Imagine ✨

“Juannn!” Pekik Clarissa atau yang lebih akrab di panggil Rissa. Lelaki berhidung bangir itu berlari kecil ke arah wanita yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Rissa membawa beberapa lembar berkas di tangan kanannya sembari melipat kedua tangan di depan dada. Juan, tersenyum tipis sembari merapikan jas dan dasinya.

“Apalagi sayang...” Tanya Juan lirih dan menaikkan satu alisnya.

“Heh! Di kantor, gue tetep bos lo.” Ucap Rissa, menyodorkan lembaran berkas pada Juan.

“Tolong bawa ke ruang meeting ya, semua udah siap?”

“Udah tinggal ambil sama pasang LED proyektornya.” Jelas Juan.

“Ya udah buru, takut bokap gue dateng tapi belum siap. Gue ambil blazer dulu terus nyusul lo.” Kata Rissa, kemudian lelaki itu mengangguk dan pergi ke ruang meeting. Rissa mengambil blazer yang menggantung di kursi lalu mengenakannya. Ia beberapa kali menghubungi sang ayah tetapi tidak ada jawaban, Rissa hanya ingin memastikan jam berapa ayahnya tiba di kantor.

Juan dan Rissa, hubungan keduanya agaknya sedikit rumit. Mereka saling menyukai namun sama-sama egois tidak mau mengutarakan perasaan masing-masing. Mereka layaknya seorang kawan namun di atas ranjang-pun bisa menjadi lawan. Juan yang awalnya bersikap dingin perlahan mencair, luluh karena Rissa sering datang padanya dengan berjuta keluh kesah.

Apakah ini yang di sebut Friend with benefits? Tidak. Rissa tidak pernah mau menyebut hubungan mereka seperti itu, ia hanya terlalu munafik saja dengan perasaan yang saat ini ada di dirinya.

Rissa memasuki ruang meeting dengan langkah santai namun anggun, di ruangan itu hanya ada Juan saja. Lelaki itu sedang memasang LED proyektor untuk persiapan presentasi.

Wanita yang mengenakan setelan serba hitam itu kemudian duduk dan menyilangkan kedua kakinya sembari menyiapkan beberapa berkas yang sudah ada di meja. Sedangkan Juan berada di sebelah Rissa. Ia sibuk dengan kegiatannya tadi, juga merapikan kabel yang melintang di lantai agar tidak mengganggu aktivitas saat meeting nanti.

Tiba-tiba ayah Rissa tiba dengan membawa beberapa klien dan masuk ke ruang meeting tanpa ada sapa terlebih dahulu membuat wanita itu sontak kaget kemudian berdiri dari tempat duduknya.

“P-papa?”

“Clarissa, ayo cepat mulai meeting-nya. Ruangan ini cuma kita berlima kan?”

“E—iya.” Jawab Rissa sedikit gugup. Kakinya memberi kode pada Juan agar bersembunyi di bawah kolong meja. Lelaki itu-pun menurut saja dan ia merangkak perlahan seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet.

Risa, ayahnya juga ke tiga kliennya ini-pun memulai meeting sedikit terburu-buru. Di mulai dengan sang ayah yang berbicara di depan para klien, menjelaskan tentang penjualan saham yang terus meningkat, serta kesuksesan anak perusahaan yang di kelola oleh Rissa saat ini membuat para klien terfokus pada satu orang saja. Tetapi tidak dengan Rissa, wanita itu mulai resah hingga mengeluarkan keringat dingin saat Juan yang berada di bawah kolong meja itu sedang menggodanya.

Rok mini berwarna hitam, kaki jenjang serta kulit mulus milik Rissa benar-benar membuatnya tidak tahan melawan nafsunya sendiri. Tangan Juan meraba perlahan paha wanita itu, melebarkan keduanya agar ia bisa dengan mudah mengakses area intim milik Rissa. Hembusan nafas yang terasa hangat itu menyapa permukaan kulitnya hingga membuat dirinya bergidik merinding. Rissa tidak bisa berkutik ketika jari-jari Juan mulai meraba area kewanitaannya dari balik celana dalam yang ia kenakan.

Di sela presentasi sang ayah, Rissa masih sempat mencoba fokus dengan segala penjelasan. Namun raut wajahnya semakin lama kian berubah memerah serta berkali-kali menggigit bibir bawahnya saat menahan lenguhan. Juan sibuk dengan mainan kesukaannya di bawah sana, menggesek bibir vagina milik Rissa menggunakan jari tengahnya dan sesekali memainkan klitorisnya. Membuat wanita itu tidak sengaja memukul meja hingga membuat sang ayah berhenti berbicara dan menoleh ke arah anak perempuannya.

“Ada yang mau kamu sampaikan Clarissa?” Tanya sang ayah sembari menurunkan sedikit kacamatanya.

“E—tidak aakhh...” Bibir wanita itu tidak sengaja mengeluarkan desahan akibat dua jari milik Juan dengan sengaja menerobos masuk ke dalam liang vaginanya.

“Kamu sakit?” Tanya sang ayah.

“Em—nyeri perut pah.” Tutur Rissa berbohong dan terus mengatur nafasnya.

Lelaki paruh baya itu-pun melanjutkan berbicara namun tak berlangsung lama. Ia pikir anaknya sedang tidak baik-baik saja lalu mengakhiri pertemuan siang itu. Sang ayah dan tiga kliennya itu-pun meninggalkan ruang meeting untuk melanjutkan ke acara makan siang. Sedangkan Rissa tetap tinggal di sana dengan raut wajah yang memerah serta peluh yang membasahi keningnya.

“Kamu habis ini makan ya nak, papa tinggal dulu.” Sapa sang ayah sebelum meninggalkan ruangan itu. Rissa hanya mengangguk, dengan raut wajah yang datar. Tak berapa lama setelah sang ayah hilang dari pandangan matanya, Rissa melenguh kencang karena sudah tidak tahan dengan permainan Juan yang berangsur lama.

“Ju—annhh... Kunci pintu.” Perintah Rissa, kemudian lelaki itu bangkit dari bawah sana. Merangkak keluar dari kolong meja dan berjalan mengunci pintu serta mematikan lampu. Ruangan yang gelap dan lorong yang sepi sangat mendukung keduanya untuk melanjutkan aktivitas seksualnya.

Juan melepaskan belt yang ia kenakan lalu melepaskan celana panjangnya hingga lutut. Meloloskan batang penisnya yang sudah keras dan tegang sejak tadi. Lelaki itu kemudian menarik tubuh Rissa agar bertumpu pada meja di depannya dengan posisi menungging. Juan menaikkan rok mini milik Rissa hingga perut dan menurunkan celana dalamnya. Bibir vagina berwarna pink yang dan sangat menggoda itu sudah sangat basah akibat ulah Juan.

Lelaki itu mengocok batang penisnya sendiri perlahan, lalu ia gesekkan pada bibir vagina milik Rissa sebelum akhirnya memasukkan batangnya ke dalam liang surgawi milik wanita yang kini dalam kendalinya.

“Aahhh...” Desah Rissa, lalu telapak tangan kiri Juan membungkam bibir wanita itu agar suara desahannya tidak terdengar dari luar ruangan. Dua tangan Rissa mencengkeram sisi meja ketika miliknya ditumbuk dengan kasar oleh Juan.

Lelaki itu terus memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo yang cepat. Tangan kanannya memainkan klitoris milik Rissa hingga membuat wanita itu lebih cepat menjemput pelepasannya.

“A-ahh... Juan faster ahh..” Lenguh Rissa. Liang vagina milik wanita itu terasa lebih kencang dan mengetat seakan melahap penuh batang penis Juan hingga miliknya-pun sebentar lagi akan mencapai klimaks.

Hentakan yang menghujam milik Rissa hingga berkali-kali menumbuk g-spot-nya pun berhasil membuat wanita itu sampai pada titik orgasm-nya, bersamaan dengan milik Juan yang menyemburkan cairan sperma ke dalam rahim wanita itu. Perlahan Juan melepaskan miliknya dari dalam Rissa, lalu ia mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan milik Rissa terlebih dahulu. Ia mengangkat tubuh wanita itu keatas meja lalu membersihkan sisa cairan yang mengalir dari sela pahanya.

“Juan..”

“Hm?”

“Gue kesel sama lo.” Ucap Rissa tiba-tiba. Juan-pun bangkit lalu mengungkung tubuh wanita itu sembari menatap matanya.

“Kesel kenapa?” Tanya Juan lirih.

“Lo gak tau waktu sih. Udah tau ada bokap gue.” Jelas Rissa.

“Lo yang lebih ngeselin. Nyuruh gue sembunyi di kolong meja, udah kya kucing aja gue.” Ucap Juan sembari membenahi celananya dan merapikan lagi kemeja yang ia kenakan.

“Sorry.. Lo marah sama gue? Mukanya jangan kusut gitu dong..” Rayu wanita itu, tangannya mengusap pipi Juan berharap agar lelaki itu tidak kesal terhadap dirinya.

“Gue gak marah. Sini gue bantu benerin baju lo.” Tutur Juan. Lelaki itu menyisir rambut Rissa menggunakan tangannya, lalu melepas blazer guna merapikan blouse yang di kenakan Rissa. Tak lupa membantu mengenakan celana dalam dan rok mini berwarna hitam itu. Dua sejoli itu kemudian meninggalkan ruang meeting dengan sangat tenang dan aman.

“Sa, nanti malem gue ke apart lo ya?” Tanya Juan pada wanita yang sedang berjalan di sebelahnya.

“Mau ngapain lagi?”

“Netflix and chill” Jawab Juan tegas. Sontak Rissa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah lelaki itu. Ia mengamati sekitar lorong tersebut dan tak nampak siapapun di sana, benar-benar sangat sepi. Tanpa aba-aba Rissa mengecup bibir Juan lalu berbisik lirih tepat di telinganya.

“Oke, gue tunggu.” Dan Rissa kembali berjalan meninggalkan Juan yang masih berdiri terpaku di sana. Memandang sosok Bos cantik dan sexy yang biasa ia panggil Ibu Clarissa jika di hadapan rekan kerjanya. Juan tersenyum tipis ketika teringat hal-hal yang di luar kendalinya bersama dengan Clarissa.


Hi guys!! What do you think? 🌝 Please give me a feedback! Any questions for me, just drop on my cc: https://curiouscat.qa/deorphic

Jevan mengemudikan mobilnya 80km/jam karena jalanan pada dini hari sangatlah sepi. Sesampainya di depan gedung apartemen Lucia, ia membanting stir ke kiri. Mobil berwarna hitam itu menuruni lorong dalam gedung kemudian Jevan memarkirkan mobilnya di dalam basement. Jevan bergerak cepat memasuki gedung apartemen dan naik dengan lift menuju lantai 10 dengan menenteng satu kantong plastik berisi makanan cepat saji.

Jari lelaki itu menekan dengan sangat cepat pin smartlock door yang berada di depannya. Ia memasuki ruangan lalu meletakkan makan yang ia bawa di atas meja makan. Jevan berlalu begitu saja, padahal ia sangat lapar.

Langkah kakinya secepat mungkin memasuki kamar Lucia, kedua matanya melihat tubuh kekasihnya yang polos tanpa ada sehelai kain yang menutupinya. Dengan posisi menyamping memeluk guling yang ada di sebelahnya. Tanpa berpikir panjang, Jevan melepas hoodie serta celana pendek yang ia kenakan. Kini lelaki bertubuh kekar itu tampak naked dengan menampilkan penis yang sudah mulai menegang sejak melihat tubuh polos kekasihnya.

Tanpa basa basi, Jevan merangkak naik keatas tempat tidur dan jemarinya mulai meraba kaki, paha, kemudian meremas bokong kekasihnya.

“Ngghhh...” Lucia melenguh pelan karena merasakan jemari Jevan yang menjamah kulit mulusnya. Bibir Jevan mendarat tepat di punggung Lucia, mengecup dan sesekali menjilatnya. Lidahnya terus bermain-main hingga sampai pada bokong kenyal milik Lucia, ia gigit perlahan gundukan bokong sintal itu kemudian jarinya mengusap bibir vagina dari sela-sela pahanya.

“Mana yang udah basah? Ha?” Ucap Jevan dengan nada menggoda.

“Jev..”

Jevan kemudian membenamkan wajahnya tepat di sela paha Lucia dan menyesap lubang vagina kekasihnya, sesekali menusuk lubang kenikmatan itu menggunakan lidahnya.

“Aahhh... Jev...” Desahan lolos begitu saja dari bibir Lucia. Ia merasakan nikmatnya lidah Jevan yang sedang bermain di bawah sana. Jarinya tak tinggal diam, dengan terampil memainkan klitoris milik Lucia. Membuat gadis itu terus mendesah tanpa henti dan tubuhnya menggeliat, resah.

Setelah membuat Lucia mengerang keenakan karena permainan lidah Jevan, kini jari-jarinya yang bermain dibawah sana. Lelaki itu melesatkan dua jarinya menembus lubang vagina milik Lucia yang sudah basah karena permainan sebelumnya.

“Ahhh....” Desah lucia, tangannya meremas guling yang berada di sebelahnya. Jevan yang posisinya di belakang Lucia itu kemudian melumat bibir kekasihnya yang sedari tadi mendesah merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh Jevan. Jemari lelaki itu mengocok dengan cepat dan kasar, ia keluar masukkan jarinya hingga sesekali menyentuh g-spot miliknya.

“Mmpphh..... Ahhh... Jev, disitu.. Enak..” Rancu Lucia.

“Disini sayang?”

“Iya... Aahhh... Terus Jev, mau keluarr...” Racau Lucia yang sedari tadi meramas bantal. Mendengar kekasihnya sudah hampir sampai pada pelepasannya, jari Jevan kian cepat menggerakkan kocokan di bawah sana. Membuat tubuh Lucia bergetar dan menggelinjang hebat. Bibirnya terus mengeluarkan desahan-desahan yang menggema ke seluruh ruangan.

“Ahhh.. Jev! Ahhhh...”

Tubuh Lucia bergetar, cairan kenikmatan itu mengalir disela pahanya. Deru nafasnya tak beraturan, tangannya masih meremas lengan Jevan. Lelaki itu lalu mengecup bibir kekasihnya singkat, lalu tangan kanannya bergerak mengangkat satu kaki Lucia dan tanpa aba-aba ia melesatkan penis besar miliknya kedalam lubang vagina yang sudah basah dan becek. Jevan menggerakkan pinggulnya, memaju mundurkan dengan tempo yang cepat. Membuat Lucia terus mendesah karena kenikmatan yang ia rasakan sudah mencapai tak ada hentinya.

“Aahhh... Jev.. Pe-pelan...”

“Hm? Punyamu sempit sayang.. Enak.. Ughhh .. Yes... !” Rancu Jevan.

Lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan ucapan kekasihnya. Jevan terus menghujam lubang surgawi itu dengan penis besarnya tanpa ampun. Tempo gerakannya terus di percepat, penisnya kian besar memenuhi lubang vagina Lucia. Wanita itu terus mendesah sambil meremas payudaranya sendiri.

“Aahhh... Jev, fasterr pleaseehh...” Pinta Lucia dengan rintihan seakan memohon pada kekasihnya untuk terus di puaskan.

“Keluarin sayang, aku juga mau keluar.”

Jevan semakin mempercepat tempo gerakannya, penisnya semakin membesar sedangkan vagina Lucia mulai berkedut dan semakin mengetat.

“Aahhh... Jev...”

Desahan yang keluar dari bibir Lucia semakin kencang, tubuhnya seketika melengkung dan menggelinjang hebat ketika penis Jevan di hentakkan dengan keras. Wanita itu-pun mencapai klimaksnya bersamaan dengan sperma milik Jevan yang menyembur memenuhi lubang vagina Lucia.

Jevan memeluk erat tubuh mungil kekasihnya yang tengah menetralkan nafasnya, tangan Jevan mengusap pucuk kepala Lucia dan mengecupnya lembut. Wanita itu lalu membalikkan tubuhnya agar saling berhadapan dengan Jevan dan membenamkan kepalanya pada dada bidang milik kekasihnya. Lucia tampak kelelahan namun ia sangat puas dengan serangan yang di ciptakan oleh kekasihnya.

Damian memarkirkan mobilnya di vip parking area, kemudian bergegas memasuki hotel. Lelaki itu mengayunkan kakinya sedikit lebih cepat dan menaiki lantai tujuh menggunakan lift. Damian sudah bekerja sebagai manager Gladys selama kurang lebih tiga tahun, yang notabene adalah seorang model.

Lelaki itu selalu berpikir bahwa pekerjaan yang ia lakoni itu berjalan sebagaimana mestinya, tetapi Damian sama sekali tidak menyangka kelakuan Gladys yang terus menggodanya selama dua tahun terakhir itu membuat status pekerjaan terasa tak profesional. Sedangkan Damian hanya menuruti apa yang di minta Gladys bahkan untuk tidur bersama dan memuaskan nafsu keduanya. Damian pernah beberapa kali menolak tetapi lelaki mana yang kuat jika terus di goda oleh perempuan cantik dan sexy.

Langkahnya terhenti pada room 505 dimana Gladys berada di dalamnya. Lelaki itu secepat kilat menempelkan cardlock dan membuka pintu sedikit tergesa-gesa. Damian mengayunkan langkah kakinya dengan pasti menuju kamar mandi yang pintunya terbuka. Sesampainya di sana ia mendapati Gladys sudah sedikit mabuk dengan segelas wine di tangan kiri dan tersenyum kearah Damian.

“Dys, berhenti minumnya..”

“No!” Ucap Gladys sembari menggelengkan kepalanya dan meneguk wine yang berada di tangan kirinya.

“Keluar dari bathup, jangan disitu.”

“No! I want to play with you.” Goda wanita itu dengan senyum simpul di bibirnya.

“Come on baby...” Lanjut Gladys dengan merentangkan kedua tangannya, berharap secepat mungkin di peluk oleh Damian.

Tanpa berpikir panjang, Damian akhirnya menanggalkan semua pakaian yang menempel di tubuhnya dan berjalan menghampiri Gladys yang sedang berendam. Damian ikut masuk ke dalam bathup, duduk berhadapan dengan wanita itu kemudian menarik tengkuk Gladys dan melumat bibirnya dengan kasar. Nafsu birahi lelaki itu sudah memuncak ketika melihat tubuh indah Gladys yang di penuhi dengan gelembung busa.

Wanita itu-pun membalas lumatan yang penuh nafsu itu. Tangan Gladys sibuk meraba dada bidang Damian, sedangkan lelaki di hadapannya sangat lincah meremas payudara Gladys hingga membuat libido-nya naik seketika. Wanita berambut coklat itu kemudian bergerak maju kearah Damian dan mulai mendominasi ciuman demi kenikmatan dan nafsu yang seakan hampir meledak.

Damian tak mau diam saja, tangan kirinya bergerak meremas dan memilin puting wanita itu. Sedangkan tangan kanannya, ia gunakan untuk bergerilya menyapa area intim milik Gladys. Jarinya terus bergerak meraba bibir vagina wanita itu dan tanpa aba-aba melesatkan dua jarinya ke lubang milik Gladys.

“Mmpph aahhh....” Lenguh Gladys merasakan dua jari Damian itu bergerak maju mundur dengan tempo sedang. Damian terus mengecup dan menjilati leher Gladys penuh nafsu, sedangkan perempuan itu terus mendongakkan kepalanya dan menikmati jemari Damian yang bergerak agresif dibawah sana, sesekali menyentuh g-spot miliknya.

“Aahhh.. Shit! Disitu Dam! Lebih cepat!” Perintah Gladys.

Damian mempercepat kocokan pada lubang kenikmatan milik Gladys. Ia menatap wajah perempuan itu tampak lebih cantik dari biasanya ketika sedang mengerang keenakan.

“Ahh... Dam! M-mau keluar” Racau Gladys. Tangan kiri Damian lalu menarik pinggang perempuan itu agar mendekat dengan tubuhnya. Tangan kanan mempercepat tempo kocokannya lebih kasar lagi agar Gladys cepat mencapai pelepasannya.

“Aahhh... Dam! Aahhh...” Desahan panjang itu akhirnya keluar dari bibir Gladys. Kakinya bergerak resah, dan tubuhnya bergetar hebat ketika mencapai orgasm-nya. Tubuh wanita itu ambruk ke pelukan Damian, lelaki itu mengusap lembut punggungnya.

“Dys, balik badan.” Ucap Damian. Mendengarnya, lalu Gladys menatap kedua bola mata lelaki di hadapannya itu dan berbisik lirih, “Jangan gerak, oke?” Pinta Gladys. Dan detik berikutnya wanita itu membalikkan tubuhnya memunggungi Damian. Jemari lembutnya meraih penis besar yang sedari tadi sudah ereksi dengan sempurna. Ia mengelus dan menggerakkan dengan tempo yang pelan, menaik turunkan tangannya hingga Damian merasa keenakan.

“Ughh... Dys... Enak ahh....” Lenguh Damian.

Tanpa aba-aba, Gladys mengarahkan penis Damian kedalam lubang vaginanya dan menghentakkan dengan sekali gerakan hingga terasa menghujam lubang kenikmatan milik Gladys. Keduanya mendesah hampir bersamaan.

“Aahhh...”

“Eghhh...”

Damian memegangi pinggul Gladys, sedangkan perempuan itu sibuk menggerakkan pinggulnya, memaju mundurkan berlawanan arah dengan Damian hingga membuat lelaki itu mengerang kesakitan bercampur nikmat.

“Aahhh... Dys, enak banget.” Lenguh Damian.

Perempuan itu terus memaju mundurkan pinggulnya dan sesekali menghentakkannya hingga mengenai titik g-spot miliknya sendiri.

“Aaahhhh.... Shit!” Desah Gladys dengan mendongakkan kepalanya keatas karena rasa nikmat di bawah sana.

“Dam.. Gue mau ke-keluarr lagi ngghh.... Aahhh...” Racau Gladys, sepertinya perempuan itu hampir mencapai pelepasannya yang ke dua karena ulahnya sendiri.

“Wait me, babe..” Ucap Damian, semakin mempercepat membantu gerakan pinggul Gladys, memaju mundurkan dengan cepat. Tangan kanannya memutar-mutar klitoris perempuan itu, sedangkan bibirnya sibuk menjilati pundak hingga punggung Gladys.

Detik kemudian Gladys dan Damian mendesah bersamaan, keduanya mencapai klimaks bersama. Lelaki itu merangkul tubuh Gladys dari belakang, dan mengecup lembut lehernya. Sedangkan perempuan yang berada di pangkuannya itu bergerak membenamkan kepalanya di leher Damian dan memejamkan matanya. Sesekali lelaki itu mengecup pucuk surai Gladys.

Mereka berdua menghabiskan malam penuh kegilaan hingga dini hari. Aktivitas panas itu masih berlanjut di atas ranjang. Damian dan Gladys adalah partner kerja dalam segala hal, bahkan dalam urusan ranjang sekalipun.