Sit down!

Suara dentuman musik Dj menggelegar, menggema hampir saja memecahkan gendang telinga. Para muda mudi tengah asik di lantai dansa, menggoyangkan tubuhnya mengikuti riuhnya alunan musik. Bagi yang lain, duduk di antara meja berbentuk bundar dan sofa yang melingkar sembari menuangkan minuman dan memutar gelas lebih mengasikkan ketimbang menari di lantai dansa. Tidak terkecuali Jodie dan Elissa, keduanya tengah menghabiskan malam perayaan ulang tahun Jodie di sebuah club yang biasa ia kunjungi bersama rekan kerjanya. Entah sudah berapa kali putaran dua insan itu menikmati pahitnya minuman beralkohol yang efeknya sangat memabukkan.

Malam itu Elissa terlihat lebih cantik dan menarik dari biasanya. Tentu saja akan selalu cantik di mata Jodie, apapun yang di kenakan oleh wanita itu selalu terlihat sangat cocok di tubuhnya. Di malam perayaan ulang tahun sang kekasih, Elissa mengenakan mini dress berwarna hitam backless yang mengekspos punggungnya sampai bagian pinggang, kaki jenjangnya di percantik dengan heels hingga membuat tinggi tubuhnya hampir sejajar dengan Jodie.

Semakin malam, suasana semakin ramai. Orang-orang berdatangan juga berpasang-pasangan memenuhi ruangan juga lantai dansa. Dari sekian banyak rekan kerja Jodie atau teman sepermainan lelaki itu, Elissa mengenal sebagian dari mereka. Tak ayal wanita itu bisa berbaur dengan mereka. Di tengah canda tawa yang riuh, tiba-tiba saja suara seorang wanita yang tak asing memanggil nama Jodie.

“Jodie!!” Panggil seorang wanita dari jarak yang tak jauh dari tempat duduknya. Lamat-lamat sosok wanita tersebut perlahan mendekat. Tubuhnya tinggi semampai dan berwajah ayu tengah berjalan menghampiri Jodie.

“Sarah?? Hey.. Long time no see.” Balas Jodie sembari melayangkan peluk selayaknya dua kawan yang lama tidak bertemu. Elissa yang duduk di sebelahnya terperangah cukup kaget akan kehadiran wanita itu. Sarah adalah mantan kekasih Jodie sewaktu keduanya mengeyam pendidikan di bangku kuliah. “Kebetulan atau sengaja??”—batin Elissa. Mana mungkin hanya kebetulan semata jika bertemu dengan mantan kekasih tepat di hari ulang tahunnya, keluh Elissa dalam hati.

“How are you, Sa?” Tanya Jodie pada wanita yang kini bergabung dengan tempat mereka dan duduk di sebelah Jodie.

“Baik dong.. Kayak yang lo liat sekarang.” Jawab Sarah dengan kekehan dan di susul Jodie yang tertawa lepas.

“Eh, lo sama siapa?” Tanya-nya lagi.

“Temen-temen gue. Itu di table sebelah.” Jawab Sarah sembari menunjuk meja sebelah yang terisi penuh beberapa muda mudi. Jodie sedikit menoleh kearah yang di tunjuk kemudian mengangguk dan tersenyum.

“Oya, kenalin cewek gue. Elissa.” Ucap Jodie pada Sarah sembari mengusap punggung sang puan yang terekspos. Dua wanita itu beradu tatap dalam gelap sembari menjabat tangan beberapa saat. Suasana menjadi canggung bagi Elissa, wanita yang seharusnya tidak ada di momen ulang tahun Jodie tetapi malah tiba-tiba hadir di sana.

“Sayang, aku ke toilet ya?” Ucap Elissa tiba-tiba ketika emosinya sedikit tersulut akibat dua manusia di sebelahnya bak sedang dalam acara reuni yang tidak di sengaja.

“Mau aku anterin? Toiletnya agak jauh babe.” Pinta Jodie sembari memegangi pergelangan tangan Elissa namun di lepaskan perlahan oleh wanita itu.

“Nggak usah. Aku bisa sendiri, kamu temenin Sarah aja.” Ujarnya, ketus. Elissa beranjak dari duduknya dan meninggalkan lelaki yang sedari tadi netranya mengekor pada sosok kekasih yang perlahan menghilang di antara banyaknya pengunjung malam itu.

“An, tolong ikutin Elissa. Gue takut anaknya ambruk.” Perintah Jodie pada seorang teman bernama Ana. Karena hanya Ana yang tidak banyak minum malam itu. Perempuan bernama Ana itu kemudian meninggalkan meja mereka dan menyusuri kerumunan puluhan orang untuk menemukan Elissa.

Jodie sebenarnya cemas dengan Elissa, pasalnya wanita itu cukup banyak meminum cairan beralkohol dan Jodie yakin saat ini kekasihnya tengah dalam keadaan mabuk.

Sarah yang kini tengah asik berbincang dengannya seakan mengambil kesempatan saat Jodie tak bersama Elissa. Bahkan Sarah semakin betah bercengkerama dengan mantan kekasihnya itu. Membahas A sampai Z perihal banyaknya waktu yang mereka lalui dulu, hingga mengikis jarak diantara keduanya.

Lamat-lamat dari kejauhan sorot mata Elissa menangkap satu tangan yang bertengger di atas paha kekasihnya tanpa rasa canggung, sembari meloloskan canda tawa serta raut wajah bahagia. Kepala wanita itu seperti ingin meledak, hawa panas menggelayuti tubuhnya mana kala melihat Jodie tengah menyodorkan satu shoot berisi minuman pada Sarah yang semakin betah berlama-lama di sana.

“Bajingan.” Umpatnya. Elissa mengepalkan telapak tangannya, geram. Dadanya perih bak di hujam tombak panas, bulir-bulir air di sudut kelopak matanya sudah tidak tertahan dan hampir terjun bebas. Elissa membalikkan tubuhnya bermaksud pergi meninggalkan club tanpa Jodie. Elissa tidak peduli lagi dengan dirinya yang kosong tanpa membawa ponsel dan handbag yang tertinggal di table tempat Jodie berada, yang berputar di otaknya saat ini hanyalah pergi dari tempat tersebut.

Elissa membalikkan tubuhnya berjalan gontai akibat minuman beralkohol yang di konsumsinya sedari tadi bak segelas lemonade yang begitu nikmat. Namun efeknya sudah terasa menjalar ke seluruh tubuh hingga membuatnya limbung. Pandangan matanya kabur di tambah kepulan asap rokok dari berbagai arah membuat dirinya semakin kesulitan melihat dalam gelap. Dua kakinya mencoba tegak menahan berat tubuh di atas heels setinggi 11 cm namun hampir tumbang ketika bersenggolan dengan banyak manusia di dalam sana.

“Auw...” Pekik Elissa saat tubuhnya terpelanting hampir jatuh namun sepasang tangan kokoh berhasil menangkapnya tanpa cidera.

“Lo gak papa?” Sahut lelaki itu sembari membantunya berdiri tegap.

Elissa berpegangan pada lengan kekar yang menopangnya tadi, kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba mengenali sosok lelaki yang tengah berdiri di hadapannya.

“Gapapa, thanks.” Ucap Elissa sembari melenggang pergi tanpa memperhatikan lelaki tersebut. Pengaruh alkohol benar-benar sudah mengaburkan pandangannya.

Lelaki yang sebelumnya menolong Elissa tiba-tiba saja menarik lengan wanita itu, hingga tubuhnya hampir ambruk. Lagi-lagi tangan kokoh itu siap menopang Elissa di tengah puluhan manusia yang berdesakan.

“El, lo mau kemana? Kalau mau keluar bukan lewat situ, bego! Lewat sini, nyet!” Ucap lelaki itu sembari memegangi lengan Elissa dan menariknya mendekat.

“Apaan sih lo, narik-narik gue! Gue nggak kenal sama lo!” Ujarnya, wanita itu berusaha lolos dari cengkeraman namun gagal.

“Liat gue! Gue David. Lo kobam, parah dah.”

