Cuddle

Tepat pukul 5 sore Nathalie bergegas membereskan meja kerjanya, meraih handbag lalu sedikit berlari kecil keluar dari ruangannya. Ia berjalan menyusuri koridor sebelum tiba di depan pintu lift lantai 4. Ya, ruangan Nathalie dan Jovan berada di lantai yang sama. Wanita itu kemudian menaiki lift dan menekan tombol G yang akan berhenti pada lantai paling dasar yaitu lobi.

Pintu lift terbuka, Nathalie berjalan tampak sedikit tergesa-gesa. Ia sedikit melirik kearah ruang tunggu lobi yang berada di sisi kiri pintu keluar/masuk gedung dan melihat Jovan serta Nico sedang duduk disana, tampak sedang asik membicarakan sesuatu.

“Nath...!”

Langkah wanita itu terhenti dan mencari arah suara yang memanggil namanya. Dia adalah Nico, lelaki itu melambaikan tangannya kearah Nathalie dan di balas dengan anggukkan kepala saja. Nico kemudian berlari kecil kearah Nathalie berdiri.

“Nath, mau langsung balik? Si bos ngajakin ngopi. Mau join gak?” Tawar lelaki itu pada Nathalie.

“Sorry gak bisa Nic, ada janji lain gue. Bye...” Jawab wanita itu sembari melambaikan tangan pada Nico dan pergi berlalu dari hadapannya. Dari jarak yang tidak begitu jauh dari tempat Nico berbincang dengan Nathalie,kedua mata Jovan-pun tak lepas dari sosok Nathalie Galenia, sekretaris pribadinya.


Nathalie memarkirkan mobil sedan berwarna putih itu di basement, kemudian dengan langkah cepat memasuki gedung apartemen dan naik ke lantai 7 menggunakan lift. Nathalie sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya setelah satu minggu mereka tidak bersua. Ia berlari kecil menyusuri koridor dan berhenti di depan unit nomor 1402.

Wanita itu membuka pintu unit apartemennya perlahan, ia melihat sepatu Jeremy sudah berjajar rapi di rak yang terletak di samping pintu masuk. Netra-nya menelisik tiap sudut ruangan mencari sosok Jeremy tetapi ia tidak menemukannya. Wanita itu kemudian berjalan kearah kamarnya, membuka pintu dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar deritanya. Nathalie mendapati sosok sang kekasih yang sedang tertidur di atas ranjang miliknya.

Wanita itu mendekat di sebelah tempat tidurnya, mengamati setiap jengkal ketampanan Jeremy dan seakan tidak percaya bahwa yang sedang ia lihat saat ini adalah benar-benar kekasihnya. Ia lalu melepas blazer yang di kenakannya, meletakkan di kursi depan meja rias lalu melepas dua kancing bajunya paling atas.

Nathalie perlahan merangkak naik keatas tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Jeremy, tangannya memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Sadar akan hal itu, Jeremy membuka matanya perlahan dan mengusap lembut telapak tangan Nathalie yang melingkar di atas perutnya.

Kedua manik mata mereka bertemu, Jeremy mendorong tengkuk kekasihnya lalu mencium bibirnya dengan lembut. Tangan Nathalie memeluk tubuh Jeremy seakan tak mau lepas. Ciuman itu semakin lama menjadi semakin menuntut. Tangan Jeremy tak tinggal diam, membuka kancing baju milik Nathalie satu persatu hingga menampilkan dua gundukan payudara sintal milik kekasihnya yang masih terbungkus bra berwarna hitam.

Jeremy meremas dan memutar payudara itu dari luar . Nathalie seperti terhipnotis dengan suasana sore hari nan syahdu tentu saja adegan panas mereka akan segera di mulai. Pagutan keduanya terasa sama-sama saling menuntut. Tangan Jeremy bergerak perlahan ke belakang punggung kekasihnya lalu melepas kaitan bra dalam satu kali percobaan, hingga payudara sintal milik Nathalie menyembul keluar.

Ciuman sarat akan nafsu itu perlahan berpindah pada telinga juga leher Nathalie. Lidah Jeremy memainkannya dengan sangat lincah dan sesekali menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Tangan kanannya memainkan payudara wanita itu, memutar putingnya serta memilinnya hingga memerah dan tegang.

“Mmphh...” Lenguh Nathalie pelan, ia menahan desahan yang hampir keluar dari bibirnya.

Setelah meninggalkan beberapa kissmark pada leher kekasihnya, lidah Jeremy kemudian turun ke bawah bergerilya hingga menemukan gundukan payudara yang sudah mengeras. Jemarinya terus memutar dan memilin puting milik sang puan yang sudah mencuat, tegang. Sedangkan bibirnya sibuk membuat tanda kemerahan pada payudara kekasihnya. Leher hingga dada sudah penuh dengan lukisan abstrak tanda cinta.

Tubuh Nathalie seakan terbang melayang, merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh Jeremy. Payudara Nathalie lalu di sesapnya seperti bayi yang sedang kelaparan. Sedangkan tangan kanannya meraba setiap jengkal tubuh kekasihnya, perlahan menyibak rok mini berwarna hitam itu dan mengelus vagina Nathalie dari luar.

