I will never not think about you
Marcello pov
Tangan ku bergerak cepat menyambar tas dan handuk kecil, aku berlari kecil sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Aku tidak peduli dengan Hansel yang berteriak sebab aku tinggalkan begitu saja. Dalam hatiku sudah di penuhi nama Hanna Venti Mahatma yang notabene adalah kakak kandung Hansel. Di otakku sudah terbayang senyum manis seorang Hanna yang setahun terakhir ini mengisi ruang di relung hati.
Kadang aku merasa tidak percaya telah menjatuhkan hati pada wanita yang usianya lebih tua dua tahun dari aku. Pun aku masih sering berpikir bahwa aku memacari kakak sahabat ku sendiri, tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Namun Hanna, mengubah cara pandang ku. Aku yang selalu merasa kesepian karena malas untuk mempunyai hubungan dengan perempuan. Aku pikir kebanyakan perempuan hanya bersikap ke kanak-kanakan, tidak beda jauh dengan beberapa perempuan yang dekat dengan ku. Tapi Hanna mengartikan cinta dengan sangat sederhana.
Kita hanya perlu saling percaya, mencintai seadanya tanpa harus banyak menuntut dan Hanna melakukan itu. Hanna adalah wanita mandiri yang ingin aku berikan apresiasi melalui cinta dan kasih yang aku miliki.
Hari-hari kami terlampau sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terhitung lima bulan aku bekerja di perusahaan papa, dan Hanna pun mempunyai kesibukan dengan pekerjaan selain harus mengurus dua adiknya Hansel dan Halsey.
Hampir dua minggu Hanna meninggalkan aku, ia berada ke Singapura lantaran kedua orang tuanya berada di sana. Rindu akan wanita cantik ini rasanya sudah tidak bisa aku bendung lagi.
Aku ingin memeluknya, aku tidak ingin wanita itu bergerak kemana pun. Ingin aku dekap sampai aku puas memandangi wajahnya, sampai tuntas aku menghirup aroma tubuhnya. Aku rindu mencumbunya, bahkan aku ingin mendengarkan erangan yang keluar dari bibirnya berulang kali.
Kedua mataku fokus pada jalanan ketika aku segera menghidupkan mobil dan mengendarainya dengan sedikit terburu. Namun di otakku cukup kotor dengan membayangkan Hanna yang tidak berdaya berada di bawah ku, serta mendengarkan rintihan suara seraknya ketika meloloskan desah yang menyebutkan namaku.
“Ah, pikiran ku terlalu kotor jika sedang merindukan Hanna.”
Sore ini aku sangat beruntung karena jalan Ibukota tidak terlalu ramai, aku bisa mengendarai mobil ku lebih cepat agar aku bisa sampai di rumah Hanna. Aku sempat melihat notif di layar ponselku ketika dering singkat menandakan pesan masuk dan pengirimnya adalah Hansel.
“Gue mau balik ke apart Ara aja, lo puasin kangennya sama kakak gue mumpung Halsey masih di Singapura.”
Isi pesan singkat dari Hansel sukses membuat senyum ku mengembang. Aku tidak akan membuang waktu karena menurutku, menghabiskan sisa hari ini dan menjemput hari esok dengan memeluk tubuh Hanna adalah salah satu keberuntungan selain memenangkan tender.
Hanna pov
Aku terkekeh geli ketika membaca pesan singkat Marcell yang terkesan terburu-buru, sebab aku memberikan kabar bahwa aku sudah berada di rumah sore ini.
Hampir dua minggu aku berada di Singapura karena kerinduan pada kedua orang tuaku sudah pada puncaknya. Hampir satu tahun kami tidak saling bertemu lantaran kesibukan masing-masing. Perihal pekerjaan, papa dan aku sama-sama gila bekerja. Terkadang aku lebih suka menghabiskan waktu dengan menyelesaikan pekerjaan bahkan jika harus lembur sekalipun.
Aku sampai tidak peduli dengan urusan percintaan, masa bodoh. Aku hanya fokus pada pekerjaan, dan dua adikku; Hansel dan Halsey. Sampai pada akhirnya aku tertarik dengan Marcell. Mungkin dari sekian banyak orang menganggap ku aneh karena sekarang aku tengah berpacaran dengan lelaki yang usianya dua tahun lebih muda dari aku. Aku hanya tersenyum sinis jika ada rekan kerja ku berkomentar tentang kisah cintaku.
Mereka tidak pernah tau bagaimana Marcell memperlakukan aku bak seorangpun ratu, yang mereka tau hanyalah pacar lebih muda itu sekedar memanfaatkan kemapanan ku.
Mereka salah besar, Marcell tidak pernah memanfaatkan aku. Dari segi pekerjaan dan finansial, Marcell punya porsinya sendiri dan dia jauh lebih mapan dari aku.
Orang lain berkomentar karena hanya melihat dari segi luarnya saja tanpa menelisik lebih dalam. Tetapi jika orang-orang di luaran sana berkeinginan untuk menelisik lebih dalam tentang Marcell, aku akan menolaknya mentah-mentah. Aku siap pasang badan karena aku tidak rela kehidupan pribadi kekasihku di umbar tanpa ragu.
Marcell adalah lelaki bernyali besar ketika menjatuhkan hatinya padaku. Lelaki itu mampu merobohkan benteng pertahanan ku, —yang dengan susah payah aku bangun bertahun lamanya lantaran rasa trauma ku terhadap masa lalu.
Aku tertarik dengan Marcell hanya karena hal yang sederhana.
Senyumnya.
Entah kenapa senyum Marcell adalah senyum terhangat yang pernah aku lihat. Aku merasa tenang jika berbicara dengannya, senyum yang terukir di bibirnya bak sebuah mata air di tengah fatamorgana.
Langkah kaki Hanna mengantarkannya pada sebuah dapur berukuran sedang di sebelah ruang tengah. Handuk kecil masih terlilit di kepalanya serta baju tidur berbahan satin berwarna merah tua menggantung di tubuhnya, sungguh pemandangan yang indah.
Hanna menyandarkan tubuhnya pada kitchen bar sembari menunggu air yang ia panaskan mendidih. Tiba-tiba saja wanita itu menggigit bibir bawahnya ketika membayangkan Marcell tengah mencium bibirnya sembari meremas pinggangnya.
Bayang-bayang yang sempat membuat dirinya resah sendirian itu tiba-tiba saja pecah lantaran suara derap langkah kaki seseorang yang memasuki rumah tanpa permisi. Tanpa mengetuk pintu bahkan tidak ada suara bel yang berdenting nyaring.
Ekor mata Hanna menangkap seseorang yang ia kenal tengah berlari kecil menaiki tangga menuju lantai dua, dimana kamar utama berada di sana. Tanpa melihat sekitar, tanpa mengeluarkan suara bahkan tidak ada panggilan yang keluar dari bibir lelaki itu.
Hanna menahan kekehan ketika tak sampai satu menit lelaki itu setengah berteriak memanggil namanya lantaran tidak menemukan dirinya di kamar. Marcell sibuk mencari keberadaan Hanna sembari menyerukan namanya berulang kali. Lelaki itu menuruni tangga dan menemukan kekasihnya tengah berdiri dengan dua tangan yang terlipat di depan dada.
Senyum Hanna mengembang sempurna ketika melihat sosok Marcell yang rambutnya sedikit acak-acakan, nafas yang memburu karena harus naik turun tangga sembari berlari kecil. Wanita itu semakin meleleh saat Marcell menatapnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki —senyum seringai terlukis jelas pada bibir Marcell seolah-olah siap menerkam mangsa di depan matanya.
“Baby...”
Langkah Marcell tergesa menghampiri si puan yang tengah merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh Marcell yang melekat erat pada tubuhnya. Merengkuh penuh rasa rindu yang membuncah diantara keduanya, usapan lembut pada punggung Hanna menyalurkan rasa hangat dan nyaman. Aroma tubuh wanita itu bak sebuah candu bagi Marcell, hingga dirinya tak mampu berhenti mencium dan menghirup ceruk leher si puan.
“Hei.. Stop. Marcell, stop it.”
Marcell tidak bergeming dengan ucapan Hanna, bahkan ketika wanita itu berusaha melepaskan pelukannya, nihil. Sama sekali tidak berhasil, bahkan dengan sengaja Marcell membubuhkan kecupan basah pada ceruk leher Hanna hingga membuat tubuhnya merinding seketika.
Marcell berhasil menahan dua tangan Hanna hingga wanita itu tidak bisa bergerak, bibir Marcell bergerilya hingga menemukan titik terfavorit bagi dirinya.
Lantas lelaki itu melumat bibir ranum milik Hanna, ia menyesap bibir bawahnya hingga wanita itu membuka mulutnya untuk memberikan akses. Marcell mulai menginvasi tiap inchi rongga mulut Hanna tanpa jeda, membuat si puan hampir kehabisan pasokan oksigen.
Hanna ingin melepaskan pertautan keduanya namun di tahan oleh Marcell, tangan kiri lelaki itu menahan dan melekatkan tubuh Hanna pada dirinya. Tangan kanannya sibuk melucuti baju tidur berbahan satin yang menempel di tubuh Hanna.
Si puan berkali-kali melenguh tertahan karena tidak mampu bergerak bahkan meloloskan diri dari Marcell. Lelaki itu semakin bergerak agresif, setelah berhasil melucuti kain yang menempel pada tubuh Hanna kemudian mengangkat tubuh mungil itu ke atas kitchen bar.
Hanna merasakan aliran darahnya mengalir semakin cepat ketika Marcell mulai menjarah bagian titik sensitif miliknya.
Tangan kiri Hanna mencengkeram sudut pada kitchen bar, sedangkan tangan kanannya meremas lengan Marcell.
Hanna meloloskan erangan serta desah yang menyerukan nama lelaki itu mana kala lidah Marcell menyesap dan memainkan puncak dada menggunakan lidahnya. Tangan kanan wanita itu berpindah meremas rambut Marcell seolah-olah meminta lebih pada si tuan.
Setelah puas menjarah payudara Hanna, kemudian lelaki itu menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap lekat kedua mata wanita itu. Marcell tengah mengamati tiap inchi wajah sayu kekasihnya yang mulai di penuhi peluh. Nafas yang mulai memburu serta tubuh polosnya adalah aset paling berharga yang di miliki Marcell.
“Do you miss me?”
Hanna tersenyum sembari menaikkan alisnya, kemudian menjawab; “I miss you, babe.”
Tanpa aba-aba tangan Marcell bergerak mengusap titik sensitif yang masih berlapis celana dalam seamless, jemarinya bergerak sensual hingga membuat Hanna mengerang dan memejamkan kelopak matanya.
Menit berikutnya Marcell menanggalkan kain penutup terakhir aset milik Hanna setelah puas memancing hasrat si puan. Lelaki itupun tak kalah cepat ketika melepaskan kaos hitam yang ia kenakan serta celana pendek berbahan kain yang masih menggantung di tubuhnya.
Hanna menelan ludahnya sendiri lantaran ia melihat kejantanan Marcell yang sudah sepenuhnya ereksi dengan sempurna. Wanita itu tengah membayangkan dirinya tidak lama lagi akan di gempur tanpa ampun oleh sang kekasih.
Rasa rindu yang di tahan hampir dua minggu ternyata sukses membuat Marcell menjadi lebih agresif.
Tangan kanan Marcell perlahan mengocok batang penisnya dengan tempo pelan sembari menatap dua bola mata Hanna. Kerlingan mata nakal Marcell seakan-akan kode bahwa Hanna cukup menyiapkan tubuhnya untuk di jamah lebih lagi oleh si tuan.
Hanna sempat membeku, ia berpikir bahwa dirinya akan habis di setubuhi di atas kitchen bar, pada saat Marcell berjalan pelan mendekatinya. Namun lelaki itu justru kembali melumat bibir Hanna dengan gerakan sedikit kasar, melumat bibirnya sembari mencengkeram helaian rambut yang belum sepenuhnya kering tetapi kembali di basahi oleh peluh. Jemari lelaki itu memutar klitoris dengan gerakan menekan hingga membuat tubuh Hanna menggelinjang.
Ingin rasanya Hanna berteriak namun bibirnya di bungkam oleh bibir sang kekasih, hingga dirinya hanya bisa melenguh tertahan sembari meremas bahu Marcell.
Tanpa aba-aba dua jari Marcell berhasil menembus liang surgawi milik Hanna yang sudah sangat basah; sebab Marcell sangat gencar memancing libido si puan, membuat wanita itu kepalang kuyup dengan segala sentuhan yang menjarah titik sensitifnya.
Marcell menggerakkan jarinya perlahan, sembari ibu jarinya memainkan klitoris dengan gerakan memutar dan menekan. Beberapa kali tubuh Hanna bergetar, bibirnya di penuhi desah dan racau.
Senyum seringai Marcell kembali terukir di wajah tampannya ketika menatap wajah sayu Hanna, dengan bibir yang menganga mengeluarkan lenguh dan desahan yang semakin lama terdengar resah.
Dinding vagina milik Hanna terasa hangat dan sangat basah, memijit jemari Marcell yang masih bergerak di bawah sana dengan tempo yang kian cepat. Sampai pada titik dimana wanita itu merasakan gelombang kenikmatan.
“Cell, aku mau keluar.”
“Hm? Mau keluar?”
Hanna mengangguk resah, ia berharap Marcell menuntaskan apa yang dia mulai. Namun lelaki itu dengan entengnya mengeluarkan jarinya dengan cepat.
Raut wajah Hanna sontak berubah menjadi merah padam lantaran sedikit lagi ia mencapai titik ternikmat yang di damba namun di hempas begitu saja oleh Marcell. Wanita itu kecewa dan hampir saja menangis, namun Marcell menyambar bibir ranum si puan, mengecupnya hingga beberapa detik.
“Sorry, baby.”
“Kalau kayak gini lebih enak, kan?”
Marcell menggesekkan batang penisnya pada klitoris Hanna dan melesakkan tanpa aba-aba. Hanna hanya bisa meloloskan desahan yang nyaring terdengar. Lelaki itu menggerakkan pinggulnya pelan, kemudian mengangkat tubuh Hanna. Tangan kekarnya menahan berat tubuh Hanna dengan melingkarkan tangan pada pinggulnya, sedangkan kedua tangan Hanna bertengger pada perpotongan leher Marcell sembari menatap mata lelaki itu.
Marcell berjalan pelan, menaiki tangga dengan posisi menggendong tubuh Hanna yang masih bertaut dengannya. Marcell benar-benar mengatur nafasnya sebab menaiki anak tangga dengan beban yang bertumpu pada tubuhnya itu tidak mudah.
“Sayang, jangan main-main lah.” Gerutu Marcell ketika dengan sengaja Hanna menggerakkan pinggulnya memutar.
Hanna hanya terkekeh sembari menatap wajah Marcell dan mengecup singkat bibir lelaki itu.
Sesampainya di kamar, Marcell merebahkan tubuh Hanna di tepi ranjang. Mengangkat kedua kaki wanita itu kemudian meletakkan di atas bahunya.
Tanpa menunggu lama, Marcell mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Menggempur milik Hanna tanpa ampun. Desahan yang lolos dari bibir Hanna semakin membuat lelaki itu semakin candu, Marcell seakan-akan menginginkan lebih, desahan yang lebih keras, segala racau yang menyebutkan namanya adalah bagian paling favorit bagi lelaki itu.
Hentakan demi hentakan tanpa jeda hingga menumbuk titik sensitif milik Hanna.
Kedua tangan Hanna meremas erat apapun yang bisa ia raih. Sprei, bahkan bantal ia raih hanya untuk melampiaskan rasa nikmat melalui cengkeraman tangannya.
Hingga sampai pada saat keduanya hendak mencapai puncak kenikmatan bersama, hentakan keras semakin tidak beraturan, nafas Marcell semakin memburu hingga peluh yang mengalir pada wajah dan tubuhnya membuat lelaki itu jauh lebih tampan.
Desahan Hanna pun semakin nyaring, semakin tidak bisa di tahan.
“Keluar dimana, sayang?”
“Dalem aja, aku minum pil kok.”
Marcell mengangguk dan menyetujui, kemudian lelaki itu menuntaskan puncak ternikmat yang mereka rindukan. Ia hentakan beberapa kali hingga tubuh Hanna menggelinjang hebat karena wanita itu mencapai klimaksnya lebih dahulu dan di susul oleh Marcell yang sengaja menyemburkan cairan sperma di dalam sana.
Sebelum tubuh Marcell ambruk di sebelah Hanna, lelaki itu menyempatkan untuk membawa tubuh mungil kekasihnya pada posisi yang nyaman. Meletakkan bantal di bawah kepala Hanna, memeluk erat tubuh yang masih di penuhi peluh serta mencium aroma tubuh Hanna adalah salah satu alasan Marcell selalu tidur dengan posisi di belakang Hanna.
“Cell..”
“Hmm?”
“Tau gak? Masa kemarin temen ku ngatain kamu berondong. Terus ngatain kamu tuh cuma manfaatin aku doang.”
Marcell terkekeh, lalu mengecup bahu Hanna yang tidak pernah lolos dari jarahan bibir Marcell.
“Kenapa ketawa sih?” Hanna sedikit kesal karena Marcell hanya terkikik geli tanpa menjawab sepatah katapun.
“Udahlah, gak perlu di tanggapin serius. Di tempat kerja tuh banyak orang julid, jadi bersikap bodoh amat itu lebih baik.”
“Aku tertarik sama kamu tuh bukan dari apapun yang kamu punya, tapi karena kamu tuh cewek sederhana dan nggak kekanak-kanakan.”
“This is simple, and i like.”
Hanna tersenyum lega, salah satu bukti bahwa ia tidak salah menjatuhkan hati pada Marcell.
“Baby, sejak kapan kamu minum pil?” Tanya Marcell sembari mengusap lengan wanitanya.
“Sebulan yang lalu.”
“Aku mulai minum sebulan sebelum berangkat ke Singapura. Sebelum aku berangkat, kamu bukannya lupa gak beli kondom tapi emang sengaja mau di keluarin tanpa pengaman, kan?”
Hanna secara refleks menepuk tangan Marcell yang melingkar pada perutnya.
Mendengar Hanna tengah mengomel, lelaki itu justru meloloskan tawa ringan yang di susul rengkuh lebih erat pada tubuh Hanna.
Dua anak manusia ini pada akhirnya merealisasikan untuk menghabiskan sisa hari petang dengan saling memeluk, menyalurkan kehangatan serta kenyamanan.