The Journey Begins

Sejak melangkahkan kakinya memasuki apartemen miliknya, lelaki berparas tampan itu di sambut oleh rentetan lilin-lilin kecil yang menyala menerangi ruang gelap gulita. Lilin itu berjajar rapi sepanjang bentang ruang tamu hingga ruang kamar pribadi miliknya. Mungkin wanita yang kini tengah berdiri di balik pintu kamar itu menyiapkan berpuluh-puluh lilin untuk menyambut perayaan ulang tahun sang suami serta hari kasih sayang yang di rayakan umat manusia hampir di seluruh dunia.

Nathalie menjelma menjadi sosok wanita yang paling beruntung dan bahagia di semesta. Statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri. Ya, istri dari seorang lelaki bernama Jeremy Gavino. Setelah perjuangan yang di penuhi tangis, usaha mati-matian yang di penuhi rasa sakit namun hasilnya berhasil membuatnya bangkit.

Liku perjuangan untuk mendapatkan restu yang tak kunjung di terima, serta godaan-godaan lain yang menguji keduanya sempat menggoyahkan pendirian dua insan manusia. Namun jika Tuhan sudah menentukan semuanya, seberat apapun cobaan, sejauh kaki melangkah hingga kehilangan arah, pada akhirnya ia akan tau dimana harus bermuara.

Setelah mendaratkan kaki di ambang pintu kamarnya, seutas senyum manis menyambut kedatangannya. Satu tangannya membawa kue ulang tahun mungil berhias lilin kecil sedangkan satunya terbuka lebar guna menyambut sang tuan ke dalam pelukan.

Senyum Jeremy mengembang sempurna kala melihat sang istri yang terlihat sangat cantik mengenakan long dress berwarna hitam backless, dengan seutas tali simpul melingkar di leher yang menyokong dress-nya agar tetap menempel pada tubuh sang puan. Raut wajah Nathalie selalu memancarkan binar kebahagiaan setelah berstatus menjadi seorang istri.

Jeremy perlahan mendekat dan melayangkan peluk hangat pada sang istri, mengusap lembut punggungnya dan mengecup ceruk leher Nathalie beberapa kali secara seduktif serta menghirup aroma tubuh wanita itu yang semakin hari semakin membuatnya menjadi candu.

“Selamat ulang tahun, sayang..” Bisiknya lembut. Deru nafas sang puan menyapa permukaan kulit Jeremy perlahan membangkitkan hasrat hingga menginginkan lebih.

“Terima kasih istriku.” Balas Jeremy dengan senyuman yang mengukir lesung pipinya terlihat jelas menjadi penghias wajah rupawan. Lelaki itu menghujani kecupan lembut di bibir Nathalie secara bertubi-tubi, sembari tangan sang tuan bertengger apik pada pinggang wanita itu guna merapatkan tubuh keduanya.

“Jer.. Udah ah..” Ucap sang puan, tangannya menepuk lengan sang suami.

“Kenapa? Aku mau cium kamu.” Jeremy berujar sembari mengerucutkan bibirnya, hendak meloloskan cium pada bibir Nathalie.

“Nanti. Kamu belum mandi, sayang..” Ucap Nathalie sembari menyisir rambut Jeremy menggunakan jemarinya. Lelaki itu hanya terkekeh kemudian merenggangkan peluknya.

“Jer..”

“Ya?”

“Aku nggak masak. Emm.. Maksudnya aku nggak sempat bikin sesuatu buat kita makan, tadi kamu bilang udah makan malam.” Ucap Nathalie penuh penegasan ketika dirinya sama sekali tidak menyiapkan apapun untuk sekedar makan malam kecil-kecilan guna merayakan ulang tahun sang suami.

“No problem sweetie. I've filled my stomach while eating with clients.” Balas Jeremy sembari menanggalkan jas yang ia kenakan kemudian meletakkan di tepi ranjang besar miliknya.

“Kamu udah makan?” Tanya Jeremy, tangannya sibuk melepaskan dasi yang masih melingkar pada kerah kemejanya.

Nathalie tidak menjawab, beberapa kali bola matanya memutar seakan-akan sedang mencari jawaban tepat untuk di katakan pada suaminya. Pasalnya sudah dua hari lamanya Nathalie hilang nafsu makan. Hari itupun masih sama, ia hanya memakan beberapa coklat batang yang di kirim Tristan dan Laura untuk hadiah hari kasih sayang.