“Udah basah ya sayang?” Ucap Jeremy lirih, membuat tubuh wanita itu merinding seketika. Lelaki itu menatap lekat wajah kekasihnya hingga dua netra bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Perlahan Jeremy mendaratkan ciuman singkat pada bibir wanita itu. Menit berikutnya lelaki itu melepaskan rok mini dan celana dalam yang di kenakan Nathalie tanpa memintanya ijin terlebih dahulu, sepertinya Jeremy sudah kepalang nafsu melihat kemolekan tubuh sang kekasih. Kini wanita itu tampak polos, tanpa ada sehelai benang yang menutupi. Wajahnya terlihat sayu, bak sebuah isyarat agar bahwa ia sangat haus akan sentuhan lelaki itu.

Tidak butuh waktu lama, Jeremy kemudian menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan. Nathalie menelan ludahnya sendiri saat melihat batang penis Jeremy yang sudah mengeras dan tegang. Lelaki itu kemudian memulai aksinya dengan menciumi paha Nathalie, tangannya merenggangkan kedua kaki wanita itu hingga terlihat vagina yang sudah basah akibat permainannya.

Jeremy kemudian menjilati vagina milik Nathalie, lidahnya bermain-main di bawah sana. Sesekali menusuk lubang kenikmatan milik kekasihnya itu dengan ujung lidahnya. Tangannya memutar dengan gerakan sedikit kasar klitorisnya hingga membuat Nathalie mengerang karena lelaki itu sangat lihai memainkan titik sensitifnya.

“Aahhh.... Jer..” Desahan yang sedikit nyaring itu akhirnya keluar dari bibir Nathalie.

Setelah puas bermain-main di bawah sana, lelaki bertubuh tegap itu kemudian mensejajarkan penisnya pada liang surgawi milik Nathalie. Perlahan Jeremy menggesekkan ujung penis ke bibir vagina sang puan untuk menggodanya, hingga membuat Nathalie sedikit frustasi.

“Jer, jangan main-main.” Gerutu Nathalie. Lelaki itu hanya mengeluarkan senyum seringai pada kekasihnya dan tanpa aba-aba melesatkan batang penisnya ke liang vagina Nathalie.

“Ahh...” Desah wanita itu ketika merasakan milik Jeremy masuk sempurna dan terasa sangat penuh. Tangan Nathalie meremas sprei karena vaginanya sedang ditusuk oleh penis besar milik sang kekasih tanpa ampun. Jeremy menggerakkan pinggulnya, memaju mundurkan dengan tempo yang sedikit cepat. Nathalie terus mendesah penuh nafsu dan nikmat yang ia rasakan. Aliran darahnya mengalir lebih cepat bersamaan dengan detak jantung yang berdetak semakin kencang.

“Ngghh.... Aahhhh... Jev..” Desah Nathalie.

“Ugghhh... Enak banget sayang... Ahh... Sempit banget.. Aahhh...” Rancu Jeremy. Suara desah dan lenguh terdengar bersahutan hingga memenuhi seluruh ruang kamar Nathalie.

Di sela penetrasi, tangan Jeremy tak tinggal diam. Keduanya memainkan payudara Nathalie yang ikut bergerak sesuai ritme sodokan di bawah sana. Jeremy kemudian memiringkan tubuh wanita itu dan mengangkat satu kakinya kemudian ia letakkan pada pundaknya. Kedua tangannya memegangi pinggul Nathalie dan terus menumbuk lubang kenikmatan itu dengan cepat dan berulang kali mengenai titik g-spot milik sang kekasih hingga mempercepat untuk mencapai orgasme.

“Aahh... Jer... Aaahhh.. M-mau keluarr sa-sayang...” Lenguh sang puan bersamaan dengan jemari yang sibuk meremas bantal.

“Aku cepetin ya...” Ucap Jeremy, detik kemudian lelaki itu mempercepat temponya. Hingga hentakan ke tiga cairan sperma dan milik Nathalie keluar hampir bersamaan dan menyatu di dalam sana.

“Aahhhhh....” Desah Nathalie, tubuhnya melengkung dan bergetar saat mencapai pelepasannya. Jeremy melepas perlahan penis yang tertanam di bawah sana, kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Nathalie. Tangannya mengusap pucuk surai sang kekasih dan mengecup singkat bibir Nathalie yang tengah mengatur nafasnya.

“Jer...”

“Hm?”

“Kenapa di keluarin di dalem?” Tanya wanita itu, netranya menatap langit-langit ruang kamarnya.

“Sengaja.” Jawab lelaki itu singkat dengan seutas senyum penuh arti.

“Kalau kamu hamil, semakin cepat aku nikahin kamu.”

“Mandi yuk? Sini bangun dulu.” Lanjut Jeremy. Lelaki itu kemudian membantu kekasihnya untuk bangun dari posisinya dan menggendong Nathalie ala bridal style. Langkah kakinya membawa sang kekasih ke kamar mandi. Nathalie melingkarkan kedua tangannya pada perpotongan leher Jeremy. Ia memandangi tiap garis wajah sang kekasih yang begitu tampan. Wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Jeremy. Lelaki yang memacarinya selama lima tahun itu dengan sengaja mengeluarkan spermanya di dalam. Mungkinkah jika Nathalie hamil, orang tua Jeremy akan memberi restu? Atau malah semakin membuat murka terutama mama Jeremy yang dari awal sudah menentang hubungan mereka.