“David...”

“Iyaaa, David. Kita satu tim.” Jelas lelaki bernama David itu.

“Ohh... David, kebetulan banget. Gue mau minta tolong sama lo.” Ucap Elissa ketika ia mengingat sosok lelaki bernama David adalah rekan kerjanya.

“Anterin gue pulang dong. Kepala gue pusing banget.” Pinta Elissa sembari memegangi pelipisnya.

“Laki lo kemana? Bukannya lo kalo kesini pasti sama Jodie?” Tanya-nya memastikan. David tidak mau ada salah paham di antara mereka, karena David sudah mengenal Jodie sebelumnya.

“Jodie anjing! Dia malah asik sama mantan pacarnya, ketemu barusan di sini.” Gerutu Elissa, tangannya mengepal penuh amarah.

“Bisanya?” Tanya David.

Tiba-tiba dari arah belakang Jodie mencengkeram lengan Elissa dan menariknya kembali ke tempat semula yang letaknya tidak jauh dari tempat David berdiri. Elissa tersentak kaget, dan berontak setelah melihat lamat-lamat sosok yang menarik tubuhnya adalah Jodie.

“Brengsek! Urusin mantan lo! Nggak usah peduliin gue!” Pekik Elissa setengah berteriak dan berontak, mencoba melepaskan diri dari Jodie.

“El, kamu kenapa? Sarah udah pergi, aku nggak ngapa-ngapain.” Jelas Jodie pelan, ia tidak mau tersulut emosi sesaat karena Elissa terpengaruh oleh alkohol terlebih sekarang mereka sedang di tempat umum.

“Nggak ngapa-ngapain? Mata gue nggak buta Jo! Gue liat Sarah pegang-pegang kamu dan kamu ngasih minuman ke Sarah, kalian ketawa asik banget. Are you happy?! Huh??” Cecar Elissa dengan emosi yang memenuhi kepalanya.

“I'm happy because of you. El, aku cuma anggap Sarah sebagai tamu, it's my birthday.“

“Bullshit! Spend your night with Sarah and don't follow me!” Elissa berujar lalu hendak pergi meninggalkan Jodie, namun lelaki itu lebih cepat menarik pinggang Elissa dan merapatkan pada tubuhnya.

“Elissa! Shit down, now!!” Jodie geram sembari menatap dua bola mata Elissa yang tak berkedip barang sedetikpun.

“Shut up!!” Balas Elissa, jari telunjuknya ia acungkan ke depan wajah Jodie membuat lelaki itu hampir meledakkan hawa panas yang bermuara di kepalanya. Elissa merenggangkan dengan paksa satu tangan Jodie yang masih melingkar indah di pinggangnya, kemudian melenggang pergi dengan langkah gontai.

Elissa menarik dengan paksa tangan David untuk mengikutinya pergi keluar dari tempat itu dan Jodie terus mengekor kekasihnya dari belakang. Beruntung David adalah teman satu tim yang tidak mau memanfaatkan keadaan, —pun Jodie adalah kekasih yang masih bisa bersabar menghadapi sikap Elissa yang tidak terkontrol.

“Lo mau anter kemana?” Ucap Jodie lirih sembari menepuk pundak David.

“Elissa bilang ke apartemen.” Jawab David setengah berbisik.

“Ke hotel Neo aja, gue nyusul di belakang.”

“Oke.”

“Thank you, bro” David mengangguk kemudian tangannya melingkar di pinggang Elissa, guna mensejajarkan langkahnya. Wanita itu sebenarnya tidak merepotkan pada saat di bawah pengaruh alkohol tetapi Elissa terkadang tidak bisa mengontrol emosi jika ada yang memancingnya.

“El, merem deh kalau pusing.” Ucap David, tangannya memakaikan seatbelt pada tubuh Elissa. Wanita itu tidak bergeming, ia sudah memejamkan matanya sejak memasuki mobil.

Mobil David melaju pelan di ikuti Jodie di belakangnya. Satu hari sebelumnya Jodie dan Elissa memang sudah menginap di hotel Neo, sehingga malam itu Jodie meminta David untuk mengantarkan Elissa kembali ke hotel.

Sesampainya di basement David memapah Elissa, membantunya berjalan menuju lift. Jodie-pun sudah berada di depan pintu lift menunggu mereka. David mengoper tubuh Elissa ke dalam peluk Jodie dan di rengkuhnya erat, namun Elissa belum sadar jika ia bersandar pada tubuh kokoh milik kekasihnya.

“Thank you ya Vid.” Ucap Jodie lirih sembari melayangkan kepalan tangan dan di balas oleh teman satu tim Elissa.

“Oke bro.” Balasnya, kemudian pergi.

Jodie dan Elissa kemudian menaiki lift untuk naik ke lantai 10. Lelaki itu memeluknya erat, mengusap punggung sang kekasih yang terekspos jelas memamerkan kulit putih dan mulusnya. Wajahnya ia sandarkan pada ceruk leher Jodie tanpa sadar, perlahan tangan kanan wanita itu melingkar pada perpotongan leher lelaki itu dan masih menganggap sosok yang sedang mengantarnya kali ini adalah David. Tinggi badan David yang tak jauh berbeda dengan Jodie membuatnya samar untuk mengenalinya.

“David, jangan bilang laki gue kalau balik ke apartemen ya? Gue pengen sendirian.” Jodie tidak bergeming mendengar racau kekasihnya.

“Anjing. Mantannya gatel. Lo tau nggak? Masa gue liat si Sarah Sarah itu ngelus-ngelus paha Jodie. Gatel kan Vid?” Racau Elissa semakin menjadi ketika dirinya belum menyadari bahwa orang yang sedari tadi memeluknya, membantunya berjalan, bahkan yang menenteng heels-nya adalah Jodie.

“Pin apart gue 090295.” Ucap Elissa ketika ia merasa sedang berhenti di depan pintu. Namun Jodie hanya diam saja, ia menempelkan cardlock pada gagang pintu kemudian memasuki kamar hotel.

“Lo kenapa sih diem aja, anjing! Jawab gue!” Elissa memaki lelaki yang sedari tadi masih setia dengan tangan yang bertengger di pinggangnya.

“Aku Jodie, babe.. Bukan David. Kita pulang ke hotel, bukan ke apart.” Balas Jodie lembut, deru nafas lelaki itu menyeruak di telinga Elissa hingga membuatnya merinding lalu kembali berontak.

“Lepasin gue!” Pekik wanita itu melepaskan tangan Jodie dari peluknya. Wanita itu berjalan sempoyongan ke arah pintu, hendak keluar dari ruangan tersebut namun di tahan oleh Jodie. Tangan kekar lelaki itu mencengkeram lengan sang kekasih lalu menariknya mendekat hingga melekat pada tubuhnya. Dua netra saling bertemu, nafas mereka saling beradu, serta jantung yang kian berdegup memburu.

Jemari Jodie menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah sayu sang kekasih, mengecup bibirnya singkat lalu tersenyum.

“El, aku di sini sekarang, sama kamu.” Elissa tetap berontak dan tiba-tiba seperti kesetanan, emosinya meletup tanpa kendali.

“Lepasin Jo! Aku mau pulang!” Ujarnya sembari melepaskan diri dari kekasihnya.

“Kita pulang ke hotel, sayang.. Kamu bilang pengen nginep di hotel kan?” “Babe, it's my birthday. I want to enjoy with you” Ucap Jodie semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Elissa.

“It's your birthday but laughing happily with your ex??“ “I see from a distance, my boyfriend laughs happily without me!” Cecar wanita itu, tangan dan tubuhnya sibuk bergerak keluar dari rengkuh sang kekasih.

“Elissa..”

“Diem, Jo.”

“El, sit down.“

“No. I will go.” Sorot mata Elissa tajam menembus remang cahaya di dalam kamar hotel itu.

“El, do I have to be rough if you won't listen to me?” Ujarnya sembari menarik pergelangan tangan Elissa.

“Try if you can. Aku belum pernah liat seberapa bisa kamu bersikap kasar sama aku.” Ucap Elissa tanpa ragu. Wanita itu mungkin sedang menganggap remeh perkataan kekasihnya, padahal yang sebenar-benarnya Jodie sedang menahan hawa panas dan emosi yang sudah hampir meledak.

Detik kemudian Jodie mengangkat tubuh wanita itu ke atas bahunya dengan posisi terbalik.

“Fuck! Turunin aku, Jo!” Pekik wanita itu sembari memukul punggung kekasihnya beberapa kali namun Jodie tidak bergeming. Lelaki itu menghempaskan tubuh mungil Elissa ke atas ranjang besar di hadapannya.

Elissa mengerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha bangkit dari posisinya. Wanita itu merasakan goncangan yang luar biasa hingga menyebabkan kepalanya seakan berputar dan pandangannya pun ikut kabur. Jodie lalu melepaskan kemeja yang ia kenakan guna mengikat kedua tangan Elissa dan meletakkan di atas kepala sang puan agar tidak bergerak kemanapun.

“Jo..”

“I'm sorry babe..” Ujarnya, sepersekian detik tangan kekar Jodie merobek paksa dress yang menutup lekuk tubuh sang kekasih hingga mengekspos seluruhnya dan hanya menyisakan celana dalamnya saja.

“Oh, fuck! Jo..” Elissa mengumpat ketika dua tangan yang berada di atas kepalanya tidak berdaya, tidak mampu menahan gerak kasar Jodie ketika merobek paksa dress yang baru saja ia beli dua hari lalu.

Jodie mencium kasar bibir Elissa yang masih mengatup rapat, tanpa menyisakan sedikitpun celah untuk di jamah oleh bibir lelaki itu. Namun Jodie tidak habis akal agar Elissa menurut takluk di bawah kuasanya. Tangan lelaki itu meraba, menjamah, setiap jengkal tubuh kekasihnya tanpa terlewat barang satu inci-pun. Elissa menahan mati-matian lenguh agar tidak keluar dari bibirnya ketika gairahnya di bakar paksa oleh Jodie. Namun tetap saja gagal pada saat tangan kekar Jodie meremas payudara miliknya kemudian berujung mencubit kecil puncak payudaranya.

“Ahh...” Lenguhan tidak sengaja keluar dari bibirnya. Dengan gerak cepat Jodie berhasil menjamah serta melumat bibir manis milik Elissa. Menyesap dan mengabsen tiap inci dalam rongga mulut wanita itu. Kelamaan Elissa-pun tidak bisa lagi berontak. Jodie yang kini sedang menindih tubuhnya membuat dirinya tidak bisa bergerak dan melawan.

Pertahanan Elissa akhirnya runtuh, lumatan di balas dengan lumatan. Sentuhan jemari Jodie yang menjamah tubuhnya bak asupan energi mengalir pada pembuluh darahnya. Jodie berhasil menguasai tubuh Elissa saat ini, ia mendaratkan kecupan-kecupan basah pada telinga, leher dan turun pada dua payudaranya yang sintal. Lelaki itu mengecup, menjilat serta menyesap permukaan kulit Elissa hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.

Lenguh dan desah tak henti-hentinya lolos dari bibir Elissa. Kekasihnya memang tidak pernah gagal membuat dirinya mabuk kepayang dan hampir gila. Pada saat lidah Jodie sibuk memainkan puting Elissa dengan lidah serta mengulum dengan rakus dua payudaranya secara bergantian, satu tangan yang lain bergerak turun untuk menyapa area kewanitaan sang kekasih yang sudah lembab dan basah terbungkus celana dalam berwarna hitam.

“Ngghh.. Jo..” “Ahh..”

Desah yang keluar dari bibir Elissa terdengar semakin resah. Tubuhnya menggeliat ketika jari-jari lelaki itu dengan telaten memijat, mengusapnya dengan lembut serta menggodanya dengan meloloskan ibu jari untuk menyapa klitoris Elissa.

Jodie kemudian melepaskan penutup terakhir yang melekat pada tubuh Elissa. Ia lepaskan celana dalam berwarna hitam yang di kenakan sang kekasih dan melempar ke sembarang arah. Lelaki itu juga melucuti celana yang masih menutupi bagian bawah miliknya, menyisakan boxer saja. Elissa tampak pasrah, ia tidak lagi berontak atau melawan. Bahkan tubuhnya mulai relax menerima berbagai rangsangan yang di berikan oleh Jodie.

Lelaki itu turun dan mensejajarkan wajahnya di depan liang surgawi milik sang kekasih. Meskipun samar karena ruangan yang minim cahaya namun terlihat jelas, milik Elissa di bawah sana sudah basah akibat ulah Jodie yang membuatnya kelimpungan di terjang gelora nafsu birahi.

Tanpa aba-aba, tanpa persetujuan dari sang pemilik surgawi, Jodie menjamah liangnya menggunakan lidahnya yang basah dan hangat. Menyapu liang surgawi milik Elissa hingga menyentuh klitoris yang memerah seakan meminta untuk di jamah.

“Mpphh.. Ahh..”

Elissa kembali meloloskan desah di penuhi resah. Libidonya benar-benar naik dalam waktu yang sangat singkat, birahinya membara seketika melewatkan kejadian ricuh beberapa jam lalu. Bukan Jodie jika dirinya tidak mampu meluluhkan segala macam amarah yang bersarang di benak kekasihnya, hingga berhasil membuatnya mencair.

Dua tangan kokohnya menahan gerak kaki Elissa, bibir dan lidah Jodie masih sibuk dengan kegiatannya di bawah sana. Mengecup, menjilat serta menggigit kecil klitorisnya hingga membuat tubuh wanita itu beberapa kali menggelinjang. Jemari milik Jodie kini berperan penting memuaskan sang kekasih. Ia meloloskan jari tengah dan jari manisnya untuk mengakses liang kenikmatan yang sudah sangat basah.

Jodie menggerakkan dua jarinya dengan tempo sedang guna lebih merangsang Elissa untuk meraih pelepasannya. Kelamaan temponya ia percepat seiring lenguh racau sang puan semakin nyaring, memohon agar ia cepat-cepat mendapatkan pelepasannya.

“Faster please, babe..”

“Like this?” Ujarnya sembari menatap lamat wajah Elissa yang sayu serta keringat yang membasahi sebagian wajah ayu-nya.

“Ouh.. Yes, please.. Please, Jo..” Desah dan racau Elissa semakin menjadi seiring jemari Jodie yang mempermainkan miliknya tiap detik semakin cepat temponya. Jodie memandangi raut wajah sang kekasih yang sudah berantakan adalah candu bagi dirinya. Helai rambutnya sebagian menutupi wajah ayu sang puan, bibirnya menganga mengeluarkan segala macam desah dan racau tanpa henti. Dadanya membusung ketika gelombang pelepasan akhirnya datang, di jemputnya dengan desah yang begitu keras.

“Ahh...”

Tubuh Elissa menggelinjang hebat, kakinya bergetar acak, netranya terpejam merasakan gelombang pelepasannya yang begitu nikmat. Jodie mengeluarkan dua jarinya dari liang hangat yang baru saja mengeluarkan cairan khas pelepasan. Kemudian lelaki itu menyesap jarinya yang basah akibat carian milik sang kekasih sembari tersenyum manis dan menggoda Elissa.

Elissa hanya tersipu sembari merutuki dirinya sendiri yang sangat lemah ketika berhadapan lelaki itu. Buktinya, di cumbu sang kekasih perlahan melunturkan amarah yang sedari menggelayuti dirinya.

Jodie turun dari ranjang besar guna mengambil kondom yang di letakkan pada laci nakas, samping tempat tidurnya. Lelaki itu melepaskan kain penutup asetnya kemudian melapisi batang penisnya yang sudah menegang sempurna menggunakan kondom tersebut. Ia kemudian naik ke atas ranjang, mengungkung tubuh sang kekasih yang tengah mengatur nafasnya yang tersengal.

“I'm sorry, babe. I did not mean it. Aku sama Sarah udah putus lama, tadi juga nggak sengaja ketemu. Kenapa kamu marah-marahnya kayak mergokin aku lagi selingkuh?” Ucap Jodie sembari mengusap pucuk kepala Elissa dan mengecup keningnya.

“Lah dia pegang kamu, ngusap paha kamu. Dia itu mantan kamu Jo, mantan kamu! I'm jealous.“

“Iya, itu hak kamu buat cemburu, karena aku pacar kamu. Tapi Sarah nggak pegang-pegang seperti yang kamu bayangkan, El. Dia cuma minum sekali terus pamit buat balik ke temen-temennya.”

“Tadi kamu malah mau pergi sendiri? Maksudnya apa? Kalau di depan tadi nggak ada David gimana? Bisa jadi kamu di bawa kabur orang nggak kenal, aku mau nyari kemana coba? Marah boleh tapi jangan egois sampai membahayakan diri sendiri. Paham nggak?” Lanjut Jodie.

Elissa mengangguk pelan apa, lelaki itu kemudian tak henti-hentinya mengecup hampir seluruh wajah sang kekasih, mulai dari kening, dua kelopak mata, hidung, dua pipi yang mungkin sudah memerah, dan berakhir di bibir ranum Elissa.

“Maafin aku ya kalau tadi bikin kamu nggak nyaman..” Ujarnya sembari mengusap lembut pipi sang puan.

Elissa mengangguk beberapa kali, senyumnya terbit menghias wajah sayunya.

“Time to make love, right?” Ucap Jodie menggoda sembari mencubit hidung sang puan, lalu di sambut kekehan kecil dan wajah tersipu oleh Elissa.

“Jo...” Elissa mengangkat dua tangan yang masih terikat, memberi isyarat agar Jodie melepaskan ikatan itu. Namun tidak untuk kali ini, Jodie hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.

Jodie hanya terkekeh melihat Elissa mengerucutkan bibirnya, lelaki itu kemudahan mendaratkan satu kecupan singkat pada bibir sang puan.

“Let's play, girl.“

Jodie bertumpu pada dua lututnya di hadapan Elissa, lalu membalikkan tubuh wanita itu dengan posisi Elissa berada di depannya. Jodie membawa dua tangan sang kekasih yang masih terikat rapi itu ke atas headboard untuk bertumpu.

Tubuh indah Elissa tidak lepas dari kecupan-kecupan mesra yang di layangkan Jodie padanya. Mulai dari tengkuk, bahu, punggung, hingga turun ke pinggang dan bokong sintal miliknya kini telah basah akibat kecupan basah dan nakal oleh Jodie berhasil kembali menaikkan libidonya dan kembali terangsang.

PLAK!

“Ahh..” Pekik wanita itu ketika Jodie melayangkan tamparan yang cukup keras pada bokongnya, membuat Elissa meringis dan mengeratkan cengkeraman tangannya pada headboard.

Jodie menggoda wanita itu dengan menggesekkan ujung kejantanannya pada permukaan bibir vagina milik Elissa hingga menyapa klitorisnya yang sudah meminta untuk di mainkan. Elissa melenguh sembari menggigit bibit bawahnya, ketika organ kewanitaannya berkedut.

Tanpa aba-aba Jodie melesakkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Elissa hingga masuk dengan sempurna dan penuh penekanan. Lutut Elissa bergetar, kepalanya mendongak —serta merta lenguhan kian bergemuruh tatkala ujung penisnya berhasil menusuk titik ternikmat milik sang puan.

“Are you ready, babe?” Bisiknya lirih tepat di telinga Elissa hingga membuat tubuhnya bergidik merinding. Elissa hanya menganggukkan kepala tanda tubuhnya sudah siap menerima serangan bertubi-tubi dari lelaki itu.

Jodie mulai menggerakkan pinggulnya pelan, kemudian perlahan ia menambah temponya sedikit lebih cepat. Batang penis milik Jodie masuk dengan sempurna dan terasa penuh sesak di dalam liangnya. Kelamaan gesekan penisnya membuat sedikit nyeri namun nikmatnya dapat mengalahkan segalanya.