“Nath, are you oke?“

“Ya. Jer, aku makan coklat dari Tristan sama Laura, tadi supir yang nganterin kesini. Maaf aku udah icip coklatnya lebih dulu tanpa nunggu kamu. Aku udah nggak tahan pengen makan, Jer..” Ujarnya, tangannya beberapa kali meremat dress-nya. Nathalie terlihat gelisah, tidak seperti biasanya.

“Nggak apa-apa, di makan aja Nath.” “Aku mandi dulu ya?”

Nathalie mengangguk untuk memberi jawaban pasti pada suaminya, seiring dengan langkah Jeremy menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Wanita itu kemudian membereskan benda-benda milik sang suami yang di letakan asal begitu saja, seperti jas, dasi, jam tangan, juga ponsel, kemudian meletakkan dan merapikan semua pada tempatnya.

Nathalie berjalan ke arah nakas tepat di sebelah tempat tidurnya, mengambil kotak berbentuk persegi berukuran sedang kemudian meletakkan kotak tersebut di balik bantal yang biasa di gunakan Jeremy tidur. Nathalie berharap Jeremy akan menemukan kado istimewanya sebelum pergi tidur. Wanita itu menyiapkan kado ulang tahun suaminya tanpa persiapan apapun dan semuanya serba mendadak.

Setelah selesai dengan persiapan kejutannya, Nathalie kembali duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Menuangkan wine untuk sang suami dan beberapa coklat pemberian Tristan —pun kue ulang tahun ia letakkan di meja sebagai pelengkap.

Nathalie memainkan ponselnya sembari menunggu Jeremy. Tak lama sang suami keluar dari kamar mandi seiring suara decitan pintu kamar mandi. Lelaki itu hanya mengenakan celana boxer dan handuk yang melingkar pada lehernya sembari mengusap rambutnya yang basah. Nathalie menoleh kebelakang, menatap lekat tubuh suaminya yang nyaris sempurna kemudian tersenyum.

Jeremy berjalan kearah dimana sang istri berada, dengan reflek tangannya melempar asal handuk ke atas ranjang. Sontak Nathalie mengernyitkan dahinya sembari menggerutu, kesal.

“Sayanggg...”

“Ya?”

“Handuknya, ih jangan di taruh sembarangan.” Gerutu Nathalie, namun di balas kekehan oleh sang suami.

“Maaf sayang, iya ini aku taruh di laundry bag.” Ucap Jeremy dan bergegas memungut kembali handuknya dan ia taruh di dalam keranjang laundry. Nathalie tersenyum jail lalu menggeser duduknya guna memberikan tempat di sebelahnya.

“Wine dari mana Nath?” Tanya Jeremy sembari meneguk minuman favoritnya.

“Dari Tristan. Tadi kirim wine, coklat sama bouquet bunga aku taruh di ruang tengah.” Jelas Nathalie, ia kembali menuangkan wine pada gelas Jeremy.

“Kenapa gelasnya cuma satu? Kamu nggak minum? Atau mau join aja?” Ucap Jeremy sembari menyodorkan gelas itu ke depan Nathalie, namun di tolak dengan cepat wanita itu.

“Nggak Jer, aku lagi nggak pengen minum.” Ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.

Jeremy kemudian meletakkan gelasnya pada meja. Mengamati raut wajah cantik wanitanya yang terlihat sedikit pucat. Tangannya mengusap pipi Nathalie pelan lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibirnya. Jeremy tengah di selimuti rasa bahagia karena pada akhirnya ia dapat berlabuh pada dermaga yang semestinya. Nathalie adalah segalanya bagi Jeremy dan bukan semata-mata karena obsesi.

Memperjuangkan Nathalie, jatuh bangun dengan segala pengorbanan yang telah di laluinya tidak sia-sia. Ia berhasil memenangkan hati sang puan beserta restu sang mama yang di dambakan. Jeremy pantas bersyukur atas apa yang di dapatkannya sampai detik ini.

Begitupun sebaliknya, seluruh sakit yang pernah di emban Nathalie seorang diri, kini berbalik bak sebuah keberuntungan yang tak terhitung nilainya. Menikah dengan Jeremy, mendapatkan restu adalah sebenar-benarnya keinginan Nathalie.

“Nath, thank you for being my wife, terima kasih udah mau percaya sama aku.” Jeremy meraih tangan Nathalie kemudian mengecup beberapa kali punggung tangan istrinya yang terasa dingin.

“Jer, aku yang harusnya berterima kasih.”

“Terima kasih udah mau menerima aku sebagai istrimu, menerima semua lukaku, sedihku, semua kekuranganku, bahkan seburuk-buruknya aku. Aku sempat berpikir, apa aku benar-benar layak jadi istri kamu?” Balas Nathalie dengan suara yang sedikit bergetar. Jika satu kalimat lagi ia ucapkan mungkin tumpah sudah air mata yang sedari tadi tertahan.

“No. I am the luckiest man. aku sangat beruntung memiliki kamu, Nath.” Balas Jeremy lalu menyambar bibir ranum sang istri, menciumnya penuh hasrat yang menggebu. Jantung Nathalie bergetar hebat, emosinya seakan tidak menentu hingga ia meneteskan air mata yang sudah tak tertahan. Lelaki itu sadar kemudian merenggangkan belah bibir keduanya.

“Nath, kenapa nangis? Hey...” Ucapnya sembari mengusap tetesan air mata yang mengucur membasahi pipi Nathalie.

“Nggak apa-apa Jer, aku cuma bahagia aja bisa sampai di titik ini. Sama kamu.” Jawab Nathalie sembari mengusap pipinya, asal. Kemudian merapikan helai rambut yang menutupi wajahnya.

“Udah. Jangan nangis, jangan sedih lagi ya? Ini hari ulang tahunku loh, aku maunya kita happy bukannya liat kamu nangis.” “Nath, apapun masalahnya, bagaimanapun keadaannya, aku pengen kita tetap sama-sama. Tetap pegangan tangan, selesaikan masalah dengan mengesampingkan ego kita. Kalau ada masalah apa, ngomong ya? Jangan di pendam sendiri.” Pinta Jeremy, tangannya meraih tubuh ramping sang istri lalu memeluknya erat. Mengusap pucuk kepala Nathalie dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada bahu sang puan.

“Iya Jer, aku pasti cerita sama kamu kalau ada apa-apa. Makasih ya. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tau lagi mau kemana.” Ucap Nathalie, tangannya menggenggam erat telapak tangan sang suami.

“Nath, aku tempatmu pulang, tempatmu berteduh, tempatmu berpegangan. Sampai kapanpun.”

Bulir air mata yang tertahan perlahan pecah dan mengalir membasahi pipi Nathalie. Bukan kesedihan melainkan luapan kebahagiaan.

“Potong kue aja yuk, aku mau icip kuenya.” Ucap Jeremy mengalihkan pembicaraan agar Nathalie tidak merasa sedih.

Nathalie mengangguk tanda setuju, ia mengusap beberapa kali pipinya guna menghilangkan sisa air mata yang masih membekas di wajahnya. Wanita itu kemudian ia memotong kue dan menaruhnya dalam piring kecil.

“Aku suapin ya?” Pinta Nathalie sembari menyendok potongan kue dan di lahap habis oleh Jeremy.

“Sini gantian.” Kata Jeremy, lalu mengambil piring serta sendok dari tangan Nathalie —pun berlaku sama. Jeremy yang hendak menyuapi sang istri dengan potongan kue, tiba-tiba saja niat jail muncul di kepalanya. Seharusnya Jeremy mengarahkan sendok pada bibir Nathalie yang sudah menganga meminta untuk di suapi tetapi lelaki itu dengan sengaja menempelkan sendok berisi kue itu pada hidungnya.

Wanita itu sontak kaget dan mengakibatkan kue yang di ujung sendok itu jatuh di atas dadanya. Ya, tepat di antara belahan dadanya yang sedikit menyembul di balut long dress hitam.

“Yah.. Jer...” Sorot matanya sedikit kecewa karena belum sempat mencicipi kue yang terlihat sangat lezat, namun jatuh jatuh lebih dulu.

Jeremy meletakkan piring di tangannya pada meja dengan gerak cepat, lalu menahan dua tangan Nathalie yang hendak mengambil tissue guna membersihkan kue yang mengotori kulitnya juga dress yang di kenakannya. Lelaki itu bergerak lebih cepat, ia menggunakan bibir serta lidahnya untuk membersihkan kue yang mengotori dada sang istri.

