dan terus memainkan kedua payudara menggunakan bibirnya. Jena seakan-akan meminta perlakuan lebih agar di manja dan di puaskan oleh Jeff yang berhasil membuat libidonya naik dengan cepat.

Setelah lelaki itu puas dengan dua payudara Jena hingga meninggalkan ruam keunguan tanda kepemilikan yang ia bubuhkan di atas kulit pucat si puan, bibir Jeff bergerak turun. Sembari mendaratkan kecupan-kecupan basah yang membuat Jena tidak kuasa menahan geli hingga tubuhnya bergerak resah. Tangan wanita itu meremat sprei yang mulai berantakan dan bibirnya tak luput dari desah.

Jeff mensejajarkan dirinya dengan pusat tubuh Jena yang sudah sangat basah akibat rangsangan bertubi-tubi yang di berikan oleh lelaki itu. Tangan Jeff membuka lebar kedua paha Jena agar dirinya dapat dengan mudah menjamah dan mengakses liang surgawi milik kekasihnya.

“Babe, your pussy looks so wet. What if i abuse your pussy to make you cum? With my finger? Or my tongue?”

Lidah Jena terasa kelu sampai-sampai dirinya tak kuasa membalas ucapan Jeff yang menurutnya sedikit terdengar kotor. Jena hanya dapat menatap lamat-lamat wajah Jeff yang di banjiri peluh berbias kilau lampu balkon yang cahayanya menembus lewat celah tirai.

“Jenaya.. I want to hear your answer?“

Jeff menginginkan jawaban dari Jena meskipun tanpa bertanya sedetail mungkin, Jeff secara suka rela mampu membuat wanita itu mendapatkan orgasme yang ia dambakan.

“Yes, please. Make me cum with your tongue and finger, i miss it so much.” Jawab Jena lirih, nafasnya masih terengah-engah. Kedua tangannya mencari posisi senyaman mungkin untuk meremas dan melampiaskan segala rasa nikmat yang sebentar lagi ia tempuh.

“Yes, babe. As your wish.” Balas Jeff dengan senyum seringai khas yang tersungging pada bibirnya.

Lantas Jeff mendaratkan lidahnya yang hangat pada bibir vagina milik Jena, menjilati dan menyesap liang surgawi yang sudah basah. Jena melengkungkan tubuhnya kala lidah Jeff bergerak agresif, menjamah liang basah dan lembab itu serta menggigit kecil klitorisnya.

Jena meracau dan berkali-kali mendesahkan nama kekasihnya dengan suara yang parau. Tangannya meremas sprei, bantal dan apapun yang dapat ia raih untuk melampiaskan gejolak birahi yang semakin memanas. Sedangkan tangan Jeff menahan kedua kaki Jena yang terus bergerak resah karena lidah lelaki itu menggelitik tanpa henti, membawa dirinya merasa di terbangkan ke awan.

Bunyi decap antara liang vagina milik Jena yang sangat basah juga lidah Jeff yang terus bergerak agresif terdengar sangat jelas. Beriringan dengan lenguh serta desah yang semakin melengking nyaring.

“Babe, I know that your pussy crave my dick. Really very wet and beautiful.” Ucap Jeff dengan tatapan nakal, ketika menyudahi sesi mengobrak-abrik liang becek menggunakan lidahnya.

Jena hanya bisa memejamkan kelopak mata sembari menggigit bibir bawahnya ketika tanpa aba-aba Jeff melesakkan dua jarinya ke dalam liang vagina milik wanita itu.

“Ouh.. Jeff..”

Jeff menggerakkan jarinya pelan, memberikan gerakan keluar masuk dengan tempo teratur. Merenggangkan dinding vagina milik Jena yang genap lima hari tidak ia jamah sama sekali. Liang surgawi wanita itu terasa hangat dan sangat sempit, menghimpit dua jari Jeff yang mulai bergerak liar.

Jeff menggunakan tangan satunya untuk menahan kaki wanitanya yang terus bergerak semakin resah kala Jeff mendaratkan kembali lidahnya pada klitoris milik Jena yang sudah membengkak. Lidah dan bibir, serta jari lelaki itu bergerak sesuai tugas masing-masing. Merangsang organ intim Jena untuk segera melepaskan cairan pelepasan yang sangat di damba.

“Aahh.. Jeff..” “Ouh.. Faster please.. Jeff..”

Jena merintih meminta lebih. Memohon agar Jeff segera menuntaskan permainannya guna merangsang pelepasannya lebih cepat, —pun segera di kabulkan oleh Jeff.

Dua jari Jeff bergerak semakin brutal, ibu jarinya ia gunakan untuk memainkan klitoris dengan gerakan memutar secara kasar. Sedangkan Jeff sibuk memandangi wajah sang puan yang sangat berantakan, helaian surai panjangnya pun sebagian menutupi wajah cantik kekasihnya. Serta tubuh yang di banjiri peluh, menjadikan pemandangan candu baginya.

“Jeff! Aku mau keluar.” Ucap Jena di tengah deru nafas yang terburu, serta racau desah yang semakin nyaring terdengar.

“Come on, Babe. Get your cum out.”

Jeff memberikan rangsangan lebih agresif. Menggerakkan jarinya lebih cepat hingga Jena melengkungkan tubuhnya, membusungkan dada, serta meremas sprei kuat-kuat kala denyar panas merambat ke seluruh tubuh akibat pelepasan pertamanya. Kedua kaki Jena bergerak asal ketika ia mencapai orgasme, namun dengan cepat Jeff menahan kedua kakinya agar wanita itu menuntaskan pelepasan yang sangat di damba.

Jeff tersenyum puas, lalu ia mengeluarkannya dua jarinya yang basah akibat cairan pelepasan yang membanjiri liang vagina sang puan. Lelaki itu kemudian menjilati sisa cairan yang masih menempel pada jarinya, dan membersihkan liang vagina milik Jena menggunakan lidahnya. Menyesap dan menjilati sisa cairan itu hingga bersih.

“Mmm... The cum that comes out is sweet and i like it.” Ujarnya sembari tersenyum menggoda.

Di tengah-tengah nafas yang tidak beraturan, Jena hanya menatap pujaan hatinya sekilas. Di balik senyum dan seringai Jeff, sudah jelas bahwa lelaki itu menyimpan seribu cara untuk menggempur habis-habisan wanita itu dan Jena hanya bisa pasrah.

Jeff lantas mengecup singkat kening dan bibir Jena.

“I love you.” Ucap Jeff.

“I love you more.” Balas Jena dengan tatapan mata yang sayu.

Lantas Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, mensejajarkan kejantanannya yang sudah keras dan tegang tepat di depan kepemilikan Jena. Wanita itu menelan ludah gusar ketika melihat kejantanan milik Jeff yang besar dan kokoh. Meskipun terlihat samar karena ruangan yang minim pencahayaan, namun masih jelas terlintas pada ingatan Jena mana kala kekasihnya itu menyetubuhi dirinya tanpa ampun.

Ingatan persetubuhan dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu membuat seluruh tubuh Jena merinding.

Jeff mengurut batang penisnya pelan, lalu menggeseknya pada permukaan bibir vagina Jena yang basah hingga menyentuh klitorisnya. Jena mendesah pelan dan meremas bantal sebagai media untuk menyalurkan rasa ngilu pada saat Jeff melesakkan batang penisnya perlahan.

“Ahh... Fuck! So tight and warm, babe.“

Setelah masuk dengan sempurna, Jeff membiarkan batang penisnya tertanam pada liang vagina milik Jena untuk beberapa saat. Membiarkan otot-otot vagina si puan merenggang ketika menerima sepenuhnya kejantanan Jeff. Pun Jena melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Jeff agar dirinya lebih nyaman ketika lelaki itu melakukan penetrasi.

“Jen, aku gerakin ya?”

Pinta Jeff sesaat setelah kejantanannya merasakan dinding vagina milik wanitanya sudah berkedut seakan meminta untuk segera di manjakan oleh penis Jeff yang besar.

Jena hanya menjawab dengan anggukan saja sebelum akhirnya memejamkan kelopak matanya sembari mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Jeff.

“Aahh.. Jeff...”

Lenguh dan desah manja akhirnya lolos dari bibir si puan mana kala Jeff mulai menggerakkan pinggulnya pelan dan masih dengan tempo yang teratur.

Bibir Jeff mendaratkan kecup dan cium di bibir Jena sebelum wanita itu membalas ciuman basah yang kelamaan menjadi lumatan-lumatan candu yang semakin dalam dan menuntut.

Lidah keduanya saling berbelit, bertukar saliva satu sama lain hingga Jena mendesah tertahan ketika tempo gerakan pinggul Jeff semakin keras dan cepat menghujam miliknya.

Tangan Jeff pun tak tinggal diam, satu tangannya bertumpu untuk menopang berat tubuhnya ketika lelaki itu melepaskan pagutan bibir keduanya. Tangan satunya ia gunakan untuk memijat, meremas, dan memilin puting kemerahan yang sudah menegang. Bibir Jeff memainkan, melumat, payudara satunya dengan rakus.

Jena seakan-akan di bawa terbang ke langit ke tujuh karena perlakuan Jeff ketika sedang menyetubuhinya. Lelaki itu tau betul dimana bagian-bagian sensitif pada tubuh Jena, memberikan rangsangan untuk membuat si puan mendapatkan pelepasan yang sangat di damba.

Jeff bukanlah lelaki egois yang hanya semaunya sendiri perihal nafsu birahi. Jeff lebih mendahulukan keinginan Jena apapun perkaranya, bahkan urusan ranjang sekalipun. Jena harus lebih dulu puas, Jena harus lebih dulu mencapai puncak kenikmatan surga dunia sebelum dirinya. Jena yang utama, Jena adalah adalah bagian dari prioritas utamanya ketika sedang bercinta.

“Ahh.. Jeff..” “Harder, please..”

Jena merintih meminta lebih, ketika denyar panas sudah menjalar keseluruh tubuh. Gelombang pelepasan hampir ia dapatkan ketika Jeff menumbuk tanpa henti dan semakin keras. Sepersekian detik Jeff mengabulkan permintaan Jena, lelaki itu membuat ancang-ancang dengan menarik batang penisnya hingga ujung dan hampir keluar dari liang vagina Jena kemudian melesakkan kembali dengan keras dan dalam.

“Ahh.. Jeffrian..” “Ouh...”

Jena merintih dan mendesah hebat ketika kejantanan lelaki itu berhasil menumbuk miliknya. Jeff meluruskan kedua kaki Jena meletakkan pada kedua bahunya, kedua tangannya ia gunakan untuk mencengkeram paha si puan dan mengulangi gerakan menghujam, menghantam liang kenikmatan Jena hingga tubuh wanita itu bergetar hebat.

“Ahh.. Jeff..” “Please...”

Jena memohon dan lelaki itu sudah paham jika Jena sebentar lagi hendak menjemput pelepasannya yang ke dua.

“You wanna cum, huh?”

Jena hanya mengangguk dan pasrah.

“You like it?”

Masih di jawab anggukan oleh Jena dan Jeff terus bergerak brutal, semakin tidak beraturan. Jeff berkali menghentakkan batang penisnya hingga menumbuk tanpa ampun pada milik Jena yang sudah sangat basah, suara tabrakan organ intim dua sejoli itu semakin keras terdengar menggelitik gendang telinga.

“Jen, sorry apa kamu bisa menunggu sebentar lagi? And we will do it together?” Pinta Jeff dengan suara serak dan tubuh yang bermandikan peluh. Nafasnya pun tak kalah tersengal, sama-sama mengejar puncak nikmat yang sebentar lagi di dapat.

“No. Please.. Aku udah nggak kuat, Jeff. Aku nggak tahan mau keluar.” Balas Jena dengan suara lirih di iringi desah nikmat serta pasrah.

“Oke, babe. Get as much out. Hmm.. I love you Jenaya.”

Detik berikutnya Jeff memberi ancang-ancang sebelum menumbuk dengan gerakan keras dan dalam, mendorong penuh miliknya hingga titik ternikmat milik Jena berhasil ia porak porandakan. Bersamaan dengan lengkingan suara parau si puan yang mencapai pelepasannya dengan tubuh yang bergetar hebat.

“Jeff.. Ahh... Jeffrian...” “Ouh...”

Desah di iringi racau berkali-kali Jena serukan di tengah deru nafas yang terburu. Kelopak matanya mengatup, tangannya meremas lengan Jeff hingga berbekas kemerahan.

Jeff kemudian memeluk tubuh Jena, mengusap peluh yang membasahi wajahnya, merapikan surai hitam yang sebagian menutupi wajah cantik wanitanya sembari menggerakkan pinggulnya pelan.

“It's oke, it's oke. Udah enak kan? Udah lega?” Ucap Jeff sembari memberikan kecupan-kecupan hangat pada kening, kedua mata yang masih terpejam, juga pada bibir Jena yang masih meloloskan desah lirih guna menyalurkan rasa hangat untuk sekedar menenangkan si puan.

“Jen, aku cepetin boleh? Aku juga mau keluar, sayang.” Pinta Jeff lembut sembari mengecup bibir Jena.

Wanita itu mengangguk, menyetujui Jeff untuk segera menuntaskan pelepasannya. Meskipun tubuh Jena lelah dan tidak berdaya namun wanita itu sudah terlanjur takluk, patuh dengan apapun yang Jeff minta.

Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, menggerakkan pinggulnya kembali dengan tempo cepat. Jemari Jeff tidak tahan diam, dengan kasar memutar dan memainkan klitoris Jena membuat wanita itu melenguh kesal.

“Ngghh... Jeffffff!”

Lelaki itu hanya mengeluarkan senyum seringai dan terus menggempur milik Jena sambil memainkan klitoris wanitanya.

“Ahh.. Jeff...”

“Come on, babe. We can cum together.”

Jena sudah benar-benar pasrah ketika Jeff menggempurnya habis-habisan. Wanita itu sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa, suara serak dan parau pun terdengar sangat lirih, bahkan lebih keras dari suara penyatuan organ intim keduanya ketika bertumbuk dan geraman yang lolos dari bibir Jeff.

“Jeff.. Ahh.. A-aku..”

“Ayo sayang, keluarin lagi. Aku bentar lagi keluar.”

Jena hanya mengeratkan cengkeraman pada sprei yang sudah tidak beraturan, kedua matanya terpejam dan tubuhnya lemas terkoyak mengikuti pergerakan tubuh Jeff yang masih bergerak agresif menghujam miliknya.

Hentakan demi hentakan kian rancu, keras dan kasar. Usapan jari-jari Jeff pada klitoris milik sang kekasih kian memutar cepat. Menghantarkan denyar panas dalam tubuh, dan mempercepat aliran darah dari ujung kaki hingga ujung kepala. Detik berikutnya Jeff menjemput pelepasannya dan di susul Jena yang berhasil mencapai orgasme untuk ketiga kalinya. Cairan sperma milik Jeff menyembur kuat, terasa hangat memenuhi liang sempit milik Jena.

“Ouh Jeff..”

“Hmm.. Oh Fuck! Oh yes!“ “Ahh.. Jena, i love you, Jen, i love you so much.“

Jeff memeluk kembali tubuh Jena yang terkulai lemah. Mengecup tiap inchi wajah kekasihnya yang bermandikan peluh. Lelaki itu kemudian mengeluarkan batang penisnya perlahan dan duduk di tepi ranjang. Ia raih beberapa lembar tisu guna membersihkan kejantanannya yang berlumur cairan pelepasan dan juga milik Jena hingga benar-benar bersih.

“Sayang, aku lupa nggak pakai kondom.” Ucap Jeff terkekeh sembari merebahkan tubuhnya di sebelah Jena. Kemudian menarik selimut guna menutupi tubuh keduanya yang masih polos.

“Kamu kebiasaan.” Balas Jena. Wanita itu merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, ia lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang lelaki itu. Jeff serta merta memeluk dan merengkuh tubuh mungil Jena, mendaratkan kecupan-kecupan singkat pada pucuk kepala sang kekasih.

“Jeff, kakiku lemes banget.” Ucap Jena berbisik lirih sembari memejamkan matanya.

“Nanti nggak usah ke kantor. Lagian ini juga udah hampir jam enam pagi.” “Buat istirahat aja ya, tidur sama aku sampai siang.”

Jena pun mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Jeff di balik selimut hangat dan tebal. Di sambut oleh sinar mentari yang mulai menampakan diri serta ruangan yang awalnya sarat akan hawa panas, kini bergulir menjadi dingin dan sejuk. Membawa rasa nyaman dan damai pada dua sejoli itu hingga sama-sama menjemput mimpi indah. Meninggalkan sejenak rutinitas di pagi hari, melupakan sejenak aktivitas kantor yang melelahkan dan menguras waktu serta tenaga.

Adisty membenahi diri sesaat setelah membalas pesan dari Tomy. Merapikan rambut yang terlihat berantakan, mengusap air mata yang membasahi pipinya. Pergelangan tangan kirinya terasa sangat perih ketika beberapa kali Adisty mencoba menyayatnya menggunakan pisau kecil.

Beberapa kali ia menyayat pergelangan tangannya namun hingga Tomy tiba di kamar, ia masih baik-baik saja. Padahal Adisty berharap ia mati secepatnya. Pikiran Adisty sudah buntu, bisikan-bisikan setan membujuknya untuk segera mengakhiri hidup. Namun malam itu Tuhan masih menginginkan Adisty untuk tetap hidup.

Adisty merasa gagal menjadi seorang wanita, sebagai seorang kekasih meskipun berawal bukan dari kesalahannya. Hidupnya kini di ambang kehancuran, ketika ia membatalkan rencana pertunangannya secara sepihak. Bagaimana tidak, dua keluarga yang awalnya baik-baik saja dan sama-sama mensupport hubungan keduanya hingga mendukung untuk segera bertunangan, kini sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Tomy bergegas masuk setelah mengetahui passcode yang baru saja ia dapatkan dari pesan singkat. Satu kantong plastik putih berisi nasi kulit kesukaan sang pemilik unit siap di santap guna memenuhi perut kosong mereka.

“Dis.. Dimana lo?”

Lelaki itu memanggil si tuan rumah yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Ruang tamu, ruang tengah bahkan ruang makan tampak kosong dan sepi. Lantas Tomy bergegas menuju ruang paling akhir yang belum ia jamah sama sekali.

Decitan pintu kamar Adisty terdengar jelas ketika Tomy membukanya perlahan. Ekor matanya menangkap sahabatnya tengah meringis sembari memegangi pergelangan tangannya yang mengeluarkan darah, kemudian wanita itu berlari kecil ke arah kamar mandi.

“Dis.. Adisty!” Pekik Tomy sesaat setelah menyadari sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.

Tomy berlari mengikuti kemana arah Adisty pergi, langkah kakinya bergegas mengejar sang puan dan berhasil merangkul tubuhnya.

“Lo kenapa?? Anjing! Kenapa berdarah-darah gini, bego!”

Makian tak henti-hentinya lolos dari bibir Tomy yang kala itu panik bukan main. Darah terus mengalir lewat pergelangan tangan Adisty dan empu-nya menangis sembari memegang erat bahu lelaki yang tengah mendekapnya. Alih-alih ingin menyembunyikan dari Tomy tetapi mungkin Tuhan sudah merencanakan hal lain.

Tomy berusaha setenang mungkin meskipun dalam hatinya sudah tidak bisa di gambarkan lagi bak benang kusut. Sedangkan Adisty tengah merutuki dirinya sendiri yang tidak lihai dalam menyembunyikan sesuatu termasuk rencana bodohnya.

“Dis, sinting lo ya?! Kalau ada apa-apa cerita, bego. Bukannya kayak gini, emang kalau lo mati masalah selesai?!”

Adisty masih dalam isak tangis yang tak kunjung berhenti, dadanya sesak, rasa sakit hati yang ia rasakan sudah sampai pada puncaknya.

Tomy dengan telaten membersihkan tangan Adisty dari sisa darah yang berhenti mengalir, luka sobek di pergelangan tangan tidak terlalu dalam sehingga nyawa wanita itu masih bisa di selamatkan. Tomy membawa tubuh Adisty ke dalam kamar, mendudukkan di tepi ranjang besar lalu ia mengambil kotak P3K yang berada di ruang tengah.

Bibir Adisty masih saja membisu, hanya isak tangis yang belum juga sirna. Wanita itu memandangi sahabatnya tengah membubuhkan obat merah dan melingkarkan perban guna menutup luka. Setelah selesai, Tomy berjalan keluar kamar guna mengambil kantong plastik yang berisi nasi kulit kesukaan Adisty.

“Kalau gue gak bawa nasi kulit, mungkin lo udah mati, Dis.” “Lemah banget sama nasi kulit.”

Adisty tersenyum kecut, sorot matanya sedikit berbinar ketika melihat nasi kulit favoritnya. Terlebih dirinya sudah berhari-hari tidak makan nasi, perutnya hanya di isi oleh makanan instan.

“Gue bisa makan sendiri, Tom.” Ucap Adisty lirih, tangannya meraih satu box nasi kulit yang berada di sampingnya namun Tomy lebih cepat menahan gerak Adisty.

“Diem lo. Gue suapin aja, lo nyender dah biar enak duduknya.”

Adisty menuruti permintaan Tomy, ia menyandarkan tubuhnya pada headboard kemudian meletakkan satu bantal di atas pahanya. Suapan demi suapan dengan sangat telaten Tomy menyuapi sahabatnya, mengesampingkan dirinya sendiri tanpa peduli perutnya sudah meronta minta di isi.

“Perut lo bunyi tuh, sini gue makan sendiri aja.” Tutur Adisty ketika mendengar suara perut Tomy mulai keroncongan.

“Lo kelar makan, baru gue.” Balas Tomy singkat. Kemudian lelaki itu merampungkan tiga suapan terakhir untuk Adisty, sebelum ia sendiri menyantap nasi kulit yang masih tersisa satu porsi.

Adisty masih duduk di posisinya, mengamati sahabatnya tengah menikmati seporsi nasi kulit yang memang menjadi makanan favorit keduanya. Menyendok dan melahap potongan-potongan kulit krispi dengan saus asam manis yang sangat menggugah selera.

“Lo sebenernya ada masalah apa? Gak mungkin kalau cuma masalah coffee shop sepi. Pasti ada masalah lain kan?” Cecar Tomy di sela-sela aktivitas makannya.

Adisty masih terdiam, ia sedang memutar otak dari mana harus memulai menceritakan hal yang selama beberapa minggu terakhir ia sembunyikan rapat-rapat.

Ruang kamar Adisty menjadi hening, dua insan yang berada di dalamnya sama-sama terdiam tanpa suara. Hanya decapan lirih dari bibir Tomy yang masih sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya.

“Cowok gue selingkuh.”

Tomy berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan mengunyah makanan di mulutnya.

“Gue batalin rencana pertunangan.”

“Dua hari lagi lo tunangan kan? Emang gak bisa di selesaikan secara baik-baik?” Tanya tomy. Lelaki itu masih sibuk dengan makanan di tangannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Adisty.

“Enggak.” Jawab Adisty singkat. Wanita itu membawa laptop yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur, kemudian menyodorkan benda itu ke hadapan sahabatnya. Jarinya dengan terampil memutar ulang sebuah video dari dalam laptopnya.

“Anjing! Gue lagi makan, Dis. Lo ngapain nyuruh gue liat bokep?”

“Itu cowok gue, sama mantan pacarnya.” Balas Adisty singkat, wanita itu kembali menyandarkan tubuhnya pada headboard dan mengehela nafas kasar.

“Bajingan. Maksud cowok lo apa dah?!” Ucap Tomy mulai tersulut emosi ketika melihat adegan ranjang calon tunangan Adisty dengan mantan kekasihnya.

Tomy meletakkan box yang masih tersisa nasi kulit, di atas nakas. Sorot matanya fokus pada laptop yang memutar video melalui rekaman CCTV.

Dua bulan yang lalu ketika Adisty dan sang kekasih tengah makan malam di sebuah resto favoritnya, mereka bertemu dengan wanita yang di ketahui adalah mantan pacar Dito. Ya, sebut saja Dito adalah calon tunangan Adisty. Percakapan dua anak manusia secara tidak sengaja seakan mengembalikan kenangan lama dan rasa yang belum usai diantara Dito dan mantan pacarannya.

Setelah pertemuan itu, Dito di rasa berbeda, berubah menjadi lelaki yang hobi ingkar janji. Padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali, Adisty adalah prioritas bagi sang pujaan hati.

Kecurigaan Adisty memuncak ketika suatu hari mereka hendak fitting kebaya dan setelan jas untuk acara pertunangan yang akan di gelar dalam waktu dekat. Dito bukannya ikut bersama Adisty tetapi alasan yang tidak masuk akal pun menjadi tameng untuk menutupi segala kebohongan yang pada akhirnya terbongkar.

Adisty bukanlah wanita yang hanya tinggal diam, dan siap di komando oleh sang kekasih. Adisty termasuk dalam katagori wanita nekat dan bernyali besar. Sekitar satu bulan yang lalu Adisty berkunjung ke Bandung, jarak yang di tempuh dua setengah jam dari Tangerang adalah waktu yang bukan apa-apa bagi Adisty untuk melancarkan aksinya. Pikiran kotor serta berbagai macam kecurigaan yang berhari-hari ia pendam sendiri, pada akhirnya membuat dirinya ingin tau apa yang sebenarnya di lakukan Dito di belakangnya.

Adisty mempunyai kunci cadangan untuk mengakses rumah Dito tanpa sepengetahuan sang kekasih. Pagi sekitar pukul 9 Adisty tiba di rumah Dito, tentu saja sang tuan rumah sudah berangkat ke kantor sejak pukul setengah tujuh pagi. Wanita itu bergegas ke kamar milik Dito yang berada di lantai dua. Tanpa meninggalkan jejak, Adisty memasang kamera CCTV yang dapat di pantau jarak jauh melalui smartphone-nya. CCTV yang terpasang di tengah-tengah dua sisi bingkai foto di atas nakas sebelah tempat tidur Dito dapat terlihat jelas segala aktivitas di dalam kamarnya.

Sesungguhnya Adisty berharap Dito baik-baik saja selama keduanya masih berhubungan dengan baik, —pun tidak ada perselisihan yang berarti selama beberapa minggu terakhir. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain hingga memutuskan untuk merencanakan pertunangan, bahkan ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu pernikahan. Wanita itu berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah dirinya memberanikan diri memasang CCTV di dalam kamar sang kekasih. Tetapi di sisi lain, apapun yang akan terjadi nantinya Adisty harus siap batin dan mental.

Satu minggu pertama masih aman, semua berjalan semestinya. Dito hanya terlihat beraktivitas seperti biasanya, bangun tidur, mandi, berangkat ke kantor, pulang, mandi, tidur lagi. Minggu ke dua sama sekali tidak ada yang mencurigakan, aktivitas yang di lakukan masih sama seperti hari-hari sebelumnya dan cukup melegakan batin Adisty kala itu. Namun di minggu ke tiga hal yang tak terduga muncul ke permukaan. Tentu saja tak lain adalah kedatangan mantan kekasih Dito yang pernah mereka temui di restoran sushi tempo hari.

Bukan hal yang biasa jika seorang lelaki mengajak seorang wanita untuk singgah di rumahnya bahkan hingga di bawa ke kamar pribadinya. Dito terlampau berani mengajak sang mantan kekasih untuk tinggal beberapa hari di rumahnya, rumah yang di gadang-gadang akan di tempati Dito dan Adisty setelah menikah. Dari awal Dito tidak main-main dengan Adisty, rumah hasil kerja keras lelaki itu baru saja di beli satu tahun yang lalu guna menunjukkan keseriusannya pada Adisty. Namun apalah arti harta dan tahta, pada akhirnya kepercayaan akan hancur oleh orang ketiga.

Adisty hancur, batin wanita itu bak di hujani tombak dari langit. Lelaki yang ia percayai melebihi apapun ternyata dengan mudahnya tergoda oleh mantan kekasih lewat pertemuan singkat yang tidak di sengaja.

“Bajingan si Dito. Brengsek! Ini kapan Dis?” Makian tak henti-hentinya keluar dari mulut Tomy. Lelaki itu sudah kepalang emosi melihat kelakuan Dito yang sangat menyakiti Adisty.

“Sekitar seminggu yang lalu, Tom. Waktu itu gue sempat telepon dia, gue mantau lewat CCTV. Dan brengseknya, dia ngobrol sama gue di telepon sambil pelukan sama itu cewek. Anjing kan?”

“Sebegitu mudahnya dia bohongin gue? Dia baru aja ketemu sama mantannya sekali, but he betrayed me because of unfinished feelings.” Lagi dan lagi, air mata Adisty luluh lantak jika mengingat kembali Dito yang tengah bermain gila dengan mantan pacarnya.

“Gue heran kenapa laki lo dari dulu nggak ada yang bener, Dis.”

“It's not wrong you canceled the fiancé's plan, the best decision.” Ucap Tomy sembari mengusap air mata yang sedari tadi mengalir membasahi wajah Adisty.

“Cowok di dunia ini bukan cuma Dito yang brengsek itu. Tinggalin siapapun yang nyakitin lo.” Lantas Tomy memeluk Adisty dengan sangat erat, mengusap punggungnya perlahan.

“Nangis aja Dis, nggak apa-apa. Puas-puasin nangisnya, tapi besok gue gak mau liat lo nangis lagi. Paham?” Adisty mengangguk, paham. Malam itu Adisty benar-benar menumpahkan segala rasa sesak di dadanya. Air mata kesedihan juga amarah bercampur menjadikan satu. Tomy sangat sabar dan telaten ketika menenangkan Adisty yang tengah kalut. Sentuhan Tomy, hembusan nafasnya, aroma tubuhnya, serta pelukannya memberikan rasa tenang dan rilex pada Adisty.

“Malem ini gue nginep ya? Gue mau nemenin lo.” Bisik Tomy lirih di telinga Adisty. Sedangkan wanita yang tengah berada dalam pelukan itu hanya mengangguk saja, menyetujui jika Tomy akan menghabiskan malamnya bersama Adisty. Menemani setiap rapuh dan kelu yang berhasil membuat luka yang begitu dalam di hati Adisty, mengusir sunyi dan pedih yang berhasil menggerogoti waktu yang di lewati Adisty.

“Gue sama lo, nggak jauh beda Dis.” Lirih tutur kata Tomy menyingkap ruang sunyi sembari merenggangkan peluknya.

Tomy beranjak dari duduknya, memindahkan laptop ke atas meja kerja Adisty, membuang kotak box sisa makanan mereka dan merapikan kembali kotak P3K pada tempatnya.

Adisty masih diam, netranya sibuk mengamati gerak gerik sahabatnya tanpa jemu. Semua yang di lakukan Tomy begitu tulus tanpa pamrih, sekalipun ia harus berkorban untuk Adisty. Persahabatan mereka sudah sangat jauh terpaut, bahkan jauh sebelum keduanya menemukan cinta dan sama-sama di khianati oleh cinta.

Tomy menanggalkan jaket denim yang ia kenakan, lalu naik ke atas tempat tidur menyusul Adisty yang masih bersandar pada headboard di belakangnya. Tomy mensejajarkan tubuhnya di sebelah Adisty kemudian membawa wanita itu ke dalam dekap penuh kehangatan.

“Peluk gue, biar tenang.” Ucap Tomy singkat. Tak butuh waktu lama untuk Adisty merasa nyaman dengan suasana saat itu. Baginya saling mendekap dan memeluk adalah hal biasa yang mereka lakukan tanpa embel-embel perasaan lebih.

“Tom..”

“Hmm..” Tomy memeluk sembari menepuk-nepuk punggung Adisty.

“Tadi lo bilang, gue sama lo nggak ada bedanya.” Kata Adisty lirih di sela hembus nafas yang bertabrakan dengan dada bidang Tomy.

“Iya.” Jawab Tomy singkat.

“Sama-sama di bohongin, Dis. Punya pasangan yang sama-sama brengsek dan putusnya hampir bersamaan. Benar-benar sial.” Lanjut Tomy. Lelaki itu mengecup pelan pucuk kepala Adisty tanpa sadar. Namun sang puan yang berada di dalam pelukan sangat menyadarinya hanya bisa meremat ujung kaus yang di kenakan Tomy, pelan.

“Coffee shop gue sepi, income turun dan lo keluar dari kerjaan, kerja di tempat gue yang gajinya gak seberapa.”

“Dan sekarang gue harus bertanggung jawab dengan keputusan yang dulu pernah gue buat, waktu di paksa ngelanjutin S2 hukum tapi gue tolak malah buka coffee shop sendiri. Bokap gue marah besar.”

Adisty terkekeh ketika menceritakan masa lalunya yang masih bergantung dengan kedua orang tuanya. Kini wanita itu jauh lebih mandiri setelah berhasil mendirikan coffee shop dari tabungan dan kerja part time kala itu.

“Nggak ada bedanya sama gue, cuma ngelarin S1 terus minggat dari rumah. Jujur gue capek di banding-bandingin sama kakak gue yang sekarang jadi dokter.”

Dia insan bertukar keluh kesah yang di balut rengkuh hangat di antara dinginnya penyejuk udara di dalam kamar Adisty nyatanya membuat keduanya semakin nyaman. Semakin erat dalam dekap, terasa sejuk dalam peluk.

Adisty mendongak, mengamati raut wajah Tomy dari bawah. Sedangkan lelaki itu meloloskan sorot matanya pada wanita yang tengah di lingkupi rasa sakit, terlihat jelas ketika menatap dua mata Adisty yang membengkak justru membuat batin Tomy semakin meradang.

Di usapnya dengan lembut pipi sang puan, di kecup seringan mungkin pada dua belah mata sayu milik Adisty.

“Jangan nangis lagi ya Dis, ada gue.”

Bisik Tomy lirih dan di balas anggukan serta senyum tipis oleh Adisty.

Dua netra Tomy dan Adisty saling terpaut, seakan mengisyaratkan saling membutuhkan satu sama lain, meskipun tidak pernah ada kalimat yang terlontar dari bibir keduanya namun terlihat jelas bahwa mereka bersama untuk saling mengisi. Setelah sama-sama terlibat patah hati dengan pasangan masing-masing.

Tomy tidak pernah bosan mengusap pipi Adisty yang lembut dan kenyal. Usapan menggunakan ketiga jarinya perlahan berubah menjadi gerakan yang seduktif ketika ibu jarinya mengusap bibir bawah milik Adisty. Wanita itu masih membeku tanpa mengalihkan pandangannya pada kedua netra Tomy.

Perlahan Tomy mendekatkan wajahnya pada Adisty dan mengikis jarak diantara mereka. Suasana sunyi serta dinginnya ruang kamar Adisty membuat Tomy semakin tergerak untuk melakukan lebih pada wanita itu. Pertama kalinya bagi Tomy dan Adisty, sebelumnya hanya sebatas peluk dan rengkuh saling berbagi kehangatan. Namun malam itu sekiranya berbagi kenikmatan pun akan di sanggupi oleh Adisty mengingat buncahan nafsu yang mulai merasuki dan Tomy-pun membutuhkan afeksi.

Kini Tomy berhasil mengecup beberapa kali bibir Adisty, sangat lembut. Awalnya bibir wanita itu masih terkatup dan hanya memejamkan matanya, namun kelamaan Adisty membuka bibirnya hingga Tomy mendapatkan akses untuk menjamah setiap sudut rongga mulut Adisty dengan mudah. Ciuman yang awalnya sangat pelan dan lembut pun perlahan semakin menuntut.

Tomy mendorong tengkuk Adisty hingga menjadi lebih lekat dengan dirinya, mempermudah untuk menikmati tiap inci rasa manis pada bibir Adisty. Lenguhan kecil beberapa kali lolos dari sela lumatan keduanya. Adisty tidak bisa menahan lenguh dan desah kecil diantara lumatan yang sudah bercampur dengan nafsu yang membara.

Ciuman dan lumatan yang di berikan Tomy pertama kali dalam hidup Adisty ternyata jauh lebih baik ketimbang Dito. Meskipun kali pertamanya, Tomy dirasa lebih lihai dalam hal mencumbu. Seketika bulu kuduk Adisty merinding kala tangan Tomy menelusup di sela lingerie berbahan satin yang ia kenakan, mengusap punggung sang puan secara seduktif. Sudah tentu lingerie yang menempel pada tubuh Adisty tersingkap hingga mengekspos paha mulusnya serta setengah tubuhnya.

Tomy dan Adisty sama-sama di lingkupi nafsu yang sudah di ujung dan mungkin sebentar lagi akan meledak. Dua sahabat yang sama-sama sedang patah hari, mengalami quarter life crisis bersamaan, bertukar keluh dan kesah masing-masing hingga akhirnya dua insan ini saling membutuhkan afeksi yang tidak perlu jauh-jauh harus di cari. Mungkin saat ini keduanya belum saling memiliki namun ketika waktu terus berjalan bisa di pastikan mereka tidak mau saling kehilangan.

Tomy bergerak perlahan menidurkan tubuh Adisty di bawahnya tanpa melepaskan pagutan diantara keduanya. Tangannya berkali-kali mengusap lembut pipi Adisty sebelum akhirnya mengakhiri lumatan yang di rasa penuh dengan nafsu. Tomy memandang wajah Adisty, dua netra saling bertatapan dan saling mengunci. Adisty tampak sayu, bibirnya masih menganga hampir kehabisan pasokan oksigen ketika Tomy mencium dan melumatnya habis-habisan.

“Dis.. Boleh?”

Adisty mengangguk sangat yakin dengan apa yang akan di lakukan oleh mereka. Tentu saja Adisty kini lebih mempercayai Tomy ketimbang Dito yang sudah jelas mengkhianati. Sudah tidak terhitung berapa kali keduanya melewati canda tawa dan sedih hingga terluka bersama. Tomy selalu ada ketika Adisty membutuhkan begitu juga sebaliknya. Sama-sama menjadi penghibur dan saling melengkapi ketika keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja.

Malam itu di ruang kamar yang sangat minim pencahayaan, menjadi saksi dua sahabat yang tidak ingin lepas satu sama lain, saling mengobati luka satu sama lain serta saling menyerahkan raga masing-masing untuk di kuasai oleh nafsu hingga rela berbagi kenikmatan.

Tomy menanggalkan satu persatu pakaian yang ia kenakan hingga menyisakan celana dalam menjadi penutup terakhir yang masih menempel pada tubuhnya. Lelaki itu kembali mendaratkan ciuman dan melumat bibir Adisty, kini terasa lebih menuntut. Adisty yang berada di bawah kendali Tomy hanya mengikuti semua alur yang di ciptakan olehnya.

Setelah puas melumat bibir candu milik Adisty, lelaki itu mulai menjamah dan bergerilya mulai dari ujung telinga, mencium basah hingga belakang telinga dan leher Adisty. Menjilat dan menyesapnya tanpa meninggalkan bekas kemerahan pada kulit putih pucat milik Adisty. Sedangkan wanita itu meloloskan lenguh dan desah yang terdengar kian nyaring di tengah-tengah malam sunyi.

Tangan Tomy bergerak turun, mengusap perlahan paha sang puan kemudian naik keatas menyingkap lingerie satin yang masih menutupi tubuh Adisty. Tanpa basa basi lagi, Adisty menaikkan lingerie itu hingga di atas dadanya dan berhasil melepaskan setengahnya dengan bantuan tangan kanannya. Kemudian sisanya di bantu oleh Tomy untuk di tanggalkan dan hanya menyisakan bra serta celana dalam dengan warna senada.

“Dis, are you serious? Lanjut nggak? Kalau lanjut ya ayo, tapi kalau nggak ya gue stop. Gue mau pakai baju lagi.” Tomy berujar guna memastikan yang ia inginkan bukan atas dasar ego sendiri atau keinginan satu pihak saja.

“Yes. I believe in you, Tomy.” Jawab Adisty penuh keyakinan.

Tomy tersenyum lega, keinginannya terbalaskan oleh Adisty. Tanpa ada paksakan, —pun keduanya memang sedang membutuhkan afeksi. Tomy kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Adisty sebelum dirinya melepaskan bra yang di rasa akan mengganggu aktivitas seksualnya.

Lelaki itu meraup dua gundukan payudara Adisty yang menyembul sempurna dan sangat pas di genggaman. Ia melumatnya secara bergantian, tangannya pun tak bisa tinggal diam. Meremas, memijit, juga memilin ujung payudara milik Adisty yang sudah mencuat tegang.

Adisty membusungkan dada ketika jemari Tomy menyapa miliknya dari balik celana dalamnya yang sudah sangat lembab dan basah. Bibir dan lidah Tomy masih sibuk melumat dan memainkan payudaranya yang semakin menegang.

“Mmphh.. Tomy..”

Entah lenguhan keberapa kali yang keluar dari bibir Adisty, ia sudah tidak bisa mengendalikan nafsu yang sejak tadi menguasai dirinya. Tangan kanannya meremas bahu Tomy ketika jari tengah lelaki itu menyapa klitorisnya yang terasa lembab.

“Aahh.. Tom,—”

“Dis, yours is so wet, huh?“

“Do it, I can't take it anymore. Please. Satu bulan gue udah nggak ngelakuin sama Dito, jadi cepet basah.” Jelas Adisty tanpa rasa canggung sedikitpun.

Tomy terkekeh mendengar jawaban dari Adisty, lalu menimpali dengan kalimat ejekan.

“Sebulan nggak hs malah cowok lo main sama mantan. Sial.”

“Brengsek lo!” Maki Adisty sembari memukul dada Tomy menggunakan tangan kirinya tanpa sadar.

“Auww... Sakit.” Pekik Adisty ketika menyadari bahwa luka itu belum mengering hingga menimbulkan rasa sakit dan perih yang menjalar hampir ke seluruh tubuh.

“Dis, gimana sih lo?! Belum juga kering lukanya.” Ucap Tomy sembari meniup beberapa kali di atas permukaan perban.

“Gue lupa. Perih, Tom..” Rengek Adisty.

Tomy yang terlihat sibuk meniup di atas permukaan perban guna mengurangi rasa sakit pada lukanya, tiba-tiba mulai menggoda Adisty dengan membubuhkan ciuman hangat mulai dari pergelangan tangan yang masih di balut dengan perban, kemudian ciuman Tomy bergeser pada lengan dari bawah hingga bagian atas tanpa mengalihkan pandangannya pada sorot mata Adisty.

Adisty hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika libidonya mulai naik. Lelaki itu menurunkan celana dalam Adisty dengan sekali tarik kemudian menanggalkan dan membuangnya ke lantai. Tomy bergerak turun, mensejajarkan wajahnya pada liang surgawi milik Adisty yang terlihat sudah sangat basah.

“Oh, shit! This is a beautiful pussy.“

“Tom,— Ahh.. Fuck!” Adisty memekik ketika lidah hangat Tomy menyapa miliknya dengan tiba-tiba. Tubuh wanita itu menggelinjang saat lidah sang tuan menyapu lipatan bibir vagina miliknya dan memainkan klitoris yang berkedut seakan meminta untuk di jamah tanpa henti.

Tomy dan Adisty sama-sama menggila, keduanya di bakar oleh hasrat dan nafsu. Desahan yang lolos dari bibir Adisty terdengar semakin nyaring hingga memecah kesunyian malam itu.

Satu tangan Adisty meremat kuat-kuat ujung bantal guna melampiaskan kegelisahan. Liangnya sedang di manjakan oleh bibir dan lidah Tomy. Menaik turunkan ujung lidahnya pada bibir vagina dan berhenti pada klitoris milik Adisty yang sudah memerah. Dua jarinya ia lesakkan pada lubang kenikmatan wanita itu tanpa aba-aba hingga membuat Adisty mendesah dan mendongakkan kepalanya.

Satu tangan Tomy ia gunakan untuk menahan kaki Adisty yang bergerak resah, dan satu tangan yang lain masih sibuk memainkan liang surgawi milik Adisty yang sangat hangat dan ketat. Gerakan keluar masuk dua jari Tomy di sertai gerakan memutar ujung lidah pada klitoris wanita itu benar-benar membuat Adisty melenguh, mendesah tidak karuan. Peluh dan keringat mulai bercucuran, rambut hitam legam yang sudah sangat berantakan menimbulkan hawa semakin panas.

“Tomy.. Awas, ahh..”

“You wanna cum, right?” Tanya Tomy di sela aktivitasnya, tanoa menjeda barang sedetikpun.

“Yes, please.. Awas minggir.” Pinta Adisty, namun tidak di hiraukan oleh Tomy. Lelaki itu justru mempercepat gerakan jarinya, lidahnya kembalikan memainkan titik sensitif milik Adisty. Tomy hanya ingin menuntaskan pelepasan wanita itu tanpa harus menghindar dari cairan orgasme yang sebentar lagi akan membasahi jari dan juga bibirnya.

“Come on, Dis.. Keluarin.”

Dinding vagina Adisty mulai berkedut dan semakin mengetat, menjepit kedua jari Tomy yang masih sibuk mengoyak di dalam sana. Lelaki itu terus merangsang pelepasan Adisty dengan menggigit kecil klitorisnya dan melumat serta memainkan dengan lidah. Detik kemudian tubuh Adisty menggelinjang dan bergetar hebat ketika menjemput pelepasannya.

Adisty melengkungkan tubuhnya dan meremas sprei kuat-kuat ketika gelombang pelepasan menyapanya. Desahan panjang terdengar nyaring hingga memenuhi seluruh ruang kamar Adisty. Deru nafas terdengar samar begitu berat.

Adisty memejamkan matanya, merasakan aliran darahnya berdesir begitu cepat. Tomy merangkak keatas tubuh wanita itu dan mensejajarkan dirinya dengan Adisty. Mendaratkan kecupan singkat pada bibir Adisty yang ranum.

“Lanjut, Dis?”

“Menurut lo aja gimana? Lo mau nyelesein sendirian?” Ucap Adisty membalas ledekan yang sempat di ucapkan Tomy beberapa waktu lalu.

Tomy tersenyum kecut, kemudian mencium sembari menggigit bibir Adisty hingga membuat wanita itu tersentak.

“Aw.. Tomyyyy... Sakittt...” Rengek Adisty, bibirnya mengerucut kesal karena perlakuan Tomy. Sedangkan lelaki itu hanya terkekeh sembari melucuti satu-satunya kain penutup aset miliknya.

Adisty menelan ludahnya, gusar. Raut wajah wanita itu berangsur merah merona ketika melihat kejantanan sahabatnya yang sudah mengeras dan tegang. Malam itu adalah kali pertama Adisty dan Tomy saling bertukar kenikmatan dan bisa di pastikan akan terus terulang.

Tomy menindih tubuh Adisty, mengecup kening dan pipi wanita itu dengan lembut.

“Dis, percaya.. Gue gak akan ninggalin lo.” Ucap Tomy di sela menghujani kecupan-kecupam basah pada tubuh Adisty dan wanita itu mengangguk pelan.

“Lanjut? Tapi gue nggak bawa kondom.”

“Nggak apa-apa, gue minum pil.” Jelas Adisty guna meyakinkan sahabatnya.

Tomy kemudian mulai melancarkan aksinya, ia membuka dua kaki Adisty menggunakan lututnya. Lalu mensejajarkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Adisty. Lelaki itu mengocok penisnya perlahan sebelum menggesekkan ujungnya pada bibir vagina Adisty hingga membuat sang puan merasa frustasi.

“Mmphh..” Lenguh Adisty sembari menggigit bibir bawahnya dan secara reflek jemarinya meremas apapun yang menjadi tumpuan.

Tomy melesakkan batang penisnya dalam sekali hentak dan ia benamkan dalam-dalam pada liang surgawi milik Adisty yang terasa sesak dan hangat.

“Aahhh... Penuh banget, Tom.” Adisty berujar di sela desah dan deru nafasnya yang memburu.

“Sakit?” Tanya Tomy memastikan wanita yang berada dalam kendalinya itu tidak merasakan kesakitan.

Adisty menggeleng, ia hanya mencobanya mengatur nafasnya.

“You like it? Warm and full?” Tanya-nya lagi, kemudian di balas dengan anggukan oleh Adisty. Kemudian Tomy mulai menggerakkan pinggulnya, menumbuk liang kenikmatan yang sempit dan hangat itu dengan tempo sedang.

Kedua kaki Adisty melingkar pada pinggang Tomy tanpa di minta. Tangan kanannya meremas lengan Tomy ketika lelaki itu menghujam dan menghentak kejantanannya hingga menabrak titik sensitif milik Adisty.

“Ough.. Fuck. Punya lo enak banget, Dis.” “Aahhh...”

Satu tangan Tomy menyokong tubuhnya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk meremas, dan memainkan dua gundukan payudara sintal milik Adisty. Sesekali memilin puting milik wanita itu dan mencubit kecil ujungnya, membuat si empu mengerang.

Adisty bak di bawa terbang ke langit ke tujuh. Ukuran penis Tomy sangat pas bersarang pada miliknya, gerakan penetrasi sang tuan pun di luar dugaan. Tempo gerakan yang tidak terburu-buru, lalu memutar dan menghentakkan pinggulnya dalam-dalam membuat Adisty kelimpungan tak kuasa menahan gelombang pelepasan yang semakin dekat.

Tomy memandang raut wajah Adisty di tengah cahaya temaram yang terasa hangat, mengamati tiap detik sang puan merintih, mendengarkan tiap desahan yang keluar dari bibir wanita itu bak sebuah candu yang sulit di lepaskan.

Tomy mengusap keringat yang membasahi wajah ayu Adisty tanpa mempedulikan dirinya pun penuh akan peluh. Jemarinya sibuk mengusap pipi Adisty guna menyalurkan rasa tenang ketika ia mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik sensitif dan membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.

“Tomy please.. Fuck me harder, please.. Please.. Please..“ “Aahh...”

Adisty menatap lekat dua bola mata Tomy penuh permohonan agar segera di tuntaskan pada pelepasannya. Lelaki itu kemudian mencium dan melumat kembali bibir ranum Adisty guna menyalurkan rasa nikmat yang mereka buru. Pinggul Tomy bergerak semakin tidak beraturan ketika ia merasakan liang vagina sang puan mulai berkedut dan semakin mengetat. Tomy ingin menuntaskan puncak orgasme bersamaan dengan Adisty.

“Come on, girl.“

“Gue udah gak tahan, Tom. Please..” Adisty berujar di saat kedua netranya terpejam rapat. Tubuhnya melengkung dan bergetar hebat.

“Keluarin, Dis... Come on!”

“Aahhh...”

“Aahhh... Fuck!“

Desah dan racau Adisty menuntaskan pelepasannya bersamaan dengan Tomy. Tubuh wanita itu menggelinjang dan bergetar hebat kala cairan sperma milik Tomy menyembur berkali-kali di dalam rahim Adisty dan terasa hangat, bercampur dengan milik Adisty hingga penuh sampai-sampai tidak sanggup menampung cairan kenikmatan yang mengalir membasahi sela paha wanita itu.

Tomy mencium bibir Adisty pelan dan berangsur lama, tangannya mengusap pucuk kepala sang puan. Menyalurkan beribu-ribu rasa hangat, nyaman serta nikmat pada Adisty.

“Thank you, girl.” “I promise, I'm not to leave you.” Ucap Tomy lirih, kemudian mendaratkan satu ciuman hangat pada kening Adisty. Wanita itu tersenyum sarat akan rasa yang tidak bisa di ungkapan dengan kalimat bahkan sepenggal kata. Adisty yakin bahwa Tomy jauh lebih baik ketimbang calon tunangannya yang tak lain adalah seorang bajingan.

Sampai kapanpun Adisty hanya membutuhkan Tomy Reiga Jazziel.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for TNL's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip

Sejak melangkahkan kakinya memasuki apartemen miliknya, lelaki berparas tampan itu di sambut oleh rentetan lilin-lilin kecil yang menyala menerangi ruang gelap gulita. Lilin itu berjajar rapi sepanjang bentang ruang tamu hingga ruang kamar pribadi miliknya. Mungkin wanita yang kini tengah berdiri di balik pintu kamar itu menyiapkan berpuluh-puluh lilin untuk menyambut perayaan ulang tahun sang suami serta hari kasih sayang yang di rayakan umat manusia hampir di seluruh dunia.

Nathalie menjelma menjadi sosok wanita yang paling beruntung dan bahagia di semesta. Statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri. Ya, istri dari seorang lelaki bernama Jeremy Gavino. Setelah perjuangan yang di penuhi tangis, usaha mati-matian yang di penuhi rasa sakit namun hasilnya berhasil membuatnya bangkit.

Liku perjuangan untuk mendapatkan restu yang tak kunjung di terima, serta godaan-godaan lain yang menguji keduanya sempat menggoyahkan pendirian dua insan manusia. Namun jika Tuhan sudah menentukan semuanya, seberat apapun cobaan, sejauh kaki melangkah hingga kehilangan arah, pada akhirnya ia akan tau dimana harus bermuara.

Setelah mendaratkan kaki di ambang pintu kamarnya, seutas senyum manis menyambut kedatangannya. Satu tangannya membawa kue ulang tahun mungil berhias lilin kecil sedangkan satunya terbuka lebar guna menyambut sang tuan ke dalam pelukan.

Senyum Jeremy mengembang sempurna kala melihat sang istri yang terlihat sangat cantik mengenakan long dress berwarna hitam backless, dengan seutas tali simpul melingkar di leher yang menyokong dress-nya agar tetap menempel pada tubuh sang puan. Raut wajah Nathalie selalu memancarkan binar kebahagiaan setelah berstatus menjadi seorang istri.

Jeremy perlahan mendekat dan melayangkan peluk hangat pada sang istri, mengusap lembut punggungnya dan mengecup ceruk leher Nathalie beberapa kali secara seduktif serta menghirup aroma tubuh wanita itu yang semakin hari semakin membuatnya menjadi candu.

“Selamat ulang tahun, sayang..” Bisiknya lembut. Deru nafas sang puan menyapa permukaan kulit Jeremy perlahan membangkitkan hasrat hingga menginginkan lebih.

“Terima kasih istriku.” Balas Jeremy dengan senyuman yang mengukir lesung pipinya terlihat jelas menjadi penghias wajah rupawan. Lelaki itu menghujani kecupan lembut di bibir Nathalie secara bertubi-tubi, sembari tangan sang tuan bertengger apik pada pinggang wanita itu guna merapatkan tubuh keduanya.

“Jer.. Udah ah..” Ucap sang puan, tangannya menepuk lengan sang suami.

“Kenapa? Aku mau cium kamu.” Jeremy berujar sembari mengerucutkan bibirnya, hendak meloloskan cium pada bibir Nathalie.

“Nanti. Kamu belum mandi, sayang..” Ucap Nathalie sembari menyisir rambut Jeremy menggunakan jemarinya. Lelaki itu hanya terkekeh kemudian merenggangkan peluknya.

“Jer..”

“Ya?”

“Aku nggak masak. Emm.. Maksudnya aku nggak sempat bikin sesuatu buat kita makan, tadi kamu bilang udah makan malam.” Ucap Nathalie penuh penegasan ketika dirinya sama sekali tidak menyiapkan apapun untuk sekedar makan malam kecil-kecilan guna merayakan ulang tahun sang suami.

“No problem sweetie. I've filled my stomach while eating with clients.” Balas Jeremy sembari menanggalkan jas yang ia kenakan kemudian meletakkan di tepi ranjang besar miliknya.

“Kamu udah makan?” Tanya Jeremy, tangannya sibuk melepaskan dasi yang masih melingkar pada kerah kemejanya.

Nathalie tidak menjawab, beberapa kali bola matanya memutar seakan-akan sedang mencari jawaban tepat untuk di katakan pada suaminya. Pasalnya sudah dua hari lamanya Nathalie hilang nafsu makan. Hari itupun masih sama, ia hanya memakan beberapa coklat batang yang di kirim Tristan dan Laura untuk hadiah hari kasih sayang.

“Nath, are you oke?“

“Ya. Jer, aku makan coklat dari Tristan sama Laura, tadi supir yang nganterin kesini. Maaf aku udah icip coklatnya lebih dulu tanpa nunggu kamu. Aku udah nggak tahan pengen makan, Jer..” Ujarnya, tangannya beberapa kali meremat dress-nya. Nathalie terlihat gelisah, tidak seperti biasanya.

“Nggak apa-apa, di makan aja Nath.” “Aku mandi dulu ya?”

Nathalie mengangguk untuk memberi jawaban pasti pada suaminya, seiring dengan langkah Jeremy menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Wanita itu kemudian membereskan benda-benda milik sang suami yang di letakan asal begitu saja, seperti jas, dasi, jam tangan, juga ponsel, kemudian meletakkan dan merapikan semua pada tempatnya.

Nathalie berjalan ke arah nakas tepat di sebelah tempat tidurnya, mengambil kotak berbentuk persegi berukuran sedang kemudian meletakkan kotak tersebut di balik bantal yang biasa di gunakan Jeremy tidur. Nathalie berharap Jeremy akan menemukan kado istimewanya sebelum pergi tidur. Wanita itu menyiapkan kado ulang tahun suaminya tanpa persiapan apapun dan semuanya serba mendadak.

Setelah selesai dengan persiapan kejutannya, Nathalie kembali duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Menuangkan wine untuk sang suami dan beberapa coklat pemberian Tristan —pun kue ulang tahun ia letakkan di meja sebagai pelengkap.

Nathalie memainkan ponselnya sembari menunggu Jeremy. Tak lama sang suami keluar dari kamar mandi seiring suara decitan pintu kamar mandi. Lelaki itu hanya mengenakan celana boxer dan handuk yang melingkar pada lehernya sembari mengusap rambutnya yang basah. Nathalie menoleh kebelakang, menatap lekat tubuh suaminya yang nyaris sempurna kemudian tersenyum.

Jeremy berjalan kearah dimana sang istri berada, dengan reflek tangannya melempar asal handuk ke atas ranjang. Sontak Nathalie mengernyitkan dahinya sembari menggerutu, kesal.

“Sayanggg...”

“Ya?”

“Handuknya, ih jangan di taruh sembarangan.” Gerutu Nathalie, namun di balas kekehan oleh sang suami.

“Maaf sayang, iya ini aku taruh di laundry bag.” Ucap Jeremy dan bergegas memungut kembali handuknya dan ia taruh di dalam keranjang laundry. Nathalie tersenyum jail lalu menggeser duduknya guna memberikan tempat di sebelahnya.

“Wine dari mana Nath?” Tanya Jeremy sembari meneguk minuman favoritnya.

“Dari Tristan. Tadi kirim wine, coklat sama bouquet bunga aku taruh di ruang tengah.” Jelas Nathalie, ia kembali menuangkan wine pada gelas Jeremy.

“Kenapa gelasnya cuma satu? Kamu nggak minum? Atau mau join aja?” Ucap Jeremy sembari menyodorkan gelas itu ke depan Nathalie, namun di tolak dengan cepat wanita itu.

“Nggak Jer, aku lagi nggak pengen minum.” Ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.

Jeremy kemudian meletakkan gelasnya pada meja. Mengamati raut wajah cantik wanitanya yang terlihat sedikit pucat. Tangannya mengusap pipi Nathalie pelan lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibirnya. Jeremy tengah di selimuti rasa bahagia karena pada akhirnya ia dapat berlabuh pada dermaga yang semestinya. Nathalie adalah segalanya bagi Jeremy dan bukan semata-mata karena obsesi.

Memperjuangkan Nathalie, jatuh bangun dengan segala pengorbanan yang telah di laluinya tidak sia-sia. Ia berhasil memenangkan hati sang puan beserta restu sang mama yang di dambakan. Jeremy pantas bersyukur atas apa yang di dapatkannya sampai detik ini.

Begitupun sebaliknya, seluruh sakit yang pernah di emban Nathalie seorang diri, kini berbalik bak sebuah keberuntungan yang tak terhitung nilainya. Menikah dengan Jeremy, mendapatkan restu adalah sebenar-benarnya keinginan Nathalie.

“Nath, thank you for being my wife, terima kasih udah mau percaya sama aku.” Jeremy meraih tangan Nathalie kemudian mengecup beberapa kali punggung tangan istrinya yang terasa dingin.

“Jer, aku yang harusnya berterima kasih.”

“Terima kasih udah mau menerima aku sebagai istrimu, menerima semua lukaku, sedihku, semua kekuranganku, bahkan seburuk-buruknya aku. Aku sempat berpikir, apa aku benar-benar layak jadi istri kamu?” Balas Nathalie dengan suara yang sedikit bergetar. Jika satu kalimat lagi ia ucapkan mungkin tumpah sudah air mata yang sedari tadi tertahan.

“No. I am the luckiest man. aku sangat beruntung memiliki kamu, Nath.” Balas Jeremy lalu menyambar bibir ranum sang istri, menciumnya penuh hasrat yang menggebu. Jantung Nathalie bergetar hebat, emosinya seakan tidak menentu hingga ia meneteskan air mata yang sudah tak tertahan. Lelaki itu sadar kemudian merenggangkan belah bibir keduanya.

“Nath, kenapa nangis? Hey...” Ucapnya sembari mengusap tetesan air mata yang mengucur membasahi pipi Nathalie.

“Nggak apa-apa Jer, aku cuma bahagia aja bisa sampai di titik ini. Sama kamu.” Jawab Nathalie sembari mengusap pipinya, asal. Kemudian merapikan helai rambut yang menutupi wajahnya.

“Udah. Jangan nangis, jangan sedih lagi ya? Ini hari ulang tahunku loh, aku maunya kita happy bukannya liat kamu nangis.” “Nath, apapun masalahnya, bagaimanapun keadaannya, aku pengen kita tetap sama-sama. Tetap pegangan tangan, selesaikan masalah dengan mengesampingkan ego kita. Kalau ada masalah apa, ngomong ya? Jangan di pendam sendiri.” Pinta Jeremy, tangannya meraih tubuh ramping sang istri lalu memeluknya erat. Mengusap pucuk kepala Nathalie dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada bahu sang puan.

“Iya Jer, aku pasti cerita sama kamu kalau ada apa-apa. Makasih ya. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tau lagi mau kemana.” Ucap Nathalie, tangannya menggenggam erat telapak tangan sang suami.

“Nath, aku tempatmu pulang, tempatmu berteduh, tempatmu berpegangan. Sampai kapanpun.”

Bulir air mata yang tertahan perlahan pecah dan mengalir membasahi pipi Nathalie. Bukan kesedihan melainkan luapan kebahagiaan.

“Potong kue aja yuk, aku mau icip kuenya.” Ucap Jeremy mengalihkan pembicaraan agar Nathalie tidak merasa sedih.

Nathalie mengangguk tanda setuju, ia mengusap beberapa kali pipinya guna menghilangkan sisa air mata yang masih membekas di wajahnya. Wanita itu kemudian ia memotong kue dan menaruhnya dalam piring kecil.

“Aku suapin ya?” Pinta Nathalie sembari menyendok potongan kue dan di lahap habis oleh Jeremy.

“Sini gantian.” Kata Jeremy, lalu mengambil piring serta sendok dari tangan Nathalie —pun berlaku sama. Jeremy yang hendak menyuapi sang istri dengan potongan kue, tiba-tiba saja niat jail muncul di kepalanya. Seharusnya Jeremy mengarahkan sendok pada bibir Nathalie yang sudah menganga meminta untuk di suapi tetapi lelaki itu dengan sengaja menempelkan sendok berisi kue itu pada hidungnya.

Wanita itu sontak kaget dan mengakibatkan kue yang di ujung sendok itu jatuh di atas dadanya. Ya, tepat di antara belahan dadanya yang sedikit menyembul di balut long dress hitam.

“Yah.. Jer...” Sorot matanya sedikit kecewa karena belum sempat mencicipi kue yang terlihat sangat lezat, namun jatuh jatuh lebih dulu.

Jeremy meletakkan piring di tangannya pada meja dengan gerak cepat, lalu menahan dua tangan Nathalie yang hendak mengambil tissue guna membersihkan kue yang mengotori kulitnya juga dress yang di kenakannya. Lelaki itu bergerak lebih cepat, ia menggunakan bibir serta lidahnya untuk membersihkan kue yang mengotori dada sang istri.

Nathalie memejamkan matanya sejenak kala merasakan lidah hangat Jeremy yang menyapu permukaan kulitnya. Tangan Jeremy bergerak merangkul tubuh sang puan sembari menarik tali simpul yang sedari tadi menahan dress yang di kenakan Nathalie agar tidak terlepas.

Cukup singkat lelaki itu hampir menelanjangi Nathalie. Dress yang di kenakan sang istri sudah luruh bersamaan dengan kecup basah dan belaian hangat yang berasal dari lidah Jeremy. Gerakan-gerakan acak dan sedikit brutal dari cecap bibir Jeremy juga lidah yang sibuk melumat, dan membersihkan sisa-sisa kue yang menempel pada permukaan kulit Nathalie membuatnya terangsang dengan cepat.

“Mmph... Jer,—”

Lenguh yang sudah tidak bisa di tahan oleh Nathalie akhirnya lolos dari bibir ranum sang pemilik sembari meremas rambut Jeremy guna menyalurkan gejolak birahi yang mulai merajai. Dua tangan Nathalie akhirnya bertumpu pada meja di sebelahnya dan satu lagi bertumpu pada sofa, kala Jeremy dengan gencar bermain-main dengan puncak payudaranya.

Bibirnya menjilat, melumat puting sang puan yang sudah mencuat tegang. Sedangkan tangan satunya tidak bisa tinggal diam, meremas pelan guna merangsang lebih dalam lagi sembari memilin dan mencubit kecil di bagian ujungnya hingga membuat sang empu mendesah gelisah.

Long dress yang semula masih bertengger pada perut Nathalie, kini berhasil di lucuti oleh Jeremy tanpa menghentikan aktivitas mencumbu wanitanya.

Entah sudah berapa kali bibir Nathalie meloloskan racau dan desah tanpa henti. Jeremy benar-benar membuatnya kepalang nafsu dan semakin memburu. Lelaki itu terus bergerak agresif, setelah puas bermain-main dengan payudara Nathalie jemarinya bergerak turun menyapa milik sang puan yang terasa lembab dan basah.

Jeremy mengeluarkan senyum seringai tanda ia berhasil membuat Nathalie basah kuyup karena ulahnya. Ia menatap lamat wajah cantik sang istri dari terpaan cahaya minim di ruang kamarnya. Wajah sayu Nathalie terlihat jelas bak sedang memohon untuk segera di puaskan oleh sang pemegang kendali.

Jeremy lantas bergerak turun namun dengan cepat di cegah oleh Nathalie.

“Jer, lanjut di ranjang aja ya? Punggungku sakit.”

“Of course, sweetie. I will take you there.”

Jeremy kemudian membawa tubuh Nathalie bak bridal style. Merebahkan tubuh mungil sang istri pada ranjang besar miliknya, lalu mengungkungnya. Ia kembali melumat bibir Nathalie yang ranum, menyesap dan memainkan lidahnya pada rongga mulut sang puan. Jemarinya kembali bergerak agresif tanpa aba-aba menangkup belah bibir vagina milik Nathalie bersamaan dua kakinya yang melebar agar sang tuan dengan leluasa menjamahnya.

Jemari milik Jeremy bergerak perlahan, menggesek belahan bibir vagina sang istri menggunakan jari tengahnya kemudian berhenti pada klitoris dan memutarnya dengan tegas membuat empunya mengerang dan mendesah karena nikmat. Lelaki itu terus menghujani kecupan-kecupan basah tiap inci tubuh wanitanya, mulai dari telinga, leher, bahu, dan berhenti pada payudara sintal yang sedari tadi sudah menegang.

Bibir Jeremy tengah sibuk melumat dengan rakus dua payudara Nathalie secara bergantian. Memainkan putingnya dengan lidah, menyesap tanpa meninggalkan jejak kemerahan pada permukaan kulit sang puan. Jarinya masih bergerak agresif di bawah sana hingga liang surgawi milik Nathalie mengeluarkan cairan pre-cum.

Tubuh Nathalie tiba-tiba saja melengkung sembari membusungkan dadanya kala jari tengah dan jari manis milik Jeremy menerobos masuk tanpa aba-aba.

“Aahh... Jer,—” Desahannya terdengar parau di tengah deru nafas yang mulai memburu.

Jeremy menggerakkan dua jarinya dengan tempo sedang, merasakan hangat liang vagina milik Nathalie sembari menatap lamat-lamat raut wajah wanitanya yang tengah terkulai tak berdaya. Mimik wajah sang puan tampak gelisah menerima semua rangsangan yang di berikan oleh Jeremy. Nathalie hanya bisa mendongakkan kepalanya sembari menyebut nama Jeremy. Tangannya bergerak tak kalah gelisah, hanya bisa meremas sprei dan bantal yang berada dalam jangkauannya.

“Jeremy, pleasehh...“ “Ahh...”

Desahan yang keluar dari bibir Nathalie bak sebuah candu yang menulikan gendang telinganya, membuat Jeremy semakin gencar memainkan milik Nathalie di bawah sana. Liang vaginanya perlahan mengetat dan menghimpit sesak dua jemari sang tuan yang masih bergerak dengan tempo yang sedikit lebih cepat.

“Jer.. Aku mau cum..” Rintih Nathalie seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan pada pelepasannya. Melihat tubuh Nathalie yang mulai bergerak resah, ia segera mengeluarkan dua jarinya dan menggantikannya dengan lidah serta bibir yang bermain di bawah sana.

“Ouh.. Jer,—”

Jeremy menggunakan satu tangan untuk menahan gerakan kaki Nathalie, tangan satunya ia gunakan untuk merangsang pelepasannya yang sibuk bermain pada liang surgawi milik sang istri. Lidah dan bibirnya sibuk bermain dengan klitoris, sesekali menggigit kecil di sana hingga membuatnya lebih cepat menjemput pelepasannya.

“Jer...”

Tubuh Nathalie mulai menggelinjang, dadanya membusung dan dua tangannya meremas sprei kuat-kuat pada saat gelombang pelepasannya semakin cepat.

“Come on, babe..” Pinta Jeremy pada saat ia merasakan liangnya mulai berkedut dan tubuh Nathalie bergetar hebat.

“Aahhh...” Desahan yang nyaring mengantarkan Nathalie pada pelepasannya. Tubuh yang di penuhi keringat serta deru nafas yang kian memburu menjadi pemandangan apik bagi Jeremy yang kini tengah beranjak setelah selesai ia membersihkan cairan pelepasan milik Nathalie menggunakan lidahnya.

Lelaki itu kemudian bersiap di atas tubuh Nathalie sembari mengurut kejantanannya sendiri, sesekali menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina milik Nathalie.

“Let's make a baby.”

Bersamaan dengan Jeremy yang tengah melesakkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Nathalie.

“We got —it. Ahh...” Kalimat jawaban di iringi desah suara parau yang semakin lirih membuat Jeremy samar atas apa yang di ucapkan Nathalie. Wanita itu terus memejamkan matanya kala Jeremy sibuk menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Perlahan tapi pasti, gerakan pinggul Jeremy semakin lama semakin menjadi.

Desahan nikmat yang tidak bisa di tahan terus lolos dari bibir Nathalie juga Jeremy hingga saling bersahutan. Gema desah yang sarat akan nikmat itu memenuhi seluruh ruang kamar. Semilir angin dari pendingin udara seakan tidak lagi menyejukkan di tengah pergulatan nafsu birahi yang semakin menjadi.

Jeremy mengejar nikmat yang di damba-damba sedangkan Nathalie sudah berpasrah dengan sang suami yang tengah memegang kendali. Dua kaki Nathalie yang semula melingkar pada pinggang Jeremy, kini bertengger pada bahu sang tuan. Keduanya di tangkup oleh tangan Jeremy guna sebagai pegangan kala penetrasi.

Semakin lama Jeremy semakin keras menumbuk liang kenikmatan milik Nathalie hingga menembus titik sensitifnya. Wanita yang berada di bawahnya tengah mengerang, memejamkan kedua matanya sembari meremas sprei kuat-kuat.

“Jer...”

“Nathalie..” “Come on..”

Jeremy tau pasti saat ini Nathalie hampir sampai pada pelepasannya yang ke dua. Liang vaginanya mulai berkedut, ia kemudian melingkarkan kembali kedua kaki Nathalie pada pinggangnya. Tubuh Jeremy mendekat pada tubuh wanitanya sembari menghentakkan pinggulnya dalam-dalam. Jeremy membubuhi bibir Nathalie dengan kecupan basah yang singkat sembari memujinya.

“You're so beautiful, i love you Nathalie...”

“I love you more, Jer...” Balas Nathalie di tengah-tengah sengal deru nafasnya yang kian tak beraturan.

“Jer...”

“Nath, you wanna cum?”

Nathalie hanya menganggukkan kepalanya saja, tenaganya sudah terkuras habis. Mendesah saja sudah hampir kehabisan suaranya.

“Oke, let's go, babe.”

Jeremy menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Dua tangannya ia gunakan untuk bertumpu sembari mengusap peluh di kening Nathalie lalu mengecupnya berkali-kali sembari menghentakkan dalam-dalam batang penisnya. Jeremy merenggangkan tubuhnya dan mengangkat pinggulnya hingga penisnya hampir keluar, lalu menghentakkan keras pada liang surgawi milik Nathalie. Bersamaan dengan cairan sperma yang menyembur ke dalam rahim sang puan. Nathalie-pun sama-sama menuntaskan pelepasannya yang kedua dengan desah nikmat, serta tubuh yang bergetar hebat.

Jeremy masih sibuk dengan menghujani kecupan-kecupan mesra pada kening Nathalie.

“Thank you so much, Nath.” “I love you.”

I love you more, Jer...” Balas Nathalie di tengah deru nafas yang memburu. Perlahan Jeremy mengeluarkan batang penisnya yang penuh dengan sisa cairan pelepasan keduanya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Tangannya meraih bantal di atasnya namun terganjal sesuatu.

Jeremy kemudian terduduk, meraih selimut guna menutupi tubuh Nathalie dari terpaan dinginnya udara yang keluar dari pendingin ruangan. Ia mengambil bantal dan menemukan sesuatu yang tadi sempat mengganjal di bawah bantal tidurnya.

Kotak berukuran sedang, berwarna mint. Jeremy lantas menatap Nathalie penuh rasa penasaran, sedangkan wanita yang tengah menetralkan nafasnya itu hanya tersenyum lalu mengangguk, memberikan kode agar Jeremy segera membukanya.

“Kamu beliin aku kado apa Nath? Jam tangan? Tapi kok ringan gini.” Jeremy berujar sembari menggoyahkan kotak tersebut.

“Buka aja.” Titah Nathalie.

Jeremy kemudian membuka secara perlahan kotak tersebut, dan netranya membelalak ketika melihat isinya. Rona wajahnya tampak semburat merah penuh kebahagiaan. Di dalam kotak itu berisikan sebuah testpack dengan garis dua menandakan Nathalie kini tengah mengandung buah cintanya.

“Nath, seriously???”

“Yes!” jawabnya tegas.

Jeremy lantas memeluk erat-erat tubuh Nathalie dan mencium keningnya berkali-kali guna menyalurkan rasa bahagia yang di rasakan saat ini sungguh tiada tara.

“Kenapa kamu nggak bilang dari awal Nath? Aku tadi terlalu keras ya? Kamu sakit?”

“Aku mau kasih kejutan Jer, jadi aku tahan-tahan aja.”

“Nggak bisa kayak gitu Nath, kasian calon baby-nya. Besok kita ke rumah sakit ya? Aku libur sehari, mau nemanin kamu periksa.” Ujarnya, tangannya mengusap pucuk kepala Nathalie.

“Abis periksa kan kamu bisa ke kantor Jer, nggak perlu sampai nggak masuk kerja.”

“Gapapa Nath, aku bos-nya. Bebas dong, suka-suka aku.” “Aku mau sama kamu seharian.”

Nathalie hanya terkekeh. Jeremy kemudian mensejajarkan tubuhnya di samping Nathalie. Keduanya kini tengah berbagi kehangatan lewat peluk dan rengkuh di balik selimut tebal yang hangat.

“Go to sleep, babe..” Ucap Jeremy sembari mengecup puncak kepala Nathalie.

“Iya, calon papa adek bayi.” Sahut Nathalie, wajahnya ia benamkan pada dada bidang sang suami.

Keduanya lalu tertawa bersamaan. Bahagia yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Perjalanan Jeremy dan Nathalie baru saja di mulai.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for JJH's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip

Seorang wanita tengah menghabiskan malam di temani beberapa botol wine yang berjajar rapi di atas meja. Raut wajahnya terlukis jelas gurat rasa lelah yang yang ia pikul sendirian. Netranya sayu menatap hamparan lampu yang menghias ibu kota dari dalam hotel berbintang yang berdiri kokoh tinggi menjulang. Malam itu ia tengah menanti seseorang yang biasa menemaninya menjelajahi mimpi.

Ia teguk kembali tiap tetes cairan yang sangat memabukkan itu, dirinya-pun larut dalam angan-angan. Sejak sore wanita itu terlibat pertengkaran dengan Damian, masalah sepele menurut dirinya namun tidak bagi Damian. Hingga larut malam lelaki yang di tunggu-tunggu sama sekali tidak bisa di hubungi dan wanita itu tidak mengetahui keberadaannya membuatnya semakin frustasi.

Damian mungkin sudah bosan dan muak dengan adab seorang wanita bernama Gladys Anastasya. Bekerja dengan wanita itu bukan perkara mudah apalagi berurusan dengan hati. Dua tahun yang di lalui bersama cukup menguras emosi, waktu yang tidak sebentar ketika Damian bersikeras mendapatkan kepastian namun nyatanya nihil. Sang puan melenggang tanpa beban sedangkan dirinya kelimpungan menahan perasaan dan hasrat yang harus di pendam dalam-dalam. Damian dan Gladys tidak ada bedanya, sama-sama mempunyai sikap keras dan ego yang tinggi.

Klek...

Suara decitan pintu terdengar lantang di telinga, Gladys sontak berdiri dan mencari ke arah sumber suara. Tak lain adalah Damian, wanita itu terhuyung saat berjalan menghampiri Damian dan memeluknya erat seakan tak mau di tinggalkan. Beberapa jam yang lalu, lelaki itu sempat meminta ijin untuk pergi. Bukan sekedar pergi ke suatu tempat namun pergi menjauh dan berhenti dari segala aktivitas yang berdampingan dengan Gladys.

Tangan kekar itu mengusap pelan punggung Gladys, mencoba menenangkan wanita yang tengah terisak dalam tangis.

“Dys.. Nggak usah nangis. cengeng, jelek.” Ucapnya lirih. Sang puan semakin mengeratkan pelukannya dan menggelengkan kepalanya.

“Jangan tinggalin gue. Gue gak bisa kalau gak ada lo, Dam..” Ucap wanita itu, kepalanya mendongak menatap wajah Damian dari bawah. Lelaki itu membalas tatapan sang puan kemudian mengusap pucuk kepalanya lembut dan mengecup bibirnya singkat. Damian sesungguhnya sudah menyerah dengan hubungan yang tidak pernah ada titik temu. Lelaki itu tulus menyayangi Gladys namun sang puan lebih memilih saling berbagi ranjang dan kenikmatan tanpa harus ada embel-embel status.

“Lo udah habis berapa botol? Mau gue temenin minum?” Tawar Damian dan di jawab anggukan oleh Gladys. Tangan wanita itu masih melingkar pada perpotongan leher Damian. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher sang tuan, semakin erat hingga Damian tidak bisa bergerak.

Damian sangat paham dengan sikap Gladys kala itu, sudah sangat lama bersama membuat dirinya hafal bahkan di luar kepala. Damian meremas bokong sintal milik sang puan yang hanya mengenakan celana dalam, menepuk sedikit keras kemudian mengangkat dan menggendongnya bak seekor koala yang sangat menggemaskan.

Damian duduk di sebuah sofa yang menghadap ke dinding kaca membentang seluas kamar itu, tanpa melepaskan tubuh Gladys yang masih erat menempel pada peluk hangat Damian. Tangan lelaki itu sibuk menjamah bagian tubuh Gladys yang terekspos, meraba dan sesekali meremas paha serta bokong sintal milik wanita itu. Sedangkan Gladys merasa tubuhnya menerima rangsangan yang di ciptakan oleh Damian, membuat tubuhnya bergidik merinding.

“Dam..”

“Hmm..”

“Jangan ninggalin gue.” Rengek Gladys dengan raut wajah memohon penuh harap. Lelaki itu memalingkan muka kemudian mengambil gelas berisi wine di atas meja dan meminumnya. Damian tidak bisa tahan dengan rengekan, tatapan sayu, dan gurat wajah ayu wanitanya selalu membuat dirinya lemah. Setelah meletakkan kembali gelas di atas meja yang berada di belakang tubuh Gladys, ia kemudian menangkup kedua pipi sang puan dan menatap matanya.

“Dengerin gue. Keinginan gue gak muluk Dys, tapi lo anggap sepele.” “Gue cuma pengen ada kejelasan sama hubungan kita, backstreet-pun gak masalah kalau lo gak mau di ketahui publik. Tapi lo tetep gak mau. Gue gak bisa kayak gini terus Dys, gue lebih baik pergi dari lo. Sekarang lo bisa bebas jalan sama cowok lain, tidur sama cowok lain atau lo mau balikan sama Erick? Lo bebas sekarang.” Cecar Damian bertubi-tubi, meledakkan amarah yang mendidih di otaknya.

“Gue gak bisa Dam, gue gak bisa tanpa lo!” Ucap Gladys, bulir air mata yang di tahan sedari tadi akhirnya lolos mengalir membasahi pipinya. Dua tangan yang masih menangkup pipi wanita itu ia gunakan untuk mengusap tetesan air mata yang menutupi wajah cantiknya, lalu ia kecup lembut kening sang puan. Damian kemudian mengangkat tubuh Gladys dan mendudukan di sofa tepat di sebelahnya.

“Ngomong sama lo kayak ngomong sama tembok. Keras.” Damian berujar sembari berdiri dan berjalan ke arah dinding kaca guna melihat hamparan lampu kota yang terlihat meriah. Dua tangannya ia selipkan pada saku celana, angan Damian tak jauh-jauh dari sosok Gladys yang di cintainya.

Dengan langkah gontai wanita itu menghampiri Damian yang tengah menikmati panorama malam. Ia peluk tubuh tegap dan gagah itu, mengusap sensual perut juga dada lelaki itu. Damian tidak bergeming, ia tengah mati-matian menahan hasrat ketika Gladys terus menggodanya.

“Dam.. I'm yours, please stay here. Gue cuma punya lo Dam, apapun. Tubuh gue, bahkan nyawa gue sekalipun milik lo. Please, jangan tinggalin gue.” Ujarnya. Gladys jelas tidak bisa jauh-jauh dari Damian. Bukan tanpa sebab, lelaki itu selalu ada 24/7 dalam kehidupannya. Mulai dari memejamkan mata hingga ia membuka kembali matanya. Tugas Damian bahkan melebihi seorang manager, apapun di lakukannya demi Gladys.

Lelaki itu menoleh ke belakang saat wajah Gladys menempel pada ceruk lehernya. Hembusan nafas wanita itu terasa jelas menembus permukaan kulitnya. Damian kemudian membalikkan badannya, dan membawa tubuh Gladys ke hadapannya. Menyudutkan sang puan dalam kungkungan hingga tubuh wanita itu melekat pada dinding kaca di belakangnya. Damian membelai rambut wanitanya lembut, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Dua netra beradu seakan mereka menemukan titik temu.

Tangan Damian mengusap lembut pipi Gladys sebelum akhirnya mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. Damian sungguh tidak bisa jauh dari Gladys, namun berada di dekatnya-pun seperti menyakiti diri sendiri. Ciuman yang awalnya lembut kelamaan menjadi sangat menuntut. Tangan Damian tak bisa diam, satu persatu melepaskan kancing kemeja kebesaran yang di kenakan Gladys, tak lain itu adalah pakaian milik Damian. Wanita itu-pun tak mau kalah, tangannya menelusup pada kaos tipis yang di kenakan oleh Damian. Meraba perut dan dada sang tuan dengan sensual. Tanpa melepaskan pagutan diantara keduanya, Damian berhasil melucuti pakaian yang menempel pada tubuh Gladys.

“Promise me.. Don't leave me alone.” Ucap Gladys dengan wajah memohon, namun Damian sama sekali tidak bergeming.

“Gue gak akan ninggalin lo Dys, asalkan lo nurut sama perintah gue.” Timpal lelaki itu, ia mulai jengah dengan sikap Gladys yang menurutnya egois dan keras kepala. Gladys mengangguk bener kali tanda setuju dengan permintaan Damian. Detik berikutnya wanita itu beraksi sangat beringas, Gladys melepaskan kaus yang di kenakan Damian dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian melepaskan belt melucuti celana jeans milik lelaki itu hingga tersisa boxer-nya saja. Di hadapannya aset milik Damian terlihat hampir ereksi sempurna.

Tanpa basa basi, wanita itu menanggalkan satu-satunya penutup di tubuh Damian. Ia berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya pada kepunyaan Damian yang sedari tadi ia urut dengan lembut dan sensual membuat batang penis yang sudah tegang itu menjadi keras sempurna. Tangan Gladys sangat mahir memberikan pijatan lembut sembari mencocoknya pelan sebelum akhirnya mulut mungilnya melahap batang besar itu. Gladys mengulum sembari mengocok pelan batang penis milik Damian, sesekali menjilat penis lelaki itu dari pangkal hingga ujungnya sembari memainkan twin ball milik sang tuan. Tangan kiri Damian ia gunakan untuk bertumpu pada dinding kaca di depannya, sedangkan tangan kanannya mencengkeram erat rambut wanitanya yang terurai dan sedikit berantakan. Tangan Damian terus bergerak memaju mundukan kepala sang puan dan mengatur tempo sesuai keinginannya. Air mata Gladys mengalir pada sudut matanya saat ujung penis Damian menusuk tepat pada kerongkongannya. Ia tidak bisa berontak bahkan saat Damian berlaku kasar saat berhubungan badan.

“Ouhh.. Fuck! I like it, Dys..” Racau lelaki itu, matanya terpejam dan kepalanya mendongak karena blow job yang di lakukan Gladys sangat lihai dan memuaskan. Menit berlalu tiba-tiba saja Damian meminta wanita itu berhenti pada aktivitasnya.

“Stop Dys.” Pinta Damian. Sontak Gladys-pun berhenti, lalu menatap lekat wajah lelaki itu dari bawah. Damian kemudian mengangkat tubuh Gladys dan membalikkan tubuh wanita itu ke arah dinding kaca, hingga tubuhnya menempel pada dinding. Dua tangan Gladys reflek menumpu tubuhnya pada dinding kaca, matanya terpejam dan sejenak berpikir apa yang akan di lakukan Damian padanya.

Menit berikutnya Damian melepas bra yang di kenakan Gladys, serta merobek celana dalam yang menurutnya sangat mengganggu ketika ia hendak melancarkan aktivitas seksualnya.

Plak!

Damian menampar bokong sintal milik Gladys hingga suaranya nyaring terdengar.

“AHH!” Pekik wanita itu, matanya kembali terpejam saat merasakan perih pada bokongnya. Damian kembali meremas bokok Gladys dengan sangat sensual, bibirnya sibuk mencumbu sang puan. Ia kecup basah pada bagian lehernya dan sesekali menjilat belakang telinga Gladys membuatnya semakin terangsang.

Damian berjongkok berada di belakang tubuh Gladys, beberapa kali meremas bokong milik wanitanya sebelum akhirnya menjilat dan menyesap liang surgawi milik Gladys dari arah belakang. Wanita itu reflek mencondongkan tubuhnya agar Damian bisa mengakses miliknya dengan mudah.

Gladys tak henti-hentinya mendesah dan mengerang nikmat saat lidah Damian bermain di bawah sana. Bibirnya menyesap kepunyaannya, kemudian lidahnya menusuk-nusuk dalam liangnya.

“Aahh... Ouhh...” Desah Gladys, menikmati sensasi permainan lidah Damian yang tidak pernah mengecewakan. Tubuh wanita itu bergerak resah saat lidah dan bibirnya menyesap, menjilat penuh nafsu. Tangan kanan milik lelaki itu menyapa klitorisnya dan sibuk bermain disana membuat suara desah Gladys semakin keras terdengar.

“Ahh.. Dam, please..”

Mendengar Gladys tengah memohon padanya, lelaki itu justru menghentikan aktivitasnya hingga membuat sang puan sedikit frustasi. Jika Damian tidak menghentikannya mungkin Gladys sudah mencapai pelepasannya yang pertama. Damian kemudian berdiri di belakang Gladys, satu tangannya ia gunakan untuk mengocok penisnya perlahan sebelum akhirnya melesatkan miliknya pada liang kenikmatan milik Gladys.

“Ahh..” Desah Gladys. Perlahan Damian menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Kedua tangan Gladys bertumpu pada dinding kaca, pemandangan malam yang indah menjadi suguhan di tengah penyatuannya. Tangan kiri Damian sibuk memainkan gundukan payudara yang menyembul bebas, sedangkan tangan kanannya memainkan klitoris milik wanita itu.

Gladys benar-benar di buatnya terbang ke langit ke tujuh. Damian tidak pernah gagal membuatnya candu saat bercinta. Salah satu alasan Gladys tidak mau di tinggalkan olehnya adalah urusan ranjang dengan Damian melebihi apapun.

Damian tidak membiarkan tubuh Gladys kosong barang satu inci-pun. Tangannya bergerilya menjamah tiap lekuk tubuh wanita itu. Bibirnya mencium basah, menjilat leher dan meninggalkan bercak kemerahan di sana. Damian seakan tidak peduli jika kissmark yang ia tinggalkan di leher akan membekas dan terlihat jelas. Hentakan demi hentakan pinggul Damian berkali-kali menumbuk titik terdalam milik Gladys, bibirnya mengeluarkan erangan dan desahan tanpa henti.

“D-Dam.. Ahh..”

“You wanna cum?” Tanya-nya. Gladys hanya mampu menganggukkan kepala saja. Tubuhnya lelah, miliknya tengah di hujam habis-habisan oleh Damian. Lelaki itu kemudian mencengkeram helaian rambut yang terurai, menariknya dengan sedikit kasar hingga wanita itu mendongak sembari mendesah dan memejamkan matanya. Damian menambah tempo hentakan di bawah sana menjadi lebih cepat dan keras. Liang vagina milik Gladys mulai berkedut dan terasa sesak, bersamaan dengan milik Damian yang terasa penuh ketika hendak menjemput pelepasannya.

“Dys..”

“Ahh... Huh?” Wanita itu terlihat kesulitan menetralkan nafasnya.

“Luar atau dalem?” Tanya Damian di sela penetrasi.

“Dalem, please.. Please..” Damian menuruti permintaan wanita itu, ia semakin bersemangat mempercepat tempo dan hentakan hingga Gladys tidak sanggup lagi menahan pelepasannya.

“Aahhh...” Desahannya begitu keras. Netranya terpejam, tubuh wanita itu bergetar dan menggelinjang hebat saat menjemput pelepasannya. Tak berselang lama lelaki itu-pun menyemburkan cairan spermanya ke dalam rahim Gladys. Tubuh wanita itu melemas tak berdaya, kakinya-pun sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.

Damian memeluk wanita itu setelah pelepasannya, mengecup beberapa kali bahu sang puan tanpa melepaskan penyatuan di bawah sana. Tangannya mengusap dan membelai surai panjang kecoklatan milik wanita itu.

“Dam, apa mau gini terus?” Tanya Gladys ketika ia merasa kakinya sudah sangat lemas.

“Lo gak kuat berdiri?”

“Kaki gue lemes.” Jawab wanita itu singkat. Damian kemudian perlahan melepaskan pertautan di bawah sana. Ia membalikkan tubuh Gladys agar berhadapan dengannya. Wajah sayu dan berantakan adalah pemandangan paling favorit bagi Damian. Detik berikutnya Damian mengecup bibir dan kening Gladys sebelum akhirnya membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Tanpa Damian di sampingnya wanita itu tidak bisa mengatur hidupnya dengan baik. Tanpa Damian hari-hari yang di jalani oleh Gladys akan terasa hampa dan sunyi.

Gladys sangat membutuhkan Damian, sampai kapanpun.

“Dam, lo gak ninggalin gue kan? Lo tetap stay sama gue kan?” Ucap wanita itu.

“Dys, ini kesempatan terakhir. Kalau lo mau nurut, gue tetap tinggal tapi kalau sikap lo gak berubah, gue beneran pergi dari lo.” Cecar Damian, wanita itu mengangguk beberapa kali sembari tersenyum karena Damian memberikan kesempatan padanya. Detik kemudian lelaki itu mencium bibir Gladys dengan gerakan kasar. Dua bibir yang bertemu dan saling bertukar saliva itu kelamaan menjadi lumatan yang sangat menuntut dan berangsur beberapa menit, hingga memancing nafsu birahi. Tangan Damian tergerak meremas bokong sintal wanita itu dan mengangkatnya ke dalam gendongannya. Lelaki itu membawa tubuh Gladys menuju ranjang besar dan merebahkannya di sana. Damian berada di atasnya dan mengunci tubuh Gladys hingga tidak bisa bergerak sedikitpun. Lelaki itu kembali melumat bibir sang puan penuh nafsu. Gladys yang merasa kewalahan dan hampir kehabisan nafas, akhirnya mendorong pelan dada bidang lelaki itu.

“Dam,—”

“Second round, oke?” Ucap Damian dan detik berikutnya lelaki itu mencium dan menjilat leher Gladys dengan kasar.

“AH! No! Dam.. Please...”

Damian malah membalikkan tubuh wanita itu dan menindihnya, ia loloskan lagi penisnya ke dalam pusat tubuh sang puan. Tangannya menarik kasar surai kecoklatan milik Gladys hingga membuatnya mendongak sembari melenguh karena batang penis milik Damian kembali menghujam miliknya dengan gerakan keras dan kasar.

“D-Dam pleaseehhh...” Rintih Gladys. Namun Damian tidak peduli. Lelaki itu terus menggerakkan pinggulnya dengan kasar dan menghentakkan pinggulnya hingga menusuk titik ternikmat milik Gladys.

“Lo paling suka di kasarin kan?” Ucap Damian lirih tepat di telinga Gladys, membuat wanita itu bergidik merinding.

Gladys tidak bisa menolak karena permainan kasar Damian sudah sangat biasa baginya, ketika lelaki itu menumpahkan segala amarahnya. Hentakan demi hentakan, hujaman demi hujaman terus berlangsung tanpa henti. Gladys yang berada di bawah kendali Damian tampak kewalahan dengan perlakuan lelaki itu. Dua tangan Gladys perlahan menumpu tubuhnya, agar mengurangi rasa sakit ketika surai indahnya menjadi pegangan sang tuan.

“Dam.. M-mau keluarrhh..”

“You wanna cum again? Huh?” Gladys hanya mengangguk sembari memejamkan matanya.

“Good girl“

Damian semakin cepat menggerakkan pinggulnya dengan kasar, ia juga mengejar pelepasannya agar bersamaan dengan Gladys. Erangan dan desahan keduanya bersahutan hingga memenuhi seisi ruangan kamar hotel tersebut. Damian memegangi pinggul Gladys sembari menghentakkan miliknya dan melepaskan cairan spermanya di dalam sana, bersamaan dengan wanitanya yang mencapai klimaksnya.

“Aahhh... Dammhh...” Desah Gladys, wajahnya menengadah dan netranya terpejam karena merasakan nikmat luar biasa. Damian tidak pernah gagal membuat dirinya merasakan sakit dan nikmat dalam waktu yang bersamaan. Salah satu alasan Gladys tidak pernah mau lepas dengan Damian. Sesakit dan sekeras apapun Damian memperlakukan dirinya di atas ranjang, tetap menjadi candu bagi wanita itu. Keduanya saling membutuhkan, keduanya mempunyai rasa saling memiliki namun untuk merealisasikan kejelasan hubungan mereka terlalu sulit. Entah sampai kapan mereka mampu bertahan, tidak ada yang tau.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for Kdy's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip


Thank you!❤

Suara dentuman musik Dj menggelegar, menggema hampir saja memecahkan gendang telinga. Para muda mudi tengah asik di lantai dansa, menggoyangkan tubuhnya mengikuti riuhnya alunan musik. Bagi yang lain, duduk di antara meja berbentuk bundar dan sofa yang melingkar sembari menuangkan minuman dan memutar gelas lebih mengasikkan ketimbang menari di lantai dansa. Tidak terkecuali Jodie dan Elissa, keduanya tengah menghabiskan malam perayaan ulang tahun Jodie di sebuah club yang biasa ia kunjungi bersama rekan kerjanya. Entah sudah berapa kali putaran dua insan itu menikmati pahitnya minuman beralkohol yang efeknya sangat memabukkan.

Malam itu Elissa terlihat lebih cantik dan menarik dari biasanya. Tentu saja akan selalu cantik di mata Jodie, apapun yang di kenakan oleh wanita itu selalu terlihat sangat cocok di tubuhnya. Di malam perayaan ulang tahun sang kekasih, Elissa mengenakan mini dress berwarna hitam backless yang mengekspos punggungnya sampai bagian pinggang, kaki jenjangnya di percantik dengan heels hingga membuat tinggi tubuhnya hampir sejajar dengan Jodie.

Semakin malam, suasana semakin ramai. Orang-orang berdatangan juga berpasang-pasangan memenuhi ruangan juga lantai dansa. Dari sekian banyak rekan kerja Jodie atau teman sepermainan lelaki itu, Elissa mengenal sebagian dari mereka. Tak ayal wanita itu bisa berbaur dengan mereka. Di tengah canda tawa yang riuh, tiba-tiba saja suara seorang wanita yang tak asing memanggil nama Jodie.

“Jodie!!” Panggil seorang wanita dari jarak yang tak jauh dari tempat duduknya. Lamat-lamat sosok wanita tersebut perlahan mendekat. Tubuhnya tinggi semampai dan berwajah ayu tengah berjalan menghampiri Jodie.

“Sarah?? Hey.. Long time no see.” Balas Jodie sembari melayangkan peluk selayaknya dua kawan yang lama tidak bertemu. Elissa yang duduk di sebelahnya terperangah cukup kaget akan kehadiran wanita itu. Sarah adalah mantan kekasih Jodie sewaktu keduanya mengeyam pendidikan di bangku kuliah. “Kebetulan atau sengaja??”—batin Elissa. Mana mungkin hanya kebetulan semata jika bertemu dengan mantan kekasih tepat di hari ulang tahunnya, keluh Elissa dalam hati.

“How are you, Sa?” Tanya Jodie pada wanita yang kini bergabung dengan tempat mereka dan duduk di sebelah Jodie.

“Baik dong.. Kayak yang lo liat sekarang.” Jawab Sarah dengan kekehan dan di susul Jodie yang tertawa lepas.

“Eh, lo sama siapa?” Tanya-nya lagi.

“Temen-temen gue. Itu di table sebelah.” Jawab Sarah sembari menunjuk meja sebelah yang terisi penuh beberapa muda mudi. Jodie sedikit menoleh kearah yang di tunjuk kemudian mengangguk dan tersenyum.

“Oya, kenalin cewek gue. Elissa.” Ucap Jodie pada Sarah sembari mengusap punggung sang puan yang terekspos. Dua wanita itu beradu tatap dalam gelap sembari menjabat tangan beberapa saat. Suasana menjadi canggung bagi Elissa, wanita yang seharusnya tidak ada di momen ulang tahun Jodie tetapi malah tiba-tiba hadir di sana.

“Sayang, aku ke toilet ya?” Ucap Elissa tiba-tiba ketika emosinya sedikit tersulut akibat dua manusia di sebelahnya bak sedang dalam acara reuni yang tidak di sengaja.

“Mau aku anterin? Toiletnya agak jauh babe.” Pinta Jodie sembari memegangi pergelangan tangan Elissa namun di lepaskan perlahan oleh wanita itu.

“Nggak usah. Aku bisa sendiri, kamu temenin Sarah aja.” Ujarnya, ketus. Elissa beranjak dari duduknya dan meninggalkan lelaki yang sedari tadi netranya mengekor pada sosok kekasih yang perlahan menghilang di antara banyaknya pengunjung malam itu.

“An, tolong ikutin Elissa. Gue takut anaknya ambruk.” Perintah Jodie pada seorang teman bernama Ana. Karena hanya Ana yang tidak banyak minum malam itu. Perempuan bernama Ana itu kemudian meninggalkan meja mereka dan menyusuri kerumunan puluhan orang untuk menemukan Elissa.

Jodie sebenarnya cemas dengan Elissa, pasalnya wanita itu cukup banyak meminum cairan beralkohol dan Jodie yakin saat ini kekasihnya tengah dalam keadaan mabuk.

Sarah yang kini tengah asik berbincang dengannya seakan mengambil kesempatan saat Jodie tak bersama Elissa. Bahkan Sarah semakin betah bercengkerama dengan mantan kekasihnya itu. Membahas A sampai Z perihal banyaknya waktu yang mereka lalui dulu, hingga mengikis jarak diantara keduanya.

Lamat-lamat dari kejauhan sorot mata Elissa menangkap satu tangan yang bertengger di atas paha kekasihnya tanpa rasa canggung, sembari meloloskan canda tawa serta raut wajah bahagia. Kepala wanita itu seperti ingin meledak, hawa panas menggelayuti tubuhnya mana kala melihat Jodie tengah menyodorkan satu shoot berisi minuman pada Sarah yang semakin betah berlama-lama di sana.

“Bajingan.” Umpatnya. Elissa mengepalkan telapak tangannya, geram. Dadanya perih bak di hujam tombak panas, bulir-bulir air di sudut kelopak matanya sudah tidak tertahan dan hampir terjun bebas. Elissa membalikkan tubuhnya bermaksud pergi meninggalkan club tanpa Jodie. Elissa tidak peduli lagi dengan dirinya yang kosong tanpa membawa ponsel dan handbag yang tertinggal di table tempat Jodie berada, yang berputar di otaknya saat ini hanyalah pergi dari tempat tersebut.

Elissa membalikkan tubuhnya berjalan gontai akibat minuman beralkohol yang di konsumsinya sedari tadi bak segelas lemonade yang begitu nikmat. Namun efeknya sudah terasa menjalar ke seluruh tubuh hingga membuatnya limbung. Pandangan matanya kabur di tambah kepulan asap rokok dari berbagai arah membuat dirinya semakin kesulitan melihat dalam gelap. Dua kakinya mencoba tegak menahan berat tubuh di atas heels setinggi 11 cm namun hampir tumbang ketika bersenggolan dengan banyak manusia di dalam sana.

“Auw...” Pekik Elissa saat tubuhnya terpelanting hampir jatuh namun sepasang tangan kokoh berhasil menangkapnya tanpa cidera.

“Lo gak papa?” Sahut lelaki itu sembari membantunya berdiri tegap.

Elissa berpegangan pada lengan kekar yang menopangnya tadi, kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba mengenali sosok lelaki yang tengah berdiri di hadapannya.

“Gapapa, thanks.” Ucap Elissa sembari melenggang pergi tanpa memperhatikan lelaki tersebut. Pengaruh alkohol benar-benar sudah mengaburkan pandangannya.

Lelaki yang sebelumnya menolong Elissa tiba-tiba saja menarik lengan wanita itu, hingga tubuhnya hampir ambruk. Lagi-lagi tangan kokoh itu siap menopang Elissa di tengah puluhan manusia yang berdesakan.

“El, lo mau kemana? Kalau mau keluar bukan lewat situ, bego! Lewat sini, nyet!” Ucap lelaki itu sembari memegangi lengan Elissa dan menariknya mendekat.

“Apaan sih lo, narik-narik gue! Gue nggak kenal sama lo!” Ujarnya, wanita itu berusaha lolos dari cengkeraman namun gagal.

“Liat gue! Gue David. Lo kobam, parah dah.”

“David...”

“Iyaaa, David. Kita satu tim.” Jelas lelaki bernama David itu.

“Ohh... David, kebetulan banget. Gue mau minta tolong sama lo.” Ucap Elissa ketika ia mengingat sosok lelaki bernama David adalah rekan kerjanya.

“Anterin gue pulang dong. Kepala gue pusing banget.” Pinta Elissa sembari memegangi pelipisnya.

“Laki lo kemana? Bukannya lo kalo kesini pasti sama Jodie?” Tanya-nya memastikan. David tidak mau ada salah paham di antara mereka, karena David sudah mengenal Jodie sebelumnya.

“Jodie anjing! Dia malah asik sama mantan pacarnya, ketemu barusan di sini.” Gerutu Elissa, tangannya mengepal penuh amarah.

“Bisanya?” Tanya David.

Tiba-tiba dari arah belakang Jodie mencengkeram lengan Elissa dan menariknya kembali ke tempat semula yang letaknya tidak jauh dari tempat David berdiri. Elissa tersentak kaget, dan berontak setelah melihat lamat-lamat sosok yang menarik tubuhnya adalah Jodie.

“Brengsek! Urusin mantan lo! Nggak usah peduliin gue!” Pekik Elissa setengah berteriak dan berontak, mencoba melepaskan diri dari Jodie.

“El, kamu kenapa? Sarah udah pergi, aku nggak ngapa-ngapain.” Jelas Jodie pelan, ia tidak mau tersulut emosi sesaat karena Elissa terpengaruh oleh alkohol terlebih sekarang mereka sedang di tempat umum.

“Nggak ngapa-ngapain? Mata gue nggak buta Jo! Gue liat Sarah pegang-pegang kamu dan kamu ngasih minuman ke Sarah, kalian ketawa asik banget. Are you happy?! Huh??” Cecar Elissa dengan emosi yang memenuhi kepalanya.

“I'm happy because of you. El, aku cuma anggap Sarah sebagai tamu, it's my birthday.“

“Bullshit! Spend your night with Sarah and don't follow me!” Elissa berujar lalu hendak pergi meninggalkan Jodie, namun lelaki itu lebih cepat menarik pinggang Elissa dan merapatkan pada tubuhnya.

“Elissa! Shit down, now!!” Jodie geram sembari menatap dua bola mata Elissa yang tak berkedip barang sedetikpun.

“Shut up!!” Balas Elissa, jari telunjuknya ia acungkan ke depan wajah Jodie membuat lelaki itu hampir meledakkan hawa panas yang bermuara di kepalanya. Elissa merenggangkan dengan paksa satu tangan Jodie yang masih melingkar indah di pinggangnya, kemudian melenggang pergi dengan langkah gontai.

Elissa menarik dengan paksa tangan David untuk mengikutinya pergi keluar dari tempat itu dan Jodie terus mengekor kekasihnya dari belakang. Beruntung David adalah teman satu tim yang tidak mau memanfaatkan keadaan, —pun Jodie adalah kekasih yang masih bisa bersabar menghadapi sikap Elissa yang tidak terkontrol.

“Lo mau anter kemana?” Ucap Jodie lirih sembari menepuk pundak David.

“Elissa bilang ke apartemen.” Jawab David setengah berbisik.

“Ke hotel Neo aja, gue nyusul di belakang.”

“Oke.”

“Thank you, bro” David mengangguk kemudian tangannya melingkar di pinggang Elissa, guna mensejajarkan langkahnya. Wanita itu sebenarnya tidak merepotkan pada saat di bawah pengaruh alkohol tetapi Elissa terkadang tidak bisa mengontrol emosi jika ada yang memancingnya.

“El, merem deh kalau pusing.” Ucap David, tangannya memakaikan seatbelt pada tubuh Elissa. Wanita itu tidak bergeming, ia sudah memejamkan matanya sejak memasuki mobil.

Mobil David melaju pelan di ikuti Jodie di belakangnya. Satu hari sebelumnya Jodie dan Elissa memang sudah menginap di hotel Neo, sehingga malam itu Jodie meminta David untuk mengantarkan Elissa kembali ke hotel.

Sesampainya di basement David memapah Elissa, membantunya berjalan menuju lift. Jodie-pun sudah berada di depan pintu lift menunggu mereka. David mengoper tubuh Elissa ke dalam peluk Jodie dan di rengkuhnya erat, namun Elissa belum sadar jika ia bersandar pada tubuh kokoh milik kekasihnya.

“Thank you ya Vid.” Ucap Jodie lirih sembari melayangkan kepalan tangan dan di balas oleh teman satu tim Elissa.

“Oke bro.” Balasnya, kemudian pergi.

Jodie dan Elissa kemudian menaiki lift untuk naik ke lantai 10. Lelaki itu memeluknya erat, mengusap punggung sang kekasih yang terekspos jelas memamerkan kulit putih dan mulusnya. Wajahnya ia sandarkan pada ceruk leher Jodie tanpa sadar, perlahan tangan kanan wanita itu melingkar pada perpotongan leher lelaki itu dan masih menganggap sosok yang sedang mengantarnya kali ini adalah David. Tinggi badan David yang tak jauh berbeda dengan Jodie membuatnya samar untuk mengenalinya.

“David, jangan bilang laki gue kalau balik ke apartemen ya? Gue pengen sendirian.” Jodie tidak bergeming mendengar racau kekasihnya.

“Anjing. Mantannya gatel. Lo tau nggak? Masa gue liat si Sarah Sarah itu ngelus-ngelus paha Jodie. Gatel kan Vid?” Racau Elissa semakin menjadi ketika dirinya belum menyadari bahwa orang yang sedari tadi memeluknya, membantunya berjalan, bahkan yang menenteng heels-nya adalah Jodie.

“Pin apart gue 090295.” Ucap Elissa ketika ia merasa sedang berhenti di depan pintu. Namun Jodie hanya diam saja, ia menempelkan cardlock pada gagang pintu kemudian memasuki kamar hotel.

“Lo kenapa sih diem aja, anjing! Jawab gue!” Elissa memaki lelaki yang sedari tadi masih setia dengan tangan yang bertengger di pinggangnya.

“Aku Jodie, babe.. Bukan David. Kita pulang ke hotel, bukan ke apart.” Balas Jodie lembut, deru nafas lelaki itu menyeruak di telinga Elissa hingga membuatnya merinding lalu kembali berontak.

“Lepasin gue!” Pekik wanita itu melepaskan tangan Jodie dari peluknya. Wanita itu berjalan sempoyongan ke arah pintu, hendak keluar dari ruangan tersebut namun di tahan oleh Jodie. Tangan kekar lelaki itu mencengkeram lengan sang kekasih lalu menariknya mendekat hingga melekat pada tubuhnya. Dua netra saling bertemu, nafas mereka saling beradu, serta jantung yang kian berdegup memburu.

Jemari Jodie menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah sayu sang kekasih, mengecup bibirnya singkat lalu tersenyum.

“El, aku di sini sekarang, sama kamu.” Elissa tetap berontak dan tiba-tiba seperti kesetanan, emosinya meletup tanpa kendali.

“Lepasin Jo! Aku mau pulang!” Ujarnya sembari melepaskan diri dari kekasihnya.

“Kita pulang ke hotel, sayang.. Kamu bilang pengen nginep di hotel kan?” “Babe, it's my birthday. I want to enjoy with you” Ucap Jodie semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Elissa.

“It's your birthday but laughing happily with your ex??“ “I see from a distance, my boyfriend laughs happily without me!” Cecar wanita itu, tangan dan tubuhnya sibuk bergerak keluar dari rengkuh sang kekasih.

“Elissa..”

“Diem, Jo.”

“El, sit down.“

“No. I will go.” Sorot mata Elissa tajam menembus remang cahaya di dalam kamar hotel itu.

“El, do I have to be rough if you won't listen to me?” Ujarnya sembari menarik pergelangan tangan Elissa.

“Try if you can. Aku belum pernah liat seberapa bisa kamu bersikap kasar sama aku.” Ucap Elissa tanpa ragu. Wanita itu mungkin sedang menganggap remeh perkataan kekasihnya, padahal yang sebenar-benarnya Jodie sedang menahan hawa panas dan emosi yang sudah hampir meledak.

Detik kemudian Jodie mengangkat tubuh wanita itu ke atas bahunya dengan posisi terbalik.

“Fuck! Turunin aku, Jo!” Pekik wanita itu sembari memukul punggung kekasihnya beberapa kali namun Jodie tidak bergeming. Lelaki itu menghempaskan tubuh mungil Elissa ke atas ranjang besar di hadapannya.

Elissa mengerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha bangkit dari posisinya. Wanita itu merasakan goncangan yang luar biasa hingga menyebabkan kepalanya seakan berputar dan pandangannya pun ikut kabur. Jodie lalu melepaskan kemeja yang ia kenakan guna mengikat kedua tangan Elissa dan meletakkan di atas kepala sang puan agar tidak bergerak kemanapun.

“Jo..”

“I'm sorry babe..” Ujarnya, sepersekian detik tangan kekar Jodie merobek paksa dress yang menutup lekuk tubuh sang kekasih hingga mengekspos seluruhnya dan hanya menyisakan celana dalamnya saja.

“Oh, fuck! Jo..” Elissa mengumpat ketika dua tangan yang berada di atas kepalanya tidak berdaya, tidak mampu menahan gerak kasar Jodie ketika merobek paksa dress yang baru saja ia beli dua hari lalu.

Jodie mencium kasar bibir Elissa yang masih mengatup rapat, tanpa menyisakan sedikitpun celah untuk di jamah oleh bibir lelaki itu. Namun Jodie tidak habis akal agar Elissa menurut takluk di bawah kuasanya. Tangan lelaki itu meraba, menjamah, setiap jengkal tubuh kekasihnya tanpa terlewat barang satu inci-pun. Elissa menahan mati-matian lenguh agar tidak keluar dari bibirnya ketika gairahnya di bakar paksa oleh Jodie. Namun tetap saja gagal pada saat tangan kekar Jodie meremas payudara miliknya kemudian berujung mencubit kecil puncak payudaranya.

“Ahh...” Lenguhan tidak sengaja keluar dari bibirnya. Dengan gerak cepat Jodie berhasil menjamah serta melumat bibir manis milik Elissa. Menyesap dan mengabsen tiap inci dalam rongga mulut wanita itu. Kelamaan Elissa-pun tidak bisa lagi berontak. Jodie yang kini sedang menindih tubuhnya membuat dirinya tidak bisa bergerak dan melawan.

Pertahanan Elissa akhirnya runtuh, lumatan di balas dengan lumatan. Sentuhan jemari Jodie yang menjamah tubuhnya bak asupan energi mengalir pada pembuluh darahnya. Jodie berhasil menguasai tubuh Elissa saat ini, ia mendaratkan kecupan-kecupan basah pada telinga, leher dan turun pada dua payudaranya yang sintal. Lelaki itu mengecup, menjilat serta menyesap permukaan kulit Elissa hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.

Lenguh dan desah tak henti-hentinya lolos dari bibir Elissa. Kekasihnya memang tidak pernah gagal membuat dirinya mabuk kepayang dan hampir gila. Pada saat lidah Jodie sibuk memainkan puting Elissa dengan lidah serta mengulum dengan rakus dua payudaranya secara bergantian, satu tangan yang lain bergerak turun untuk menyapa area kewanitaan sang kekasih yang sudah lembab dan basah terbungkus celana dalam berwarna hitam.

“Ngghh.. Jo..” “Ahh..”

Desah yang keluar dari bibir Elissa terdengar semakin resah. Tubuhnya menggeliat ketika jari-jari lelaki itu dengan telaten memijat, mengusapnya dengan lembut serta menggodanya dengan meloloskan ibu jari untuk menyapa klitoris Elissa.

Jodie kemudian melepaskan penutup terakhir yang melekat pada tubuh Elissa. Ia lepaskan celana dalam berwarna hitam yang di kenakan sang kekasih dan melempar ke sembarang arah. Lelaki itu juga melucuti celana yang masih menutupi bagian bawah miliknya, menyisakan boxer saja. Elissa tampak pasrah, ia tidak lagi berontak atau melawan. Bahkan tubuhnya mulai relax menerima berbagai rangsangan yang di berikan oleh Jodie.

Lelaki itu turun dan mensejajarkan wajahnya di depan liang surgawi milik sang kekasih. Meskipun samar karena ruangan yang minim cahaya namun terlihat jelas, milik Elissa di bawah sana sudah basah akibat ulah Jodie yang membuatnya kelimpungan di terjang gelora nafsu birahi.

Tanpa aba-aba, tanpa persetujuan dari sang pemilik surgawi, Jodie menjamah liangnya menggunakan lidahnya yang basah dan hangat. Menyapu liang surgawi milik Elissa hingga menyentuh klitoris yang memerah seakan meminta untuk di jamah.

“Mpphh.. Ahh..”

Elissa kembali meloloskan desah di penuhi resah. Libidonya benar-benar naik dalam waktu yang sangat singkat, birahinya membara seketika melewatkan kejadian ricuh beberapa jam lalu. Bukan Jodie jika dirinya tidak mampu meluluhkan segala macam amarah yang bersarang di benak kekasihnya, hingga berhasil membuatnya mencair.

Dua tangan kokohnya menahan gerak kaki Elissa, bibir dan lidah Jodie masih sibuk dengan kegiatannya di bawah sana. Mengecup, menjilat serta menggigit kecil klitorisnya hingga membuat tubuh wanita itu beberapa kali menggelinjang. Jemari milik Jodie kini berperan penting memuaskan sang kekasih. Ia meloloskan jari tengah dan jari manisnya untuk mengakses liang kenikmatan yang sudah sangat basah.

Jodie menggerakkan dua jarinya dengan tempo sedang guna lebih merangsang Elissa untuk meraih pelepasannya. Kelamaan temponya ia percepat seiring lenguh racau sang puan semakin nyaring, memohon agar ia cepat-cepat mendapatkan pelepasannya.

“Faster please, babe..”

“Like this?” Ujarnya sembari menatap lamat wajah Elissa yang sayu serta keringat yang membasahi sebagian wajah ayu-nya.

“Ouh.. Yes, please.. Please, Jo..” Desah dan racau Elissa semakin menjadi seiring jemari Jodie yang mempermainkan miliknya tiap detik semakin cepat temponya. Jodie memandangi raut wajah sang kekasih yang sudah berantakan adalah candu bagi dirinya. Helai rambutnya sebagian menutupi wajah ayu sang puan, bibirnya menganga mengeluarkan segala macam desah dan racau tanpa henti. Dadanya membusung ketika gelombang pelepasan akhirnya datang, di jemputnya dengan desah yang begitu keras.

“Ahh...”

Tubuh Elissa menggelinjang hebat, kakinya bergetar acak, netranya terpejam merasakan gelombang pelepasannya yang begitu nikmat. Jodie mengeluarkan dua jarinya dari liang hangat yang baru saja mengeluarkan cairan khas pelepasan. Kemudian lelaki itu menyesap jarinya yang basah akibat carian milik sang kekasih sembari tersenyum manis dan menggoda Elissa.

Elissa hanya tersipu sembari merutuki dirinya sendiri yang sangat lemah ketika berhadapan lelaki itu. Buktinya, di cumbu sang kekasih perlahan melunturkan amarah yang sedari menggelayuti dirinya.

Jodie turun dari ranjang besar guna mengambil kondom yang di letakkan pada laci nakas, samping tempat tidurnya. Lelaki itu melepaskan kain penutup asetnya kemudian melapisi batang penisnya yang sudah menegang sempurna menggunakan kondom tersebut. Ia kemudian naik ke atas ranjang, mengungkung tubuh sang kekasih yang tengah mengatur nafasnya yang tersengal.

“I'm sorry, babe. I did not mean it. Aku sama Sarah udah putus lama, tadi juga nggak sengaja ketemu. Kenapa kamu marah-marahnya kayak mergokin aku lagi selingkuh?” Ucap Jodie sembari mengusap pucuk kepala Elissa dan mengecup keningnya.

“Lah dia pegang kamu, ngusap paha kamu. Dia itu mantan kamu Jo, mantan kamu! I'm jealous.“

“Iya, itu hak kamu buat cemburu, karena aku pacar kamu. Tapi Sarah nggak pegang-pegang seperti yang kamu bayangkan, El. Dia cuma minum sekali terus pamit buat balik ke temen-temennya.”

“Tadi kamu malah mau pergi sendiri? Maksudnya apa? Kalau di depan tadi nggak ada David gimana? Bisa jadi kamu di bawa kabur orang nggak kenal, aku mau nyari kemana coba? Marah boleh tapi jangan egois sampai membahayakan diri sendiri. Paham nggak?” Lanjut Jodie.

Elissa mengangguk pelan apa, lelaki itu kemudian tak henti-hentinya mengecup hampir seluruh wajah sang kekasih, mulai dari kening, dua kelopak mata, hidung, dua pipi yang mungkin sudah memerah, dan berakhir di bibir ranum Elissa.

“Maafin aku ya kalau tadi bikin kamu nggak nyaman..” Ujarnya sembari mengusap lembut pipi sang puan.

Elissa mengangguk beberapa kali, senyumnya terbit menghias wajah sayunya.

“Time to make love, right?” Ucap Jodie menggoda sembari mencubit hidung sang puan, lalu di sambut kekehan kecil dan wajah tersipu oleh Elissa.

“Jo...” Elissa mengangkat dua tangan yang masih terikat, memberi isyarat agar Jodie melepaskan ikatan itu. Namun tidak untuk kali ini, Jodie hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.

Jodie hanya terkekeh melihat Elissa mengerucutkan bibirnya, lelaki itu kemudahan mendaratkan satu kecupan singkat pada bibir sang puan.

“Let's play, girl.“

Jodie bertumpu pada dua lututnya di hadapan Elissa, lalu membalikkan tubuh wanita itu dengan posisi Elissa berada di depannya. Jodie membawa dua tangan sang kekasih yang masih terikat rapi itu ke atas headboard untuk bertumpu.

Tubuh indah Elissa tidak lepas dari kecupan-kecupan mesra yang di layangkan Jodie padanya. Mulai dari tengkuk, bahu, punggung, hingga turun ke pinggang dan bokong sintal miliknya kini telah basah akibat kecupan basah dan nakal oleh Jodie berhasil kembali menaikkan libidonya dan kembali terangsang.

PLAK!

“Ahh..” Pekik wanita itu ketika Jodie melayangkan tamparan yang cukup keras pada bokongnya, membuat Elissa meringis dan mengeratkan cengkeraman tangannya pada headboard.

Jodie menggoda wanita itu dengan menggesekkan ujung kejantanannya pada permukaan bibir vagina milik Elissa hingga menyapa klitorisnya yang sudah meminta untuk di mainkan. Elissa melenguh sembari menggigit bibit bawahnya, ketika organ kewanitaannya berkedut.

Tanpa aba-aba Jodie melesakkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Elissa hingga masuk dengan sempurna dan penuh penekanan. Lutut Elissa bergetar, kepalanya mendongak —serta merta lenguhan kian bergemuruh tatkala ujung penisnya berhasil menusuk titik ternikmat milik sang puan.

“Are you ready, babe?” Bisiknya lirih tepat di telinga Elissa hingga membuat tubuhnya bergidik merinding. Elissa hanya menganggukkan kepala tanda tubuhnya sudah siap menerima serangan bertubi-tubi dari lelaki itu.

Jodie mulai menggerakkan pinggulnya pelan, kemudian perlahan ia menambah temponya sedikit lebih cepat. Batang penis milik Jodie masuk dengan sempurna dan terasa penuh sesak di dalam liangnya. Kelamaan gesekan penisnya membuat sedikit nyeri namun nikmatnya dapat mengalahkan segalanya.

Tangan Jodie tidak tinggal diam. Tangan kanannya sibuk mempermainkan klitoris milik Elissa. Mengusap, kemudian memutarnya dengan sensual. Wanita itu tidak henti-hentinya melenguh dan mendesah kian resah ketika Jodie benar-benar membuatnya terbang ke awan. Sedangkan tangan kirinya sibuk bermain-main dengan puncak payudara Elissa yang mencuat tegang.

“Aahh.. Jo..” “Fuck me harder, pleaseehhh..”

Elissa memohon sembari mendesah tanpa henti. Kewanitaannya seakan di manjakan oleh penis Jodie, kejantanannya menumbuk tanpa ampun, sesekali menghentakkan batang penis itu hingga menusuk pada titik ternikmat milik Elissa. Dua lutut Elissa kembali bergetar, dua tangannya mengepal semakin resah.

“Jo.. Please..”

“You wanna cum, huh?“

“Yes please, Jo. Please..“

“Tahan bentar sayang..”

Jodie mempercepat gerakan pinggulnya, menumbuk tanpa ampun. Suara penyatuan dua tubuh yang tengah memburu kenikmatan bersama semakin jelas terdengar, bersahut-sahutan dengan lenguh dan desah semrawut serta racau yang kian gelisah.

Elissa menahan mati-matian gelombang pelepasannya yang semakin mendekat agar bisa menjemputnya bersamaan dengan Jodie. Namun ia cukup kewalahan, Jodie kepalang tanggung hingga terus menumbuknya tanpa jeda.

“Jo.. Aku nggak tahan. Please..”

“Come on, babe..”

Jodie menghentakkan batang penisnya penuh penekanan dan menyemburkan cairan spermanya yang tertampung sempurna di dalam lateks, bersamaan dengan desah memekik ketika Elissa juga menjemput pelepasannya bersamaan dengan sang kekasih.

Kaki dan lutut Elissa melemah bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar hebat akibat pelepasannya. Kepalanya mendongak dan netranya terpejam. Jodie sedikit membungkuk guna mengecup berkali-kali bahu Elissa, menyalurkan rasa hangat dan nikmat yang baru saja mereka dapatkan.

Jodie melepaskan batang penisnya perlahan. Lalu membalikkan tubuh Elissa yang terkulai lemas. Memeluk dan mengecup keningnya beberapa kali kemudian merebahkan tubuh Elissa di atas ranjang.

“Capek sayang?”

Elissa hanya menjawab dengan anggukan saja kemudian memejamkan matanya. Tenaganya benar-benar di kuras habis hanya dengan satu kali permainan. Jodie kemudian mengambil tissue basah dan kering guna membersihkan sisa cairan kenikmatan milik sang kekasih, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal khas hotel.

Jodie membuang kondom bekas pakai di tempat sampah lalu membersihkan miliknya juga sebelum akhirnya memungut boxer kemudian memakainya.

Lelaki itu duduk di tepi ranjang, memandangi sang kekasih yang tengah memejamkan matanya lalu mengusap lembut tangan Elissa. Wanita itu mengerjapkan mata dan memandang ke arah Jodie yang tengah tersenyum ke arahnya. Elissa merentangkan kedua tangannya lalu di sambut peluk dan rengkuh sang kekasih.

“Go to sleep, honey. We will do it in the morning” Bisik Jodie di telinga Elissa, lelaki itu kemudian membenamkan wajahnya pada ceruk leher Elissa.

“You know I really like morning sex?” Balas Elissa sembari menyisir rambut lelaki itu menggunakan jemarinya dan di balas anggukan oleh Jodie. Elissa terkekeh kemudian berbisik lirih di telinga Jodie.

“I love you..“

“I love you more, ay..” Balas Jodie sembari menyambar bibir ranum Elissa dengan kecupan singkat.

Keduanya kini saling memeluk dan merengkuh penuh hangat di balik selimut yang melindungi mereka dari dinginnya suhu udara malam itu. Sama-sama menjemput mimpi indah setelah tubuh mereka di terpa lelah.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for JHS's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip

Sabtu malam yang sepi. Tentu saja, karena Hansel pergi menonton film dengan Halsey sedangkan Hana masih berkutat dengan laptop di hadapannya, beberapa lembar berkas dan pulpen tampak berserakan di atas meja. Secangkir kopi panas menemani dirinya malam itu. Satu pesan di terima dari Marcell pukul 5 sore tadi, bahwa ia ingin mengajak Hana night drive untuk sekedar melepas penat setelah hampir satu minggu sang puan sibuk bekerja. Namun ajakannya di tolak oleh Hana, ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya walaupun di hari Sabtu.

Marcell pada akhirnya memilih untuk stay saja di rumah Hana. Menemani sang puan yang sedang berkutat dengan pekerjaan, toh Hana sebenarnya juga butuh teman untuk sekedar ngobrol. Pukul 7 malam Marcell tiba di rumah Hana, rumah yang berdiri kokoh dan cukup besar itu nampak sepi. Lelaki itu memencet bel beberapa kali hingga Hana yang berada di lantai atas-pun segera turun untuk membukakan pintu. Senyuman manis terlukis jelas di wajah Hana ketika menyambut lelaki berparas tampan itu. Marcell memasuki rumah itu dan berjalan mengekor di belakang Hana hingga tiba di kamar sang puan.

Tidak ada basa basi lagi, Marcell merebahkan tubuhnya di atas sofa. Di atas meja terlihat cukup berantakan, beberapa snack berserakan dan secangkir kopi yang tinggal setengahnya menemani Hana beberapa saat sebelum Marcell tiba di sana. Lelaki itu mengusap punggung sang puan beberapa kali ketika Hana duduk di sebelahnya dan menghembuskan nafas sedikit kasar.

“Mau gue bantuin?” Tanya Marcell tiba-tiba. Tangannya masih nyaman mengusap punggung Hana.

“Enggak usah. Ini bentar lagi juga kelar. Gue cuma agak stress aja, deadline besok Senin.” Jelas Hana sembari menatap lekat wajah Marcell yang perlahan membuatnya sedikit lebih relax.

“Udah makan?” Tanya lelaki itu, dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Hana. Sejak sore memang wanita itu belum makan, perutnya kosong dan hanya terisi oleh snack serta kopi saja.

“Kita night drive yuk, sekalian cari makan.” Ujarnya, tangannya kini berpindah mengusap paha sang puan yang terekspos begitu mulus.

“Bentar ya, gue kelarin ini dulu.” Jawab Hana. Wanita itu kemudian melanjutkan aktivitasnya, sedangkan Marcell masih setia menunggu sembari bermain game di ponselnya.

Hubungan keduanya mungkin tidak seperti yang orang-orang lihat. Marcell dan Hana kini lebih sering menghabiskan waktu bersama bahkan hanya untuk sekedar makan siang di sela jam kerja Hana. Lelaki itu-pun tidak pernah segan untuk mengantar dan menjemput Hana ketika bekerja layaknya sepasang kekasih. Pada kenyataannya dua insan ini tidak ada status yang jelas, Marcell beberapa kali bertanya akan kejelasan status mereka namun Hana masih belum siap dengan hubungan yang lebih serius. Bukan tanpa alasan, Hana pernah di sakiti oleh seseorang. Lelaki itu berselingkuh di belakang Hana dan yang paling menyakitkan adalah Hana di campakkan begitu saja setelah memergoki lelaki itu tengah bercumbu dengan wanita lain.

Hari-hari yang telah di lalui keduanya membuat Marcell perlahan mempunyai perasaan lebih terhadap Hana bahkan ia berulang kali meyakinkan sang puan, ingin mencoba mengobati segala luka hati yang sampai saat ini tak kunjung sembuh. Namun Hana belum sepenuhnya yakin dengan Marcell, tidak ada lelaki yang bisa di percaya di dunia ini kecuali sang ayah dan Hansel. Rasa sakit, ketakutan dan trauma yang ia rasakan hingga saat ini membuat dirinya kesulitan membuka hati untuk laki-laki lain termasuk Marcell. Pada hakikatnya Hana membutuhkan seseorang yang bisa menyayangi penuh kasih, menyembuhkan segala duka lara dan yang terpenting adalah tidak akan pernah mengkhianati.

“Cell, minta tolong.”

“Hm?” Jawabnya singkat, ia menghentikan sebentar game di ponselnya sembari menatap sang puan.

“Ambilin kuncir rambut di laci, di situ.” Ucap Hana sembari menunjuk laci di meja kerjanya. Marcell segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja kerja yang di tunjuk oleh Hana. Pada saat Marcell menarik gagang pada laci, saat itu juga ia kaget melihat isi didalamnya. Bukan hanya kuncir rambut tetapi sebuah vibrator yang tersimpan rapi, utuh dalam segel. Sepertinya benda itu baru saja di beli oleh Hana atau memang sang puan sudah memilikinya sejak lama namun tidak pernah ia gunakan.

Marcell mengambil benda keduanya, kuncir rambut dan vibrator. Lelaki itu kemudian berjalan ke arah sofa berdiri di belakang Hana, tangannya tergerak untuk merapikan rambut, mengumpulkan jadi satu dan mengikatnya dengan kuncir yang ia pegang. Wanita itu sedikit kaku, tidak biasanya Marcell bersikap seperti itu dan ia sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun. Tanpa ada penawaran, tangan Marcell bergerak memijat bahu sang puan. Bahu yang biasa digunakan untuk mengurus dan menjaga dua adiknya serta bekerja dari pagi hingga sore. Bahu anak pertama memang selayaknya pilar penyangga, bertanggung jawab penuh terhadap saudara kandung yang jauh dari orang tua.

“Han, lo capek ya?” Tanya-nya di sela memijat bahu sang puan.

“Nggak. Ini lo pijit jadi enakan badan gue.” Jawabnya. Wanita itu kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa dan menghela nafas panjang. Tiba-tiba saja tangan Marcell berhenti memijat, sontak Hana menoleh ke arah belakang.

“Kenapa berhenti?” Ujarnya. Dua netra bertemu, deru nafas yang beradu seakan mengisyaratkan sesuatu.

“Han, mau gue bantu?” Ucap Marcell sembari menaikkan satu alisnya.

“Apaan?” Tanya-nya tanpa menaruh curiga.

“Lo belum pernah coba pakai ini kan? Gue tadi nemu di laci.” Kata Marcell sembari mengeluarkan kotak berisi vibrator dari saku celananya.

Deg! Jantungnya seperti hampir lepas. Benda itu adalah bagian dari privacy, namun bukan sepenuhnya salah Marcell. Lelaki itu-pun tidak akan pernah tau Hana menyimpan vibrator, kalau saja ia tidak meminta tolong untuk mengambilkan kuncir rambut. Tepat seperti yang di katakan Marcell, benda itu belum pernah di gunakan sekalipun oleh sang puan. Hana pernah berpikir akan menggunakannya jika ia merasa horny namun hasrat itu selalu di tepis dengan pergi berbelanja atau menonton film.

“Shit!” Umpatnya. Raut wajah Hana berubah menjadi merah padam. Ia kemudian meneguk kopi yang masih sisa setengahnya hingga habis guna mengurangi rasa panik yang datang tiba-tiba.

“Nggak usah panik. I know it's normal, you have the desire to do it”. Tangan Marcell mengusap lembut pundak Hana, sedangkan wanita itu tidak bergeming. Ia mencerna kalimat yang di lontarkan oleh Marcell. Satu kecupan singkat mendarat di bibir Hana sontak membuat dirinya kaget. Wanita itu kemudian membenarkan posisi duduknya dan di susul oleh Marcell yang kini berada di sampingnya.

“Come on let's do it.” Ajaknya. Tangannya mengusap paha wanita itu, berusaha meyakinkan Hana.

Hana dengan perasaan campur aduk seketika menyetujui ajakan Marcell, bahkan dirinyalah yang memulai sesi bercumbu malam itu. Dua tangan Hana menangkup wajah Marcell dan mencium bibirnya, lelaki itu membalasnya dengan gusar, melumat dan menggigit bibir bawah milik Hana hingga sedikit membengkak. Lebih dari tiga menit keduanya saling bertukar saliva hingga wanita itu hampir kehabisan nafas. Ia melepaskan pagutan keduanya, saling menatap lekat netra masing-masing. Tatapan sayu sang puan sangat terlihat dan Marcell sangat paham dengan kondisi Hana.

“Cell, bikin gue terangsang.” Pinta Hana.

“Of course, I will do it.” Jawab Marcell penuh semangat. Detik berikutnya lelaki itu kembali melumat bibir Hana penuh nafsu, tangannya sudah di pastikan bermain dengan lembut pada gundukan payudara yang masih terbungkus bra berlapis kaus berwarna putih transparan. Perlahan tangan Marcell menelusup masuk ke dalam kaus yang di kenakan wanita itu, meraba setiap jengkal permukaan kulitnya hingga menemukan pengait bra dan di lepaskan pengait tersebut hanya dengan satu kali percobaan.

Hana melepaskan kaus serta bra yang masih menggantung di tubuhnya dan ia buang ke sembarang arah. Dua pasang netra yang beradu dan saling mengisyaratkan sesuatu seakan mendapatkan titik temu. Marcell tanpa basa basi lagi, meraup dengan rakus dua gundukan payudara sintal yang menggantung indah. Ia melumat, menyesap keduanya secara bergantian. Puting yang sudah mencuat tegang itu ia mainkan dengan lidahnya dan sesekali menggigit kecil disana membuat sang puan melenguh, mendesah sembari mendongakkan kepalanya.

Nikmat permainan lidah Marcell berhasil mengobrak-abrik kewarasannya, Hana benar-benar di buatnya terangsang dalam waktu yang cukup singkat. Tanpa ia sadari, miliknya mungkin sudah sangat basah akibat ulah Marcell. Wanita itu tidak menyadari bahwa di tengah sang tuan memberikan rangsangan penuh gairah, ia melukis abstrak kemerahan menggunakan bibirnya. Terlihat jelas bercak itu hampir memenuhi bagian payudaranya. Tubuhnya berulang kali menggeliat resah saat kuluman pada payudaranya beradu dengan sentuhan lembut di bawah sana. Meskipun sentuhan itu belum menembus hingga dalam namun jemari kekar itu mampu mengusik klitoris yang butuh rangsangan.

“Han, udah basah banget. Coba pakai vibrator-nya ya?” Ujarnya, kemudian sang puan mengangguk tanda setuju dan segera ia melepaskan celana tidur serta celana dalamnya.

“Tunggu bentar.” Lelaki itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang besar di belakangnya. Ia mengambil bantal dengan tujuan untuk menyamankan tubuh Hana agar bersandar pada bantal empuk.

“Biar nggak sakit punggungnya.” Ucap Marcell sembari meletakkan bantal itu di belakang punggung sang puan. Hana terlihat lebih relax sesaat setelah bersandar dengan nyaman di sana. Lelaki itu mengusap pipi Hana pelan dan mendaratkan ciuman di bibirnya sebelum mengambil vibrator dari kotaknya.

Marcell kemudian melebarkan kedua kaki Hana, terlihat jelas liang kenikmatan milik wanita itu sudah sangat basah. Marcell mengusap pelan bibir vagina milik Hana dan menyapa klitoris dengan menepuk-nepuk hingga membuat wanita itu mendesah nikmat.

“A-ahh...” Desahnya sembari mendongakkan kepalanya. Marcell kembali melumat bibir Hana pelan dan memasukkan vibrator itu kedalam liang vagina yang sudah basah dengan sangat mudah. Detik berikutnya ia menekan remote dan mengaturnya dalam tempo sedang. Alat pemuas nafsu itu bergerak di bawah sana, mengoyak pelan namun kelamaan menjadi nikmat. Pertama kali dalam hidupnya, Hana menggunakan alat tersebut dan di bantu oleh Marcell.

Hana mendesah nikmat sembari membusungkan dadanya saat Marcell dengan sengaja memutar klitorisnya dengan kasar. Secepat kilat bibirnya menyambar payudara yang sudah mengeras, tegang. Bagian sensitifnya di mainkan secara bersamaan oleh alat dan jemari Marcell membuat wanita itu terus mendesah semakin kencang.

Aliran darahnya mengalir semakin cepat dan tubuhnya bergetar saat Marcell dengan sengaja menambah kecepatan pada vibrator hingga membuat sang puan memekik serta merasakan hendak menjemput pelepasannya.

“Ouhh.. Fuck!” Umpatnya saat vibrator itu semakin mengoyak miliknya.

“Cell, i wanna cumming, please.” Hana benar-benar sudah kepalang tanggung, sebentar lagi ia mencapai klimaksnya. Namun Marcell tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dengan sengaja ia mematikan vibrator dan melepaskan dari liang vagina milik sang puan. Wanita itu sontak kaget dan seketika emosinya melesat sampai keubun-ubun.

“Fuck Cell! Maksud—,” Hana mengumpat sekali lagi, namun bibirnya di bungkam dengan lumatan gusar oleh Marcell.

“Calm down, babe. I'll take control.” Ujarnya, kemudian Marcell turun kebawah. Ia mensejajarkan wajahnya tepat di depan liang surgawi milik Hana yang sudah becek. Tanpa aba-aba lelaki itu menjilat dan melumat bibir vagina milik sang puan hingga menyentuh klitorisnya berulang kali membuat Hana tak henti-hentinya mengeluarkan erangan, desahan penuh nikmat. Tangannya meremat sisi sofa dan membusungkan dadanya saat dua jari Marcell beraksi di bawah sana. Tanpa aba-aba dua jari Marcell mengoyak liang kenikmatan itu. Bibir dan lidahnya masih bermain-main dengan klitorisnya, Hana di buatnya mabuk kepayang hingga hampir sampai pada titik puncak kenikmatan.

“M-Marcell, pleasehhh...”

“I beg you...” Racau Hana tengah memohon pada Marcell agar menyelesaikannya. Nikmat yang ia rasakan sudah mencapai ubun-ubun dan hampir pecah. Lelaki itu mempercepat kocokan pada liang vagina milik Hana sembari memainkan klitorisnya dengan lidah. Tak selang berapa lama, wanita itu mendesah dan mengerang penuh nikmat saat mencapai pelepasannya. Tubuhnya menggelinjang hebat, dua kakinya bergetar dan bergerak asal namun di tahan oleh Marcell agar Hana tuntas pada pelepasannya. Cairan kental itu mengalir membasahi dua jari Marcell. Lelaki itu kemudian mengecup kening Hana beberapa kali sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan singkat di bibir wanitanya.

“Thank you, Cell.” Ucapan terimakasih untuk sang tuan yang sudah membantu meraih kenikmatannya.

“I love you, Hana.” Balas Marcell dengan senyum hangat di bibirnya.

“Gue bilang apa, lo jawab apa?! Nggak nyambung.” Ujarnya di tengah-tengah deru nafas yang masih memburu.

“Hey.. I'm not lying. Tiga bulan udah cukup buat gue nunggu. Nggak ada salahnya kita coba kan?”

“Gue udah mulai skripsi, papa juga udah nyuruh gue buat masuk kerja di kantornya. Gue bukan lagi mahasiswa yang hobi kelayapan dan ngabisin duit orang tua.” Cecar Marcell panjang lebar, raut wajah penuh kepuasan tiba-tiba saja berubah menjadi sendu dan pilu.

“I've been hurt, Cell. Jujur gue takut!” Ucap Hana dengan nada suara yang sedikit bergetar.

“Kalau kita nggak pernah nyoba, lo akan tetap stuck di sini. Lo punya kesempatan buat sembuh, dan gue yang akan bantuin lo. Paham?” Ucap Marcell meyakinkan Hana yang tengah menahan bulir air mata agar tidak jatuh di hadapan lelaki itu. Namun Marcell lebih peka, ia kemudian menarik lengan Hana dan membawa ke dalam pelukannya. Marcell mengusap pelan punggung sang puan beberapa kali dan berbisik lirih tepat di telinga Hana.

“Kita coba ya?” Pinta Marcell dan perlahan di jawab oleh Hana dengan anggukan kepala, tanda menyetujuinya. Marcell tersenyum di tengah menyalurkan kehangatan dan kenyamanan pada wanita itu. Akhirnya ia berhasil meruntuhkan kerasnya benteng yang di bangun Hana sejak di tinggal mantan kekasihnya.

“Han, mandi dulu terus kita cari makan ya? Lo laper kan?” Ucap Marcell sembari melepaskan pelukannya dan menatap hangat netra yang baru saja meneteskan air mata. Lelaki itu kemudian mengusapnya pelan, dan terkekeh.

“Jangan cengeng, lo nggak malu nangis di depan gue?” Ucap Marcell menggoda agar wanita itu berhenti menangis. Tetapi malah sebaliknya, Hana tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan Marcell yang masih duduk di sofa sembari memungut baju milik Hana yang berserakan di lantai. Lelaki itu tau kemana arah kaki sang puan melangkah, ia hendak membersihkan diri.

Marcell tiba-tiba saja berlari kecil guna menghampiri Hana yang hampir sampai di kamar mandi. Lelaki itu menarik lengan Hana dan membawanya ke dalam pelukan.

“Gue bercanda tadi, jangan marah.” Ucapnya, sontak Hana teringat lagi saat Marcell meledeknya beberapa menit yang lalu.

“Nggak lucu!” Balas Hana sembari melepaskan pelukannya dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan lelaki yang masih betah berdiri di depan kamar mandi itu hanya terkekeh melihat kelakuan Hana. Lima belas menit setelahnya wanita yang di tunggu-tunggu oleh Marcell itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe. Ia membuka lemari pakaiannya dan memilih baju yang hendak ia kenakan. Setelah berpakaian lengkap, Hana menghampiri Marcell sembari menepuk paha lelaki itu.

“Lo kenapa cantik sih Han?” Goda Marcell, sedangkan sang puan hanya tersenyum tipis.

“Jadi night drive kita?” Tanya lelaki itu. Hana menjawab dengan beberapa kali anggukan.

“Laper.” Jawabnya singkat sembari mengusap perutnya. Marcell tersenyum sembari menatap wajah Hana, terlebih wanita itu mengenakan lip balm berwarna pink soft. Tiba-tiba saja lelaki itu mencium bibir sang puan, kemudian melumatnya sebentar.

“Thank you Han, lo ngasih kesempatan gue.” Ucap Marcell lirih, dua netra mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain.

“Makasih juga, lo mau nerima gue dengan segala kekurangan gue. I'm broken dan lo mau berusaha nyembuhin gue.” Balas Hana dengan senyum penuh arti. Lelaki itu kembali mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Hana sebelum akhirnya mereka berdua pergi untuk menghabiskan malam panjang.


Hi guys! Marcell X Hana is back! Gimana nih? Lanjut gak? For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui: https://trakteer.id/deorphic/tip


Thank you! ❤

Tepat pukul 5 sore Nathalie bergegas membereskan meja kerjanya, meraih handbag lalu sedikit berlari kecil keluar dari ruangannya. Ia berjalan menyusuri koridor sebelum tiba di depan pintu lift lantai 4. Ya, ruangan Nathalie dan Jovan berada di lantai yang sama. Wanita itu kemudian menaiki lift dan menekan tombol G yang akan berhenti pada lantai paling dasar yaitu lobi.

Pintu lift terbuka, Nathalie berjalan tampak sedikit tergesa-gesa. Ia sedikit melirik kearah ruang tunggu lobi yang berada di sisi kiri pintu keluar/masuk gedung dan melihat Jovan serta Nico sedang duduk disana, tampak sedang asik membicarakan sesuatu.

“Nath...!”

Langkah wanita itu terhenti dan mencari arah suara yang memanggil namanya. Dia adalah Nico, lelaki itu melambaikan tangannya kearah Nathalie dan di balas dengan anggukkan kepala saja. Nico kemudian berlari kecil kearah Nathalie berdiri.

“Nath, mau langsung balik? Si bos ngajakin ngopi. Mau join gak?” Tawar lelaki itu pada Nathalie.

“Sorry gak bisa Nic, ada janji lain gue. Bye...” Jawab wanita itu sembari melambaikan tangan pada Nico dan pergi berlalu dari hadapannya. Dari jarak yang tidak begitu jauh dari tempat Nico berbincang dengan Nathalie,kedua mata Jovan-pun tak lepas dari sosok Nathalie Galenia, sekretaris pribadinya.


Nathalie memarkirkan mobil sedan berwarna putih itu di basement, kemudian dengan langkah cepat memasuki gedung apartemen dan naik ke lantai 7 menggunakan lift. Nathalie sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya setelah satu minggu mereka tidak bersua. Ia berlari kecil menyusuri koridor dan berhenti di depan unit nomor 1402.

Wanita itu membuka pintu unit apartemennya perlahan, ia melihat sepatu Jeremy sudah berjajar rapi di rak yang terletak di samping pintu masuk. Netra-nya menelisik tiap sudut ruangan mencari sosok Jeremy tetapi ia tidak menemukannya. Wanita itu kemudian berjalan kearah kamarnya, membuka pintu dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar deritanya. Nathalie mendapati sosok sang kekasih yang sedang tertidur di atas ranjang miliknya.

Wanita itu mendekat di sebelah tempat tidurnya, mengamati setiap jengkal ketampanan Jeremy dan seakan tidak percaya bahwa yang sedang ia lihat saat ini adalah benar-benar kekasihnya. Ia lalu melepas blazer yang di kenakannya, meletakkan di kursi depan meja rias lalu melepas dua kancing bajunya paling atas.

Nathalie perlahan merangkak naik keatas tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Jeremy, tangannya memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Sadar akan hal itu, Jeremy membuka matanya perlahan dan mengusap lembut telapak tangan Nathalie yang melingkar di atas perutnya.

Kedua manik mata mereka bertemu, Jeremy mendorong tengkuk kekasihnya lalu mencium bibirnya dengan lembut. Tangan Nathalie memeluk tubuh Jeremy seakan tak mau lepas. Ciuman itu semakin lama menjadi semakin menuntut. Tangan Jeremy tak tinggal diam, membuka kancing baju milik Nathalie satu persatu hingga menampilkan dua gundukan payudara sintal milik kekasihnya yang masih terbungkus bra berwarna hitam.

Jeremy meremas dan memutar payudara itu dari luar . Nathalie seperti terhipnotis dengan suasana sore hari nan syahdu tentu saja adegan panas mereka akan segera di mulai. Pagutan keduanya terasa sama-sama saling menuntut. Tangan Jeremy bergerak perlahan ke belakang punggung kekasihnya lalu melepas kaitan bra dalam satu kali percobaan, hingga payudara sintal milik Nathalie menyembul keluar.

Ciuman sarat akan nafsu itu perlahan berpindah pada telinga juga leher Nathalie. Lidah Jeremy memainkannya dengan sangat lincah dan sesekali menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Tangan kanannya memainkan payudara wanita itu, memutar putingnya serta memilinnya hingga memerah dan tegang.

“Mmphh...” Lenguh Nathalie pelan, ia menahan desahan yang hampir keluar dari bibirnya.

Setelah meninggalkan beberapa kissmark pada leher kekasihnya, lidah Jeremy kemudian turun ke bawah bergerilya hingga menemukan gundukan payudara yang sudah mengeras. Jemarinya terus memutar dan memilin puting milik sang puan yang sudah mencuat, tegang. Sedangkan bibirnya sibuk membuat tanda kemerahan pada payudara kekasihnya. Leher hingga dada sudah penuh dengan lukisan abstrak tanda cinta.

Tubuh Nathalie seakan terbang melayang, merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh Jeremy. Payudara Nathalie lalu di sesapnya seperti bayi yang sedang kelaparan. Sedangkan tangan kanannya meraba setiap jengkal tubuh kekasihnya, perlahan menyibak rok mini berwarna hitam itu dan mengelus vagina Nathalie dari luar.

“Udah basah ya sayang?” Ucap Jeremy lirih, membuat tubuh wanita itu merinding seketika. Lelaki itu menatap lekat wajah kekasihnya hingga dua netra bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Perlahan Jeremy mendaratkan ciuman singkat pada bibir wanita itu. Menit berikutnya lelaki itu melepaskan rok mini dan celana dalam yang di kenakan Nathalie tanpa memintanya ijin terlebih dahulu, sepertinya Jeremy sudah kepalang nafsu melihat kemolekan tubuh sang kekasih. Kini wanita itu tampak polos, tanpa ada sehelai benang yang menutupi. Wajahnya terlihat sayu, bak sebuah isyarat agar bahwa ia sangat haus akan sentuhan lelaki itu.

Tidak butuh waktu lama, Jeremy kemudian menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan. Nathalie menelan ludahnya sendiri saat melihat batang penis Jeremy yang sudah mengeras dan tegang. Lelaki itu kemudian memulai aksinya dengan menciumi paha Nathalie, tangannya merenggangkan kedua kaki wanita itu hingga terlihat vagina yang sudah basah akibat permainannya.

Jeremy kemudian menjilati vagina milik Nathalie, lidahnya bermain-main di bawah sana. Sesekali menusuk lubang kenikmatan milik kekasihnya itu dengan ujung lidahnya. Tangannya memutar dengan gerakan sedikit kasar klitorisnya hingga membuat Nathalie mengerang karena lelaki itu sangat lihai memainkan titik sensitifnya.

“Aahhh.... Jer..” Desahan yang sedikit nyaring itu akhirnya keluar dari bibir Nathalie.

Setelah puas bermain-main di bawah sana, lelaki bertubuh tegap itu kemudian mensejajarkan penisnya pada liang surgawi milik Nathalie. Perlahan Jeremy menggesekkan ujung penis ke bibir vagina sang puan untuk menggodanya, hingga membuat Nathalie sedikit frustasi.

“Jer, jangan main-main.” Gerutu Nathalie. Lelaki itu hanya mengeluarkan senyum seringai pada kekasihnya dan tanpa aba-aba melesatkan batang penisnya ke liang vagina Nathalie.

“Ahh...” Desah wanita itu ketika merasakan milik Jeremy masuk sempurna dan terasa sangat penuh. Tangan Nathalie meremas sprei karena vaginanya sedang ditusuk oleh penis besar milik sang kekasih tanpa ampun. Jeremy menggerakkan pinggulnya, memaju mundurkan dengan tempo yang sedikit cepat. Nathalie terus mendesah penuh nafsu dan nikmat yang ia rasakan. Aliran darahnya mengalir lebih cepat bersamaan dengan detak jantung yang berdetak semakin kencang.

“Ngghh.... Aahhhh... Jev..” Desah Nathalie.

“Ugghhh... Enak banget sayang... Ahh... Sempit banget.. Aahhh...” Rancu Jeremy. Suara desah dan lenguh terdengar bersahutan hingga memenuhi seluruh ruang kamar Nathalie.

Di sela penetrasi, tangan Jeremy tak tinggal diam. Keduanya memainkan payudara Nathalie yang ikut bergerak sesuai ritme sodokan di bawah sana. Jeremy kemudian memiringkan tubuh wanita itu dan mengangkat satu kakinya kemudian ia letakkan pada pundaknya. Kedua tangannya memegangi pinggul Nathalie dan terus menumbuk lubang kenikmatan itu dengan cepat dan berulang kali mengenai titik g-spot milik sang kekasih hingga mempercepat untuk mencapai orgasme.

“Aahh... Jer... Aaahhh.. M-mau keluarr sa-sayang...” Lenguh sang puan bersamaan dengan jemari yang sibuk meremas bantal.

“Aku cepetin ya...” Ucap Jeremy, detik kemudian lelaki itu mempercepat temponya. Hingga hentakan ke tiga cairan sperma dan milik Nathalie keluar hampir bersamaan dan menyatu di dalam sana.

“Aahhhhh....” Desah Nathalie, tubuhnya melengkung dan bergetar saat mencapai pelepasannya. Jeremy melepas perlahan penis yang tertanam di bawah sana, kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Nathalie. Tangannya mengusap pucuk surai sang kekasih dan mengecup singkat bibir Nathalie yang tengah mengatur nafasnya.

“Jer...”

“Hm?”

“Kenapa di keluarin di dalem?” Tanya wanita itu, netranya menatap langit-langit ruang kamarnya.

“Sengaja.” Jawab lelaki itu singkat dengan seutas senyum penuh arti.

“Kalau kamu hamil, semakin cepat aku nikahin kamu.”

“Mandi yuk? Sini bangun dulu.” Lanjut Jeremy. Lelaki itu kemudian membantu kekasihnya untuk bangun dari posisinya dan menggendong Nathalie ala bridal style. Langkah kakinya membawa sang kekasih ke kamar mandi. Nathalie melingkarkan kedua tangannya pada perpotongan leher Jeremy. Ia memandangi tiap garis wajah sang kekasih yang begitu tampan. Wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Jeremy. Lelaki yang memacarinya selama lima tahun itu dengan sengaja mengeluarkan spermanya di dalam. Mungkinkah jika Nathalie hamil, orang tua Jeremy akan memberi restu? Atau malah semakin membuat murka terutama mama Jeremy yang dari awal sudah menentang hubungan mereka.

“Jen, mama sama papa ke tempat eyang ya? Ada om Ivan di rumah eyang.” Ucap wanita paruh baya itu sembari menaruh brownies ke dalam kotak tupperware. Sedangkan Jena duduk di sofa ruang tengah yang posisinya satu arah dengan dapur.

“Mendadak banget mah?” Tanya Jena, mulutnya sibuk mengunyah potongan brownies yang ada di meja.

“Om Ivan juga tiba-tiba aja dateng. Anaknya kangen sama eyang.” Jelas sang Bunda.

“Ohh...”

Ting Tong...

“Siapa ya Jen? Temen kamu?” Tanya wanita itu sembari berjalan ke arah garasi lewat pintu samping.

“Mama sama papa berangkat. Kamu jaga rumah sendiri nggak apa-apa kan?” Lanjutnya.

“Iya ma, nggak apa-apa. Mama hati-hati ya, kabari kalau udah sampai rumah eyang.” Ucap Jena, ia berjalan ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu. Ada seseorang yang sedang menunggu di sana.

“Siapa sih malem-malem?!”— batin Jena penasaran.

Klek....

“Jeff?!”

Lelaki di balik pintu hanya tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipi yang sangat manis menghias wajahnya yang rupawan. Jantung Jena berdetak lebih cepat dari biasanya. Awalnya Jena menanyakan perihal status hubungan mereka lewat pesan singkat, nyalinya cukup ciut jika harus bertanya langsung di depan Jeff. Namun siapa sangka lelaki itu benar-benar bertandang ke rumahnya.

Tiba-tiba saja Jena menjadi sangat canggung dan takut. Satu hal yang membuat Jena ketakutan adalah Jeff tidak pernah serius dengan apa yang pernah di ucapkan. Wanita itu takut kalau saja Jeff hanya merayunya dengan kalimat-kalimat indah nan menenangkan. Sudah satu minggu lebih Jena di selimuti rasa gelisah, ia tau posisinya hanya sebagai sekretaris. Dan kejadian malam itu, ia sungguh sadar melakukannya tanpa ada paksaan. Ia merelakan keperawanannya di renggut oleh Jeff tanpa perlawanan, bahkan ia menikmati setiap detik tubuhnya di jamah oleh lelaki itu. Jena tidak munafik, hatinya saat itu sedang kalut dan ia sangat membutuhkan afeksi.

“Kamu sendiri di rumah?” Tanya Jeff sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa.

“Iya. Kamu kenapa kesini Jeff?” Wanita itu duduk berhadapan dengan Jeff, kemudian menyilangkan kakinya. Jena merasa sangat canggung, namun ia berusaha tetap tenang.

“Aku mau bahas masalah tadi. Tapi di rumahku aja ya? Ini udah malem, nggak enak sama tetangga.” Ucap Jeff. Entah kenapa kepergian orang tua Jena seakan mendukung pertemuannya dengan Jeff, dan sudah bisa di pastikan Jena tidak akan menolak permintaan Jeffrian. Setelah beberapa menit Jena hanya diam dan memandangi wajah Jeff, ia -pun beranjak dari duduknya.

“Tunggu lima belas menit, aku siap-siap dulu.” Ujarnya.

“Bawa baju kerja sekalian ya Jen.” Pinta Jeff dan di balas dengan anggukan oleh wanita itu. Jena meninggalkan Jeff sendiri di ruang tamu, sedangkan ia pergi ke kamarnya untuk bersiap.


Setibanya di rumah milik Jeffrian, wanita itu terus mengekor di belakang Jeff. Melewati beberapa ruangan kemudian naik ke lantai dua dan akhirnya sampai pada satu ruang kamar yang sudah tidak asing lagi bagi Jena. Ya, itu kamar milik Jeff. Kali ke dua Jena menginap di rumah Jeff, dan rasanya masih seperti pertama kali berada di sana.

Jeff meletakkan tas berisi pakaian di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa berwarna abu tua. Nuansa dark menghiasi seluruh kamar Jeff, membuat kesan lebih hangat ketika berada di dalam ruangan itu.

“Jen..” Panggil Jeff sembari menepuk-nepuk sofa, memberi kode agar wanita itu segera duduk di sebelahnya. Jena berjalan perlahan dan duduk bersebelahan dengan Jeff, manik matanya sekilas menatap netra milik lelaki tampan itu. Kemudian mengalihkan pandangannya lurus pada layar datar di hadapannya. Entah tayangan apa yang mereka lihat, Jeff hanya memilih asal saluran pada televisi.

“Jena...” Lelaki itu memanggil satu nama, sembari mengusap punggung tangan milik Jena yang bertumpu pada sofa.

“Hmm..” Jawabnya lembut. Satu kecupan mendarat singkat di kening Jena.

“Jen, aku suka sama kamu dari pertama kali kamu diangkat jadi sekretaris. Kamu putus, berarti ada kesempatan buat dapetin kamu kan?”

“Satu lagi, aku nggak pernah anggap hubungan kita ini fwb-an. Aku serius Jena, apalagi yang bikin kamu masih nggak percaya sama aku?” Ujarnya. Tangannya mengusap lembut pipi sang puan. Netranya beradu dan saling mengunci satu sama lain.

“Jeff, aku perempuan butuh kepastian. Aku bukannya mau menuntut tapi,—”

“I'm yours.. Jena..” Lelaki itu memotong kalimat yang hendak di katakan oleh Jena. Wanita itu membeku, mencerna dua kata yang terlontar dari bibir Jeff.

“Ayo mulai dari awal Jena. Started tonight, i'm yours..” Ucap Jeff kemudian mendekat dan mencium bibir ranum milik Jena. Sontak matanya terpejam, wanita itu merasakan aliran darahnya mengalir lebih cepat ketika lidah Jeff mengabsen tiap inci sudut terdalam bibir Jena.

Jena sangat menikmati ciuman lembut yang di rasa sangat memabukkan. Awalnya ciuman itu terasa lembut, kelamaan berubah menjadi lumatan yang begitu menuntut hingga membuat Jena melepaskan pagutan keduanya.

Jeff menatap dalam dua bola mata Jena, kemudian mengusap bibirnya yang sedikit membengkak akibat ulahnya. Jena masih berusaha menetralkan nafas saat libidonya mulai naik.

“Jen, jujur.. Kamu percaya sama aku nggak? Apa kamu berpikir aku cuma main-main?” Tanya Jeff dengan nada rendah. Tangannya mengusap lembut pipi wanita itu kemudian merapikan rambut yang sedikit berantakan.

Jena mengangguk, tegas.

“Jeff, aku udah nggak virgin karena kamu. Oke, waktu itu aku kebawa suasana dan ngelakuin itu dengan sadar. Tapi apa salah kalau aku minta kejelasan sama hubungan kita??” Cecar Jena, matanya sudah berkaca-kaca. Ia sangat takut jika Jeff tidak sesuai dengan ekspektasinya.

“Kamu di kantor kadang acuh, yang di bahas cuma kerjaan. Kenapa kamu beda? Kenapa kalau di kantor nggak bisa selembut ini?” Lanjut Jena.

“Jena... Di kantor itu tempat kerja. Nggak enak sama karyawan lain kalau aku bersikap lebih ke kamu. Kita harus profesional kan? Di luar kantor kita bebas ngelakuin apapun.” Jelas Jeff, tangannya terus mengusap lengan Jena. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya.

“Apa karena aku cuma sekretaris? aku bawahan kamu? Atau kamu lagi ngejaga hati seseorang???”

Wanita itu tiba-tiba saja seperti ingin meledak, meluapkan semua emosi yang tertahan dan tak terlampiaskan. Jeff memang sangat berbeda jika di kantor, ia acuh tak acuh dengan Jena. Hanya dua hal yang sering di ucapkan Jeff pada Jena ketika di kantor.

Pertama, “kerjaan sudah selesai?” Kedua, “sudah siang, makan dulu.” Dua kalimat itu lama kelamaan membuat tumpukan emosi pada diri Jena yang hampir saja meledak.

“Jen, aku minta maaf kalau kamu nggak suka sama sikapku di kantor. Tapi kamu ngerti kan maksudku?”

“Jangan khawatir, aku serius dengan apa yang kita jalani sekarang.” Lanjut Jeff. Kalimat-kalimat yang di ucapkan Jeff bak sebuah sihir. Jena mengangguk pelan, mencoba percaya sepenuhnya pada lelaki itu.

Jeff mengusap pipinya beberapa kali kemudian perlahan menarik leher Jena dan melumat kembali bibir ranum itu. Kini lumatan yang di ciptakan oleh Jeff terasa semakin dalam. Jena sedikit demi sedikit mencuri tiap hirup oksigen saat pasokannya hampir habis tanpa harus menghentikan aktivitas mereka sedetikpun.

Tangan Jeff sibuk melepaskan satu per satu kancing baju yang di kenakan Jena tanpa berhenti dari aktivitasnya. Kemudian membelai lembut dua gundukan payudara yang masih terbungkus bra. Setelah melepaskan baju yang di kenakan Jena, lelaki itu mengangkat tubuh Jena kedalam pelukannya dan menggendong bak seekor koala menuju ranjang besar di belakangnya.

“Jeff.. Aku berat, turunin. Aku bisa jalan sendiri.” Ucap Jena di tengah langkah kaki Jeff yang lebih cepat sampai pada tujuannya. Jeff hanya terkekeh mendengar kalimat yang di ucapkan wanita itu, kemudian merebahkan tubuh Jena di atas ranjang. Ia pandangi tiap sisi dan lekuk tubuh Jena yang belum sepenuhnya telanjang. Wanita itu tersipu malu, sampai pipinya terlihat merah padam.

“Jeff! Jangan ngeliatin kayak gitu, aku malu.” Ucap Jena sembari menutupi wajah dengan kedua tangannya. Jeff hanya tersenyum dan detik berikutnya ia memindahkan tangan Jena yang menutupi paras rupawan itu. Jeff kembali mendaratkan ciuman panjang penuh dengan nafsu. Melumat bibir sang puan tanpa ampun, tanpa jeda. Tangan Jeff sibuk meraba perut serta punggung Jena, kemudian berhenti pada kaitan bra dan di lepaskan dengan sekali percobaan.

Setelah puas dengan bibir ranum milik wanitanya, Jeff menjamah leher jenjang Jena menggunakan bibir dan lidahnya. Mengecup dan menyesap hingga meninggalkan bekas kemerahan di lehernya. Lidahnya bermain dengan lincah, sesekali menggodanya dengan menjilati telinga Jena hingga membuat libidonya naik dengan cepat.

Malam itu Jena kembali di buai oleh nikmatnya surga dunia bak larik sajak istimewa. Langit malam dan ruang temaram seakan menjadi saksi dua insan yang sedang beradu kasih dalam nikmat namun legam. Tidak bisa di pungkiri, kenikmatan yang mereka ciptakan adalah penambah dosa di dunia fana.

Detik, menit yang berlalu berhasil menelanjangi tubuh sang puan. Kini lekuk indah itu nampak polos tanpa ada sehelai benang-pun yang menutupi. Jeff mencicipi tiap inci tubuh Jena, menjelajahi menggunakan indera perasa-nya. Beberapa kali menyesap kulit putih itu hingga menimbulkan lukisan abstrak kemerahan.

Lenguhan dan desahan kecil berkali-kali lepas dari bibir Jena, cumbuan lelaki itu benar-benar membuatnya gila sampai hilang akal. Untuk kedua kalinya Jena menyerahkan raganya pada sang pujaan. Merelakan setiap detik tubuh gagah itu mengendalikannya.

Jeff meraup dengan rakus dua payudara milik Jena secara bergantian. Mengulum, menyesap dan memainkan putingnya dengan lidah. Sedangkan tangannya tidak di biarkan kosong begitu saja, ia gunakan untuk meremas dengan lembut payudara indah itu dan memilin puting yang sudah mencuat, tegang.

Jena mendongakkan kepala dan memejamkan matanya, nikmat. Ketika jemari Jeff menyapa miliknya yang sudah basah. Sesekali memutar klitorisnya perlahan kemudian menekan tanpa aba-aba. Tubuh Jena menggelinjang beberapa kali, aliran darahnya berdesir lebih cepat.

Jeff menatap raut wajah Jena yang mulai berantakan, helaian rambut menutupi sebagian wajahnya membuat candu dan menggoda. Terlebih ketika wanita itu menggigit bibit bawahnya dan mengerang kala satu jari Jeff berhasil memasuki liang surgawi, kemudian memainkan dengan sempurna. Pemandangan di bawah tubuh Jeff benar-benar membuatnya puas karena Jena sudah berada dalam kendalinya.

“Aahhh...” Desah Jena lebih keras ketika Jeff menambah satu jari lagi untuk memasuki dirinya. Lelaki itu berhasil mengobrak-abrik liang kenikmatan di bawah sana. Jeff kembali mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Jena, kemudian tersenyum sembari menatap raut wajah wanitanya.

“Keluarin aja Jen, jangan di tahan.” Ucap lelaki itu ketika ia merasakan liang vagina milik Jena mengetat dan berkedut, hendak sampai pada pelepasannya. Wanita itu meremas lengan Jeff saat satu dorongan keras sampai pada titik ternikmat di bawah sana. Tubuhnya menggelinjang hebat saat mendapatkan pelepasannya. Matanya terpejam dan bibirnya mengeluarkan desahan yang cukup keras. Jeff kemudian memberikan ciuman yang panjang seakan menyalurkan rasa tenang untuk Jena.

Jeff tersenyum puas saat menatap wajah Jena yang terlihat sangat berantakan, ia kecup bibirnya beberapa kali kemudian satu kecupan lembut di keningnya.

“Jen.. Aku tanya sekali lagi. Mau percaya sama aku atau tidak sama sekali?” Tanya lelaki itu sembari mengusap pelan pipi Jena. Wanita itu menjawab dengan anggukan, ia masih berusaha menetralkan nafasnya yang tak beraturan.

“Aku boleh lanjut?” Tanya Jeff sekali lagi. Dan masih di jawab dengan anggukan saja. Jena sudah menghabiskan separuh tenaganya untuk permainan awal yang belum ada apa-apanya ketimbang sesi berikutnya. Jeff menggunakan kakinya melebarkan kedua paha Jena, sontak wanita itu menatap lurus pada netra lelaki yang berada di atasnya.

Perlahan Jeff turun ke bawah, mensejajarkan wajahnya dengan kepunyaan sang puan. Liang surgawi itu tampak basah karena ulahnya, dan dengan sangat lembut lelaki itu menyesap sisa cairan yang keluar dari vagina Jena. Menggodanya dengan menjilat dan sesekali menyapa klitorisnya hingga membuat tubuh Jena menggelinjang. Kedua pahanya reflek mengapit kepala Jeff yang masih sibuk menggodanya. Jena benar-benar di buatnya melayang hingga langit ke tujuh saat Jeff terus bermain dengan milik Jena menggunakan ujung lidahnya. Berkali-kali wanita itu meremas bantal dan sprei, serta bibirnya tak lepas dari desahan yang membuat Jeff menjadi semakin candu.

“J-Jeff.. Stophhh...” Ucap Jena, tangan kanannya meremas rambut lelaki itu. Jeff kemudian menghentikan aktivitasnya, ia menatap Jena dari bawah.

Jeff merangkak naik, kini posisinya tepat di atas tubuh Jena. Tangan Jena reflek mencengkeram erat lengan lelaki itu ketika Jeff menggesekkan ujung penisnya pada bibir vaginanya. Sudah saatnya Jena bersiap untuk sesi berikutnya. Ini kali kedua Jena berhubungan badan dengan Jeff, dan masih terasa seperti pertama kali melakukannya. Jantung wanita itu berdetak lebih kencang serta darahnya mengalir lebih cepat.

“Ngghh.. Ahh...” Desahnya ketika ujung penis Jeff memasuki miliknya dan belum sepenuhnya masuk. Keringat mulai menetes pada pelipisnya, tubuhnya pun menegang.

“Jangan tegang Jen, relax aja biar nggak sakit.” Jelas lelaki itu, kemudian Jena mengatur nafasnya, menghirup oksigen sebanyak mungkin dan mengeluarkan perlahan hingga dirinya merasa lebih tenang dari sebelumnya.

“Peluk aku Jen..” Ujarnya, Jena kemudian memeluk tubuh kekar itu. Di detik yang sama, Jeff melesatkan batang penisnya hingga penuh.

“Ahh... Jeff...” Desahnya.

Jeff belum bergerak, ia biarkan Jena mengatur nafasnya yang kian memburu. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala wanita itu kemudian mencium keningnya beberapa detik.

“Are you ready?“

Jena mengangguk pelan, tanda siap dengan permainan selanjutnya. Lelaki itu menggerakkan pinggulnya pelan, desahan yang awalnya tertahan semakin lama semakin jelas terdengar seiring tumbukan yang menghujam milik Jena.

Jeff beberapa kali memberikan ciuman lembut guna mengalihkan rasa sakit yang di rasakan Jena, sembari mengusap lembut pucuk kepala wanita itu. Jeff masih pada tempo yang sama, sesekali menghentakkan batang penisnya hingga menumbuk titik terdalam milik sang puan. Jena mengerang dan mendesah keras kala merasakan ujung penis itu menusuk g-spot-nya, seakan di buru untuk mencapai pelepasannya.

Setelah puas mencium bibir ranum wanitanya, Jeff melahap payudara sintal milik Jena yang terlihat kosong. Lelaki itu melumat rakus, dan memainkan puting dengan lidahnya. Memutar, menyesap dan menggigit puting itu hingga membuat tubuh Jena menggelinjang.

Jena memejamkan matanya, dan meremas sprei kuat-kuat. Di rasa ia hampir menjemput pelepasannya. Liang vaginanya mulai mengetat, hampir bersamaan dengan milik Jeff yang terasa penuh sesak di dalam sana.

“Jeff.. Ahh.. Pleaseehh...” Racau Jena ketika sudah tidak bisa menahannya lagi. Jeff paham dengan situasi itu, raut wajah Jena terlihat sayu ketika memohon pada Jeff untuk segera menyelesaikannya.

“Jen, kamu udah haid belum?” —Jena menggelengkan kepalanya.

“Aku lepas di dalam ya?” Ucap Jeff di tengah-tengah penetrasi. Jena mengangguk asal, cairan sperma yang menyembur di bawah sana terasa begitu hangat di dalam dirinya. Kali ini Jena benar-benar sudah hilang akal, tanpa menggubris resikonya.

Pada hentakan ke tiga, Jeff mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik ternikmat di dalam sana. Keduanya sampai pada puncak kenikmatan hampir bersamaan. Desahan saling bersahutan ketika rasa nikmat surga dunia itu menembus hingga ujung kepala.

“Thank you Jena.. I won't go, I promise...” Ucap Jeff, ia masih berada di atas tubuh Jena yang kehabisan tenaga. Satu ciuman kembali mendarat pada bibir ranum itu.

“Jeff, kenapa kamu lepas di dalam?” Tanya Jena tiba-tiba, lelaki itu mengernyitkan dahinya kemudian tersenyum.

“Jen, tadi kamu udah setuju loh, lepas di dalam.” Jawabnya sembari mengecup singkat bibir Jena.

“Hah? Iya?” Bibir jena menganga, sejenak berpikir apa yang ia katakan beberapa menit yang lalu.

“Hmm... Kamu kenapa Jen? Mikirin apa?” Tanya Jeff menaikkan satu alisnya. Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Jena, menatap wajah lelah milik sang puan. Jeff mengecup singkat pipi dan kening wanita itu. Sedangkan Jena memejamkan matanya sembari menetralkan nafas yang masih memburu.

“Hei.. Jangan bobo dulu. Mandi yuk, aku siapin air hangat di bathup.” Ujarnya.

“Aku merem bentar ya Jeff. Kalau airnya udah siap, bangunin ya?” Pintanya. Jena benar-benar sudah kehabisan tenaga, tubuhnya sangat lemas dan lelah.

“Iya sayang..” Sembari mengecup kening Jena. Lelaki itu pergi berlalu meninggalkan wanitanya beristirahat sebentar.

Jeff berjalan ke arah kamar mandi, menyiapkan air hangat di dalam bathup. Dua tangannya bertumpu pada tepi bathup dan pikirannya menerawang jauh entah kemana. Yang pasti saat ini ia berhasil memiliki Jena. Wanita dengan seribu luka. Jeff berjanji pada dirinya sendiri, akan berusaha memberikan bahagia dan menyembuhkan lara.


Hi! Jeffrian and Jenaya is back! Feedback and all questions, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic