Vibration
Sabtu malam yang sepi. Tentu saja, karena Hansel pergi menonton film dengan Halsey sedangkan Hana masih berkutat dengan laptop di hadapannya, beberapa lembar berkas dan pulpen tampak berserakan di atas meja. Secangkir kopi panas menemani dirinya malam itu. Satu pesan di terima dari Marcell pukul 5 sore tadi, bahwa ia ingin mengajak Hana night drive untuk sekedar melepas penat setelah hampir satu minggu sang puan sibuk bekerja. Namun ajakannya di tolak oleh Hana, ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya walaupun di hari Sabtu.
Marcell pada akhirnya memilih untuk stay saja di rumah Hana. Menemani sang puan yang sedang berkutat dengan pekerjaan, toh Hana sebenarnya juga butuh teman untuk sekedar ngobrol. Pukul 7 malam Marcell tiba di rumah Hana, rumah yang berdiri kokoh dan cukup besar itu nampak sepi. Lelaki itu memencet bel beberapa kali hingga Hana yang berada di lantai atas-pun segera turun untuk membukakan pintu. Senyuman manis terlukis jelas di wajah Hana ketika menyambut lelaki berparas tampan itu. Marcell memasuki rumah itu dan berjalan mengekor di belakang Hana hingga tiba di kamar sang puan.
Tidak ada basa basi lagi, Marcell merebahkan tubuhnya di atas sofa. Di atas meja terlihat cukup berantakan, beberapa snack berserakan dan secangkir kopi yang tinggal setengahnya menemani Hana beberapa saat sebelum Marcell tiba di sana. Lelaki itu mengusap punggung sang puan beberapa kali ketika Hana duduk di sebelahnya dan menghembuskan nafas sedikit kasar.
“Mau gue bantuin?” Tanya Marcell tiba-tiba. Tangannya masih nyaman mengusap punggung Hana.
“Enggak usah. Ini bentar lagi juga kelar. Gue cuma agak stress aja, deadline besok Senin.” Jelas Hana sembari menatap lekat wajah Marcell yang perlahan membuatnya sedikit lebih relax.
“Udah makan?” Tanya lelaki itu, dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Hana. Sejak sore memang wanita itu belum makan, perutnya kosong dan hanya terisi oleh snack serta kopi saja.
“Kita night drive yuk, sekalian cari makan.” Ujarnya, tangannya kini berpindah mengusap paha sang puan yang terekspos begitu mulus.
“Bentar ya, gue kelarin ini dulu.” Jawab Hana. Wanita itu kemudian melanjutkan aktivitasnya, sedangkan Marcell masih setia menunggu sembari bermain game di ponselnya.
Hubungan keduanya mungkin tidak seperti yang orang-orang lihat. Marcell dan Hana kini lebih sering menghabiskan waktu bersama bahkan hanya untuk sekedar makan siang di sela jam kerja Hana. Lelaki itu-pun tidak pernah segan untuk mengantar dan menjemput Hana ketika bekerja layaknya sepasang kekasih. Pada kenyataannya dua insan ini tidak ada status yang jelas, Marcell beberapa kali bertanya akan kejelasan status mereka namun Hana masih belum siap dengan hubungan yang lebih serius. Bukan tanpa alasan, Hana pernah di sakiti oleh seseorang. Lelaki itu berselingkuh di belakang Hana dan yang paling menyakitkan adalah Hana di campakkan begitu saja setelah memergoki lelaki itu tengah bercumbu dengan wanita lain.
Hari-hari yang telah di lalui keduanya membuat Marcell perlahan mempunyai perasaan lebih terhadap Hana bahkan ia berulang kali meyakinkan sang puan, ingin mencoba mengobati segala luka hati yang sampai saat ini tak kunjung sembuh. Namun Hana belum sepenuhnya yakin dengan Marcell, tidak ada lelaki yang bisa di percaya di dunia ini kecuali sang ayah dan Hansel. Rasa sakit, ketakutan dan trauma yang ia rasakan hingga saat ini membuat dirinya kesulitan membuka hati untuk laki-laki lain termasuk Marcell. Pada hakikatnya Hana membutuhkan seseorang yang bisa menyayangi penuh kasih, menyembuhkan segala duka lara dan yang terpenting adalah tidak akan pernah mengkhianati.
“Cell, minta tolong.”
“Hm?” Jawabnya singkat, ia menghentikan sebentar game di ponselnya sembari menatap sang puan.
“Ambilin kuncir rambut di laci, di situ.” Ucap Hana sembari menunjuk laci di meja kerjanya. Marcell segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja kerja yang di tunjuk oleh Hana. Pada saat Marcell menarik gagang pada laci, saat itu juga ia kaget melihat isi didalamnya. Bukan hanya kuncir rambut tetapi sebuah vibrator yang tersimpan rapi, utuh dalam segel. Sepertinya benda itu baru saja di beli oleh Hana atau memang sang puan sudah memilikinya sejak lama namun tidak pernah ia gunakan.
Marcell mengambil benda keduanya, kuncir rambut dan vibrator. Lelaki itu kemudian berjalan ke arah sofa berdiri di belakang Hana, tangannya tergerak untuk merapikan rambut, mengumpulkan jadi satu dan mengikatnya dengan kuncir yang ia pegang. Wanita itu sedikit kaku, tidak biasanya Marcell bersikap seperti itu dan ia sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun. Tanpa ada penawaran, tangan Marcell bergerak memijat bahu sang puan. Bahu yang biasa digunakan untuk mengurus dan menjaga dua adiknya serta bekerja dari pagi hingga sore. Bahu anak pertama memang selayaknya pilar penyangga, bertanggung jawab penuh terhadap saudara kandung yang jauh dari orang tua.
“Han, lo capek ya?” Tanya-nya di sela memijat bahu sang puan.
“Nggak. Ini lo pijit jadi enakan badan gue.” Jawabnya. Wanita itu kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa dan menghela nafas panjang. Tiba-tiba saja tangan Marcell berhenti memijat, sontak Hana menoleh ke arah belakang.
“Kenapa berhenti?” Ujarnya. Dua netra bertemu, deru nafas yang beradu seakan mengisyaratkan sesuatu.
“Han, mau gue bantu?” Ucap Marcell sembari menaikkan satu alisnya.
“Apaan?” Tanya-nya tanpa menaruh curiga.
“Lo belum pernah coba pakai ini kan? Gue tadi nemu di laci.” Kata Marcell sembari mengeluarkan kotak berisi vibrator dari saku celananya.
Deg! Jantungnya seperti hampir lepas. Benda itu adalah bagian dari privacy, namun bukan sepenuhnya salah Marcell. Lelaki itu-pun tidak akan pernah tau Hana menyimpan vibrator, kalau saja ia tidak meminta tolong untuk mengambilkan kuncir rambut. Tepat seperti yang di katakan Marcell, benda itu belum pernah di gunakan sekalipun oleh sang puan. Hana pernah berpikir akan menggunakannya jika ia merasa horny namun hasrat itu selalu di tepis dengan pergi berbelanja atau menonton film.
“Shit!” Umpatnya. Raut wajah Hana berubah menjadi merah padam. Ia kemudian meneguk kopi yang masih sisa setengahnya hingga habis guna mengurangi rasa panik yang datang tiba-tiba.
“Nggak usah panik. I know it's normal, you have the desire to do it”. Tangan Marcell mengusap lembut pundak Hana, sedangkan wanita itu tidak bergeming. Ia mencerna kalimat yang di lontarkan oleh Marcell. Satu kecupan singkat mendarat di bibir Hana sontak membuat dirinya kaget. Wanita itu kemudian membenarkan posisi duduknya dan di susul oleh Marcell yang kini berada di sampingnya.
“Come on let's do it.” Ajaknya. Tangannya mengusap paha wanita itu, berusaha meyakinkan Hana.
Hana dengan perasaan campur aduk seketika menyetujui ajakan Marcell, bahkan dirinyalah yang memulai sesi bercumbu malam itu. Dua tangan Hana menangkup wajah Marcell dan mencium bibirnya, lelaki itu membalasnya dengan gusar, melumat dan menggigit bibir bawah milik Hana hingga sedikit membengkak. Lebih dari tiga menit keduanya saling bertukar saliva hingga wanita itu hampir kehabisan nafas. Ia melepaskan pagutan keduanya, saling menatap lekat netra masing-masing. Tatapan sayu sang puan sangat terlihat dan Marcell sangat paham dengan kondisi Hana.
“Cell, bikin gue terangsang.” Pinta Hana.
“Of course, I will do it.” Jawab Marcell penuh semangat. Detik berikutnya lelaki itu kembali melumat bibir Hana penuh nafsu, tangannya sudah di pastikan bermain dengan lembut pada gundukan payudara yang masih terbungkus bra berlapis kaus berwarna putih transparan. Perlahan tangan Marcell menelusup masuk ke dalam kaus yang di kenakan wanita itu, meraba setiap jengkal permukaan kulitnya hingga menemukan pengait bra dan di lepaskan pengait tersebut hanya dengan satu kali percobaan.
Hana melepaskan kaus serta bra yang masih menggantung di tubuhnya dan ia buang ke sembarang arah. Dua pasang netra yang beradu dan saling mengisyaratkan sesuatu seakan mendapatkan titik temu. Marcell tanpa basa basi lagi, meraup dengan rakus dua gundukan payudara sintal yang menggantung indah. Ia melumat, menyesap keduanya secara bergantian. Puting yang sudah mencuat tegang itu ia mainkan dengan lidahnya dan sesekali menggigit kecil disana membuat sang puan melenguh, mendesah sembari mendongakkan kepalanya.
Nikmat permainan lidah Marcell berhasil mengobrak-abrik kewarasannya, Hana benar-benar di buatnya terangsang dalam waktu yang cukup singkat. Tanpa ia sadari, miliknya mungkin sudah sangat basah akibat ulah Marcell. Wanita itu tidak menyadari bahwa di tengah sang tuan memberikan rangsangan penuh gairah, ia melukis abstrak kemerahan menggunakan bibirnya. Terlihat jelas bercak itu hampir memenuhi bagian payudaranya. Tubuhnya berulang kali menggeliat resah saat kuluman pada payudaranya beradu dengan sentuhan lembut di bawah sana. Meskipun sentuhan itu belum menembus hingga dalam namun jemari kekar itu mampu mengusik klitoris yang butuh rangsangan.
“Han, udah basah banget. Coba pakai vibrator-nya ya?” Ujarnya, kemudian sang puan mengangguk tanda setuju dan segera ia melepaskan celana tidur serta celana dalamnya.
“Tunggu bentar.” Lelaki itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang besar di belakangnya. Ia mengambil bantal dengan tujuan untuk menyamankan tubuh Hana agar bersandar pada bantal empuk.
“Biar nggak sakit punggungnya.” Ucap Marcell sembari meletakkan bantal itu di belakang punggung sang puan. Hana terlihat lebih relax sesaat setelah bersandar dengan nyaman di sana. Lelaki itu mengusap pipi Hana pelan dan mendaratkan ciuman di bibirnya sebelum mengambil vibrator dari kotaknya.
Marcell kemudian melebarkan kedua kaki Hana, terlihat jelas liang kenikmatan milik wanita itu sudah sangat basah. Marcell mengusap pelan bibir vagina milik Hana dan menyapa klitoris dengan menepuk-nepuk hingga membuat wanita itu mendesah nikmat.
“A-ahh...” Desahnya sembari mendongakkan kepalanya. Marcell kembali melumat bibir Hana pelan dan memasukkan vibrator itu kedalam liang vagina yang sudah basah dengan sangat mudah. Detik berikutnya ia menekan remote dan mengaturnya dalam tempo sedang. Alat pemuas nafsu itu bergerak di bawah sana, mengoyak pelan namun kelamaan menjadi nikmat. Pertama kali dalam hidupnya, Hana menggunakan alat tersebut dan di bantu oleh Marcell.
Hana mendesah nikmat sembari membusungkan dadanya saat Marcell dengan sengaja memutar klitorisnya dengan kasar. Secepat kilat bibirnya menyambar payudara yang sudah mengeras, tegang. Bagian sensitifnya di mainkan secara bersamaan oleh alat dan jemari Marcell membuat wanita itu terus mendesah semakin kencang.
Aliran darahnya mengalir semakin cepat dan tubuhnya bergetar saat Marcell dengan sengaja menambah kecepatan pada vibrator hingga membuat sang puan memekik serta merasakan hendak menjemput pelepasannya.
“Ouhh.. Fuck!” Umpatnya saat vibrator itu semakin mengoyak miliknya.
“Cell, i wanna cumming, please.” Hana benar-benar sudah kepalang tanggung, sebentar lagi ia mencapai klimaksnya. Namun Marcell tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dengan sengaja ia mematikan vibrator dan melepaskan dari liang vagina milik sang puan. Wanita itu sontak kaget dan seketika emosinya melesat sampai keubun-ubun.
“Fuck Cell! Maksud—,” Hana mengumpat sekali lagi, namun bibirnya di bungkam dengan lumatan gusar oleh Marcell.
“Calm down, babe. I'll take control.” Ujarnya, kemudian Marcell turun kebawah. Ia mensejajarkan wajahnya tepat di depan liang surgawi milik Hana yang sudah becek. Tanpa aba-aba lelaki itu menjilat dan melumat bibir vagina milik sang puan hingga menyentuh klitorisnya berulang kali membuat Hana tak henti-hentinya mengeluarkan erangan, desahan penuh nikmat. Tangannya meremat sisi sofa dan membusungkan dadanya saat dua jari Marcell beraksi di bawah sana. Tanpa aba-aba dua jari Marcell mengoyak liang kenikmatan itu. Bibir dan lidahnya masih bermain-main dengan klitorisnya, Hana di buatnya mabuk kepayang hingga hampir sampai pada titik puncak kenikmatan.
“M-Marcell, pleasehhh...”
“I beg you...” Racau Hana tengah memohon pada Marcell agar menyelesaikannya. Nikmat yang ia rasakan sudah mencapai ubun-ubun dan hampir pecah. Lelaki itu mempercepat kocokan pada liang vagina milik Hana sembari memainkan klitorisnya dengan lidah. Tak selang berapa lama, wanita itu mendesah dan mengerang penuh nikmat saat mencapai pelepasannya. Tubuhnya menggelinjang hebat, dua kakinya bergetar dan bergerak asal namun di tahan oleh Marcell agar Hana tuntas pada pelepasannya. Cairan kental itu mengalir membasahi dua jari Marcell. Lelaki itu kemudian mengecup kening Hana beberapa kali sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan singkat di bibir wanitanya.
“Thank you, Cell.” Ucapan terimakasih untuk sang tuan yang sudah membantu meraih kenikmatannya.
“I love you, Hana.” Balas Marcell dengan senyum hangat di bibirnya.
“Gue bilang apa, lo jawab apa?! Nggak nyambung.” Ujarnya di tengah-tengah deru nafas yang masih memburu.
“Hey.. I'm not lying. Tiga bulan udah cukup buat gue nunggu. Nggak ada salahnya kita coba kan?”
“Gue udah mulai skripsi, papa juga udah nyuruh gue buat masuk kerja di kantornya. Gue bukan lagi mahasiswa yang hobi kelayapan dan ngabisin duit orang tua.” Cecar Marcell panjang lebar, raut wajah penuh kepuasan tiba-tiba saja berubah menjadi sendu dan pilu.
“I've been hurt, Cell. Jujur gue takut!” Ucap Hana dengan nada suara yang sedikit bergetar.
“Kalau kita nggak pernah nyoba, lo akan tetap stuck di sini. Lo punya kesempatan buat sembuh, dan gue yang akan bantuin lo. Paham?” Ucap Marcell meyakinkan Hana yang tengah menahan bulir air mata agar tidak jatuh di hadapan lelaki itu. Namun Marcell lebih peka, ia kemudian menarik lengan Hana dan membawa ke dalam pelukannya. Marcell mengusap pelan punggung sang puan beberapa kali dan berbisik lirih tepat di telinga Hana.
“Kita coba ya?” Pinta Marcell dan perlahan di jawab oleh Hana dengan anggukan kepala, tanda menyetujuinya. Marcell tersenyum di tengah menyalurkan kehangatan dan kenyamanan pada wanita itu. Akhirnya ia berhasil meruntuhkan kerasnya benteng yang di bangun Hana sejak di tinggal mantan kekasihnya.
“Han, mandi dulu terus kita cari makan ya? Lo laper kan?” Ucap Marcell sembari melepaskan pelukannya dan menatap hangat netra yang baru saja meneteskan air mata. Lelaki itu kemudian mengusapnya pelan, dan terkekeh.
“Jangan cengeng, lo nggak malu nangis di depan gue?” Ucap Marcell menggoda agar wanita itu berhenti menangis. Tetapi malah sebaliknya, Hana tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan Marcell yang masih duduk di sofa sembari memungut baju milik Hana yang berserakan di lantai. Lelaki itu tau kemana arah kaki sang puan melangkah, ia hendak membersihkan diri.
Marcell tiba-tiba saja berlari kecil guna menghampiri Hana yang hampir sampai di kamar mandi. Lelaki itu menarik lengan Hana dan membawanya ke dalam pelukan.
“Gue bercanda tadi, jangan marah.” Ucapnya, sontak Hana teringat lagi saat Marcell meledeknya beberapa menit yang lalu.
“Nggak lucu!” Balas Hana sembari melepaskan pelukannya dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan lelaki yang masih betah berdiri di depan kamar mandi itu hanya terkekeh melihat kelakuan Hana. Lima belas menit setelahnya wanita yang di tunggu-tunggu oleh Marcell itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe. Ia membuka lemari pakaiannya dan memilih baju yang hendak ia kenakan. Setelah berpakaian lengkap, Hana menghampiri Marcell sembari menepuk paha lelaki itu.
“Lo kenapa cantik sih Han?” Goda Marcell, sedangkan sang puan hanya tersenyum tipis.
“Jadi night drive kita?” Tanya lelaki itu. Hana menjawab dengan beberapa kali anggukan.
“Laper.” Jawabnya singkat sembari mengusap perutnya. Marcell tersenyum sembari menatap wajah Hana, terlebih wanita itu mengenakan lip balm berwarna pink soft. Tiba-tiba saja lelaki itu mencium bibir sang puan, kemudian melumatnya sebentar.
“Thank you Han, lo ngasih kesempatan gue.” Ucap Marcell lirih, dua netra mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain.
“Makasih juga, lo mau nerima gue dengan segala kekurangan gue. I'm broken dan lo mau berusaha nyembuhin gue.” Balas Hana dengan senyum penuh arti. Lelaki itu kembali mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Hana sebelum akhirnya mereka berdua pergi untuk menghabiskan malam panjang.
Hi guys! Marcell X Hana is back! Gimana nih? Lanjut gak? For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic
Kalian juga bisa Support karyaku melalui: https://trakteer.id/deorphic/tip
Thank you! ❤