Ask your heart pt.2

Hansel sibuk mengolesi roti tawar dengan coklat Nutella kesukaannya. Beberapa kali melirik sang kekasih yang duduk di hadapannya. Sedangkan Ara sepertinya tak punya nafsu makan setelah bertengkar kecil dengan Hansel, dua tangannya sibuk memainkan ponsel. Lelaki itu lebih baik diam dari pada berdebat dengan Ara. Percuma, Ara terlalu keras kepala.

Satu potong roti ia sodorkan pada sang kekasih namun Ara masih diam saja.

“Kamu marah? Nggak mau sarapan?” Tanya Hansel sembari mengunyah secuil roti. Kekasihnya masih membisu, dan tidak sedetikpun menatap wajah Hansel.

Lelaki itu beranjak dari duduknya, membuka lemari es dan mengambil sekotak susu cair. Menuangkan susu itu ke dalam gelas dan ia letakkan di atas meja, tepat dihadapan Ara.

“Kalau nggak mau makan roti, minum susu aja.” Pinta Hansel. Wanita itu menatap sekilas wajah kekasihnya. Kemudian meraih gelas itu dan meminumnya hingga habis. Hansel berjalan meninggalkan Ara yang masih duduk di ruang makan. Ia ke ruang tengah dan merebahkan tubuhnya pada sofa.

Ara masih tak bergeming tetapi beberapa menit setelahnya, wanita itu menoleh ke belakang dan melihat kekasihnya tengah melihat tayangan televisi secara acak. Akhirnya Ara membuang jauh rasa gengsinya terhadap Hansel. Rasa rindu yang tertahan karena jarak membuat dirinya tidak bisa diam lebih lama lagi. Wanita itu berjalan menghampiri Hansel dan tiba-tiba merubuhkan dirinya di samping sang kekasih kemudian memeluknya sangat erat.

“Aku kangen tapi kamu ngambek?” Tanya Ara tiba-tiba.

“Ngambek? Aku apa kamu?”

Ara membisu. Seharusnya Hansel berhak marah, bukan dirinya.

“Ra, aku cuma pengen kamu jujur aja. Aku nggak akan marah.” Ujarnya. Raut wajah Ara memerah seketika. Kemudian memeluk tubuh Hansel, lebih erat lagi. Menatap kekasihnya dari bawah, memasang wajah memohon agar Hansel tidak marah padanya. Lelaki itu-pun membalas tatapan Ara, mengunci dua matanya hingga Ara terlihat sedikit salah tingkah. Hansel tersenyum tipis lalu mengecup singkat bibir Ara.

“Kangen?” Tanya Hansel. Wanita itu hanya menganggukkan kepala saja.

Hansel kembali tersenyum, tangannya merapikan dan menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga Ara. Menangkup pipi wanitanya lalu mencium bibirnya pelan. Berciuman dengan Ara sangat candu baginya, menikmati rasa manis bibir Ara hingga kelamaan melumatnya dengan sangat rakus. Hansel memang belum menuntaskan hasratnya, mood-nya hilang dalam sekejap setelah melihat kaus milik sahabatnya sendiri tergantung di belakang pintu kamar mandi. Meskipun Ara berusaha menutupi, toh tidak akan bertahan lama. Hansel sempat mencari tau kebenaran lewat pesan yang di kirim untuk Marcell. Dan sahabatnya itu sengaja berkata jujur. Tinggal tunggu waktu saja, apa yang akan di lakukan Hansel selanjutnya.

Lumatan yang terkesan sangat menuntut itu membuat Ara kehabisan nafas. Ia melepas pagutan dua bibir mereka, dengan tatapan sayu Ara tersenyum tipis pada sang kekasih.

“Ayo lanjut yang tadi pagi..” Pinta Ara sedikit merengek. Sedangkan Hansel terkekeh melihat kekasih hati merengek dan manja padanya.

“Jadi kamu mau sarapan yang lain?” Ucap Hansel sembari merentangkan kedua tangannya. Wanita itu-pun masuk ke dalam pelukannya, kemudian Hansel membawanya dengan menggendong tubuh Ara bak seekor koala. Senyum sumringah terbit di bibir manis Ara dan beberapa kali mengecup pipi kanan dan kiri Hansel.

Batin Ara, ia berhasil membuat Hansel tak lagi marah dengannya.

Setibanya di kamar, Hansel merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang. Menindih tubuh Ara dan menyerangnya dengan kecupan-kecupan singkat pada bibir sang kekasih. Dua tangannya melucuti baju yang di kenakan Ara, kemudian menciumi lehernya, menyesap hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tangan Hansel meremas perlahan payudara milik Ara dan sesekali memainkan putingnya.

Lenguhan dan desahan kecil keluar dari bibir Ara. Jemari Hansel sangat lihai memberikan rangsangan untuknya. Sesekali Ara meremas rambut Hansel saat lelaki itu menggigit kecil puting kemerahan miliknya.

Ara sesungguhnya teramat sangat merindukan Hansel. Senyumnya, canda dan tawanya, bahkan aroma tubuh lelaki itu seperti candu. Perlahan jemari lelaki itu meraba bagian bawah sang kekasih yang sudah lembab dan basah. Menyapa klitoris milik Ara dan memutarnya perlahan, membuat sang empu mendesah karena nikmat.

“Baru bentar udah basah banget, sayang..” Kata Hansel, jarinya masih sibuk memainkan milik Ara di bawah sana. Raut wajah Ara memerah dan tersipu, ia tersenyum tipis sembari memandang wajah Hansel yang begitu manis.

Karena sudah sangat basah, tanpa aba-aba Hansel memasukkan dua jari sekaligus ke dalam liang vagina milik Ara. Sang kekasih sedikit tersentak, tangannya meremas sprei dan mendesah kencang sembari memejamkan matanya. Hansel tak pernah gagal, jarinya sangat lihai menciptakan rasa nikmat untuk dirinya.

Hansel menggoda kekasihnya dengan melumat payudara secara bergantian. Sesekali menggigit putingnya dan memainkannya dengan lidah. Dua jarinya mengoyak liang kenikmatan sang kekasih hingga membuatnya terus mendesah kenikmatan.

“Aahhh... Sel, terushh..” Lenguhnya.

Hansel menikmati pemandangan indah di hadapannya, saat Ara terlihat sangat frustasi ingin mendapatkan pelepasannya. Suara desahan yang semakin kencang, serta tubuhnya terus menggeliat resah. Lelaki itu tersenyum tipis lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir sang kekasih.

“Sel.. M-mau keluar..” Ucap Ara ketika sebentar lagi ia hendak mencapai klimaksnya. Hansel menambah tempo kocokan di bawah sana, membuat wanita itu mengerang sembari meremas lengan Hansel. Desahan kencang keluar dari bibir Ara bersamaan dengan cairan miliknya yang membasahi jari Hansel.

Lelaki itu mengeluarkan dua jarinya, menyesap sisa cairan milik kekasihnya.

“Manis, kayak kamu sayang.” Ujarnya.

Ara hanya menatap lamat wajah sang kekasih sembari mengatur nafasnya. Hansel merangkak di sebelah Ara berbaring, mengambil pengaman di laci nakas. Hansel sengaja menyimpan beberapa condom untuk berjaga-jaga ketika ia pulang dan menginap di apartemen Ara.

Lelaki itu menggigit ujung kemasan guna merobek plastik pembungkusnya. Kemudian mengenakan pada miliknya sendiri sembari menatap sang puan. Wajah Ara memerah dan menggigit bibir bawahnya saat melihat batang penis milik Hansel yang sudah menegang sempurna.

“Let's play?” Bisik Hansel di telinga Ara, membuat dirinya bergidik merinding. Lelaki itu melumat kembali bibir sang puan sembari menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina Ara.

Ara mencengkeram kuat lengan Hansel ketika lelaki itu mendorong penuh miliknya pada tubuh Ara. Penis Hansel terasa penuh di bawah sana, dua kaki wanita itu melingkar pada pinggang Hansel saat sang kekasih menggerakkan pinggulnya pelan.

Berkali-kali Hansel mengecup lembut wajah kekasihnya guna menyalurkan rasa sayangnya pada Ara, mulai dari dahi, pipi, lalu bibirnya. Hansel benar-benar mengesampingkan kebohongan Ara saat itu. Ia merasa bahwa bisa menyelesaikan masalahnya tanpa ada perdebatan diantara keduanya. Namun ada kalanya Hansel tersulut emosi saat mengingat pesan yang di kirim Marcell beberapa saat sebelum ia melakukan hal dosa dengan Ara. Kepalanya panas seakan hampir meledak, hatinya cukup sakit ketika sahabat dan kekasihnya bermain di belakangnya.

Saat teringat hal itu, Hansel sengaja menghentakkan pinggulnya keras hingga penuh dan menghantam g-spot milik kekasihnya.

“Ahh... Sel...” Desah Ara, tubuhnya melengkung ketika Hansel berkali-kali menghantam keras miliknya. Tubuh wanita itu mulai bergetar, liangnya mengetat dan berkedut, hampir menjemput pelepasannya.

“S-sel.. M-mau keluar.. Ahh..” Seketika Hansel mencabut miliknya dari tubuh Ara. Wanita itu sontak kaget dan frustasi dengan kelakuan Hansel. Selama berhubungan dengan Hansel, selama melakukan berkali-kali having sex dengan kekasihnya, tak pernah sekalipun ia menggodanya seperti itu. Raut wajah Ara berubah drastis, batinnya kesal dengan kelakuan Hansel.

“Hansel!”

“Gimana rasanya main belakang? Ha?” Tanya Hansel tiba-tiba. Ara tak menjawab, ia masih mencerna kalimat yang terlontar dari bibir lelaki itu. Tanpa aba-aba, Hansel membalikkan tubuh Ara hingga posisinya menjadi tertelungkup. Menindih tubuh wanita itu kemudian melesatkan kembali batang penisnya dari belakang.

“Aahhh...” Desah Ara saat, tubuhnya di masuki tanpa aba-aba. Hansel menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat membuat Ara terus mendesah nikmat. Beberapa kali Hansel menghentakkan penisnya keras, hingga menumbuk titik g-spot milik Ara. Wanita itu mendongakkan kepalanya, tangannya meremas sprei ketika hendak mencapai pelepasannya.

“Hansel, pleaseee...”

Mendengar kekasihnya memohon, Hansel-pun mempercepat tempo di bawah sana, menghentakkan miliknya beberapa kali. Penis lelaki itu terasa sesak dan penuh begitu juga liang kenikmatan milik Ara mulai berkedut. Dua sejoli ini hendak mencapai klimaks yang hampir bersamaan. Hansel menghentakkan miliknya sembari mendorong keras hingga penuh, cairannya menyembur diantara lateks tipis yang membungkus kepunyaannya. Tubuh Ara menggelinjang hebat, kakinya bergetar saat mencapai titik orgasm-nya.

Hansel melepaskan pertautan di bawah sana sembari mengecup bibir Ara, singkat. Ia kemudian membuang condom bekas pakainya di dalam tempat sampah setelah sebelumnya ia bungkus dengan beberapa lembar tissue.

Lelaki itu kembali menghampiri Ara, ia rebahkan tubuhnya di samping sang kekasih. Tangannya mengusap pelan pipi Ara, kemudian mengecupnya singkat. Sedangkan wanita itu masih mengatur nafasnya, bibirnya tersenyum tipis. Kali ini hasrat keduanya telah di tuntaskan.

Satu tangan Hansel merangkul tubuh polos Ara, wajah lelaki itu ia dekatkan pada ceruk leher sang puan. Hembusan nafas Hansel berkali-kali membuat dirinya bergidik merinding. Tiba-tiba saja Hansel membisikkan sesuatu yang membuatnya terkejut.

“Ra.. Selama kita LDR, kamu udah berapa kali main sama Marcell?”

Deg!

Jantung wanita itu seakan lepas dari posisinya. Ara membeku, suaranya seakan tercekat. Selama ini ia pandai menyembunyikan semua rahasia di belakang Hansel. Tetapi tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba Ara merasa seperti tersambar petir.

“M-maksud kamu?” Tanya Ara sedikit terbata.

“Nggak usah bohong Ra, aku cuma pengen kamu jujur. Aku nggak akan marah asalkan kamu mau ngomong yang sebenernya.” Ujarnya. Jantung wanita itu rasanya benar-benar hampir lepas. Ara hancur, ia harus mulai dari mana untuk menjelaskan semua pada Hansel. Ia ingin mengaku salah tetapi bibirnya tak sanggup berkata.

“Sel...” Ucap Ara lirih, tubuhnya mendekat perlahan. Sedangkan Hansel menatap tajam dua bola mata Ara, membuat wanita itu berulang kali membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia sama sekali tidak berani menatap mata Hansel.

“Sel, aku minta maaf tapi ini nggak separah yang kamu pikir.” Ucap Ara sembari mengeratkan pelukannya. Hansel tak bergeming, ia hanya tersenyum tipis. Lelaki itu sudah bisa menebak hal apapun yang di lakukan kekasihnya tanpa harus Ara menjawabnya dengan jujur.

“Sel... Kamu tau dari mana? Marcell?”

Hansel mengangguk. Air mata Ara hampir tumpah, ia bersalah, ia berdosa. Lelaki yang sangat halus perangainya, humoris, bahkan tidak pernah marah sekalipun telah ia khianati. Hal sebesar ini, sudah jelas ia bersalah namun Hansel masih tenang tanpa tersulut emosi sedikitpun.

Air mata yang beberapa menit lalu ia tahan akhirnya tumpah juga. Mengalir membasahi pipinya yang mulus. Hansel menoleh ke arah sang kekasih. Ia usap lembut pipinya, menghapus air mata yang mengganggu pemandangannya.

“M-maafin aku, sayang.. Aku salah..” Ucap Ara dengan suara terisak. Ia beranikan diri untuk menatap dua manik mata milik sang pujaan hati. Tatapan Hansel begitu dalam dan sendu. Bahkan tak tersirat amarah sedikitpun. Suara tangis kian terdengar menelisik telinga Hansel. Lelaki itu kemudian memeluk erat tubuh tak berdaya sang puan. Ia mengusap punggung polos itu perlahan, menyalurkan rasa hangat dan sayangnya terhadap Ara.

Hansel sudah memaafkan wanita itu, juga Marcell. Bukan salah Ara sepenuhnya, ini juga merasa bersalah. Hansel dulu pernah menitipkan Ara pada sahabatnya saat dirinya berpindah tempat tinggal, memberikan kesempatan keduanya untuk bermain di belakangnya. Memang sakit, tetapi Hansel tidak pernah terpikir untuk meninggalkan Ara.

“Udah jangan nangis, jelek.” Hansel melepaskan pelukannya sembari menatap dua manik mata sang kekasih.

“Aku cuma butuh kamu jujur, Ra. Aku nggak suka di bohongi.”

“Kamu masih mau ulangi lagi? Atau—”

“Sel, aku janji nggak akan bohong lagi. Maafin aku... Jangan pergi...” Jawab Ara memohon, air matanya tumpah untuk yang kesekian kali. Hansel mengusap butiran yang membasahi pipi sang kekasih. Mengecup dahi dan bibir Ara, singkat.

“Aku nggak akan pergi. Aku sekarang tinggal disini. Aku pulang Ra... Kita nggak akan jauh lagi. Kita bisa tiap hari ketemu.”

“Maksudnya?” Ara tak mengerti dengan ucapan Hansel.

“Aku pulang Ra, aku stay disini. Kata papa, aku di suruh jagain kak Hanna sama Halsey.” Jelas lelaki itu. Sontak senyum Ara merekah sempurna. Ia memeluk lagi tubuh gagah sang kekasih, mengecup beberapa kali pipinya.

“Ra, dengerin aku.” Ara-pun mendongak, menatap wajah Hansel.

“Kalau ada apa-apa itu ngomong, kalau kangen harusnya bilang ke aku. Bukan diem-diem main belakang sama Marcell. Nggak kayak gitu konsepnya, aku nggak suka, aku marah. Paham?”

Ara mengangguk, ia paham dengan yang di jelaskan Hansel panjang lebar.

“Maafin aku...” Sekali lagi Ara memohon pada lelaki itu untuk di maafkan. Hansel tersenyum dan mengangguk, ia mencium kening Ara lembut dan mengusap pucuk kepalanya. Kini Hansel akan tetap tinggal, yang Ara butuhkan adalah sosok lelaki penyayang dan humoris itu. Bukan Marcell.


Hi! Hansel X Ara is back! Give me a feedback, please ❤ Any questions, drop on my CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic