Morning Attack
Jevan mengemudikan mobilnya 80km/jam karena jalanan pada dini hari sangatlah sepi. Sesampainya di depan gedung apartemen Lucia, ia membanting stir ke kiri. Mobil berwarna hitam itu menuruni lorong dalam gedung kemudian Jevan memarkirkan mobilnya di dalam basement. Jevan bergerak cepat memasuki gedung apartemen dan naik dengan lift menuju lantai 10 dengan menenteng satu kantong plastik berisi makanan cepat saji.
Jari lelaki itu menekan dengan sangat cepat pin smartlock door yang berada di depannya. Ia memasuki ruangan lalu meletakkan makan yang ia bawa di atas meja makan. Jevan berlalu begitu saja, padahal ia sangat lapar.
Langkah kakinya secepat mungkin memasuki kamar Lucia, kedua matanya melihat tubuh kekasihnya yang polos tanpa ada sehelai kain yang menutupinya. Dengan posisi menyamping memeluk guling yang ada di sebelahnya. Tanpa berpikir panjang, Jevan melepas hoodie serta celana pendek yang ia kenakan. Kini lelaki bertubuh kekar itu tampak naked dengan menampilkan penis yang sudah mulai menegang sejak melihat tubuh polos kekasihnya.
Tanpa basa basi, Jevan merangkak naik keatas tempat tidur dan jemarinya mulai meraba kaki, paha, kemudian meremas bokong kekasihnya.
“Ngghhh...” Lucia melenguh pelan karena merasakan jemari Jevan yang menjamah kulit mulusnya. Bibir Jevan mendarat tepat di punggung Lucia, mengecup dan sesekali menjilatnya. Lidahnya terus bermain-main hingga sampai pada bokong kenyal milik Lucia, ia gigit perlahan gundukan bokong sintal itu kemudian jarinya mengusap bibir vagina dari sela-sela pahanya.
“Mana yang udah basah? Ha?” Ucap Jevan dengan nada menggoda.
“Jev..”
Jevan kemudian membenamkan wajahnya tepat di sela paha Lucia dan menyesap lubang vagina kekasihnya, sesekali menusuk lubang kenikmatan itu menggunakan lidahnya.
“Aahhh... Jev...” Desahan lolos begitu saja dari bibir Lucia. Ia merasakan nikmatnya lidah Jevan yang sedang bermain di bawah sana. Jarinya tak tinggal diam, dengan terampil memainkan klitoris milik Lucia. Membuat gadis itu terus mendesah tanpa henti dan tubuhnya menggeliat, resah.
Setelah membuat Lucia mengerang keenakan karena permainan lidah Jevan, kini jari-jarinya yang bermain dibawah sana. Lelaki itu melesatkan dua jarinya menembus lubang vagina milik Lucia yang sudah basah karena permainan sebelumnya.
“Ahhh....” Desah lucia, tangannya meremas guling yang berada di sebelahnya. Jevan yang posisinya di belakang Lucia itu kemudian melumat bibir kekasihnya yang sedari tadi mendesah merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh Jevan. Jemari lelaki itu mengocok dengan cepat dan kasar, ia keluar masukkan jarinya hingga sesekali menyentuh g-spot miliknya.
“Mmpphh..... Ahhh... Jev, disitu.. Enak..” Rancu Lucia.
“Disini sayang?”
“Iya... Aahhh... Terus Jev, mau keluarr...” Racau Lucia yang sedari tadi meramas bantal. Mendengar kekasihnya sudah hampir sampai pada pelepasannya, jari Jevan kian cepat menggerakkan kocokan di bawah sana. Membuat tubuh Lucia bergetar dan menggelinjang hebat. Bibirnya terus mengeluarkan desahan-desahan yang menggema ke seluruh ruangan.
“Ahhh.. Jev! Ahhhh...”
Tubuh Lucia bergetar, cairan kenikmatan itu mengalir disela pahanya. Deru nafasnya tak beraturan, tangannya masih meremas lengan Jevan. Lelaki itu lalu mengecup bibir kekasihnya singkat, lalu tangan kanannya bergerak mengangkat satu kaki Lucia dan tanpa aba-aba ia melesatkan penis besar miliknya kedalam lubang vagina yang sudah basah dan becek. Jevan menggerakkan pinggulnya, memaju mundurkan dengan tempo yang cepat. Membuat Lucia terus mendesah karena kenikmatan yang ia rasakan sudah mencapai tak ada hentinya.
“Aahhh... Jev.. Pe-pelan...”
“Hm? Punyamu sempit sayang.. Enak.. Ughhh .. Yes... !” Rancu Jevan.
Lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan ucapan kekasihnya. Jevan terus menghujam lubang surgawi itu dengan penis besarnya tanpa ampun. Tempo gerakannya terus di percepat, penisnya kian besar memenuhi lubang vagina Lucia. Wanita itu terus mendesah sambil meremas payudaranya sendiri.
“Aahhh... Jev, fasterr pleaseehh...” Pinta Lucia dengan rintihan seakan memohon pada kekasihnya untuk terus di puaskan.
“Keluarin sayang, aku juga mau keluar.”
Jevan semakin mempercepat tempo gerakannya, penisnya semakin membesar sedangkan vagina Lucia mulai berkedut dan semakin mengetat.
“Aahhh... Jev...”
Desahan yang keluar dari bibir Lucia semakin kencang, tubuhnya seketika melengkung dan menggelinjang hebat ketika penis Jevan di hentakkan dengan keras. Wanita itu-pun mencapai klimaksnya bersamaan dengan sperma milik Jevan yang menyembur memenuhi lubang vagina Lucia.
Jevan memeluk erat tubuh mungil kekasihnya yang tengah menetralkan nafasnya, tangan Jevan mengusap pucuk kepala Lucia dan mengecupnya lembut. Wanita itu lalu membalikkan tubuhnya agar saling berhadapan dengan Jevan dan membenamkan kepalanya pada dada bidang milik kekasihnya. Lucia tampak kelelahan namun ia sangat puas dengan serangan yang di ciptakan oleh kekasihnya.