About feelings

Seorang wanita tengah menghabiskan malam di temani beberapa botol wine yang berjajar rapi di atas meja. Raut wajahnya terlukis jelas gurat rasa lelah yang yang ia pikul sendirian. Netranya sayu menatap hamparan lampu yang menghias ibu kota dari dalam hotel berbintang yang berdiri kokoh tinggi menjulang. Malam itu ia tengah menanti seseorang yang biasa menemaninya menjelajahi mimpi.

Ia teguk kembali tiap tetes cairan yang sangat memabukkan itu, dirinya-pun larut dalam angan-angan. Sejak sore wanita itu terlibat pertengkaran dengan Damian, masalah sepele menurut dirinya namun tidak bagi Damian. Hingga larut malam lelaki yang di tunggu-tunggu sama sekali tidak bisa di hubungi dan wanita itu tidak mengetahui keberadaannya membuatnya semakin frustasi.

Damian mungkin sudah bosan dan muak dengan adab seorang wanita bernama Gladys Anastasya. Bekerja dengan wanita itu bukan perkara mudah apalagi berurusan dengan hati. Dua tahun yang di lalui bersama cukup menguras emosi, waktu yang tidak sebentar ketika Damian bersikeras mendapatkan kepastian namun nyatanya nihil. Sang puan melenggang tanpa beban sedangkan dirinya kelimpungan menahan perasaan dan hasrat yang harus di pendam dalam-dalam. Damian dan Gladys tidak ada bedanya, sama-sama mempunyai sikap keras dan ego yang tinggi.

Klek...

Suara decitan pintu terdengar lantang di telinga, Gladys sontak berdiri dan mencari ke arah sumber suara. Tak lain adalah Damian, wanita itu terhuyung saat berjalan menghampiri Damian dan memeluknya erat seakan tak mau di tinggalkan. Beberapa jam yang lalu, lelaki itu sempat meminta ijin untuk pergi. Bukan sekedar pergi ke suatu tempat namun pergi menjauh dan berhenti dari segala aktivitas yang berdampingan dengan Gladys.

Tangan kekar itu mengusap pelan punggung Gladys, mencoba menenangkan wanita yang tengah terisak dalam tangis.

“Dys.. Nggak usah nangis. cengeng, jelek.” Ucapnya lirih. Sang puan semakin mengeratkan pelukannya dan menggelengkan kepalanya.

“Jangan tinggalin gue. Gue gak bisa kalau gak ada lo, Dam..” Ucap wanita itu, kepalanya mendongak menatap wajah Damian dari bawah. Lelaki itu membalas tatapan sang puan kemudian mengusap pucuk kepalanya lembut dan mengecup bibirnya singkat. Damian sesungguhnya sudah menyerah dengan hubungan yang tidak pernah ada titik temu. Lelaki itu tulus menyayangi Gladys namun sang puan lebih memilih saling berbagi ranjang dan kenikmatan tanpa harus ada embel-embel status.

“Lo udah habis berapa botol? Mau gue temenin minum?” Tawar Damian dan di jawab anggukan oleh Gladys. Tangan wanita itu masih melingkar pada perpotongan leher Damian. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher sang tuan, semakin erat hingga Damian tidak bisa bergerak.

Damian sangat paham dengan sikap Gladys kala itu, sudah sangat lama bersama membuat dirinya hafal bahkan di luar kepala. Damian meremas bokong sintal milik sang puan yang hanya mengenakan celana dalam, menepuk sedikit keras kemudian mengangkat dan menggendongnya bak seekor koala yang sangat menggemaskan.

Damian duduk di sebuah sofa yang menghadap ke dinding kaca membentang seluas kamar itu, tanpa melepaskan tubuh Gladys yang masih erat menempel pada peluk hangat Damian. Tangan lelaki itu sibuk menjamah bagian tubuh Gladys yang terekspos, meraba dan sesekali meremas paha serta bokong sintal milik wanita itu. Sedangkan Gladys merasa tubuhnya menerima rangsangan yang di ciptakan oleh Damian, membuat tubuhnya bergidik merinding.

“Dam..”

“Hmm..”

“Jangan ninggalin gue.” Rengek Gladys dengan raut wajah memohon penuh harap. Lelaki itu memalingkan muka kemudian mengambil gelas berisi wine di atas meja dan meminumnya. Damian tidak bisa tahan dengan rengekan, tatapan sayu, dan gurat wajah ayu wanitanya selalu membuat dirinya lemah. Setelah meletakkan kembali gelas di atas meja yang berada di belakang tubuh Gladys, ia kemudian menangkup kedua pipi sang puan dan menatap matanya.

“Dengerin gue. Keinginan gue gak muluk Dys, tapi lo anggap sepele.” “Gue cuma pengen ada kejelasan sama hubungan kita, backstreet-pun gak masalah kalau lo gak mau di ketahui publik. Tapi lo tetep gak mau. Gue gak bisa kayak gini terus Dys, gue lebih baik pergi dari lo. Sekarang lo bisa bebas jalan sama cowok lain, tidur sama cowok lain atau lo mau balikan sama Erick? Lo bebas sekarang.” Cecar Damian bertubi-tubi, meledakkan amarah yang mendidih di otaknya.

“Gue gak bisa Dam, gue gak bisa tanpa lo!” Ucap Gladys, bulir air mata yang di tahan sedari tadi akhirnya lolos mengalir membasahi pipinya. Dua tangan yang masih menangkup pipi wanita itu ia gunakan untuk mengusap tetesan air mata yang menutupi wajah cantiknya, lalu ia kecup lembut kening sang puan. Damian kemudian mengangkat tubuh Gladys dan mendudukan di sofa tepat di sebelahnya.

“Ngomong sama lo kayak ngomong sama tembok. Keras.” Damian berujar sembari berdiri dan berjalan ke arah dinding kaca guna melihat hamparan lampu kota yang terlihat meriah. Dua tangannya ia selipkan pada saku celana, angan Damian tak jauh-jauh dari sosok Gladys yang di cintainya.

Dengan langkah gontai wanita itu menghampiri Damian yang tengah menikmati panorama malam. Ia peluk tubuh tegap dan gagah itu, mengusap sensual perut juga dada lelaki itu. Damian tidak bergeming, ia tengah mati-matian menahan hasrat ketika Gladys terus menggodanya.

“Dam.. I'm yours, please stay here. Gue cuma punya lo Dam, apapun. Tubuh gue, bahkan nyawa gue sekalipun milik lo. Please, jangan tinggalin gue.” Ujarnya. Gladys jelas tidak bisa jauh-jauh dari Damian. Bukan tanpa sebab, lelaki itu selalu ada 24/7 dalam kehidupannya. Mulai dari memejamkan mata hingga ia membuka kembali matanya. Tugas Damian bahkan melebihi seorang manager, apapun di lakukannya demi Gladys.

Lelaki itu menoleh ke belakang saat wajah Gladys menempel pada ceruk lehernya. Hembusan nafas wanita itu terasa jelas menembus permukaan kulitnya. Damian kemudian membalikkan badannya, dan membawa tubuh Gladys ke hadapannya. Menyudutkan sang puan dalam kungkungan hingga tubuh wanita itu melekat pada dinding kaca di belakangnya. Damian membelai rambut wanitanya lembut, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Dua netra beradu seakan mereka menemukan titik temu.

Tangan Damian mengusap lembut pipi Gladys sebelum akhirnya mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. Damian sungguh tidak bisa jauh dari Gladys, namun berada di dekatnya-pun seperti menyakiti diri sendiri. Ciuman yang awalnya lembut kelamaan menjadi sangat menuntut. Tangan Damian tak bisa diam, satu persatu melepaskan kancing kemeja kebesaran yang di kenakan Gladys, tak lain itu adalah pakaian milik Damian. Wanita itu-pun tak mau kalah, tangannya menelusup pada kaos tipis yang di kenakan oleh Damian. Meraba perut dan dada sang tuan dengan sensual. Tanpa melepaskan pagutan diantara keduanya, Damian berhasil melucuti pakaian yang menempel pada tubuh Gladys.

“Promise me.. Don't leave me alone.” Ucap Gladys dengan wajah memohon, namun Damian sama sekali tidak bergeming.

“Gue gak akan ninggalin lo Dys, asalkan lo nurut sama perintah gue.” Timpal lelaki itu, ia mulai jengah dengan sikap Gladys yang menurutnya egois dan keras kepala. Gladys mengangguk bener kali tanda setuju dengan permintaan Damian. Detik berikutnya wanita itu beraksi sangat beringas, Gladys melepaskan kaus yang di kenakan Damian dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian melepaskan belt melucuti celana jeans milik lelaki itu hingga tersisa boxer-nya saja. Di hadapannya aset milik Damian terlihat hampir ereksi sempurna.

Tanpa basa basi, wanita itu menanggalkan satu-satunya penutup di tubuh Damian. Ia berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya pada kepunyaan Damian yang sedari tadi ia urut dengan lembut dan sensual membuat batang penis yang sudah tegang itu menjadi keras sempurna. Tangan Gladys sangat mahir memberikan pijatan lembut sembari mencocoknya pelan sebelum akhirnya mulut mungilnya melahap batang besar itu. Gladys mengulum sembari mengocok pelan batang penis milik Damian, sesekali menjilat penis lelaki itu dari pangkal hingga ujungnya sembari memainkan twin ball milik sang tuan. Tangan kiri Damian ia gunakan untuk bertumpu pada dinding kaca di depannya, sedangkan tangan kanannya mencengkeram erat rambut wanitanya yang terurai dan sedikit berantakan. Tangan Damian terus bergerak memaju mundukan kepala sang puan dan mengatur tempo sesuai keinginannya. Air mata Gladys mengalir pada sudut matanya saat ujung penis Damian menusuk tepat pada kerongkongannya. Ia tidak bisa berontak bahkan saat Damian berlaku kasar saat berhubungan badan.

“Ouhh.. Fuck! I like it, Dys..” Racau lelaki itu, matanya terpejam dan kepalanya mendongak karena blow job yang di lakukan Gladys sangat lihai dan memuaskan. Menit berlalu tiba-tiba saja Damian meminta wanita itu berhenti pada aktivitasnya.

“Stop Dys.” Pinta Damian. Sontak Gladys-pun berhenti, lalu menatap lekat wajah lelaki itu dari bawah. Damian kemudian mengangkat tubuh Gladys dan membalikkan tubuh wanita itu ke arah dinding kaca, hingga tubuhnya menempel pada dinding. Dua tangan Gladys reflek menumpu tubuhnya pada dinding kaca, matanya terpejam dan sejenak berpikir apa yang akan di lakukan Damian padanya.

Menit berikutnya Damian melepas bra yang di kenakan Gladys, serta merobek celana dalam yang menurutnya sangat mengganggu ketika ia hendak melancarkan aktivitas seksualnya.

Plak!

Damian menampar bokong sintal milik Gladys hingga suaranya nyaring terdengar.

“AHH!” Pekik wanita itu, matanya kembali terpejam saat merasakan perih pada bokongnya. Damian kembali meremas bokok Gladys dengan sangat sensual, bibirnya sibuk mencumbu sang puan. Ia kecup basah pada bagian lehernya dan sesekali menjilat belakang telinga Gladys membuatnya semakin terangsang.

Damian berjongkok berada di belakang tubuh Gladys, beberapa kali meremas bokong milik wanitanya sebelum akhirnya menjilat dan menyesap liang surgawi milik Gladys dari arah belakang. Wanita itu reflek mencondongkan tubuhnya agar Damian bisa mengakses miliknya dengan mudah.

Gladys tak henti-hentinya mendesah dan mengerang nikmat saat lidah Damian bermain di bawah sana. Bibirnya menyesap kepunyaannya, kemudian lidahnya menusuk-nusuk dalam liangnya.

“Aahh... Ouhh...” Desah Gladys, menikmati sensasi permainan lidah Damian yang tidak pernah mengecewakan. Tubuh wanita itu bergerak resah saat lidah dan bibirnya menyesap, menjilat penuh nafsu. Tangan kanan milik lelaki itu menyapa klitorisnya dan sibuk bermain disana membuat suara desah Gladys semakin keras terdengar.

“Ahh.. Dam, please..”

Mendengar Gladys tengah memohon padanya, lelaki itu justru menghentikan aktivitasnya hingga membuat sang puan sedikit frustasi. Jika Damian tidak menghentikannya mungkin Gladys sudah mencapai pelepasannya yang pertama. Damian kemudian berdiri di belakang Gladys, satu tangannya ia gunakan untuk mengocok penisnya perlahan sebelum akhirnya melesatkan miliknya pada liang kenikmatan milik Gladys.

“Ahh..” Desah Gladys. Perlahan Damian menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Kedua tangan Gladys bertumpu pada dinding kaca, pemandangan malam yang indah menjadi suguhan di tengah penyatuannya. Tangan kiri Damian sibuk memainkan gundukan payudara yang menyembul bebas, sedangkan tangan kanannya memainkan klitoris milik wanita itu.

Gladys benar-benar di buatnya terbang ke langit ke tujuh. Damian tidak pernah gagal membuatnya candu saat bercinta. Salah satu alasan Gladys tidak mau di tinggalkan olehnya adalah urusan ranjang dengan Damian melebihi apapun.

Damian tidak membiarkan tubuh Gladys kosong barang satu inci-pun. Tangannya bergerilya menjamah tiap lekuk tubuh wanita itu. Bibirnya mencium basah, menjilat leher dan meninggalkan bercak kemerahan di sana. Damian seakan tidak peduli jika kissmark yang ia tinggalkan di leher akan membekas dan terlihat jelas. Hentakan demi hentakan pinggul Damian berkali-kali menumbuk titik terdalam milik Gladys, bibirnya mengeluarkan erangan dan desahan tanpa henti.

“D-Dam.. Ahh..”

“You wanna cum?” Tanya-nya. Gladys hanya mampu menganggukkan kepala saja. Tubuhnya lelah, miliknya tengah di hujam habis-habisan oleh Damian. Lelaki itu kemudian mencengkeram helaian rambut yang terurai, menariknya dengan sedikit kasar hingga wanita itu mendongak sembari mendesah dan memejamkan matanya. Damian menambah tempo hentakan di bawah sana menjadi lebih cepat dan keras. Liang vagina milik Gladys mulai berkedut dan terasa sesak, bersamaan dengan milik Damian yang terasa penuh ketika hendak menjemput pelepasannya.

“Dys..”

“Ahh... Huh?” Wanita itu terlihat kesulitan menetralkan nafasnya.

“Luar atau dalem?” Tanya Damian di sela penetrasi.

“Dalem, please.. Please..” Damian menuruti permintaan wanita itu, ia semakin bersemangat mempercepat tempo dan hentakan hingga Gladys tidak sanggup lagi menahan pelepasannya.

“Aahhh...” Desahannya begitu keras. Netranya terpejam, tubuh wanita itu bergetar dan menggelinjang hebat saat menjemput pelepasannya. Tak berselang lama lelaki itu-pun menyemburkan cairan spermanya ke dalam rahim Gladys. Tubuh wanita itu melemas tak berdaya, kakinya-pun sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.

Damian memeluk wanita itu setelah pelepasannya, mengecup beberapa kali bahu sang puan tanpa melepaskan penyatuan di bawah sana. Tangannya mengusap dan membelai surai panjang kecoklatan milik wanita itu.

“Dam, apa mau gini terus?” Tanya Gladys ketika ia merasa kakinya sudah sangat lemas.

“Lo gak kuat berdiri?”

“Kaki gue lemes.” Jawab wanita itu singkat. Damian kemudian perlahan melepaskan pertautan di bawah sana. Ia membalikkan tubuh Gladys agar berhadapan dengannya. Wajah sayu dan berantakan adalah pemandangan paling favorit bagi Damian. Detik berikutnya Damian mengecup bibir dan kening Gladys sebelum akhirnya membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Tanpa Damian di sampingnya wanita itu tidak bisa mengatur hidupnya dengan baik. Tanpa Damian hari-hari yang di jalani oleh Gladys akan terasa hampa dan sunyi.

Gladys sangat membutuhkan Damian, sampai kapanpun.

“Dam, lo gak ninggalin gue kan? Lo tetap stay sama gue kan?” Ucap wanita itu.

“Dys, ini kesempatan terakhir. Kalau lo mau nurut, gue tetap tinggal tapi kalau sikap lo gak berubah, gue beneran pergi dari lo.” Cecar Damian, wanita itu mengangguk beberapa kali sembari tersenyum karena Damian memberikan kesempatan padanya. Detik kemudian lelaki itu mencium bibir Gladys dengan gerakan kasar. Dua bibir yang bertemu dan saling bertukar saliva itu kelamaan menjadi lumatan yang sangat menuntut dan berangsur beberapa menit, hingga memancing nafsu birahi. Tangan Damian tergerak meremas bokong sintal wanita itu dan mengangkatnya ke dalam gendongannya. Lelaki itu membawa tubuh Gladys menuju ranjang besar dan merebahkannya di sana. Damian berada di atasnya dan mengunci tubuh Gladys hingga tidak bisa bergerak sedikitpun. Lelaki itu kembali melumat bibir sang puan penuh nafsu. Gladys yang merasa kewalahan dan hampir kehabisan nafas, akhirnya mendorong pelan dada bidang lelaki itu.

“Dam,—”

“Second round, oke?” Ucap Damian dan detik berikutnya lelaki itu mencium dan menjilat leher Gladys dengan kasar.

“AH! No! Dam.. Please...”

Damian malah membalikkan tubuh wanita itu dan menindihnya, ia loloskan lagi penisnya ke dalam pusat tubuh sang puan. Tangannya menarik kasar surai kecoklatan milik Gladys hingga membuatnya mendongak sembari melenguh karena batang penis milik Damian kembali menghujam miliknya dengan gerakan keras dan kasar.

“D-Dam pleaseehhh...” Rintih Gladys. Namun Damian tidak peduli. Lelaki itu terus menggerakkan pinggulnya dengan kasar dan menghentakkan pinggulnya hingga menusuk titik ternikmat milik Gladys.

“Lo paling suka di kasarin kan?” Ucap Damian lirih tepat di telinga Gladys, membuat wanita itu bergidik merinding.

Gladys tidak bisa menolak karena permainan kasar Damian sudah sangat biasa baginya, ketika lelaki itu menumpahkan segala amarahnya. Hentakan demi hentakan, hujaman demi hujaman terus berlangsung tanpa henti. Gladys yang berada di bawah kendali Damian tampak kewalahan dengan perlakuan lelaki itu. Dua tangan Gladys perlahan menumpu tubuhnya, agar mengurangi rasa sakit ketika surai indahnya menjadi pegangan sang tuan.

“Dam.. M-mau keluarrhh..”

“You wanna cum again? Huh?” Gladys hanya mengangguk sembari memejamkan matanya.

“Good girl“

Damian semakin cepat menggerakkan pinggulnya dengan kasar, ia juga mengejar pelepasannya agar bersamaan dengan Gladys. Erangan dan desahan keduanya bersahutan hingga memenuhi seisi ruangan kamar hotel tersebut. Damian memegangi pinggul Gladys sembari menghentakkan miliknya dan melepaskan cairan spermanya di dalam sana, bersamaan dengan wanitanya yang mencapai klimaksnya.

“Aahhh... Dammhh...” Desah Gladys, wajahnya menengadah dan netranya terpejam karena merasakan nikmat luar biasa. Damian tidak pernah gagal membuat dirinya merasakan sakit dan nikmat dalam waktu yang bersamaan. Salah satu alasan Gladys tidak pernah mau lepas dengan Damian. Sesakit dan sekeras apapun Damian memperlakukan dirinya di atas ranjang, tetap menjadi candu bagi wanita itu. Keduanya saling membutuhkan, keduanya mempunyai rasa saling memiliki namun untuk merealisasikan kejelasan hubungan mereka terlalu sulit. Entah sampai kapan mereka mampu bertahan, tidak ada yang tau.


Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for Kdy's birthday. For all questions and feedback, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

Kalian juga bisa Support karyaku melalui; https://trakteer.id/deorphic/tip


Thank you!❤