Friend to Lover

Adisty membenahi diri sesaat setelah membalas pesan dari Tomy. Merapikan rambut yang terlihat berantakan, mengusap air mata yang membasahi pipinya. Pergelangan tangan kirinya terasa sangat perih ketika beberapa kali Adisty mencoba menyayatnya menggunakan pisau kecil.

Beberapa kali ia menyayat pergelangan tangannya namun hingga Tomy tiba di kamar, ia masih baik-baik saja. Padahal Adisty berharap ia mati secepatnya. Pikiran Adisty sudah buntu, bisikan-bisikan setan membujuknya untuk segera mengakhiri hidup. Namun malam itu Tuhan masih menginginkan Adisty untuk tetap hidup.

Adisty merasa gagal menjadi seorang wanita, sebagai seorang kekasih meskipun berawal bukan dari kesalahannya. Hidupnya kini di ambang kehancuran, ketika ia membatalkan rencana pertunangannya secara sepihak. Bagaimana tidak, dua keluarga yang awalnya baik-baik saja dan sama-sama mensupport hubungan keduanya hingga mendukung untuk segera bertunangan, kini sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Tomy bergegas masuk setelah mengetahui passcode yang baru saja ia dapatkan dari pesan singkat. Satu kantong plastik putih berisi nasi kulit kesukaan sang pemilik unit siap di santap guna memenuhi perut kosong mereka.

“Dis.. Dimana lo?”

Lelaki itu memanggil si tuan rumah yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Ruang tamu, ruang tengah bahkan ruang makan tampak kosong dan sepi. Lantas Tomy bergegas menuju ruang paling akhir yang belum ia jamah sama sekali.

Decitan pintu kamar Adisty terdengar jelas ketika Tomy membukanya perlahan. Ekor matanya menangkap sahabatnya tengah meringis sembari memegangi pergelangan tangannya yang mengeluarkan darah, kemudian wanita itu berlari kecil ke arah kamar mandi.

“Dis.. Adisty!” Pekik Tomy sesaat setelah menyadari sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.

Tomy berlari mengikuti kemana arah Adisty pergi, langkah kakinya bergegas mengejar sang puan dan berhasil merangkul tubuhnya.

“Lo kenapa?? Anjing! Kenapa berdarah-darah gini, bego!”

Makian tak henti-hentinya lolos dari bibir Tomy yang kala itu panik bukan main. Darah terus mengalir lewat pergelangan tangan Adisty dan empu-nya menangis sembari memegang erat bahu lelaki yang tengah mendekapnya. Alih-alih ingin menyembunyikan dari Tomy tetapi mungkin Tuhan sudah merencanakan hal lain.

Tomy berusaha setenang mungkin meskipun dalam hatinya sudah tidak bisa di gambarkan lagi bak benang kusut. Sedangkan Adisty tengah merutuki dirinya sendiri yang tidak lihai dalam menyembunyikan sesuatu termasuk rencana bodohnya.

“Dis, sinting lo ya?! Kalau ada apa-apa cerita, bego. Bukannya kayak gini, emang kalau lo mati masalah selesai?!”

Adisty masih dalam isak tangis yang tak kunjung berhenti, dadanya sesak, rasa sakit hati yang ia rasakan sudah sampai pada puncaknya.

Tomy dengan telaten membersihkan tangan Adisty dari sisa darah yang berhenti mengalir, luka sobek di pergelangan tangan tidak terlalu dalam sehingga nyawa wanita itu masih bisa di selamatkan. Tomy membawa tubuh Adisty ke dalam kamar, mendudukkan di tepi ranjang besar lalu ia mengambil kotak P3K yang berada di ruang tengah.

Bibir Adisty masih saja membisu, hanya isak tangis yang belum juga sirna. Wanita itu memandangi sahabatnya tengah membubuhkan obat merah dan melingkarkan perban guna menutup luka. Setelah selesai, Tomy berjalan keluar kamar guna mengambil kantong plastik yang berisi nasi kulit kesukaan Adisty.

“Kalau gue gak bawa nasi kulit, mungkin lo udah mati, Dis.” “Lemah banget sama nasi kulit.”

Adisty tersenyum kecut, sorot matanya sedikit berbinar ketika melihat nasi kulit favoritnya. Terlebih dirinya sudah berhari-hari tidak makan nasi, perutnya hanya di isi oleh makanan instan.

“Gue bisa makan sendiri, Tom.” Ucap Adisty lirih, tangannya meraih satu box nasi kulit yang berada di sampingnya namun Tomy lebih cepat menahan gerak Adisty.

“Diem lo. Gue suapin aja, lo nyender dah biar enak duduknya.”

Adisty menuruti permintaan Tomy, ia menyandarkan tubuhnya pada headboard kemudian meletakkan satu bantal di atas pahanya. Suapan demi suapan dengan sangat telaten Tomy menyuapi sahabatnya, mengesampingkan dirinya sendiri tanpa peduli perutnya sudah meronta minta di isi.

“Perut lo bunyi tuh, sini gue makan sendiri aja.” Tutur Adisty ketika mendengar suara perut Tomy mulai keroncongan.

“Lo kelar makan, baru gue.” Balas Tomy singkat. Kemudian lelaki itu merampungkan tiga suapan terakhir untuk Adisty, sebelum ia sendiri menyantap nasi kulit yang masih tersisa satu porsi.

Adisty masih duduk di posisinya, mengamati sahabatnya tengah menikmati seporsi nasi kulit yang memang menjadi makanan favorit keduanya. Menyendok dan melahap potongan-potongan kulit krispi dengan saus asam manis yang sangat menggugah selera.

“Lo sebenernya ada masalah apa? Gak mungkin kalau cuma masalah coffee shop sepi. Pasti ada masalah lain kan?” Cecar Tomy di sela-sela aktivitas makannya.

Adisty masih terdiam, ia sedang memutar otak dari mana harus memulai menceritakan hal yang selama beberapa minggu terakhir ia sembunyikan rapat-rapat.

Ruang kamar Adisty menjadi hening, dua insan yang berada di dalamnya sama-sama terdiam tanpa suara. Hanya decapan lirih dari bibir Tomy yang masih sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya.

“Cowok gue selingkuh.”

Tomy berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan mengunyah makanan di mulutnya.

“Gue batalin rencana pertunangan.”

“Dua hari lagi lo tunangan kan? Emang gak bisa di selesaikan secara baik-baik?” Tanya tomy. Lelaki itu masih sibuk dengan makanan di tangannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Adisty.

“Enggak.” Jawab Adisty singkat. Wanita itu membawa laptop yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur, kemudian menyodorkan benda itu ke hadapan sahabatnya. Jarinya dengan terampil memutar ulang sebuah video dari dalam laptopnya.

“Anjing! Gue lagi makan, Dis. Lo ngapain nyuruh gue liat bokep?”

“Itu cowok gue, sama mantan pacarnya.” Balas Adisty singkat, wanita itu kembali menyandarkan tubuhnya pada headboard dan mengehela nafas kasar.

“Bajingan. Maksud cowok lo apa dah?!” Ucap Tomy mulai tersulut emosi ketika melihat adegan ranjang calon tunangan Adisty dengan mantan kekasihnya.

Tomy meletakkan box yang masih tersisa nasi kulit, di atas nakas. Sorot matanya fokus pada laptop yang memutar video melalui rekaman CCTV.

Dua bulan yang lalu ketika Adisty dan sang kekasih tengah makan malam di sebuah resto favoritnya, mereka bertemu dengan wanita yang di ketahui adalah mantan pacar Dito. Ya, sebut saja Dito adalah calon tunangan Adisty. Percakapan dua anak manusia secara tidak sengaja seakan mengembalikan kenangan lama dan rasa yang belum usai diantara Dito dan mantan pacarannya.

Setelah pertemuan itu, Dito di rasa berbeda, berubah menjadi lelaki yang hobi ingkar janji. Padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali, Adisty adalah prioritas bagi sang pujaan hati.

Kecurigaan Adisty memuncak ketika suatu hari mereka hendak fitting kebaya dan setelan jas untuk acara pertunangan yang akan di gelar dalam waktu dekat. Dito bukannya ikut bersama Adisty tetapi alasan yang tidak masuk akal pun menjadi tameng untuk menutupi segala kebohongan yang pada akhirnya terbongkar.

Adisty bukanlah wanita yang hanya tinggal diam, dan siap di komando oleh sang kekasih. Adisty termasuk dalam katagori wanita nekat dan bernyali besar. Sekitar satu bulan yang lalu Adisty berkunjung ke Bandung, jarak yang di tempuh dua setengah jam dari Tangerang adalah waktu yang bukan apa-apa bagi Adisty untuk melancarkan aksinya. Pikiran kotor serta berbagai macam kecurigaan yang berhari-hari ia pendam sendiri, pada akhirnya membuat dirinya ingin tau apa yang sebenarnya di lakukan Dito di belakangnya.

Adisty mempunyai kunci cadangan untuk mengakses rumah Dito tanpa sepengetahuan sang kekasih. Pagi sekitar pukul 9 Adisty tiba di rumah Dito, tentu saja sang tuan rumah sudah berangkat ke kantor sejak pukul setengah tujuh pagi. Wanita itu bergegas ke kamar milik Dito yang berada di lantai dua. Tanpa meninggalkan jejak, Adisty memasang kamera CCTV yang dapat di pantau jarak jauh melalui smartphone-nya. CCTV yang terpasang di tengah-tengah dua sisi bingkai foto di atas nakas sebelah tempat tidur Dito dapat terlihat jelas segala aktivitas di dalam kamarnya.

Sesungguhnya Adisty berharap Dito baik-baik saja selama keduanya masih berhubungan dengan baik, —pun tidak ada perselisihan yang berarti selama beberapa minggu terakhir. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain hingga memutuskan untuk merencanakan pertunangan, bahkan ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu pernikahan. Wanita itu berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah dirinya memberanikan diri memasang CCTV di dalam kamar sang kekasih. Tetapi di sisi lain, apapun yang akan terjadi nantinya Adisty harus siap batin dan mental.

Satu minggu pertama masih aman, semua berjalan semestinya. Dito hanya terlihat beraktivitas seperti biasanya, bangun tidur, mandi, berangkat ke kantor, pulang, mandi, tidur lagi. Minggu ke dua sama sekali tidak ada yang mencurigakan, aktivitas yang di lakukan masih sama seperti hari-hari sebelumnya dan cukup melegakan batin Adisty kala itu. Namun di minggu ke tiga hal yang tak terduga muncul ke permukaan. Tentu saja tak lain adalah kedatangan mantan kekasih Dito yang pernah mereka temui di restoran sushi tempo hari.

Bukan hal yang biasa jika seorang lelaki mengajak seorang wanita untuk singgah di rumahnya bahkan hingga di bawa ke kamar pribadinya. Dito terlampau berani mengajak sang mantan kekasih untuk tinggal beberapa hari di rumahnya, rumah yang di gadang-gadang akan di tempati Dito dan Adisty setelah menikah. Dari awal Dito tidak main-main dengan Adisty, rumah hasil kerja keras lelaki itu baru saja di beli satu tahun yang lalu guna menunjukkan keseriusannya pada Adisty. Namun apalah arti harta dan tahta, pada akhirnya kepercayaan akan hancur oleh orang ketiga.

Adisty hancur, batin wanita itu bak di hujani tombak dari langit. Lelaki yang ia percayai melebihi apapun ternyata dengan mudahnya tergoda oleh mantan kekasih lewat pertemuan singkat yang tidak di sengaja.

“Bajingan si Dito. Brengsek! Ini kapan Dis?” Makian tak henti-hentinya keluar dari mulut Tomy. Lelaki itu sudah kepalang emosi melihat kelakuan Dito yang sangat menyakiti Adisty.

“Sekitar seminggu yang lalu, Tom. Waktu itu gue sempat telepon dia, gue mantau lewat CCTV. Dan brengseknya, dia ngobrol sama gue di telepon sambil pelukan sama itu cewek. Anjing kan?”

“Sebegitu mudahnya dia bohongin gue? Dia baru aja ketemu sama mantannya sekali, but he betrayed me because of unfinished feelings.” Lagi dan lagi, air mata Adisty luluh lantak jika mengingat kembali Dito yang tengah bermain gila dengan mantan pacarnya.

“Gue heran kenapa laki lo dari dulu nggak ada yang bener, Dis.”

“It's not wrong you canceled the fiancé's plan, the best decision.” Ucap Tomy sembari mengusap air mata yang sedari tadi mengalir membasahi wajah Adisty.

“Cowok di dunia ini bukan cuma Dito yang brengsek itu. Tinggalin siapapun yang nyakitin lo.” Lantas Tomy memeluk Adisty dengan sangat erat, mengusap punggungnya perlahan.

“Nangis aja Dis, nggak apa-apa. Puas-puasin nangisnya, tapi besok gue gak mau liat lo nangis lagi. Paham?” Adisty mengangguk, paham. Malam itu Adisty benar-benar menumpahkan segala rasa sesak di dadanya. Air mata kesedihan juga amarah bercampur menjadikan satu. Tomy sangat sabar dan telaten ketika menenangkan Adisty yang tengah kalut. Sentuhan Tomy, hembusan nafasnya, aroma tubuhnya, serta pelukannya memberikan rasa tenang dan rilex pada Adisty.

“Malem ini gue nginep ya? Gue mau nemenin lo.” Bisik Tomy lirih di telinga Adisty. Sedangkan wanita yang tengah berada dalam pelukan itu hanya mengangguk saja, menyetujui jika Tomy akan menghabiskan malamnya bersama Adisty. Menemani setiap rapuh dan kelu yang berhasil membuat luka yang begitu dalam di hati Adisty, mengusir sunyi dan pedih yang berhasil menggerogoti waktu yang di lewati Adisty.

“Gue sama lo, nggak jauh beda Dis.” Lirih tutur kata Tomy menyingkap ruang sunyi sembari merenggangkan peluknya.

Tomy beranjak dari duduknya, memindahkan laptop ke atas meja kerja Adisty, membuang kotak box sisa makanan mereka dan merapikan kembali kotak P3K pada tempatnya.

Adisty masih diam, netranya sibuk mengamati gerak gerik sahabatnya tanpa jemu. Semua yang di lakukan Tomy begitu tulus tanpa pamrih, sekalipun ia harus berkorban untuk Adisty. Persahabatan mereka sudah sangat jauh terpaut, bahkan jauh sebelum keduanya menemukan cinta dan sama-sama di khianati oleh cinta.

Tomy menanggalkan jaket denim yang ia kenakan, lalu naik ke atas tempat tidur menyusul Adisty yang masih bersandar pada headboard di belakangnya. Tomy mensejajarkan tubuhnya di sebelah Adisty kemudian membawa wanita itu ke dalam dekap penuh kehangatan.

“Peluk gue, biar tenang.” Ucap Tomy singkat. Tak butuh waktu lama untuk Adisty merasa nyaman dengan suasana saat itu. Baginya saling mendekap dan memeluk adalah hal biasa yang mereka lakukan tanpa embel-embel perasaan lebih.

“Tom..”

“Hmm..” Tomy memeluk sembari menepuk-nepuk punggung Adisty.

“Tadi lo bilang, gue sama lo nggak ada bedanya.” Kata Adisty lirih di sela hembus nafas yang bertabrakan dengan dada bidang Tomy.

“Iya.” Jawab Tomy singkat.

“Sama-sama di bohongin, Dis. Punya pasangan yang sama-sama brengsek dan putusnya hampir bersamaan. Benar-benar sial.” Lanjut Tomy. Lelaki itu mengecup pelan pucuk kepala Adisty tanpa sadar. Namun sang puan yang berada di dalam pelukan sangat menyadarinya hanya bisa meremat ujung kaus yang di kenakan Tomy, pelan.

“Coffee shop gue sepi, income turun dan lo keluar dari kerjaan, kerja di tempat gue yang gajinya gak seberapa.”

“Dan sekarang gue harus bertanggung jawab dengan keputusan yang dulu pernah gue buat, waktu di paksa ngelanjutin S2 hukum tapi gue tolak malah buka coffee shop sendiri. Bokap gue marah besar.”

Adisty terkekeh ketika menceritakan masa lalunya yang masih bergantung dengan kedua orang tuanya. Kini wanita itu jauh lebih mandiri setelah berhasil mendirikan coffee shop dari tabungan dan kerja part time kala itu.

“Nggak ada bedanya sama gue, cuma ngelarin S1 terus minggat dari rumah. Jujur gue capek di banding-bandingin sama kakak gue yang sekarang jadi dokter.”

Dia insan bertukar keluh kesah yang di balut rengkuh hangat di antara dinginnya penyejuk udara di dalam kamar Adisty nyatanya membuat keduanya semakin nyaman. Semakin erat dalam dekap, terasa sejuk dalam peluk.

Adisty mendongak, mengamati raut wajah Tomy dari bawah. Sedangkan lelaki itu meloloskan sorot matanya pada wanita yang tengah di lingkupi rasa sakit, terlihat jelas ketika menatap dua mata Adisty yang membengkak justru membuat batin Tomy semakin meradang.

Di usapnya dengan lembut pipi sang puan, di kecup seringan mungkin pada dua belah mata sayu milik Adisty.

“Jangan nangis lagi ya Dis, ada gue.”

Bisik Tomy lirih dan di balas anggukan serta senyum tipis oleh Adisty.

Dua netra Tomy dan Adisty saling terpaut, seakan mengisyaratkan saling membutuhkan satu sama lain, meskipun tidak pernah ada kalimat yang terlontar dari bibir keduanya namun terlihat jelas bahwa mereka bersama untuk saling mengisi. Setelah sama-sama terlibat patah hati dengan pasangan masing-masing.

Tomy tidak pernah bosan mengusap pipi Adisty yang lembut dan kenyal. Usapan menggunakan ketiga jarinya perlahan berubah menjadi gerakan yang seduktif ketika ibu jarinya mengusap bibir bawah milik Adisty. Wanita itu masih membeku tanpa mengalihkan pandangannya pada kedua netra Tomy.

Perlahan Tomy mendekatkan wajahnya pada Adisty dan mengikis jarak diantara mereka. Suasana sunyi serta dinginnya ruang kamar Adisty membuat Tomy semakin tergerak untuk melakukan lebih pada wanita itu. Pertama kalinya bagi Tomy dan Adisty, sebelumnya hanya sebatas peluk dan rengkuh saling berbagi kehangatan. Namun malam itu sekiranya berbagi kenikmatan pun akan di sanggupi oleh Adisty mengingat buncahan nafsu yang mulai merasuki dan Tomy-pun membutuhkan afeksi.

Kini Tomy berhasil mengecup beberapa kali bibir Adisty, sangat lembut. Awalnya bibir wanita itu masih terkatup dan hanya memejamkan matanya, namun kelamaan Adisty membuka bibirnya hingga Tomy mendapatkan akses untuk menjamah setiap sudut rongga mulut Adisty dengan mudah. Ciuman yang awalnya sangat pelan dan lembut pun perlahan semakin menuntut.

Tomy mendorong tengkuk Adisty hingga menjadi lebih lekat dengan dirinya, mempermudah untuk menikmati tiap inci rasa manis pada bibir Adisty. Lenguhan kecil beberapa kali lolos dari sela lumatan keduanya. Adisty tidak bisa menahan lenguh dan desah kecil diantara lumatan yang sudah bercampur dengan nafsu yang membara.

Ciuman dan lumatan yang di berikan Tomy pertama kali dalam hidup Adisty ternyata jauh lebih baik ketimbang Dito. Meskipun kali pertamanya, Tomy dirasa lebih lihai dalam hal mencumbu. Seketika bulu kuduk Adisty merinding kala tangan Tomy menelusup di sela lingerie berbahan satin yang ia kenakan, mengusap punggung sang puan secara seduktif. Sudah tentu lingerie yang menempel pada tubuh Adisty tersingkap hingga mengekspos paha mulusnya serta setengah tubuhnya.

Tomy dan Adisty sama-sama di lingkupi nafsu yang sudah di ujung dan mungkin sebentar lagi akan meledak. Dua sahabat yang sama-sama sedang patah hari, mengalami quarter life crisis bersamaan, bertukar keluh dan kesah masing-masing hingga akhirnya dua insan ini saling membutuhkan afeksi yang tidak perlu jauh-jauh harus di cari. Mungkin saat ini keduanya belum saling memiliki namun ketika waktu terus berjalan bisa di pastikan mereka tidak mau saling kehilangan.

Tomy bergerak perlahan menidurkan tubuh Adisty di bawahnya tanpa melepaskan pagutan diantara keduanya. Tangannya berkali-kali mengusap lembut pipi Adisty sebelum akhirnya mengakhiri lumatan yang di rasa penuh dengan nafsu. Tomy memandang wajah Adisty, dua netra saling bertatapan dan saling mengunci. Adisty tampak sayu, bibirnya masih menganga hampir kehabisan pasokan oksigen ketika Tomy mencium dan melumatnya habis-habisan.

“Dis.. Boleh?”

Adisty mengangguk sangat yakin dengan apa yang akan di lakukan oleh mereka. Tentu saja Adisty kini lebih mempercayai Tomy ketimbang Dito yang sudah jelas mengkhianati. Sudah tidak terhitung berapa kali keduanya melewati canda tawa dan sedih hingga terluka bersama. Tomy selalu ada ketika Adisty membutuhkan begitu juga sebaliknya. Sama-sama menjadi penghibur dan saling melengkapi ketika keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja.

Malam itu di ruang kamar yang sangat minim pencahayaan, menjadi saksi dua sahabat yang tidak ingin lepas satu sama lain, saling mengobati luka satu sama lain serta saling menyerahkan raga masing-masing untuk di kuasai oleh nafsu hingga rela berbagi kenikmatan.

Tomy menanggalkan satu persatu pakaian yang ia kenakan hingga menyisakan celana dalam menjadi penutup terakhir yang masih menempel pada tubuhnya. Lelaki itu kembali mendaratkan ciuman dan melumat bibir Adisty, kini terasa lebih menuntut. Adisty yang berada di bawah kendali Tomy hanya mengikuti semua alur yang di ciptakan olehnya.

Setelah puas melumat bibir candu milik Adisty, lelaki itu mulai menjamah dan bergerilya mulai dari ujung telinga, mencium basah hingga belakang telinga dan leher Adisty. Menjilat dan menyesapnya tanpa meninggalkan bekas kemerahan pada kulit putih pucat milik Adisty. Sedangkan wanita itu meloloskan lenguh dan desah yang terdengar kian nyaring di tengah-tengah malam sunyi.

Tangan Tomy bergerak turun, mengusap perlahan paha sang puan kemudian naik keatas menyingkap lingerie satin yang masih menutupi tubuh Adisty. Tanpa basa basi lagi, Adisty menaikkan lingerie itu hingga di atas dadanya dan berhasil melepaskan setengahnya dengan bantuan tangan kanannya. Kemudian sisanya di bantu oleh Tomy untuk di tanggalkan dan hanya menyisakan bra serta celana dalam dengan warna senada.

“Dis, are you serious? Lanjut nggak? Kalau lanjut ya ayo, tapi kalau nggak ya gue stop. Gue mau pakai baju lagi.” Tomy berujar guna memastikan yang ia inginkan bukan atas dasar ego sendiri atau keinginan satu pihak saja.

“Yes. I believe in you, Tomy.” Jawab Adisty penuh keyakinan.

Tomy tersenyum lega, keinginannya terbalaskan oleh Adisty. Tanpa ada paksakan, —pun keduanya memang sedang membutuhkan afeksi. Tomy kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Adisty sebelum dirinya melepaskan bra yang di rasa akan mengganggu aktivitas seksualnya.

Lelaki itu meraup dua gundukan payudara Adisty yang menyembul sempurna dan sangat pas di genggaman. Ia melumatnya secara bergantian, tangannya pun tak bisa tinggal diam. Meremas, memijit, juga memilin ujung payudara milik Adisty yang sudah mencuat tegang.

Adisty membusungkan dada ketika jemari Tomy menyapa miliknya dari balik celana dalamnya yang sudah sangat lembab dan basah. Bibir dan lidah Tomy masih sibuk melumat dan memainkan payudaranya yang semakin menegang.

“Mmphh.. Tomy..”

Entah lenguhan keberapa kali yang keluar dari bibir Adisty, ia sudah tidak bisa mengendalikan nafsu yang sejak tadi menguasai dirinya. Tangan kanannya meremas bahu Tomy ketika jari tengah lelaki itu menyapa klitorisnya yang terasa lembab.

“Aahh.. Tom,—”

“Dis, yours is so wet, huh?“

“Do it, I can't take it anymore. Please. Satu bulan gue udah nggak ngelakuin sama Dito, jadi cepet basah.” Jelas Adisty tanpa rasa canggung sedikitpun.

Tomy terkekeh mendengar jawaban dari Adisty, lalu menimpali dengan kalimat ejekan.

“Sebulan nggak hs malah cowok lo main sama mantan. Sial.”

“Brengsek lo!” Maki Adisty sembari memukul dada Tomy menggunakan tangan kirinya tanpa sadar.

“Auww... Sakit.” Pekik Adisty ketika menyadari bahwa luka itu belum mengering hingga menimbulkan rasa sakit dan perih yang menjalar hampir ke seluruh tubuh.

“Dis, gimana sih lo?! Belum juga kering lukanya.” Ucap Tomy sembari meniup beberapa kali di atas permukaan perban.

“Gue lupa. Perih, Tom..” Rengek Adisty.

Tomy yang terlihat sibuk meniup di atas permukaan perban guna mengurangi rasa sakit pada lukanya, tiba-tiba mulai menggoda Adisty dengan membubuhkan ciuman hangat mulai dari pergelangan tangan yang masih di balut dengan perban, kemudian ciuman Tomy bergeser pada lengan dari bawah hingga bagian atas tanpa mengalihkan pandangannya pada sorot mata Adisty.

Adisty hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika libidonya mulai naik. Lelaki itu menurunkan celana dalam Adisty dengan sekali tarik kemudian menanggalkan dan membuangnya ke lantai. Tomy bergerak turun, mensejajarkan wajahnya pada liang surgawi milik Adisty yang terlihat sudah sangat basah.

“Oh, shit! This is a beautiful pussy.“

“Tom,— Ahh.. Fuck!” Adisty memekik ketika lidah hangat Tomy menyapa miliknya dengan tiba-tiba. Tubuh wanita itu menggelinjang saat lidah sang tuan menyapu lipatan bibir vagina miliknya dan memainkan klitoris yang berkedut seakan meminta untuk di jamah tanpa henti.

Tomy dan Adisty sama-sama menggila, keduanya di bakar oleh hasrat dan nafsu. Desahan yang lolos dari bibir Adisty terdengar semakin nyaring hingga memecah kesunyian malam itu.

Satu tangan Adisty meremat kuat-kuat ujung bantal guna melampiaskan kegelisahan. Liangnya sedang di manjakan oleh bibir dan lidah Tomy. Menaik turunkan ujung lidahnya pada bibir vagina dan berhenti pada klitoris milik Adisty yang sudah memerah. Dua jarinya ia lesakkan pada lubang kenikmatan wanita itu tanpa aba-aba hingga membuat Adisty mendesah dan mendongakkan kepalanya.

Satu tangan Tomy ia gunakan untuk menahan kaki Adisty yang bergerak resah, dan satu tangan yang lain masih sibuk memainkan liang surgawi milik Adisty yang sangat hangat dan ketat. Gerakan keluar masuk dua jari Tomy di sertai gerakan memutar ujung lidah pada klitoris wanita itu benar-benar membuat Adisty melenguh, mendesah tidak karuan. Peluh dan keringat mulai bercucuran, rambut hitam legam yang sudah sangat berantakan menimbulkan hawa semakin panas.

“Tomy.. Awas, ahh..”

“You wanna cum, right?” Tanya Tomy di sela aktivitasnya, tanoa menjeda barang sedetikpun.

“Yes, please.. Awas minggir.” Pinta Adisty, namun tidak di hiraukan oleh Tomy. Lelaki itu justru mempercepat gerakan jarinya, lidahnya kembalikan memainkan titik sensitif milik Adisty. Tomy hanya ingin menuntaskan pelepasan wanita itu tanpa harus menghindar dari cairan orgasme yang sebentar lagi akan membasahi jari dan juga bibirnya.

“Come on, Dis.. Keluarin.”

Dinding vagina Adisty mulai berkedut dan semakin mengetat, menjepit kedua jari Tomy yang masih sibuk mengoyak di dalam sana. Lelaki itu terus merangsang pelepasan Adisty dengan menggigit kecil klitorisnya dan melumat serta memainkan dengan lidah. Detik kemudian tubuh Adisty menggelinjang dan bergetar hebat ketika menjemput pelepasannya.

Adisty melengkungkan tubuhnya dan meremas sprei kuat-kuat ketika gelombang pelepasan menyapanya. Desahan panjang terdengar nyaring hingga memenuhi seluruh ruang kamar Adisty. Deru nafas terdengar samar begitu berat.

Adisty memejamkan matanya, merasakan aliran darahnya berdesir begitu cepat. Tomy merangkak keatas tubuh wanita itu dan mensejajarkan dirinya dengan Adisty. Mendaratkan kecupan singkat pada bibir Adisty yang ranum.

“Lanjut, Dis?”

“Menurut lo aja gimana? Lo mau nyelesein sendirian?” Ucap Adisty membalas ledekan yang sempat di ucapkan Tomy beberapa waktu lalu.

Tomy tersenyum kecut, kemudian mencium sembari menggigit bibir Adisty hingga membuat wanita itu tersentak.

“Aw.. Tomyyyy... Sakittt...” Rengek Adisty, bibirnya mengerucut kesal karena perlakuan Tomy. Sedangkan lelaki itu hanya terkekeh sembari melucuti satu-satunya kain penutup aset miliknya.

Adisty menelan ludahnya, gusar. Raut wajah wanita itu berangsur merah merona ketika melihat kejantanan sahabatnya yang sudah mengeras dan tegang. Malam itu adalah kali pertama Adisty dan Tomy saling bertukar kenikmatan dan bisa di pastikan akan terus terulang.

Tomy menindih tubuh Adisty, mengecup kening dan pipi wanita itu dengan lembut.

“Dis, percaya.. Gue gak akan ninggalin lo.” Ucap Tomy di sela menghujani kecupan-kecupam basah pada tubuh Adisty dan wanita itu mengangguk pelan.

“Lanjut? Tapi gue nggak bawa kondom.”

“Nggak apa-apa, gue minum pil.” Jelas Adisty guna meyakinkan sahabatnya.

Tomy kemudian mulai melancarkan aksinya, ia membuka dua kaki Adisty menggunakan lututnya. Lalu mensejajarkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Adisty. Lelaki itu mengocok penisnya perlahan sebelum menggesekkan ujungnya pada bibir vagina Adisty hingga membuat sang puan merasa frustasi.

“Mmphh..” Lenguh Adisty sembari menggigit bibir bawahnya dan secara reflek jemarinya meremas apapun yang menjadi tumpuan.

Tomy melesakkan batang penisnya dalam sekali hentak dan ia benamkan dalam-dalam pada liang surgawi milik Adisty yang terasa sesak dan hangat.

“Aahhh... Penuh banget, Tom.” Adisty berujar di sela desah dan deru nafasnya yang memburu.

“Sakit?” Tanya Tomy memastikan wanita yang berada dalam kendalinya itu tidak merasakan kesakitan.

Adisty menggeleng, ia hanya mencobanya mengatur nafasnya.

“You like it? Warm and full?” Tanya-nya lagi, kemudian di balas dengan anggukan oleh Adisty. Kemudian Tomy mulai menggerakkan pinggulnya, menumbuk liang kenikmatan yang sempit dan hangat itu dengan tempo sedang.

Kedua kaki Adisty melingkar pada pinggang Tomy tanpa di minta. Tangan kanannya meremas lengan Tomy ketika lelaki itu menghujam dan menghentak kejantanannya hingga menabrak titik sensitif milik Adisty.

“Ough.. Fuck. Punya lo enak banget, Dis.” “Aahhh...”

Satu tangan Tomy menyokong tubuhnya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk meremas, dan memainkan dua gundukan payudara sintal milik Adisty. Sesekali memilin puting milik wanita itu dan mencubit kecil ujungnya, membuat si empu mengerang.

Adisty bak di bawa terbang ke langit ke tujuh. Ukuran penis Tomy sangat pas bersarang pada miliknya, gerakan penetrasi sang tuan pun di luar dugaan. Tempo gerakan yang tidak terburu-buru, lalu memutar dan menghentakkan pinggulnya dalam-dalam membuat Adisty kelimpungan tak kuasa menahan gelombang pelepasan yang semakin dekat.

Tomy memandang raut wajah Adisty di tengah cahaya temaram yang terasa hangat, mengamati tiap detik sang puan merintih, mendengarkan tiap desahan yang keluar dari bibir wanita itu bak sebuah candu yang sulit di lepaskan.

Tomy mengusap keringat yang membasahi wajah ayu Adisty tanpa mempedulikan dirinya pun penuh akan peluh. Jemarinya sibuk mengusap pipi Adisty guna menyalurkan rasa tenang ketika ia mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik sensitif dan membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.

“Tomy please.. Fuck me harder, please.. Please.. Please..“ “Aahh...”

Adisty menatap lekat dua bola mata Tomy penuh permohonan agar segera di tuntaskan pada pelepasannya. Lelaki itu kemudian mencium dan melumat kembali bibir ranum Adisty guna menyalurkan rasa nikmat yang mereka buru. Pinggul Tomy bergerak semakin tidak beraturan ketika ia merasakan liang vagina sang puan mulai berkedut dan semakin mengetat. Tomy ingin menuntaskan puncak orgasme bersamaan dengan Adisty.

“Come on, girl.“

“Gue udah gak tahan, Tom. Please..” Adisty berujar di saat kedua netranya terpejam rapat. Tubuhnya melengkung dan bergetar hebat.

“Keluarin, Dis... Come on!”

“Aahhh...”

“Aahhh... Fuck!“

Desah dan racau Adisty menuntaskan pelepasannya bersamaan dengan Tomy. Tubuh wanita itu menggelinjang dan bergetar hebat kala cairan sperma milik Tomy menyembur berkali-kali di dalam rahim Adisty dan terasa hangat, bercampur dengan milik Adisty hingga penuh sampai-sampai tidak sanggup menampung cairan kenikmatan yang mengalir membasahi sela paha wanita itu.

Tomy mencium bibir Adisty pelan dan berangsur lama, tangannya mengusap pucuk kepala sang puan. Menyalurkan beribu-ribu rasa hangat, nyaman serta nikmat pada Adisty.

“Thank you, girl.” “I promise, I'm not to leave you.” Ucap Tomy lirih, kemudian mendaratkan satu ciuman hangat pada kening Adisty. Wanita itu tersenyum sarat akan rasa yang tidak bisa di ungkapan dengan kalimat bahkan sepenggal kata. Adisty yakin bahwa Tomy jauh lebih baik ketimbang calon tunangannya yang tak lain adalah seorang bajingan.

Sampai kapanpun Adisty hanya membutuhkan Tomy Reiga Jazziel.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for TNL's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip