My Boss
“Juannn!” Pekik Clarissa atau yang lebih akrab di panggil Rissa. Lelaki berhidung bangir itu berlari kecil ke arah wanita yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Rissa membawa beberapa lembar berkas di tangan kanannya sembari melipat kedua tangan di depan dada. Juan, tersenyum tipis sembari merapikan jas dan dasinya.
“Apalagi sayang...” Tanya Juan lirih dan menaikkan satu alisnya.
“Heh! Di kantor, gue tetep bos lo.” Ucap Rissa, menyodorkan lembaran berkas pada Juan.
“Tolong bawa ke ruang meeting ya, semua udah siap?”
“Udah tinggal ambil sama pasang LED proyektornya.” Jelas Juan.
“Ya udah buru, takut bokap gue dateng tapi belum siap. Gue ambil blazer dulu terus nyusul lo.” Kata Rissa, kemudian lelaki itu mengangguk dan pergi ke ruang meeting. Rissa mengambil blazer yang menggantung di kursi lalu mengenakannya. Ia beberapa kali menghubungi sang ayah tetapi tidak ada jawaban, Rissa hanya ingin memastikan jam berapa ayahnya tiba di kantor.
Juan dan Rissa, hubungan keduanya agaknya sedikit rumit. Mereka saling menyukai namun sama-sama egois tidak mau mengutarakan perasaan masing-masing. Mereka layaknya seorang kawan namun di atas ranjang-pun bisa menjadi lawan. Juan yang awalnya bersikap dingin perlahan mencair, luluh karena Rissa sering datang padanya dengan berjuta keluh kesah.
Apakah ini yang di sebut Friend with benefits? Tidak. Rissa tidak pernah mau menyebut hubungan mereka seperti itu, ia hanya terlalu munafik saja dengan perasaan yang saat ini ada di dirinya.
Rissa memasuki ruang meeting dengan langkah santai namun anggun, di ruangan itu hanya ada Juan saja. Lelaki itu sedang memasang LED proyektor untuk persiapan presentasi.
Wanita yang mengenakan setelan serba hitam itu kemudian duduk dan menyilangkan kedua kakinya sembari menyiapkan beberapa berkas yang sudah ada di meja. Sedangkan Juan berada di sebelah Rissa. Ia sibuk dengan kegiatannya tadi, juga merapikan kabel yang melintang di lantai agar tidak mengganggu aktivitas saat meeting nanti.
Tiba-tiba ayah Rissa tiba dengan membawa beberapa klien dan masuk ke ruang meeting tanpa ada sapa terlebih dahulu membuat wanita itu sontak kaget kemudian berdiri dari tempat duduknya.
“P-papa?”
“Clarissa, ayo cepat mulai meeting-nya. Ruangan ini cuma kita berlima kan?”
“E—iya.” Jawab Rissa sedikit gugup. Kakinya memberi kode pada Juan agar bersembunyi di bawah kolong meja. Lelaki itu-pun menurut saja dan ia merangkak perlahan seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet.
Risa, ayahnya juga ke tiga kliennya ini-pun memulai meeting sedikit terburu-buru. Di mulai dengan sang ayah yang berbicara di depan para klien, menjelaskan tentang penjualan saham yang terus meningkat, serta kesuksesan anak perusahaan yang di kelola oleh Rissa saat ini membuat para klien terfokus pada satu orang saja. Tetapi tidak dengan Rissa, wanita itu mulai resah hingga mengeluarkan keringat dingin saat Juan yang berada di bawah kolong meja itu sedang menggodanya.
Rok mini berwarna hitam, kaki jenjang serta kulit mulus milik Rissa benar-benar membuatnya tidak tahan melawan nafsunya sendiri. Tangan Juan meraba perlahan paha wanita itu, melebarkan keduanya agar ia bisa dengan mudah mengakses area intim milik Rissa. Hembusan nafas yang terasa hangat itu menyapa permukaan kulitnya hingga membuat dirinya bergidik merinding. Rissa tidak bisa berkutik ketika jari-jari Juan mulai meraba area kewanitaannya dari balik celana dalam yang ia kenakan.
Di sela presentasi sang ayah, Rissa masih sempat mencoba fokus dengan segala penjelasan. Namun raut wajahnya semakin lama kian berubah memerah serta berkali-kali menggigit bibir bawahnya saat menahan lenguhan. Juan sibuk dengan mainan kesukaannya di bawah sana, menggesek bibir vagina milik Rissa menggunakan jari tengahnya dan sesekali memainkan klitorisnya. Membuat wanita itu tidak sengaja memukul meja hingga membuat sang ayah berhenti berbicara dan menoleh ke arah anak perempuannya.
“Ada yang mau kamu sampaikan Clarissa?” Tanya sang ayah sembari menurunkan sedikit kacamatanya.
“E—tidak aakhh...” Bibir wanita itu tidak sengaja mengeluarkan desahan akibat dua jari milik Juan dengan sengaja menerobos masuk ke dalam liang vaginanya.
“Kamu sakit?” Tanya sang ayah.
“Em—nyeri perut pah.” Tutur Rissa berbohong dan terus mengatur nafasnya.
Lelaki paruh baya itu-pun melanjutkan berbicara namun tak berlangsung lama. Ia pikir anaknya sedang tidak baik-baik saja lalu mengakhiri pertemuan siang itu. Sang ayah dan tiga kliennya itu-pun meninggalkan ruang meeting untuk melanjutkan ke acara makan siang. Sedangkan Rissa tetap tinggal di sana dengan raut wajah yang memerah serta peluh yang membasahi keningnya.
“Kamu habis ini makan ya nak, papa tinggal dulu.” Sapa sang ayah sebelum meninggalkan ruangan itu. Rissa hanya mengangguk, dengan raut wajah yang datar. Tak berapa lama setelah sang ayah hilang dari pandangan matanya, Rissa melenguh kencang karena sudah tidak tahan dengan permainan Juan yang berangsur lama.
“Ju—annhh... Kunci pintu.” Perintah Rissa, kemudian lelaki itu bangkit dari bawah sana. Merangkak keluar dari kolong meja dan berjalan mengunci pintu serta mematikan lampu. Ruangan yang gelap dan lorong yang sepi sangat mendukung keduanya untuk melanjutkan aktivitas seksualnya.
Juan melepaskan belt yang ia kenakan lalu melepaskan celana panjangnya hingga lutut. Meloloskan batang penisnya yang sudah keras dan tegang sejak tadi. Lelaki itu kemudian menarik tubuh Rissa agar bertumpu pada meja di depannya dengan posisi menungging. Juan menaikkan rok mini milik Rissa hingga perut dan menurunkan celana dalamnya. Bibir vagina berwarna pink yang dan sangat menggoda itu sudah sangat basah akibat ulah Juan.
Lelaki itu mengocok batang penisnya sendiri perlahan, lalu ia gesekkan pada bibir vagina milik Rissa sebelum akhirnya memasukkan batangnya ke dalam liang surgawi milik wanita yang kini dalam kendalinya.
“Aahhh...” Desah Rissa, lalu telapak tangan kiri Juan membungkam bibir wanita itu agar suara desahannya tidak terdengar dari luar ruangan. Dua tangan Rissa mencengkeram sisi meja ketika miliknya ditumbuk dengan kasar oleh Juan.
Lelaki itu terus memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo yang cepat. Tangan kanannya memainkan klitoris milik Rissa hingga membuat wanita itu lebih cepat menjemput pelepasannya.
“A-ahh... Juan faster ahh..” Lenguh Rissa. Liang vagina milik wanita itu terasa lebih kencang dan mengetat seakan melahap penuh batang penis Juan hingga miliknya-pun sebentar lagi akan mencapai klimaks.
Hentakan yang menghujam milik Rissa hingga berkali-kali menumbuk g-spot-nya pun berhasil membuat wanita itu sampai pada titik orgasm-nya, bersamaan dengan milik Juan yang menyemburkan cairan sperma ke dalam rahim wanita itu. Perlahan Juan melepaskan miliknya dari dalam Rissa, lalu ia mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan milik Rissa terlebih dahulu. Ia mengangkat tubuh wanita itu keatas meja lalu membersihkan sisa cairan yang mengalir dari sela pahanya.
“Juan..”
“Hm?”
“Gue kesel sama lo.” Ucap Rissa tiba-tiba. Juan-pun bangkit lalu mengungkung tubuh wanita itu sembari menatap matanya.
“Kesel kenapa?” Tanya Juan lirih.
“Lo gak tau waktu sih. Udah tau ada bokap gue.” Jelas Rissa.
“Lo yang lebih ngeselin. Nyuruh gue sembunyi di kolong meja, udah kya kucing aja gue.” Ucap Juan sembari membenahi celananya dan merapikan lagi kemeja yang ia kenakan.
“Sorry.. Lo marah sama gue? Mukanya jangan kusut gitu dong..” Rayu wanita itu, tangannya mengusap pipi Juan berharap agar lelaki itu tidak kesal terhadap dirinya.
“Gue gak marah. Sini gue bantu benerin baju lo.” Tutur Juan. Lelaki itu menyisir rambut Rissa menggunakan tangannya, lalu melepas blazer guna merapikan blouse yang di kenakan Rissa. Tak lupa membantu mengenakan celana dalam dan rok mini berwarna hitam itu. Dua sejoli itu kemudian meninggalkan ruang meeting dengan sangat tenang dan aman.
“Sa, nanti malem gue ke apart lo ya?” Tanya Juan pada wanita yang sedang berjalan di sebelahnya.
“Mau ngapain lagi?”
“Netflix and chill” Jawab Juan tegas. Sontak Rissa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah lelaki itu. Ia mengamati sekitar lorong tersebut dan tak nampak siapapun di sana, benar-benar sangat sepi. Tanpa aba-aba Rissa mengecup bibir Juan lalu berbisik lirih tepat di telinganya.
“Oke, gue tunggu.” Dan Rissa kembali berjalan meninggalkan Juan yang masih berdiri terpaku di sana. Memandang sosok Bos cantik dan sexy yang biasa ia panggil Ibu Clarissa jika di hadapan rekan kerjanya. Juan tersenyum tipis ketika teringat hal-hal yang di luar kendalinya bersama dengan Clarissa.
Hi guys!! What do you think? 🌝 Please give me a feedback! Any questions for me, just drop on my cc: https://curiouscat.qa/deorphic