I'm yours
“Jen, mama sama papa ke tempat eyang ya? Ada om Ivan di rumah eyang.” Ucap wanita paruh baya itu sembari menaruh brownies ke dalam kotak tupperware. Sedangkan Jena duduk di sofa ruang tengah yang posisinya satu arah dengan dapur.
“Mendadak banget mah?” Tanya Jena, mulutnya sibuk mengunyah potongan brownies yang ada di meja.
“Om Ivan juga tiba-tiba aja dateng. Anaknya kangen sama eyang.” Jelas sang Bunda.
“Ohh...”
Ting Tong...
“Siapa ya Jen? Temen kamu?” Tanya wanita itu sembari berjalan ke arah garasi lewat pintu samping.
“Mama sama papa berangkat. Kamu jaga rumah sendiri nggak apa-apa kan?” Lanjutnya.
“Iya ma, nggak apa-apa. Mama hati-hati ya, kabari kalau udah sampai rumah eyang.” Ucap Jena, ia berjalan ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu. Ada seseorang yang sedang menunggu di sana.
“Siapa sih malem-malem?!”— batin Jena penasaran.
Klek....
“Jeff?!”
Lelaki di balik pintu hanya tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipi yang sangat manis menghias wajahnya yang rupawan. Jantung Jena berdetak lebih cepat dari biasanya. Awalnya Jena menanyakan perihal status hubungan mereka lewat pesan singkat, nyalinya cukup ciut jika harus bertanya langsung di depan Jeff. Namun siapa sangka lelaki itu benar-benar bertandang ke rumahnya.
Tiba-tiba saja Jena menjadi sangat canggung dan takut. Satu hal yang membuat Jena ketakutan adalah Jeff tidak pernah serius dengan apa yang pernah di ucapkan. Wanita itu takut kalau saja Jeff hanya merayunya dengan kalimat-kalimat indah nan menenangkan. Sudah satu minggu lebih Jena di selimuti rasa gelisah, ia tau posisinya hanya sebagai sekretaris. Dan kejadian malam itu, ia sungguh sadar melakukannya tanpa ada paksaan. Ia merelakan keperawanannya di renggut oleh Jeff tanpa perlawanan, bahkan ia menikmati setiap detik tubuhnya di jamah oleh lelaki itu. Jena tidak munafik, hatinya saat itu sedang kalut dan ia sangat membutuhkan afeksi.
“Kamu sendiri di rumah?” Tanya Jeff sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa.
“Iya. Kamu kenapa kesini Jeff?” Wanita itu duduk berhadapan dengan Jeff, kemudian menyilangkan kakinya. Jena merasa sangat canggung, namun ia berusaha tetap tenang.
“Aku mau bahas masalah tadi. Tapi di rumahku aja ya? Ini udah malem, nggak enak sama tetangga.” Ucap Jeff. Entah kenapa kepergian orang tua Jena seakan mendukung pertemuannya dengan Jeff, dan sudah bisa di pastikan Jena tidak akan menolak permintaan Jeffrian. Setelah beberapa menit Jena hanya diam dan memandangi wajah Jeff, ia -pun beranjak dari duduknya.
“Tunggu lima belas menit, aku siap-siap dulu.” Ujarnya.
“Bawa baju kerja sekalian ya Jen.” Pinta Jeff dan di balas dengan anggukan oleh wanita itu. Jena meninggalkan Jeff sendiri di ruang tamu, sedangkan ia pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Setibanya di rumah milik Jeffrian, wanita itu terus mengekor di belakang Jeff. Melewati beberapa ruangan kemudian naik ke lantai dua dan akhirnya sampai pada satu ruang kamar yang sudah tidak asing lagi bagi Jena. Ya, itu kamar milik Jeff. Kali ke dua Jena menginap di rumah Jeff, dan rasanya masih seperti pertama kali berada di sana.
Jeff meletakkan tas berisi pakaian di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa berwarna abu tua. Nuansa dark menghiasi seluruh kamar Jeff, membuat kesan lebih hangat ketika berada di dalam ruangan itu.
“Jen..” Panggil Jeff sembari menepuk-nepuk sofa, memberi kode agar wanita itu segera duduk di sebelahnya. Jena berjalan perlahan dan duduk bersebelahan dengan Jeff, manik matanya sekilas menatap netra milik lelaki tampan itu. Kemudian mengalihkan pandangannya lurus pada layar datar di hadapannya. Entah tayangan apa yang mereka lihat, Jeff hanya memilih asal saluran pada televisi.
“Jena...” Lelaki itu memanggil satu nama, sembari mengusap punggung tangan milik Jena yang bertumpu pada sofa.
“Hmm..” Jawabnya lembut. Satu kecupan mendarat singkat di kening Jena.
“Jen, aku suka sama kamu dari pertama kali kamu diangkat jadi sekretaris. Kamu putus, berarti ada kesempatan buat dapetin kamu kan?”
“Satu lagi, aku nggak pernah anggap hubungan kita ini fwb-an. Aku serius Jena, apalagi yang bikin kamu masih nggak percaya sama aku?” Ujarnya. Tangannya mengusap lembut pipi sang puan. Netranya beradu dan saling mengunci satu sama lain.
“Jeff, aku perempuan butuh kepastian. Aku bukannya mau menuntut tapi,—”
“I'm yours.. Jena..” Lelaki itu memotong kalimat yang hendak di katakan oleh Jena. Wanita itu membeku, mencerna dua kata yang terlontar dari bibir Jeff.
“Ayo mulai dari awal Jena. Started tonight, i'm yours..” Ucap Jeff kemudian mendekat dan mencium bibir ranum milik Jena. Sontak matanya terpejam, wanita itu merasakan aliran darahnya mengalir lebih cepat ketika lidah Jeff mengabsen tiap inci sudut terdalam bibir Jena.
Jena sangat menikmati ciuman lembut yang di rasa sangat memabukkan. Awalnya ciuman itu terasa lembut, kelamaan berubah menjadi lumatan yang begitu menuntut hingga membuat Jena melepaskan pagutan keduanya.
Jeff menatap dalam dua bola mata Jena, kemudian mengusap bibirnya yang sedikit membengkak akibat ulahnya. Jena masih berusaha menetralkan nafas saat libidonya mulai naik.
“Jen, jujur.. Kamu percaya sama aku nggak? Apa kamu berpikir aku cuma main-main?” Tanya Jeff dengan nada rendah. Tangannya mengusap lembut pipi wanita itu kemudian merapikan rambut yang sedikit berantakan.
Jena mengangguk, tegas.
“Jeff, aku udah nggak virgin karena kamu. Oke, waktu itu aku kebawa suasana dan ngelakuin itu dengan sadar. Tapi apa salah kalau aku minta kejelasan sama hubungan kita??” Cecar Jena, matanya sudah berkaca-kaca. Ia sangat takut jika Jeff tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Kamu di kantor kadang acuh, yang di bahas cuma kerjaan. Kenapa kamu beda? Kenapa kalau di kantor nggak bisa selembut ini?” Lanjut Jena.
“Jena... Di kantor itu tempat kerja. Nggak enak sama karyawan lain kalau aku bersikap lebih ke kamu. Kita harus profesional kan? Di luar kantor kita bebas ngelakuin apapun.” Jelas Jeff, tangannya terus mengusap lengan Jena. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya.
“Apa karena aku cuma sekretaris? aku bawahan kamu? Atau kamu lagi ngejaga hati seseorang???”
Wanita itu tiba-tiba saja seperti ingin meledak, meluapkan semua emosi yang tertahan dan tak terlampiaskan. Jeff memang sangat berbeda jika di kantor, ia acuh tak acuh dengan Jena. Hanya dua hal yang sering di ucapkan Jeff pada Jena ketika di kantor.
Pertama, “kerjaan sudah selesai?” Kedua, “sudah siang, makan dulu.” Dua kalimat itu lama kelamaan membuat tumpukan emosi pada diri Jena yang hampir saja meledak.
“Jen, aku minta maaf kalau kamu nggak suka sama sikapku di kantor. Tapi kamu ngerti kan maksudku?”
“Jangan khawatir, aku serius dengan apa yang kita jalani sekarang.” Lanjut Jeff. Kalimat-kalimat yang di ucapkan Jeff bak sebuah sihir. Jena mengangguk pelan, mencoba percaya sepenuhnya pada lelaki itu.
Jeff mengusap pipinya beberapa kali kemudian perlahan menarik leher Jena dan melumat kembali bibir ranum itu. Kini lumatan yang di ciptakan oleh Jeff terasa semakin dalam. Jena sedikit demi sedikit mencuri tiap hirup oksigen saat pasokannya hampir habis tanpa harus menghentikan aktivitas mereka sedetikpun.
Tangan Jeff sibuk melepaskan satu per satu kancing baju yang di kenakan Jena tanpa berhenti dari aktivitasnya. Kemudian membelai lembut dua gundukan payudara yang masih terbungkus bra. Setelah melepaskan baju yang di kenakan Jena, lelaki itu mengangkat tubuh Jena kedalam pelukannya dan menggendong bak seekor koala menuju ranjang besar di belakangnya.
“Jeff.. Aku berat, turunin. Aku bisa jalan sendiri.” Ucap Jena di tengah langkah kaki Jeff yang lebih cepat sampai pada tujuannya. Jeff hanya terkekeh mendengar kalimat yang di ucapkan wanita itu, kemudian merebahkan tubuh Jena di atas ranjang. Ia pandangi tiap sisi dan lekuk tubuh Jena yang belum sepenuhnya telanjang. Wanita itu tersipu malu, sampai pipinya terlihat merah padam.
“Jeff! Jangan ngeliatin kayak gitu, aku malu.” Ucap Jena sembari menutupi wajah dengan kedua tangannya. Jeff hanya tersenyum dan detik berikutnya ia memindahkan tangan Jena yang menutupi paras rupawan itu. Jeff kembali mendaratkan ciuman panjang penuh dengan nafsu. Melumat bibir sang puan tanpa ampun, tanpa jeda. Tangan Jeff sibuk meraba perut serta punggung Jena, kemudian berhenti pada kaitan bra dan di lepaskan dengan sekali percobaan.
Setelah puas dengan bibir ranum milik wanitanya, Jeff menjamah leher jenjang Jena menggunakan bibir dan lidahnya. Mengecup dan menyesap hingga meninggalkan bekas kemerahan di lehernya. Lidahnya bermain dengan lincah, sesekali menggodanya dengan menjilati telinga Jena hingga membuat libidonya naik dengan cepat.
Malam itu Jena kembali di buai oleh nikmatnya surga dunia bak larik sajak istimewa. Langit malam dan ruang temaram seakan menjadi saksi dua insan yang sedang beradu kasih dalam nikmat namun legam. Tidak bisa di pungkiri, kenikmatan yang mereka ciptakan adalah penambah dosa di dunia fana.
Detik, menit yang berlalu berhasil menelanjangi tubuh sang puan. Kini lekuk indah itu nampak polos tanpa ada sehelai benang-pun yang menutupi. Jeff mencicipi tiap inci tubuh Jena, menjelajahi menggunakan indera perasa-nya. Beberapa kali menyesap kulit putih itu hingga menimbulkan lukisan abstrak kemerahan.
Lenguhan dan desahan kecil berkali-kali lepas dari bibir Jena, cumbuan lelaki itu benar-benar membuatnya gila sampai hilang akal. Untuk kedua kalinya Jena menyerahkan raganya pada sang pujaan. Merelakan setiap detik tubuh gagah itu mengendalikannya.
Jeff meraup dengan rakus dua payudara milik Jena secara bergantian. Mengulum, menyesap dan memainkan putingnya dengan lidah. Sedangkan tangannya tidak di biarkan kosong begitu saja, ia gunakan untuk meremas dengan lembut payudara indah itu dan memilin puting yang sudah mencuat, tegang.
Jena mendongakkan kepala dan memejamkan matanya, nikmat. Ketika jemari Jeff menyapa miliknya yang sudah basah. Sesekali memutar klitorisnya perlahan kemudian menekan tanpa aba-aba. Tubuh Jena menggelinjang beberapa kali, aliran darahnya berdesir lebih cepat.
Jeff menatap raut wajah Jena yang mulai berantakan, helaian rambut menutupi sebagian wajahnya membuat candu dan menggoda. Terlebih ketika wanita itu menggigit bibit bawahnya dan mengerang kala satu jari Jeff berhasil memasuki liang surgawi, kemudian memainkan dengan sempurna. Pemandangan di bawah tubuh Jeff benar-benar membuatnya puas karena Jena sudah berada dalam kendalinya.
“Aahhh...” Desah Jena lebih keras ketika Jeff menambah satu jari lagi untuk memasuki dirinya. Lelaki itu berhasil mengobrak-abrik liang kenikmatan di bawah sana. Jeff kembali mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Jena, kemudian tersenyum sembari menatap raut wajah wanitanya.
“Keluarin aja Jen, jangan di tahan.” Ucap lelaki itu ketika ia merasakan liang vagina milik Jena mengetat dan berkedut, hendak sampai pada pelepasannya. Wanita itu meremas lengan Jeff saat satu dorongan keras sampai pada titik ternikmat di bawah sana. Tubuhnya menggelinjang hebat saat mendapatkan pelepasannya. Matanya terpejam dan bibirnya mengeluarkan desahan yang cukup keras. Jeff kemudian memberikan ciuman yang panjang seakan menyalurkan rasa tenang untuk Jena.
Jeff tersenyum puas saat menatap wajah Jena yang terlihat sangat berantakan, ia kecup bibirnya beberapa kali kemudian satu kecupan lembut di keningnya.
“Jen.. Aku tanya sekali lagi. Mau percaya sama aku atau tidak sama sekali?” Tanya lelaki itu sembari mengusap pelan pipi Jena. Wanita itu menjawab dengan anggukan, ia masih berusaha menetralkan nafasnya yang tak beraturan.
“Aku boleh lanjut?” Tanya Jeff sekali lagi. Dan masih di jawab dengan anggukan saja. Jena sudah menghabiskan separuh tenaganya untuk permainan awal yang belum ada apa-apanya ketimbang sesi berikutnya. Jeff menggunakan kakinya melebarkan kedua paha Jena, sontak wanita itu menatap lurus pada netra lelaki yang berada di atasnya.
Perlahan Jeff turun ke bawah, mensejajarkan wajahnya dengan kepunyaan sang puan. Liang surgawi itu tampak basah karena ulahnya, dan dengan sangat lembut lelaki itu menyesap sisa cairan yang keluar dari vagina Jena. Menggodanya dengan menjilat dan sesekali menyapa klitorisnya hingga membuat tubuh Jena menggelinjang. Kedua pahanya reflek mengapit kepala Jeff yang masih sibuk menggodanya. Jena benar-benar di buatnya melayang hingga langit ke tujuh saat Jeff terus bermain dengan milik Jena menggunakan ujung lidahnya. Berkali-kali wanita itu meremas bantal dan sprei, serta bibirnya tak lepas dari desahan yang membuat Jeff menjadi semakin candu.
“J-Jeff.. Stophhh...” Ucap Jena, tangan kanannya meremas rambut lelaki itu. Jeff kemudian menghentikan aktivitasnya, ia menatap Jena dari bawah.
Jeff merangkak naik, kini posisinya tepat di atas tubuh Jena. Tangan Jena reflek mencengkeram erat lengan lelaki itu ketika Jeff menggesekkan ujung penisnya pada bibir vaginanya. Sudah saatnya Jena bersiap untuk sesi berikutnya. Ini kali kedua Jena berhubungan badan dengan Jeff, dan masih terasa seperti pertama kali melakukannya. Jantung wanita itu berdetak lebih kencang serta darahnya mengalir lebih cepat.
“Ngghh.. Ahh...” Desahnya ketika ujung penis Jeff memasuki miliknya dan belum sepenuhnya masuk. Keringat mulai menetes pada pelipisnya, tubuhnya pun menegang.
“Jangan tegang Jen, relax aja biar nggak sakit.” Jelas lelaki itu, kemudian Jena mengatur nafasnya, menghirup oksigen sebanyak mungkin dan mengeluarkan perlahan hingga dirinya merasa lebih tenang dari sebelumnya.
“Peluk aku Jen..” Ujarnya, Jena kemudian memeluk tubuh kekar itu. Di detik yang sama, Jeff melesatkan batang penisnya hingga penuh.
“Ahh... Jeff...” Desahnya.
Jeff belum bergerak, ia biarkan Jena mengatur nafasnya yang kian memburu. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala wanita itu kemudian mencium keningnya beberapa detik.
“Are you ready?“
Jena mengangguk pelan, tanda siap dengan permainan selanjutnya. Lelaki itu menggerakkan pinggulnya pelan, desahan yang awalnya tertahan semakin lama semakin jelas terdengar seiring tumbukan yang menghujam milik Jena.
Jeff beberapa kali memberikan ciuman lembut guna mengalihkan rasa sakit yang di rasakan Jena, sembari mengusap lembut pucuk kepala wanita itu. Jeff masih pada tempo yang sama, sesekali menghentakkan batang penisnya hingga menumbuk titik terdalam milik sang puan. Jena mengerang dan mendesah keras kala merasakan ujung penis itu menusuk g-spot-nya, seakan di buru untuk mencapai pelepasannya.
Setelah puas mencium bibir ranum wanitanya, Jeff melahap payudara sintal milik Jena yang terlihat kosong. Lelaki itu melumat rakus, dan memainkan puting dengan lidahnya. Memutar, menyesap dan menggigit puting itu hingga membuat tubuh Jena menggelinjang.
Jena memejamkan matanya, dan meremas sprei kuat-kuat. Di rasa ia hampir menjemput pelepasannya. Liang vaginanya mulai mengetat, hampir bersamaan dengan milik Jeff yang terasa penuh sesak di dalam sana.
“Jeff.. Ahh.. Pleaseehh...” Racau Jena ketika sudah tidak bisa menahannya lagi. Jeff paham dengan situasi itu, raut wajah Jena terlihat sayu ketika memohon pada Jeff untuk segera menyelesaikannya.
“Jen, kamu udah haid belum?” —Jena menggelengkan kepalanya.
“Aku lepas di dalam ya?” Ucap Jeff di tengah-tengah penetrasi. Jena mengangguk asal, cairan sperma yang menyembur di bawah sana terasa begitu hangat di dalam dirinya. Kali ini Jena benar-benar sudah hilang akal, tanpa menggubris resikonya.
Pada hentakan ke tiga, Jeff mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik ternikmat di dalam sana. Keduanya sampai pada puncak kenikmatan hampir bersamaan. Desahan saling bersahutan ketika rasa nikmat surga dunia itu menembus hingga ujung kepala.
“Thank you Jena.. I won't go, I promise...” Ucap Jeff, ia masih berada di atas tubuh Jena yang kehabisan tenaga. Satu ciuman kembali mendarat pada bibir ranum itu.
“Jeff, kenapa kamu lepas di dalam?” Tanya Jena tiba-tiba, lelaki itu mengernyitkan dahinya kemudian tersenyum.
“Jen, tadi kamu udah setuju loh, lepas di dalam.” Jawabnya sembari mengecup singkat bibir Jena.
“Hah? Iya?” Bibir jena menganga, sejenak berpikir apa yang ia katakan beberapa menit yang lalu.
“Hmm... Kamu kenapa Jen? Mikirin apa?” Tanya Jeff menaikkan satu alisnya. Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Jena, menatap wajah lelah milik sang puan. Jeff mengecup singkat pipi dan kening wanita itu. Sedangkan Jena memejamkan matanya sembari menetralkan nafas yang masih memburu.
“Hei.. Jangan bobo dulu. Mandi yuk, aku siapin air hangat di bathup.” Ujarnya.
“Aku merem bentar ya Jeff. Kalau airnya udah siap, bangunin ya?” Pintanya. Jena benar-benar sudah kehabisan tenaga, tubuhnya sangat lemas dan lelah.
“Iya sayang..” Sembari mengecup kening Jena. Lelaki itu pergi berlalu meninggalkan wanitanya beristirahat sebentar.
Jeff berjalan ke arah kamar mandi, menyiapkan air hangat di dalam bathup. Dua tangannya bertumpu pada tepi bathup dan pikirannya menerawang jauh entah kemana. Yang pasti saat ini ia berhasil memiliki Jena. Wanita dengan seribu luka. Jeff berjanji pada dirinya sendiri, akan berusaha memberikan bahagia dan menyembuhkan lara.
Hi! Jeffrian and Jenaya is back! Feedback and all questions, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic