Heavenly; 3am

Pukul satu dini hari Jenaya masih berkutat dengan laptop di hadapannya, di ruang kamar yang minim cahaya serta hawa dingin dari pendingin ruangan yang menyeruak menembus hingga ke tulang. Hampir satu minggu lamanya, Jena tinggal di rumah Jeffrian. Pada saat itu si tuan rumah sedang berada di luar kota sebab pekerjaan yang menuntutnya untuk meninggalkan Jena serta semua kesibukan di kantor. Jarak rumah Jeffrian tidak terlalu jauh dari kantor sehingga memudahkan Jena untuk melakukan segala aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan.

Satu jam yang lalu dua sejoli yang tengah merindu itu menyempatkan untuk berbicara melalui sambungan telepon, Jeff mengabarkan bahwa ia pulang esok hari karena masih ada satu hal lain yang belum di selesaikan. Jena hanya meng-iya-kan apapun yang di sampaikan oleh Jeff atas dasar saling percaya. Namun sebenarnya Jeff berbohong, pada saat itu Jeff sedang berada di balik kemudi mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah meskipun perjalanan tengah malam di tempuh tiga jam lamanya.

Jena melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, sudah berjam-jam dirinya duduk hingga ia merasa pegal di bagian punggung serta pinggangnya. Esok hari masih ada pekerjaan yang menanti sehingga dirinya bergegas untuk pergi tidur. Ranjang besar dengan balutan sprei berwarna putih gading bermotif garis horizontal mengingatkan Jena akan kegiatan intim dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu sebelum sang kekasih berada di luar kota.

Bayang-bayang dua raga yang tengah beradu birahi malam itu masih lekat di angan Jena, dimana Jeff benar-benar menghabiskan seluruh tenaganya untuk menyetubuhi dirinya dari tengah malam hingga pagi menjelang. Hendak memejamkan mata dan beristirahat barang sejenak pun sampai tidak bisa, karena Jeff enggan melewatkan waktunya untuk tidak menikmati tubuh Jena.

Masih lekat pada ingatan Jena, lima hari yang lalu dirinya di buat lemas tak berdaya hingga terpaksa meninggalkan pekerjaan satu hari penuh. Jeff berhasil membuat Jena sampai tidak bisa berjalan normal seperti biasa, malam itu Jeff menggempur Jena tanpa ampun hingga wanita itu mencapai empat kali orgasme.

Tenaga Jeff tidak main-main, bahkan pagi hari ia harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam lamanya menuju Bandung —pun ia lakoni tanpa beban, tanpa lelah dan kantuk.

Jena tersenyum kala mengingat banyak momen yang sudah ia lakoni bersama Jeff, ia kemudian beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Jena membasuh muka dan mengamati tubuhnya yang pucat. Terlihat samar ruam keunguan menghias permukaan kulit di dadanya sudah hampir hilang. Jena tersenyum tipis, ia memikirkan semua hal tentang Jeff yang sukses membuat dirinya seperti satu-satunya wanita di dunia yang paling beruntung.

Terlalu banyak kata jika di rangkai dalam bentuk kalimat untuk mengungkapkan betapa besar rasa cinta Jenaya kepada Jeffrian, rasa sayang dan rasa saking memiliki satu sama lain —pun juga sebaliknya. Terlalu banyak waktu untuk di lalui berdua, hingga hari-harinya di penuhi banyak hal manis yang senantiasa urung untuk di lupakan.

Jena merebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar, memposisikan tubuhnya menyamping dan meletakkan satu guling di sebelahnya. Jena menepuk-nepuk guling itu kemudian tersenyum dan mulai memejamkan matanya. Sekilas ia membayangkan Jeff ada di sebelahnya saat itu dan hal yang ingin Jena lakukan adalah memeluk kekasihnya erat-erat hingga pagi tiba, jena tidak akan menjauhkan tubuhnya dari Jeff barang satu inchi-pun. Wanita itu ingin menikmati hangat tubuh Jeff di dalam rengkuh senyaman pelukan, selembut usapan, hingga membuat dirinya melupakan sejenak pekerjaan yang sudah menguras waktu dan tenaganya.

Beberapa menit setelah Jena memejamkan mata, tidak perlu lama untuk memasuki alam mimpi. Tubuh serta pikiran yang lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang Jena rasakan membuat dirinya lebih mudah tidur meskipun sudah lewat tengah malam.


Sekitar pukul tiga pagi, Jeff tiba di rumah. Suara mobil yang memasuki garasi serta derap langkah Jeff ketika memasuki rumah menuju ruang pribadinya sama sekali tidak membuat Jena terusik. Wanita yang mengenakan dress piyama satin berwarna hitam itu masih terbujur di atas ranjang tanpa bergerak sedikitpun meski suara decitan pintu kamarnya terdengar jelas bergesekan.

Jeff menatap lamat-lamat sosok sang kekasih di tengah ruang minim pencahayaan. Mengamati tiap lekuk tubuh Jena, tergambar jelas ketika baju tidur yang di kenakan wanita itu terangkat hingga atas paha.

Rasa rindu juga nafsu Jeff yang tertahan beberapa hari membuat hasrat untuk menyetubuhi Jena semakin membara. Kejantanannya bergejolak di balik celana jeans panjang yang melekat pada kakinya dan mulai membuat tidak nyaman.

Jeff melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan, mulai dari hoodie dan celana jeans hingga menyisakan kaos hitam dan boxer dengan warna senada.

Jeff berjalan perlahan mendekati Jena yang masih tertidur pulas, si puan tidak menyadari bahwa lelaki yang ia rindukan beberapa hari itu sudah tiba di rumah. Kini Jeff sudah berada di ruang kamar dan berada tepat di sebelah Jena. Jeff mengusap lengan wanitanya, usapan lembut itu kelamaan menjadi usapan yang seduktif.

Deru nafas Jeff yang hangat menyapa kulit Jena, sembari ia bubuhkan kecupan-kecupan basah pada leher, bahu, lengan dan berhasil membuat wanita itu terbangun dari mimpinya. Jena mengerjapkan kedua matanya dan mengusapnya menggunakan punggung tangan beberapa kali hingga ia sadar bahwa di sebelahnya ada sosok lelaki yang ia rindukan.

“Jeff? Kamu udah pulang?” Tanya Jena sembari mengusap pipi kekasihnya. Memastikan bahwa yang berada di hadapannya adalah sebenar-benarnya Jeff dan ia tidak sedang bermimpi. Lelaki itu tersenyum simpul, terlihat jelas lesung pipi menambah kesan manis pada Jeff.

“Yes. I'm at home. Do you miss me, love?”

Bukan Jeff namanya jika saat itu juga si tuan berhasil membuat wanitanya melambung, meski belum sepenuhnya bangkit dari tidur. Jena merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, kemudian jemarinya ia gunakan untuk menyisir rambut Jeff yang sedikit berantakan.

“I miss you. Aku kangen, kangen banget.” Balas Jena sembari tersenyum tipis dan di balas senyuman yang tak kalah mematikan oleh Jeff. Lantas lelaki itu mendaratkan ciuman mesra pada bibir Jena dan segera di balas oleh wanita itu. Jena membiarkan Jeff menikmati rasa manis di setiap sela bibir ranum wanitanya, membiarkan lidah dan bibir Jeff bergerak agresif.

Jena menikmati cumbuan sarat akan gejolak nafsu yang di ciptakan Jeff, membiarkan lelaki itu menyesap dan melumat bibirnya, bertukar saliva hingga mengeksplorasi seluruh rongga mulut Jena yang haus akan kecupan serta lumatan agresif yang sering di lakukan Jeffrian.

Tubuh Jena yang sensitif terhadap sentuhan pun di buatnya merinding ketika Jeff meraba dua buah dada sintal miliknya dari balik dress piyama miliknya. Jena meremat kaos yang masih melekat di tubuh Jeff ketika jemari lelaki itu meremas pelan payudaranya. Tanpa Jena sadari, lenguh serta desah kecil pun lolos dari bibirnya.

Jeff memainkan puncak payudara Jena dengan sentuhan lembut, memutar puting kemerahan yang sudah menegang. Bibirnya masih beradu dan berbelit semakin agresif, membuat wanita itu berkali-kali melenguh tertahan.

Dua anak manusia itu sama-sama merangkum banyak hasrat dan gejolak birahi yang tertahan selama mereka terpisah lima hari lamanya. Rasa rindu yang menggebu serta cumbu mesra yang terburu membawa keduanya untuk saling melucuti kain yang masih melekat di tubuh satu sama lain.

Bibir berpagut semakin dalam dan mesra, membuat Jena semakin larut dalam permainan kekasihnya. Dua tangan Jeff awalnya menjadi tumpuan untuk menahan berat tubuhnya, kini perlahan ia gunakan untuk bergerilya dan menjamah seluruh tubuh wanitanya.

Payudara milik Jena menjadi bagian favorit lelaki itu mana kala puncaknya sudah mencuat tegang. Jeff meraup dan melumat puncak payudara Jena sangat rakus. Menyesap dua payudara Jena secara bergantian, memainkan puncaknya menggunakan lidah Jeff hingga membuat wanita itu melenguh dan mendesah karena nikmat.

“Ouh.. Jeff..” “Nghh...”

Dua tangan Jena melampiaskan rasa nikmat dengan meremas surai milik Jeff, dan mendorong kepala lelaki itu agar tetap tinggal dan terus memainkan kedua payudara menggunakan bibirnya. Jena seakan-akan meminta perlakuan lebih agar di manja dan di puaskan oleh Jeff yang berhasil membuat libidonya naik dengan cepat.

Setelah lelaki itu puas dengan dua payudara Jena hingga meninggalkan ruam keunguan tanda kepemilikan yang ia bubuhkan di atas kulit pucat si puan, bibir Jeff bergerak turun. Sembari mendaratkan kecupan-kecupan basah yang membuat Jena tidak kuasa menahan geli hingga tubuhnya bergerak resah. Tangan wanita itu meremat sprei yang mulai berantakan dan bibirnya tak luput dari desah.

Jeff mensejajarkan dirinya dengan pusat tubuh Jena yang sudah sangat basah akibat rangsangan bertubi-tubi yang di berikan oleh lelaki itu. Tangan Jeff membuka lebar kedua paha Jena agar dirinya dapat dengan mudah menjamah dan mengakses liang surgawi milik kekasihnya.

“Babe, your pussy looks so wet. What if i abuse your pussy to make you cum? With my finger? Or my tongue?”

Lidah Jena terasa kelu sampai-sampai dirinya tak kuasa membalas ucapan Jeff yang menurutnya sedikit terdengar kotor. Jena hanya dapat menatap lamat-lamat wajah Jeff yang di banjiri peluh berbias kilau lampu balkon yang cahayanya menembus lewat celah tirai.

“Jenaya.. I want to hear your answer?“

Jeff menginginkan jawaban dari Jena meskipun tanpa bertanya sedetail mungkin, Jeff secara suka rela mampu membuat wanita itu mendapatkan orgasme yang ia dambakan.

“Yes, please. Make me cum with your tongue and finger, i miss it so much.” Jawab Jena lirih, nafasnya masih terengah-engah. Kedua tangannya mencari posisi senyaman mungkin untuk meremas dan melampiaskan segala rasa nikmat yang sebentar lagi ia tempuh.

“Yes, babe. As your wish.” Balas Jeff dengan senyum seringai khas yang tersungging pada bibirnya.

Lantas Jeff mendaratkan lidahnya yang hangat pada bibir vagina milik Jena, menjilati dan menyesap liang surgawi yang sudah basah. Jena melengkungkan tubuhnya kala lidah Jeff bergerak agresif, menjamah liang basah dan lembab itu serta menggigit kecil klitorisnya.

Jena meracau dan berkali-kali mendesahkan nama kekasihnya dengan suara yang parau. Tangannya meremas sprei, bantal dan apapun yang dapat ia raih untuk melampiaskan gejolak birahi yang semakin memanas. Sedangkan tangan Jeff menahan kedua kaki Jena yang terus bergerak resah karena lidah lelaki itu menggelitik tanpa henti, membawa dirinya merasa di terbangkan ke awan.

Bunyi decap antara liang vagina milik Jena yang sangat basah juga lidah Jeff yang terus bergerak agresif terdengar sangat jelas. Beriringan dengan lenguh serta desah yang semakin melengking nyaring.

“Babe, I know that your pussy crave my dick. Really very wet and beautiful.” Ucap Jeff dengan tatapan nakal, ketika menyudahi sesi mengobrak-abrik liang becek menggunakan lidahnya.

Jena hanya bisa memejamkan kelopak mata sembari menggigit bibir bawahnya ketika tanpa aba-aba Jeff melesakkan dua jarinya ke dalam liang vagina milik wanita itu.

“Ouh.. Jeff..”

Jeff menggerakkan jarinya pelan, memberikan gerakan keluar masuk dengan tempo teratur. Merenggangkan dinding vagina milik Jena yang genap lima hari tidak ia jamah sama sekali. Liang surgawi wanita itu terasa hangat dan sangat sempit, menghimpit dua jari Jeff yang mulai bergerak liar.

Jeff menggunakan tangan satunya untuk menahan kaki wanitanya yang terus bergerak semakin resah kala Jeff mendaratkan kembali lidahnya pada klitoris milik Jena yang sudah membengkak. Lidah dan bibir, serta jari lelaki itu bergerak sesuai tugas masing-masing. Merangsang organ intim Jena untuk segera melepaskan cairan pelepasan yang sangat di damba.

“Aahh.. Jeff..” “Ouh.. Faster please.. Jeff..”

Jena merintih meminta lebih. Memohon agar Jeff segera menuntaskan permainannya guna merangsang pelepasannya lebih cepat, —pun segera di kabulkan oleh Jeff.

Dua jari Jeff bergerak semakin brutal, ibu jarinya ia gunakan untuk memainkan klitoris dengan gerakan memutar secara kasar. Sedangkan Jeff sibuk memandangi wajah sang puan yang sangat berantakan, helaian surai panjangnya pun sebagian menutupi wajah cantik kekasihnya. Serta tubuh yang di banjiri peluh, menjadikan pemandangan candu baginya.

“Jeff! Aku mau keluar.” Ucap Jena di tengah deru nafas yang terburu, serta racau desah yang semakin nyaring terdengar.

“Come on, Babe. Get your cum out.”

Jeff memberikan rangsangan lebih agresif. Menggerakkan jarinya lebih cepat hingga Jena melengkungkan tubuhnya, membusungkan dada, serta meremas sprei kuat-kuat kala denyar panas merambat ke seluruh tubuh akibat pelepasan pertamanya. Kedua kaki Jena bergerak asal ketika ia mencapai orgasme, namun dengan cepat Jeff menahan kedua kakinya agar wanita itu menuntaskan pelepasan yang sangat di damba.

Jeff tersenyum puas, lalu ia mengeluarkannya dua jarinya yang basah akibat cairan pelepasan yang membanjiri liang vagina sang puan. Lelaki itu kemudian menjilati sisa cairan yang masih menempel pada jarinya, dan membersihkan liang vagina milik Jena menggunakan lidahnya. Menyesap dan menjilati sisa cairan itu hingga bersih.

“Mmm... The cum that comes out is sweet and i like it.” Ujarnya sembari tersenyum menggoda.

Di tengah-tengah nafas yang tidak beraturan, Jena hanya menatap pujaan hatinya sekilas. Di balik senyum dan seringai Jeff, sudah jelas bahwa lelaki itu menyimpan seribu cara untuk menggempur habis-habisan wanita itu dan Jena hanya bisa pasrah.

Jeff lantas mengecup singkat kening dan bibir Jena.

“I love you.” Ucap Jeff.

“I love you more.” Balas Jena dengan tatapan mata yang sayu.

Lantas Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, mensejajarkan kejantanannya yang sudah keras dan tegang tepat di depan kepemilikan Jena. Wanita itu menelan ludah gusar ketika melihat kejantanan milik Jeff yang besar dan kokoh. Meskipun terlihat samar karena ruangan yang minim pencahayaan, namun masih jelas terlintas pada ingatan Jena mana kala kekasihnya itu menyetubuhi dirinya tanpa ampun.

Ingatan persetubuhan dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu membuat seluruh tubuh Jena merinding.

Jeff mengurut batang penisnya pelan, lalu menggeseknya pada permukaan bibir vagina Jena yang basah hingga menyentuh klitorisnya. Jena mendesah pelan dan meremas bantal sebagai media untuk menyalurkan rasa ngilu pada saat Jeff melesakkan batang penisnya perlahan.

“Ahh... Fuck! So tight and warm, babe.“

Setelah masuk dengan sempurna, Jeff membiarkan batang penisnya tertanam pada liang vagina milik Jena untuk beberapa saat. Membiarkan otot-otot vagina si puan merenggang ketika menerima sepenuhnya kejantanan Jeff. Pun Jena melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Jeff agar dirinya lebih nyaman ketika lelaki itu melakukan penetrasi.

“Jen, aku gerakin ya?”

Pinta Jeff sesaat setelah kejantanannya merasakan dinding vagina milik wanitanya sudah berkedut seakan meminta untuk segera di manjakan oleh penis Jeff yang besar.

Jena hanya menjawab dengan anggukan saja sebelum akhirnya memejamkan kelopak matanya sembari mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Jeff.

“Aahh.. Jeff...”

Lenguh dan desah manja akhirnya lolos dari bibir si puan mana kala Jeff mulai menggerakkan pinggulnya pelan dan masih dengan tempo yang teratur.

Bibir Jeff mendaratkan kecup dan cium di bibir Jena sebelum wanita itu membalas ciuman basah yang kelamaan menjadi lumatan-lumatan candu yang semakin dalam dan menuntut.

Lidah keduanya saling berbelit, bertukar saliva satu sama lain hingga Jena mendesah tertahan ketika tempo gerakan pinggul Jeff semakin keras dan cepat menghujam miliknya.

Tangan Jeff pun tak tinggal diam, satu tangannya bertumpu untuk menopang berat tubuhnya ketika lelaki itu melepaskan pagutan bibir keduanya. Tangan satunya ia gunakan untuk memijat, meremas, dan memilin puting kemerahan yang sudah menegang. Bibir Jeff memainkan, melumat, payudara satunya dengan rakus.

Jena seakan-akan di bawa terbang ke langit ke tujuh karena perlakuan Jeff ketika sedang menyetubuhinya. Lelaki itu tau betul dimana bagian-bagian sensitif pada tubuh Jena, memberikan rangsangan untuk membuat si puan mendapatkan pelepasan yang sangat di damba.

Jeff bukanlah lelaki egois yang hanya semaunya sendiri perihal nafsu birahi. Jeff lebih mendahulukan keinginan Jena apapun perkaranya, bahkan urusan ranjang sekalipun. Jena harus lebih dulu puas, Jena harus lebih dulu mencapai puncak kenikmatan surga dunia sebelum dirinya. Jena yang utama, Jena adalah adalah bagian dari prioritas utamanya ketika sedang bercinta.

“Ahh.. Jeff..” “Harder, please..”

Jena merintih meminta lebih, ketika denyar panas sudah menjalar keseluruh tubuh. Gelombang pelepasan hampir ia dapatkan ketika Jeff menumbuk tanpa henti dan semakin keras. Sepersekian detik Jeff mengabulkan permintaan Jena, lelaki itu membuat ancang-ancang dengan menarik batang penisnya hingga ujung dan hampir keluar dari liang vagina Jena kemudian melesakkan kembali dengan keras dan dalam.

“Ahh.. Jeffrian..” “Ouh...”

Jena merintih dan mendesah hebat ketika kejantanan lelaki itu berhasil menumbuk miliknya. Jeff meluruskan kedua kaki Jena meletakkan pada kedua bahunya, kedua tangannya ia gunakan untuk mencengkeram paha si puan dan mengulangi gerakan menghujam, menghantam liang kenikmatan Jena hingga tubuh wanita itu bergetar hebat.

“Ahh.. Jeff..” “Please...”

Jena memohon dan lelaki itu sudah paham jika Jena sebentar lagi hendak menjemput pelepasannya yang ke dua.

“You wanna cum, huh?”

Jena hanya mengangguk dan pasrah.

“You like it?”

Masih di jawab anggukan oleh Jena dan Jeff terus bergerak brutal, semakin tidak beraturan. Jeff berkali menghentakkan batang penisnya hingga menumbuk tanpa ampun pada milik Jena yang sudah sangat basah, suara tabrakan organ intim dua sejoli itu semakin keras terdengar menggelitik gendang telinga.

“Jen, sorry apa kamu bisa menunggu sebentar lagi? And we will do it together?” Pinta Jeff dengan suara serak dan tubuh yang bermandikan peluh. Nafasnya pun tak kalah tersengal, sama-sama mengejar puncak nikmat yang sebentar lagi di dapat.

“No. Please.. Aku udah nggak kuat, Jeff. Aku nggak tahan mau keluar.” Balas Jena dengan suara lirih di iringi desah nikmat serta pasrah.

“Oke, babe. Get as much out. Hmm.. I love you Jenaya.”

Detik berikutnya Jeff memberi ancang-ancang sebelum menumbuk dengan gerakan keras dan dalam, mendorong penuh miliknya hingga titik ternikmat milik Jena berhasil ia porak porandakan. Bersamaan dengan lengkingan suara parau si puan yang mencapai pelepasannya dengan tubuh yang bergetar hebat.

“Jeff.. Ahh... Jeffrian...” “Ouh...”

Desah di iringi racau berkali-kali Jena serukan di tengah deru nafas yang terburu. Kelopak matanya mengatup, tangannya meremas lengan Jeff hingga berbekas kemerahan.

Jeff kemudian memeluk tubuh Jena, mengusap peluh yang membasahi wajahnya, merapikan surai hitam yang sebagian menutupi wajah cantik wanitanya sembari menggerakkan pinggulnya pelan.

“It's oke, it's oke. Udah enak kan? Udah lega?” Ucap Jeff sembari memberikan kecupan-kecupan hangat pada kening, kedua mata yang masih terpejam, juga pada bibir Jena yang masih meloloskan desah lirih guna menyalurkan rasa hangat untuk sekedar menenangkan si puan.

“Jen, aku cepetin boleh? Aku juga mau keluar, sayang.” Pinta Jeff lembut sembari mengecup bibir Jena.

Wanita itu mengangguk, menyetujui Jeff untuk segera menuntaskan pelepasannya. Meskipun tubuh Jena lelah dan tidak berdaya namun wanita itu sudah terlanjur takluk, patuh dengan apapun yang Jeff minta.

Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, menggerakkan pinggulnya kembali dengan tempo cepat. Jemari Jeff tidak tahan diam, dengan kasar memutar dan memainkan klitoris Jena membuat wanita itu melenguh kesal.

“Ngghh... Jeffffff!”

Lelaki itu hanya mengeluarkan senyum seringai dan terus menggempur milik Jena sambil memainkan klitoris wanitanya.

“Ahh.. Jeff...”

“Come on, babe. We can cum together.”

Jena sudah benar-benar pasrah ketika Jeff menggempurnya habis-habisan. Wanita itu sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa, suara serak dan parau pun terdengar sangat lirih, bahkan lebih keras dari suara penyatuan organ intim keduanya ketika bertumbuk dan geraman yang lolos dari bibir Jeff.

“Jeff.. Ahh.. A-aku..”

“Ayo sayang, keluarin lagi. Aku bentar lagi keluar.”

Jena hanya mengeratkan cengkeraman pada sprei yang sudah tidak beraturan, kedua matanya terpejam dan tubuhnya lemas terkoyak mengikuti pergerakan tubuh Jeff yang masih bergerak agresif menghujam miliknya.

Hentakan demi hentakan kian rancu, keras dan kasar. Usapan jari-jari Jeff pada klitoris milik sang kekasih kian memutar cepat. Menghantarkan denyar panas dalam tubuh, dan mempercepat aliran darah dari ujung kaki hingga ujung kepala. Detik berikutnya Jeff menjemput pelepasannya dan di susul Jena yang berhasil mencapai orgasme untuk ketiga kalinya. Cairan sperma milik Jeff menyembur kuat, terasa hangat memenuhi liang sempit milik Jena.

“Ouh Jeff..”

“Hmm.. Oh Fuck! Oh yes!“ “Ahh.. Jena, i love you, Jen, i love you so much.“

Jeff memeluk kembali tubuh Jena yang terkulai lemah. Mengecup tiap inchi wajah kekasihnya yang bermandikan peluh. Lelaki itu kemudian mengeluarkan batang penisnya perlahan dan duduk di tepi ranjang. Ia raih beberapa lembar tisu guna membersihkan kejantanannya yang berlumur cairan pelepasan dan juga milik Jena hingga benar-benar bersih.

“Sayang, aku lupa nggak pakai kondom.” Ucap Jeff terkekeh sembari merebahkan tubuhnya di sebelah Jena. Kemudian menarik selimut guna menutupi tubuh keduanya yang masih polos.

“Kamu kebiasaan.” Balas Jena. Wanita itu merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, ia lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang lelaki itu. Jeff serta merta memeluk dan merengkuh tubuh mungil Jena, mendaratkan kecupan-kecupan singkat pada pucuk kepala sang kekasih.

“Jeff, kakiku lemes banget.” Ucap Jena berbisik lirih sembari memejamkan matanya.

“Nanti nggak usah ke kantor. Lagian ini juga udah hampir jam enam pagi.” “Buat istirahat aja ya, tidur sama aku sampai siang.”

Jena pun mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Jeff di balik selimut hangat dan tebal. Di sambut oleh sinar mentari yang mulai menampakan diri serta ruangan yang awalnya sarat akan hawa panas, kini bergulir menjadi dingin dan sejuk. Membawa rasa nyaman dan damai pada dua sejoli itu hingga sama-sama menjemput mimpi indah. Meninggalkan sejenak rutinitas di pagi hari, melupakan sejenak aktivitas kantor yang melelahkan dan menguras waktu serta tenaga.