Straps

Nathalie meletakkan ponsel diatas nakas kemudian langkah kakinya menuntun keluar dari tempat peraduannya. Jauh di dalam sana, perempuan ini sesungguhnya tak begitu menginginkan Jovan. Hatinya tetap pada Jeremy. Jovan hanyalah sosok yang telah berhasil merobohkan kesetiaannya terhadap Jeremy. Ia merasa benar-benar terjebak dalam situasi yang sulit.

Isi pesan dari Jovan sudah bisa di pastikan bahwa ia harus bersiap untuk menerima serangan keganasan bosnya. Bagaimana tidak, Jovan sangat terobsesi dengan Nathalie, tubuh, suara, bahkan nafas sekretarisnya itu adalah candu baginya. Hati Nathalie mungkin bisa berkata tidak, tetapi tubuhnya tak bisa menolak, karena sentuhan Jovan semata-mata membuatnya menggila.

Nathalie membuka pintu unit apartemen dengan muka yang tampak datar. Di balik pintu sudah ada Jovan, kemejanya cukup berantakan, beberapa kancing bajunya terlepas dan tangan kirinya menggenggam sehelai dasi berwarna hitam. Tatapan matanya tampak haus akan nafsu yang tertahan.

Nathalie yang semula berdiri tepat di depan pintu, lalu bergeser dan sedikit merapat ke tembok agar ada celah untuk Jovan yang masuk tanpa di persilahkan olehnya. Lelaki di hadapannya itu kemudian membanting pintu dengan sedikit kasar dan membuat Nathalie tersentak kaget.

Kedua bola mata Nathalie tampak menelisik ditambah keingintahuan terhadap bosnya. Sedangkan Jovan menatap lekat sekretarisnya dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa berkedip barang sedetikpun. Jovan menelan ludahnya sendiri ketika melihat pemandangan tubuh Nathalie yang saat itu hanya mengenakan lingerie berwarna hitam, tanpa mengenakan bra.

Jovan mendekat dan merapatkan tubuhnya di hadapan Nathalie. Kedua tangannya bertumpu pada tembok didepannya dengan posisi mengunci Nathalie di dalamnya. Dua bola mata mereka bertemu, nafas keduanya pun mulai berat.

“Jov, mundur..” Ucap Nathalie. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong tubuh Jovan, namun gagal. Lelaki itu tak bergeming bahkan seperti mendapat kesempatan untuk bermain dengan sekretarisnya. Kedua tangan Nathalie yang masih menempel di dadanya itu lalu ia genggam dan mengikatnya dengan sehelai dasi yang dia bawa sejak tadi .

“Jovan! Apa-apaan sih?!”

“Sssttt... I miss your body, your lips and your moan..” Ucapnya dengan mendekatkan bibir ke telinga Nathalie hingga membuatnya merinding.

Jovan lalu melanjutkan kegiatan mengikat kedua tangan sekretarisnya itu dengan dasinya. Kemudian kedua tangan yang sudah terikat itu ia rapatkan ketembok dan menahannya dengan posisi diatas kepala Nathalie. Detik berikutnya Jovan mendaratkan lumatan kasar ke bibir Nathalie .

“Mmpph....” Sedikit desahan yang lolos keluar dari bibir Nathalie tampaknya membuat Jovan semakin gusar . Tangan kanannya meremas kasar payudara Nathalie yang sejak tadi tak mengenakan bra. Putingnya yang mulai mengeras tergambar nyata di balik lingerie tipisnya yang terus dimainkan oleh Jovan. Ia putar-putar putingnya dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya hingga membuat tubuh Nathalie bergerak gelisah.

Lumatan yang kian kasar itu kemudian berpindah dengan menjamah telinga, hingga leher dengan menggunakan bibir Jovan. Ia mengecup dan menjilati leher Nathalie hingga membuatnya naik dan basah.

“Stop Jov...” Pintanya, namun tak di gubris oleh Jovan.

Lelaki itu justru semakin kasar. Ia melepaskan lingerie yang di kenakan Nathalie, juga melepaskan celana dalamnya yang masih menempel. Kemudian dengan cepat membalikkan tubuh mungil Nathalie menghadap ke tembok. Tangan yang masih terikat itu sebagai tumpuan untuk menopang tubuhnya.

Tubuh mulus dan sintal Nathalie adalah pemandangan yang menyegarkan mata Jovan. Lelaki bertubuh kekar itu lalu berjongkok di belakang Nathalie, kedua tangannya ia gunakan untuk meremas bokong sintal itu lalu ia merenggangkan bokong Nathalie hingga terlihat liang vagina yang sudah basah. Detik kemudian Jovan menyesap lubang vagina milik Nathalie dan membuat gadis itu mengerang.

“Sss.. Ahhh....”

Di bawah sana, Jovan terus menyesap lubang vagina, lidahnya ia gunakan untuk menekan-nekan dan memainkan klitorisnya hingga Nathalie mengeluarkan desahan yang cukup keras.

“Ngghhh... Jovan! Aaahhh... Stop!“

Jovan seperti tuli, ia terus melakukan apa yang membuatnya senang tanpa mendengarkan Nathalie. Setelah dirasa lubang vaginanya cukup basah, barulah ia berhenti menjilatinya.

“Lets play.. Huh?!” Bisiknya ke telinga Nathalie.

Wanita itu diam saja, ia tengah mengatur nafas yang mulai memburu. Jovan lalu melepaskan celana serta boxernya hingga terlihat penis besarnya yang berotot itu tegap mengacung siap bersarang di vagina Nathalie. Jovan cukup nakal dengan menggoda Nathalie, ia gesekkan kepala penisnya berulang kali ke lubang vaginanya hingga sengaja mengenai klitorisnya.

“Aahhh Jov...”

Tanpa aba-aba, Jovan melesatkan penis besarnya dalam satu kali hentakan. Membuat wanita itu tersentak kaget dan menjerit karena penis itu menyodok tepat pada titik g-spot miliknya.

“Aaahhh...” Desahnya panjang.

Jovan terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, penisnya menyodok penuh kedalam lubang vagina Nathalie. Terasa sesak di bawah sana, namun itulah kenikmatan yang dirasakan oleh Jovan.

“Ughh.. I like that!” Ucap Jovan. Dengan gerakan memaju mundurkan pinggulnya begitu keras dan kasar. Kedua tangannya memegang pinggul Nathalie dan menggerakannya sesuai dengan tempo genjotannya. Wanita yang di hadapannya tak sanggup berontak, ia terus mengeluarkan desahan tanda kenikmatan yang di rasakan di bawah sana.

“Ngghh... Jov! A-aku mau.. Aahhh....”

“Mau keluar? Ha?” Lanjut Jovan. Dan hanya di balas anggukan oleh Nathalie.

Jovan melepaskan penisnya lalu mengubah posisi keduanya. Ia membalikkan tubuh Nathalie hingga berhadapan dengannya. Lalu mengangkat satu kaki Nathalie dan melesatkan kembali penisnya ke lubang kenikmatan milik sekretarisnya.

“Aaahhh... Jov, pelan..”

Jovan hanya mengecup singkat bibir Nathalie dan melanjutkan kegiatan menghujam keras-keras lubang vagina dengan penisnya yang besar. Tak lama, Nathalie mulai merasakan ingin mencapai klimaksnya.

“Aaahhh... Ma-u keluar.. Ngghhh...”

“Wait me.. Ughhh... Ahhh.. Yess!” Rancu Jovan menikmati permainan yang ia ciptakan begitu kasar. Ia lalu mengangkat kaki Nathalie dan mengalungkan ke pinggulnya seperti koala. Jovan tampak lebih mudah menggoyangkan pinggulnya semakin cepat.

Tangan Nathalie melingkar di leher Jovan, dan ke dua tangan Jovan ia gunakan untuk memegangi bokong gadis itu agar lebih mudah menyamakan gerakan saat penetrasi. Jovan semakin mempercepat gerakannya karena dirasa penisnya sudah semakin membesar dan sangat keras menandakan ia juga akan sampai pada pelepasannya. Lubang vagina Nathalie mulai mengetat dan berkedut. Wanita itu terus mendesah dan sedikit berteriak karena nikmat yang ia rasakan mengalir sampai pucuk kepalanya.

“Ahhh Jovan... Ahhh....”

Di hentakkan penis itu dengan keras dan menyodok g-spot milik Nathalie, bersamaan dengan pelepasan keduanya. Sperma Jovan menyembur di dalam rahim wanita itu bercampur dengan cairan milik Nathalie memenuhi lubang vagina hingga mengalir di sela pahanya.

Jovan tak urung melepaskan pertautan di bawah sana, ia masih dengan posisi menggendong Nathalie. Gadis itu membenamkan wajahnya di leher Jovan dan mengatur nafasnya yang terengah-engah. Lelaki itu mengecup singkat pucuk kepala Nathalie lalu berjalan menuju kamar mandi.

“Jov...” Suaranya terdengar sedikit parau.

“Hmm”

“Are you crazy?“

“Aku gila karena kamu Nathalie!”

Nathalie lalu terdiam dan tak melanjutkan ucapannya. Sesungguhnya ia sangat ketakutan dengan apa yang di lakukan saat ini, ia takut jika hubungannya di ketahui oleh Jeremy, juga takut ia terjebak lebih dalam dengan Jovan.