Wicked games

Pernikahan adalah ikatan dua manusia untuk hidup bersama, saling menyayangi, mengasihi, berbagi dan melengkapi tanpa saling menyakiti.

Tetapi apa arti sebuah pernikahan jika terselip pengkhianatan? Meleburkan kepercayaan? Sumpah dan janji di hadapan Tuhan rasanya sia-sia. Jika mampu bertahan dengan segala perih, serta memilih bersama sebab adanya rasa cinta, dialah Elissa Tirana.

Elissa pov

Pernikahan yang sakral pernah aku agung-agungkan sebab seorang lelaki yang aku cinta bernama Jodie Narendra Yoda adalah muara; dimana aku temui kenyamanan hati. Aku merasa Jodie adalah rumah, bukan sekedar tempat singgah. Menikah dengannya ku rasa sebuah anugerah.

Aku berpacaran dengan Jodie hampir enam tahun sampai pada akhirnya kami memutuskan melepas masa lajang. Di atas janji suci; bahwa kami senantiasa saling mencintai serta ingin sehidup semati.

Hari-hari kami di penuhi rasa bahagia, Jodie tidak pernah lepas dari aku barang sedetikpun. Mulai fajar menyingsing hingga senja menyapa, ia pastikan aku tidak lepas dari dua pasang netranya. Hatiku luluh lantak mana kala Jodie memujaku tanpa henti, saat itu aku masih menjadi satu-satunya.

Aku tidak tau bagaimana dan mulai dari mana; Jodie yang ku gadang-gadang layaknya manusia menyerupai malaikat, tiba-tiba berubah seperti iblis.

Mulanya air mataku tak pernah habis untuk menangisi Jodie, namun kini aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa Jodie pernah beberapa kali meniduri wanita selain aku. Bahkan Jodie selalu berkata jujur jika aku tanya perihal wanita yang dekat dengannya.

Sudah hampir dua puluh empat jam, Jodie membiarkan aku melakukan apa-apa sendirian. Mulai meeting dan sedikit pekerjaan di kantor, dengan sangat terpaksa aku menggantikan posisi Jodie, lantaran ia tak bisa hadir. Tubuhku cukup lelah karena aktivitas seharian yang tak kunjung usai dan aku memutuskan kembali ke rumah sore hari, sembari menunggu Jodie.


Elissa tiba di apartemen yang ia tinggali bersama Jodie sekitar pukul lima sore. Dirinya bergegas berjalan ke kamar mandi setelah melempar secara asal beberapa benda yang berada di tangannya; tas, ponsel, serta kunci mobil tergeletak di atas sofa.

Wanita itu memutar tuas dan air hangat pun mengucur membasahi ujung kepala hingga ujung kaki. Air yang menghujani dirinya berhasil membuat pikiran Elissa sedikit tenang. Meski beberapa jam yang lalu kepalanya seakan-akan mendidih, air yang membasahi seluruh tubuhnya ternyata ampuh menenangkan pikiran Elissa untuk beberapa saat.

Tangan Elissa mengusap tiap inchi permukaan kulitnya yang basah, ia pejamkan kedua matanya ketika wanita itu menengadahkan kepala. Terbesit sekilas pikiran kotor Elissa, tiba-tiba saja ia membayangkan tengah bercumbu dengan Jodie di bawah pancuran air hangat. Pikirannya menerjang banyak hal yang pernah mereka lakukan, bercinta di kamar mandi adalah salah satu tempat favorit keduanya.

Pantas jika Elissa berpikiran kotor sejak tadi.

Jemari Elissa reflek mengusap perlahan dua payudaranya secara sensual, kemudian salah satu tangannya meraba titik sensitif miliknya sendiri. Ia sedang membayangkan jika dirinya sedang di cumbu oleh Jodie, pikirannya tiba-tiba saja melayang ketika membayangkan Jodie tengah memainkan organ intimnya menggunakan dua jarinya. Meskipun jemari Elissa hanya bermain pada permukaan bibir vagina serta klitorisnya, secara naluri iya terangsang hingga tidak sengaja meloloskan desah yang menggema di dalam bilik kamar mandi.

Hanya beberapa menit saja Elissa menjamah tubuhnya sendiri, sebelum akhirnya kedua telapak tangannya mendarat di kedua pipinya. Mengusap wajahnya dan Elissa menyadari bahwa Jodie belum pulang. Percuma jika ia melakukan self service, Elissa merasa tidak ada tantangan jika Jodie tidak melihatnya secara langsung.

Hampir tiga puluh menit, Elissa pun keluar dari bilik kamar mandi. Elissa singgah sebentar di walk in closet guna memilih baju tidur yang hendak ia kenakan malam itu.

Elissa memilih untuk menggunakan lingerie berbahan satin warna hitam, satu set dengan piyama yang menutupi bagian luarnya. Baju tidur itu baru saja ia beli dua hari lalu, lantaran Jodie sangat menyukai Elissa ketika memakai lingerie berwarna hitam.

Di dalam walk in closet menggantung banyak baju tidur dengan nuansa hitam karena warna itu adalah favorit Jodie. Jodie sering mengatakan jika Elissa mengenakan lingerie berwarna hitam, sontak libidonya bangkit tanpa permisi.

Elissa meloloskan senyum seringai pada pantulan cermin, ketika selesai mengenakan baju tidurnya. Lantas wanita itu berjalan ke ruang tengah, ia menyalakan televisi sebelum memasuki dapur untuk membuat teh hangat.

Sembari menunggu air panas, pikiran Elissa sempat menerawang segala kenangan yang pernah ia bangun dengan Jodie. Sampai detik ini Elissa masih mencintai Jodie, terlepas dari hal yang membuatnya sakit hati, lelaki itu tidak akan pernah terganti.

Elissa yakin bahwa Jodie tidak pernah serius dengan beberapa wanita yang dekat dengannya, Elissa yakin jika sampai kapanpun dirinya adalah tempat pulang bagi Jodie. Wanita itu memimpikan menjadi seorang ibu, dengan satu anak laki-laki dan satu lagi perempuan sebagai buah cintanya dengan Jodie.

Terbias senyum kecil menghiasi bibir ranumnya, namun tak berapa lama senyum itu hilang saat decitan suara teko menandakan bahwa air sudah mendidih. Lamunan Elissa pecah seketika, ia segera matikan kompor dan menyeduh teh beralaskan cangkir berwarna putih gading.

Elissa membawa secangkir teh tersebut ke ruang tengah, ia meletakkan cangkir di atas meja kemudian duduk menyilangkan kaki sembari melihat tayangan televisi yang di putar secara acak.

Hampir satu jam Elissa fokus pada tayangan di televisi, dengan volume yang cukup kencang hingga dirinya tidak mengetahui bahwa Jodie sudah tiba di rumah. Secara tiba-tiba Jodie melayangkan satu kecupan di pipi Elissa hingga membuat wanita itu terperanjat kaget. Elissa melirik sinis pada lelaki yang tengah tersenyum jail kearahnya.

“Hey.. Baby.”

Elissa tak bergeming, kedua netranya kembali fokus pada layar televisi. Merasa tidak mendapat perhatian dari Elissa, lelaki itu lantas mendekap tubuh si puan dari belakang dan membubuhkan beberapa kecupan pada pipi, telinga serta leher Elissa.

Elissa memang tidak bisa menghindar namun ia mencoba melepaskan diri dari tangan kokoh si tuan. Wanita itu melepaskannya sembari berkata; “Take a bath, baby.”

Jodie mengangguk dan mengecup bahu Elissa sebelum akhirnya bergegas meninggalkannya di ruang tengah. Sedangkan wanita itu masih duduk di sofa sembari menikmati teh hangat yang hampir habis.

Dua puluh menit setelahnya Jodie keluar dari kamar mandi dengan tubuh shirtless dan handuk yang melilit di pinggangnya.

“Sayang, aku mau teh juga.” Ucap Jodie yang berdiri bersandar pada tembok.

Elissa tidak langsung menjawab, ia hanya menoleh ke arah sumber suara. Lantas wanita itu menatap Jodie sekilas kemudian beranjak dari duduknya.

“Tunggu di kamar, aku buatin dulu.” Jodie mengangguk dan tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar. Sedari tadi Jodie enggan untuk tidak memperhatikan sang istri. Memutuskan menikahi Elissa adalah keinginannya sejak lama, mempunyai istri seperti Elissa adalah satu keberuntungan bagi dirinya.

Elissa sebenar-benarnya adalah wanita yang patut di puji karena kesabarannya seluas samudera, serta patut di puja lantaran kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya. Elissa itu sempurna.

Tak perlu lama menunggu, Elissa tiba di kamar dengan membawa secangkir teh hangat di tangan kanannya kemudian meletakkan cangkir tersebut di meja sebelah Jodie.

Ekor mata Jodie tidak lepas dari sosok Elissa yang kini tidak lagi mengenakan piyama —tubuhnya semakin terekspos.

Elissa merasa bahwa sorot mata Jodie tidak lepas dari dirinya, ia hanya melirik sekilas sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang dan menyilangkan kakinya.

“Jo.. Will you play with me?“

“Huh..??” Jodie menoleh ke arah Elissa. Senyuman wanita itu sungguh sulit di artikan, membuat Jodie menaikkan satu alisnya.

“Will you play with me?” “Yes or no?”

Elissa tampak santai, dengan gerakan sensual tangannya meraba lutut hingga batas pangkal paha hingga lingerie yang ia kenakan terangkat dan mengekspos kulit mulusnya.

“Nantangin?” Balas Jodie segera beranjak dari duduknya namun segera di tahan oleh Elissa.

“Stop!” “Tetap duduk di situ, sayang.”

Dengan gerak reflek, Jodie kembali duduk di atas sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang tidurnya.

“Jangan gerak sedikitpun, kamu cuma boleh liat aku tanpa sentuh aku.” Elissa berujar sembari mengangkat kedua tangannya dan memberi isyarat agar Jodie tetap berada di tempat duduknya.

“Maksud kamu apa? Kamu cuma mau nyiksa aku?”

“Nope.” “Aku nggak akan nyiksa kamu. Kamu tinggal duduk manis di situ dan liatin aku self service, oke?”

“Ck..” Jodie berdecak kesal sembari memalingkan wajahnya, sebab Jodie tidak pernah bisa tahan jika Elissa menggodanya dengan bermain sendiri.

“Jangan gerak sedikitpun, atau aku nggak akan lanjutin.”

“Kalau kamu kalah, aku mau tidur sendiri, kamu tidur di kamar tamu, seminggu. Deal?“

“Deal.” Jawab Jodie asal.

Lelaki itu sempat ragu, ia hanya takut tidak bisa menahan diri. Sedangkan Elissa itu wanita paling kuat akan segala godaan.

Jodie mengubah posisi sofa yang semula membelakangi tempat tidur, kini menjadi saling berhadapan. Ia mematikan saluran televisi dan memastikan suhu pada pendingin udara di ruang kamarnya lebih dingin dari biasanya.

Elissa tersenyum sinis mana kala menatap Jodie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu hanya menggunakan celana boxer tanpa mengenakan kaos, sedangkan udara terasa lebih dingin.

Elissa yang semula duduk menyilangkan kaki, kini mulai membuka kedua pahanya. Dengan sangat sensual dan perlahan jemarinya menari di atas tubuhnya. Tanpa melepaskan pandangan pada kedua mata Jodie, wanita itu terus menggoda dengan meremas payudaranya sendiri.

Perlahan ia melepas satu tali pengait yang menggantung di bahunya, payudara milik Elissa yang ranum sudah mulai terlihat mengeras, puncak payudaranya pun terlihat sudah menegang.

Dengan gerakan sensual jemari Elissa mulai menyentuh titik sensitifnya, kedua pahanya lebih melebar hingga Jodie dapat melihat liang surgawi yang menjadi favoritnya tengah di pamerkan tepat di depan matanya secara terang-terangan.

Jodie hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ia hembuskan nafasnya kasar namun ia berusaha mati-matian untuk tidak bergerak sedikitpun.

Jodie merasa kepalanya mulai mendidih dan hampir meledak ketika melihat Elissa bergerak menjauh dari hadapannya. Wanita itu merangkak membelakangi Jodie; bokong sintal milik Elissa terlihat jelas di depan matanya. Mungkin jika Elissa tidak menetapkan peraturan pada sesi bercintanya kali ini, detik itu juga Jodie lekas menghajar Elissa tanpa ampun. Wanita itu lantas menuju headboard untuk menyandarkan tubuhnya, sorot matanya kembali menangkap sosok Jodie yang mulai bergerak resah. Satu persatu Elissa melepaskan kain sebagai penutup tubuhnya dan ia buang lingerie hitam itu ke lantai.

Tangan kanannya kembali meremas payudaranya sendiri secara sensual tanpa melepaskan pandangan pada Jodie, kemudian dua jarinya bergerak menuntun pada belah bibirnya untuk di jamah. Elissa memasukkan dua jarinya ke dalam mulutnya sendiri kemudian menambah satu jari lagi. Ke tiga jarinya kini telah di basah oleh liurnya sendiri.

Peluh mulai menetes di wajah Jodie, pendingin udara seakan-akan tidak mempan oleh hawa panas yang di ciptakan oleh Elissa.

Elissa membuka kedua pahanya semakin lebar mana kala jemarinya menyentuh klitoris yang mulai membengkak. Wanita itu memutar pelan klitorisnya sebelum akhirnya menambah tempo hingga dirinya tak kuasa meloloskan desahan yang bergema di ruang kamarnya.

Jodie mulai gusar dan tidak tenang. Berulang kali iya menyamankan duduknya guna menyaksikan Elissa yang sedang bermain, namun hasratnya di paksa bangkit, nafsunya di diobrak tanpa permisi. Jodie sudah kepalang terangsang, tetapi ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak bergerak. Hingga pada saat Elissa memasukkan dua jarinya kedalam liangnya sendiri, Jodie secara reflek berdiri dari duduknya. Membuat Elissa memekik di tengah desahannya.

“Stop it” “Atau aku berhenti.”

Jodie mengepalkan telapak tangannya, namun tetap menuruti perkataan Elissa dan kembali duduk. Ia mengingat kembali bahwa Elissa meminta dirinya untuk menyaksikan tanpa menyentuh.

Elissa menggerakkan dua jarinya pelan, tangan satunya ia gunakan untuk meremas payudaranya secara sensual. Lenguh dan desahan wanita itu semakin jelas terdengar ketika jarinya bergerak lebih cepat demi mengejar titik kepuasan.

Erangan serta desah yang semakin keras membuat libido Jodie naik seketika. Berkali-kali ia menelan ludahnya sendiri lantaran suara decap pada liang vagina Elissa yang sangat basah semakin nyaring terdengar, ketika dua jari wanita itu terus memainkan pusat tubuhnya semakin cepat.

“Ouh.. Fuck!“

Elissa bergumam sendiri ketika dengan sengaja ia mengeluarkan jarinya. Jodie sontak kaget, ia tengah berpikir, apalagi yang akan di perbuat Elissa guna memuaskan dirinya sendiri.

“El, cukup. Aku ini suamimu kalau kamu lupa.”

“Shut up!” Ucapnya sembari mengambil satu benda yang terletak di dalam laci nakas.

Jodie tidak tau apa yang akan di lakukan Elissa selanjutnya, ia hanya berharap bahwa Elissa tidak sanggup menyelesaikan dan meminta Jodie untuk melayaninya. Namun salah. Elissa justru mengeluarkan vibrator dari dalam laci nakas.

“El, dari kapan kamu beli itu?”

“Shut up!” “Aku bilang diam!”

Bibir Jodie mengatup rapat, ia hanya bisa memandang dengan lekat sosok Elissa yang mengulum benda itu guna membasahi vibrator dengan air liurnya. Setelah dirasa sudah basah, kemudian di detik berikutnya wanita itu memasukkan vibrator pada miliknya sendiri.

Elissa melenguh keras mana kala vibrator itu ia tanam sendiri pada pusat tubuhnya. Tangan kanannya menyambar remote dan mengatur kecepatannya di level sedang.

“El...” “Baby...”

“Shit! Ouh...” Tangan Elissa reflek meremas payudaranya sendiri. Alat tersebut bergetar di bawah sana, beberapa kali kaki Elissa bergerak resah akibat vibrator itu mengoyak miliknya.

Desah dan racau semakin lantang terdengar di telinga ketika Elissa dengan sengaja mengatur getaran vibrator tersebut menjadi lebih cepat. Tangan kirinya meremas seprei kuat-kuat sebab getaran di bawah sana memicu dirinya untuk segera menjemput pelepasannya.

Tangan kanan Elissa memutar klitorisnya guna mempercepat mencapai puncak kenikmatan yang ia damba. Wanita itu tidak peduli lagi dengan Jodie yang gusar karena ulahnya. Elissa tidak peduli dengan mimik muka Jodie yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.

Pada saat kaki Elissa mulai bergerak tidak beraturan, bisa di pastikan gelombang pelepasan hendak menghampiri dirinya. Dinding vaginanya mulai berkedut, hingga Elissa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Jodie melihat tubuh Elissa mulai menggelinjang dengan kaki yang bergerak asal, desahan yang keluar dari bibir wanita itu mulai terdengar lebih keras dan nyaring —pun lelaki itu beranjak dari duduknya. Jodie sama sekali tidak peduli dengan aturan dari kesepakatan mereka, yang ia tau bahwa Elissa hendak mencapai klimaks dengan vibrator sialan itu, bukan dengan miliknya.

Jodie kesal, ia melepaskan boxer yang ia kenalan sembari naik ke atas ranjang.

“A-aku mau keluar, minggir.” Elissa memekik lantaran Jodie berada di bawahnya sembari memegangi kedua kakinya. Tangan Jodie baru saja terulur untuk melepaskan vibrator dari pusat tubuh Elissa, namun cairan yang keluar lebih dulu membasahi tangannya. Dengan gerakan cepat, Jodie mengeluarkan vibrator itu dan melemparnya ke tembok sekencang mungkin.

“Aku nggak suka liat kamu liar pakai alat itu.” Ucap Jodie sesaat sebelum dirinya melumat bibir ranum milik Elissa. Tubuh wanita mulai lelah, pada akhirnya ia akan pasrah dengan apa yang akan di lakukan Jodie terhadapnya.

Jodie melebarkan kedua paha Elissa, ia mencumbu si puan dengan buas. Jodie menyesap cairan sisa pelepasan yang masih mengalir di liang vaginanya. Sontak Elissa melenguh sembari meremas rambut Jodie. Suara decapan bibir lelaki itu sukses membuatmu Elissa frustasi.

Setelah selesai membersihkan cairan di bawah sana, Jodie mulai bergerak keatas. Ia menatap lekat Elissa yang berada di bawahnya, detik berikutnya Jodie melumat bibirnya dengan terburu. Menyesap, melumat, serta menjilat apapun yang tampak di depan matanya.

Jodie membubuhkan kecupan-kecupan basah pada telinga, leher, serta payudara Elissa. Membuat tanda kepemilikan sebanyak mungkin sembari memainkan puncak dada Elissa, hingga wanita itu tidak sanggup menahan lenguh serta desah yang tidak bisa ia tahan.

“Jo..”

“Hmm..”

“Kenapa kamu gak suka kalau aku pakai alat itu? Bukannya lebih baik dari pada aku sama laki-laki lain?”

“Nope.” “Aku nggak suka, apalagi sama laki-laki lain. Aku bakalan bikin orang itu nggak bisa jalan kalau sampai nyentuh kamu.” Jodie berujar sembari menggesek klitoris Elissa yang membengkak.

“Aahh.. Jo!” Elissa memekik ketika dua jari milik Jodie melesak ke dalam liangnya. Lelaki itu menggerakkan jarinya perlahan dan menambah tempo dengan sangat pelan dan teratur agar tidak menyakiti Elissa.

“Enak? Huh?“

Elissa tidak bergeming, sejak beberapa detik yang lalu wanita itu memejamkan kelopak matanya sembari meremas bantal.

“Enak sama jari ku kan? Dari pada pakai alat itu?”

“Jo! Bisa diem gak?!” “Aahh... Jodie!”

Elissa tidak mau berkata iya, atau hanya sekedar mengangguk saja sebab apa yang di katakan Jodie itu adalah benar adanya. Vibrator tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan jari bahkan milik Jodie sendiri.

Setelah puas bermain dengan jarinya, lantas Jodie mengocok batang penisnya perlahan dan menepuk-nepuk ujungnya di atas klitoris milik Elissa. Wanita itu ingin menggeram sebab kesal dengan Jodie yang terus menggodanya, bahkan kini batang penis itu iya gesekkan pada bibir vagina hingga menyentuh klitorisnya berulang kali.

“Jo!”

Elissa memekik ketika kejantanan milik Jodie melesak dalam satu kali hentak. Ujung penisnya berhasil menabrak titik paling sensitif di dalam sana.

Jodie tidak berkedip barang sedetikpun demi memandang wajah sayu Elissa. Seolah-olah Jodie tidak mau melewatkan pemandangan indah yang pada saat Elissa mendesah dan mengerang di bawah kendalinya.

“Jo... Kamu nggak capek?”

“Nggak.”

“Sama Natasha berapa kali?” “Aahh...”

Jodie sengaja menghentak miliknya dalam-dalam pada liang kenikmatan Elissa sebab pertanyaan yang di lontarkan Elissa beberapa detik lalu, sesungguhnya membuat Jodie merasa tidak senang karena mengganggu konsentrasi.

“Sekali.” Jawab Jodie singkat. Lantas Elissa menaikkan satu alisnya sembari berkata; “percuma kamu buang-buang duit ke Natasha kalau dia nggak bisa muasin kamu.”

Jodie geram kemudian membalikkan tubuh Elissa kesamping tanpa melepaskan pertautan di bawah sana. Jodie berada di belakang Elissa dan wanita itu membelakangi Jodie.

Bibir Jodie tepat berada di sebelah telinga Elissa dan berbisik; “Emang cuma kamu yang bisa muasin aku, nggak ada lawan. I love you, baby.“

Tidak lama dengan gaya spooning, Jodie mengubah posisi keduanya.

Jodie kini duduk bersandar pada headboard dan menarik tubuh Elissa untuk berada di atasnya dan melesakkan kembali batang penisnya ke dalam liang vagina milik Elissa.

Dua tangan Jodie melingkar pada pinggang dan punggung si puan, ia menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Kedua tangan Jodie sengaja mendekap tubuh Elissa agar tidak bergerak kemanapun.

Elissa berkali-kali meloloskan desah dan racau, dirinya seakan-akan tidak bisa lepas dari Jodie yang mulai liar dan mendominasi. Ujung penis milik Jodie berhasil menabrak berulang kali titik paling nikmat di dalam sana, hingga membuat Elissa merasakan gelombang pelepasan yang mulai mendekat.

Semakin keras Elissa mendesah, semakin keras pula Jodie menghentakkan penisnya pada milik Elissa.

“Jo... Aku nggak ku-att.”

“Lepasin, sayang. Keluarin bareng aku.”

Elissa hanya bisa pasrah, dua tangannya hanya bisa meremas rambut Jodie namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher lelaki itu. Batang penis Jodie terus ia hentakkan hingga Elissa berhasil mencapai pelepasannya yang ke dua dan di susul oleh Jodie yang sama-sama melepaskan spermanya ke dalam rahim Elissa.

Tubuh Elissa bergetar hebat, suaranya habis ia gunakan untuk berteriak karena nikmat yang Jodie hantarkan berhasil membuat dirinya mendapatkan klimaks yang ia damba.

Jodie dengan telaten mengusap punggung si puan guna menyalurkan rasa nyaman dan tenang, agar Elissa dapat mengatur nafasnya yang belum juga stabil. Wanita itu masih berada di atas Jodie, meringkuk tanpa melepaskan pertautan intimnya.

“Enak? Lega? Lebih enak sama aku, kan? Di banding pakai vibrator?”

Elissa tidak bergeming, ia memilih memejamkan mata sembari menstabilkan nafasnya.

Tangan Jodie bergerak mengusap puncak kepala Elissa dan membubuhkan kecupan pada kening wanita-wanita itu. Satu tangan yang lain melingkar di punggung Elissa, lelaki itu mendekapnya erat-erat.

“Baby, i love you. Thank you foreverything.”

“Hmm...”

“I love you.”

Elissa membuka mata dan mendongak ke arah Jodie hingga keduanya saling menatap seolah-olah sedang mengisyaratkan sesuatu.

“I love you? Buat apa?”

“Because you're my wife.”

“Wife? Tapi suami ku bertingkah kayak bajingan. Apa masih bisa di sebut suami?” Elissa hendak beranjak dari atas tubuh Jodie. Ia menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu di atas dada bidang si tuan. Pada saat Elissa bergerak mundur, tangan Jodie lebih dulu menahan bokongnya agar pertautan organ intim mereka tidak lepas.

“Jo, apa kita mau kayak gini terus? Sampai pagi?!”

Jodie tersenyum miring kemudian membalikkan tubuh Elissa, melandaskan tubuhnya di atas ranjang.

“Jo..!”

Elissa memekik ketika Jodie menggerakkan pinggulnya pelan sembari mencium bibir Elissa hingga beberapa detik.

“Let's make a baby, sweetheart.”

“Jo, aku mau punya anak tapi kamu harus berhenti jadi bajingan.”

“Sayang, aku udah berhenti. Mulai kemarin aku udah jelasin sama Natasha, kalau semalam itu yang terakhir ketemu dia.”

“Just bullshit.” “Aku nggak mau punya anak kalau kamu belum berubah. Oke?”

“Please, El.” “Aku mau buktiin kalau aku serius. Aku mau punya anak sama kamu.” Ujarnya sembari mengecup kening Elissa. Tangannya merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya, hingga dirinya bisa menatap wajah cantik wanitanya.

“I promise you.”

Kalimat yang keluar dari bibir Jodie layaknya penyejuk, Elissa hanya membutuhkan keyakinan bahwa Jodie benar-benar berubah untuknya.

Jodie kembali menggerakkan pinggulnya pelan, sesekali ia hentakkan hingga penuh. Kedua kaki Elissa ia lingkarkan di pinggangnya, mengapit tubuh tegap Jodie. Dua tangan Elissa ia satukan dan di letakkan di atas kepala wanita itu. Jodie mencengkeram erat kedua tangan Elissa, hingga benar-benar ia tak bisa bergerak.

Elissa mendesah tertahan lantaran bibir Jodie membungkam bibirnya, tubuhnya sudah terasa lelah hingga dirinya hanya mengikuti alur yang Jodie ciptakan.

Semakin lama, tempo gerakan Jodie semakin cepat. Sesekali ia menarik pinggulnya hingga kejantanannya hampir keluar namun dengan cepat ia hentakkan kembali ke dalam Elissa hingga membuat wanita itu mengerang dan mendesahkan nama Jodie berulang kali.

Aliran darah Elissa mengalir lebih cepat, tubuhnya mulai melengkung dan menggelinjang. Perlahan Jodie melepaskan cengkeraman pada tangan Elissa dan mengecup kening si puan hingga beberapa detik.

“Mau keluar?”

Elissa hanya mengangguk sembari meremas lengan bertatto milik Jodie.

“Bisa tahan bentar?”

Elissa tidak menjawab, wanita itu terus mengerang dengan raut wajah yang seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan.

“Baby, doggy style right now?” “Please..”

Elissa mengangguk pasrah, secepat kilat Jodie mengecup bibir ranum milik Elissa dan mengangkat tubuhnya. Jodie membantu Elissa merubah posisinya, kini Jodie bertumbuh menggunakan kedua lututnya dan berada di belakang wanita itu.

Jodie mencium dan menjilati telinga, leher, serta bahu Elissa. Menghirup aroma tubuh wanita itu seperti memancing hasratnya kembali. Sedangkan Elissa menahan berat tubuhnya menggunakan kedua tangan tepat di atas bantal.

Wanita itu melenguh ketika tangan kanan Jodie mengusap klitorisnya, dan menggesekkan ujung penis pada liang vagina Elissa.

Dengan sekali hentak, batang penis milik Jodie yang kokoh kembali menembus liang kenikmatan Elissa.

Jodie menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat sembari memutar klitoris Elissa hingga membuat wanita itu meloloskan desah serta rancu semakin nyaring terdengar. Tangan kiri Jodie perlahan menarik tubuh Elissa agar melekat di tubuhnya, merangkul tubuh mungil itu dan terus menghujam milik si puan.

Hembusan nafas Jodie yang terburu dan ketika lelaki itu menggeram, hawa panas semakin terasa menembus permukaan kulit leher Elissa. Tubuhnya cukup sensitif dengan rangsang yang memicu dirinya untuk segera mencapai klimaks.

“Jo...”

“Hm? You wanna cum?”

“Mmm..”

“Keluarin, sayang. Bentar lagi aku juga mau keluar.” Jodie berujar sembari terus menambah temponya. Elissa terlihat sudah sangat pasrah hanya bisa menengadahkan kepalanya yang bersandar pada dada bidang Jodie, sembari meloloskan desahan yang menyerukan nama si tuan.

Tubuh Elissa menggelinjang hebat mana kala liang vaginanya berkedut dan mengeluarkan cairan pelepasan. Tangan Jodie mengeratkan tubuh Elissa yang mulai melemas agar tidak terjatuh, hingga hentakan ke tiga Jodie melepaskan cairan spermanya ke dalam rahim Elissa.

Tubuh Elissa seolah-olah tak bertulang, untuk berpindah posisi saja wanita itu tidak mampu. Lantas Jodie mengangkat tubuh wanita itu dan merebahkan di atas ranjang yang sudah sangat berantakan. Jodie mencium ranum Elissa dan di balas dengan ciuman ringan oleh wanita itu, sebelum akhirnya Jodie beranjak dari atas tubuh Elissa untuk mengambil beberapa helai tisu.

Jodie sangat telaten membersihkan sisa cairan yang mengalir di sela paha wanitanya, juga miliknya. Kemudian membuang tisu bekas pakai itu ke dalam tempat sampah yang taj jauh dari jangkauannya.

Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Elissa, memeluk si puan dari belakang, serta mencium leher dan bahu Elissa. Hembusan nafas hangat Jodie sangat jelas terasa ketika wajahnya ia benamkan pada ceruk leher Elissa, sembari berbisik; “Kita akan punya anak, kan?”

Elissa mengangguk meskipun kedua matanya sudah terpejam.

“Aku berhenti minum pil mulai besok.”

“Kamu minum pil, El?! Dari kapan? Kenapa kamu nggak bilang sama aku??”

“Padahal aku udah pengen banget punya anak.” Ucap Jodie sembari membalikkan tubuh Elissa hingga kini Jodie berada di atas Elissa.

“Dari kamu mulai deket sama perempuan lain.”

“Aku mutusin buat nunda punya anak, walapun cuma sepihak. Aku nggak mau hamil dalam keadaan yang stress karena kelakuan kamu.”

“El, i'm so sorry.. I promise.“ “Sekarang percaya sama aku, oke? Aku pengen punya anak sama kamu. Berhenti minum pil-nya.”

Elissa mengangguk pelan, Jodie tersenyum lega dan kembali mendaratkan ciuman di bibir Elissa hingga beberapa detik.

“I love you, baby.”

“I love you more, Jo..”

Jodie kembali merengkuh tubuh Elissa, menyalurkan rasa hangat dan nyaman pada tubuh wanitanya. Perlahan tangan Jodie menarik selimut agar menutupi kedua tubuh telanjang mereka.

“Let's sleep, sweetheart.”

Yang Elissa tau, Jodie kini memperbaiki kesalahannya, yang Elissa tau bahwa Jodie kembali untuknya, sebagai suami yang senantiasa bersamanya sehidup semati. Seperti janjinya pada Tuhan.