Nathalie memejamkan matanya sejenak kala merasakan lidah hangat Jeremy yang menyapu permukaan kulitnya. Tangan Jeremy bergerak merangkul tubuh sang puan sembari menarik tali simpul yang sedari tadi menahan dress yang di kenakan Nathalie agar tidak terlepas.

Cukup singkat lelaki itu hampir menelanjangi Nathalie. Dress yang di kenakan sang istri sudah luruh bersamaan dengan kecup basah dan belaian hangat yang berasal dari lidah Jeremy. Gerakan-gerakan acak dan sedikit brutal dari cecap bibir Jeremy juga lidah yang sibuk melumat, dan membersihkan sisa-sisa kue yang menempel pada permukaan kulit Nathalie membuatnya terangsang dengan cepat.

“Mmph... Jer,—”

Lenguh yang sudah tidak bisa di tahan oleh Nathalie akhirnya lolos dari bibir ranum sang pemilik sembari meremas rambut Jeremy guna menyalurkan gejolak birahi yang mulai merajai. Dua tangan Nathalie akhirnya bertumpu pada meja di sebelahnya dan satu lagi bertumpu pada sofa, kala Jeremy dengan gencar bermain-main dengan puncak payudaranya.

Bibirnya menjilat, melumat puting sang puan yang sudah mencuat tegang. Sedangkan tangan satunya tidak bisa tinggal diam, meremas pelan guna merangsang lebih dalam lagi sembari memilin dan mencubit kecil di bagian ujungnya hingga membuat sang empu mendesah gelisah.

Long dress yang semula masih bertengger pada perut Nathalie, kini berhasil di lucuti oleh Jeremy tanpa menghentikan aktivitas mencumbu wanitanya.

Entah sudah berapa kali bibir Nathalie meloloskan racau dan desah tanpa henti. Jeremy benar-benar membuatnya kepalang nafsu dan semakin memburu. Lelaki itu terus bergerak agresif, setelah puas bermain-main dengan payudara Nathalie jemarinya bergerak turun menyapa milik sang puan yang terasa lembab dan basah.

Jeremy mengeluarkan senyum seringai tanda ia berhasil membuat Nathalie basah kuyup karena ulahnya. Ia menatap lamat wajah cantik sang istri dari terpaan cahaya minim di ruang kamarnya. Wajah sayu Nathalie terlihat jelas bak sedang memohon untuk segera di puaskan oleh sang pemegang kendali.

Jeremy lantas bergerak turun namun dengan cepat di cegah oleh Nathalie.

“Jer, lanjut di ranjang aja ya? Punggungku sakit.”

“Of course, sweetie. I will take you there.”

Jeremy kemudian membawa tubuh Nathalie bak bridal style. Merebahkan tubuh mungil sang istri pada ranjang besar miliknya, lalu mengungkungnya. Ia kembali melumat bibir Nathalie yang ranum, menyesap dan memainkan lidahnya pada rongga mulut sang puan. Jemarinya kembali bergerak agresif tanpa aba-aba menangkup belah bibir vagina milik Nathalie bersamaan dua kakinya yang melebar agar sang tuan dengan leluasa menjamahnya.

Jemari milik Jeremy bergerak perlahan, menggesek belahan bibir vagina sang istri menggunakan jari tengahnya kemudian berhenti pada klitoris dan memutarnya dengan tegas membuat empunya mengerang dan mendesah karena nikmat. Lelaki itu terus menghujani kecupan-kecupan basah tiap inci tubuh wanitanya, mulai dari telinga, leher, bahu, dan berhenti pada payudara sintal yang sedari tadi sudah menegang.

Bibir Jeremy tengah sibuk melumat dengan rakus dua payudara Nathalie secara bergantian. Memainkan putingnya dengan lidah, menyesap tanpa meninggalkan jejak kemerahan pada permukaan kulit sang puan. Jarinya masih bergerak agresif di bawah sana hingga liang surgawi milik Nathalie mengeluarkan cairan pre-cum.

Tubuh Nathalie tiba-tiba saja melengkung sembari membusungkan dadanya kala jari tengah dan jari manis milik Jeremy menerobos masuk tanpa aba-aba.

“Aahh... Jer,—” Desahannya terdengar parau di tengah deru nafas yang mulai memburu.

Jeremy menggerakkan dua jarinya dengan tempo sedang, merasakan hangat liang vagina milik Nathalie sembari menatap lamat-lamat raut wajah wanitanya yang tengah terkulai tak berdaya. Mimik wajah sang puan tampak gelisah menerima semua rangsangan yang di berikan oleh Jeremy. Nathalie hanya bisa mendongakkan kepalanya sembari menyebut nama Jeremy. Tangannya bergerak tak kalah gelisah, hanya bisa meremas sprei dan bantal yang berada dalam jangkauannya.

“Jeremy, pleasehh...“ “Ahh...”

Desahan yang keluar dari bibir Nathalie bak sebuah candu yang menulikan gendang telinganya, membuat Jeremy semakin gencar memainkan milik Nathalie di bawah sana. Liang vaginanya perlahan mengetat dan menghimpit sesak dua jemari sang tuan yang masih bergerak dengan tempo yang sedikit lebih cepat.

“Jer.. Aku mau cum..” Rintih Nathalie seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan pada pelepasannya. Melihat tubuh Nathalie yang mulai bergerak resah, ia segera mengeluarkan dua jarinya dan menggantikannya dengan lidah serta bibir yang bermain di bawah sana.

“Ouh.. Jer,—”

Jeremy menggunakan satu tangan untuk menahan gerakan kaki Nathalie, tangan satunya ia gunakan untuk merangsang pelepasannya yang sibuk bermain pada liang surgawi milik sang istri. Lidah dan bibirnya sibuk bermain dengan klitoris, sesekali menggigit kecil di sana hingga membuatnya lebih cepat menjemput pelepasannya.

“Jer...”

Tubuh Nathalie mulai menggelinjang, dadanya membusung dan dua tangannya meremas sprei kuat-kuat pada saat gelombang pelepasannya semakin cepat.

“Come on, babe..” Pinta Jeremy pada saat ia merasakan liangnya mulai berkedut dan tubuh Nathalie bergetar hebat.

“Aahhh...” Desahan yang nyaring mengantarkan Nathalie pada pelepasannya. Tubuh yang di penuhi keringat serta deru nafas yang kian memburu menjadi pemandangan apik bagi Jeremy yang kini tengah beranjak setelah selesai ia membersihkan cairan pelepasan milik Nathalie menggunakan lidahnya.

Lelaki itu kemudian bersiap di atas tubuh Nathalie sembari mengurut kejantanannya sendiri, sesekali menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina milik Nathalie.

“Let's make a baby.”

Bersamaan dengan Jeremy yang tengah melesakkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Nathalie.

“We got —it. Ahh...” Kalimat jawaban di iringi desah suara parau yang semakin lirih membuat Jeremy samar atas apa yang di ucapkan Nathalie. Wanita itu terus memejamkan matanya kala Jeremy sibuk menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Perlahan tapi pasti, gerakan pinggul Jeremy semakin lama semakin menjadi.

Desahan nikmat yang tidak bisa di tahan terus lolos dari bibir Nathalie juga Jeremy hingga saling bersahutan. Gema desah yang sarat akan nikmat itu memenuhi seluruh ruang kamar. Semilir angin dari pendingin udara seakan tidak lagi menyejukkan di tengah pergulatan nafsu birahi yang semakin menjadi.

Jeremy mengejar nikmat yang di damba-damba sedangkan Nathalie sudah berpasrah dengan sang suami yang tengah memegang kendali. Dua kaki Nathalie yang semula melingkar pada pinggang Jeremy, kini bertengger pada bahu sang tuan. Keduanya di tangkup oleh tangan Jeremy guna sebagai pegangan kala penetrasi.

Semakin lama Jeremy semakin keras menumbuk liang kenikmatan milik Nathalie hingga menembus titik sensitifnya. Wanita yang berada di bawahnya tengah mengerang, memejamkan kedua matanya sembari meremas sprei kuat-kuat.

“Jer...”

“Nathalie..” “Come on..”

Jeremy tau pasti saat ini Nathalie hampir sampai pada pelepasannya yang ke dua. Liang vaginanya mulai berkedut, ia kemudian melingkarkan kembali kedua kaki Nathalie pada pinggangnya. Tubuh Jeremy mendekat pada tubuh wanitanya sembari menghentakkan pinggulnya dalam-dalam. Jeremy membubuhi bibir Nathalie dengan kecupan basah yang singkat sembari memujinya.

“You're so beautiful, i love you Nathalie...”

“I love you more, Jer...” Balas Nathalie di tengah-tengah sengal deru nafasnya yang kian tak beraturan.

“Jer...”

“Nath, you wanna cum?”

Nathalie hanya menganggukkan kepalanya saja, tenaganya sudah terkuras habis. Mendesah saja sudah hampir kehabisan suaranya.

“Oke, let's go, babe.”

Jeremy menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Dua tangannya ia gunakan untuk bertumpu sembari mengusap peluh di kening Nathalie lalu mengecupnya berkali-kali sembari menghentakkan dalam-dalam batang penisnya. Jeremy merenggangkan tubuhnya dan mengangkat pinggulnya hingga penisnya hampir keluar, lalu menghentakkan keras pada liang surgawi milik Nathalie. Bersamaan dengan cairan sperma yang menyembur ke dalam rahim sang puan. Nathalie-pun sama-sama menuntaskan pelepasannya yang kedua dengan desah nikmat, serta tubuh yang bergetar hebat.

Jeremy masih sibuk dengan menghujani kecupan-kecupan mesra pada kening Nathalie.

“Thank you so much, Nath.” “I love you.”

I love you more, Jer...” Balas Nathalie di tengah deru nafas yang memburu. Perlahan Jeremy mengeluarkan batang penisnya yang penuh dengan sisa cairan pelepasan keduanya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Tangannya meraih bantal di atasnya namun terganjal sesuatu.

Jeremy kemudian terduduk, meraih selimut guna menutupi tubuh Nathalie dari terpaan dinginnya udara yang keluar dari pendingin ruangan. Ia mengambil bantal dan menemukan sesuatu yang tadi sempat mengganjal di bawah bantal tidurnya.

Kotak berukuran sedang, berwarna mint. Jeremy lantas menatap Nathalie penuh rasa penasaran, sedangkan wanita yang tengah menetralkan nafasnya itu hanya tersenyum lalu mengangguk, memberikan kode agar Jeremy segera membukanya.

“Kamu beliin aku kado apa Nath? Jam tangan? Tapi kok ringan gini.” Jeremy berujar sembari menggoyahkan kotak tersebut.

“Buka aja.” Titah Nathalie.

Jeremy kemudian membuka secara perlahan kotak tersebut, dan netranya membelalak ketika melihat isinya. Rona wajahnya tampak semburat merah penuh kebahagiaan. Di dalam kotak itu berisikan sebuah testpack dengan garis dua menandakan Nathalie kini tengah mengandung buah cintanya.

“Nath, seriously???”

“Yes!” jawabnya tegas.

Jeremy lantas memeluk erat-erat tubuh Nathalie dan mencium keningnya berkali-kali guna menyalurkan rasa bahagia yang di rasakan saat ini sungguh tiada tara.

“Kenapa kamu nggak bilang dari awal Nath? Aku tadi terlalu keras ya? Kamu sakit?”

“Aku mau kasih kejutan Jer, jadi aku tahan-tahan aja.”

“Nggak bisa kayak gitu Nath, kasian calon baby-nya. Besok kita ke rumah sakit ya? Aku libur sehari, mau nemanin kamu periksa.” Ujarnya, tangannya mengusap pucuk kepala Nathalie.

“Abis periksa kan kamu bisa ke kantor Jer, nggak perlu sampai nggak masuk kerja.”

“Gapapa Nath, aku bos-nya. Bebas dong, suka-suka aku.” “Aku mau sama kamu seharian.”

Nathalie hanya terkekeh. Jeremy kemudian mensejajarkan tubuhnya di samping Nathalie. Keduanya kini tengah berbagi kehangatan lewat peluk dan rengkuh di balik selimut tebal yang hangat.

“Go to sleep, babe..” Ucap Jeremy sembari mengecup puncak kepala Nathalie.

“Iya, calon papa adek bayi.” Sahut Nathalie, wajahnya ia benamkan pada dada bidang sang suami.

Keduanya lalu tertawa bersamaan. Bahagia yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Perjalanan Jeremy dan Nathalie baru saja di mulai.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for JJH's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip