Play With Me
Damian memarkirkan mobilnya di vip parking area, kemudian bergegas memasuki hotel. Lelaki itu mengayunkan kakinya sedikit lebih cepat dan menaiki lantai tujuh menggunakan lift. Damian sudah bekerja sebagai manager Gladys selama kurang lebih tiga tahun, yang notabene adalah seorang model.
Lelaki itu selalu berpikir bahwa pekerjaan yang ia lakoni itu berjalan sebagaimana mestinya, tetapi Damian sama sekali tidak menyangka kelakuan Gladys yang terus menggodanya selama dua tahun terakhir itu membuat status pekerjaan terasa tak profesional. Sedangkan Damian hanya menuruti apa yang di minta Gladys bahkan untuk tidur bersama dan memuaskan nafsu keduanya. Damian pernah beberapa kali menolak tetapi lelaki mana yang kuat jika terus di goda oleh perempuan cantik dan sexy.
Langkahnya terhenti pada room 505 dimana Gladys berada di dalamnya. Lelaki itu secepat kilat menempelkan cardlock dan membuka pintu sedikit tergesa-gesa. Damian mengayunkan langkah kakinya dengan pasti menuju kamar mandi yang pintunya terbuka. Sesampainya di sana ia mendapati Gladys sudah sedikit mabuk dengan segelas wine di tangan kiri dan tersenyum kearah Damian.
“Dys, berhenti minumnya..”
“No!” Ucap Gladys sembari menggelengkan kepalanya dan meneguk wine yang berada di tangan kirinya.
“Keluar dari bathup, jangan disitu.”
“No! I want to play with you.” Goda wanita itu dengan senyum simpul di bibirnya.
“Come on baby...” Lanjut Gladys dengan merentangkan kedua tangannya, berharap secepat mungkin di peluk oleh Damian.
Tanpa berpikir panjang, Damian akhirnya menanggalkan semua pakaian yang menempel di tubuhnya dan berjalan menghampiri Gladys yang sedang berendam. Damian ikut masuk ke dalam bathup, duduk berhadapan dengan wanita itu kemudian menarik tengkuk Gladys dan melumat bibirnya dengan kasar. Nafsu birahi lelaki itu sudah memuncak ketika melihat tubuh indah Gladys yang di penuhi dengan gelembung busa.
Wanita itu-pun membalas lumatan yang penuh nafsu itu. Tangan Gladys sibuk meraba dada bidang Damian, sedangkan lelaki di hadapannya sangat lincah meremas payudara Gladys hingga membuat libido-nya naik seketika. Wanita berambut coklat itu kemudian bergerak maju kearah Damian dan mulai mendominasi ciuman demi kenikmatan dan nafsu yang seakan hampir meledak.
Damian tak mau diam saja, tangan kirinya bergerak meremas dan memilin puting wanita itu. Sedangkan tangan kanannya, ia gunakan untuk bergerilya menyapa area intim milik Gladys. Jarinya terus bergerak meraba bibir vagina wanita itu dan tanpa aba-aba melesatkan dua jarinya ke lubang milik Gladys.
“Mmpph aahhh....” Lenguh Gladys merasakan dua jari Damian itu bergerak maju mundur dengan tempo sedang. Damian terus mengecup dan menjilati leher Gladys penuh nafsu, sedangkan perempuan itu terus mendongakkan kepalanya dan menikmati jemari Damian yang bergerak agresif dibawah sana, sesekali menyentuh g-spot miliknya.
“Aahhh.. Shit! Disitu Dam! Lebih cepat!” Perintah Gladys.
Damian mempercepat kocokan pada lubang kenikmatan milik Gladys. Ia menatap wajah perempuan itu tampak lebih cantik dari biasanya ketika sedang mengerang keenakan.
“Ahh... Dam! M-mau keluar” Racau Gladys. Tangan kiri Damian lalu menarik pinggang perempuan itu agar mendekat dengan tubuhnya. Tangan kanan mempercepat tempo kocokannya lebih kasar lagi agar Gladys cepat mencapai pelepasannya.
“Aahhh... Dam! Aahhh...” Desahan panjang itu akhirnya keluar dari bibir Gladys. Kakinya bergerak resah, dan tubuhnya bergetar hebat ketika mencapai orgasm-nya. Tubuh wanita itu ambruk ke pelukan Damian, lelaki itu mengusap lembut punggungnya.
“Dys, balik badan.” Ucap Damian. Mendengarnya, lalu Gladys menatap kedua bola mata lelaki di hadapannya itu dan berbisik lirih, “Jangan gerak, oke?” Pinta Gladys. Dan detik berikutnya wanita itu membalikkan tubuhnya memunggungi Damian. Jemari lembutnya meraih penis besar yang sedari tadi sudah ereksi dengan sempurna. Ia mengelus dan menggerakkan dengan tempo yang pelan, menaik turunkan tangannya hingga Damian merasa keenakan.
“Ughh... Dys... Enak ahh....” Lenguh Damian.
Tanpa aba-aba, Gladys mengarahkan penis Damian kedalam lubang vaginanya dan menghentakkan dengan sekali gerakan hingga terasa menghujam lubang kenikmatan milik Gladys. Keduanya mendesah hampir bersamaan.
“Aahhh...”
“Eghhh...”
Damian memegangi pinggul Gladys, sedangkan perempuan itu sibuk menggerakkan pinggulnya, memaju mundurkan berlawanan arah dengan Damian hingga membuat lelaki itu mengerang kesakitan bercampur nikmat.
“Aahhh... Dys, enak banget.” Lenguh Damian.
Perempuan itu terus memaju mundurkan pinggulnya dan sesekali menghentakkannya hingga mengenai titik g-spot miliknya sendiri.
“Aaahhhh.... Shit!” Desah Gladys dengan mendongakkan kepalanya keatas karena rasa nikmat di bawah sana.
“Dam.. Gue mau ke-keluarr lagi ngghh.... Aahhh...” Racau Gladys, sepertinya perempuan itu hampir mencapai pelepasannya yang ke dua karena ulahnya sendiri.
“Wait me, babe..” Ucap Damian, semakin mempercepat membantu gerakan pinggul Gladys, memaju mundurkan dengan cepat. Tangan kanannya memutar-mutar klitoris perempuan itu, sedangkan bibirnya sibuk menjilati pundak hingga punggung Gladys.
Detik kemudian Gladys dan Damian mendesah bersamaan, keduanya mencapai klimaks bersama. Lelaki itu merangkul tubuh Gladys dari belakang, dan mengecup lembut lehernya. Sedangkan perempuan yang berada di pangkuannya itu bergerak membenamkan kepalanya di leher Damian dan memejamkan matanya. Sesekali lelaki itu mengecup pucuk surai Gladys.
Mereka berdua menghabiskan malam penuh kegilaan hingga dini hari. Aktivitas panas itu masih berlanjut di atas ranjang. Damian dan Gladys adalah partner kerja dalam segala hal, bahkan dalam urusan ranjang sekalipun.