Tangan Jodie tidak tinggal diam. Tangan kanannya sibuk mempermainkan klitoris milik Elissa. Mengusap, kemudian memutarnya dengan sensual. Wanita itu tidak henti-hentinya melenguh dan mendesah kian resah ketika Jodie benar-benar membuatnya terbang ke awan. Sedangkan tangan kirinya sibuk bermain-main dengan puncak payudara Elissa yang mencuat tegang.

“Aahh.. Jo..” “Fuck me harder, pleaseehhh..”

Elissa memohon sembari mendesah tanpa henti. Kewanitaannya seakan di manjakan oleh penis Jodie, kejantanannya menumbuk tanpa ampun, sesekali menghentakkan batang penis itu hingga menusuk pada titik ternikmat milik Elissa. Dua lutut Elissa kembali bergetar, dua tangannya mengepal semakin resah.

“Jo.. Please..”

“You wanna cum, huh?“

“Yes please, Jo. Please..“

“Tahan bentar sayang..”

Jodie mempercepat gerakan pinggulnya, menumbuk tanpa ampun. Suara penyatuan dua tubuh yang tengah memburu kenikmatan bersama semakin jelas terdengar, bersahut-sahutan dengan lenguh dan desah semrawut serta racau yang kian gelisah.

Elissa menahan mati-matian gelombang pelepasannya yang semakin mendekat agar bisa menjemputnya bersamaan dengan Jodie. Namun ia cukup kewalahan, Jodie kepalang tanggung hingga terus menumbuknya tanpa jeda.

“Jo.. Aku nggak tahan. Please..”

“Come on, babe..”

Jodie menghentakkan batang penisnya penuh penekanan dan menyemburkan cairan spermanya yang tertampung sempurna di dalam lateks, bersamaan dengan desah memekik ketika Elissa juga menjemput pelepasannya bersamaan dengan sang kekasih.

Kaki dan lutut Elissa melemah bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar hebat akibat pelepasannya. Kepalanya mendongak dan netranya terpejam. Jodie sedikit membungkuk guna mengecup berkali-kali bahu Elissa, menyalurkan rasa hangat dan nikmat yang baru saja mereka dapatkan.

Jodie melepaskan batang penisnya perlahan. Lalu membalikkan tubuh Elissa yang terkulai lemas. Memeluk dan mengecup keningnya beberapa kali kemudian merebahkan tubuh Elissa di atas ranjang.

“Capek sayang?”

Elissa hanya menjawab dengan anggukan saja kemudian memejamkan matanya. Tenaganya benar-benar di kuras habis hanya dengan satu kali permainan. Jodie kemudian mengambil tissue basah dan kering guna membersihkan sisa cairan kenikmatan milik sang kekasih, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal khas hotel.

Jodie membuang kondom bekas pakai di tempat sampah lalu membersihkan miliknya juga sebelum akhirnya memungut boxer kemudian memakainya.

Lelaki itu duduk di tepi ranjang, memandangi sang kekasih yang tengah memejamkan matanya lalu mengusap lembut tangan Elissa. Wanita itu mengerjapkan mata dan memandang ke arah Jodie yang tengah tersenyum ke arahnya. Elissa merentangkan kedua tangannya lalu di sambut peluk dan rengkuh sang kekasih.

“Go to sleep, honey. We will do it in the morning” Bisik Jodie di telinga Elissa, lelaki itu kemudian membenamkan wajahnya pada ceruk leher Elissa.

“You know I really like morning sex?” Balas Elissa sembari menyisir rambut lelaki itu menggunakan jemarinya dan di balas anggukan oleh Jodie. Elissa terkekeh kemudian berbisik lirih di telinga Jodie.

“I love you..“

“I love you more, ay..” Balas Jodie sembari menyambar bibir ranum Elissa dengan kecupan singkat.

Keduanya kini saling memeluk dan merengkuh penuh hangat di balik selimut yang melindungi mereka dari dinginnya suhu udara malam itu. Sama-sama menjemput mimpi indah setelah tubuh mereka di terpa lelah.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for JHS's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip