<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Imagine ✨</title>
    <link>https://sinandyou.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sun, 08 Nov 2026 07:21:06 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Wicked games</title>
      <link>https://sinandyou.writeas.com/wicked-games?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Pernikahan adalah ikatan dua manusia untuk hidup bersama, saling menyayangi, mengasihi, berbagi dan melengkapi tanpa saling menyakiti.&#xA;&#xA;Tetapi apa arti sebuah pernikahan jika terselip pengkhianatan? Meleburkan kepercayaan? Sumpah dan janji di hadapan Tuhan rasanya sia-sia. Jika mampu bertahan dengan segala perih, serta memilih bersama sebab adanya rasa cinta, dialah Elissa Tirana.&#xA;&#xA;Elissa pov&#xA;&#xA;Pernikahan yang sakral pernah aku agung-agungkan sebab seorang lelaki yang aku cinta bernama Jodie Narendra Yoda adalah muara; dimana aku temui kenyamanan hati. Aku merasa Jodie adalah rumah, bukan sekedar tempat singgah. Menikah dengannya ku rasa sebuah anugerah.&#xA;&#xA;Aku berpacaran dengan Jodie hampir enam tahun sampai pada akhirnya kami memutuskan melepas masa lajang. Di atas janji suci; bahwa kami senantiasa saling mencintai serta ingin sehidup semati.&#xA;&#xA;Hari-hari kami di penuhi rasa bahagia, Jodie tidak pernah lepas dari aku barang sedetikpun. Mulai fajar menyingsing hingga senja menyapa, ia pastikan aku tidak lepas dari dua pasang netranya. Hatiku luluh lantak mana kala Jodie memujaku tanpa henti, saat itu aku masih menjadi satu-satunya.&#xA;&#xA;Aku tidak tau bagaimana dan mulai dari mana; Jodie yang ku gadang-gadang layaknya manusia menyerupai malaikat, tiba-tiba berubah seperti iblis. &#xA;&#xA;Mulanya air mataku tak pernah habis untuk menangisi Jodie, namun kini aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa Jodie pernah beberapa kali meniduri wanita selain aku. Bahkan Jodie selalu berkata jujur jika aku tanya perihal wanita yang dekat dengannya.&#xA;&#xA;Sudah hampir dua puluh empat jam, Jodie membiarkan aku melakukan apa-apa sendirian. Mulai meeting dan sedikit pekerjaan di kantor, dengan sangat terpaksa aku menggantikan posisi Jodie, lantaran ia tak bisa hadir. Tubuhku cukup lelah karena aktivitas seharian yang tak kunjung usai dan aku memutuskan kembali ke rumah sore hari, sembari menunggu Jodie.&#xA;&#xA;-------------------------&#xA;&#xA;Elissa tiba di apartemen yang ia tinggali bersama Jodie sekitar pukul lima sore. Dirinya bergegas berjalan ke kamar mandi setelah melempar secara asal beberapa benda yang berada di tangannya; tas, ponsel, serta kunci mobil tergeletak di atas sofa.&#xA;&#xA;Wanita itu memutar tuas dan air hangat pun mengucur membasahi ujung kepala hingga ujung kaki. Air yang menghujani dirinya berhasil membuat pikiran Elissa sedikit tenang. Meski beberapa jam yang lalu kepalanya seakan-akan mendidih, air yang membasahi seluruh tubuhnya ternyata ampuh menenangkan pikiran Elissa untuk beberapa saat.&#xA;&#xA;Tangan Elissa mengusap tiap inchi permukaan kulitnya yang basah, ia pejamkan kedua matanya ketika wanita itu menengadahkan kepala. Terbesit sekilas pikiran kotor Elissa, tiba-tiba saja ia membayangkan tengah bercumbu dengan Jodie di bawah pancuran air hangat. Pikirannya menerjang banyak hal yang pernah mereka lakukan, bercinta di kamar mandi adalah salah satu tempat favorit keduanya.&#xA;&#xA;Pantas jika Elissa berpikiran kotor sejak tadi. &#xA;&#xA;Jemari Elissa reflek mengusap perlahan dua payudaranya secara sensual, kemudian salah satu tangannya meraba titik sensitif miliknya sendiri. Ia sedang membayangkan jika dirinya sedang di cumbu oleh Jodie, pikirannya tiba-tiba saja melayang ketika membayangkan Jodie tengah memainkan organ intimnya menggunakan dua jarinya. Meskipun jemari Elissa hanya bermain pada permukaan bibir vagina serta klitorisnya, secara naluri iya terangsang hingga tidak sengaja meloloskan desah yang menggema di dalam bilik kamar mandi.&#xA;&#xA;Hanya beberapa menit saja Elissa menjamah tubuhnya sendiri, sebelum akhirnya kedua telapak tangannya mendarat di kedua pipinya. Mengusap wajahnya dan Elissa menyadari bahwa Jodie belum pulang. Percuma jika ia melakukan self service, Elissa merasa tidak ada tantangan jika Jodie tidak melihatnya secara langsung. &#xA;&#xA;Hampir tiga puluh menit, Elissa pun keluar dari bilik kamar mandi. Elissa singgah sebentar di walk in closet guna memilih baju tidur yang hendak ia kenakan malam itu.&#xA;&#xA;Elissa memilih untuk menggunakan lingerie berbahan satin warna hitam, satu set dengan piyama yang menutupi bagian luarnya. Baju tidur itu baru saja ia beli dua hari lalu, lantaran Jodie sangat menyukai Elissa ketika memakai lingerie berwarna hitam.&#xA;&#xA;Di dalam walk in closet menggantung banyak baju tidur dengan nuansa hitam karena warna itu adalah favorit Jodie. Jodie sering mengatakan jika Elissa mengenakan lingerie berwarna hitam, sontak libidonya bangkit tanpa permisi.&#xA;&#xA;Elissa meloloskan senyum seringai pada pantulan cermin, ketika selesai mengenakan baju tidurnya. Lantas wanita itu berjalan ke ruang tengah, ia menyalakan televisi sebelum memasuki dapur untuk membuat teh hangat.&#xA;&#xA;Sembari menunggu air panas, pikiran Elissa sempat menerawang segala kenangan yang pernah ia bangun dengan Jodie. Sampai detik ini Elissa masih mencintai Jodie, terlepas dari hal yang membuatnya sakit hati, lelaki itu tidak akan pernah terganti.&#xA;&#xA;Elissa yakin bahwa Jodie tidak pernah serius dengan beberapa wanita yang dekat dengannya, Elissa yakin jika sampai kapanpun dirinya adalah tempat pulang bagi Jodie. Wanita itu memimpikan menjadi seorang ibu, dengan satu anak laki-laki dan satu lagi perempuan sebagai buah cintanya dengan Jodie. &#xA;&#xA;Terbias senyum kecil menghiasi bibir ranumnya, namun tak berapa lama senyum itu hilang saat decitan suara teko menandakan bahwa air sudah mendidih. Lamunan Elissa pecah seketika, ia segera matikan kompor dan menyeduh teh beralaskan cangkir berwarna putih gading.&#xA;&#xA;Elissa membawa secangkir teh tersebut ke ruang tengah, ia meletakkan cangkir di atas meja kemudian duduk menyilangkan kaki sembari melihat tayangan televisi yang di putar secara acak. &#xA;&#xA;Hampir satu jam Elissa fokus pada tayangan di televisi, dengan volume yang cukup kencang hingga dirinya tidak mengetahui bahwa Jodie sudah tiba di rumah.  Secara tiba-tiba Jodie melayangkan satu kecupan di pipi Elissa hingga membuat wanita itu terperanjat kaget. Elissa melirik sinis pada lelaki yang tengah tersenyum jail kearahnya.&#xA;&#xA;&#34;Hey.. Baby.&#34;&#xA;&#xA;Elissa tak bergeming, kedua netranya kembali fokus pada layar televisi. Merasa tidak mendapat perhatian dari Elissa, lelaki itu lantas mendekap tubuh si puan dari belakang dan membubuhkan beberapa kecupan pada pipi, telinga serta leher Elissa. &#xA;&#xA;Elissa memang tidak bisa menghindar namun ia mencoba melepaskan diri dari tangan kokoh si tuan. Wanita itu melepaskannya sembari berkata; &#34;Take a bath, baby.&#34;&#xA;&#xA;Jodie mengangguk dan mengecup bahu Elissa sebelum akhirnya bergegas meninggalkannya di ruang tengah. Sedangkan wanita itu masih duduk di sofa sembari menikmati teh hangat yang hampir habis. &#xA;&#xA;Dua puluh menit setelahnya Jodie keluar dari kamar mandi dengan tubuh shirtless dan handuk yang melilit di pinggangnya.&#xA;&#xA;&#34;Sayang, aku mau teh juga.&#34; Ucap Jodie yang berdiri bersandar pada tembok. &#xA;&#xA;Elissa tidak langsung menjawab, ia hanya menoleh ke arah sumber suara. Lantas wanita itu menatap Jodie sekilas kemudian beranjak dari duduknya.&#xA;&#xA;&#34;Tunggu di kamar, aku buatin dulu.&#34; Jodie mengangguk dan tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar. Sedari tadi Jodie enggan untuk tidak memperhatikan sang istri. Memutuskan menikahi Elissa adalah keinginannya sejak lama, mempunyai istri seperti Elissa adalah satu keberuntungan bagi dirinya.&#xA;&#xA;Elissa sebenar-benarnya adalah wanita yang patut di puji karena kesabarannya seluas samudera, serta patut di puja lantaran kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya. Elissa itu sempurna.&#xA;&#xA;Tak perlu lama menunggu, Elissa tiba di kamar dengan membawa secangkir teh hangat di tangan kanannya kemudian meletakkan cangkir tersebut di meja sebelah Jodie. &#xA;&#xA;Ekor mata Jodie tidak lepas dari sosok Elissa yang kini tidak lagi mengenakan piyama --tubuhnya semakin terekspos.&#xA;&#xA;Elissa merasa bahwa sorot mata Jodie tidak lepas dari dirinya, ia hanya melirik sekilas sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang dan menyilangkan kakinya.&#xA;&#xA;&#34;Jo.. Will you play with me?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh..??&#34; Jodie menoleh ke arah Elissa. Senyuman wanita itu sungguh sulit di artikan, membuat Jodie menaikkan satu alisnya.&#xA;&#xA;&#34;Will you play with me?&#34;&#xA;&#34;Yes or no?&#34;&#xA;&#xA;Elissa tampak santai, dengan gerakan sensual tangannya meraba lutut hingga batas pangkal paha hingga lingerie yang ia kenakan terangkat dan mengekspos kulit mulusnya.&#xA;&#xA;&#34;Nantangin?&#34; Balas Jodie segera beranjak dari duduknya namun segera di tahan oleh Elissa.&#xA;&#xA;&#34;Stop!&#34;&#xA;&#34;Tetap duduk di situ, sayang.&#34;&#xA;&#xA;Dengan gerak reflek, Jodie kembali duduk di atas sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang tidurnya.&#xA;&#xA;&#34;Jangan gerak sedikitpun, kamu cuma boleh liat aku tanpa sentuh aku.&#34; Elissa berujar sembari mengangkat kedua tangannya dan memberi isyarat agar Jodie tetap berada di tempat duduknya.&#xA;&#xA;&#34;Maksud kamu apa? Kamu cuma mau nyiksa aku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nope.&#34;&#xA;&#34;Aku nggak akan nyiksa kamu. Kamu tinggal duduk manis di situ dan liatin aku self service, oke?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ck..&#34;&#xA;Jodie berdecak kesal sembari memalingkan wajahnya, sebab Jodie tidak pernah bisa tahan jika Elissa menggodanya dengan bermain sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Jangan gerak sedikitpun, atau aku nggak akan lanjutin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalau kamu kalah, aku mau tidur sendiri, kamu tidur di kamar tamu, seminggu. Deal?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deal.&#34; Jawab Jodie asal. &#xA;&#xA;Lelaki itu sempat ragu, ia hanya takut tidak bisa menahan diri. Sedangkan Elissa itu wanita paling kuat akan segala godaan.&#xA;&#xA;Jodie mengubah posisi sofa yang semula membelakangi tempat tidur, kini menjadi saling berhadapan. Ia mematikan saluran televisi dan memastikan suhu pada pendingin udara di ruang kamarnya lebih dingin dari biasanya.&#xA;&#xA;Elissa tersenyum sinis mana kala menatap Jodie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu hanya menggunakan celana boxer tanpa mengenakan kaos, sedangkan udara terasa lebih dingin.&#xA;&#xA;Elissa yang semula duduk menyilangkan kaki, kini mulai membuka kedua pahanya. Dengan sangat sensual dan perlahan jemarinya menari di atas tubuhnya. Tanpa melepaskan pandangan pada kedua mata Jodie, wanita itu terus menggoda dengan meremas payudaranya sendiri.&#xA;&#xA;Perlahan ia melepas satu tali pengait yang menggantung di bahunya, payudara milik Elissa yang ranum sudah mulai terlihat mengeras, puncak payudaranya pun terlihat sudah menegang.&#xA;&#xA;Dengan gerakan sensual jemari Elissa mulai menyentuh titik sensitifnya, kedua pahanya lebih melebar hingga Jodie dapat melihat liang surgawi yang menjadi favoritnya tengah di pamerkan tepat di depan matanya secara terang-terangan.&#xA;&#xA;Jodie hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ia hembuskan nafasnya kasar namun ia berusaha mati-matian untuk tidak bergerak sedikitpun.&#xA;&#xA;Jodie merasa kepalanya mulai mendidih dan hampir meledak ketika melihat Elissa bergerak menjauh dari hadapannya. Wanita itu merangkak membelakangi Jodie; bokong sintal milik Elissa terlihat jelas di depan matanya. Mungkin jika Elissa tidak menetapkan peraturan pada sesi bercintanya kali ini, detik itu juga Jodie lekas menghajar Elissa tanpa ampun. Wanita itu lantas menuju headboard untuk menyandarkan tubuhnya, sorot matanya kembali menangkap sosok Jodie yang mulai bergerak resah. Satu persatu Elissa melepaskan kain sebagai penutup tubuhnya dan ia buang lingerie hitam itu ke lantai.&#xA;&#xA;Tangan kanannya kembali meremas payudaranya sendiri secara sensual tanpa melepaskan pandangan pada Jodie, kemudian dua jarinya bergerak menuntun pada belah bibirnya untuk di jamah. Elissa memasukkan dua jarinya ke dalam mulutnya sendiri kemudian menambah satu jari lagi. Ke tiga jarinya kini telah di basah oleh liurnya sendiri.&#xA;&#xA;Peluh mulai menetes di wajah Jodie, pendingin udara seakan-akan tidak mempan oleh hawa panas yang di ciptakan oleh Elissa.&#xA;&#xA;Elissa membuka kedua pahanya semakin lebar mana kala jemarinya menyentuh klitoris yang mulai membengkak.  Wanita itu memutar pelan klitorisnya sebelum akhirnya menambah tempo hingga dirinya tak kuasa meloloskan desahan yang bergema di ruang kamarnya.&#xA;&#xA;Jodie mulai gusar dan tidak tenang. Berulang kali iya menyamankan duduknya guna menyaksikan Elissa yang sedang bermain, namun hasratnya di paksa bangkit, nafsunya di diobrak tanpa permisi. Jodie sudah kepalang terangsang, tetapi ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak bergerak. Hingga pada saat Elissa memasukkan dua jarinya kedalam liangnya sendiri, Jodie secara reflek berdiri dari duduknya. Membuat Elissa memekik di tengah desahannya.&#xA;&#xA;&#34;Stop it&#34;&#xA;&#34;Atau aku berhenti.&#34;&#xA;&#xA;Jodie mengepalkan telapak tangannya, namun tetap menuruti perkataan Elissa dan kembali duduk. Ia mengingat kembali bahwa Elissa meminta dirinya untuk menyaksikan tanpa menyentuh.&#xA;&#xA;Elissa menggerakkan dua jarinya pelan, tangan satunya ia gunakan untuk meremas payudaranya secara sensual. Lenguh dan desahan wanita itu semakin jelas terdengar ketika jarinya bergerak lebih cepat demi mengejar titik kepuasan.&#xA;&#xA;Erangan serta desah yang semakin keras membuat libido Jodie naik seketika. Berkali-kali ia menelan ludahnya sendiri lantaran suara decap pada liang vagina Elissa yang sangat basah semakin nyaring terdengar, ketika dua jari wanita itu terus memainkan pusat tubuhnya semakin cepat.&#xA;&#xA;&#34;Ouh.. Fuck!&#34;&#xA;&#xA;Elissa bergumam sendiri ketika dengan sengaja ia mengeluarkan jarinya. Jodie sontak kaget, ia tengah berpikir, apalagi yang akan di perbuat Elissa guna memuaskan dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;El, cukup. Aku ini suamimu kalau kamu lupa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shut up!&#34; Ucapnya sembari mengambil satu benda yang terletak di dalam laci nakas.&#xA;&#xA;Jodie tidak tau apa yang akan di lakukan Elissa selanjutnya, ia hanya berharap bahwa Elissa tidak sanggup menyelesaikan dan meminta Jodie untuk melayaninya. Namun salah. Elissa justru mengeluarkan vibrator dari dalam laci nakas.&#xA;&#xA;&#34;El, dari kapan kamu beli itu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Shut up!&#34;&#xA;&#34;Aku bilang diam!&#34;&#xA;&#xA;Bibir Jodie mengatup rapat, ia hanya bisa memandang dengan lekat sosok Elissa yang mengulum benda itu guna membasahi vibrator dengan air liurnya. Setelah dirasa sudah basah, kemudian di detik berikutnya wanita itu memasukkan vibrator pada miliknya sendiri.&#xA;&#xA;Elissa melenguh keras mana kala vibrator itu ia tanam sendiri pada pusat tubuhnya. Tangan kanannya menyambar remote dan mengatur kecepatannya di level sedang.&#xA;&#xA;&#34;El...&#34;&#xA;&#34;Baby...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shit! Ouh...&#34; Tangan Elissa reflek meremas payudaranya sendiri. Alat tersebut bergetar di bawah sana, beberapa kali kaki Elissa bergerak resah akibat vibrator itu mengoyak miliknya.&#xA;&#xA;Desah dan racau semakin lantang terdengar di telinga ketika Elissa dengan sengaja mengatur getaran vibrator tersebut menjadi lebih cepat. Tangan kirinya meremas seprei kuat-kuat sebab getaran di bawah sana memicu dirinya untuk segera menjemput pelepasannya. &#xA;&#xA;Tangan kanan Elissa memutar klitorisnya guna mempercepat mencapai puncak kenikmatan yang ia damba. Wanita itu tidak peduli lagi dengan Jodie yang gusar karena ulahnya. Elissa tidak peduli dengan mimik muka Jodie yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.&#xA;&#xA;Pada saat kaki Elissa mulai bergerak tidak beraturan, bisa di pastikan gelombang pelepasan hendak menghampiri dirinya. Dinding vaginanya mulai berkedut, hingga Elissa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Jodie melihat tubuh Elissa mulai menggelinjang dengan kaki yang bergerak asal, desahan yang keluar dari bibir wanita itu mulai terdengar lebih keras dan nyaring --pun lelaki itu beranjak dari duduknya. Jodie sama sekali tidak peduli dengan aturan dari kesepakatan mereka, yang ia tau bahwa Elissa hendak mencapai klimaks dengan vibrator sialan itu, bukan dengan miliknya. &#xA;&#xA;Jodie kesal, ia melepaskan boxer yang ia kenalan sembari naik ke atas ranjang.&#xA;&#xA;&#34;A-aku mau keluar, minggir.&#34; Elissa memekik lantaran Jodie berada di bawahnya sembari memegangi kedua kakinya. Tangan Jodie baru saja terulur untuk melepaskan vibrator dari pusat tubuh Elissa, namun cairan yang keluar lebih dulu membasahi tangannya. Dengan gerakan cepat, Jodie mengeluarkan vibrator itu dan melemparnya ke tembok sekencang mungkin.&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak suka liat kamu liar pakai alat itu.&#34; Ucap Jodie sesaat sebelum dirinya melumat bibir ranum milik Elissa. Tubuh wanita mulai lelah, pada akhirnya ia akan pasrah dengan apa yang akan di lakukan Jodie terhadapnya.&#xA;&#xA;Jodie melebarkan kedua paha Elissa, ia mencumbu si puan dengan buas. Jodie menyesap cairan sisa pelepasan yang masih mengalir di liang vaginanya. Sontak Elissa melenguh sembari meremas rambut Jodie. Suara decapan bibir lelaki itu sukses membuatmu Elissa frustasi.&#xA;&#xA;Setelah selesai membersihkan cairan di bawah sana, Jodie mulai bergerak keatas. Ia menatap lekat Elissa yang berada di bawahnya, detik berikutnya Jodie melumat bibirnya dengan terburu. Menyesap, melumat, serta menjilat apapun yang tampak di depan matanya.&#xA;&#xA;Jodie membubuhkan kecupan-kecupan basah pada telinga, leher, serta payudara Elissa. Membuat tanda kepemilikan sebanyak mungkin sembari memainkan puncak dada Elissa, hingga wanita itu tidak sanggup menahan lenguh serta desah yang tidak bisa ia tahan.&#xA;&#xA;&#34;Jo..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kamu gak suka kalau aku pakai alat itu? Bukannya lebih baik dari pada aku sama laki-laki lain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nope.&#34;&#xA;&#34;Aku nggak suka, apalagi sama laki-laki lain. Aku bakalan bikin orang itu nggak bisa jalan kalau sampai nyentuh kamu.&#34; Jodie berujar sembari menggesek klitoris Elissa yang membengkak.&#xA;&#xA;&#34;Aahh.. Jo!&#34; Elissa memekik ketika dua jari milik Jodie melesak ke dalam liangnya. Lelaki itu menggerakkan jarinya perlahan dan menambah tempo dengan sangat pelan dan teratur agar tidak menyakiti Elissa.&#xA;&#xA;&#34;Enak? Huh?&#34;&#xA;&#xA;Elissa tidak bergeming, sejak beberapa detik yang lalu wanita itu memejamkan kelopak matanya sembari meremas bantal.&#xA;&#xA;&#34;Enak sama jari ku kan? Dari pada pakai alat itu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jo! Bisa diem gak?!&#34;&#xA;&#34;Aahh... Jodie!&#34;&#xA;&#xA;Elissa tidak mau berkata iya, atau hanya sekedar mengangguk saja sebab apa yang di katakan Jodie itu adalah benar adanya. Vibrator tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan jari bahkan milik Jodie sendiri.&#xA;&#xA;Setelah puas bermain dengan jarinya, lantas Jodie mengocok batang penisnya perlahan dan  menepuk-nepuk ujungnya di atas klitoris milik Elissa. Wanita itu ingin menggeram sebab kesal dengan Jodie yang terus menggodanya, bahkan kini batang penis itu iya gesekkan pada bibir vagina hingga menyentuh klitorisnya berulang kali. &#xA;&#xA;&#34;Jo!&#34;&#xA;&#xA;Elissa memekik ketika kejantanan milik Jodie melesak dalam satu kali hentak. Ujung penisnya berhasil menabrak titik paling sensitif di dalam sana. &#xA;&#xA;Jodie tidak berkedip barang sedetikpun demi memandang wajah sayu Elissa. Seolah-olah Jodie tidak mau melewatkan pemandangan indah yang pada saat Elissa mendesah dan mengerang di bawah kendalinya.&#xA;&#xA;&#34;Jo... Kamu nggak capek?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama Natasha berapa kali?&#34;&#xA;&#34;Aahh...&#34;&#xA;&#xA;Jodie sengaja menghentak miliknya dalam-dalam pada liang kenikmatan Elissa sebab pertanyaan yang di lontarkan Elissa beberapa detik lalu, sesungguhnya membuat Jodie merasa tidak senang karena mengganggu konsentrasi. &#xA;&#xA;&#34;Sekali.&#34; Jawab Jodie singkat. Lantas Elissa menaikkan satu alisnya sembari berkata; &#34;percuma kamu buang-buang duit ke Natasha kalau dia nggak bisa muasin kamu.&#34;&#xA;&#xA;Jodie geram kemudian membalikkan tubuh Elissa kesamping tanpa melepaskan pertautan di bawah sana. Jodie berada di belakang Elissa dan wanita itu membelakangi Jodie. &#xA;&#xA;Bibir Jodie tepat berada di sebelah telinga Elissa dan berbisik; &#34;Emang cuma kamu yang bisa muasin aku, nggak ada lawan. I love you, baby.&#34;&#xA;&#xA;Tidak lama dengan gaya spooning, Jodie mengubah posisi keduanya. &#xA;&#xA;Jodie kini duduk bersandar pada headboard dan menarik tubuh Elissa untuk berada di atasnya dan melesakkan kembali batang penisnya ke dalam liang vagina milik Elissa.&#xA;&#xA;Dua tangan Jodie melingkar pada pinggang dan punggung si puan, ia menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Kedua tangan Jodie sengaja mendekap tubuh Elissa agar tidak bergerak kemanapun.&#xA;&#xA;Elissa berkali-kali meloloskan desah dan racau, dirinya seakan-akan tidak bisa lepas dari Jodie yang mulai liar dan mendominasi. Ujung penis milik Jodie berhasil menabrak berulang kali titik paling nikmat di dalam sana, hingga membuat Elissa merasakan gelombang pelepasan yang mulai mendekat.&#xA;&#xA;Semakin keras Elissa mendesah, semakin keras pula Jodie menghentakkan penisnya pada milik Elissa.&#xA;&#xA;&#34;Jo... Aku nggak ku-att.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lepasin, sayang. Keluarin bareng aku.&#34;&#xA;&#xA;Elissa hanya bisa pasrah, dua tangannya hanya bisa meremas rambut Jodie namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher lelaki itu. Batang penis Jodie terus ia hentakkan hingga Elissa berhasil mencapai pelepasannya yang ke dua dan di susul oleh Jodie yang sama-sama melepaskan spermanya ke dalam rahim Elissa. &#xA;&#xA;Tubuh Elissa bergetar hebat, suaranya habis ia gunakan untuk berteriak karena nikmat yang Jodie hantarkan berhasil membuat dirinya mendapatkan klimaks yang ia damba.&#xA;&#xA;Jodie dengan telaten mengusap punggung si puan guna menyalurkan rasa nyaman dan tenang, agar Elissa dapat mengatur nafasnya yang belum juga stabil. Wanita itu masih berada di atas Jodie, meringkuk tanpa melepaskan pertautan intimnya.&#xA;&#xA;&#34;Enak? Lega? Lebih enak sama aku, kan? Di banding pakai vibrator?&#34;&#xA;&#xA;Elissa tidak bergeming, ia memilih memejamkan mata sembari menstabilkan nafasnya. &#xA;&#xA;Tangan Jodie bergerak mengusap puncak kepala Elissa dan membubuhkan kecupan pada kening wanita-wanita itu. Satu tangan yang lain melingkar di punggung Elissa, lelaki itu mendekapnya erat-erat.&#xA;&#xA;&#34;Baby, i love you. Thank you foreverything.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm...&#34;&#xA;&#xA;&#34;I love you.&#34;&#xA;&#xA;Elissa membuka mata dan mendongak ke arah Jodie hingga keduanya saling menatap seolah-olah sedang mengisyaratkan sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;I love you? Buat apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Because you&#39;re my wife.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wife? Tapi suami ku bertingkah kayak bajingan. Apa masih bisa di sebut suami?&#34; Elissa hendak beranjak dari atas tubuh Jodie. Ia menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu di atas dada bidang si tuan. Pada saat Elissa bergerak mundur, tangan Jodie lebih dulu menahan bokongnya agar pertautan organ intim mereka tidak lepas.&#xA;&#xA;&#34;Jo, apa kita mau kayak gini terus? Sampai pagi?!&#34;&#xA;&#xA;Jodie tersenyum miring kemudian membalikkan tubuh Elissa, melandaskan tubuhnya di atas ranjang.&#xA;&#xA;&#34;Jo..!&#34;&#xA;&#xA;Elissa memekik ketika Jodie menggerakkan pinggulnya pelan sembari mencium bibir Elissa hingga beberapa detik.&#xA;&#xA;&#34;Let&#39;s make a baby, sweetheart.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jo, aku mau punya anak tapi kamu harus berhenti jadi bajingan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sayang, aku udah berhenti. Mulai kemarin aku udah jelasin sama Natasha, kalau semalam itu yang terakhir ketemu dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Just bullshit.&#34;&#xA;&#34;Aku nggak mau punya anak kalau kamu belum berubah. Oke?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Please, El.&#34;&#xA;&#34;Aku mau buktiin kalau aku serius. Aku mau punya anak sama kamu.&#34; Ujarnya sembari mengecup kening Elissa. Tangannya merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya, hingga dirinya bisa menatap wajah cantik wanitanya.&#xA;&#xA;&#34;I promise you.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat yang keluar dari bibir Jodie layaknya penyejuk, Elissa hanya membutuhkan keyakinan bahwa Jodie benar-benar berubah untuknya. &#xA;&#xA;Jodie kembali menggerakkan pinggulnya pelan, sesekali ia hentakkan hingga penuh. Kedua kaki Elissa ia lingkarkan di pinggangnya, mengapit tubuh tegap Jodie. Dua tangan Elissa ia satukan dan di letakkan di atas kepala wanita itu. Jodie mencengkeram erat kedua tangan Elissa, hingga benar-benar ia tak bisa bergerak.&#xA;&#xA;Elissa mendesah tertahan lantaran bibir Jodie membungkam bibirnya, tubuhnya sudah terasa lelah hingga dirinya hanya mengikuti alur yang Jodie ciptakan.&#xA;&#xA;Semakin lama, tempo gerakan Jodie semakin cepat. Sesekali ia menarik pinggulnya hingga kejantanannya hampir keluar namun dengan cepat ia hentakkan kembali ke dalam Elissa hingga membuat wanita itu mengerang dan mendesahkan nama Jodie berulang kali.&#xA;&#xA;Aliran darah Elissa mengalir lebih cepat, tubuhnya mulai melengkung dan menggelinjang. Perlahan Jodie melepaskan cengkeraman pada tangan Elissa dan mengecup kening si puan hingga beberapa detik.&#xA;&#xA;&#34;Mau keluar?&#34;&#xA;&#xA;Elissa hanya mengangguk sembari meremas lengan bertatto milik Jodie.&#xA;&#xA;&#34;Bisa tahan bentar?&#34;&#xA;&#xA;Elissa tidak menjawab, wanita itu terus mengerang dengan raut wajah yang seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan.&#xA;&#xA;&#34;Baby, doggy style right now?&#34;&#xA;&#34;Please..&#34;&#xA;&#xA;Elissa mengangguk pasrah, secepat kilat Jodie mengecup bibir ranum milik Elissa dan mengangkat tubuhnya. Jodie membantu Elissa merubah posisinya, kini Jodie bertumbuh menggunakan kedua lututnya dan berada di belakang wanita itu.&#xA;&#xA;Jodie mencium dan menjilati telinga, leher, serta bahu Elissa. Menghirup aroma tubuh wanita itu seperti memancing hasratnya kembali. Sedangkan Elissa menahan berat tubuhnya menggunakan kedua tangan tepat di atas bantal.&#xA;&#xA;Wanita itu melenguh ketika tangan kanan Jodie mengusap klitorisnya, dan menggesekkan ujung penis pada liang vagina Elissa.&#xA;&#xA;Dengan sekali hentak, batang penis milik Jodie yang kokoh kembali menembus liang kenikmatan Elissa. &#xA;&#xA;Jodie menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat sembari memutar klitoris Elissa hingga membuat wanita itu meloloskan desah serta rancu semakin nyaring terdengar. Tangan kiri Jodie perlahan menarik tubuh Elissa agar melekat di tubuhnya, merangkul tubuh mungil itu dan terus menghujam milik si puan.&#xA;&#xA;Hembusan nafas Jodie yang terburu dan ketika lelaki itu menggeram, hawa panas semakin terasa menembus permukaan kulit leher Elissa. Tubuhnya cukup sensitif dengan rangsang yang memicu dirinya untuk segera mencapai klimaks. &#xA;&#xA;&#34;Jo...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm? You wanna cum?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mmm..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Keluarin, sayang. Bentar lagi aku juga mau keluar.&#34; Jodie berujar sembari terus menambah temponya. Elissa terlihat sudah sangat pasrah hanya bisa menengadahkan kepalanya yang bersandar pada dada bidang Jodie, sembari meloloskan desahan yang menyerukan nama si tuan.&#xA;&#xA;Tubuh Elissa menggelinjang hebat mana kala liang vaginanya berkedut dan mengeluarkan cairan pelepasan. Tangan Jodie mengeratkan tubuh Elissa yang mulai melemas agar tidak terjatuh, hingga hentakan ke tiga Jodie melepaskan cairan spermanya ke dalam rahim Elissa.&#xA;&#xA;Tubuh Elissa seolah-olah tak bertulang, untuk berpindah posisi saja wanita itu tidak mampu. Lantas Jodie mengangkat tubuh wanita itu dan merebahkan di atas ranjang yang sudah sangat berantakan. Jodie mencium ranum Elissa dan di balas dengan ciuman ringan oleh wanita itu, sebelum akhirnya Jodie beranjak dari atas tubuh Elissa untuk mengambil beberapa helai tisu.&#xA;&#xA;Jodie sangat telaten membersihkan sisa cairan yang mengalir di sela paha wanitanya, juga miliknya. Kemudian membuang tisu bekas pakai itu ke dalam tempat sampah yang taj jauh dari jangkauannya.&#xA;&#xA;Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Elissa, memeluk si puan dari belakang, serta mencium leher dan bahu Elissa. Hembusan nafas hangat Jodie sangat jelas terasa ketika wajahnya ia benamkan pada ceruk leher Elissa, sembari berbisik;&#xA;&#34;Kita akan punya anak, kan?&#34;&#xA;&#xA;Elissa mengangguk meskipun kedua matanya sudah terpejam.&#xA;&#xA;&#34;Aku berhenti minum pil mulai besok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu minum pil, El?! Dari kapan? Kenapa kamu nggak bilang sama aku??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Padahal aku udah pengen banget punya anak.&#34; Ucap Jodie sembari membalikkan tubuh Elissa hingga kini Jodie berada di atas Elissa.&#xA;&#xA;&#34;Dari kamu mulai deket sama perempuan lain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku mutusin buat nunda punya anak, walapun cuma sepihak. Aku nggak mau hamil dalam keadaan yang stress karena kelakuan kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;El, i&#39;m so sorry.. I promise.&#34;&#xA;&#34;Sekarang percaya sama aku, oke? Aku pengen punya anak sama kamu. Berhenti minum pil-nya.&#34;&#xA;&#xA;Elissa mengangguk pelan, Jodie tersenyum lega dan kembali mendaratkan ciuman di bibir Elissa hingga beberapa detik.&#xA;&#xA;&#34;I love you, baby.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I love you more, Jo..&#34;&#xA;&#xA;Jodie kembali merengkuh tubuh Elissa, menyalurkan rasa hangat dan nyaman pada tubuh wanitanya. Perlahan tangan Jodie menarik selimut agar menutupi kedua tubuh telanjang mereka.&#xA;&#xA;&#34;Let&#39;s sleep, sweetheart.&#34;&#xA;&#xA;Yang Elissa tau, Jodie kini memperbaiki kesalahannya, yang Elissa tau bahwa Jodie kembali untuknya, sebagai suami yang senantiasa bersamanya sehidup semati. Seperti janjinya pada Tuhan.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Pernikahan adalah ikatan dua manusia untuk hidup bersama, saling menyayangi, mengasihi, berbagi dan melengkapi tanpa saling menyakiti.</p>

<p>Tetapi apa arti sebuah pernikahan jika terselip pengkhianatan? Meleburkan kepercayaan? Sumpah dan janji di hadapan Tuhan rasanya sia-sia. Jika mampu bertahan dengan segala perih, serta memilih bersama sebab adanya rasa cinta, dialah Elissa Tirana.</p>

<p><strong><em>Elissa pov</em></strong></p>

<p>Pernikahan yang sakral pernah aku agung-agungkan sebab seorang lelaki yang aku cinta bernama Jodie Narendra Yoda adalah muara; dimana aku temui kenyamanan hati. Aku merasa Jodie adalah rumah, bukan sekedar tempat singgah. Menikah dengannya ku rasa sebuah anugerah.</p>

<p>Aku berpacaran dengan Jodie hampir enam tahun sampai pada akhirnya kami memutuskan melepas masa lajang. Di atas janji suci; bahwa kami senantiasa saling mencintai serta ingin sehidup semati.</p>

<p>Hari-hari kami di penuhi rasa bahagia, Jodie tidak pernah lepas dari aku barang sedetikpun. Mulai fajar menyingsing hingga senja menyapa, ia pastikan aku tidak lepas dari dua pasang netranya. Hatiku luluh lantak mana kala Jodie memujaku tanpa henti, saat itu aku masih menjadi satu-satunya.</p>

<p>Aku tidak tau bagaimana dan mulai dari mana; Jodie yang ku gadang-gadang layaknya manusia menyerupai malaikat, tiba-tiba berubah seperti iblis.</p>

<p>Mulanya air mataku tak pernah habis untuk menangisi Jodie, namun kini aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa Jodie pernah beberapa kali meniduri wanita selain aku. Bahkan Jodie selalu berkata jujur jika aku tanya perihal wanita yang dekat dengannya.</p>

<p>Sudah hampir dua puluh empat jam, Jodie membiarkan aku melakukan apa-apa sendirian. Mulai <em>meeting</em> dan sedikit pekerjaan di kantor, dengan sangat terpaksa aku menggantikan posisi Jodie, lantaran ia tak bisa hadir. Tubuhku cukup lelah karena aktivitas seharian yang tak kunjung usai dan aku memutuskan kembali ke rumah sore hari, sembari menunggu Jodie.</p>

<hr/>

<p>Elissa tiba di apartemen yang ia tinggali bersama Jodie sekitar pukul lima sore. Dirinya bergegas berjalan ke kamar mandi setelah melempar secara asal beberapa benda yang berada di tangannya; tas, ponsel, serta kunci mobil tergeletak di atas sofa.</p>

<p>Wanita itu memutar tuas dan air hangat pun mengucur membasahi ujung kepala hingga ujung kaki. Air yang menghujani dirinya berhasil membuat pikiran Elissa sedikit tenang. Meski beberapa jam yang lalu kepalanya seakan-akan mendidih, air yang membasahi seluruh tubuhnya ternyata ampuh menenangkan pikiran Elissa untuk beberapa saat.</p>

<p>Tangan Elissa mengusap tiap inchi permukaan kulitnya yang basah, ia pejamkan kedua matanya ketika wanita itu menengadahkan kepala. Terbesit sekilas pikiran kotor Elissa, tiba-tiba saja ia membayangkan tengah bercumbu dengan Jodie di bawah pancuran air hangat. Pikirannya menerjang banyak hal yang pernah mereka lakukan, bercinta di kamar mandi adalah salah satu tempat favorit keduanya.</p>

<p>Pantas jika Elissa berpikiran kotor sejak tadi.</p>

<p>Jemari Elissa reflek mengusap perlahan dua payudaranya secara sensual, kemudian salah satu tangannya meraba titik sensitif miliknya sendiri. Ia sedang membayangkan jika dirinya sedang di cumbu oleh Jodie, pikirannya tiba-tiba saja melayang ketika membayangkan Jodie tengah memainkan organ intimnya menggunakan dua jarinya. Meskipun jemari Elissa hanya bermain pada permukaan bibir vagina serta klitorisnya, secara naluri iya terangsang hingga tidak sengaja meloloskan desah yang menggema di dalam bilik kamar mandi.</p>

<p>Hanya beberapa menit saja Elissa menjamah tubuhnya sendiri, sebelum akhirnya kedua telapak tangannya mendarat di kedua pipinya. Mengusap wajahnya dan Elissa menyadari bahwa Jodie belum pulang. Percuma jika ia melakukan <em>self service</em>, Elissa merasa tidak ada tantangan jika Jodie tidak melihatnya secara langsung.</p>

<p>Hampir tiga puluh menit, Elissa pun keluar dari bilik kamar mandi. Elissa singgah sebentar di <em>walk in closet</em> guna memilih baju tidur yang hendak ia kenakan malam itu.</p>

<p>Elissa memilih untuk menggunakan <em>lingerie</em> berbahan satin warna hitam, satu set dengan piyama yang menutupi bagian luarnya. Baju tidur itu baru saja ia beli dua hari lalu, lantaran Jodie sangat menyukai Elissa ketika memakai lingerie berwarna hitam.</p>

<p>Di dalam <em>walk in closet</em> menggantung banyak baju tidur dengan nuansa hitam karena warna itu adalah favorit Jodie. Jodie sering mengatakan jika Elissa mengenakan lingerie berwarna hitam, sontak libidonya bangkit tanpa permisi.</p>

<p>Elissa meloloskan senyum seringai pada pantulan cermin, ketika selesai mengenakan baju tidurnya. Lantas wanita itu berjalan ke ruang tengah, ia menyalakan televisi sebelum memasuki dapur untuk membuat teh hangat.</p>

<p>Sembari menunggu air panas, pikiran Elissa sempat menerawang segala kenangan yang pernah ia bangun dengan Jodie. Sampai detik ini Elissa masih mencintai Jodie, terlepas dari hal yang membuatnya sakit hati, lelaki itu tidak akan pernah terganti.</p>

<p>Elissa yakin bahwa Jodie tidak pernah serius dengan beberapa wanita yang dekat dengannya, Elissa yakin jika sampai kapanpun dirinya adalah tempat pulang bagi Jodie. Wanita itu memimpikan menjadi seorang ibu, dengan satu anak laki-laki dan satu lagi perempuan sebagai buah cintanya dengan Jodie.</p>

<p>Terbias senyum kecil menghiasi bibir ranumnya, namun tak berapa lama senyum itu hilang saat decitan suara teko menandakan bahwa air sudah mendidih. Lamunan Elissa pecah seketika, ia segera matikan kompor dan menyeduh teh beralaskan cangkir berwarna putih gading.</p>

<p>Elissa membawa secangkir teh tersebut ke ruang tengah, ia meletakkan cangkir di atas meja kemudian duduk menyilangkan kaki sembari melihat tayangan televisi yang di putar secara acak.</p>

<p>Hampir satu jam Elissa fokus pada tayangan di televisi, dengan volume yang cukup kencang hingga dirinya tidak mengetahui bahwa Jodie sudah tiba di rumah.  Secara tiba-tiba Jodie melayangkan satu kecupan di pipi Elissa hingga membuat wanita itu terperanjat kaget. Elissa melirik sinis pada lelaki yang tengah tersenyum jail kearahnya.</p>

<p><em>“Hey.. Baby.”</em></p>

<p>Elissa tak bergeming, kedua netranya kembali fokus pada layar televisi. Merasa tidak mendapat perhatian dari Elissa, lelaki itu lantas mendekap tubuh si puan dari belakang dan membubuhkan beberapa kecupan pada pipi, telinga serta leher Elissa.</p>

<p>Elissa memang tidak bisa menghindar namun ia mencoba melepaskan diri dari tangan kokoh si tuan. Wanita itu melepaskannya sembari berkata; <em>“Take a bath, baby.”</em></p>

<p>Jodie mengangguk dan mengecup bahu Elissa sebelum akhirnya bergegas meninggalkannya di ruang tengah. Sedangkan wanita itu masih duduk di sofa sembari menikmati teh hangat yang hampir habis.</p>

<p>Dua puluh menit setelahnya Jodie keluar dari kamar mandi dengan tubuh <em>shirtless</em> dan handuk yang melilit di pinggangnya.</p>

<p>“Sayang, aku mau teh juga.” Ucap Jodie yang berdiri bersandar pada tembok.</p>

<p>Elissa tidak langsung menjawab, ia hanya menoleh ke arah sumber suara. Lantas wanita itu menatap Jodie sekilas kemudian beranjak dari duduknya.</p>

<p>“Tunggu di kamar, aku buatin dulu.” Jodie mengangguk dan tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar. Sedari tadi Jodie enggan untuk tidak memperhatikan sang istri. Memutuskan menikahi Elissa adalah keinginannya sejak lama, mempunyai istri seperti Elissa adalah satu keberuntungan bagi dirinya.</p>

<p>Elissa sebenar-benarnya adalah wanita yang patut di puji karena kesabarannya seluas samudera, serta patut di puja lantaran kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya. Elissa itu sempurna.</p>

<p>Tak perlu lama menunggu, Elissa tiba di kamar dengan membawa secangkir teh hangat di tangan kanannya kemudian meletakkan cangkir tersebut di meja sebelah Jodie.</p>

<p>Ekor mata Jodie tidak lepas dari sosok Elissa yang kini tidak lagi mengenakan piyama —tubuhnya semakin terekspos.</p>

<p>Elissa merasa bahwa sorot mata Jodie tidak lepas dari dirinya, ia hanya melirik sekilas sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang dan menyilangkan kakinya.</p>

<p>“Jo.. <em>Will you play with me?</em>“</p>

<p><em>“Huh..??”</em> Jodie menoleh ke arah Elissa. Senyuman wanita itu sungguh sulit di artikan, membuat Jodie menaikkan satu alisnya.</p>

<p><em>“Will you play with me?”</em>
<em>“Yes or no?”</em></p>

<p>Elissa tampak santai, dengan gerakan sensual tangannya meraba lutut hingga batas pangkal paha hingga lingerie yang ia kenakan terangkat dan mengekspos kulit mulusnya.</p>

<p>“Nantangin?” Balas Jodie segera beranjak dari duduknya namun segera di tahan oleh Elissa.</p>

<p><em>“Stop!”</em>
“Tetap duduk di situ, sayang.”</p>

<p>Dengan gerak reflek, Jodie kembali duduk di atas sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang tidurnya.</p>

<p>“Jangan gerak sedikitpun, kamu cuma boleh liat aku tanpa sentuh aku.” Elissa berujar sembari mengangkat kedua tangannya dan memberi isyarat agar Jodie tetap berada di tempat duduknya.</p>

<p>“Maksud kamu apa? Kamu cuma mau nyiksa aku?”</p>

<p><em>“Nope.”</em>
“Aku nggak akan nyiksa kamu. Kamu tinggal duduk manis di situ dan liatin aku <em>self service</em>, oke?”</p>

<p>“Ck..”
Jodie berdecak kesal sembari memalingkan wajahnya, sebab Jodie tidak pernah bisa tahan jika Elissa menggodanya dengan <em>bermain sendiri.</em></p>

<p>“Jangan gerak sedikitpun, atau aku nggak akan lanjutin.”</p>

<p>“Kalau kamu kalah, aku mau tidur sendiri, kamu tidur di kamar tamu, seminggu. <em>Deal?</em>“</p>

<p><em>“Deal.”</em> Jawab Jodie asal.</p>

<p>Lelaki itu sempat ragu, ia hanya takut tidak bisa menahan diri. Sedangkan Elissa itu wanita paling kuat akan segala godaan.</p>

<p>Jodie mengubah posisi sofa yang semula membelakangi tempat tidur, kini menjadi saling berhadapan. Ia mematikan saluran televisi dan memastikan suhu pada pendingin udara di ruang kamarnya lebih dingin dari biasanya.</p>

<p>Elissa tersenyum sinis mana kala menatap Jodie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu hanya menggunakan celana boxer tanpa mengenakan kaos, sedangkan udara terasa lebih dingin.</p>

<p>Elissa yang semula duduk menyilangkan kaki, kini mulai membuka kedua pahanya. Dengan sangat sensual dan perlahan jemarinya menari di atas tubuhnya. Tanpa melepaskan pandangan pada kedua mata Jodie, wanita itu terus menggoda dengan meremas payudaranya sendiri.</p>

<p>Perlahan ia melepas satu tali pengait yang menggantung di bahunya, payudara milik Elissa yang ranum sudah mulai terlihat mengeras, puncak payudaranya pun terlihat sudah menegang.</p>

<p>Dengan gerakan sensual jemari Elissa mulai menyentuh titik sensitifnya, kedua pahanya lebih melebar hingga Jodie dapat melihat liang surgawi yang menjadi favoritnya tengah di pamerkan tepat di depan matanya secara terang-terangan.</p>

<p>Jodie hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ia hembuskan nafasnya kasar namun ia berusaha mati-matian untuk tidak bergerak sedikitpun.</p>

<p>Jodie merasa kepalanya mulai mendidih dan hampir meledak ketika melihat Elissa bergerak menjauh dari hadapannya. Wanita itu merangkak membelakangi Jodie; bokong sintal milik Elissa terlihat jelas di depan matanya. Mungkin jika Elissa tidak menetapkan peraturan pada sesi bercintanya kali ini, detik itu juga Jodie lekas menghajar Elissa tanpa ampun. Wanita itu lantas menuju <em>headboard</em> untuk menyandarkan tubuhnya, sorot matanya kembali menangkap sosok Jodie yang mulai bergerak resah. Satu persatu Elissa melepaskan kain sebagai penutup tubuhnya dan ia buang lingerie hitam itu ke lantai.</p>

<p>Tangan kanannya kembali meremas payudaranya sendiri secara sensual tanpa melepaskan pandangan pada Jodie, kemudian dua jarinya bergerak menuntun pada belah bibirnya untuk di jamah. Elissa memasukkan dua jarinya ke dalam mulutnya sendiri kemudian menambah satu jari lagi. Ke tiga jarinya kini telah di basah oleh liurnya sendiri.</p>

<p>Peluh mulai menetes di wajah Jodie, pendingin udara seakan-akan tidak mempan oleh hawa panas yang di ciptakan oleh Elissa.</p>

<p>Elissa membuka kedua pahanya semakin lebar mana kala jemarinya menyentuh klitoris yang mulai membengkak.  Wanita itu memutar pelan klitorisnya sebelum akhirnya menambah tempo hingga dirinya tak kuasa meloloskan desahan yang bergema di ruang kamarnya.</p>

<p>Jodie mulai gusar dan tidak tenang. Berulang kali iya menyamankan duduknya guna menyaksikan Elissa yang sedang bermain, namun hasratnya di paksa bangkit, nafsunya di diobrak tanpa permisi. Jodie sudah kepalang terangsang, tetapi ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak bergerak. Hingga pada saat Elissa memasukkan dua jarinya kedalam liangnya sendiri, Jodie secara reflek berdiri dari duduknya. Membuat Elissa memekik di tengah desahannya.</p>

<p><em>“Stop it”</em>
“Atau aku berhenti.”</p>

<p>Jodie mengepalkan telapak tangannya, namun tetap menuruti perkataan Elissa dan kembali duduk. Ia mengingat kembali bahwa Elissa meminta dirinya untuk menyaksikan tanpa menyentuh.</p>

<p>Elissa menggerakkan dua jarinya pelan, tangan satunya ia gunakan untuk meremas payudaranya secara sensual. Lenguh dan desahan wanita itu semakin jelas terdengar ketika jarinya bergerak lebih cepat demi mengejar titik kepuasan.</p>

<p>Erangan serta desah yang semakin keras membuat libido Jodie naik seketika. Berkali-kali ia menelan ludahnya sendiri lantaran suara decap pada liang vagina Elissa yang sangat basah semakin nyaring terdengar, ketika dua jari wanita itu terus memainkan pusat tubuhnya semakin cepat.</p>

<p>“Ouh.. <em>Fuck!</em>“</p>

<p>Elissa bergumam sendiri ketika dengan sengaja ia mengeluarkan jarinya. Jodie sontak kaget, ia tengah berpikir, apalagi yang akan di perbuat Elissa guna memuaskan dirinya sendiri.</p>

<p>“El, cukup. Aku ini suamimu kalau kamu lupa.”</p>

<p><em>“Shut up!”</em> Ucapnya sembari mengambil satu benda yang terletak di dalam laci nakas.</p>

<p>Jodie tidak tau apa yang akan di lakukan Elissa selanjutnya, ia hanya berharap bahwa Elissa tidak sanggup menyelesaikan dan meminta Jodie untuk melayaninya. Namun salah. Elissa justru mengeluarkan <em>vibrator</em> dari dalam laci nakas.</p>

<p>“El, dari kapan kamu beli itu?”</p>

<p><em>“Shut up!”</em>
“Aku bilang diam!”</p>

<p>Bibir Jodie mengatup rapat, ia hanya bisa memandang dengan lekat sosok Elissa yang mengulum benda itu guna membasahi vibrator dengan air liurnya. Setelah dirasa sudah basah, kemudian di detik berikutnya wanita itu memasukkan vibrator pada miliknya sendiri.</p>

<p>Elissa melenguh keras mana kala vibrator itu ia tanam sendiri pada pusat tubuhnya. Tangan kanannya menyambar <em>remote</em> dan mengatur kecepatannya di level sedang.</p>

<p>“El...”
<em>“Baby...”</em></p>

<p><em>“Shit! Ouh...”</em> Tangan Elissa reflek meremas payudaranya sendiri. Alat tersebut bergetar di bawah sana, beberapa kali kaki Elissa bergerak resah akibat vibrator itu mengoyak miliknya.</p>

<p>Desah dan racau semakin lantang terdengar di telinga ketika Elissa dengan sengaja mengatur getaran vibrator tersebut menjadi lebih cepat. Tangan kirinya meremas seprei kuat-kuat sebab getaran di bawah sana memicu dirinya untuk segera menjemput pelepasannya.</p>

<p>Tangan kanan Elissa memutar klitorisnya guna mempercepat mencapai puncak kenikmatan yang ia damba. Wanita itu tidak peduli lagi dengan Jodie yang gusar karena ulahnya. Elissa tidak peduli dengan mimik muka Jodie yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.</p>

<p>Pada saat kaki Elissa mulai bergerak tidak beraturan, bisa di pastikan gelombang pelepasan hendak menghampiri dirinya. Dinding vaginanya mulai berkedut, hingga Elissa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.</p>

<p>Jodie melihat tubuh Elissa mulai menggelinjang dengan kaki yang bergerak asal, desahan yang keluar dari bibir wanita itu mulai terdengar lebih keras dan nyaring —pun lelaki itu beranjak dari duduknya. Jodie sama sekali tidak peduli dengan aturan dari kesepakatan mereka, yang ia tau bahwa Elissa hendak mencapai klimaks dengan vibrator sialan itu, bukan dengan miliknya.</p>

<p>Jodie kesal, ia melepaskan boxer yang ia kenalan sembari naik ke atas ranjang.</p>

<p>“A-aku mau keluar, minggir.” Elissa memekik lantaran Jodie berada di bawahnya sembari memegangi kedua kakinya. Tangan Jodie baru saja terulur untuk melepaskan vibrator dari pusat tubuh Elissa, namun cairan yang keluar lebih dulu membasahi tangannya. Dengan gerakan cepat, Jodie mengeluarkan vibrator itu dan melemparnya ke tembok sekencang mungkin.</p>

<p>“Aku nggak suka liat kamu liar pakai alat itu.” Ucap Jodie sesaat sebelum dirinya melumat bibir ranum milik Elissa. Tubuh wanita mulai lelah, pada akhirnya ia akan pasrah dengan apa yang akan di lakukan Jodie terhadapnya.</p>

<p>Jodie melebarkan kedua paha Elissa, ia mencumbu si puan dengan buas. Jodie menyesap cairan sisa pelepasan yang masih mengalir di liang vaginanya. Sontak Elissa melenguh sembari meremas rambut Jodie. Suara decapan bibir lelaki itu sukses membuatmu Elissa frustasi.</p>

<p>Setelah selesai membersihkan cairan di bawah sana, Jodie mulai bergerak keatas. Ia menatap lekat Elissa yang berada di bawahnya, detik berikutnya Jodie melumat bibirnya dengan terburu. Menyesap, melumat, serta menjilat apapun yang tampak di depan matanya.</p>

<p>Jodie membubuhkan kecupan-kecupan basah pada telinga, leher, serta payudara Elissa. Membuat tanda kepemilikan sebanyak mungkin sembari memainkan puncak dada Elissa, hingga wanita itu tidak sanggup menahan lenguh serta desah yang tidak bisa ia tahan.</p>

<p>“Jo..”</p>

<p>“Hmm..”</p>

<p>“Kenapa kamu gak suka kalau aku pakai alat itu? Bukannya lebih baik dari pada aku sama laki-laki lain?”</p>

<p><em>“Nope.”</em>
“Aku nggak suka, apalagi sama laki-laki lain. Aku bakalan bikin orang itu nggak bisa jalan kalau sampai nyentuh kamu.” Jodie berujar sembari menggesek klitoris Elissa yang membengkak.</p>

<p>“Aahh.. Jo!” Elissa memekik ketika dua jari milik Jodie melesak ke dalam liangnya. Lelaki itu menggerakkan jarinya perlahan dan menambah tempo dengan sangat pelan dan teratur agar tidak menyakiti Elissa.</p>

<p>“Enak? <em>Huh?</em>“</p>

<p>Elissa tidak bergeming, sejak beberapa detik yang lalu wanita itu memejamkan kelopak matanya sembari meremas bantal.</p>

<p>“Enak sama jari ku kan? Dari pada pakai alat itu?”</p>

<p>“Jo! Bisa diem gak?!”
“Aahh... Jodie!”</p>

<p>Elissa tidak mau berkata iya, atau hanya sekedar mengangguk saja sebab apa yang di katakan Jodie itu adalah benar adanya. Vibrator tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan jari bahkan milik Jodie sendiri.</p>

<p>Setelah puas bermain dengan jarinya, lantas Jodie mengocok batang penisnya perlahan dan  menepuk-nepuk ujungnya di atas klitoris milik Elissa. Wanita itu ingin menggeram sebab kesal dengan Jodie yang terus menggodanya, bahkan kini batang penis itu iya gesekkan pada bibir vagina hingga menyentuh klitorisnya berulang kali.</p>

<p>“Jo!”</p>

<p>Elissa memekik ketika kejantanan milik Jodie melesak dalam satu kali hentak. Ujung penisnya berhasil menabrak titik paling sensitif di dalam sana.</p>

<p>Jodie tidak berkedip barang sedetikpun demi memandang wajah sayu Elissa. Seolah-olah Jodie tidak mau melewatkan pemandangan indah yang pada saat Elissa mendesah dan mengerang di bawah kendalinya.</p>

<p>“Jo... Kamu nggak capek?”</p>

<p>“Nggak.”</p>

<p>“Sama Natasha berapa kali?”
“Aahh...”</p>

<p>Jodie sengaja menghentak miliknya dalam-dalam pada liang kenikmatan Elissa sebab pertanyaan yang di lontarkan Elissa beberapa detik lalu, sesungguhnya membuat Jodie merasa tidak senang karena mengganggu konsentrasi.</p>

<p>“Sekali.” Jawab Jodie singkat. Lantas Elissa menaikkan satu alisnya sembari berkata; “percuma kamu buang-buang duit ke Natasha kalau dia nggak bisa muasin kamu.”</p>

<p>Jodie geram kemudian membalikkan tubuh Elissa kesamping tanpa melepaskan pertautan di bawah sana. Jodie berada di belakang Elissa dan wanita itu membelakangi Jodie.</p>

<p>Bibir Jodie tepat berada di sebelah telinga Elissa dan berbisik; “Emang cuma kamu yang bisa muasin aku, nggak ada lawan. <em>I love you, baby.</em>“</p>

<p>Tidak lama dengan gaya <em>spooning</em>, Jodie mengubah posisi keduanya.</p>

<p>Jodie kini duduk bersandar pada <em>headboard</em> dan menarik tubuh Elissa untuk berada di atasnya dan melesakkan kembali batang penisnya ke dalam liang vagina milik Elissa.</p>

<p>Dua tangan Jodie melingkar pada pinggang dan punggung si puan, ia menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Kedua tangan Jodie sengaja mendekap tubuh Elissa agar tidak bergerak kemanapun.</p>

<p>Elissa berkali-kali meloloskan desah dan racau, dirinya seakan-akan tidak bisa lepas dari Jodie yang mulai liar dan mendominasi. Ujung penis milik Jodie berhasil menabrak berulang kali titik paling nikmat di dalam sana, hingga membuat Elissa merasakan gelombang pelepasan yang mulai mendekat.</p>

<p>Semakin keras Elissa mendesah, semakin keras pula Jodie menghentakkan penisnya pada milik Elissa.</p>

<p>“Jo... Aku nggak ku-att.”</p>

<p>“Lepasin, sayang. Keluarin bareng aku.”</p>

<p>Elissa hanya bisa pasrah, dua tangannya hanya bisa meremas rambut Jodie namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher lelaki itu. Batang penis Jodie terus ia hentakkan hingga Elissa berhasil mencapai pelepasannya yang ke dua dan di susul oleh Jodie yang sama-sama melepaskan spermanya ke dalam rahim Elissa.</p>

<p>Tubuh Elissa bergetar hebat, suaranya habis ia gunakan untuk berteriak karena nikmat yang Jodie hantarkan berhasil membuat dirinya mendapatkan klimaks yang ia damba.</p>

<p>Jodie dengan telaten mengusap punggung si puan guna menyalurkan rasa nyaman dan tenang, agar Elissa dapat mengatur nafasnya yang belum juga stabil. Wanita itu masih berada di atas Jodie, meringkuk tanpa melepaskan pertautan intimnya.</p>

<p>“Enak? Lega? Lebih enak sama aku, kan? Di banding pakai vibrator?”</p>

<p>Elissa tidak bergeming, ia memilih memejamkan mata sembari menstabilkan nafasnya.</p>

<p>Tangan Jodie bergerak mengusap puncak kepala Elissa dan membubuhkan kecupan pada kening wanita-wanita itu. Satu tangan yang lain melingkar di punggung Elissa, lelaki itu mendekapnya erat-erat.</p>

<p><em>“Baby, i love you. Thank you foreverything.”</em></p>

<p>“Hmm...”</p>

<p><em>“I love you.”</em></p>

<p>Elissa membuka mata dan mendongak ke arah Jodie hingga keduanya saling menatap seolah-olah sedang mengisyaratkan sesuatu.</p>

<p><em>“I love you?</em> Buat apa?”</p>

<p><em>“Because you&#39;re my wife.”</em></p>

<p><em>“Wife?</em> Tapi suami ku bertingkah kayak bajingan. Apa masih bisa di sebut suami?” Elissa hendak beranjak dari atas tubuh Jodie. Ia menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu di atas dada bidang si tuan. Pada saat Elissa bergerak mundur, tangan Jodie lebih dulu menahan bokongnya agar pertautan organ intim mereka tidak lepas.</p>

<p>“Jo, apa kita mau kayak gini terus? Sampai pagi?!”</p>

<p>Jodie tersenyum miring kemudian membalikkan tubuh Elissa, melandaskan tubuhnya di atas ranjang.</p>

<p>“Jo..!”</p>

<p>Elissa memekik ketika Jodie menggerakkan pinggulnya pelan sembari mencium bibir Elissa hingga beberapa detik.</p>

<p><em>“Let&#39;s make a baby, sweetheart.”</em></p>

<p>“Jo, aku mau punya anak tapi kamu harus berhenti jadi bajingan.”</p>

<p>“Sayang, aku udah berhenti. Mulai kemarin aku udah jelasin sama Natasha, kalau semalam itu yang terakhir ketemu dia.”</p>

<p><em>“Just bullshit.”</em>
“Aku nggak mau punya anak kalau kamu belum berubah. Oke?”</p>

<p><em>“Please, El.”</em>
“Aku mau buktiin kalau aku serius. Aku mau punya anak sama kamu.” Ujarnya sembari mengecup kening Elissa. Tangannya merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya, hingga dirinya bisa menatap wajah cantik wanitanya.</p>

<p><em>“I promise you.”</em></p>

<p>Kalimat yang keluar dari bibir Jodie layaknya penyejuk, Elissa hanya membutuhkan keyakinan bahwa Jodie benar-benar berubah untuknya.</p>

<p>Jodie kembali menggerakkan pinggulnya pelan, sesekali ia hentakkan hingga penuh. Kedua kaki Elissa ia lingkarkan di pinggangnya, mengapit tubuh tegap Jodie. Dua tangan Elissa ia satukan dan di letakkan di atas kepala wanita itu. Jodie mencengkeram erat kedua tangan Elissa, hingga benar-benar ia tak bisa bergerak.</p>

<p>Elissa mendesah tertahan lantaran bibir Jodie membungkam bibirnya, tubuhnya sudah terasa lelah hingga dirinya hanya mengikuti alur yang Jodie ciptakan.</p>

<p>Semakin lama, tempo gerakan Jodie semakin cepat. Sesekali ia menarik pinggulnya hingga kejantanannya hampir keluar namun dengan cepat ia hentakkan kembali ke dalam Elissa hingga membuat wanita itu mengerang dan mendesahkan nama Jodie berulang kali.</p>

<p>Aliran darah Elissa mengalir lebih cepat, tubuhnya mulai melengkung dan menggelinjang. Perlahan Jodie melepaskan cengkeraman pada tangan Elissa dan mengecup kening si puan hingga beberapa detik.</p>

<p>“Mau keluar?”</p>

<p>Elissa hanya mengangguk sembari meremas lengan bertatto milik Jodie.</p>

<p>“Bisa tahan bentar?”</p>

<p>Elissa tidak menjawab, wanita itu terus mengerang dengan raut wajah yang seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan.</p>

<p><em>“Baby, doggy style right now?”</em>
<em>“Please..”</em></p>

<p>Elissa mengangguk pasrah, secepat kilat Jodie mengecup bibir ranum milik Elissa dan mengangkat tubuhnya. Jodie membantu Elissa merubah posisinya, kini Jodie bertumbuh menggunakan kedua lututnya dan berada di belakang wanita itu.</p>

<p>Jodie mencium dan menjilati telinga, leher, serta bahu Elissa. Menghirup aroma tubuh wanita itu seperti memancing hasratnya kembali. Sedangkan Elissa menahan berat tubuhnya menggunakan kedua tangan tepat di atas bantal.</p>

<p>Wanita itu melenguh ketika tangan kanan Jodie mengusap klitorisnya, dan menggesekkan ujung penis pada liang vagina Elissa.</p>

<p>Dengan sekali hentak, batang penis milik Jodie yang kokoh kembali menembus liang kenikmatan Elissa.</p>

<p>Jodie menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat sembari memutar klitoris Elissa hingga membuat wanita itu meloloskan desah serta rancu semakin nyaring terdengar. Tangan kiri Jodie perlahan menarik tubuh Elissa agar melekat di tubuhnya, merangkul tubuh mungil itu dan terus menghujam milik si puan.</p>

<p>Hembusan nafas Jodie yang terburu dan ketika lelaki itu menggeram, hawa panas semakin terasa menembus permukaan kulit leher Elissa. Tubuhnya cukup sensitif dengan rangsang yang memicu dirinya untuk segera mencapai klimaks.</p>

<p>“Jo...”</p>

<p><em>“Hm? You wanna cum?”</em></p>

<p><em>“Mmm..”</em></p>

<p>“Keluarin, sayang. Bentar lagi aku juga mau keluar.” Jodie berujar sembari terus menambah temponya. Elissa terlihat sudah sangat pasrah hanya bisa menengadahkan kepalanya yang bersandar pada dada bidang Jodie, sembari meloloskan desahan yang menyerukan nama si tuan.</p>

<p>Tubuh Elissa menggelinjang hebat mana kala liang vaginanya berkedut dan mengeluarkan cairan pelepasan. Tangan Jodie mengeratkan tubuh Elissa yang mulai melemas agar tidak terjatuh, hingga hentakan ke tiga Jodie melepaskan cairan spermanya ke dalam rahim Elissa.</p>

<p>Tubuh Elissa seolah-olah tak bertulang, untuk berpindah posisi saja wanita itu tidak mampu. Lantas Jodie mengangkat tubuh wanita itu dan merebahkan di atas ranjang yang sudah sangat berantakan. Jodie mencium ranum Elissa dan di balas dengan ciuman ringan oleh wanita itu, sebelum akhirnya Jodie beranjak dari atas tubuh Elissa untuk mengambil beberapa helai tisu.</p>

<p>Jodie sangat telaten membersihkan sisa cairan yang mengalir di sela paha wanitanya, juga miliknya. Kemudian membuang tisu bekas pakai itu ke dalam tempat sampah yang taj jauh dari jangkauannya.</p>

<p>Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Elissa, memeluk si puan dari belakang, serta mencium leher dan bahu Elissa. Hembusan nafas hangat Jodie sangat jelas terasa ketika wajahnya ia benamkan pada ceruk leher Elissa, sembari berbisik;
“Kita akan punya anak, kan?”</p>

<p>Elissa mengangguk meskipun kedua matanya sudah terpejam.</p>

<p>“Aku berhenti minum pil mulai besok.”</p>

<p>“Kamu minum pil, El?! Dari kapan? Kenapa kamu nggak bilang sama aku??”</p>

<p>“Padahal aku udah pengen banget punya anak.” Ucap Jodie sembari membalikkan tubuh Elissa hingga kini Jodie berada di atas Elissa.</p>

<p>“Dari kamu mulai deket sama perempuan lain.”</p>

<p>“Aku mutusin buat nunda punya anak, walapun cuma sepihak. Aku nggak mau hamil dalam keadaan yang stress karena kelakuan kamu.”</p>

<p>“El, <em>i&#39;m so sorry.. I promise.</em>“
“Sekarang percaya sama aku, oke? Aku pengen punya anak sama kamu. Berhenti minum pil-nya.”</p>

<p>Elissa mengangguk pelan, Jodie tersenyum lega dan kembali mendaratkan ciuman di bibir Elissa hingga beberapa detik.</p>

<p><em>“I love you, baby.”</em></p>

<p><em>“I love you more, Jo..”</em></p>

<p>Jodie kembali merengkuh tubuh Elissa, menyalurkan rasa hangat dan nyaman pada tubuh wanitanya. Perlahan tangan Jodie menarik selimut agar menutupi kedua tubuh telanjang mereka.</p>

<p><em>“Let&#39;s sleep, sweetheart.”</em></p>

<p><strong><em>Yang Elissa tau, Jodie kini memperbaiki kesalahannya, yang Elissa tau bahwa Jodie kembali untuknya, sebagai suami yang senantiasa bersamanya sehidup semati. Seperti janjinya pada Tuhan.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sinandyou.writeas.com/wicked-games</guid>
      <pubDate>Fri, 13 May 2022 05:14:49 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>I will never not think about you</title>
      <link>https://sinandyou.writeas.com/i-will-never-not-think-about-you?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Marcello pov&#xA;&#xA;Tangan ku bergerak cepat menyambar tas dan handuk kecil,   aku berlari kecil sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Aku tidak peduli dengan Hansel yang berteriak sebab aku tinggalkan begitu saja. Dalam hatiku sudah di penuhi nama Hanna Venti Mahatma yang notabene adalah kakak kandung Hansel. Di otakku sudah terbayang senyum manis seorang Hanna yang setahun terakhir ini mengisi ruang di relung hati.&#xA;&#xA;Kadang aku merasa tidak percaya telah menjatuhkan hati pada wanita yang usianya lebih tua dua tahun dari aku. Pun aku masih sering berpikir bahwa aku memacari kakak sahabat ku sendiri, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. &#xA;&#xA;Namun Hanna, mengubah cara pandang ku. Aku yang selalu merasa kesepian karena malas untuk mempunyai hubungan dengan perempuan. Aku pikir kebanyakan perempuan hanya bersikap ke kanak-kanakan, tidak beda jauh dengan beberapa perempuan yang dekat dengan ku. Tapi Hanna mengartikan cinta dengan sangat sederhana.&#xA;&#xA;Kita hanya perlu saling percaya, mencintai seadanya tanpa harus banyak menuntut dan Hanna melakukan itu. Hanna adalah wanita mandiri yang ingin aku berikan apresiasi melalui cinta dan kasih yang aku miliki. &#xA;&#xA;Hari-hari kami terlampau sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terhitung lima bulan aku bekerja di perusahaan papa, dan Hanna pun mempunyai kesibukan dengan pekerjaan selain harus mengurus dua adiknya Hansel dan Halsey. &#xA;&#xA;Hampir dua minggu Hanna meninggalkan aku, ia berada ke Singapura lantaran kedua orang tuanya berada di sana. Rindu akan wanita cantik ini rasanya sudah tidak bisa aku bendung lagi.&#xA;&#xA;Aku ingin memeluknya, aku tidak ingin wanita itu bergerak kemana pun. Ingin aku dekap sampai aku puas memandangi wajahnya, sampai tuntas aku menghirup aroma tubuhnya. Aku rindu mencumbunya, bahkan aku ingin mendengarkan erangan yang keluar dari bibirnya berulang kali. &#xA;&#xA;Kedua mataku fokus pada jalanan ketika aku segera menghidupkan mobil dan mengendarainya dengan sedikit terburu. Namun di otakku cukup kotor dengan membayangkan Hanna yang tidak berdaya berada di bawah ku, serta mendengarkan rintihan suara seraknya ketika meloloskan desah yang menyebutkan namaku.&#xA;&#xA;&#34;Ah, pikiran ku terlalu kotor jika sedang merindukan Hanna.&#34;&#xA;&#xA;Sore ini aku sangat beruntung karena jalan Ibukota tidak terlalu ramai, aku bisa mengendarai mobil ku lebih cepat agar aku bisa sampai di rumah Hanna. Aku sempat melihat notif di layar ponselku ketika dering singkat menandakan pesan masuk dan pengirimnya adalah Hansel. &#xA;&#xA;&#34;Gue mau balik ke apart Ara aja, lo puasin kangennya sama kakak gue mumpung Halsey masih di Singapura.&#34;&#xA;&#xA;Isi pesan singkat dari Hansel sukses membuat senyum ku mengembang. Aku tidak akan membuang waktu karena menurutku, menghabiskan sisa hari ini dan menjemput hari esok dengan memeluk tubuh Hanna adalah salah satu keberuntungan selain memenangkan tender.&#xA;&#xA;Hanna pov&#xA;&#xA;Aku terkekeh geli ketika membaca pesan singkat Marcell yang terkesan terburu-buru, sebab aku memberikan kabar bahwa aku sudah berada di rumah sore ini. &#xA;&#xA;Hampir dua minggu aku berada di Singapura karena kerinduan pada kedua orang tuaku sudah pada puncaknya. Hampir satu tahun kami tidak saling bertemu lantaran kesibukan masing-masing. Perihal pekerjaan, papa dan aku sama-sama gila bekerja. Terkadang aku lebih suka menghabiskan waktu dengan menyelesaikan pekerjaan bahkan jika harus lembur sekalipun. &#xA;&#xA;Aku sampai tidak peduli dengan urusan percintaan, masa bodoh. Aku hanya fokus pada pekerjaan, dan dua adikku; Hansel dan Halsey. Sampai pada akhirnya aku tertarik dengan Marcell. Mungkin dari sekian banyak orang menganggap ku aneh karena sekarang aku tengah berpacaran dengan lelaki yang usianya dua tahun lebih muda dari aku. Aku hanya tersenyum sinis jika ada rekan kerja ku berkomentar tentang kisah cintaku.&#xA;&#xA;Mereka tidak pernah tau bagaimana Marcell memperlakukan aku bak seorangpun ratu, yang mereka tau hanyalah pacar lebih muda itu sekedar memanfaatkan kemapanan ku. &#xA;&#xA;Mereka salah besar, Marcell tidak pernah memanfaatkan aku. Dari segi pekerjaan dan finansial, Marcell punya porsinya sendiri dan dia jauh lebih mapan dari aku.&#xA;&#xA;Orang lain berkomentar karena hanya melihat dari segi luarnya saja tanpa menelisik lebih dalam. Tetapi jika orang-orang di luaran sana berkeinginan untuk menelisik lebih dalam tentang Marcell, aku akan menolaknya mentah-mentah. Aku siap pasang badan karena aku tidak rela kehidupan pribadi kekasihku di umbar tanpa ragu.&#xA;&#xA;Marcell adalah lelaki bernyali besar ketika menjatuhkan hatinya padaku. Lelaki itu mampu merobohkan benteng pertahanan ku, --yang dengan susah payah aku bangun bertahun lamanya lantaran rasa trauma ku terhadap masa lalu.&#xA;&#xA;Aku tertarik dengan Marcell hanya karena hal yang sederhana.&#xA;&#xA;Senyumnya.&#xA;&#xA;Entah kenapa senyum Marcell adalah senyum terhangat yang pernah aku lihat. Aku merasa tenang jika berbicara dengannya, senyum yang terukir di bibirnya bak sebuah mata air di tengah fatamorgana. &#xA;&#xA;-------------------------&#xA;&#xA;Langkah kaki Hanna mengantarkannya pada sebuah dapur berukuran sedang di sebelah ruang tengah. Handuk kecil masih terlilit di kepalanya serta baju tidur berbahan satin berwarna merah tua menggantung di tubuhnya, sungguh pemandangan yang indah.&#xA;&#xA;Hanna menyandarkan tubuhnya pada kitchen bar sembari menunggu air yang ia panaskan mendidih. Tiba-tiba saja wanita itu menggigit bibir bawahnya ketika membayangkan Marcell tengah mencium bibirnya sembari meremas pinggangnya.&#xA;&#xA;Bayang-bayang yang sempat membuat dirinya resah sendirian itu tiba-tiba saja pecah lantaran suara derap langkah kaki seseorang yang memasuki rumah tanpa permisi. Tanpa mengetuk pintu bahkan tidak ada suara bel yang berdenting nyaring.&#xA;&#xA;Ekor mata Hanna menangkap seseorang yang ia kenal tengah berlari kecil menaiki tangga menuju lantai dua, dimana kamar utama berada di sana. Tanpa melihat sekitar, tanpa mengeluarkan suara bahkan tidak ada panggilan yang keluar dari bibir lelaki itu.&#xA;&#xA;Hanna menahan kekehan ketika tak sampai satu menit lelaki itu setengah berteriak memanggil namanya lantaran tidak menemukan dirinya di kamar. Marcell sibuk mencari keberadaan Hanna sembari menyerukan namanya berulang kali. Lelaki itu menuruni tangga dan menemukan kekasihnya tengah berdiri dengan dua tangan yang terlipat di depan dada.&#xA;&#xA;Senyum Hanna mengembang sempurna ketika melihat sosok Marcell yang rambutnya sedikit acak-acakan, nafas yang memburu karena harus naik turun tangga sembari berlari kecil. Wanita itu semakin meleleh saat Marcell menatapnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki --senyum seringai terlukis jelas pada bibir Marcell seolah-olah siap menerkam mangsa di depan matanya.&#xA;&#xA;&#34;Baby...&#34;&#xA;&#xA;Langkah Marcell tergesa menghampiri si puan yang tengah merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh Marcell yang melekat erat pada tubuhnya. Merengkuh penuh rasa rindu yang membuncah diantara keduanya, usapan lembut pada punggung Hanna menyalurkan rasa hangat dan nyaman. Aroma tubuh wanita itu bak sebuah candu bagi Marcell, hingga dirinya tak mampu berhenti mencium dan menghirup ceruk leher si puan.&#xA;&#xA;&#34;Hei.. Stop. Marcell, stop it.&#34;&#xA;&#xA;Marcell tidak bergeming dengan ucapan Hanna, bahkan ketika wanita itu berusaha melepaskan pelukannya, nihil. Sama sekali tidak berhasil, bahkan dengan sengaja Marcell membubuhkan kecupan basah pada ceruk leher Hanna hingga membuat tubuhnya merinding seketika.&#xA;&#xA;Marcell berhasil menahan dua tangan Hanna hingga wanita itu tidak bisa bergerak, bibir Marcell bergerilya hingga menemukan titik terfavorit bagi dirinya.&#xA;&#xA;Lantas lelaki itu melumat bibir ranum milik Hanna, ia menyesap bibir bawahnya hingga wanita itu membuka mulutnya untuk memberikan akses. Marcell mulai menginvasi tiap inchi rongga mulut Hanna tanpa jeda, membuat si puan hampir kehabisan pasokan oksigen.&#xA;&#xA;Hanna ingin melepaskan pertautan keduanya namun di tahan oleh Marcell, tangan kiri lelaki itu menahan dan melekatkan tubuh Hanna pada dirinya. Tangan kanannya sibuk melucuti baju tidur berbahan satin yang menempel di tubuh Hanna.&#xA;&#xA;Si puan berkali-kali melenguh tertahan karena tidak mampu bergerak bahkan meloloskan diri dari Marcell. Lelaki itu semakin bergerak agresif, setelah berhasil melucuti kain yang menempel pada tubuh Hanna kemudian mengangkat tubuh mungil itu ke atas kitchen bar. &#xA;&#xA;Hanna merasakan aliran darahnya mengalir semakin cepat ketika Marcell mulai menjarah bagian titik sensitif miliknya.&#xA;&#xA;Tangan kiri Hanna mencengkeram sudut pada kitchen bar, sedangkan tangan kanannya meremas lengan Marcell. &#xA;&#xA;Hanna meloloskan erangan serta desah yang menyerukan nama lelaki itu mana kala lidah Marcell menyesap dan memainkan puncak dada menggunakan lidahnya. Tangan kanan wanita itu berpindah meremas rambut Marcell seolah-olah meminta lebih pada si tuan. &#xA;&#xA;Setelah puas menjarah payudara Hanna, kemudian lelaki itu menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap lekat kedua mata wanita itu. Marcell tengah mengamati tiap inchi wajah sayu kekasihnya yang mulai di penuhi peluh. Nafas yang mulai memburu serta tubuh polosnya adalah aset paling berharga yang di miliki Marcell.&#xA;&#xA;&#34;Do you miss me?&#34;&#xA;&#xA;Hanna tersenyum sembari menaikkan alisnya, kemudian menjawab; &#34;I miss you, babe.&#34;&#xA;&#xA;Tanpa aba-aba tangan Marcell bergerak mengusap titik sensitif yang masih berlapis celana dalam seamless, jemarinya bergerak sensual hingga membuat Hanna mengerang dan memejamkan kelopak matanya. &#xA;&#xA;Menit berikutnya Marcell menanggalkan kain penutup terakhir aset milik Hanna setelah puas memancing hasrat si puan. Lelaki itupun tak kalah cepat ketika melepaskan kaos hitam yang ia kenakan serta celana pendek berbahan kain yang masih menggantung di tubuhnya.&#xA;&#xA;Hanna menelan ludahnya sendiri lantaran ia melihat kejantanan Marcell yang sudah sepenuhnya ereksi dengan sempurna. Wanita itu tengah membayangkan dirinya tidak lama lagi akan di gempur tanpa ampun oleh sang kekasih. &#xA;&#xA;Rasa rindu yang di tahan hampir dua minggu ternyata sukses membuat Marcell menjadi lebih agresif.&#xA;&#xA;Tangan kanan Marcell perlahan mengocok batang penisnya dengan tempo pelan sembari menatap dua bola mata Hanna. Kerlingan mata nakal Marcell seakan-akan kode bahwa Hanna cukup menyiapkan tubuhnya untuk di jamah lebih lagi oleh si tuan.&#xA;&#xA;Hanna sempat membeku, ia berpikir bahwa dirinya akan habis di setubuhi di atas kitchen bar, pada saat Marcell berjalan pelan mendekatinya. Namun lelaki itu justru kembali melumat bibir Hanna dengan gerakan sedikit kasar, melumat bibirnya sembari mencengkeram helaian rambut yang belum sepenuhnya kering tetapi kembali di basahi oleh peluh. Jemari lelaki itu memutar klitoris dengan gerakan menekan hingga membuat tubuh Hanna menggelinjang.&#xA;&#xA;Ingin rasanya Hanna berteriak namun bibirnya di bungkam oleh bibir sang kekasih, hingga dirinya hanya bisa  melenguh tertahan sembari meremas bahu Marcell. &#xA;&#xA;Tanpa aba-aba dua jari Marcell berhasil menembus liang surgawi milik Hanna yang sudah sangat basah; sebab Marcell sangat gencar memancing libido si puan, membuat wanita itu kepalang kuyup dengan segala sentuhan yang menjarah titik sensitifnya.&#xA;&#xA;Marcell menggerakkan jarinya perlahan, sembari ibu jarinya memainkan klitoris dengan gerakan memutar dan menekan. Beberapa kali tubuh Hanna bergetar, bibirnya di penuhi desah dan racau.&#xA;&#xA;Senyum seringai Marcell kembali terukir di wajah tampannya ketika menatap wajah sayu Hanna, dengan bibir yang menganga mengeluarkan lenguh dan desahan yang semakin lama terdengar resah.&#xA;&#xA;Dinding vagina milik Hanna terasa hangat dan sangat basah, memijit jemari Marcell yang masih bergerak di bawah sana dengan tempo yang kian cepat. Sampai pada titik dimana wanita itu merasakan gelombang kenikmatan.&#xA;&#xA;&#34;Cell, aku mau keluar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm? Mau keluar?&#34;&#xA;&#xA;Hanna mengangguk resah, ia berharap Marcell menuntaskan apa yang dia mulai. Namun lelaki itu dengan entengnya mengeluarkan jarinya dengan cepat. &#xA;&#xA;Raut wajah Hanna sontak berubah menjadi merah padam lantaran sedikit lagi ia mencapai titik ternikmat yang di damba namun di hempas begitu saja oleh Marcell. Wanita itu kecewa dan hampir saja menangis, namun Marcell menyambar bibir ranum si puan, mengecupnya hingga beberapa detik.&#xA;&#xA;&#34;Sorry, baby.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalau kayak gini lebih enak, kan?&#34; &#xA;&#xA;Marcell menggesekkan batang penisnya pada klitoris Hanna dan melesakkan tanpa aba-aba. Hanna hanya bisa meloloskan desahan yang nyaring terdengar. Lelaki itu menggerakkan pinggulnya pelan, kemudian mengangkat tubuh Hanna. Tangan kekarnya menahan berat tubuh Hanna dengan melingkarkan tangan pada pinggulnya, sedangkan kedua tangan Hanna bertengger pada perpotongan leher Marcell sembari menatap mata lelaki itu.&#xA;&#xA;Marcell berjalan pelan, menaiki tangga dengan posisi menggendong tubuh Hanna yang masih bertaut dengannya. Marcell benar-benar mengatur nafasnya sebab menaiki anak tangga dengan beban yang bertumpu pada tubuhnya itu tidak mudah.&#xA;&#xA;&#34;Sayang, jangan main-main lah.&#34; Gerutu Marcell ketika dengan sengaja Hanna menggerakkan pinggulnya memutar. &#xA;&#xA;Hanna hanya terkekeh sembari menatap wajah Marcell dan mengecup singkat bibir lelaki itu.&#xA;&#xA;Sesampainya di kamar, Marcell merebahkan tubuh Hanna di tepi ranjang. Mengangkat kedua kaki wanita itu kemudian meletakkan di atas bahunya.&#xA;&#xA;Tanpa menunggu lama, Marcell mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Menggempur milik Hanna tanpa ampun. Desahan yang lolos dari bibir Hanna semakin membuat lelaki itu semakin candu, Marcell seakan-akan menginginkan lebih, desahan yang lebih keras, segala racau yang menyebutkan namanya adalah bagian paling favorit bagi lelaki itu.&#xA;&#xA;Hentakan demi hentakan tanpa jeda hingga menumbuk titik sensitif milik Hanna. &#xA;&#xA;Kedua tangan Hanna meremas erat apapun yang bisa ia raih. Sprei, bahkan bantal ia raih hanya untuk melampiaskan rasa nikmat melalui cengkeraman tangannya.&#xA;&#xA;Hingga sampai pada saat keduanya hendak mencapai puncak kenikmatan bersama, hentakan keras semakin tidak beraturan, nafas Marcell semakin memburu hingga peluh yang mengalir pada wajah dan tubuhnya membuat lelaki itu jauh lebih tampan.&#xA;&#xA;Desahan Hanna pun semakin nyaring, semakin tidak bisa di tahan.&#xA;&#xA;&#34;Keluar dimana, sayang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dalem aja, aku minum pil kok.&#34;&#xA;&#xA;Marcell mengangguk dan menyetujui, kemudian lelaki itu menuntaskan puncak ternikmat yang mereka rindukan. Ia hentakan beberapa kali hingga tubuh Hanna menggelinjang hebat karena wanita itu mencapai klimaksnya lebih dahulu dan di susul oleh Marcell yang sengaja menyemburkan cairan sperma di dalam sana. &#xA;&#xA;Sebelum tubuh Marcell ambruk di sebelah Hanna, lelaki itu menyempatkan untuk membawa tubuh mungil kekasihnya pada posisi yang nyaman. Meletakkan bantal di bawah kepala Hanna, memeluk erat tubuh yang masih di penuhi peluh serta mencium aroma tubuh Hanna adalah salah satu alasan Marcell selalu tidur dengan posisi di belakang Hanna.&#xA;&#xA;&#34;Cell..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tau gak? Masa kemarin temen ku ngatain kamu berondong. Terus ngatain kamu tuh cuma manfaatin aku doang.&#34;&#xA;&#xA;Marcell terkekeh, lalu mengecup bahu Hanna yang tidak pernah lolos dari jarahan bibir Marcell.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa ketawa sih?&#34; Hanna sedikit kesal karena Marcell hanya terkikik geli tanpa menjawab sepatah katapun.&#xA;&#xA;&#34;Udahlah, gak perlu di tanggapin serius. Di tempat kerja tuh banyak orang julid, jadi bersikap bodoh amat itu lebih baik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tertarik sama kamu tuh bukan dari apapun yang kamu punya, tapi karena kamu tuh cewek sederhana dan nggak kekanak-kanakan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;This is simple, and i like.&#34;&#xA;&#xA;Hanna tersenyum lega, salah satu bukti bahwa ia tidak salah menjatuhkan hati pada Marcell.&#xA;&#xA;&#34;Baby, sejak kapan kamu minum pil?&#34; Tanya Marcell sembari mengusap lengan wanitanya.&#xA;&#xA;&#34;Sebulan yang lalu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku mulai minum sebulan sebelum berangkat ke Singapura. Sebelum aku berangkat, kamu bukannya lupa gak beli kondom tapi emang sengaja mau di keluarin tanpa pengaman, kan?&#34;&#xA;&#xA;Hanna secara refleks menepuk tangan Marcell yang melingkar pada perutnya.&#xA;&#xA;Mendengar Hanna tengah mengomel, lelaki itu justru meloloskan tawa ringan yang di susul rengkuh lebih erat pada tubuh Hanna.&#xA;&#xA;Dua anak manusia ini pada akhirnya merealisasikan untuk menghabiskan sisa hari petang dengan saling memeluk, menyalurkan kehangatan serta kenyamanan.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Marcello pov</em></strong></p>

<p>Tangan ku bergerak cepat menyambar tas dan handuk kecil,   aku berlari kecil sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Aku tidak peduli dengan Hansel yang berteriak sebab aku tinggalkan begitu saja. Dalam hatiku sudah di penuhi nama Hanna Venti Mahatma yang notabene adalah kakak kandung Hansel. Di otakku sudah terbayang senyum manis seorang Hanna yang setahun terakhir ini mengisi ruang di relung hati.</p>

<p>Kadang aku merasa tidak percaya telah menjatuhkan hati pada wanita yang usianya lebih tua dua tahun dari aku. Pun aku masih sering berpikir bahwa aku memacari kakak sahabat ku sendiri, tidak pernah terbayangkan sebelumnya.</p>

<p>Namun Hanna, mengubah cara pandang ku. Aku yang selalu merasa kesepian karena malas untuk mempunyai hubungan dengan perempuan. Aku pikir kebanyakan perempuan hanya bersikap ke kanak-kanakan, tidak beda jauh dengan beberapa perempuan yang dekat dengan ku. Tapi Hanna mengartikan cinta dengan sangat sederhana.</p>

<p>Kita hanya perlu saling percaya, mencintai seadanya tanpa harus banyak menuntut dan Hanna melakukan itu. Hanna adalah wanita mandiri yang ingin aku berikan apresiasi melalui cinta dan kasih yang aku miliki.</p>

<p>Hari-hari kami terlampau sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terhitung lima bulan aku bekerja di perusahaan papa, dan Hanna pun mempunyai kesibukan dengan pekerjaan selain harus mengurus dua adiknya Hansel dan Halsey.</p>

<p>Hampir dua minggu Hanna meninggalkan aku, ia berada ke Singapura lantaran kedua orang tuanya berada di sana. Rindu akan wanita cantik ini rasanya sudah tidak bisa aku bendung lagi.</p>

<p>Aku ingin memeluknya, aku tidak ingin wanita itu bergerak kemana pun. Ingin aku dekap sampai aku puas memandangi wajahnya, sampai tuntas aku menghirup aroma tubuhnya. Aku rindu mencumbunya, bahkan aku ingin mendengarkan erangan yang keluar dari bibirnya berulang kali.</p>

<p>Kedua mataku fokus pada jalanan ketika aku segera menghidupkan mobil dan mengendarainya dengan sedikit terburu. Namun di otakku cukup kotor dengan membayangkan Hanna yang tidak berdaya berada di bawah ku, serta mendengarkan rintihan suara seraknya ketika meloloskan desah yang menyebutkan namaku.</p>

<p><em>“Ah, pikiran ku terlalu kotor jika sedang merindukan Hanna.”</em></p>

<p>Sore ini aku sangat beruntung karena jalan Ibukota tidak terlalu ramai, aku bisa mengendarai mobil ku lebih cepat agar aku bisa sampai di rumah Hanna. Aku sempat melihat notif di layar ponselku ketika dering singkat menandakan pesan masuk dan pengirimnya adalah Hansel.</p>

<p><em>“Gue mau balik ke apart Ara aja, lo puasin kangennya sama kakak gue mumpung Halsey masih di Singapura.”</em></p>

<p>Isi pesan singkat dari Hansel sukses membuat senyum ku mengembang. Aku tidak akan membuang waktu karena menurutku, menghabiskan sisa hari ini dan menjemput hari esok dengan memeluk tubuh Hanna adalah salah satu keberuntungan selain memenangkan tender.</p>

<p><strong><em>Hanna pov</em></strong></p>

<p>Aku terkekeh geli ketika membaca pesan singkat Marcell yang terkesan terburu-buru, sebab aku memberikan kabar bahwa aku sudah berada di rumah sore ini.</p>

<p>Hampir dua minggu aku berada di Singapura karena kerinduan pada kedua orang tuaku sudah pada puncaknya. Hampir satu tahun kami tidak saling bertemu lantaran kesibukan masing-masing. Perihal pekerjaan, papa dan aku sama-sama gila bekerja. Terkadang aku lebih suka menghabiskan waktu dengan menyelesaikan pekerjaan bahkan jika harus lembur sekalipun.</p>

<p>Aku sampai tidak peduli dengan urusan percintaan, masa bodoh. Aku hanya fokus pada pekerjaan, dan dua adikku; Hansel dan Halsey. Sampai pada akhirnya aku tertarik dengan Marcell. Mungkin dari sekian banyak orang menganggap ku aneh karena sekarang aku tengah berpacaran dengan lelaki yang usianya dua tahun lebih muda dari aku. Aku hanya tersenyum sinis jika ada rekan kerja ku berkomentar tentang kisah cintaku.</p>

<p>Mereka tidak pernah tau bagaimana Marcell memperlakukan aku bak seorangpun ratu, yang mereka tau hanyalah pacar lebih muda itu sekedar memanfaatkan kemapanan ku.</p>

<p>Mereka salah besar, Marcell tidak pernah memanfaatkan aku. Dari segi pekerjaan dan finansial, Marcell punya porsinya sendiri dan dia jauh lebih mapan dari aku.</p>

<p>Orang lain berkomentar karena hanya melihat dari segi luarnya saja tanpa menelisik lebih dalam. Tetapi jika orang-orang di luaran sana berkeinginan untuk menelisik lebih dalam tentang Marcell, aku akan menolaknya mentah-mentah. Aku siap pasang badan karena aku tidak rela kehidupan pribadi kekasihku di umbar tanpa ragu.</p>

<p>Marcell adalah lelaki bernyali besar ketika menjatuhkan hatinya padaku. Lelaki itu mampu merobohkan benteng pertahanan ku, —yang dengan susah payah aku bangun bertahun lamanya lantaran rasa trauma ku terhadap masa lalu.</p>

<p>Aku tertarik dengan Marcell hanya karena hal yang sederhana.</p>

<p>Senyumnya.</p>

<p>Entah kenapa senyum Marcell adalah senyum terhangat yang pernah aku lihat. Aku merasa tenang jika berbicara dengannya, senyum yang terukir di bibirnya bak sebuah mata air di tengah fatamorgana.</p>

<hr/>

<p>Langkah kaki Hanna mengantarkannya pada sebuah dapur berukuran sedang di sebelah ruang tengah. Handuk kecil masih terlilit di kepalanya serta baju tidur berbahan satin berwarna merah tua menggantung di tubuhnya, sungguh pemandangan yang indah.</p>

<p>Hanna menyandarkan tubuhnya pada <em>kitchen bar</em> sembari menunggu air yang ia panaskan mendidih. Tiba-tiba saja wanita itu menggigit bibir bawahnya ketika membayangkan Marcell tengah mencium bibirnya sembari meremas pinggangnya.</p>

<p>Bayang-bayang yang sempat membuat dirinya resah sendirian itu tiba-tiba saja pecah lantaran suara derap langkah kaki seseorang yang memasuki rumah tanpa permisi. Tanpa mengetuk pintu bahkan tidak ada suara bel yang berdenting nyaring.</p>

<p>Ekor mata Hanna menangkap seseorang yang ia kenal tengah berlari kecil menaiki tangga menuju lantai dua, dimana kamar utama berada di sana. Tanpa melihat sekitar, tanpa mengeluarkan suara bahkan tidak ada panggilan yang keluar dari bibir lelaki itu.</p>

<p>Hanna menahan kekehan ketika tak sampai satu menit lelaki itu setengah berteriak memanggil namanya lantaran tidak menemukan dirinya di kamar. Marcell sibuk mencari keberadaan Hanna sembari menyerukan namanya berulang kali. Lelaki itu menuruni tangga dan menemukan kekasihnya tengah berdiri dengan dua tangan yang terlipat di depan dada.</p>

<p>Senyum Hanna mengembang sempurna ketika melihat sosok Marcell yang rambutnya sedikit acak-acakan, nafas yang memburu karena harus naik turun tangga sembari berlari kecil. Wanita itu semakin meleleh saat Marcell menatapnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki —senyum seringai terlukis jelas pada bibir Marcell seolah-olah siap menerkam mangsa di depan matanya.</p>

<p><em>“Baby...”</em></p>

<p>Langkah Marcell tergesa menghampiri si puan yang tengah merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh Marcell yang melekat erat pada tubuhnya. Merengkuh penuh rasa rindu yang membuncah diantara keduanya, usapan lembut pada punggung Hanna menyalurkan rasa hangat dan nyaman. Aroma tubuh wanita itu bak sebuah candu bagi Marcell, hingga dirinya tak mampu berhenti mencium dan menghirup ceruk leher si puan.</p>

<p><em>“Hei.. Stop. Marcell, stop it.”</em></p>

<p>Marcell tidak bergeming dengan ucapan Hanna, bahkan ketika wanita itu berusaha melepaskan pelukannya, nihil. Sama sekali tidak berhasil, bahkan dengan sengaja Marcell membubuhkan kecupan basah pada ceruk leher Hanna hingga membuat tubuhnya merinding seketika.</p>

<p>Marcell berhasil menahan dua tangan Hanna hingga wanita itu tidak bisa bergerak, bibir Marcell bergerilya hingga menemukan titik terfavorit bagi dirinya.</p>

<p>Lantas lelaki itu melumat bibir ranum milik Hanna, ia menyesap bibir bawahnya hingga wanita itu membuka mulutnya untuk memberikan akses. Marcell mulai menginvasi tiap inchi rongga mulut Hanna tanpa jeda, membuat si puan hampir kehabisan pasokan oksigen.</p>

<p>Hanna ingin melepaskan pertautan keduanya namun di tahan oleh Marcell, tangan kiri lelaki itu menahan dan melekatkan tubuh Hanna pada dirinya. Tangan kanannya sibuk melucuti baju tidur berbahan satin yang menempel di tubuh Hanna.</p>

<p>Si puan berkali-kali melenguh tertahan karena tidak mampu bergerak bahkan meloloskan diri dari Marcell. Lelaki itu semakin bergerak agresif, setelah berhasil melucuti kain yang menempel pada tubuh Hanna kemudian mengangkat tubuh mungil itu ke atas <em>kitchen bar</em>.</p>

<p>Hanna merasakan aliran darahnya mengalir semakin cepat ketika Marcell mulai menjarah bagian titik sensitif miliknya.</p>

<p>Tangan kiri Hanna mencengkeram sudut pada <em>kitchen bar</em>, sedangkan tangan kanannya meremas lengan Marcell.</p>

<p>Hanna meloloskan erangan serta desah yang menyerukan nama lelaki itu mana kala lidah Marcell menyesap dan memainkan puncak dada menggunakan lidahnya. Tangan kanan wanita itu berpindah meremas rambut Marcell seolah-olah meminta lebih pada si tuan.</p>

<p>Setelah puas menjarah payudara Hanna, kemudian lelaki itu menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap lekat kedua mata wanita itu. Marcell tengah mengamati tiap inchi wajah sayu kekasihnya yang mulai di penuhi peluh. Nafas yang mulai memburu serta tubuh polosnya adalah aset paling berharga yang di miliki Marcell.</p>

<p><em>“Do you miss me?”</em></p>

<p>Hanna tersenyum sembari menaikkan alisnya, kemudian menjawab; <em>“I miss you, babe.”</em></p>

<p>Tanpa aba-aba tangan Marcell bergerak mengusap titik sensitif yang masih berlapis celana dalam <em>seamless</em>, jemarinya bergerak sensual hingga membuat Hanna mengerang dan memejamkan kelopak matanya.</p>

<p>Menit berikutnya Marcell menanggalkan kain penutup terakhir aset milik Hanna setelah puas memancing hasrat si puan. Lelaki itupun tak kalah cepat ketika melepaskan kaos hitam yang ia kenakan serta celana pendek berbahan kain yang masih menggantung di tubuhnya.</p>

<p>Hanna menelan ludahnya sendiri lantaran ia melihat kejantanan Marcell yang sudah sepenuhnya ereksi dengan sempurna. Wanita itu tengah membayangkan dirinya tidak lama lagi akan di gempur tanpa ampun oleh sang kekasih.</p>

<p>Rasa rindu yang di tahan hampir dua minggu ternyata sukses membuat Marcell menjadi lebih agresif.</p>

<p>Tangan kanan Marcell perlahan mengocok batang penisnya dengan tempo pelan sembari menatap dua bola mata Hanna. Kerlingan mata nakal Marcell seakan-akan kode bahwa Hanna cukup menyiapkan tubuhnya untuk di jamah lebih lagi oleh si tuan.</p>

<p>Hanna sempat membeku, ia berpikir bahwa dirinya akan habis di setubuhi di atas <em>kitchen bar</em>, pada saat Marcell berjalan pelan mendekatinya. Namun lelaki itu justru kembali melumat bibir Hanna dengan gerakan sedikit kasar, melumat bibirnya sembari mencengkeram helaian rambut yang belum sepenuhnya kering tetapi kembali di basahi oleh peluh. Jemari lelaki itu memutar klitoris dengan gerakan menekan hingga membuat tubuh Hanna menggelinjang.</p>

<p>Ingin rasanya Hanna berteriak namun bibirnya di bungkam oleh bibir sang kekasih, hingga dirinya hanya bisa  melenguh tertahan sembari meremas bahu Marcell.</p>

<p>Tanpa aba-aba dua jari Marcell berhasil menembus liang surgawi milik Hanna yang sudah sangat basah; sebab Marcell sangat gencar memancing libido si puan, membuat wanita itu kepalang kuyup dengan segala sentuhan yang menjarah titik sensitifnya.</p>

<p>Marcell menggerakkan jarinya perlahan, sembari ibu jarinya memainkan klitoris dengan gerakan memutar dan menekan. Beberapa kali tubuh Hanna bergetar, bibirnya di penuhi desah dan racau.</p>

<p>Senyum seringai Marcell kembali terukir di wajah tampannya ketika menatap wajah sayu Hanna, dengan bibir yang menganga mengeluarkan lenguh dan desahan yang semakin lama terdengar resah.</p>

<p>Dinding vagina milik Hanna terasa hangat dan sangat basah, memijit jemari Marcell yang masih bergerak di bawah sana dengan tempo yang kian cepat. Sampai pada titik dimana wanita itu merasakan gelombang kenikmatan.</p>

<p>“Cell, aku mau keluar.”</p>

<p>“Hm? Mau keluar?”</p>

<p>Hanna mengangguk resah, ia berharap Marcell menuntaskan apa yang dia mulai. Namun lelaki itu dengan entengnya mengeluarkan jarinya dengan cepat.</p>

<p>Raut wajah Hanna sontak berubah menjadi merah padam lantaran sedikit lagi ia mencapai titik ternikmat yang di damba namun di hempas begitu saja oleh Marcell. Wanita itu kecewa dan hampir saja menangis, namun Marcell menyambar bibir ranum si puan, mengecupnya hingga beberapa detik.</p>

<p><em>“Sorry, baby.”</em></p>

<p>“Kalau kayak gini lebih enak, kan?”</p>

<p>Marcell menggesekkan batang penisnya pada klitoris Hanna dan melesakkan tanpa aba-aba. Hanna hanya bisa meloloskan desahan yang nyaring terdengar. Lelaki itu menggerakkan pinggulnya pelan, kemudian mengangkat tubuh Hanna. Tangan kekarnya menahan berat tubuh Hanna dengan melingkarkan tangan pada pinggulnya, sedangkan kedua tangan Hanna bertengger pada perpotongan leher Marcell sembari menatap mata lelaki itu.</p>

<p>Marcell berjalan pelan, menaiki tangga dengan posisi menggendong tubuh Hanna yang masih bertaut dengannya. Marcell benar-benar mengatur nafasnya sebab menaiki anak tangga dengan beban yang bertumpu pada tubuhnya itu tidak mudah.</p>

<p>“Sayang, jangan main-main lah.” Gerutu Marcell ketika dengan sengaja Hanna menggerakkan pinggulnya memutar.</p>

<p>Hanna hanya terkekeh sembari menatap wajah Marcell dan mengecup singkat bibir lelaki itu.</p>

<p>Sesampainya di kamar, Marcell merebahkan tubuh Hanna di tepi ranjang. Mengangkat kedua kaki wanita itu kemudian meletakkan di atas bahunya.</p>

<p>Tanpa menunggu lama, Marcell mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Menggempur milik Hanna tanpa ampun. Desahan yang lolos dari bibir Hanna semakin membuat lelaki itu semakin candu, Marcell seakan-akan menginginkan lebih, desahan yang lebih keras, segala racau yang menyebutkan namanya adalah bagian paling favorit bagi lelaki itu.</p>

<p>Hentakan demi hentakan tanpa jeda hingga menumbuk titik sensitif milik Hanna.</p>

<p>Kedua tangan Hanna meremas erat apapun yang bisa ia raih. Sprei, bahkan bantal ia raih hanya untuk melampiaskan rasa nikmat melalui cengkeraman tangannya.</p>

<p>Hingga sampai pada saat keduanya hendak mencapai puncak kenikmatan bersama, hentakan keras semakin tidak beraturan, nafas Marcell semakin memburu hingga peluh yang mengalir pada wajah dan tubuhnya membuat lelaki itu jauh lebih tampan.</p>

<p>Desahan Hanna pun semakin nyaring, semakin tidak bisa di tahan.</p>

<p>“Keluar dimana, sayang?”</p>

<p>“Dalem aja, aku minum pil kok.”</p>

<p>Marcell mengangguk dan menyetujui, kemudian lelaki itu menuntaskan puncak ternikmat yang mereka rindukan. Ia hentakan beberapa kali hingga tubuh Hanna menggelinjang hebat karena wanita itu mencapai klimaksnya lebih dahulu dan di susul oleh Marcell yang sengaja menyemburkan cairan sperma di dalam sana.</p>

<p>Sebelum tubuh Marcell ambruk di sebelah Hanna, lelaki itu menyempatkan untuk membawa tubuh mungil kekasihnya pada posisi yang nyaman. Meletakkan bantal di bawah kepala Hanna, memeluk erat tubuh yang masih di penuhi peluh serta mencium aroma tubuh Hanna adalah salah satu alasan Marcell selalu tidur dengan posisi di belakang Hanna.</p>

<p>“Cell..”</p>

<p>“Hmm?”</p>

<p>“Tau gak? Masa kemarin temen ku ngatain kamu berondong. Terus ngatain kamu tuh cuma manfaatin aku doang.”</p>

<p>Marcell terkekeh, lalu mengecup bahu Hanna yang tidak pernah lolos dari jarahan bibir Marcell.</p>

<p>“Kenapa ketawa sih?” Hanna sedikit kesal karena Marcell hanya terkikik geli tanpa menjawab sepatah katapun.</p>

<p>“Udahlah, gak perlu di tanggapin serius. Di tempat kerja tuh banyak orang julid, jadi bersikap bodoh amat itu lebih baik.”</p>

<p>“Aku tertarik sama kamu tuh bukan dari apapun yang kamu punya, tapi karena kamu tuh cewek sederhana dan nggak kekanak-kanakan.”</p>

<p><em>“This is simple, and i like.”</em></p>

<p>Hanna tersenyum lega, salah satu bukti bahwa ia tidak salah menjatuhkan hati pada Marcell.</p>

<p><em>“Baby,</em> sejak kapan kamu minum pil?” Tanya Marcell sembari mengusap lengan wanitanya.</p>

<p>“Sebulan yang lalu.”</p>

<p>“Aku mulai minum sebulan sebelum berangkat ke Singapura. Sebelum aku berangkat, kamu bukannya lupa gak beli kondom tapi emang sengaja mau di keluarin tanpa pengaman, kan?”</p>

<p>Hanna secara refleks menepuk tangan Marcell yang melingkar pada perutnya.</p>

<p>Mendengar Hanna tengah mengomel, lelaki itu justru meloloskan tawa ringan yang di susul rengkuh lebih erat pada tubuh Hanna.</p>

<p><em>Dua anak manusia ini pada akhirnya merealisasikan untuk menghabiskan sisa hari petang dengan saling memeluk, menyalurkan kehangatan serta kenyamanan.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sinandyou.writeas.com/i-will-never-not-think-about-you</guid>
      <pubDate>Sat, 07 May 2022 17:09:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Heavenly; 3am</title>
      <link>https://sinandyou.writeas.com/heavenly-3am?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Pukul satu dini hari Jenaya masih berkutat dengan laptop di hadapannya, di ruang kamar yang minim cahaya serta hawa dingin dari pendingin ruangan yang menyeruak menembus hingga ke tulang. Hampir satu minggu lamanya, Jena tinggal di rumah Jeffrian. Pada saat itu si tuan rumah sedang berada di luar kota sebab pekerjaan yang menuntutnya untuk meninggalkan Jena serta semua kesibukan di kantor. Jarak rumah Jeffrian tidak terlalu jauh dari kantor sehingga memudahkan Jena untuk melakukan segala aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan.&#xA;&#xA;Satu jam yang lalu dua sejoli yang tengah merindu itu menyempatkan untuk berbicara melalui sambungan telepon, Jeff mengabarkan bahwa ia pulang esok hari karena masih ada satu hal lain yang belum di selesaikan. Jena hanya meng-iya-kan apapun yang di sampaikan oleh Jeff atas dasar saling percaya. Namun sebenarnya Jeff berbohong, pada saat itu Jeff sedang berada di balik kemudi mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah meskipun perjalanan tengah malam di tempuh tiga jam lamanya.&#xA;&#xA;Jena melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, sudah berjam-jam dirinya duduk hingga ia merasa pegal di bagian punggung serta pinggangnya. Esok hari masih ada pekerjaan yang menanti sehingga dirinya bergegas untuk pergi tidur. Ranjang besar dengan balutan sprei berwarna putih gading bermotif garis horizontal mengingatkan Jena akan kegiatan intim dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu sebelum sang kekasih berada di luar kota.&#xA;&#xA;Bayang-bayang dua raga yang tengah beradu birahi malam itu masih lekat di angan Jena, dimana Jeff benar-benar menghabiskan seluruh tenaganya untuk menyetubuhi dirinya dari tengah malam hingga pagi menjelang. Hendak memejamkan mata dan beristirahat barang sejenak pun sampai tidak bisa, karena Jeff enggan melewatkan waktunya untuk tidak menikmati tubuh Jena.&#xA;&#xA;Masih lekat pada ingatan Jena, lima hari yang lalu dirinya di buat lemas tak berdaya hingga terpaksa meninggalkan pekerjaan satu hari penuh. Jeff berhasil membuat Jena sampai tidak bisa berjalan normal seperti biasa, malam itu Jeff menggempur Jena tanpa ampun hingga wanita itu mencapai empat kali orgasme.&#xA;&#xA;Tenaga Jeff tidak main-main, bahkan pagi hari ia harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam lamanya menuju Bandung --pun ia lakoni tanpa beban, tanpa lelah dan kantuk. &#xA;&#xA;Jena tersenyum kala mengingat banyak momen yang sudah ia lakoni bersama Jeff, ia kemudian beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Jena membasuh muka dan mengamati tubuhnya yang pucat. Terlihat samar ruam keunguan menghias permukaan kulit di dadanya sudah hampir hilang. Jena tersenyum tipis, ia memikirkan semua hal tentang Jeff yang sukses membuat dirinya seperti satu-satunya wanita di dunia yang paling beruntung.&#xA;&#xA;Terlalu banyak kata jika di rangkai dalam bentuk kalimat untuk mengungkapkan betapa besar rasa cinta Jenaya kepada Jeffrian, rasa sayang dan rasa saking memiliki satu sama lain --pun juga sebaliknya. Terlalu banyak waktu untuk di lalui berdua, hingga hari-harinya di penuhi banyak hal manis yang senantiasa urung untuk di lupakan. &#xA;&#xA;Jena merebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar, memposisikan tubuhnya menyamping dan meletakkan satu guling di sebelahnya. Jena menepuk-nepuk guling itu kemudian tersenyum dan mulai memejamkan matanya. Sekilas ia membayangkan Jeff ada di sebelahnya saat itu dan hal yang ingin Jena lakukan adalah memeluk kekasihnya erat-erat hingga pagi tiba, jena tidak akan menjauhkan tubuhnya dari Jeff barang satu inchi-pun. Wanita itu ingin menikmati hangat tubuh Jeff di dalam rengkuh senyaman pelukan, selembut usapan, hingga membuat dirinya melupakan sejenak pekerjaan yang sudah menguras waktu dan tenaganya.&#xA;&#xA;Beberapa menit setelah Jena memejamkan mata, tidak perlu lama untuk memasuki alam mimpi. Tubuh serta pikiran yang lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang Jena rasakan membuat dirinya lebih mudah tidur meskipun sudah lewat tengah malam.&#xA;&#xA;------------------------&#xA;&#xA;Sekitar pukul tiga pagi, Jeff tiba di rumah. Suara mobil yang memasuki garasi serta derap langkah Jeff ketika memasuki rumah menuju ruang pribadinya sama sekali tidak membuat Jena terusik. Wanita yang mengenakan dress piyama satin berwarna hitam itu masih terbujur di atas ranjang tanpa bergerak sedikitpun meski suara decitan pintu kamarnya terdengar jelas bergesekan.&#xA;&#xA;Jeff menatap lamat-lamat sosok sang kekasih di tengah ruang minim pencahayaan. Mengamati tiap lekuk tubuh Jena, tergambar jelas ketika baju tidur yang di kenakan wanita itu terangkat hingga atas paha.&#xA;&#xA;Rasa rindu juga nafsu Jeff yang tertahan beberapa hari membuat hasrat untuk menyetubuhi Jena semakin membara. Kejantanannya bergejolak di balik celana jeans panjang yang melekat pada kakinya dan mulai membuat tidak nyaman. &#xA;&#xA;Jeff melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan, mulai dari hoodie dan celana jeans hingga menyisakan kaos hitam dan boxer dengan warna senada.&#xA;&#xA;Jeff berjalan perlahan mendekati Jena yang masih tertidur pulas, si puan tidak menyadari bahwa lelaki yang ia rindukan beberapa hari itu sudah tiba di rumah. Kini Jeff sudah berada di ruang kamar dan berada tepat di sebelah Jena. Jeff mengusap lengan wanitanya, usapan lembut itu kelamaan menjadi usapan yang seduktif. &#xA;&#xA;Deru nafas Jeff yang hangat menyapa kulit Jena, sembari ia bubuhkan kecupan-kecupan basah pada leher, bahu, lengan dan berhasil membuat wanita itu terbangun dari mimpinya. Jena mengerjapkan kedua matanya dan mengusapnya menggunakan punggung tangan beberapa kali hingga ia sadar bahwa di sebelahnya ada sosok lelaki yang ia rindukan.&#xA;&#xA;&#34;Jeff? Kamu udah pulang?&#34; Tanya Jena sembari mengusap pipi kekasihnya. Memastikan bahwa yang berada di hadapannya adalah sebenar-benarnya Jeff dan ia tidak sedang bermimpi. Lelaki itu tersenyum simpul, terlihat jelas lesung pipi menambah kesan manis pada Jeff.&#xA;&#xA;&#34;Yes. I&#39;m at home. Do you miss me, love?&#34; &#xA;&#xA;Bukan Jeff namanya jika saat itu juga si tuan berhasil membuat wanitanya melambung, meski belum sepenuhnya bangkit dari tidur. Jena merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, kemudian jemarinya ia gunakan untuk menyisir rambut Jeff yang sedikit berantakan.&#xA;&#xA;&#34;I miss you. Aku kangen, kangen banget.&#34; Balas Jena sembari tersenyum tipis dan di balas senyuman yang tak kalah mematikan oleh Jeff. Lantas lelaki itu mendaratkan ciuman mesra pada bibir Jena dan segera di balas oleh wanita itu. Jena membiarkan Jeff menikmati rasa manis di setiap sela bibir ranum wanitanya, membiarkan lidah dan bibir Jeff bergerak agresif.&#xA;&#xA;Jena menikmati cumbuan sarat akan gejolak nafsu yang di ciptakan Jeff, membiarkan lelaki itu menyesap dan melumat bibirnya, bertukar saliva hingga mengeksplorasi seluruh rongga mulut Jena yang haus akan kecupan serta lumatan agresif yang sering di lakukan Jeffrian.&#xA;&#xA;Tubuh Jena yang sensitif terhadap sentuhan pun di buatnya merinding ketika Jeff meraba dua buah dada sintal miliknya dari balik dress piyama miliknya. Jena meremat kaos yang masih melekat di tubuh Jeff ketika jemari lelaki itu meremas pelan payudaranya. Tanpa Jena sadari, lenguh serta desah kecil pun lolos dari bibirnya.&#xA;&#xA;Jeff memainkan puncak payudara Jena dengan sentuhan lembut, memutar puting kemerahan yang sudah menegang. Bibirnya masih beradu dan berbelit semakin agresif, membuat wanita itu berkali-kali melenguh tertahan.&#xA;&#xA;Dua anak manusia itu sama-sama merangkum banyak hasrat dan gejolak birahi yang tertahan selama mereka terpisah lima hari lamanya. Rasa rindu yang menggebu serta cumbu mesra yang terburu membawa keduanya untuk saling melucuti kain yang masih melekat di tubuh satu sama lain.&#xA;&#xA;Bibir berpagut semakin dalam dan mesra, membuat Jena semakin larut dalam permainan kekasihnya. Dua tangan Jeff awalnya menjadi tumpuan untuk menahan berat tubuhnya, kini perlahan ia gunakan untuk bergerilya dan menjamah seluruh tubuh wanitanya. &#xA;&#xA;Payudara milik Jena menjadi bagian favorit lelaki itu mana kala puncaknya sudah mencuat tegang. Jeff meraup dan melumat puncak payudara Jena sangat rakus. Menyesap dua payudara Jena secara bergantian, memainkan puncaknya menggunakan lidah Jeff hingga membuat wanita itu melenguh dan mendesah karena nikmat.&#xA;&#xA;&#34;Ouh.. Jeff..&#34;&#xA;&#34;Nghh...&#34;&#xA;&#xA;Dua tangan Jena melampiaskan rasa nikmat dengan meremas surai milik Jeff, dan mendorong kepala lelaki itu agar tetap tinggal dan terus memainkan kedua payudara menggunakan bibirnya. Jena seakan-akan meminta perlakuan lebih agar di manja dan di puaskan oleh Jeff yang berhasil membuat libidonya naik dengan cepat.&#xA;&#xA;Setelah lelaki itu puas dengan dua payudara Jena hingga meninggalkan ruam keunguan tanda kepemilikan yang ia bubuhkan di atas kulit pucat si puan, bibir Jeff bergerak turun. Sembari mendaratkan kecupan-kecupan basah yang membuat Jena tidak kuasa menahan geli hingga tubuhnya bergerak resah. Tangan wanita itu meremat sprei yang mulai berantakan dan bibirnya tak luput dari desah.&#xA;&#xA;Jeff mensejajarkan dirinya dengan pusat tubuh Jena yang sudah sangat basah akibat rangsangan bertubi-tubi yang di berikan oleh lelaki itu. Tangan Jeff membuka lebar kedua paha Jena agar dirinya dapat dengan mudah menjamah dan mengakses liang surgawi milik kekasihnya. &#xA;&#xA;&#34;Babe, your pussy looks so wet. What if i abuse your pussy to make you cum? With my finger? Or my tongue?&#34;&#xA;&#xA;Lidah Jena terasa kelu sampai-sampai dirinya tak kuasa membalas ucapan Jeff yang menurutnya sedikit terdengar kotor. Jena hanya dapat menatap lamat-lamat wajah Jeff yang di banjiri peluh berbias kilau lampu balkon yang cahayanya menembus lewat celah tirai.&#xA;&#xA;&#34;Jenaya.. I want to hear your answer?&#34;&#xA;&#xA;Jeff menginginkan jawaban dari Jena meskipun tanpa bertanya sedetail mungkin, Jeff secara suka rela mampu membuat wanita itu mendapatkan orgasme yang ia dambakan.&#xA;&#xA;&#34;Yes, please. Make me cum with your tongue and finger, i miss it so much.&#34; Jawab Jena lirih, nafasnya masih terengah-engah. Kedua tangannya mencari posisi senyaman mungkin untuk meremas dan melampiaskan segala rasa nikmat yang sebentar lagi ia tempuh.&#xA;&#xA;&#34;Yes, babe. As your wish.&#34; Balas Jeff dengan senyum seringai khas yang tersungging pada bibirnya. &#xA;&#xA;Lantas Jeff mendaratkan lidahnya yang hangat pada bibir vagina milik Jena, menjilati dan menyesap liang surgawi yang sudah basah. Jena melengkungkan tubuhnya kala lidah Jeff bergerak agresif, menjamah liang basah dan lembab itu serta menggigit kecil klitorisnya.&#xA;&#xA;Jena meracau dan berkali-kali mendesahkan nama kekasihnya dengan suara yang parau. Tangannya meremas sprei, bantal dan apapun yang dapat ia raih untuk melampiaskan gejolak birahi yang semakin memanas. Sedangkan tangan Jeff menahan kedua kaki Jena yang terus bergerak resah karena lidah lelaki itu menggelitik tanpa henti, membawa dirinya merasa di terbangkan ke awan.&#xA;&#xA;Bunyi decap antara liang vagina milik Jena yang sangat basah juga lidah Jeff yang terus bergerak agresif terdengar sangat jelas. Beriringan dengan lenguh serta desah yang semakin melengking nyaring.&#xA;&#xA;&#34;Babe, I know that your pussy crave my dick. Really very wet and beautiful.&#34; Ucap Jeff dengan tatapan nakal, ketika menyudahi sesi mengobrak-abrik liang becek menggunakan lidahnya. &#xA;&#xA;Jena hanya bisa memejamkan kelopak mata sembari menggigit bibir bawahnya ketika tanpa aba-aba Jeff melesakkan dua jarinya ke dalam liang vagina milik wanita itu.&#xA;&#xA;&#34;Ouh.. Jeff..&#34; &#xA;&#xA;Jeff menggerakkan jarinya pelan, memberikan gerakan keluar masuk dengan tempo teratur. Merenggangkan dinding vagina milik Jena yang genap lima hari tidak ia jamah sama sekali. Liang surgawi wanita itu terasa hangat dan sangat sempit, menghimpit dua jari Jeff yang mulai bergerak liar.&#xA;&#xA;Jeff menggunakan tangan satunya untuk menahan kaki wanitanya yang terus bergerak semakin resah kala Jeff mendaratkan kembali lidahnya pada klitoris milik Jena yang sudah membengkak. Lidah dan bibir, serta jari lelaki itu bergerak sesuai tugas masing-masing. Merangsang organ intim Jena untuk segera melepaskan cairan pelepasan yang sangat di damba.&#xA;&#xA;&#34;Aahh.. Jeff..&#34;&#xA;&#34;Ouh.. Faster please.. Jeff..&#34;&#xA;&#xA;Jena merintih meminta lebih. Memohon agar Jeff segera menuntaskan permainannya guna merangsang pelepasannya lebih cepat, --pun segera di kabulkan oleh Jeff.&#xA;&#xA;Dua jari Jeff bergerak semakin brutal, ibu jarinya ia gunakan untuk memainkan klitoris dengan gerakan memutar secara kasar. Sedangkan Jeff sibuk memandangi wajah sang puan yang sangat berantakan, helaian surai panjangnya pun sebagian menutupi wajah cantik kekasihnya. Serta tubuh yang di banjiri peluh, menjadikan pemandangan candu baginya.&#xA;&#xA;&#34;Jeff! Aku mau keluar.&#34; Ucap Jena di tengah deru nafas yang terburu, serta racau desah yang semakin nyaring terdengar.&#xA;&#xA;&#34;Come on, Babe. Get your cum out.&#34; &#xA;&#xA;Jeff memberikan rangsangan lebih agresif. Menggerakkan jarinya lebih cepat hingga Jena melengkungkan tubuhnya, membusungkan dada, serta meremas sprei kuat-kuat kala denyar panas merambat ke seluruh tubuh akibat pelepasan pertamanya. Kedua kaki Jena bergerak asal ketika ia mencapai orgasme, namun dengan cepat Jeff menahan kedua kakinya agar wanita itu menuntaskan pelepasan yang sangat di damba.&#xA;&#xA;Jeff tersenyum puas, lalu ia mengeluarkannya dua jarinya yang basah akibat cairan pelepasan yang membanjiri liang vagina sang puan. Lelaki itu kemudian menjilati sisa cairan yang masih menempel pada jarinya, dan membersihkan liang vagina milik Jena menggunakan lidahnya. Menyesap dan menjilati sisa cairan itu hingga bersih.&#xA;&#xA;&#34;Mmm... The cum that comes out is sweet and i like it.&#34; Ujarnya sembari tersenyum menggoda. &#xA;&#xA;Di tengah-tengah nafas yang tidak beraturan, Jena hanya menatap pujaan hatinya sekilas. Di balik senyum dan seringai Jeff, sudah jelas bahwa lelaki itu menyimpan seribu cara untuk menggempur habis-habisan wanita itu dan Jena hanya bisa pasrah.&#xA;&#xA;Jeff lantas mengecup singkat kening dan bibir Jena.&#xA;&#xA;&#34;I love you.&#34; Ucap Jeff.&#xA;&#xA;&#34;I love you more.&#34; Balas Jena dengan tatapan mata yang sayu.&#xA;&#xA;Lantas Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, mensejajarkan kejantanannya yang sudah keras dan tegang tepat di depan kepemilikan Jena. Wanita itu menelan ludah gusar ketika melihat kejantanan milik Jeff yang besar dan kokoh. Meskipun terlihat samar karena ruangan yang minim pencahayaan, namun masih jelas terlintas pada ingatan Jena mana kala kekasihnya itu menyetubuhi dirinya tanpa ampun.&#xA;&#xA;Ingatan persetubuhan dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu membuat seluruh tubuh Jena merinding.&#xA;&#xA;Jeff mengurut batang penisnya pelan, lalu menggeseknya pada permukaan bibir vagina Jena yang basah hingga menyentuh klitorisnya. Jena mendesah pelan dan meremas bantal sebagai media untuk menyalurkan rasa ngilu pada saat Jeff melesakkan batang penisnya perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Ahh... Fuck! So tight and warm, babe.&#34;&#xA;&#xA;Setelah masuk dengan sempurna, Jeff membiarkan batang penisnya tertanam pada liang vagina milik Jena untuk beberapa saat. Membiarkan otot-otot vagina si puan merenggang ketika menerima sepenuhnya kejantanan Jeff. Pun Jena melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Jeff agar dirinya lebih nyaman ketika lelaki itu melakukan penetrasi.&#xA;&#xA;&#34;Jen, aku gerakin ya?&#34; &#xA;&#xA;Pinta Jeff sesaat setelah kejantanannya merasakan dinding vagina milik wanitanya sudah berkedut seakan meminta untuk segera di manjakan oleh penis Jeff yang besar.&#xA;&#xA;Jena hanya menjawab dengan anggukan saja sebelum akhirnya memejamkan kelopak matanya sembari mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Jeff.&#xA;&#xA;&#34;Aahh.. Jeff...&#34;&#xA;&#xA;Lenguh dan desah manja akhirnya lolos dari bibir si puan mana kala Jeff mulai menggerakkan pinggulnya pelan dan masih dengan tempo yang teratur. &#xA;&#xA;Bibir Jeff mendaratkan kecup dan cium di bibir Jena sebelum wanita itu membalas ciuman basah yang kelamaan menjadi lumatan-lumatan candu yang semakin dalam dan menuntut.&#xA;&#xA;Lidah keduanya saling berbelit, bertukar saliva satu sama lain hingga Jena mendesah tertahan ketika tempo gerakan pinggul Jeff semakin keras dan cepat menghujam miliknya.&#xA;&#xA;Tangan Jeff pun tak tinggal diam, satu tangannya bertumpu untuk menopang berat tubuhnya ketika lelaki itu melepaskan pagutan bibir keduanya. Tangan satunya ia gunakan untuk memijat, meremas, dan memilin puting kemerahan yang sudah menegang. Bibir Jeff memainkan, melumat, payudara satunya dengan rakus.&#xA;&#xA;Jena seakan-akan di bawa terbang ke langit ke tujuh karena perlakuan Jeff ketika sedang menyetubuhinya. Lelaki itu tau betul dimana bagian-bagian sensitif pada tubuh Jena, memberikan rangsangan untuk membuat si puan mendapatkan pelepasan yang sangat di damba.&#xA;&#xA;Jeff bukanlah lelaki egois yang hanya semaunya sendiri perihal nafsu birahi. Jeff lebih mendahulukan keinginan Jena apapun perkaranya, bahkan urusan ranjang sekalipun. Jena harus lebih dulu puas, Jena harus lebih dulu mencapai puncak kenikmatan surga dunia sebelum dirinya. Jena yang utama, Jena adalah adalah bagian dari prioritas utamanya ketika sedang bercinta.&#xA;&#xA;&#34;Ahh.. Jeff..&#34;&#xA;&#34;Harder, please..&#34;&#xA;&#xA;Jena merintih meminta lebih, ketika denyar panas sudah menjalar keseluruh tubuh. Gelombang pelepasan hampir ia dapatkan ketika Jeff menumbuk tanpa henti dan semakin keras. Sepersekian detik Jeff mengabulkan permintaan Jena, lelaki itu membuat ancang-ancang dengan menarik batang penisnya hingga ujung dan hampir keluar dari liang vagina Jena kemudian melesakkan kembali dengan keras dan dalam.&#xA;&#xA;&#34;Ahh.. Jeffrian..&#34;&#xA;&#34;Ouh...&#34;&#xA;&#xA;Jena merintih dan mendesah hebat ketika kejantanan lelaki itu berhasil menumbuk miliknya. Jeff meluruskan kedua kaki Jena meletakkan pada kedua bahunya, kedua tangannya ia gunakan untuk mencengkeram paha si puan dan mengulangi gerakan menghujam, menghantam liang kenikmatan Jena hingga tubuh wanita itu bergetar hebat.&#xA;&#xA;&#34;Ahh.. Jeff..&#34;&#xA;&#34;Please...&#34;&#xA;&#xA;Jena memohon dan lelaki itu sudah paham jika Jena sebentar lagi hendak menjemput pelepasannya yang ke dua.&#xA;&#xA;&#34;You wanna cum, huh?&#34;&#xA;&#xA;Jena hanya mengangguk dan pasrah.&#xA;&#xA;&#34;You like it?&#34; &#xA;&#xA;Masih di jawab anggukan oleh Jena dan Jeff terus bergerak brutal, semakin tidak beraturan. Jeff berkali menghentakkan batang penisnya hingga menumbuk tanpa ampun pada milik Jena yang sudah sangat basah, suara tabrakan organ intim dua sejoli itu semakin keras terdengar menggelitik gendang telinga.&#xA;&#xA;&#34;Jen, sorry apa kamu bisa menunggu sebentar lagi? And we will do it together?&#34; Pinta Jeff dengan suara serak dan tubuh yang bermandikan peluh. Nafasnya pun tak kalah tersengal, sama-sama mengejar puncak nikmat yang sebentar lagi di dapat.&#xA;&#xA;&#34;No. Please.. Aku udah nggak kuat, Jeff. Aku nggak tahan mau keluar.&#34; Balas Jena dengan suara lirih di iringi desah nikmat serta pasrah.&#xA;&#xA;&#34;Oke, babe. Get as much out. Hmm.. I love you Jenaya.&#34;&#xA;&#xA;Detik berikutnya Jeff memberi ancang-ancang sebelum menumbuk dengan gerakan keras dan dalam, mendorong penuh miliknya hingga titik ternikmat milik Jena berhasil ia porak porandakan. Bersamaan dengan lengkingan suara parau si puan yang mencapai pelepasannya dengan tubuh yang bergetar hebat. &#xA;&#xA;&#34;Jeff.. Ahh... Jeffrian...&#34;&#xA;&#34;Ouh...&#34;&#xA;&#xA;Desah di iringi racau berkali-kali Jena serukan di tengah deru nafas yang terburu. Kelopak matanya mengatup, tangannya meremas lengan Jeff hingga berbekas kemerahan. &#xA;&#xA;Jeff kemudian memeluk tubuh Jena, mengusap peluh yang membasahi wajahnya, merapikan surai hitam yang sebagian menutupi wajah cantik wanitanya sembari menggerakkan pinggulnya pelan.&#xA;&#xA;&#34;It&#39;s oke, it&#39;s oke. Udah enak kan? Udah lega?&#34; Ucap Jeff sembari memberikan kecupan-kecupan hangat pada kening, kedua mata yang masih terpejam, juga pada bibir Jena yang masih meloloskan desah lirih guna menyalurkan rasa hangat untuk sekedar menenangkan si puan.&#xA;&#xA;&#34;Jen, aku cepetin boleh? Aku juga mau keluar, sayang.&#34; Pinta Jeff lembut sembari mengecup bibir Jena. &#xA;&#xA;Wanita itu mengangguk, menyetujui Jeff untuk segera menuntaskan pelepasannya. Meskipun tubuh Jena lelah dan tidak berdaya namun wanita itu sudah terlanjur takluk, patuh dengan apapun yang Jeff minta.&#xA;&#xA;Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, menggerakkan pinggulnya kembali dengan tempo cepat. Jemari Jeff tidak tahan diam, dengan kasar memutar dan memainkan klitoris Jena membuat wanita itu melenguh kesal.&#xA;&#xA;&#34;Ngghh... Jeffffff!&#34;&#xA;&#xA;Lelaki itu hanya mengeluarkan senyum seringai dan terus menggempur milik Jena sambil memainkan klitoris wanitanya. &#xA;&#xA;&#34;Ahh.. Jeff...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Come on, babe. We can cum together.&#34;&#xA;&#xA;Jena sudah benar-benar pasrah ketika Jeff menggempurnya habis-habisan. Wanita itu sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa, suara serak dan parau pun terdengar sangat lirih, bahkan lebih keras dari suara penyatuan organ intim keduanya ketika bertumbuk dan geraman yang lolos dari bibir Jeff.&#xA;&#xA;&#34;Jeff.. Ahh.. A-aku..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayo sayang, keluarin lagi. Aku bentar lagi keluar.&#34;&#xA;&#xA;Jena hanya mengeratkan cengkeraman pada sprei yang sudah tidak beraturan, kedua matanya terpejam dan tubuhnya lemas terkoyak mengikuti pergerakan tubuh Jeff yang masih bergerak agresif menghujam miliknya. &#xA;&#xA;Hentakan demi hentakan kian rancu, keras dan kasar. Usapan jari-jari Jeff pada klitoris milik sang kekasih kian memutar cepat. Menghantarkan denyar panas dalam tubuh, dan mempercepat aliran darah dari ujung kaki hingga ujung kepala. Detik berikutnya Jeff menjemput pelepasannya dan di susul Jena yang berhasil mencapai orgasme untuk ketiga kalinya. Cairan sperma milik Jeff menyembur kuat, terasa hangat memenuhi liang sempit milik Jena.&#xA;&#xA;&#34;Ouh Jeff..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.. Oh Fuck! Oh yes!&#34;&#xA;&#34;Ahh.. Jena, i love you, Jen, i love you so much.&#34;&#xA;&#xA;Jeff memeluk kembali tubuh Jena yang terkulai lemah. Mengecup tiap inchi wajah kekasihnya yang bermandikan peluh. Lelaki itu kemudian mengeluarkan batang penisnya perlahan dan duduk di tepi ranjang. Ia raih beberapa lembar tisu guna membersihkan kejantanannya yang berlumur cairan pelepasan dan juga milik Jena hingga benar-benar bersih.&#xA;&#xA;&#34;Sayang, aku lupa nggak pakai kondom.&#34; Ucap Jeff terkekeh sembari merebahkan tubuhnya di sebelah Jena. Kemudian menarik selimut guna menutupi tubuh keduanya yang masih polos.&#xA;&#xA;&#34;Kamu kebiasaan.&#34; Balas Jena. Wanita itu merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, ia lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang lelaki itu. Jeff serta merta memeluk dan merengkuh tubuh mungil Jena, mendaratkan kecupan-kecupan singkat pada pucuk kepala sang kekasih.&#xA;&#xA;&#34;Jeff, kakiku lemes banget.&#34; Ucap Jena berbisik lirih sembari memejamkan matanya.&#xA;&#xA;&#34;Nanti nggak usah ke kantor. Lagian ini juga udah hampir jam enam pagi.&#34;&#xA;&#34;Buat istirahat aja ya, tidur sama aku sampai siang.&#34;&#xA;&#xA;Jena pun mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Jeff di balik selimut hangat  dan tebal. Di sambut oleh sinar mentari yang mulai menampakan diri serta ruangan yang awalnya sarat akan hawa panas, kini bergulir menjadi dingin dan sejuk. Membawa rasa nyaman dan damai pada dua sejoli itu hingga sama-sama menjemput mimpi indah. Meninggalkan sejenak rutinitas di pagi hari, melupakan sejenak aktivitas kantor yang melelahkan dan menguras waktu serta tenaga.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Pukul satu dini hari Jenaya masih berkutat dengan laptop di hadapannya, di ruang kamar yang minim cahaya serta hawa dingin dari pendingin ruangan yang menyeruak menembus hingga ke tulang. Hampir satu minggu lamanya, Jena tinggal di rumah Jeffrian. Pada saat itu si tuan rumah sedang berada di luar kota sebab pekerjaan yang menuntutnya untuk meninggalkan Jena serta semua kesibukan di kantor. Jarak rumah Jeffrian tidak terlalu jauh dari kantor sehingga memudahkan Jena untuk melakukan segala aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan.</p>

<p>Satu jam yang lalu dua sejoli yang tengah merindu itu menyempatkan untuk berbicara melalui sambungan telepon, Jeff mengabarkan bahwa ia pulang esok hari karena masih ada satu hal lain yang belum di selesaikan. Jena hanya meng-iya-kan apapun yang di sampaikan oleh Jeff atas dasar saling percaya. Namun sebenarnya Jeff berbohong, pada saat itu Jeff sedang berada di balik kemudi mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah meskipun perjalanan tengah malam di tempuh tiga jam lamanya.</p>

<p>Jena melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, sudah berjam-jam dirinya duduk hingga ia merasa pegal di bagian punggung serta pinggangnya. Esok hari masih ada pekerjaan yang menanti sehingga dirinya bergegas untuk pergi tidur. Ranjang besar dengan balutan sprei berwarna putih gading bermotif garis horizontal mengingatkan Jena akan kegiatan intim dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu sebelum sang kekasih berada di luar kota.</p>

<p>Bayang-bayang dua raga yang tengah beradu birahi malam itu masih lekat di angan Jena, dimana Jeff benar-benar menghabiskan seluruh tenaganya untuk menyetubuhi dirinya dari tengah malam hingga pagi menjelang. Hendak memejamkan mata dan beristirahat barang sejenak pun sampai tidak bisa, karena Jeff enggan melewatkan waktunya untuk tidak menikmati tubuh Jena.</p>

<p>Masih lekat pada ingatan Jena, lima hari yang lalu dirinya di buat lemas tak berdaya hingga terpaksa meninggalkan pekerjaan satu hari penuh. Jeff berhasil membuat Jena sampai tidak bisa berjalan normal seperti biasa, malam itu Jeff menggempur Jena tanpa ampun hingga wanita itu mencapai empat kali orgasme.</p>

<p>Tenaga Jeff tidak main-main, bahkan pagi hari ia harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam lamanya menuju Bandung —pun ia lakoni tanpa beban, tanpa lelah dan kantuk.</p>

<p>Jena tersenyum kala mengingat banyak momen yang sudah ia lakoni bersama Jeff, ia kemudian beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Jena membasuh muka dan mengamati tubuhnya yang pucat. Terlihat samar ruam keunguan menghias permukaan kulit di dadanya sudah hampir hilang. Jena tersenyum tipis, ia memikirkan semua hal tentang Jeff yang sukses membuat dirinya seperti satu-satunya wanita di dunia yang paling beruntung.</p>

<p>Terlalu banyak kata jika di rangkai dalam bentuk kalimat untuk mengungkapkan betapa besar rasa cinta Jenaya kepada Jeffrian, rasa sayang dan rasa saking memiliki satu sama lain —pun juga sebaliknya. Terlalu banyak waktu untuk di lalui berdua, hingga hari-harinya di penuhi banyak hal manis yang senantiasa urung untuk di lupakan.</p>

<p>Jena merebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar, memposisikan tubuhnya menyamping dan meletakkan satu guling di sebelahnya. Jena menepuk-nepuk guling itu kemudian tersenyum dan mulai memejamkan matanya. Sekilas ia membayangkan Jeff ada di sebelahnya saat itu dan hal yang ingin Jena lakukan adalah memeluk kekasihnya erat-erat hingga pagi tiba, jena tidak akan menjauhkan tubuhnya dari Jeff barang satu inchi-pun. Wanita itu ingin menikmati hangat tubuh Jeff di dalam rengkuh senyaman pelukan, selembut usapan, hingga membuat dirinya melupakan sejenak pekerjaan yang sudah menguras waktu dan tenaganya.</p>

<p>Beberapa menit setelah Jena memejamkan mata, tidak perlu lama untuk memasuki alam mimpi. Tubuh serta pikiran yang lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang Jena rasakan membuat dirinya lebih mudah tidur meskipun sudah lewat tengah malam.</p>

<hr/>

<p>Sekitar pukul tiga pagi, Jeff tiba di rumah. Suara mobil yang memasuki garasi serta derap langkah Jeff ketika memasuki rumah menuju ruang pribadinya sama sekali tidak membuat Jena terusik. Wanita yang mengenakan <em>dress</em> piyama satin berwarna hitam itu masih terbujur di atas ranjang tanpa bergerak sedikitpun meski suara decitan pintu kamarnya terdengar jelas bergesekan.</p>

<p>Jeff menatap lamat-lamat sosok sang kekasih di tengah ruang minim pencahayaan. Mengamati tiap lekuk tubuh Jena, tergambar jelas ketika baju tidur yang di kenakan wanita itu terangkat hingga atas paha.</p>

<p>Rasa rindu juga nafsu Jeff yang tertahan beberapa hari membuat hasrat untuk menyetubuhi Jena semakin membara. Kejantanannya bergejolak di balik celana jeans panjang yang melekat pada kakinya dan mulai membuat tidak nyaman.</p>

<p>Jeff melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan, mulai dari hoodie dan celana jeans hingga menyisakan kaos hitam dan boxer dengan warna senada.</p>

<p>Jeff berjalan perlahan mendekati Jena yang masih tertidur pulas, si puan tidak menyadari bahwa lelaki yang ia rindukan beberapa hari itu sudah tiba di rumah. Kini Jeff sudah berada di ruang kamar dan berada tepat di sebelah Jena. Jeff mengusap lengan wanitanya, usapan lembut itu kelamaan menjadi usapan yang seduktif.</p>

<p>Deru nafas Jeff yang hangat menyapa kulit Jena, sembari ia bubuhkan kecupan-kecupan basah pada leher, bahu, lengan dan berhasil membuat wanita itu terbangun dari mimpinya. Jena mengerjapkan kedua matanya dan mengusapnya menggunakan punggung tangan beberapa kali hingga ia sadar bahwa di sebelahnya ada sosok lelaki yang ia rindukan.</p>

<p>“Jeff? Kamu udah pulang?” Tanya Jena sembari mengusap pipi kekasihnya. Memastikan bahwa yang berada di hadapannya adalah sebenar-benarnya Jeff dan ia tidak sedang bermimpi. Lelaki itu tersenyum simpul, terlihat jelas lesung pipi menambah kesan manis pada Jeff.</p>

<p><em>“Yes. I&#39;m at home. Do you miss me, love?”</em></p>

<p>Bukan Jeff namanya jika saat itu juga si tuan berhasil membuat wanitanya melambung, meski belum sepenuhnya bangkit dari tidur. Jena merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, kemudian jemarinya ia gunakan untuk menyisir rambut Jeff yang sedikit berantakan.</p>

<p><em>“I miss you.</em> Aku kangen, kangen banget.” Balas Jena sembari tersenyum tipis dan di balas senyuman yang tak kalah mematikan oleh Jeff. Lantas lelaki itu mendaratkan ciuman mesra pada bibir Jena dan segera di balas oleh wanita itu. Jena membiarkan Jeff menikmati rasa manis di setiap sela bibir ranum wanitanya, membiarkan lidah dan bibir Jeff bergerak agresif.</p>

<p>Jena menikmati cumbuan sarat akan gejolak nafsu yang di ciptakan Jeff, membiarkan lelaki itu menyesap dan melumat bibirnya, bertukar saliva hingga mengeksplorasi seluruh rongga mulut Jena yang haus akan kecupan serta lumatan agresif yang sering di lakukan Jeffrian.</p>

<p>Tubuh Jena yang sensitif terhadap sentuhan pun di buatnya merinding ketika Jeff meraba dua buah dada sintal miliknya dari balik <em>dress</em> piyama miliknya. Jena meremat kaos yang masih melekat di tubuh Jeff ketika jemari lelaki itu meremas pelan payudaranya. Tanpa Jena sadari, lenguh serta desah kecil pun lolos dari bibirnya.</p>

<p>Jeff memainkan puncak payudara Jena dengan sentuhan lembut, memutar puting kemerahan yang sudah menegang. Bibirnya masih beradu dan berbelit semakin agresif, membuat wanita itu berkali-kali melenguh tertahan.</p>

<p>Dua anak manusia itu sama-sama merangkum banyak hasrat dan gejolak birahi yang tertahan selama mereka terpisah lima hari lamanya. Rasa rindu yang menggebu serta cumbu mesra yang terburu membawa keduanya untuk saling melucuti kain yang masih melekat di tubuh satu sama lain.</p>

<p>Bibir berpagut semakin dalam dan mesra, membuat Jena semakin larut dalam permainan kekasihnya. Dua tangan Jeff awalnya menjadi tumpuan untuk menahan berat tubuhnya, kini perlahan ia gunakan untuk bergerilya dan menjamah seluruh tubuh wanitanya.</p>

<p>Payudara milik Jena menjadi bagian favorit lelaki itu mana kala puncaknya sudah mencuat tegang. Jeff meraup dan melumat puncak payudara Jena sangat rakus. Menyesap dua payudara Jena secara bergantian, memainkan puncaknya menggunakan lidah Jeff hingga membuat wanita itu melenguh dan mendesah karena nikmat.</p>

<p>“Ouh.. Jeff..”
“Nghh...”</p>

<p>Dua tangan Jena melampiaskan rasa nikmat dengan meremas surai milik Jeff, dan mendorong kepala lelaki itu agar tetap tinggal dan terus memainkan kedua payudara menggunakan bibirnya. Jena seakan-akan meminta perlakuan lebih agar di manja dan di puaskan oleh Jeff yang berhasil membuat libidonya naik dengan cepat.</p>

<p>Setelah lelaki itu puas dengan dua payudara Jena hingga meninggalkan ruam keunguan tanda kepemilikan yang ia bubuhkan di atas kulit pucat si puan, bibir Jeff bergerak turun. Sembari mendaratkan kecupan-kecupan basah yang membuat Jena tidak kuasa menahan geli hingga tubuhnya bergerak resah. Tangan wanita itu meremat sprei yang mulai berantakan dan bibirnya tak luput dari desah.</p>

<p>Jeff mensejajarkan dirinya dengan pusat tubuh Jena yang sudah sangat basah akibat rangsangan bertubi-tubi yang di berikan oleh lelaki itu. Tangan Jeff membuka lebar kedua paha Jena agar dirinya dapat dengan mudah menjamah dan mengakses liang surgawi milik kekasihnya.</p>

<p><em>“Babe, your pussy looks so wet. What if i abuse your pussy to make you cum? With my finger? Or my tongue?”</em></p>

<p>Lidah Jena terasa kelu sampai-sampai dirinya tak kuasa membalas ucapan Jeff yang menurutnya sedikit terdengar kotor. Jena hanya dapat menatap lamat-lamat wajah Jeff yang di banjiri peluh berbias kilau lampu balkon yang cahayanya menembus lewat celah tirai.</p>

<p>“Jenaya.. <em>I want to hear your answer?</em>“</p>

<p>Jeff menginginkan jawaban dari Jena meskipun tanpa bertanya sedetail mungkin, Jeff secara suka rela mampu membuat wanita itu mendapatkan orgasme yang ia dambakan.</p>

<p><em>“Yes, please. Make me cum with your tongue and finger, i miss it so much.”</em> Jawab Jena lirih, nafasnya masih terengah-engah. Kedua tangannya mencari posisi senyaman mungkin untuk meremas dan melampiaskan segala rasa nikmat yang sebentar lagi ia tempuh.</p>

<p><em>“Yes, babe. As your wish.”</em> Balas Jeff dengan senyum seringai khas yang tersungging pada bibirnya.</p>

<p>Lantas Jeff mendaratkan lidahnya yang hangat pada bibir vagina milik Jena, menjilati dan menyesap liang surgawi yang sudah basah. Jena melengkungkan tubuhnya kala lidah Jeff bergerak agresif, menjamah liang basah dan lembab itu serta menggigit kecil klitorisnya.</p>

<p>Jena meracau dan berkali-kali mendesahkan nama kekasihnya dengan suara yang parau. Tangannya meremas sprei, bantal dan apapun yang dapat ia raih untuk melampiaskan gejolak birahi yang semakin memanas. Sedangkan tangan Jeff menahan kedua kaki Jena yang terus bergerak resah karena lidah lelaki itu menggelitik tanpa henti, membawa dirinya merasa di terbangkan ke awan.</p>

<p>Bunyi decap antara liang vagina milik Jena yang sangat basah juga lidah Jeff yang terus bergerak agresif terdengar sangat jelas. Beriringan dengan lenguh serta desah yang semakin melengking nyaring.</p>

<p><em>“Babe, I know that your pussy crave my dick. Really very wet and beautiful.”</em> Ucap Jeff dengan tatapan nakal, ketika menyudahi sesi mengobrak-abrik liang becek menggunakan lidahnya.</p>

<p>Jena hanya bisa memejamkan kelopak mata sembari menggigit bibir bawahnya ketika tanpa aba-aba Jeff melesakkan dua jarinya ke dalam liang vagina milik wanita itu.</p>

<p>“Ouh.. Jeff..”</p>

<p>Jeff menggerakkan jarinya pelan, memberikan gerakan keluar masuk dengan tempo teratur. Merenggangkan dinding vagina milik Jena yang genap lima hari tidak ia jamah sama sekali. Liang surgawi wanita itu terasa hangat dan sangat sempit, menghimpit dua jari Jeff yang mulai bergerak liar.</p>

<p>Jeff menggunakan tangan satunya untuk menahan kaki wanitanya yang terus bergerak semakin resah kala Jeff mendaratkan kembali lidahnya pada klitoris milik Jena yang sudah membengkak. Lidah dan bibir, serta jari lelaki itu bergerak sesuai tugas masing-masing. Merangsang organ intim Jena untuk segera melepaskan cairan pelepasan yang sangat di damba.</p>

<p>“Aahh.. Jeff..”
“Ouh.. <em>Faster please..</em> Jeff..”</p>

<p>Jena merintih meminta lebih. Memohon agar Jeff segera menuntaskan permainannya guna merangsang pelepasannya lebih cepat, —pun segera di kabulkan oleh Jeff.</p>

<p>Dua jari Jeff bergerak semakin brutal, ibu jarinya ia gunakan untuk memainkan klitoris dengan gerakan memutar secara kasar. Sedangkan Jeff sibuk memandangi wajah sang puan yang sangat berantakan, helaian surai panjangnya pun sebagian menutupi wajah cantik kekasihnya. Serta tubuh yang di banjiri peluh, menjadikan pemandangan candu baginya.</p>

<p>“Jeff! Aku mau keluar.” Ucap Jena di tengah deru nafas yang terburu, serta racau desah yang semakin nyaring terdengar.</p>

<p><em>“Come on, Babe. Get your cum out.”</em></p>

<p>Jeff memberikan rangsangan lebih agresif. Menggerakkan jarinya lebih cepat hingga Jena melengkungkan tubuhnya, membusungkan dada, serta meremas sprei kuat-kuat kala denyar panas merambat ke seluruh tubuh akibat pelepasan pertamanya. Kedua kaki Jena bergerak asal ketika ia mencapai orgasme, namun dengan cepat Jeff menahan kedua kakinya agar wanita itu menuntaskan pelepasan yang sangat di damba.</p>

<p>Jeff tersenyum puas, lalu ia mengeluarkannya dua jarinya yang basah akibat cairan pelepasan yang membanjiri liang vagina sang puan. Lelaki itu kemudian menjilati sisa cairan yang masih menempel pada jarinya, dan membersihkan liang vagina milik Jena menggunakan lidahnya. Menyesap dan menjilati sisa cairan itu hingga bersih.</p>

<p>“Mmm... <em>The cum that comes out is sweet and i like it.</em>” Ujarnya sembari tersenyum menggoda.</p>

<p>Di tengah-tengah nafas yang tidak beraturan, Jena hanya menatap pujaan hatinya sekilas. Di balik senyum dan seringai Jeff, sudah jelas bahwa lelaki itu menyimpan seribu cara untuk menggempur habis-habisan wanita itu dan Jena hanya bisa pasrah.</p>

<p>Jeff lantas mengecup singkat kening dan bibir Jena.</p>

<p><em>“I love you.”</em> Ucap Jeff.</p>

<p><em>“I love you more.”</em> Balas Jena dengan tatapan mata yang sayu.</p>

<p>Lantas Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, mensejajarkan kejantanannya yang sudah keras dan tegang tepat di depan kepemilikan Jena. Wanita itu menelan ludah gusar ketika melihat kejantanan milik Jeff yang besar dan kokoh. Meskipun terlihat samar karena ruangan yang minim pencahayaan, namun masih jelas terlintas pada ingatan Jena mana kala kekasihnya itu menyetubuhi dirinya tanpa ampun.</p>

<p>Ingatan persetubuhan dirinya dengan Jeff beberapa hari yang lalu membuat seluruh tubuh Jena merinding.</p>

<p>Jeff mengurut batang penisnya pelan, lalu menggeseknya pada permukaan bibir vagina Jena yang basah hingga menyentuh klitorisnya. Jena mendesah pelan dan meremas bantal sebagai media untuk menyalurkan rasa ngilu pada saat Jeff melesakkan batang penisnya perlahan.</p>

<p>“Ahh... <em>Fuck! So tight and warm, babe.</em>“</p>

<p>Setelah masuk dengan sempurna, Jeff membiarkan batang penisnya tertanam pada liang vagina milik Jena untuk beberapa saat. Membiarkan otot-otot vagina si puan merenggang ketika menerima sepenuhnya kejantanan Jeff. Pun Jena melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Jeff agar dirinya lebih nyaman ketika lelaki itu melakukan penetrasi.</p>

<p>“Jen, aku gerakin ya?”</p>

<p>Pinta Jeff sesaat setelah kejantanannya merasakan dinding vagina milik wanitanya sudah berkedut seakan meminta untuk segera di manjakan oleh penis Jeff yang besar.</p>

<p>Jena hanya menjawab dengan anggukan saja sebelum akhirnya memejamkan kelopak matanya sembari mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Jeff.</p>

<p>“Aahh.. Jeff...”</p>

<p>Lenguh dan desah manja akhirnya lolos dari bibir si puan mana kala Jeff mulai menggerakkan pinggulnya pelan dan masih dengan tempo yang teratur.</p>

<p>Bibir Jeff mendaratkan kecup dan cium di bibir Jena sebelum wanita itu membalas ciuman basah yang kelamaan menjadi lumatan-lumatan candu yang semakin dalam dan menuntut.</p>

<p>Lidah keduanya saling berbelit, bertukar saliva satu sama lain hingga Jena mendesah tertahan ketika tempo gerakan pinggul Jeff semakin keras dan cepat menghujam miliknya.</p>

<p>Tangan Jeff pun tak tinggal diam, satu tangannya bertumpu untuk menopang berat tubuhnya ketika lelaki itu melepaskan pagutan bibir keduanya. Tangan satunya ia gunakan untuk memijat, meremas, dan memilin puting kemerahan yang sudah menegang. Bibir Jeff memainkan, melumat, payudara satunya dengan rakus.</p>

<p>Jena seakan-akan di bawa terbang ke langit ke tujuh karena perlakuan Jeff ketika sedang menyetubuhinya. Lelaki itu tau betul dimana bagian-bagian sensitif pada tubuh Jena, memberikan rangsangan untuk membuat si puan mendapatkan pelepasan yang sangat di damba.</p>

<p>Jeff bukanlah lelaki egois yang hanya semaunya sendiri perihal nafsu birahi. Jeff lebih mendahulukan keinginan Jena apapun perkaranya, bahkan urusan ranjang sekalipun. Jena harus lebih dulu puas, Jena harus lebih dulu mencapai puncak kenikmatan surga dunia sebelum dirinya. Jena yang utama, Jena adalah adalah bagian dari prioritas utamanya ketika sedang bercinta.</p>

<p>“Ahh.. Jeff..”
<em>“Harder, please..”</em></p>

<p>Jena merintih meminta lebih, ketika denyar panas sudah menjalar keseluruh tubuh. Gelombang pelepasan hampir ia dapatkan ketika Jeff menumbuk tanpa henti dan semakin keras. Sepersekian detik Jeff mengabulkan permintaan Jena, lelaki itu membuat ancang-ancang dengan menarik batang penisnya hingga ujung dan hampir keluar dari liang vagina Jena kemudian melesakkan kembali dengan keras dan dalam.</p>

<p>“Ahh.. Jeffrian..”
“Ouh...”</p>

<p>Jena merintih dan mendesah hebat ketika kejantanan lelaki itu berhasil menumbuk miliknya. Jeff meluruskan kedua kaki Jena meletakkan pada kedua bahunya, kedua tangannya ia gunakan untuk mencengkeram paha si puan dan mengulangi gerakan menghujam, menghantam liang kenikmatan Jena hingga tubuh wanita itu bergetar hebat.</p>

<p>“Ahh.. Jeff..”
<em>“Please...”</em></p>

<p>Jena memohon dan lelaki itu sudah paham jika Jena sebentar lagi hendak menjemput pelepasannya yang ke dua.</p>

<p><em>“You wanna cum, huh?”</em></p>

<p>Jena hanya mengangguk dan pasrah.</p>

<p><em>“You like it?”</em></p>

<p>Masih di jawab anggukan oleh Jena dan Jeff terus bergerak brutal, semakin tidak beraturan. Jeff berkali menghentakkan batang penisnya hingga menumbuk tanpa ampun pada milik Jena yang sudah sangat basah, suara tabrakan organ intim dua sejoli itu semakin keras terdengar menggelitik gendang telinga.</p>

<p>“Jen, <em>sorry</em> apa kamu bisa menunggu sebentar lagi? <em>And we will do it together?</em>” Pinta Jeff dengan suara serak dan tubuh yang bermandikan peluh. Nafasnya pun tak kalah tersengal, sama-sama mengejar puncak nikmat yang sebentar lagi di dapat.</p>

<p><em>“No. Please..</em> Aku udah nggak kuat, Jeff. Aku nggak tahan mau keluar.” Balas Jena dengan suara lirih di iringi desah nikmat serta pasrah.</p>

<p><em>“Oke, babe. Get as much out.</em> Hmm.. <em>I love you</em> Jenaya.”</p>

<p>Detik berikutnya Jeff memberi ancang-ancang sebelum menumbuk dengan gerakan keras dan dalam, mendorong penuh miliknya hingga titik ternikmat milik Jena berhasil ia porak porandakan. Bersamaan dengan lengkingan suara parau si puan yang mencapai pelepasannya dengan tubuh yang bergetar hebat.</p>

<p>“Jeff.. Ahh... Jeffrian...”
“Ouh...”</p>

<p>Desah di iringi racau berkali-kali Jena serukan di tengah deru nafas yang terburu. Kelopak matanya mengatup, tangannya meremas lengan Jeff hingga berbekas kemerahan.</p>

<p>Jeff kemudian memeluk tubuh Jena, mengusap peluh yang membasahi wajahnya, merapikan surai hitam yang sebagian menutupi wajah cantik wanitanya sembari menggerakkan pinggulnya pelan.</p>

<p><em>“It&#39;s oke, it&#39;s oke.</em> Udah enak kan? Udah lega?” Ucap Jeff sembari memberikan kecupan-kecupan hangat pada kening, kedua mata yang masih terpejam, juga pada bibir Jena yang masih meloloskan desah lirih guna menyalurkan rasa hangat untuk sekedar menenangkan si puan.</p>

<p>“Jen, aku cepetin boleh? Aku juga mau keluar, sayang.” Pinta Jeff lembut sembari mengecup bibir Jena.</p>

<p>Wanita itu mengangguk, menyetujui Jeff untuk segera menuntaskan pelepasannya. Meskipun tubuh Jena lelah dan tidak berdaya namun wanita itu sudah terlanjur takluk, patuh dengan apapun yang Jeff minta.</p>

<p>Jeff membuka lebar kedua kaki Jena, menggerakkan pinggulnya kembali dengan tempo cepat. Jemari Jeff tidak tahan diam, dengan kasar memutar dan memainkan klitoris Jena membuat wanita itu melenguh kesal.</p>

<p>“Ngghh... Jeffffff!”</p>

<p>Lelaki itu hanya mengeluarkan senyum seringai dan terus menggempur milik Jena sambil memainkan klitoris wanitanya.</p>

<p>“Ahh.. Jeff...”</p>

<p><em>“Come on, babe. We can cum together.”</em></p>

<p>Jena sudah benar-benar pasrah ketika Jeff menggempurnya habis-habisan. Wanita itu sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa, suara serak dan parau pun terdengar sangat lirih, bahkan lebih keras dari suara penyatuan organ intim keduanya ketika bertumbuk dan geraman yang lolos dari bibir Jeff.</p>

<p>“Jeff.. Ahh.. A-aku..”</p>

<p>“Ayo sayang, keluarin lagi. Aku bentar lagi keluar.”</p>

<p>Jena hanya mengeratkan cengkeraman pada sprei yang sudah tidak beraturan, kedua matanya terpejam dan tubuhnya lemas terkoyak mengikuti pergerakan tubuh Jeff yang masih bergerak agresif menghujam miliknya.</p>

<p>Hentakan demi hentakan kian rancu, keras dan kasar. Usapan jari-jari Jeff pada klitoris milik sang kekasih kian memutar cepat. Menghantarkan denyar panas dalam tubuh, dan mempercepat aliran darah dari ujung kaki hingga ujung kepala. Detik berikutnya Jeff menjemput pelepasannya dan di susul Jena yang berhasil mencapai orgasme untuk ketiga kalinya. Cairan sperma milik Jeff menyembur kuat, terasa hangat memenuhi liang sempit milik Jena.</p>

<p>“Ouh Jeff..”</p>

<p>“Hmm.. <em>Oh Fuck! Oh yes!</em>“
“Ahh.. Jena, <em>i love you, Jen, i love you so much.</em>“</p>

<p>Jeff memeluk kembali tubuh Jena yang terkulai lemah. Mengecup tiap inchi wajah kekasihnya yang bermandikan peluh. Lelaki itu kemudian mengeluarkan batang penisnya perlahan dan duduk di tepi ranjang. Ia raih beberapa lembar tisu guna membersihkan kejantanannya yang berlumur cairan pelepasan dan juga milik Jena hingga benar-benar bersih.</p>

<p>“Sayang, aku lupa nggak pakai kondom.” Ucap Jeff terkekeh sembari merebahkan tubuhnya di sebelah Jena. Kemudian menarik selimut guna menutupi tubuh keduanya yang masih polos.</p>

<p>“Kamu kebiasaan.” Balas Jena. Wanita itu merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Jeff, ia lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang lelaki itu. Jeff serta merta memeluk dan merengkuh tubuh mungil Jena, mendaratkan kecupan-kecupan singkat pada pucuk kepala sang kekasih.</p>

<p>“Jeff, kakiku lemes banget.” Ucap Jena berbisik lirih sembari memejamkan matanya.</p>

<p>“Nanti nggak usah ke kantor. Lagian ini juga udah hampir jam enam pagi.”
“Buat istirahat aja ya, tidur sama aku sampai siang.”</p>

<p>Jena pun mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Jeff di balik selimut hangat  dan tebal. Di sambut oleh sinar mentari yang mulai menampakan diri serta ruangan yang awalnya sarat akan hawa panas, kini bergulir menjadi dingin dan sejuk. Membawa rasa nyaman dan damai pada dua sejoli itu hingga sama-sama menjemput mimpi indah. Meninggalkan sejenak rutinitas di pagi hari, melupakan sejenak aktivitas kantor yang melelahkan dan menguras waktu serta tenaga.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sinandyou.writeas.com/heavenly-3am</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Mar 2022 14:45:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Friend to Lover</title>
      <link>https://sinandyou.writeas.com/friend-to-lover?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Adisty membenahi diri sesaat setelah membalas pesan dari Tomy. Merapikan rambut yang terlihat berantakan, mengusap air mata yang membasahi pipinya. Pergelangan tangan kirinya terasa sangat perih ketika beberapa kali Adisty mencoba menyayatnya menggunakan pisau kecil. &#xA;&#xA;Beberapa kali ia menyayat pergelangan tangannya namun hingga Tomy tiba di kamar, ia masih baik-baik saja. Padahal Adisty berharap ia mati secepatnya. Pikiran Adisty sudah buntu, bisikan-bisikan setan membujuknya untuk segera mengakhiri hidup. Namun malam itu Tuhan masih menginginkan Adisty untuk tetap hidup.&#xA;&#xA;Adisty merasa gagal menjadi seorang wanita, sebagai seorang kekasih meskipun berawal bukan dari kesalahannya. Hidupnya kini di ambang kehancuran, ketika ia membatalkan rencana pertunangannya secara sepihak. Bagaimana tidak, dua keluarga yang awalnya baik-baik saja dan sama-sama mensupport hubungan keduanya hingga mendukung untuk segera bertunangan, kini sudah tidak berarti apa-apa lagi.&#xA;&#xA;Tomy bergegas masuk setelah mengetahui passcode yang baru saja ia dapatkan dari pesan singkat. Satu kantong plastik putih berisi nasi kulit kesukaan sang pemilik unit siap di santap guna memenuhi perut kosong mereka.&#xA;&#xA;&#34;Dis.. Dimana lo?&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu memanggil si tuan rumah yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Ruang tamu, ruang tengah bahkan ruang makan tampak kosong dan sepi. Lantas Tomy bergegas menuju ruang paling akhir yang belum ia jamah sama sekali.&#xA;&#xA;Decitan pintu kamar Adisty terdengar jelas ketika Tomy membukanya perlahan. Ekor matanya menangkap sahabatnya tengah meringis sembari memegangi pergelangan tangannya yang mengeluarkan darah, kemudian wanita itu berlari kecil ke arah kamar mandi.&#xA;&#xA;&#34;Dis.. Adisty!&#34; Pekik Tomy sesaat setelah menyadari sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. &#xA;&#xA;Tomy berlari mengikuti kemana arah Adisty pergi, langkah kakinya bergegas mengejar sang puan dan berhasil merangkul tubuhnya.&#xA;&#xA;&#34;Lo kenapa?? Anjing! Kenapa berdarah-darah gini, bego!&#34; &#xA;&#xA;Makian tak henti-hentinya lolos dari bibir Tomy yang kala itu panik bukan main. Darah terus mengalir lewat pergelangan tangan Adisty dan empu-nya menangis sembari memegang erat bahu lelaki yang tengah mendekapnya. Alih-alih ingin menyembunyikan dari Tomy tetapi mungkin Tuhan sudah merencanakan hal lain. &#xA;&#xA;Tomy berusaha setenang mungkin meskipun dalam hatinya sudah tidak bisa di gambarkan lagi bak benang kusut. Sedangkan Adisty tengah merutuki dirinya sendiri yang tidak lihai dalam menyembunyikan sesuatu termasuk rencana bodohnya.&#xA;&#xA;&#34;Dis, sinting lo ya?! Kalau ada apa-apa cerita, bego. Bukannya kayak gini, emang kalau lo mati masalah selesai?!&#34;&#xA;&#xA;Adisty masih dalam isak tangis yang tak kunjung berhenti, dadanya sesak, rasa sakit hati yang ia rasakan sudah sampai pada puncaknya. &#xA;&#xA;Tomy dengan telaten membersihkan tangan Adisty dari sisa darah yang berhenti mengalir, luka sobek di pergelangan tangan tidak terlalu dalam sehingga nyawa wanita itu masih bisa di selamatkan. Tomy membawa tubuh Adisty ke dalam kamar, mendudukkan di tepi ranjang besar lalu ia mengambil kotak P3K yang berada di ruang tengah. &#xA;&#xA;Bibir Adisty masih saja membisu, hanya isak tangis yang belum juga sirna. Wanita itu memandangi sahabatnya tengah membubuhkan obat merah dan melingkarkan perban guna menutup luka. Setelah selesai, Tomy berjalan keluar kamar guna mengambil kantong plastik yang berisi nasi kulit kesukaan Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Kalau gue gak bawa nasi kulit, mungkin lo udah mati, Dis.&#34;&#xA;&#34;Lemah banget sama nasi kulit.&#34;&#xA;&#xA;Adisty tersenyum kecut, sorot matanya sedikit berbinar ketika melihat nasi kulit favoritnya. Terlebih dirinya sudah berhari-hari tidak makan nasi, perutnya hanya di isi oleh makanan instan.&#xA;&#xA;&#34;Gue bisa makan sendiri, Tom.&#34; Ucap Adisty lirih, tangannya meraih satu box nasi kulit yang berada di sampingnya namun Tomy lebih cepat menahan gerak Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Diem lo. Gue suapin aja, lo nyender dah biar enak duduknya.&#34; &#xA;&#xA;Adisty menuruti permintaan Tomy, ia menyandarkan tubuhnya pada headboard kemudian meletakkan satu bantal di atas pahanya. Suapan demi suapan dengan sangat telaten Tomy menyuapi sahabatnya, mengesampingkan dirinya sendiri tanpa peduli perutnya sudah meronta minta di isi.&#xA;&#xA;&#34;Perut lo bunyi tuh, sini gue makan sendiri aja.&#34; Tutur Adisty ketika mendengar suara perut Tomy mulai keroncongan.&#xA;&#xA;&#34;Lo kelar makan, baru gue.&#34; Balas Tomy singkat. Kemudian lelaki itu merampungkan tiga suapan terakhir untuk Adisty, sebelum ia sendiri menyantap nasi kulit yang masih tersisa satu porsi.&#xA;&#xA;Adisty masih duduk di posisinya, mengamati sahabatnya tengah menikmati seporsi nasi kulit yang memang menjadi makanan favorit keduanya. Menyendok dan melahap potongan-potongan kulit krispi dengan saus asam manis yang sangat menggugah selera.&#xA;&#xA;&#34;Lo sebenernya ada masalah apa? Gak mungkin kalau cuma masalah coffee shop sepi. Pasti ada masalah lain kan?&#34; Cecar Tomy di sela-sela aktivitas makannya.&#xA;&#xA;Adisty masih terdiam, ia sedang memutar otak dari mana harus memulai menceritakan hal yang selama beberapa minggu terakhir ia sembunyikan rapat-rapat. &#xA;&#xA;Ruang kamar Adisty menjadi hening, dua insan yang berada di dalamnya sama-sama terdiam tanpa suara. Hanya decapan lirih dari bibir Tomy yang masih sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya.&#xA;&#xA;&#34;Cowok gue selingkuh.&#34;&#xA;&#xA;Tomy berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan mengunyah makanan di mulutnya. &#xA;&#xA;&#34;Gue batalin rencana pertunangan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dua hari lagi lo tunangan kan? Emang gak bisa di selesaikan secara baik-baik?&#34; Tanya tomy. Lelaki itu masih sibuk dengan makanan di tangannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Enggak.&#34; Jawab Adisty singkat. Wanita itu membawa laptop yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur, kemudian menyodorkan benda itu ke hadapan sahabatnya. Jarinya dengan terampil memutar ulang sebuah video dari dalam laptopnya.&#xA;&#xA;&#34;Anjing! Gue lagi makan, Dis. Lo ngapain nyuruh gue liat bokep?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Itu cowok gue, sama mantan pacarnya.&#34; Balas Adisty singkat, wanita itu kembali menyandarkan tubuhnya pada headboard dan mengehela nafas kasar.&#xA;&#xA;&#34;Bajingan. Maksud cowok lo apa dah?!&#34; Ucap Tomy mulai tersulut emosi ketika melihat adegan ranjang calon tunangan Adisty dengan mantan kekasihnya.&#xA;&#xA;Tomy meletakkan box yang masih tersisa nasi kulit, di atas nakas. Sorot matanya fokus pada laptop yang memutar video melalui rekaman CCTV. &#xA;&#xA;Dua bulan yang lalu ketika Adisty dan sang kekasih tengah makan malam di sebuah resto favoritnya, mereka bertemu dengan wanita yang di ketahui adalah mantan pacar Dito. Ya, sebut saja Dito adalah calon tunangan Adisty. Percakapan dua anak manusia secara tidak sengaja seakan mengembalikan kenangan lama dan rasa yang belum usai diantara Dito dan mantan pacarannya.&#xA;&#xA;Setelah pertemuan itu, Dito di rasa berbeda, berubah menjadi lelaki yang hobi ingkar janji. Padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali, Adisty adalah prioritas bagi sang pujaan hati.&#xA;&#xA;Kecurigaan Adisty memuncak ketika suatu hari mereka hendak fitting kebaya dan setelan jas untuk acara pertunangan yang akan di gelar dalam waktu dekat. Dito bukannya ikut bersama Adisty tetapi alasan yang tidak masuk akal pun menjadi tameng untuk menutupi segala kebohongan yang pada akhirnya terbongkar.&#xA;&#xA;Adisty bukanlah wanita yang hanya tinggal diam, dan siap di komando oleh sang kekasih. Adisty termasuk dalam katagori wanita nekat dan bernyali besar. Sekitar satu bulan yang lalu Adisty berkunjung ke Bandung, jarak yang di tempuh dua setengah jam dari Tangerang adalah waktu yang bukan apa-apa bagi Adisty untuk melancarkan aksinya. Pikiran kotor serta berbagai macam kecurigaan yang berhari-hari ia pendam sendiri, pada akhirnya membuat dirinya ingin tau apa yang sebenarnya di lakukan Dito di belakangnya.&#xA;&#xA;Adisty mempunyai kunci cadangan untuk mengakses rumah Dito tanpa sepengetahuan sang kekasih. Pagi sekitar pukul 9 Adisty tiba di rumah Dito, tentu saja sang tuan rumah sudah berangkat ke kantor sejak pukul setengah tujuh pagi. Wanita itu bergegas ke kamar milik Dito yang berada di lantai dua. Tanpa meninggalkan jejak, Adisty memasang kamera CCTV yang dapat di pantau jarak jauh melalui smartphone-nya. CCTV yang terpasang di tengah-tengah dua sisi bingkai foto di atas nakas sebelah tempat tidur Dito dapat terlihat jelas segala aktivitas di dalam kamarnya.&#xA;&#xA;Sesungguhnya Adisty berharap Dito baik-baik saja selama keduanya masih berhubungan dengan baik, --pun tidak ada perselisihan yang berarti selama beberapa minggu terakhir. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain hingga memutuskan untuk merencanakan pertunangan, bahkan ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu pernikahan. Wanita itu berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah dirinya memberanikan diri memasang CCTV di dalam kamar sang kekasih. Tetapi di sisi lain, apapun yang akan terjadi nantinya Adisty harus siap batin dan mental.&#xA;&#xA;Satu minggu pertama masih aman, semua berjalan semestinya. Dito hanya terlihat beraktivitas seperti biasanya, bangun tidur, mandi, berangkat ke kantor, pulang, mandi, tidur lagi. Minggu ke dua sama sekali tidak ada yang mencurigakan, aktivitas yang di lakukan masih sama seperti hari-hari sebelumnya dan cukup melegakan batin Adisty kala itu. Namun di minggu ke tiga hal yang tak terduga muncul ke permukaan. Tentu saja tak lain adalah kedatangan mantan kekasih Dito yang pernah mereka temui di restoran sushi tempo hari.&#xA;&#xA;Bukan hal yang biasa jika seorang lelaki mengajak seorang wanita untuk singgah di rumahnya bahkan hingga di bawa ke kamar pribadinya. Dito terlampau berani mengajak sang mantan kekasih untuk tinggal beberapa hari di rumahnya, rumah yang di gadang-gadang akan di tempati Dito dan Adisty setelah menikah. Dari awal Dito tidak main-main dengan Adisty, rumah hasil kerja keras lelaki itu baru saja di beli satu tahun yang lalu guna menunjukkan keseriusannya pada Adisty. Namun apalah arti harta dan tahta, pada akhirnya kepercayaan akan hancur oleh orang ketiga.&#xA;&#xA;Adisty hancur, batin wanita itu bak di hujani tombak dari langit. Lelaki yang ia percayai melebihi apapun ternyata dengan mudahnya tergoda oleh mantan kekasih lewat pertemuan singkat yang tidak di sengaja.&#xA;&#xA;&#34;Bajingan si Dito. Brengsek! Ini kapan Dis?&#34; Makian tak henti-hentinya keluar dari mulut Tomy. Lelaki itu sudah kepalang emosi melihat kelakuan Dito yang sangat menyakiti Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Sekitar seminggu yang lalu, Tom. Waktu itu gue sempat telepon dia, gue mantau lewat CCTV. Dan brengseknya, dia ngobrol sama gue di telepon sambil pelukan sama itu cewek. Anjing kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sebegitu mudahnya dia bohongin gue? Dia baru aja ketemu sama mantannya sekali, but he betrayed me because of unfinished feelings.&#34; Lagi dan lagi, air mata Adisty luluh lantak jika mengingat kembali Dito yang tengah bermain gila dengan mantan pacarnya.&#xA;&#xA;&#34;Gue heran kenapa laki lo dari dulu nggak ada yang bener, Dis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;It&#39;s not wrong you canceled the fiancé&#39;s plan, the best decision.&#34; Ucap Tomy sembari mengusap air mata yang sedari tadi mengalir membasahi wajah Adisty. &#xA;&#xA;&#34;Cowok di dunia ini bukan cuma Dito yang brengsek itu. Tinggalin siapapun yang nyakitin lo.&#34; Lantas Tomy memeluk Adisty dengan sangat erat, mengusap punggungnya perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Nangis aja Dis, nggak apa-apa. Puas-puasin nangisnya, tapi besok gue gak mau liat lo nangis lagi. Paham?&#34; Adisty mengangguk, paham. Malam itu Adisty benar-benar menumpahkan segala rasa sesak di dadanya. Air mata kesedihan juga amarah bercampur menjadikan satu. Tomy sangat sabar dan telaten ketika menenangkan Adisty yang tengah kalut. Sentuhan Tomy, hembusan nafasnya, aroma tubuhnya, serta pelukannya memberikan rasa tenang dan rilex pada Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Malem ini gue nginep ya? Gue mau nemenin lo.&#34; Bisik Tomy lirih di telinga Adisty. Sedangkan wanita yang tengah berada dalam pelukan itu hanya mengangguk saja, menyetujui jika Tomy akan menghabiskan malamnya bersama Adisty. Menemani setiap rapuh dan kelu yang berhasil membuat luka yang begitu dalam di hati Adisty, mengusir sunyi dan pedih yang berhasil menggerogoti waktu yang di lewati Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Gue sama lo, nggak jauh beda Dis.&#34; Lirih tutur kata Tomy menyingkap ruang sunyi sembari merenggangkan peluknya.&#xA;&#xA;Tomy beranjak dari duduknya, memindahkan laptop ke atas meja kerja Adisty, membuang kotak box sisa makanan mereka dan merapikan kembali kotak P3K pada tempatnya.&#xA;&#xA;Adisty masih diam, netranya sibuk mengamati gerak gerik sahabatnya tanpa jemu. Semua yang di lakukan Tomy begitu tulus tanpa pamrih, sekalipun ia harus berkorban untuk Adisty. Persahabatan mereka sudah sangat jauh terpaut, bahkan jauh sebelum keduanya menemukan cinta dan sama-sama di khianati oleh cinta.&#xA;&#xA;Tomy menanggalkan jaket denim yang ia kenakan, lalu naik ke atas tempat tidur menyusul Adisty yang masih bersandar pada headboard di belakangnya. Tomy mensejajarkan tubuhnya di sebelah Adisty kemudian membawa wanita itu ke dalam dekap penuh kehangatan.&#xA;&#xA;&#34;Peluk gue, biar tenang.&#34; Ucap Tomy singkat. Tak butuh waktu lama untuk Adisty merasa nyaman dengan suasana saat itu. Baginya saling mendekap dan memeluk adalah hal biasa yang mereka lakukan tanpa embel-embel perasaan lebih. &#xA;&#xA;&#34;Tom..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm..&#34; Tomy memeluk sembari menepuk-nepuk punggung Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Tadi lo bilang, gue sama lo nggak ada bedanya.&#34; Kata Adisty lirih di sela hembus nafas yang bertabrakan dengan dada bidang Tomy.&#xA;&#xA;&#34;Iya.&#34; Jawab Tomy singkat.&#xA;&#xA;&#34;Sama-sama di bohongin, Dis. Punya pasangan yang sama-sama brengsek dan putusnya hampir bersamaan. Benar-benar sial.&#34; Lanjut Tomy. Lelaki itu mengecup pelan pucuk kepala Adisty tanpa sadar. Namun sang puan yang berada di dalam pelukan sangat menyadarinya hanya bisa meremat ujung kaus yang di kenakan Tomy, pelan. &#xA;&#xA;&#34;Coffee shop gue sepi, income turun dan lo keluar dari kerjaan, kerja di tempat gue yang gajinya gak seberapa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dan sekarang gue harus bertanggung jawab dengan keputusan yang dulu pernah gue buat, waktu di paksa ngelanjutin S2 hukum tapi gue tolak malah buka coffee shop sendiri. Bokap gue marah besar.&#34;&#xA;&#xA;Adisty terkekeh ketika menceritakan masa lalunya yang masih bergantung dengan kedua orang tuanya. Kini wanita itu jauh lebih mandiri setelah berhasil mendirikan coffee shop dari tabungan dan kerja part time kala itu.&#xA;&#xA;&#34;Nggak ada bedanya sama gue, cuma ngelarin S1 terus minggat dari rumah. Jujur gue capek di banding-bandingin sama kakak gue yang sekarang jadi dokter.&#34;&#xA;&#xA;Dia insan bertukar keluh kesah yang di balut rengkuh hangat di antara dinginnya penyejuk udara di dalam kamar Adisty nyatanya membuat keduanya semakin nyaman. Semakin erat dalam dekap, terasa sejuk dalam peluk.&#xA;&#xA;Adisty mendongak, mengamati raut wajah Tomy dari bawah. Sedangkan lelaki itu meloloskan sorot matanya pada wanita yang tengah di lingkupi rasa sakit, terlihat jelas ketika menatap dua mata Adisty yang membengkak justru membuat batin Tomy semakin meradang.&#xA;&#xA;Di usapnya dengan lembut pipi sang puan, di kecup seringan mungkin pada dua belah mata sayu milik Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Jangan nangis lagi ya Dis, ada gue.&#34;&#xA;&#xA;Bisik Tomy lirih dan di balas anggukan serta senyum tipis &#xA;oleh Adisty. &#xA;&#xA;Dua netra Tomy dan Adisty saling terpaut, seakan mengisyaratkan saling membutuhkan satu sama lain, meskipun tidak pernah ada kalimat yang terlontar dari bibir keduanya namun terlihat jelas bahwa mereka bersama untuk saling mengisi. Setelah sama-sama terlibat patah hati dengan pasangan masing-masing.&#xA;&#xA;Tomy tidak pernah bosan mengusap pipi Adisty yang lembut dan kenyal. Usapan menggunakan ketiga jarinya perlahan berubah menjadi gerakan yang seduktif ketika ibu jarinya mengusap bibir bawah milik Adisty. Wanita itu masih membeku tanpa mengalihkan pandangannya pada kedua netra Tomy.&#xA;&#xA;Perlahan Tomy mendekatkan wajahnya pada Adisty dan mengikis jarak diantara mereka. Suasana sunyi serta dinginnya ruang kamar Adisty membuat Tomy semakin tergerak untuk melakukan lebih pada wanita itu. Pertama kalinya bagi Tomy dan Adisty, sebelumnya hanya sebatas peluk dan rengkuh saling berbagi kehangatan. Namun malam itu sekiranya berbagi kenikmatan pun akan di sanggupi oleh Adisty mengingat buncahan nafsu yang mulai merasuki dan Tomy-pun membutuhkan afeksi.&#xA;&#xA;Kini Tomy berhasil mengecup beberapa kali bibir Adisty, sangat lembut. Awalnya bibir wanita itu masih terkatup dan hanya memejamkan matanya, namun kelamaan Adisty membuka bibirnya hingga Tomy mendapatkan akses untuk menjamah setiap sudut rongga mulut Adisty dengan mudah. Ciuman yang awalnya sangat pelan dan lembut pun perlahan semakin menuntut. &#xA;&#xA;Tomy mendorong tengkuk Adisty hingga menjadi lebih lekat dengan dirinya, mempermudah untuk menikmati tiap inci rasa manis pada bibir Adisty. Lenguhan kecil beberapa kali lolos dari sela lumatan keduanya. Adisty tidak bisa menahan lenguh dan desah kecil diantara lumatan yang sudah bercampur dengan nafsu yang membara.&#xA;&#xA;Ciuman dan lumatan yang di berikan Tomy pertama kali dalam hidup Adisty ternyata jauh lebih baik ketimbang Dito. Meskipun kali pertamanya, Tomy dirasa lebih lihai dalam hal mencumbu. Seketika bulu kuduk Adisty merinding kala tangan Tomy menelusup di sela lingerie berbahan satin yang ia kenakan, mengusap punggung sang puan secara seduktif. Sudah tentu lingerie yang menempel pada tubuh Adisty tersingkap hingga mengekspos paha mulusnya serta setengah tubuhnya.&#xA;&#xA;Tomy dan Adisty sama-sama di lingkupi nafsu yang sudah di ujung dan mungkin sebentar lagi akan meledak. Dua sahabat yang sama-sama sedang patah hari, mengalami quarter life crisis bersamaan, bertukar keluh dan kesah masing-masing hingga akhirnya dua insan ini saling membutuhkan afeksi yang tidak perlu jauh-jauh harus di cari. Mungkin saat ini keduanya belum saling memiliki namun ketika waktu terus berjalan bisa di pastikan mereka tidak mau saling kehilangan.&#xA;&#xA;Tomy bergerak perlahan menidurkan tubuh Adisty di bawahnya tanpa melepaskan pagutan diantara keduanya. Tangannya berkali-kali mengusap lembut pipi Adisty sebelum akhirnya mengakhiri lumatan yang di rasa penuh dengan nafsu. Tomy memandang wajah Adisty, dua netra saling bertatapan dan saling mengunci. Adisty tampak sayu, bibirnya masih menganga hampir kehabisan pasokan oksigen ketika Tomy mencium dan melumatnya habis-habisan.&#xA;&#xA;&#34;Dis.. Boleh?&#34;&#xA;&#xA;Adisty mengangguk sangat yakin dengan apa yang akan di lakukan oleh mereka. Tentu saja Adisty kini lebih mempercayai Tomy ketimbang Dito yang sudah jelas mengkhianati. Sudah tidak terhitung berapa kali keduanya melewati canda tawa dan sedih hingga terluka bersama. Tomy selalu ada ketika Adisty membutuhkan begitu juga sebaliknya. Sama-sama menjadi penghibur dan saling melengkapi ketika keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja.&#xA;&#xA;Malam itu di ruang kamar yang sangat minim pencahayaan, menjadi saksi dua sahabat yang tidak ingin lepas satu sama lain, saling mengobati luka satu sama lain serta saling menyerahkan raga masing-masing untuk di kuasai oleh nafsu hingga rela berbagi kenikmatan.&#xA;&#xA;Tomy menanggalkan satu persatu pakaian yang ia kenakan hingga menyisakan celana dalam menjadi penutup terakhir yang masih menempel pada tubuhnya. Lelaki itu kembali mendaratkan ciuman dan melumat bibir Adisty, kini terasa lebih menuntut. Adisty yang berada di bawah kendali Tomy hanya mengikuti semua alur yang di ciptakan olehnya.&#xA;&#xA;Setelah puas melumat bibir candu milik Adisty, lelaki itu mulai menjamah dan bergerilya mulai dari ujung telinga, mencium basah hingga belakang telinga dan leher Adisty. Menjilat dan menyesapnya tanpa meninggalkan bekas kemerahan pada kulit putih pucat milik Adisty. Sedangkan wanita itu meloloskan lenguh dan desah yang terdengar kian nyaring di tengah-tengah malam sunyi.&#xA;&#xA;Tangan Tomy bergerak turun, mengusap perlahan paha sang puan kemudian naik keatas menyingkap lingerie satin yang masih menutupi tubuh Adisty. Tanpa basa basi lagi, Adisty menaikkan lingerie itu hingga di atas dadanya dan berhasil melepaskan setengahnya dengan bantuan tangan kanannya. Kemudian sisanya di bantu oleh Tomy untuk di tanggalkan dan hanya menyisakan bra serta celana dalam dengan warna senada.&#xA;&#xA;&#34;Dis, are you serious? Lanjut nggak? Kalau lanjut ya ayo, tapi kalau nggak ya gue stop. Gue mau pakai baju lagi.&#34; Tomy berujar guna memastikan yang ia inginkan bukan atas dasar ego sendiri atau keinginan satu pihak saja.&#xA;&#xA;&#34;Yes. I believe in you, Tomy.&#34; Jawab Adisty penuh keyakinan.&#xA;&#xA;Tomy tersenyum lega, keinginannya terbalaskan oleh Adisty. Tanpa ada paksakan, --pun keduanya memang sedang membutuhkan afeksi. Tomy kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Adisty sebelum dirinya melepaskan bra yang di rasa akan mengganggu aktivitas seksualnya.&#xA;&#xA;Lelaki itu meraup dua gundukan payudara Adisty yang menyembul sempurna dan sangat pas di genggaman. Ia melumatnya secara bergantian, tangannya pun tak bisa tinggal diam. Meremas, memijit, juga memilin ujung payudara milik Adisty yang sudah mencuat tegang.&#xA;&#xA;Adisty membusungkan dada ketika jemari Tomy menyapa miliknya dari balik celana dalamnya yang sudah sangat lembab dan basah. Bibir dan lidah Tomy masih sibuk melumat dan memainkan payudaranya yang semakin menegang.&#xA;&#xA;&#34;Mmphh.. Tomy..&#34; &#xA;&#xA;Entah lenguhan keberapa kali yang keluar dari bibir Adisty, ia sudah tidak bisa mengendalikan nafsu yang sejak tadi menguasai dirinya. Tangan kanannya meremas bahu Tomy ketika jari tengah lelaki itu menyapa klitorisnya yang terasa lembab.&#xA;&#xA;&#34;Aahh.. Tom,--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dis, yours is so wet, huh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Do it, I can&#39;t take it anymore. Please. Satu bulan gue udah nggak ngelakuin sama Dito, jadi cepet basah.&#34; Jelas Adisty tanpa rasa canggung sedikitpun. &#xA;&#xA;Tomy terkekeh mendengar jawaban dari Adisty, lalu menimpali dengan kalimat ejekan.&#xA;&#xA;&#34;Sebulan nggak hs malah cowok lo main sama mantan. Sial.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Brengsek lo!&#34; Maki Adisty sembari memukul dada Tomy menggunakan tangan kirinya tanpa sadar.&#xA;&#xA;&#34;Auww... Sakit.&#34; Pekik Adisty ketika menyadari bahwa luka itu belum mengering hingga menimbulkan rasa sakit dan perih yang menjalar hampir ke seluruh tubuh.&#xA;&#xA;&#34;Dis, gimana sih lo?! Belum juga kering lukanya.&#34; Ucap Tomy sembari meniup beberapa kali di atas permukaan perban.&#xA;&#xA;&#34;Gue lupa. Perih, Tom..&#34; Rengek Adisty.&#xA;&#xA;Tomy yang terlihat sibuk meniup di atas permukaan perban guna mengurangi rasa sakit pada lukanya, tiba-tiba mulai menggoda Adisty dengan membubuhkan ciuman hangat mulai dari pergelangan tangan yang masih di balut dengan perban, kemudian ciuman Tomy bergeser pada lengan dari bawah hingga bagian atas tanpa mengalihkan pandangannya pada sorot mata Adisty.&#xA;&#xA;Adisty hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika libidonya mulai naik. Lelaki itu menurunkan celana dalam Adisty dengan sekali tarik kemudian menanggalkan dan membuangnya ke lantai. Tomy bergerak turun, mensejajarkan wajahnya pada liang surgawi milik Adisty yang terlihat sudah sangat basah.&#xA;&#xA;&#34;Oh, shit! This is a beautiful pussy.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tom,-- Ahh.. Fuck!&#34; Adisty memekik ketika lidah hangat Tomy menyapa miliknya dengan tiba-tiba. Tubuh wanita itu menggelinjang saat lidah sang tuan menyapu lipatan bibir vagina miliknya dan memainkan klitoris yang berkedut seakan meminta untuk di jamah tanpa henti.&#xA;&#xA;Tomy dan Adisty sama-sama menggila, keduanya di bakar oleh &#xA;hasrat dan nafsu. Desahan yang lolos dari bibir Adisty terdengar semakin nyaring hingga memecah kesunyian malam itu. &#xA;&#xA;Satu tangan Adisty meremat kuat-kuat ujung bantal guna melampiaskan kegelisahan. Liangnya sedang di manjakan oleh bibir dan lidah Tomy. Menaik turunkan ujung lidahnya pada bibir vagina dan berhenti pada klitoris milik Adisty yang sudah memerah. Dua jarinya ia lesakkan pada lubang kenikmatan wanita itu tanpa aba-aba hingga membuat Adisty mendesah dan mendongakkan kepalanya.&#xA;&#xA;Satu tangan Tomy ia gunakan untuk menahan kaki Adisty yang bergerak resah, dan satu tangan yang lain masih sibuk memainkan liang surgawi milik Adisty yang sangat hangat dan ketat. Gerakan keluar masuk dua jari Tomy di sertai gerakan memutar ujung lidah pada klitoris wanita itu benar-benar membuat Adisty melenguh, mendesah tidak karuan. Peluh dan keringat mulai bercucuran, rambut hitam legam yang sudah sangat berantakan menimbulkan hawa semakin panas.&#xA;&#xA;&#34;Tomy.. Awas, ahh..&#34;&#xA;&#xA;&#34;You wanna cum, right?&#34; Tanya Tomy di sela aktivitasnya, tanoa menjeda barang sedetikpun.&#xA;&#xA;&#34;Yes, please.. Awas minggir.&#34; Pinta Adisty, namun tidak di hiraukan oleh Tomy. Lelaki itu justru mempercepat gerakan jarinya, lidahnya kembalikan memainkan titik sensitif milik Adisty. Tomy hanya ingin menuntaskan pelepasan wanita itu tanpa harus menghindar dari cairan orgasme yang sebentar lagi akan membasahi jari dan juga bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;Come on, Dis.. Keluarin.&#34; &#xA;&#xA;Dinding vagina Adisty mulai berkedut dan semakin mengetat, menjepit kedua jari Tomy yang masih sibuk mengoyak di dalam sana. Lelaki itu terus merangsang pelepasan Adisty dengan menggigit kecil klitorisnya dan melumat serta memainkan dengan lidah. Detik kemudian tubuh Adisty menggelinjang dan bergetar hebat ketika menjemput pelepasannya. &#xA;&#xA;Adisty melengkungkan tubuhnya dan meremas sprei kuat-kuat ketika gelombang pelepasan menyapanya. Desahan panjang terdengar nyaring hingga memenuhi seluruh ruang kamar Adisty. Deru nafas terdengar samar begitu berat. &#xA;&#xA;Adisty memejamkan matanya, merasakan aliran darahnya berdesir begitu cepat. Tomy merangkak keatas tubuh wanita itu dan mensejajarkan dirinya dengan Adisty. Mendaratkan kecupan singkat pada bibir Adisty yang ranum. &#xA;&#xA;&#34;Lanjut, Dis?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menurut lo aja gimana? Lo mau nyelesein sendirian?&#34; Ucap Adisty membalas ledekan yang sempat di ucapkan Tomy beberapa waktu lalu.&#xA;&#xA;Tomy tersenyum kecut, kemudian mencium sembari menggigit bibir Adisty hingga membuat wanita itu tersentak.&#xA;&#xA;&#34;Aw.. Tomyyyy... Sakittt...&#34; Rengek Adisty, bibirnya mengerucut kesal karena perlakuan Tomy. Sedangkan lelaki itu hanya terkekeh sembari melucuti satu-satunya kain penutup aset miliknya. &#xA;&#xA;Adisty menelan ludahnya, gusar. Raut wajah wanita itu berangsur merah merona ketika melihat kejantanan sahabatnya yang sudah mengeras dan tegang. Malam itu adalah kali pertama Adisty dan Tomy saling bertukar kenikmatan dan bisa di pastikan akan terus terulang. &#xA;&#xA;Tomy menindih tubuh Adisty, mengecup kening dan pipi wanita itu dengan lembut.&#xA;&#xA;&#34;Dis, percaya.. Gue gak akan ninggalin lo.&#34; Ucap Tomy di sela menghujani kecupan-kecupam basah pada tubuh Adisty dan wanita itu mengangguk pelan.&#xA;&#xA;&#34;Lanjut? Tapi gue nggak bawa kondom.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa, gue minum pil.&#34; Jelas Adisty guna meyakinkan sahabatnya.&#xA;&#xA;Tomy kemudian mulai melancarkan aksinya, ia membuka dua kaki Adisty menggunakan lututnya. Lalu mensejajarkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Adisty. Lelaki itu mengocok penisnya perlahan sebelum menggesekkan ujungnya pada bibir vagina Adisty hingga membuat sang puan merasa frustasi.&#xA;&#xA;&#34;Mmphh..&#34; Lenguh Adisty sembari menggigit bibir bawahnya dan secara reflek jemarinya meremas apapun yang menjadi tumpuan. &#xA;&#xA;Tomy melesakkan batang penisnya dalam sekali hentak dan ia benamkan dalam-dalam pada liang surgawi milik Adisty yang terasa sesak dan hangat.&#xA;&#xA;&#34;Aahhh... Penuh banget, Tom.&#34; Adisty berujar di sela desah dan deru nafasnya yang memburu.&#xA;&#xA;&#34;Sakit?&#34; Tanya Tomy memastikan wanita yang berada dalam kendalinya itu tidak merasakan kesakitan.&#xA;&#xA;Adisty menggeleng, ia hanya mencobanya mengatur nafasnya.&#xA;&#xA;&#34;You like it? Warm and full?&#34; Tanya-nya lagi, kemudian di balas dengan anggukan oleh Adisty. Kemudian Tomy mulai menggerakkan pinggulnya, menumbuk liang kenikmatan yang sempit dan hangat itu dengan tempo sedang.&#xA;&#xA;Kedua kaki Adisty melingkar pada pinggang Tomy tanpa di minta. Tangan kanannya meremas lengan Tomy ketika lelaki itu menghujam dan menghentak kejantanannya hingga menabrak titik sensitif milik Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Ough.. Fuck. Punya lo enak banget, Dis.&#34;&#xA;&#34;Aahhh...&#34;&#xA;&#xA;Satu tangan Tomy menyokong tubuhnya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk meremas, dan memainkan dua gundukan payudara sintal milik Adisty. Sesekali memilin puting milik wanita itu dan mencubit kecil ujungnya, membuat si empu  mengerang.&#xA;&#xA;Adisty bak di bawa terbang ke langit ke tujuh. Ukuran penis Tomy sangat pas bersarang pada miliknya, gerakan penetrasi sang tuan pun di luar dugaan. Tempo gerakan yang tidak terburu-buru, lalu memutar dan menghentakkan pinggulnya dalam-dalam membuat Adisty kelimpungan tak kuasa menahan gelombang pelepasan yang semakin dekat.&#xA;&#xA;Tomy memandang raut wajah Adisty di tengah cahaya temaram yang terasa hangat, mengamati tiap detik sang puan merintih, mendengarkan tiap desahan yang keluar dari bibir wanita itu bak sebuah candu yang sulit di lepaskan. &#xA;&#xA;Tomy mengusap keringat yang membasahi wajah ayu Adisty tanpa mempedulikan dirinya pun penuh akan peluh. Jemarinya sibuk mengusap pipi Adisty guna menyalurkan rasa tenang ketika ia mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik sensitif dan membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.&#xA;&#xA;&#34;Tomy please.. Fuck me harder, please.. Please.. Please..&#34;&#xA;&#34;Aahh...&#34;&#xA;&#xA;Adisty menatap lekat dua bola mata Tomy penuh permohonan agar segera di tuntaskan pada pelepasannya. Lelaki itu kemudian mencium dan melumat kembali bibir ranum Adisty guna menyalurkan rasa nikmat yang mereka buru. Pinggul Tomy bergerak semakin tidak beraturan ketika ia merasakan liang vagina sang puan mulai berkedut dan semakin mengetat. Tomy ingin menuntaskan puncak orgasme bersamaan dengan Adisty.&#xA;&#xA;&#34;Come on, girl.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue udah gak tahan, Tom. Please..&#34; Adisty berujar di saat kedua netranya terpejam rapat. Tubuhnya melengkung dan bergetar hebat.&#xA;&#xA;&#34;Keluarin, Dis... Come on!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aahhh...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aahhh... Fuck!&#34;&#xA;&#xA;Desah dan racau Adisty menuntaskan pelepasannya bersamaan dengan Tomy. Tubuh wanita itu menggelinjang dan bergetar hebat kala cairan sperma milik Tomy menyembur berkali-kali di dalam rahim Adisty dan terasa hangat, bercampur dengan milik Adisty hingga penuh sampai-sampai tidak sanggup menampung cairan kenikmatan yang mengalir membasahi sela paha wanita itu. &#xA;&#xA;Tomy mencium bibir Adisty pelan dan berangsur lama, tangannya mengusap pucuk kepala sang puan. Menyalurkan beribu-ribu rasa hangat, nyaman serta nikmat pada Adisty. &#xA;&#xA;&#34;Thank you, girl.&#34;&#xA;&#34;I promise, I&#39;m not to leave you.&#34; Ucap Tomy lirih, kemudian mendaratkan satu ciuman hangat pada kening Adisty. Wanita itu tersenyum sarat akan rasa yang tidak bisa di ungkapan dengan kalimat bahkan sepenggal kata. Adisty yakin bahwa Tomy jauh lebih baik ketimbang calon tunangannya yang tak lain adalah seorang bajingan.&#xA;&#xA;Sampai kapanpun Adisty hanya membutuhkan Tomy Reiga Jazziel.&#xA;&#xA;----------------------&#xA;&#xA;Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for TNL&#39;s birthday.&#xA;For all questions and feedback, drop on my;&#xA;CC: https://curiouscat.me/deorphic&#xA;TL: https://tellonym.me/deorphic&#xA;&#xA;Kalian juga bisa Support karyaku melalui;&#xA;https://trakteer.id/deorphic/tip]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Adisty membenahi diri sesaat setelah membalas pesan dari Tomy. Merapikan rambut yang terlihat berantakan, mengusap air mata yang membasahi pipinya. Pergelangan tangan kirinya terasa sangat perih ketika beberapa kali Adisty mencoba menyayatnya menggunakan pisau kecil.</p>

<p>Beberapa kali ia menyayat pergelangan tangannya namun hingga Tomy tiba di kamar, ia masih baik-baik saja. Padahal Adisty berharap ia mati secepatnya. Pikiran Adisty sudah buntu, bisikan-bisikan setan membujuknya untuk segera mengakhiri hidup. Namun malam itu Tuhan masih menginginkan Adisty untuk tetap hidup.</p>

<p>Adisty merasa gagal menjadi seorang wanita, sebagai seorang kekasih meskipun berawal bukan dari kesalahannya. Hidupnya kini di ambang kehancuran, ketika ia membatalkan rencana pertunangannya secara sepihak. Bagaimana tidak, dua keluarga yang awalnya baik-baik saja dan sama-sama mensupport hubungan keduanya hingga mendukung untuk segera bertunangan, kini sudah tidak berarti apa-apa lagi.</p>

<p>Tomy bergegas masuk setelah mengetahui <em>passcode</em> yang baru saja ia dapatkan dari pesan singkat. Satu kantong plastik putih berisi nasi kulit kesukaan sang pemilik unit siap di santap guna memenuhi perut kosong mereka.</p>

<p>“Dis.. Dimana lo?”</p>

<p>Lelaki itu memanggil si tuan rumah yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Ruang tamu, ruang tengah bahkan ruang makan tampak kosong dan sepi. Lantas Tomy bergegas menuju ruang paling akhir yang belum ia jamah sama sekali.</p>

<p>Decitan pintu kamar Adisty terdengar jelas ketika Tomy membukanya perlahan. Ekor matanya menangkap sahabatnya tengah meringis sembari memegangi pergelangan tangannya yang mengeluarkan darah, kemudian wanita itu berlari kecil ke arah kamar mandi.</p>

<p>“Dis.. Adisty!” Pekik Tomy sesaat setelah menyadari sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.</p>

<p>Tomy berlari mengikuti kemana arah Adisty pergi, langkah kakinya bergegas mengejar sang puan dan berhasil merangkul tubuhnya.</p>

<p>“Lo kenapa?? Anjing! Kenapa berdarah-darah gini, bego!”</p>

<p>Makian tak henti-hentinya lolos dari bibir Tomy yang kala itu panik bukan main. Darah terus mengalir lewat pergelangan tangan Adisty dan empu-nya menangis sembari memegang erat bahu lelaki yang tengah mendekapnya. Alih-alih ingin menyembunyikan dari Tomy tetapi mungkin Tuhan sudah merencanakan hal lain.</p>

<p>Tomy berusaha setenang mungkin meskipun dalam hatinya sudah tidak bisa di gambarkan lagi bak benang kusut. Sedangkan Adisty tengah merutuki dirinya sendiri yang tidak lihai dalam menyembunyikan sesuatu termasuk rencana bodohnya.</p>

<p>“Dis, sinting lo ya?! Kalau ada apa-apa cerita, bego. Bukannya kayak gini, emang kalau lo mati masalah selesai?!”</p>

<p>Adisty masih dalam isak tangis yang tak kunjung berhenti, dadanya sesak, rasa sakit hati yang ia rasakan sudah sampai pada puncaknya.</p>

<p>Tomy dengan telaten membersihkan tangan Adisty dari sisa darah yang berhenti mengalir, luka sobek di pergelangan tangan tidak terlalu dalam sehingga nyawa wanita itu masih bisa di selamatkan. Tomy membawa tubuh Adisty ke dalam kamar, mendudukkan di tepi ranjang besar lalu ia mengambil kotak P3K yang berada di ruang tengah.</p>

<p>Bibir Adisty masih saja membisu, hanya isak tangis yang belum juga sirna. Wanita itu memandangi sahabatnya tengah membubuhkan obat merah dan melingkarkan perban guna menutup luka. Setelah selesai, Tomy berjalan keluar kamar guna mengambil kantong plastik yang berisi nasi kulit kesukaan Adisty.</p>

<p>“Kalau gue gak bawa nasi kulit, mungkin lo udah mati, Dis.”
“Lemah banget sama nasi kulit.”</p>

<p>Adisty tersenyum kecut, sorot matanya sedikit berbinar ketika melihat nasi kulit favoritnya. Terlebih dirinya sudah berhari-hari tidak makan nasi, perutnya hanya di isi oleh makanan instan.</p>

<p>“Gue bisa makan sendiri, Tom.” Ucap Adisty lirih, tangannya meraih satu box nasi kulit yang berada di sampingnya namun Tomy lebih cepat menahan gerak Adisty.</p>

<p>“Diem lo. Gue suapin aja, lo nyender dah biar enak duduknya.”</p>

<p>Adisty menuruti permintaan Tomy, ia menyandarkan tubuhnya pada <em>headboard</em> kemudian meletakkan satu bantal di atas pahanya. Suapan demi suapan dengan sangat telaten Tomy menyuapi sahabatnya, mengesampingkan dirinya sendiri tanpa peduli perutnya sudah meronta minta di isi.</p>

<p>“Perut lo bunyi tuh, sini gue makan sendiri aja.” Tutur Adisty ketika mendengar suara perut Tomy mulai keroncongan.</p>

<p>“Lo kelar makan, baru gue.” Balas Tomy singkat. Kemudian lelaki itu merampungkan tiga suapan terakhir untuk Adisty, sebelum ia sendiri menyantap nasi kulit yang masih tersisa satu porsi.</p>

<p>Adisty masih duduk di posisinya, mengamati sahabatnya tengah menikmati seporsi nasi kulit yang memang menjadi makanan favorit keduanya. Menyendok dan melahap potongan-potongan kulit krispi dengan saus asam manis yang sangat menggugah selera.</p>

<p>“Lo sebenernya ada masalah apa? Gak mungkin kalau cuma masalah coffee shop sepi. Pasti ada masalah lain kan?” Cecar Tomy di sela-sela aktivitas makannya.</p>

<p>Adisty masih terdiam, ia sedang memutar otak dari mana harus memulai menceritakan hal yang selama beberapa minggu terakhir ia sembunyikan rapat-rapat.</p>

<p>Ruang kamar Adisty menjadi hening, dua insan yang berada di dalamnya sama-sama terdiam tanpa suara. Hanya decapan lirih dari bibir Tomy yang masih sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya.</p>

<p>“Cowok gue selingkuh.”</p>

<p>Tomy berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan mengunyah makanan di mulutnya.</p>

<p>“Gue batalin rencana pertunangan.”</p>

<p>“Dua hari lagi lo tunangan kan? Emang gak bisa di selesaikan secara baik-baik?” Tanya tomy. Lelaki itu masih sibuk dengan makanan di tangannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Adisty.</p>

<p>“Enggak.” Jawab Adisty singkat. Wanita itu membawa laptop yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur, kemudian menyodorkan benda itu ke hadapan sahabatnya. Jarinya dengan terampil memutar ulang sebuah video dari dalam laptopnya.</p>

<p>“Anjing! Gue lagi makan, Dis. Lo ngapain nyuruh gue liat bokep?”</p>

<p>“Itu cowok gue, sama mantan pacarnya.” Balas Adisty singkat, wanita itu kembali menyandarkan tubuhnya pada <em>headboard</em> dan mengehela nafas kasar.</p>

<p>“Bajingan. Maksud cowok lo apa dah?!” Ucap Tomy mulai tersulut emosi ketika melihat adegan ranjang calon tunangan Adisty dengan mantan kekasihnya.</p>

<p>Tomy meletakkan box yang masih tersisa nasi kulit, di atas nakas. Sorot matanya fokus pada laptop yang memutar video melalui rekaman <em>CCTV</em>.</p>

<p>Dua bulan yang lalu ketika Adisty dan sang kekasih tengah makan malam di sebuah resto favoritnya, mereka bertemu dengan wanita yang di ketahui adalah mantan pacar Dito. Ya, sebut saja Dito adalah calon tunangan Adisty. Percakapan dua anak manusia secara tidak sengaja seakan mengembalikan kenangan lama dan rasa yang belum usai diantara Dito dan mantan pacarannya.</p>

<p>Setelah pertemuan itu, Dito di rasa berbeda, berubah menjadi lelaki yang hobi ingkar janji. Padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali, Adisty adalah prioritas bagi sang pujaan hati.</p>

<p>Kecurigaan Adisty memuncak ketika suatu hari mereka hendak fitting kebaya dan setelan jas untuk acara pertunangan yang akan di gelar dalam waktu dekat. Dito bukannya ikut bersama Adisty tetapi alasan yang tidak masuk akal pun menjadi tameng untuk menutupi segala kebohongan yang pada akhirnya terbongkar.</p>

<p>Adisty bukanlah wanita yang hanya tinggal diam, dan siap di komando oleh sang kekasih. Adisty termasuk dalam katagori wanita nekat dan bernyali besar. Sekitar satu bulan yang lalu Adisty berkunjung ke Bandung, jarak yang di tempuh dua setengah jam dari Tangerang adalah waktu yang bukan apa-apa bagi Adisty untuk melancarkan aksinya. Pikiran kotor serta berbagai macam kecurigaan yang berhari-hari ia pendam sendiri, pada akhirnya membuat dirinya ingin tau apa yang sebenarnya di lakukan Dito di belakangnya.</p>

<p>Adisty mempunyai kunci cadangan untuk mengakses rumah Dito tanpa sepengetahuan sang kekasih. Pagi sekitar pukul 9 Adisty tiba di rumah Dito, tentu saja sang tuan rumah sudah berangkat ke kantor sejak pukul setengah tujuh pagi. Wanita itu bergegas ke kamar milik Dito yang berada di lantai dua. Tanpa meninggalkan jejak, Adisty memasang kamera <em>CCTV</em> yang dapat di pantau jarak jauh melalui smartphone-nya. <em>CCTV</em> yang terpasang di tengah-tengah dua sisi bingkai foto di atas nakas sebelah tempat tidur Dito dapat terlihat jelas segala aktivitas di dalam kamarnya.</p>

<p>Sesungguhnya Adisty berharap Dito baik-baik saja selama keduanya masih berhubungan dengan baik, —pun tidak ada perselisihan yang berarti selama beberapa minggu terakhir. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain hingga memutuskan untuk merencanakan pertunangan, bahkan ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu pernikahan. Wanita itu berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah dirinya memberanikan diri memasang <em>CCTV</em> di dalam kamar sang kekasih. Tetapi di sisi lain, apapun yang akan terjadi nantinya Adisty harus siap batin dan mental.</p>

<p>Satu minggu pertama masih aman, semua berjalan semestinya. Dito hanya terlihat beraktivitas seperti biasanya, bangun tidur, mandi, berangkat ke kantor, pulang, mandi, tidur lagi. Minggu ke dua sama sekali tidak ada yang mencurigakan, aktivitas yang di lakukan masih sama seperti hari-hari sebelumnya dan cukup melegakan batin Adisty kala itu. Namun di minggu ke tiga hal yang tak terduga muncul ke permukaan. Tentu saja tak lain adalah kedatangan mantan kekasih Dito yang pernah mereka temui di restoran sushi tempo hari.</p>

<p>Bukan hal yang biasa jika seorang lelaki mengajak seorang wanita untuk singgah di rumahnya bahkan hingga di bawa ke kamar pribadinya. Dito terlampau berani mengajak sang mantan kekasih untuk tinggal beberapa hari di rumahnya, rumah yang di gadang-gadang akan di tempati Dito dan Adisty setelah menikah. Dari awal Dito tidak main-main dengan Adisty, rumah hasil kerja keras lelaki itu baru saja di beli satu tahun yang lalu guna menunjukkan keseriusannya pada Adisty. Namun apalah arti harta dan tahta, pada akhirnya kepercayaan akan hancur oleh orang ketiga.</p>

<p>Adisty hancur, batin wanita itu bak di hujani tombak dari langit. Lelaki yang ia percayai melebihi apapun ternyata dengan mudahnya tergoda oleh mantan kekasih lewat pertemuan singkat yang tidak di sengaja.</p>

<p>“Bajingan si Dito. Brengsek! Ini kapan Dis?” Makian tak henti-hentinya keluar dari mulut Tomy. Lelaki itu sudah kepalang emosi melihat kelakuan Dito yang sangat menyakiti Adisty.</p>

<p>“Sekitar seminggu yang lalu, Tom. Waktu itu gue sempat telepon dia, gue mantau lewat <em>CCTV</em>. Dan brengseknya, dia ngobrol sama gue di telepon sambil pelukan sama itu cewek. Anjing kan?”</p>

<p>“Sebegitu mudahnya dia bohongin gue? Dia baru aja ketemu sama mantannya sekali, <em>but he betrayed me because of unfinished feelings</em>.” Lagi dan lagi, air mata Adisty luluh lantak jika mengingat kembali Dito yang tengah bermain gila dengan mantan pacarnya.</p>

<p>“Gue heran kenapa laki lo dari dulu nggak ada yang bener, Dis.”</p>

<p>“<em>It&#39;s not wrong you canceled the fiancé&#39;s plan, the best decision.</em>” Ucap Tomy sembari mengusap air mata yang sedari tadi mengalir membasahi wajah Adisty.</p>

<p>“Cowok di dunia ini bukan cuma Dito yang brengsek itu. Tinggalin siapapun yang nyakitin lo.” Lantas Tomy memeluk Adisty dengan sangat erat, mengusap punggungnya perlahan.</p>

<p>“Nangis aja Dis, nggak apa-apa. Puas-puasin nangisnya, tapi besok gue gak mau liat lo nangis lagi. Paham?” Adisty mengangguk, paham. Malam itu Adisty benar-benar menumpahkan segala rasa sesak di dadanya. Air mata kesedihan juga amarah bercampur menjadikan satu. Tomy sangat sabar dan telaten ketika menenangkan Adisty yang tengah kalut. Sentuhan Tomy, hembusan nafasnya, aroma tubuhnya, serta pelukannya memberikan rasa tenang dan rilex pada Adisty.</p>

<p>“Malem ini gue nginep ya? Gue mau nemenin lo.” Bisik Tomy lirih di telinga Adisty. Sedangkan wanita yang tengah berada dalam pelukan itu hanya mengangguk saja, menyetujui jika Tomy akan menghabiskan malamnya bersama Adisty. Menemani setiap rapuh dan kelu yang berhasil membuat luka yang begitu dalam di hati Adisty, mengusir sunyi dan pedih yang berhasil menggerogoti waktu yang di lewati Adisty.</p>

<p>“Gue sama lo, nggak jauh beda Dis.” Lirih tutur kata Tomy menyingkap ruang sunyi sembari merenggangkan peluknya.</p>

<p>Tomy beranjak dari duduknya, memindahkan laptop ke atas meja kerja Adisty, membuang kotak box sisa makanan mereka dan merapikan kembali kotak P3K pada tempatnya.</p>

<p>Adisty masih diam, netranya sibuk mengamati gerak gerik sahabatnya tanpa jemu. Semua yang di lakukan Tomy begitu tulus tanpa pamrih, sekalipun ia harus berkorban untuk Adisty. Persahabatan mereka sudah sangat jauh terpaut, bahkan jauh sebelum keduanya menemukan cinta dan sama-sama di khianati oleh cinta.</p>

<p>Tomy menanggalkan jaket denim yang ia kenakan, lalu naik ke atas tempat tidur menyusul Adisty yang masih bersandar pada <em>headboard</em> di belakangnya. Tomy mensejajarkan tubuhnya di sebelah Adisty kemudian membawa wanita itu ke dalam dekap penuh kehangatan.</p>

<p>“Peluk gue, biar tenang.” Ucap Tomy singkat. Tak butuh waktu lama untuk Adisty merasa nyaman dengan suasana saat itu. Baginya saling mendekap dan memeluk adalah hal biasa yang mereka lakukan tanpa embel-embel perasaan lebih.</p>

<p>“Tom..”</p>

<p>“Hmm..” Tomy memeluk sembari menepuk-nepuk punggung Adisty.</p>

<p>“Tadi lo bilang, gue sama lo nggak ada bedanya.” Kata Adisty lirih di sela hembus nafas yang bertabrakan dengan dada bidang Tomy.</p>

<p>“Iya.” Jawab Tomy singkat.</p>

<p>“Sama-sama di bohongin, Dis. Punya pasangan yang sama-sama brengsek dan putusnya hampir bersamaan. Benar-benar sial.” Lanjut Tomy. Lelaki itu mengecup pelan pucuk kepala Adisty tanpa sadar. Namun sang puan yang berada di dalam pelukan sangat menyadarinya hanya bisa meremat ujung kaus yang di kenakan Tomy, pelan.</p>

<p>“Coffee shop gue sepi, income turun dan lo keluar dari kerjaan, kerja di tempat gue yang gajinya gak seberapa.”</p>

<p>“Dan sekarang gue harus bertanggung jawab dengan keputusan yang dulu pernah gue buat, waktu di paksa ngelanjutin S2 hukum tapi gue tolak malah buka coffee shop sendiri. Bokap gue marah besar.”</p>

<p>Adisty terkekeh ketika menceritakan masa lalunya yang masih bergantung dengan kedua orang tuanya. Kini wanita itu jauh lebih mandiri setelah berhasil mendirikan coffee shop dari tabungan dan kerja part time kala itu.</p>

<p>“Nggak ada bedanya sama gue, cuma ngelarin S1 terus minggat dari rumah. Jujur gue capek di banding-bandingin sama kakak gue yang sekarang jadi dokter.”</p>

<p>Dia insan bertukar keluh kesah yang di balut rengkuh hangat di antara dinginnya penyejuk udara di dalam kamar Adisty nyatanya membuat keduanya semakin nyaman. Semakin erat dalam dekap, terasa sejuk dalam peluk.</p>

<p>Adisty mendongak, mengamati raut wajah Tomy dari bawah. Sedangkan lelaki itu meloloskan sorot matanya pada wanita yang tengah di lingkupi rasa sakit, terlihat jelas ketika menatap dua mata Adisty yang membengkak justru membuat batin Tomy semakin meradang.</p>

<p>Di usapnya dengan lembut pipi sang puan, di kecup seringan mungkin pada dua belah mata sayu milik Adisty.</p>

<p>“Jangan nangis lagi ya Dis, ada gue.”</p>

<p>Bisik Tomy lirih dan di balas anggukan serta senyum tipis
oleh Adisty.</p>

<p>Dua netra Tomy dan Adisty saling terpaut, seakan mengisyaratkan saling membutuhkan satu sama lain, meskipun tidak pernah ada kalimat yang terlontar dari bibir keduanya namun terlihat jelas bahwa mereka bersama untuk saling mengisi. Setelah sama-sama terlibat patah hati dengan pasangan masing-masing.</p>

<p>Tomy tidak pernah bosan mengusap pipi Adisty yang lembut dan kenyal. Usapan menggunakan ketiga jarinya perlahan berubah menjadi gerakan yang seduktif ketika ibu jarinya mengusap bibir bawah milik Adisty. Wanita itu masih membeku tanpa mengalihkan pandangannya pada kedua netra Tomy.</p>

<p>Perlahan Tomy mendekatkan wajahnya pada Adisty dan mengikis jarak diantara mereka. Suasana sunyi serta dinginnya ruang kamar Adisty membuat Tomy semakin tergerak untuk melakukan lebih pada wanita itu. Pertama kalinya bagi Tomy dan Adisty, sebelumnya hanya sebatas peluk dan rengkuh saling berbagi kehangatan. Namun malam itu sekiranya berbagi kenikmatan pun akan di sanggupi oleh Adisty mengingat buncahan nafsu yang mulai merasuki dan Tomy-pun membutuhkan afeksi.</p>

<p>Kini Tomy berhasil mengecup beberapa kali bibir Adisty, sangat lembut. Awalnya bibir wanita itu masih terkatup dan hanya memejamkan matanya, namun kelamaan Adisty membuka bibirnya hingga Tomy mendapatkan akses untuk menjamah setiap sudut rongga mulut Adisty dengan mudah. Ciuman yang awalnya sangat pelan dan lembut pun perlahan semakin menuntut.</p>

<p>Tomy mendorong tengkuk Adisty hingga menjadi lebih lekat dengan dirinya, mempermudah untuk menikmati tiap inci rasa manis pada bibir Adisty. Lenguhan kecil beberapa kali lolos dari sela lumatan keduanya. Adisty tidak bisa menahan lenguh dan desah kecil diantara lumatan yang sudah bercampur dengan nafsu yang membara.</p>

<p>Ciuman dan lumatan yang di berikan Tomy pertama kali dalam hidup Adisty ternyata jauh lebih baik ketimbang Dito. Meskipun kali pertamanya, Tomy dirasa lebih lihai dalam hal mencumbu. Seketika bulu kuduk Adisty merinding kala tangan Tomy menelusup di sela lingerie berbahan satin yang ia kenakan, mengusap punggung sang puan secara seduktif. Sudah tentu lingerie yang menempel pada tubuh Adisty tersingkap hingga mengekspos paha mulusnya serta setengah tubuhnya.</p>

<p>Tomy dan Adisty sama-sama di lingkupi nafsu yang sudah di ujung dan mungkin sebentar lagi akan meledak. Dua sahabat yang sama-sama sedang patah hari, mengalami <em>quarter life crisis</em> bersamaan, bertukar keluh dan kesah masing-masing hingga akhirnya dua insan ini saling membutuhkan afeksi yang tidak perlu jauh-jauh harus di cari. Mungkin saat ini keduanya belum saling memiliki namun ketika waktu terus berjalan bisa di pastikan mereka tidak mau saling kehilangan.</p>

<p>Tomy bergerak perlahan menidurkan tubuh Adisty di bawahnya tanpa melepaskan pagutan diantara keduanya. Tangannya berkali-kali mengusap lembut pipi Adisty sebelum akhirnya mengakhiri lumatan yang di rasa penuh dengan nafsu. Tomy memandang wajah Adisty, dua netra saling bertatapan dan saling mengunci. Adisty tampak sayu, bibirnya masih menganga hampir kehabisan pasokan oksigen ketika Tomy mencium dan melumatnya habis-habisan.</p>

<p>“Dis.. Boleh?”</p>

<p>Adisty mengangguk sangat yakin dengan apa yang akan di lakukan oleh mereka. Tentu saja Adisty kini lebih mempercayai Tomy ketimbang Dito yang sudah jelas mengkhianati. Sudah tidak terhitung berapa kali keduanya melewati canda tawa dan sedih hingga terluka bersama. Tomy selalu ada ketika Adisty membutuhkan begitu juga sebaliknya. Sama-sama menjadi penghibur dan saling melengkapi ketika keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja.</p>

<p>Malam itu di ruang kamar yang sangat minim pencahayaan, menjadi saksi dua sahabat yang tidak ingin lepas satu sama lain, saling mengobati luka satu sama lain serta saling menyerahkan raga masing-masing untuk di kuasai oleh nafsu hingga rela berbagi kenikmatan.</p>

<p>Tomy menanggalkan satu persatu pakaian yang ia kenakan hingga menyisakan celana dalam menjadi penutup terakhir yang masih menempel pada tubuhnya. Lelaki itu kembali mendaratkan ciuman dan melumat bibir Adisty, kini terasa lebih menuntut. Adisty yang berada di bawah kendali Tomy hanya mengikuti semua alur yang di ciptakan olehnya.</p>

<p>Setelah puas melumat bibir candu milik Adisty, lelaki itu mulai menjamah dan bergerilya mulai dari ujung telinga, mencium basah hingga belakang telinga dan leher Adisty. Menjilat dan menyesapnya tanpa meninggalkan bekas kemerahan pada kulit putih pucat milik Adisty. Sedangkan wanita itu meloloskan lenguh dan desah yang terdengar kian nyaring di tengah-tengah malam sunyi.</p>

<p>Tangan Tomy bergerak turun, mengusap perlahan paha sang puan kemudian naik keatas menyingkap lingerie satin yang masih menutupi tubuh Adisty. Tanpa basa basi lagi, Adisty menaikkan lingerie itu hingga di atas dadanya dan berhasil melepaskan setengahnya dengan bantuan tangan kanannya. Kemudian sisanya di bantu oleh Tomy untuk di tanggalkan dan hanya menyisakan bra serta celana dalam dengan warna senada.</p>

<p>“Dis, <em>are you serious?</em> Lanjut nggak? Kalau lanjut ya ayo, tapi kalau nggak ya gue stop. Gue mau pakai baju lagi.” Tomy berujar guna memastikan yang ia inginkan bukan atas dasar ego sendiri atau keinginan satu pihak saja.</p>

<p>“<em>Yes. I believe in you, Tomy</em>.” Jawab Adisty penuh keyakinan.</p>

<p>Tomy tersenyum lega, keinginannya terbalaskan oleh Adisty. Tanpa ada paksakan, —pun keduanya memang sedang membutuhkan afeksi. Tomy kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Adisty sebelum dirinya melepaskan bra yang di rasa akan mengganggu aktivitas seksualnya.</p>

<p>Lelaki itu meraup dua gundukan payudara Adisty yang menyembul sempurna dan sangat pas di genggaman. Ia melumatnya secara bergantian, tangannya pun tak bisa tinggal diam. Meremas, memijit, juga memilin ujung payudara milik Adisty yang sudah mencuat tegang.</p>

<p>Adisty membusungkan dada ketika jemari Tomy menyapa miliknya dari balik celana dalamnya yang sudah sangat lembab dan basah. Bibir dan lidah Tomy masih sibuk melumat dan memainkan payudaranya yang semakin menegang.</p>

<p>“Mmphh.. Tomy..”</p>

<p>Entah lenguhan keberapa kali yang keluar dari bibir Adisty, ia sudah tidak bisa mengendalikan nafsu yang sejak tadi menguasai dirinya. Tangan kanannya meremas bahu Tomy ketika jari tengah lelaki itu menyapa klitorisnya yang terasa lembab.</p>

<p>“Aahh.. Tom,—”</p>

<p>“Dis, <em>yours is so wet, huh?</em>“</p>

<p>“<em>Do it, I can&#39;t take it anymore. Please.</em> Satu bulan gue udah nggak ngelakuin sama Dito, jadi cepet basah.” Jelas Adisty tanpa rasa canggung sedikitpun.</p>

<p>Tomy terkekeh mendengar jawaban dari Adisty, lalu menimpali dengan kalimat ejekan.</p>

<p>“Sebulan nggak hs malah cowok lo main sama mantan. Sial.”</p>

<p>“Brengsek lo!” Maki Adisty sembari memukul dada Tomy menggunakan tangan kirinya tanpa sadar.</p>

<p>“Auww... Sakit.” Pekik Adisty ketika menyadari bahwa luka itu belum mengering hingga menimbulkan rasa sakit dan perih yang menjalar hampir ke seluruh tubuh.</p>

<p>“Dis, gimana sih lo?! Belum juga kering lukanya.” Ucap Tomy sembari meniup beberapa kali di atas permukaan perban.</p>

<p>“Gue lupa. Perih, Tom..” Rengek Adisty.</p>

<p>Tomy yang terlihat sibuk meniup di atas permukaan perban guna mengurangi rasa sakit pada lukanya, tiba-tiba mulai menggoda Adisty dengan membubuhkan ciuman hangat mulai dari pergelangan tangan yang masih di balut dengan perban, kemudian ciuman Tomy bergeser pada lengan dari bawah hingga bagian atas tanpa mengalihkan pandangannya pada sorot mata Adisty.</p>

<p>Adisty hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika libidonya mulai naik. Lelaki itu menurunkan celana dalam Adisty dengan sekali tarik kemudian menanggalkan dan membuangnya ke lantai. Tomy bergerak turun, mensejajarkan wajahnya pada liang surgawi milik Adisty yang terlihat sudah sangat basah.</p>

<p>“<em>Oh, shit! This is a beautiful pussy.</em>“</p>

<p>“Tom,— Ahh.. <em>Fuck!</em>” Adisty memekik ketika lidah hangat Tomy menyapa miliknya dengan tiba-tiba. Tubuh wanita itu menggelinjang saat lidah sang tuan menyapu lipatan bibir vagina miliknya dan memainkan klitoris yang berkedut seakan meminta untuk di jamah tanpa henti.</p>

<p>Tomy dan Adisty sama-sama menggila, keduanya di bakar oleh
hasrat dan nafsu. Desahan yang lolos dari bibir Adisty terdengar semakin nyaring hingga memecah kesunyian malam itu.</p>

<p>Satu tangan Adisty meremat kuat-kuat ujung bantal guna melampiaskan kegelisahan. Liangnya sedang di manjakan oleh bibir dan lidah Tomy. Menaik turunkan ujung lidahnya pada bibir vagina dan berhenti pada klitoris milik Adisty yang sudah memerah. Dua jarinya ia lesakkan pada lubang kenikmatan wanita itu tanpa aba-aba hingga membuat Adisty mendesah dan mendongakkan kepalanya.</p>

<p>Satu tangan Tomy ia gunakan untuk menahan kaki Adisty yang bergerak resah, dan satu tangan yang lain masih sibuk memainkan liang surgawi milik Adisty yang sangat hangat dan ketat. Gerakan keluar masuk dua jari Tomy di sertai gerakan memutar ujung lidah pada klitoris wanita itu benar-benar membuat Adisty melenguh, mendesah tidak karuan. Peluh dan keringat mulai bercucuran, rambut hitam legam yang sudah sangat berantakan menimbulkan hawa semakin panas.</p>

<p>“Tomy.. Awas, ahh..”</p>

<p>“<em>You wanna cum, right?</em>” Tanya Tomy di sela aktivitasnya, tanoa menjeda barang sedetikpun.</p>

<p>“<em>Yes, please</em>.. Awas minggir.” Pinta Adisty, namun tidak di hiraukan oleh Tomy. Lelaki itu justru mempercepat gerakan jarinya, lidahnya kembalikan memainkan titik sensitif milik Adisty. Tomy hanya ingin menuntaskan pelepasan wanita itu tanpa harus menghindar dari cairan orgasme yang sebentar lagi akan membasahi jari dan juga bibirnya.</p>

<p>“<em>Come on</em>, Dis.. Keluarin.”</p>

<p>Dinding vagina Adisty mulai berkedut dan semakin mengetat, menjepit kedua jari Tomy yang masih sibuk mengoyak di dalam sana. Lelaki itu terus merangsang pelepasan Adisty dengan menggigit kecil klitorisnya dan melumat serta memainkan dengan lidah. Detik kemudian tubuh Adisty menggelinjang dan bergetar hebat ketika menjemput pelepasannya.</p>

<p>Adisty melengkungkan tubuhnya dan meremas sprei kuat-kuat ketika gelombang pelepasan menyapanya. Desahan panjang terdengar nyaring hingga memenuhi seluruh ruang kamar Adisty. Deru nafas terdengar samar begitu berat.</p>

<p>Adisty memejamkan matanya, merasakan aliran darahnya berdesir begitu cepat. Tomy merangkak keatas tubuh wanita itu dan mensejajarkan dirinya dengan Adisty. Mendaratkan kecupan singkat pada bibir Adisty yang ranum.</p>

<p>“Lanjut, Dis?”</p>

<p>“Menurut lo aja gimana? Lo mau nyelesein sendirian?” Ucap Adisty membalas ledekan yang sempat di ucapkan Tomy beberapa waktu lalu.</p>

<p>Tomy tersenyum kecut, kemudian mencium sembari menggigit bibir Adisty hingga membuat wanita itu tersentak.</p>

<p>“Aw.. Tomyyyy... Sakittt...” Rengek Adisty, bibirnya mengerucut kesal karena perlakuan Tomy. Sedangkan lelaki itu hanya terkekeh sembari melucuti satu-satunya kain penutup aset miliknya.</p>

<p>Adisty menelan ludahnya, gusar. Raut wajah wanita itu berangsur merah merona ketika melihat kejantanan sahabatnya yang sudah mengeras dan tegang. Malam itu adalah kali pertama Adisty dan Tomy saling bertukar kenikmatan dan bisa di pastikan akan terus terulang.</p>

<p>Tomy menindih tubuh Adisty, mengecup kening dan pipi wanita itu dengan lembut.</p>

<p>“Dis, percaya.. Gue gak akan ninggalin lo.” Ucap Tomy di sela menghujani kecupan-kecupam basah pada tubuh Adisty dan wanita itu mengangguk pelan.</p>

<p>“Lanjut? Tapi gue nggak bawa kondom.”</p>

<p>“Nggak apa-apa, gue minum pil.” Jelas Adisty guna meyakinkan sahabatnya.</p>

<p>Tomy kemudian mulai melancarkan aksinya, ia membuka dua kaki Adisty menggunakan lututnya. Lalu mensejajarkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Adisty. Lelaki itu mengocok penisnya perlahan sebelum menggesekkan ujungnya pada bibir vagina Adisty hingga membuat sang puan merasa frustasi.</p>

<p>“Mmphh..” Lenguh Adisty sembari menggigit bibir bawahnya dan secara reflek jemarinya meremas apapun yang menjadi tumpuan.</p>

<p>Tomy melesakkan batang penisnya dalam sekali hentak dan ia benamkan dalam-dalam pada liang surgawi milik Adisty yang terasa sesak dan hangat.</p>

<p>“Aahhh... Penuh banget, Tom.” Adisty berujar di sela desah dan deru nafasnya yang memburu.</p>

<p>“Sakit?” Tanya Tomy memastikan wanita yang berada dalam kendalinya itu tidak merasakan kesakitan.</p>

<p>Adisty menggeleng, ia hanya mencobanya mengatur nafasnya.</p>

<p>“<em>You like it? Warm and full?</em>” Tanya-nya lagi, kemudian di balas dengan anggukan oleh Adisty. Kemudian Tomy mulai menggerakkan pinggulnya, menumbuk liang kenikmatan yang sempit dan hangat itu dengan tempo sedang.</p>

<p>Kedua kaki Adisty melingkar pada pinggang Tomy tanpa di minta. Tangan kanannya meremas lengan Tomy ketika lelaki itu menghujam dan menghentak kejantanannya hingga menabrak titik sensitif milik Adisty.</p>

<p>“Ough.. <em>Fuck</em>. Punya lo enak banget, Dis.”
“Aahhh...”</p>

<p>Satu tangan Tomy menyokong tubuhnya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk meremas, dan memainkan dua gundukan payudara sintal milik Adisty. Sesekali memilin puting milik wanita itu dan mencubit kecil ujungnya, membuat si empu  mengerang.</p>

<p>Adisty bak di bawa terbang ke langit ke tujuh. Ukuran penis Tomy sangat pas bersarang pada miliknya, gerakan penetrasi sang tuan pun di luar dugaan. Tempo gerakan yang tidak terburu-buru, lalu memutar dan menghentakkan pinggulnya dalam-dalam membuat Adisty kelimpungan tak kuasa menahan gelombang pelepasan yang semakin dekat.</p>

<p>Tomy memandang raut wajah Adisty di tengah cahaya temaram yang terasa hangat, mengamati tiap detik sang puan merintih, mendengarkan tiap desahan yang keluar dari bibir wanita itu bak sebuah candu yang sulit di lepaskan.</p>

<p>Tomy mengusap keringat yang membasahi wajah ayu Adisty tanpa mempedulikan dirinya pun penuh akan peluh. Jemarinya sibuk mengusap pipi Adisty guna menyalurkan rasa tenang ketika ia mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik sensitif dan membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.</p>

<p>“<em>Tomy please.. Fuck me harder, please.. Please.. Please..</em>“
“Aahh...”</p>

<p>Adisty menatap lekat dua bola mata Tomy penuh permohonan agar segera di tuntaskan pada pelepasannya. Lelaki itu kemudian mencium dan melumat kembali bibir ranum Adisty guna menyalurkan rasa nikmat yang mereka buru. Pinggul Tomy bergerak semakin tidak beraturan ketika ia merasakan liang vagina sang puan mulai berkedut dan semakin mengetat. Tomy ingin menuntaskan puncak orgasme bersamaan dengan Adisty.</p>

<p>“<em>Come on, girl.</em>“</p>

<p>“Gue udah gak tahan, Tom. Please..” Adisty berujar di saat kedua netranya terpejam rapat. Tubuhnya melengkung dan bergetar hebat.</p>

<p>“Keluarin, Dis... <em>Come on</em>!”</p>

<p>“Aahhh...”</p>

<p>“Aahhh... <em>Fuck!</em>“</p>

<p>Desah dan racau Adisty menuntaskan pelepasannya bersamaan dengan Tomy. Tubuh wanita itu menggelinjang dan bergetar hebat kala cairan sperma milik Tomy menyembur berkali-kali di dalam rahim Adisty dan terasa hangat, bercampur dengan milik Adisty hingga penuh sampai-sampai tidak sanggup menampung cairan kenikmatan yang mengalir membasahi sela paha wanita itu.</p>

<p>Tomy mencium bibir Adisty pelan dan berangsur lama, tangannya mengusap pucuk kepala sang puan. Menyalurkan beribu-ribu rasa hangat, nyaman serta nikmat pada Adisty.</p>

<p>“<em>Thank you, girl.”</em>
“<em>I promise, I&#39;m not to leave you.”</em> Ucap Tomy lirih, kemudian mendaratkan satu ciuman hangat pada kening Adisty. Wanita itu tersenyum sarat akan rasa yang tidak bisa di ungkapan dengan kalimat bahkan sepenggal kata. Adisty yakin bahwa Tomy jauh lebih baik ketimbang calon tunangannya yang tak lain adalah seorang bajingan.</p>

<p>Sampai kapanpun Adisty hanya membutuhkan Tomy Reiga Jazziel.</p>

<hr/>

<p><em>Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for TNL&#39;s birthday.
For all questions and feedback, drop on my;</em>
CC: <a href="https://curiouscat.me/deorphic" rel="nofollow">https://curiouscat.me/deorphic</a>
TL: <a href="https://tellonym.me/deorphic" rel="nofollow">https://tellonym.me/deorphic</a></p>

<p><em>Kalian juga bisa Support karyaku melalui;</em>
<a href="https://trakteer.id/deorphic/tip" rel="nofollow">https://trakteer.id/deorphic/tip</a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sinandyou.writeas.com/friend-to-lover</guid>
      <pubDate>Sun, 27 Feb 2022 02:29:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Journey Begins</title>
      <link>https://sinandyou.writeas.com/the-journey-begins?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sejak melangkahkan kakinya memasuki apartemen miliknya, lelaki berparas tampan itu di sambut oleh rentetan lilin-lilin kecil yang menyala menerangi ruang gelap gulita. Lilin itu berjajar rapi sepanjang bentang ruang tamu hingga ruang kamar pribadi miliknya. Mungkin wanita yang kini tengah berdiri di balik pintu kamar itu menyiapkan berpuluh-puluh lilin untuk menyambut perayaan ulang tahun sang suami serta hari kasih sayang yang di rayakan umat manusia hampir di seluruh dunia.&#xA;&#xA;Nathalie menjelma menjadi sosok wanita yang paling beruntung dan bahagia di semesta. Statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri. Ya, istri dari seorang lelaki bernama Jeremy Gavino. Setelah perjuangan yang di penuhi tangis, usaha mati-matian yang di penuhi rasa sakit namun hasilnya berhasil membuatnya bangkit.&#xA;&#xA;Liku perjuangan untuk mendapatkan restu yang tak kunjung di terima, serta godaan-godaan lain yang menguji keduanya sempat menggoyahkan pendirian dua insan manusia. Namun jika Tuhan sudah menentukan semuanya, seberat apapun cobaan, sejauh kaki melangkah hingga kehilangan arah, pada akhirnya ia akan tau dimana harus bermuara.&#xA;&#xA;Setelah mendaratkan kaki di ambang pintu kamarnya, seutas senyum manis menyambut kedatangannya. Satu tangannya membawa kue ulang tahun mungil berhias lilin kecil sedangkan satunya terbuka lebar guna menyambut sang tuan ke dalam pelukan.&#xA;&#xA;Senyum Jeremy mengembang sempurna kala melihat sang istri yang terlihat sangat cantik mengenakan long dress berwarna hitam backless, dengan seutas tali simpul melingkar di leher yang menyokong dress-nya agar tetap menempel pada tubuh sang puan. Raut wajah Nathalie selalu memancarkan binar kebahagiaan setelah berstatus menjadi seorang istri. &#xA;&#xA;Jeremy perlahan mendekat dan melayangkan peluk hangat pada sang istri, mengusap lembut punggungnya dan mengecup ceruk leher Nathalie beberapa kali secara seduktif serta menghirup aroma tubuh wanita itu yang semakin hari semakin membuatnya menjadi candu.&#xA;&#xA;&#34;Selamat ulang tahun, sayang..&#34; Bisiknya lembut. Deru nafas sang puan menyapa permukaan kulit Jeremy perlahan membangkitkan hasrat hingga menginginkan lebih.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih istriku.&#34; Balas Jeremy dengan senyuman yang mengukir lesung pipinya terlihat jelas menjadi penghias wajah rupawan. Lelaki itu menghujani kecupan lembut di bibir Nathalie secara bertubi-tubi, sembari tangan sang tuan bertengger apik pada pinggang wanita itu guna merapatkan tubuh keduanya.&#xA;&#xA;&#34;Jer.. Udah ah..&#34; Ucap sang puan, tangannya menepuk lengan sang suami.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Aku mau cium kamu.&#34; Jeremy berujar sembari mengerucutkan bibirnya, hendak meloloskan cium pada bibir Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Nanti. Kamu belum mandi, sayang..&#34; Ucap Nathalie sembari menyisir rambut Jeremy menggunakan jemarinya. Lelaki itu hanya terkekeh kemudian merenggangkan peluknya. &#xA;&#xA;&#34;Jer..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak masak. Emm.. Maksudnya aku nggak sempat bikin sesuatu buat kita makan, tadi kamu bilang udah makan malam.&#34; Ucap Nathalie penuh penegasan ketika dirinya sama sekali tidak menyiapkan apapun untuk sekedar makan malam kecil-kecilan guna merayakan ulang tahun sang suami.&#xA;&#xA;&#34;No problem sweetie. I&#39;ve filled my stomach while eating with clients.&#34; Balas Jeremy sembari menanggalkan jas yang ia kenakan kemudian meletakkan di tepi ranjang besar miliknya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu udah makan?&#34; Tanya Jeremy, tangannya sibuk melepaskan dasi yang masih melingkar pada kerah kemejanya.&#xA;&#xA;Nathalie tidak menjawab, beberapa kali bola matanya memutar seakan-akan sedang mencari jawaban tepat untuk di katakan pada suaminya. Pasalnya sudah dua hari lamanya Nathalie hilang nafsu makan. Hari itupun masih sama, ia hanya memakan beberapa coklat batang yang di kirim Tristan dan Laura untuk hadiah hari kasih sayang.&#xA;&#xA;&#34;Nath, are you oke?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya. Jer, aku makan coklat dari Tristan sama Laura, tadi supir yang nganterin kesini. Maaf aku udah icip coklatnya lebih dulu tanpa nunggu kamu. Aku udah nggak tahan pengen makan, Jer..&#34; Ujarnya, tangannya beberapa kali meremat dress-nya. Nathalie terlihat gelisah, tidak seperti biasanya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa, di makan aja Nath.&#34;&#xA;&#34;Aku mandi dulu ya?&#34; &#xA;&#xA;Nathalie mengangguk untuk memberi jawaban pasti pada suaminya, seiring dengan langkah Jeremy menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Wanita itu kemudian membereskan benda-benda milik  sang suami yang di letakan asal begitu saja, seperti jas, dasi, jam tangan, juga ponsel, kemudian meletakkan dan merapikan semua pada tempatnya.&#xA;&#xA;Nathalie berjalan ke arah nakas tepat di sebelah tempat tidurnya, mengambil kotak berbentuk persegi berukuran sedang kemudian meletakkan kotak tersebut di balik bantal yang biasa di gunakan Jeremy tidur. Nathalie berharap Jeremy akan menemukan kado istimewanya sebelum pergi tidur. Wanita itu menyiapkan kado ulang tahun suaminya tanpa persiapan apapun dan semuanya serba mendadak.&#xA;&#xA;Setelah selesai dengan persiapan kejutannya, Nathalie kembali duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Menuangkan wine untuk sang suami dan beberapa coklat pemberian Tristan --pun kue ulang tahun ia letakkan di meja sebagai pelengkap.&#xA;&#xA;Nathalie memainkan ponselnya sembari menunggu Jeremy. Tak lama sang suami keluar dari kamar mandi seiring suara decitan pintu kamar mandi. Lelaki itu hanya mengenakan celana boxer dan handuk yang melingkar pada lehernya sembari mengusap rambutnya yang basah. Nathalie menoleh kebelakang, menatap lekat tubuh suaminya yang nyaris sempurna kemudian tersenyum. &#xA;&#xA;Jeremy berjalan kearah dimana sang istri berada, dengan reflek tangannya melempar asal handuk ke atas ranjang. Sontak Nathalie mengernyitkan dahinya sembari menggerutu, kesal.&#xA;&#xA;&#34;Sayanggg...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Handuknya, ih jangan di taruh sembarangan.&#34; Gerutu Nathalie, namun di balas kekehan oleh sang suami.&#xA;&#xA;&#34;Maaf sayang, iya ini aku taruh di laundry bag.&#34; Ucap Jeremy dan bergegas memungut kembali handuknya dan ia taruh di dalam keranjang laundry. Nathalie tersenyum jail lalu menggeser duduknya guna memberikan tempat di sebelahnya.&#xA;&#xA;&#34;Wine dari mana Nath?&#34; Tanya Jeremy sembari meneguk minuman favoritnya.&#xA;&#xA;&#34;Dari Tristan. Tadi kirim wine, coklat sama bouquet bunga aku taruh di ruang tengah.&#34; Jelas Nathalie, ia kembali menuangkan wine pada gelas Jeremy.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa gelasnya cuma satu? Kamu nggak minum? Atau mau join aja?&#34; Ucap Jeremy sembari menyodorkan gelas itu ke depan Nathalie, namun di tolak dengan cepat wanita itu.&#xA;&#xA;&#34;Nggak Jer, aku lagi nggak pengen minum.&#34; Ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.&#xA;&#xA;Jeremy kemudian meletakkan gelasnya pada meja. Mengamati raut wajah cantik wanitanya yang terlihat sedikit pucat. Tangannya mengusap pipi Nathalie pelan lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibirnya. Jeremy tengah di selimuti rasa bahagia karena pada akhirnya ia dapat berlabuh pada dermaga yang semestinya. Nathalie adalah segalanya bagi Jeremy dan bukan semata-mata karena obsesi.&#xA;&#xA;Memperjuangkan Nathalie, jatuh bangun dengan segala pengorbanan yang telah di laluinya tidak sia-sia. Ia berhasil memenangkan hati sang puan beserta restu sang mama yang di dambakan. Jeremy pantas bersyukur atas apa yang di dapatkannya sampai detik ini. &#xA;&#xA;Begitupun sebaliknya, seluruh sakit yang pernah di emban Nathalie seorang diri, kini berbalik bak sebuah keberuntungan yang tak terhitung nilainya. Menikah dengan Jeremy, mendapatkan restu adalah sebenar-benarnya keinginan Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Nath, thank you for being my wife, terima kasih udah mau percaya sama aku.&#34; Jeremy meraih tangan Nathalie kemudian mengecup beberapa kali punggung tangan istrinya yang terasa dingin.&#xA;&#xA;&#34;Jer, aku yang harusnya berterima kasih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih udah mau menerima aku sebagai istrimu, menerima semua lukaku, sedihku, semua kekuranganku, bahkan seburuk-buruknya aku. Aku sempat berpikir, apa aku benar-benar layak jadi istri kamu?&#34; Balas Nathalie dengan suara yang sedikit bergetar. Jika satu kalimat lagi ia ucapkan mungkin tumpah sudah air mata yang sedari tadi tertahan.&#xA;&#xA;&#34;No. I am the luckiest man. aku sangat beruntung memiliki kamu, Nath.&#34; Balas Jeremy lalu menyambar bibir ranum sang istri, menciumnya penuh hasrat yang menggebu. Jantung Nathalie bergetar hebat, emosinya seakan tidak menentu hingga ia meneteskan air mata yang sudah tak tertahan. Lelaki itu sadar kemudian merenggangkan belah bibir keduanya.&#xA;&#xA;&#34;Nath, kenapa nangis? Hey...&#34; Ucapnya sembari mengusap tetesan air mata yang mengucur membasahi pipi Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa Jer, aku cuma bahagia aja bisa sampai di titik ini. Sama kamu.&#34; Jawab Nathalie sembari mengusap pipinya, asal. Kemudian merapikan helai rambut yang menutupi wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Udah. Jangan nangis, jangan sedih lagi ya? Ini hari ulang tahunku loh, aku maunya kita happy bukannya liat kamu nangis.&#34;&#xA;&#34;Nath, apapun masalahnya, bagaimanapun keadaannya, aku pengen kita tetap sama-sama. Tetap pegangan tangan, selesaikan masalah dengan mengesampingkan ego kita. Kalau ada masalah apa, ngomong ya? Jangan di pendam sendiri.&#34; Pinta Jeremy, tangannya meraih tubuh ramping sang istri lalu memeluknya erat. Mengusap pucuk kepala Nathalie dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada bahu sang puan.&#xA;&#xA;&#34;Iya Jer, aku pasti cerita sama kamu kalau ada apa-apa. Makasih ya. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tau lagi mau kemana.&#34; Ucap Nathalie, tangannya menggenggam erat telapak tangan sang suami.&#xA;&#xA;&#34;Nath, aku tempatmu pulang, tempatmu berteduh, tempatmu berpegangan. Sampai kapanpun.&#34; &#xA;&#xA;Bulir air mata yang tertahan perlahan pecah dan mengalir membasahi pipi Nathalie. Bukan kesedihan melainkan luapan kebahagiaan.&#xA;&#xA;&#34;Potong kue aja yuk, aku mau icip kuenya.&#34; Ucap Jeremy mengalihkan pembicaraan agar Nathalie tidak merasa sedih.&#xA;&#xA;Nathalie mengangguk tanda setuju, ia mengusap beberapa kali pipinya guna menghilangkan sisa air mata yang masih membekas di wajahnya. Wanita itu kemudian ia memotong kue dan menaruhnya dalam piring kecil. &#xA;&#xA;&#34;Aku suapin ya?&#34; Pinta Nathalie sembari menyendok potongan kue dan di lahap habis oleh Jeremy.&#xA;&#xA;&#34;Sini gantian.&#34; Kata Jeremy, lalu mengambil piring serta sendok dari tangan Nathalie --pun berlaku sama. Jeremy yang hendak menyuapi sang istri dengan potongan kue, tiba-tiba saja niat jail muncul di kepalanya. Seharusnya Jeremy mengarahkan sendok pada bibir Nathalie yang sudah menganga meminta untuk di suapi tetapi lelaki itu dengan sengaja menempelkan sendok berisi kue itu pada hidungnya.&#xA;&#xA;Wanita itu sontak kaget dan mengakibatkan kue yang di ujung sendok itu jatuh di atas dadanya. Ya, tepat di antara belahan dadanya yang sedikit menyembul di balut long dress hitam.&#xA;&#xA;&#34;Yah.. Jer...&#34; Sorot matanya sedikit kecewa karena belum sempat mencicipi kue yang terlihat sangat lezat, namun jatuh jatuh lebih dulu.&#xA;&#xA;Jeremy meletakkan piring di tangannya pada meja dengan gerak cepat, lalu menahan dua tangan Nathalie yang hendak mengambil tissue guna membersihkan kue yang mengotori kulitnya juga dress yang di kenakannya. Lelaki itu bergerak lebih cepat, ia menggunakan bibir serta lidahnya untuk membersihkan kue yang mengotori dada sang istri.&#xA;&#xA;Nathalie memejamkan matanya sejenak kala merasakan lidah hangat Jeremy yang menyapu permukaan kulitnya. Tangan Jeremy bergerak merangkul tubuh sang puan sembari menarik tali simpul yang sedari tadi menahan dress yang di kenakan Nathalie agar tidak terlepas.&#xA;&#xA;Cukup singkat lelaki itu hampir menelanjangi Nathalie. Dress yang di kenakan sang istri sudah luruh bersamaan dengan kecup basah dan belaian hangat yang berasal dari lidah Jeremy. Gerakan-gerakan acak dan sedikit brutal dari cecap bibir Jeremy juga lidah yang sibuk melumat, dan membersihkan sisa-sisa kue yang menempel pada permukaan kulit Nathalie membuatnya terangsang dengan cepat.&#xA;&#xA;&#34;Mmph... Jer,--&#34;&#xA;&#xA;Lenguh yang sudah tidak bisa di tahan oleh Nathalie akhirnya lolos dari bibir ranum sang pemilik sembari meremas rambut Jeremy guna menyalurkan gejolak birahi yang mulai merajai. Dua tangan Nathalie akhirnya bertumpu pada meja di sebelahnya dan satu lagi bertumpu pada sofa, kala Jeremy dengan gencar bermain-main dengan puncak payudaranya.&#xA;&#xA;Bibirnya menjilat, melumat puting sang puan yang sudah mencuat tegang. Sedangkan tangan satunya tidak bisa tinggal diam, meremas pelan guna merangsang lebih dalam lagi sembari memilin dan mencubit kecil di bagian ujungnya hingga membuat sang empu mendesah gelisah.&#xA;&#xA;Long dress yang semula masih bertengger pada perut Nathalie, kini berhasil di lucuti oleh Jeremy tanpa menghentikan aktivitas mencumbu wanitanya.&#xA;&#xA;Entah sudah berapa kali bibir Nathalie meloloskan racau dan desah tanpa henti. Jeremy benar-benar membuatnya kepalang nafsu dan semakin memburu. Lelaki itu terus bergerak agresif, setelah puas bermain-main dengan payudara Nathalie jemarinya bergerak turun menyapa milik sang puan yang terasa lembab dan basah.&#xA;&#xA;Jeremy mengeluarkan senyum seringai tanda ia berhasil membuat Nathalie basah kuyup karena ulahnya. Ia menatap lamat wajah cantik sang istri dari terpaan cahaya minim di ruang kamarnya. Wajah sayu Nathalie terlihat jelas bak sedang memohon untuk segera di puaskan oleh sang pemegang kendali.&#xA;&#xA;Jeremy lantas bergerak turun namun dengan cepat di cegah oleh Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Jer, lanjut di ranjang aja ya? Punggungku sakit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Of course, sweetie. I will take you there.&#34; &#xA;&#xA;Jeremy kemudian membawa tubuh Nathalie bak bridal style. Merebahkan tubuh mungil sang istri pada ranjang besar miliknya, lalu mengungkungnya. Ia kembali melumat bibir Nathalie yang ranum, menyesap dan memainkan lidahnya pada rongga mulut sang puan. Jemarinya kembali bergerak agresif tanpa aba-aba menangkup belah bibir vagina milik Nathalie bersamaan dua kakinya yang melebar agar sang tuan dengan leluasa menjamahnya.&#xA;&#xA;Jemari milik Jeremy bergerak perlahan, menggesek belahan bibir vagina sang istri menggunakan jari tengahnya kemudian berhenti pada klitoris dan memutarnya dengan tegas membuat empunya mengerang dan mendesah karena nikmat. Lelaki itu terus menghujani kecupan-kecupan basah tiap inci tubuh wanitanya, mulai dari telinga, leher, bahu, dan berhenti pada payudara sintal yang sedari tadi sudah menegang.&#xA;&#xA;Bibir Jeremy tengah sibuk melumat dengan rakus dua payudara Nathalie secara bergantian. Memainkan putingnya dengan lidah, menyesap tanpa meninggalkan jejak kemerahan pada permukaan kulit sang puan. Jarinya masih bergerak agresif di bawah sana hingga liang surgawi milik Nathalie mengeluarkan cairan pre-cum.&#xA;&#xA;Tubuh Nathalie tiba-tiba saja melengkung sembari membusungkan dadanya kala jari tengah dan jari manis milik Jeremy menerobos masuk tanpa aba-aba. &#xA;&#xA;&#34;Aahh... Jer,--&#34; Desahannya terdengar parau di tengah deru nafas yang mulai memburu.&#xA;&#xA;Jeremy menggerakkan dua jarinya dengan tempo sedang, merasakan hangat liang vagina milik Nathalie sembari menatap lamat-lamat raut wajah wanitanya yang tengah terkulai tak berdaya. Mimik wajah sang puan tampak gelisah menerima semua rangsangan yang di berikan oleh Jeremy. Nathalie hanya bisa mendongakkan kepalanya sembari menyebut nama Jeremy. Tangannya bergerak tak kalah gelisah, hanya bisa meremas sprei dan bantal yang berada dalam jangkauannya.&#xA;&#xA;&#34;Jeremy, pleasehh...&#34;&#xA;&#34;Ahh...&#34;&#xA;&#xA;Desahan yang keluar dari bibir Nathalie bak sebuah candu yang menulikan gendang telinganya, membuat Jeremy semakin gencar memainkan milik Nathalie di bawah sana. Liang vaginanya perlahan mengetat dan menghimpit sesak dua jemari sang tuan yang masih bergerak dengan tempo yang sedikit lebih cepat.&#xA;&#xA;&#34;Jer.. Aku mau cum..&#34; Rintih Nathalie seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan pada pelepasannya. Melihat tubuh Nathalie yang mulai bergerak resah, ia segera mengeluarkan dua jarinya dan menggantikannya dengan lidah serta bibir yang bermain di bawah sana. &#xA;&#xA;&#34;Ouh.. Jer,--&#34;&#xA;&#xA;Jeremy menggunakan satu tangan untuk menahan gerakan kaki Nathalie, tangan satunya ia gunakan untuk merangsang pelepasannya yang sibuk bermain pada liang surgawi milik sang istri. Lidah dan bibirnya sibuk bermain dengan klitoris, sesekali menggigit kecil di sana hingga membuatnya lebih cepat menjemput pelepasannya.&#xA;&#xA;&#34;Jer...&#34;&#xA;&#xA;Tubuh Nathalie mulai menggelinjang, dadanya membusung dan dua tangannya meremas sprei kuat-kuat pada saat gelombang pelepasannya semakin cepat.&#xA;&#xA;&#34;Come on, babe..&#34; Pinta Jeremy pada saat ia merasakan liangnya mulai berkedut dan tubuh Nathalie bergetar hebat. &#xA;&#xA;&#34;Aahhh...&#34; Desahan yang nyaring mengantarkan Nathalie pada pelepasannya. Tubuh yang di penuhi keringat serta deru nafas yang kian memburu menjadi pemandangan apik bagi Jeremy yang kini tengah beranjak setelah selesai ia membersihkan cairan pelepasan milik Nathalie menggunakan lidahnya.&#xA;&#xA;Lelaki itu kemudian bersiap di atas tubuh Nathalie sembari mengurut kejantanannya sendiri, sesekali menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina milik Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Let&#39;s make a baby.&#34; &#xA;&#xA;Bersamaan dengan Jeremy yang tengah melesakkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;We got --it. Ahh...&#34; Kalimat jawaban di iringi desah suara parau yang semakin lirih membuat Jeremy samar atas apa yang di ucapkan Nathalie. Wanita itu terus memejamkan matanya kala Jeremy sibuk menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Perlahan tapi pasti, gerakan pinggul Jeremy semakin lama semakin menjadi. &#xA;&#xA;Desahan nikmat yang tidak bisa di tahan terus lolos dari bibir Nathalie juga Jeremy hingga saling bersahutan. Gema desah yang sarat akan nikmat itu memenuhi seluruh ruang kamar. Semilir angin dari pendingin udara seakan tidak lagi menyejukkan di tengah pergulatan nafsu birahi yang semakin menjadi.&#xA;&#xA;Jeremy mengejar nikmat yang di damba-damba sedangkan Nathalie sudah berpasrah dengan sang suami yang tengah memegang kendali. Dua kaki Nathalie yang semula melingkar pada pinggang Jeremy, kini bertengger pada bahu sang tuan. Keduanya di tangkup oleh tangan Jeremy guna sebagai pegangan kala penetrasi.&#xA;&#xA;Semakin lama Jeremy semakin keras menumbuk liang kenikmatan milik Nathalie hingga menembus titik sensitifnya. Wanita yang berada di bawahnya tengah mengerang, memejamkan kedua matanya sembari meremas sprei kuat-kuat.&#xA;&#xA;&#34;Jer...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nathalie..&#34;&#xA;&#34;Come on..&#34;&#xA;&#xA;Jeremy tau pasti saat ini Nathalie hampir sampai pada pelepasannya yang ke dua. Liang vaginanya mulai berkedut, ia kemudian melingkarkan kembali kedua kaki Nathalie pada pinggangnya. Tubuh Jeremy mendekat pada tubuh wanitanya sembari menghentakkan pinggulnya dalam-dalam. Jeremy membubuhi bibir Nathalie dengan kecupan basah yang singkat sembari memujinya.&#xA;&#xA;&#34;You&#39;re so beautiful, i love you Nathalie...&#34;&#xA;&#xA;&#34;I love you more, Jer...&#34; Balas Nathalie di tengah-tengah sengal deru nafasnya yang kian tak beraturan.&#xA;&#xA;&#34;Jer...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nath, you wanna cum?&#34;&#xA;&#xA;Nathalie hanya menganggukkan kepalanya saja, tenaganya sudah terkuras habis. Mendesah saja sudah hampir kehabisan suaranya.&#xA;&#xA;&#34;Oke, let&#39;s go, babe.&#34;&#xA;&#xA;Jeremy menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Dua tangannya ia gunakan untuk bertumpu sembari mengusap peluh di kening Nathalie lalu mengecupnya berkali-kali sembari menghentakkan dalam-dalam batang penisnya. Jeremy merenggangkan tubuhnya dan mengangkat pinggulnya hingga penisnya hampir keluar, lalu menghentakkan keras pada liang surgawi milik Nathalie. Bersamaan dengan cairan sperma yang menyembur ke dalam rahim sang puan. Nathalie-pun sama-sama menuntaskan pelepasannya yang kedua dengan desah nikmat, serta tubuh yang bergetar hebat.&#xA;&#xA;Jeremy masih sibuk dengan menghujani kecupan-kecupan mesra pada kening Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Thank you so much, Nath.&#34;&#xA;&#34;I love you.&#34;&#xA;&#xA;I love you more, Jer...&#34; Balas Nathalie di tengah deru nafas yang memburu. Perlahan Jeremy mengeluarkan batang penisnya yang penuh dengan sisa cairan pelepasan keduanya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Tangannya meraih bantal di atasnya namun terganjal sesuatu.&#xA;&#xA;Jeremy kemudian terduduk, meraih selimut guna menutupi tubuh Nathalie dari terpaan dinginnya udara yang keluar dari pendingin ruangan. Ia mengambil bantal dan menemukan sesuatu yang tadi sempat mengganjal di bawah bantal tidurnya.&#xA;&#xA;Kotak berukuran sedang, berwarna mint. Jeremy lantas menatap Nathalie penuh rasa penasaran, sedangkan wanita yang tengah menetralkan nafasnya itu hanya tersenyum lalu mengangguk, memberikan kode agar Jeremy segera membukanya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu beliin aku kado apa Nath? Jam tangan? Tapi kok ringan gini.&#34; Jeremy berujar sembari menggoyahkan kotak tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Buka aja.&#34; Titah Nathalie.&#xA;&#xA;Jeremy kemudian membuka secara perlahan kotak tersebut, dan netranya membelalak ketika melihat isinya. Rona wajahnya tampak semburat merah penuh kebahagiaan. Di dalam kotak itu berisikan sebuah testpack dengan garis dua menandakan Nathalie kini tengah mengandung buah cintanya.&#xA;&#xA;&#34;Nath, seriously???&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yes!&#34; jawabnya tegas.&#xA;&#xA;Jeremy lantas memeluk erat-erat tubuh Nathalie dan mencium keningnya berkali-kali guna menyalurkan rasa bahagia yang di rasakan saat ini sungguh tiada tara.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kamu nggak bilang dari awal Nath? Aku tadi terlalu keras ya? Kamu sakit?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku mau kasih kejutan Jer, jadi aku tahan-tahan aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak bisa kayak gitu Nath, kasian calon baby-nya. Besok kita ke rumah sakit ya? Aku libur sehari, mau nemanin kamu periksa.&#34; Ujarnya, tangannya mengusap pucuk kepala Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Abis periksa kan kamu bisa ke kantor Jer, nggak perlu sampai nggak masuk kerja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gapapa Nath, aku bos-nya. Bebas dong, suka-suka aku.&#34;&#xA;&#34;Aku mau sama kamu seharian.&#34;&#xA;&#xA;Nathalie hanya terkekeh. Jeremy kemudian mensejajarkan tubuhnya di samping Nathalie. Keduanya kini tengah berbagi kehangatan lewat peluk dan rengkuh di balik selimut tebal yang hangat. &#xA;&#xA;&#34;Go to sleep, babe..&#34; Ucap Jeremy sembari mengecup puncak kepala Nathalie.&#xA;&#xA;&#34;Iya, calon papa adek bayi.&#34; Sahut Nathalie, wajahnya ia benamkan pada dada bidang sang suami.&#xA;&#xA;Keduanya lalu tertawa bersamaan. Bahagia yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Perjalanan Jeremy dan Nathalie baru saja di mulai.&#xA;&#xA;-----------------------&#xA;&#xA;Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for JJH&#39;s birthday.&#xA;For all questions and feedback, drop on my;&#xA;CC: https://curiouscat.me/deorphic&#xA;TL: https://tellonym.me/deorphic&#xA;&#xA;Kalian juga bisa Support karyaku melalui;&#xA;https://trakteer.id/deorphic/tip]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sejak melangkahkan kakinya memasuki apartemen miliknya, lelaki berparas tampan itu di sambut oleh rentetan lilin-lilin kecil yang menyala menerangi ruang gelap gulita. Lilin itu berjajar rapi sepanjang bentang ruang tamu hingga ruang kamar pribadi miliknya. Mungkin wanita yang kini tengah berdiri di balik pintu kamar itu menyiapkan berpuluh-puluh lilin untuk menyambut perayaan ulang tahun sang suami serta hari kasih sayang yang di rayakan umat manusia hampir di seluruh dunia.</p>

<p>Nathalie menjelma menjadi sosok wanita yang paling beruntung dan bahagia di semesta. Statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri. Ya, istri dari seorang lelaki bernama Jeremy Gavino. Setelah perjuangan yang di penuhi tangis, usaha mati-matian yang di penuhi rasa sakit namun hasilnya berhasil membuatnya bangkit.</p>

<p>Liku perjuangan untuk mendapatkan restu yang tak kunjung di terima, serta godaan-godaan lain yang menguji keduanya sempat menggoyahkan pendirian dua insan manusia. Namun jika Tuhan sudah menentukan semuanya, seberat apapun cobaan, sejauh kaki melangkah hingga kehilangan arah, pada akhirnya ia akan tau dimana harus bermuara.</p>

<p>Setelah mendaratkan kaki di ambang pintu kamarnya, seutas senyum manis menyambut kedatangannya. Satu tangannya membawa kue ulang tahun mungil berhias lilin kecil sedangkan satunya terbuka lebar guna menyambut sang tuan ke dalam pelukan.</p>

<p>Senyum Jeremy mengembang sempurna kala melihat sang istri yang terlihat sangat cantik mengenakan <em>long dress</em> berwarna hitam <em>backless</em>, dengan seutas tali simpul melingkar di leher yang menyokong dress-nya agar tetap menempel pada tubuh sang puan. Raut wajah Nathalie selalu memancarkan binar kebahagiaan setelah berstatus menjadi seorang istri.</p>

<p>Jeremy perlahan mendekat dan melayangkan peluk hangat pada sang istri, mengusap lembut punggungnya dan mengecup ceruk leher Nathalie beberapa kali secara seduktif serta menghirup aroma tubuh wanita itu yang semakin hari semakin membuatnya menjadi candu.</p>

<p>“Selamat ulang tahun, sayang..” Bisiknya lembut. Deru nafas sang puan menyapa permukaan kulit Jeremy perlahan membangkitkan hasrat hingga menginginkan lebih.</p>

<p>“Terima kasih istriku.” Balas Jeremy dengan senyuman yang mengukir lesung pipinya terlihat jelas menjadi penghias wajah rupawan. Lelaki itu menghujani kecupan lembut di bibir Nathalie secara bertubi-tubi, sembari tangan sang tuan bertengger apik pada pinggang wanita itu guna merapatkan tubuh keduanya.</p>

<p>“Jer.. Udah ah..” Ucap sang puan, tangannya menepuk lengan sang suami.</p>

<p>“Kenapa? Aku mau cium kamu.” Jeremy berujar sembari mengerucutkan bibirnya, hendak meloloskan cium pada bibir Nathalie.</p>

<p>“Nanti. Kamu belum mandi, sayang..” Ucap Nathalie sembari menyisir rambut Jeremy menggunakan jemarinya. Lelaki itu hanya terkekeh kemudian merenggangkan peluknya.</p>

<p>“Jer..”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Aku nggak masak. Emm.. Maksudnya aku nggak sempat bikin sesuatu buat kita makan, tadi kamu bilang udah makan malam.” Ucap Nathalie penuh penegasan ketika dirinya sama sekali tidak menyiapkan apapun untuk sekedar makan malam kecil-kecilan guna merayakan ulang tahun sang suami.</p>

<p><em>“No problem sweetie. I&#39;ve filled my stomach while eating with clients.”</em> Balas Jeremy sembari menanggalkan jas yang ia kenakan kemudian meletakkan di tepi ranjang besar miliknya.</p>

<p>“Kamu udah makan?” Tanya Jeremy, tangannya sibuk melepaskan dasi yang masih melingkar pada kerah kemejanya.</p>

<p>Nathalie tidak menjawab, beberapa kali bola matanya memutar seakan-akan sedang mencari jawaban tepat untuk di katakan pada suaminya. Pasalnya sudah dua hari lamanya Nathalie hilang nafsu makan. Hari itupun masih sama, ia hanya memakan beberapa coklat batang yang di kirim Tristan dan Laura untuk hadiah hari kasih sayang.</p>

<p>“Nath, <em>are you oke?</em>“</p>

<p>“Ya. Jer, aku makan coklat dari Tristan sama Laura, tadi supir yang nganterin kesini. Maaf aku udah icip coklatnya lebih dulu tanpa nunggu kamu. Aku udah nggak tahan pengen makan, Jer..” Ujarnya, tangannya beberapa kali meremat <em>dress</em>-nya. Nathalie terlihat gelisah, tidak seperti biasanya.</p>

<p>“Nggak apa-apa, di makan aja Nath.”
“Aku mandi dulu ya?”</p>

<p>Nathalie mengangguk untuk memberi jawaban pasti pada suaminya, seiring dengan langkah Jeremy menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Wanita itu kemudian membereskan benda-benda milik  sang suami yang di letakan asal begitu saja, seperti jas, dasi, jam tangan, juga ponsel, kemudian meletakkan dan merapikan semua pada tempatnya.</p>

<p>Nathalie berjalan ke arah nakas tepat di sebelah tempat tidurnya, mengambil kotak berbentuk persegi berukuran sedang kemudian meletakkan kotak tersebut di balik bantal yang biasa di gunakan Jeremy tidur. Nathalie berharap Jeremy akan menemukan kado istimewanya sebelum pergi tidur. Wanita itu menyiapkan kado ulang tahun suaminya tanpa persiapan apapun dan semuanya serba mendadak.</p>

<p>Setelah selesai dengan persiapan kejutannya, Nathalie kembali duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Menuangkan <em>wine</em> untuk sang suami dan beberapa coklat pemberian Tristan —pun kue ulang tahun ia letakkan di meja sebagai pelengkap.</p>

<p>Nathalie memainkan ponselnya sembari menunggu Jeremy. Tak lama sang suami keluar dari kamar mandi seiring suara decitan pintu kamar mandi. Lelaki itu hanya mengenakan celana <em>boxer</em> dan handuk yang melingkar pada lehernya sembari mengusap rambutnya yang basah. Nathalie menoleh kebelakang, menatap lekat tubuh suaminya yang nyaris sempurna kemudian tersenyum.</p>

<p>Jeremy berjalan kearah dimana sang istri berada, dengan reflek tangannya melempar asal handuk ke atas ranjang. Sontak Nathalie mengernyitkan dahinya sembari menggerutu, kesal.</p>

<p>“Sayanggg...”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Handuknya, ih jangan di taruh sembarangan.” Gerutu Nathalie, namun di balas kekehan oleh sang suami.</p>

<p>“Maaf sayang, iya ini aku taruh di <em>laundry bag</em>.” Ucap Jeremy dan bergegas memungut kembali handuknya dan ia taruh di dalam keranjang laundry. Nathalie tersenyum jail lalu menggeser duduknya guna memberikan tempat di sebelahnya.</p>

<p>“<em>Wine</em> dari mana Nath?” Tanya Jeremy sembari meneguk minuman favoritnya.</p>

<p>“Dari Tristan. Tadi kirim <em>wine</em>, coklat sama <em>bouquet</em> bunga aku taruh di ruang tengah.” Jelas Nathalie, ia kembali menuangkan <em>wine</em> pada gelas Jeremy.</p>

<p>“Kenapa gelasnya cuma satu? Kamu nggak minum? Atau mau join aja?” Ucap Jeremy sembari menyodorkan gelas itu ke depan Nathalie, namun di tolak dengan cepat wanita itu.</p>

<p>“Nggak Jer, aku lagi nggak pengen minum.” Ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.</p>

<p>Jeremy kemudian meletakkan gelasnya pada meja. Mengamati raut wajah cantik wanitanya yang terlihat sedikit pucat. Tangannya mengusap pipi Nathalie pelan lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibirnya. Jeremy tengah di selimuti rasa bahagia karena pada akhirnya ia dapat berlabuh pada dermaga yang semestinya. Nathalie adalah segalanya bagi Jeremy dan bukan semata-mata karena obsesi.</p>

<p>Memperjuangkan Nathalie, jatuh bangun dengan segala pengorbanan yang telah di laluinya tidak sia-sia. Ia berhasil memenangkan hati sang puan beserta restu sang mama yang di dambakan. Jeremy pantas bersyukur atas apa yang di dapatkannya sampai detik ini.</p>

<p>Begitupun sebaliknya, seluruh sakit yang pernah di emban Nathalie seorang diri, kini berbalik bak sebuah keberuntungan yang tak terhitung nilainya. Menikah dengan Jeremy, mendapatkan restu adalah sebenar-benarnya keinginan Nathalie.</p>

<p>“Nath, <em>thank you for being my wife,</em> terima kasih udah mau percaya sama aku.” Jeremy meraih tangan Nathalie kemudian mengecup beberapa kali punggung tangan istrinya yang terasa dingin.</p>

<p>“Jer, aku yang harusnya berterima kasih.”</p>

<p>“Terima kasih udah mau menerima aku sebagai istrimu, menerima semua lukaku, sedihku, semua kekuranganku, bahkan seburuk-buruknya aku. Aku sempat berpikir, apa aku benar-benar layak jadi istri kamu?” Balas Nathalie dengan suara yang sedikit bergetar. Jika satu kalimat lagi ia ucapkan mungkin tumpah sudah air mata yang sedari tadi tertahan.</p>

<p><em>“No. I am the luckiest man.</em> aku sangat beruntung memiliki kamu, Nath.” Balas Jeremy lalu menyambar bibir ranum sang istri, menciumnya penuh hasrat yang menggebu. Jantung Nathalie bergetar hebat, emosinya seakan tidak menentu hingga ia meneteskan air mata yang sudah tak tertahan. Lelaki itu sadar kemudian merenggangkan belah bibir keduanya.</p>

<p>“Nath, kenapa nangis? Hey...” Ucapnya sembari mengusap tetesan air mata yang mengucur membasahi pipi Nathalie.</p>

<p>“Nggak apa-apa Jer, aku cuma bahagia aja bisa sampai di titik ini. Sama kamu.” Jawab Nathalie sembari mengusap pipinya, asal. Kemudian merapikan helai rambut yang menutupi wajahnya.</p>

<p>“Udah. Jangan nangis, jangan sedih lagi ya? Ini hari ulang tahunku loh, aku maunya kita <em>happy</em> bukannya liat kamu nangis.”
“Nath, apapun masalahnya, bagaimanapun keadaannya, aku pengen kita tetap sama-sama. Tetap pegangan tangan, selesaikan masalah dengan mengesampingkan ego kita. Kalau ada masalah apa, ngomong ya? Jangan di pendam sendiri.” Pinta Jeremy, tangannya meraih tubuh ramping sang istri lalu memeluknya erat. Mengusap pucuk kepala Nathalie dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada bahu sang puan.</p>

<p>“Iya Jer, aku pasti cerita sama kamu kalau ada apa-apa. Makasih ya. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tau lagi mau kemana.” Ucap Nathalie, tangannya menggenggam erat telapak tangan sang suami.</p>

<p>“Nath, aku tempatmu pulang, tempatmu berteduh, tempatmu berpegangan. Sampai kapanpun.”</p>

<p>Bulir air mata yang tertahan perlahan pecah dan mengalir membasahi pipi Nathalie. Bukan kesedihan melainkan luapan kebahagiaan.</p>

<p>“Potong kue aja yuk, aku mau icip kuenya.” Ucap Jeremy mengalihkan pembicaraan agar Nathalie tidak merasa sedih.</p>

<p>Nathalie mengangguk tanda setuju, ia mengusap beberapa kali pipinya guna menghilangkan sisa air mata yang masih membekas di wajahnya. Wanita itu kemudian ia memotong kue dan menaruhnya dalam piring kecil.</p>

<p>“Aku suapin ya?” Pinta Nathalie sembari menyendok potongan kue dan di lahap habis oleh Jeremy.</p>

<p>“Sini gantian.” Kata Jeremy, lalu mengambil piring serta sendok dari tangan Nathalie —pun berlaku sama. Jeremy yang hendak menyuapi sang istri dengan potongan kue, tiba-tiba saja niat jail muncul di kepalanya. Seharusnya Jeremy mengarahkan sendok pada bibir Nathalie yang sudah menganga meminta untuk di suapi tetapi lelaki itu dengan sengaja menempelkan sendok berisi kue itu pada hidungnya.</p>

<p>Wanita itu sontak kaget dan mengakibatkan kue yang di ujung sendok itu jatuh di atas dadanya. Ya, tepat di antara belahan dadanya yang sedikit menyembul di balut <em>long dress</em> hitam.</p>

<p>“Yah.. Jer...” Sorot matanya sedikit kecewa karena belum sempat mencicipi kue yang terlihat sangat lezat, namun jatuh jatuh lebih dulu.</p>

<p>Jeremy meletakkan piring di tangannya pada meja dengan gerak cepat, lalu menahan dua tangan Nathalie yang hendak mengambil <em>tissue</em> guna membersihkan kue yang mengotori kulitnya juga <em>dress</em> yang di kenakannya. Lelaki itu bergerak lebih cepat, ia menggunakan bibir serta lidahnya untuk membersihkan kue yang mengotori dada sang istri.</p>

<p>Nathalie memejamkan matanya sejenak kala merasakan lidah hangat Jeremy yang menyapu permukaan kulitnya. Tangan Jeremy bergerak merangkul tubuh sang puan sembari menarik tali simpul yang sedari tadi menahan <em>dress</em> yang di kenakan Nathalie agar tidak terlepas.</p>

<p>Cukup singkat lelaki itu hampir menelanjangi Nathalie. <em>Dress</em> yang di kenakan sang istri sudah luruh bersamaan dengan kecup basah dan belaian hangat yang berasal dari lidah Jeremy. Gerakan-gerakan acak dan sedikit brutal dari cecap bibir Jeremy juga lidah yang sibuk melumat, dan membersihkan sisa-sisa kue yang menempel pada permukaan kulit Nathalie membuatnya terangsang dengan cepat.</p>

<p>“Mmph... Jer,—”</p>

<p>Lenguh yang sudah tidak bisa di tahan oleh Nathalie akhirnya lolos dari bibir ranum sang pemilik sembari meremas rambut Jeremy guna menyalurkan gejolak birahi yang mulai merajai. Dua tangan Nathalie akhirnya bertumpu pada meja di sebelahnya dan satu lagi bertumpu pada sofa, kala Jeremy dengan gencar bermain-main dengan puncak payudaranya.</p>

<p>Bibirnya menjilat, melumat puting sang puan yang sudah mencuat tegang. Sedangkan tangan satunya tidak bisa tinggal diam, meremas pelan guna merangsang lebih dalam lagi sembari memilin dan mencubit kecil di bagian ujungnya hingga membuat sang empu mendesah gelisah.</p>

<p><em>Long dress</em> yang semula masih bertengger pada perut Nathalie, kini berhasil di lucuti oleh Jeremy tanpa menghentikan aktivitas mencumbu wanitanya.</p>

<p>Entah sudah berapa kali bibir Nathalie meloloskan racau dan desah tanpa henti. Jeremy benar-benar membuatnya kepalang nafsu dan semakin memburu. Lelaki itu terus bergerak agresif, setelah puas bermain-main dengan payudara Nathalie jemarinya bergerak turun menyapa milik sang puan yang terasa lembab dan basah.</p>

<p>Jeremy mengeluarkan senyum seringai tanda ia berhasil membuat Nathalie basah kuyup karena ulahnya. Ia menatap lamat wajah cantik sang istri dari terpaan cahaya minim di ruang kamarnya. Wajah sayu Nathalie terlihat jelas bak sedang memohon untuk segera di puaskan oleh sang pemegang kendali.</p>

<p>Jeremy lantas bergerak turun namun dengan cepat di cegah oleh Nathalie.</p>

<p>“Jer, lanjut di ranjang aja ya? Punggungku sakit.”</p>

<p><em>“Of course, sweetie. I will take you there.”</em></p>

<p>Jeremy kemudian membawa tubuh Nathalie bak <em>bridal style</em>. Merebahkan tubuh mungil sang istri pada ranjang besar miliknya, lalu mengungkungnya. Ia kembali melumat bibir Nathalie yang ranum, menyesap dan memainkan lidahnya pada rongga mulut sang puan. Jemarinya kembali bergerak agresif tanpa aba-aba menangkup belah bibir vagina milik Nathalie bersamaan dua kakinya yang melebar agar sang tuan dengan leluasa menjamahnya.</p>

<p>Jemari milik Jeremy bergerak perlahan, menggesek belahan bibir vagina sang istri menggunakan jari tengahnya kemudian berhenti pada klitoris dan memutarnya dengan tegas membuat empunya mengerang dan mendesah karena nikmat. Lelaki itu terus menghujani kecupan-kecupan basah tiap inci tubuh wanitanya, mulai dari telinga, leher, bahu, dan berhenti pada payudara sintal yang sedari tadi sudah menegang.</p>

<p>Bibir Jeremy tengah sibuk melumat dengan rakus dua payudara Nathalie secara bergantian. Memainkan putingnya dengan lidah, menyesap tanpa meninggalkan jejak kemerahan pada permukaan kulit sang puan. Jarinya masih bergerak agresif di bawah sana hingga liang surgawi milik Nathalie mengeluarkan cairan <em>pre-cum</em>.</p>

<p>Tubuh Nathalie tiba-tiba saja melengkung sembari membusungkan dadanya kala jari tengah dan jari manis milik Jeremy menerobos masuk tanpa aba-aba.</p>

<p>“Aahh... Jer,—” Desahannya terdengar parau di tengah deru nafas yang mulai memburu.</p>

<p>Jeremy menggerakkan dua jarinya dengan tempo sedang, merasakan hangat liang vagina milik Nathalie sembari menatap lamat-lamat raut wajah wanitanya yang tengah terkulai tak berdaya. Mimik wajah sang puan tampak gelisah menerima semua rangsangan yang di berikan oleh Jeremy. Nathalie hanya bisa mendongakkan kepalanya sembari menyebut nama Jeremy. Tangannya bergerak tak kalah gelisah, hanya bisa meremas sprei dan bantal yang berada dalam jangkauannya.</p>

<p>“Jeremy, <em>pleasehh...</em>“
“Ahh...”</p>

<p>Desahan yang keluar dari bibir Nathalie bak sebuah candu yang menulikan gendang telinganya, membuat Jeremy semakin gencar memainkan milik Nathalie di bawah sana. Liang vaginanya perlahan mengetat dan menghimpit sesak dua jemari sang tuan yang masih bergerak dengan tempo yang sedikit lebih cepat.</p>

<p>“Jer.. Aku mau cum..” Rintih Nathalie seakan-akan memohon untuk segera di tuntaskan pada pelepasannya. Melihat tubuh Nathalie yang mulai bergerak resah, ia segera mengeluarkan dua jarinya dan menggantikannya dengan lidah serta bibir yang bermain di bawah sana.</p>

<p>“Ouh.. Jer,—”</p>

<p>Jeremy menggunakan satu tangan untuk menahan gerakan kaki Nathalie, tangan satunya ia gunakan untuk merangsang pelepasannya yang sibuk bermain pada liang surgawi milik sang istri. Lidah dan bibirnya sibuk bermain dengan klitoris, sesekali menggigit kecil di sana hingga membuatnya lebih cepat menjemput pelepasannya.</p>

<p>“Jer...”</p>

<p>Tubuh Nathalie mulai menggelinjang, dadanya membusung dan dua tangannya meremas sprei kuat-kuat pada saat gelombang pelepasannya semakin cepat.</p>

<p><em>“Come on, babe</em>..” Pinta Jeremy pada saat ia merasakan liangnya mulai berkedut dan tubuh Nathalie bergetar hebat.</p>

<p>“Aahhh...” Desahan yang nyaring mengantarkan Nathalie pada pelepasannya. Tubuh yang di penuhi keringat serta deru nafas yang kian memburu menjadi pemandangan apik bagi Jeremy yang kini tengah beranjak setelah selesai ia membersihkan cairan pelepasan milik Nathalie menggunakan lidahnya.</p>

<p>Lelaki itu kemudian bersiap di atas tubuh Nathalie sembari mengurut kejantanannya sendiri, sesekali menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina milik Nathalie.</p>

<p><em>“Let&#39;s make a baby.”</em></p>

<p>Bersamaan dengan Jeremy yang tengah melesakkan batang penisnya pada liang kenikmatan milik Nathalie.</p>

<p><em>“We got —it.</em> Ahh...” Kalimat jawaban di iringi desah suara parau yang semakin lirih membuat Jeremy samar atas apa yang di ucapkan Nathalie. Wanita itu terus memejamkan matanya kala Jeremy sibuk menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Perlahan tapi pasti, gerakan pinggul Jeremy semakin lama semakin menjadi.</p>

<p>Desahan nikmat yang tidak bisa di tahan terus lolos dari bibir Nathalie juga Jeremy hingga saling bersahutan. Gema desah yang sarat akan nikmat itu memenuhi seluruh ruang kamar. Semilir angin dari pendingin udara seakan tidak lagi menyejukkan di tengah pergulatan nafsu birahi yang semakin menjadi.</p>

<p>Jeremy mengejar nikmat yang di damba-damba sedangkan Nathalie sudah berpasrah dengan sang suami yang tengah memegang kendali. Dua kaki Nathalie yang semula melingkar pada pinggang Jeremy, kini bertengger pada bahu sang tuan. Keduanya di tangkup oleh tangan Jeremy guna sebagai pegangan kala penetrasi.</p>

<p>Semakin lama Jeremy semakin keras menumbuk liang kenikmatan milik Nathalie hingga menembus titik sensitifnya. Wanita yang berada di bawahnya tengah mengerang, memejamkan kedua matanya sembari meremas sprei kuat-kuat.</p>

<p>“Jer...”</p>

<p>“Nathalie..”
<em>“Come on..”</em></p>

<p>Jeremy tau pasti saat ini Nathalie hampir sampai pada pelepasannya yang ke dua. Liang vaginanya mulai berkedut, ia kemudian melingkarkan kembali kedua kaki Nathalie pada pinggangnya. Tubuh Jeremy mendekat pada tubuh wanitanya sembari menghentakkan pinggulnya dalam-dalam. Jeremy membubuhi bibir Nathalie dengan kecupan basah yang singkat sembari memujinya.</p>

<p><em>“You&#39;re so beautiful, i love you</em> Nathalie...”</p>

<p><em>“I love you more,</em> Jer...” Balas Nathalie di tengah-tengah sengal deru nafasnya yang kian tak beraturan.</p>

<p>“Jer...”</p>

<p>“Nath, <em>you wanna cum?”</em></p>

<p>Nathalie hanya menganggukkan kepalanya saja, tenaganya sudah terkuras habis. Mendesah saja sudah hampir kehabisan suaranya.</p>

<p>“Oke, <em>let&#39;s go, babe.”</em></p>

<p>Jeremy menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Dua tangannya ia gunakan untuk bertumpu sembari mengusap peluh di kening Nathalie lalu mengecupnya berkali-kali sembari menghentakkan dalam-dalam batang penisnya. Jeremy merenggangkan tubuhnya dan mengangkat pinggulnya hingga penisnya hampir keluar, lalu menghentakkan keras pada liang surgawi milik Nathalie. Bersamaan dengan cairan sperma yang menyembur ke dalam rahim sang puan. Nathalie-pun sama-sama menuntaskan pelepasannya yang kedua dengan desah nikmat, serta tubuh yang bergetar hebat.</p>

<p>Jeremy masih sibuk dengan menghujani kecupan-kecupan mesra pada kening Nathalie.</p>

<p><em>“Thank you so much,</em> Nath.”
<em>“I love you.”</em></p>

<p><em>I love you more,</em> Jer...” Balas Nathalie di tengah deru nafas yang memburu. Perlahan Jeremy mengeluarkan batang penisnya yang penuh dengan sisa cairan pelepasan keduanya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Tangannya meraih bantal di atasnya namun terganjal sesuatu.</p>

<p>Jeremy kemudian terduduk, meraih selimut guna menutupi tubuh Nathalie dari terpaan dinginnya udara yang keluar dari pendingin ruangan. Ia mengambil bantal dan menemukan sesuatu yang tadi sempat mengganjal di bawah bantal tidurnya.</p>

<p>Kotak berukuran sedang, berwarna <em>mint</em>. Jeremy lantas menatap Nathalie penuh rasa penasaran, sedangkan wanita yang tengah menetralkan nafasnya itu hanya tersenyum lalu mengangguk, memberikan kode agar Jeremy segera membukanya.</p>

<p>“Kamu beliin aku kado apa Nath? Jam tangan? Tapi kok ringan gini.” Jeremy berujar sembari menggoyahkan kotak tersebut.</p>

<p>“Buka aja.” Titah Nathalie.</p>

<p>Jeremy kemudian membuka secara perlahan kotak tersebut, dan netranya membelalak ketika melihat isinya. Rona wajahnya tampak semburat merah penuh kebahagiaan. Di dalam kotak itu berisikan sebuah testpack dengan garis dua menandakan Nathalie kini tengah mengandung buah cintanya.</p>

<p>“Nath, <em>seriously</em>???”</p>

<p><em>“Yes!”</em> jawabnya tegas.</p>

<p>Jeremy lantas memeluk erat-erat tubuh Nathalie dan mencium keningnya berkali-kali guna menyalurkan rasa bahagia yang di rasakan saat ini sungguh tiada tara.</p>

<p>“Kenapa kamu nggak bilang dari awal Nath? Aku tadi terlalu keras ya? Kamu sakit?”</p>

<p>“Aku mau kasih kejutan Jer, jadi aku tahan-tahan aja.”</p>

<p>“Nggak bisa kayak gitu Nath, kasian calon <em>baby</em>-nya. Besok kita ke rumah sakit ya? Aku libur sehari, mau nemanin kamu periksa.” Ujarnya, tangannya mengusap pucuk kepala Nathalie.</p>

<p>“Abis periksa kan kamu bisa ke kantor Jer, nggak perlu sampai nggak masuk kerja.”</p>

<p>“Gapapa Nath, aku bos-nya. Bebas dong, suka-suka aku.”
“Aku mau sama kamu seharian.”</p>

<p>Nathalie hanya terkekeh. Jeremy kemudian mensejajarkan tubuhnya di samping Nathalie. Keduanya kini tengah berbagi kehangatan lewat peluk dan rengkuh di balik selimut tebal yang hangat.</p>

<p><em>“Go to sleep, babe..”</em> Ucap Jeremy sembari mengecup puncak kepala Nathalie.</p>

<p>“Iya, calon papa adek bayi.” Sahut Nathalie, wajahnya ia benamkan pada dada bidang sang suami.</p>

<p>Keduanya lalu tertawa bersamaan. Bahagia yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Perjalanan Jeremy dan Nathalie baru saja di mulai.</p>

<hr/>

<p><em>Hi! Terima kasih sudah membaca Alternative universe special for JJH&#39;s birthday.
For all questions and feedback, drop on my;</em>
CC: <a href="https://curiouscat.me/deorphic" rel="nofollow">https://curiouscat.me/deorphic</a>
TL: <a href="https://tellonym.me/deorphic" rel="nofollow">https://tellonym.me/deorphic</a></p>

<p><em>Kalian juga bisa Support karyaku melalui;</em>
<a href="https://trakteer.id/deorphic/tip" rel="nofollow">https://trakteer.id/deorphic/tip</a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sinandyou.writeas.com/the-journey-begins</guid>
      <pubDate>Mon, 14 Feb 2022 15:08:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>About feelings</title>
      <link>https://sinandyou.writeas.com/about-feelings?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Seorang wanita tengah menghabiskan malam di temani beberapa botol wine yang berjajar rapi di atas meja. Raut wajahnya terlukis jelas gurat rasa lelah yang yang ia pikul sendirian. Netranya sayu menatap hamparan lampu yang menghias ibu kota dari dalam hotel berbintang yang berdiri kokoh tinggi menjulang. Malam itu ia tengah menanti seseorang yang biasa menemaninya menjelajahi mimpi.&#xA;&#xA;Ia teguk kembali tiap tetes cairan yang sangat memabukkan itu, dirinya-pun larut dalam angan-angan. Sejak sore wanita itu terlibat pertengkaran dengan Damian, masalah sepele menurut dirinya namun tidak bagi Damian. Hingga larut malam lelaki yang di tunggu-tunggu sama sekali tidak bisa di hubungi dan wanita itu tidak mengetahui keberadaannya membuatnya semakin frustasi.&#xA;&#xA;Damian mungkin sudah bosan dan muak dengan adab seorang wanita bernama Gladys Anastasya. Bekerja dengan wanita itu bukan perkara mudah apalagi berurusan dengan hati. Dua tahun yang di lalui bersama cukup menguras emosi, waktu yang tidak sebentar ketika Damian bersikeras mendapatkan kepastian namun nyatanya nihil. Sang puan melenggang tanpa beban sedangkan dirinya kelimpungan menahan perasaan dan hasrat yang harus di pendam dalam-dalam. Damian dan Gladys tidak ada bedanya, sama-sama mempunyai sikap keras dan ego yang tinggi. &#xA;&#xA;Klek...&#xA;&#xA;Suara decitan pintu terdengar lantang di telinga, Gladys sontak berdiri dan mencari ke arah sumber suara. Tak lain adalah Damian, wanita itu terhuyung saat berjalan menghampiri Damian dan memeluknya erat seakan tak mau di tinggalkan. Beberapa jam yang lalu, lelaki itu sempat meminta ijin untuk pergi. Bukan sekedar pergi ke suatu tempat namun pergi menjauh dan berhenti dari segala aktivitas yang berdampingan dengan Gladys.&#xA;&#xA;Tangan kekar itu mengusap pelan punggung Gladys, mencoba menenangkan wanita yang tengah terisak dalam tangis. &#xA;&#xA;&#34;Dys.. Nggak usah nangis. cengeng, jelek.&#34; Ucapnya lirih. Sang puan semakin mengeratkan pelukannya dan menggelengkan kepalanya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan tinggalin gue. Gue gak bisa kalau gak ada lo, Dam..&#34; Ucap wanita itu, kepalanya mendongak menatap wajah Damian dari bawah. Lelaki itu membalas tatapan sang puan kemudian mengusap pucuk kepalanya lembut dan mengecup bibirnya singkat. Damian sesungguhnya sudah menyerah dengan hubungan yang tidak pernah ada titik temu. Lelaki itu tulus menyayangi Gladys namun sang puan lebih memilih saling berbagi ranjang dan kenikmatan tanpa harus ada embel-embel status. &#xA;&#xA;&#34;Lo udah habis berapa botol? Mau gue temenin minum?&#34; Tawar Damian dan di jawab anggukan oleh Gladys. Tangan wanita itu masih melingkar pada perpotongan leher Damian. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher sang tuan, semakin erat hingga Damian tidak bisa bergerak. &#xA;&#xA;Damian sangat paham dengan sikap Gladys kala itu, sudah sangat lama bersama membuat dirinya hafal bahkan di luar kepala. Damian meremas bokong sintal milik sang puan yang hanya mengenakan celana dalam, &#xA;menepuk sedikit keras kemudian mengangkat dan menggendongnya bak seekor koala yang sangat menggemaskan. &#xA;&#xA;Damian duduk di sebuah sofa yang menghadap ke dinding kaca membentang seluas kamar itu, tanpa melepaskan tubuh Gladys yang masih erat menempel pada peluk hangat Damian. Tangan lelaki itu sibuk menjamah bagian tubuh Gladys yang terekspos, meraba dan sesekali meremas paha serta bokong sintal milik wanita itu. Sedangkan Gladys merasa tubuhnya menerima rangsangan yang di ciptakan oleh Damian, membuat tubuhnya bergidik merinding.&#xA;&#xA;&#34;Dam..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan ninggalin gue.&#34; Rengek Gladys dengan raut wajah memohon penuh harap. Lelaki itu memalingkan muka kemudian mengambil gelas berisi wine di atas meja dan meminumnya. Damian tidak bisa tahan dengan rengekan, tatapan sayu, dan gurat wajah ayu wanitanya selalu membuat dirinya lemah. Setelah meletakkan kembali gelas di atas meja yang berada di belakang tubuh Gladys, ia kemudian menangkup kedua pipi sang puan dan menatap matanya.&#xA;&#xA;&#34;Dengerin gue. Keinginan gue gak muluk Dys, tapi lo anggap sepele.&#34;&#xA;&#34;Gue cuma pengen ada kejelasan sama hubungan kita, backstreet-pun gak masalah kalau lo gak mau di ketahui publik. Tapi lo tetep gak mau. Gue gak bisa kayak gini terus Dys, gue lebih baik pergi dari lo. Sekarang lo bisa bebas jalan sama cowok lain, tidur sama cowok lain atau lo mau balikan sama Erick? Lo bebas sekarang.&#34; Cecar Damian bertubi-tubi, meledakkan amarah yang mendidih di otaknya.&#xA;&#xA;&#34;Gue gak bisa Dam, gue gak bisa tanpa lo!&#34; Ucap Gladys, bulir air mata yang di tahan sedari tadi akhirnya lolos mengalir membasahi pipinya. Dua tangan yang masih menangkup pipi wanita itu ia gunakan untuk mengusap tetesan air mata yang menutupi wajah cantiknya, lalu ia kecup lembut kening sang puan. Damian kemudian mengangkat tubuh Gladys dan mendudukan di sofa tepat di sebelahnya.&#xA;&#xA;&#34;Ngomong sama lo kayak ngomong sama tembok. Keras.&#34; Damian berujar sembari berdiri dan berjalan ke arah dinding kaca guna melihat hamparan lampu kota yang terlihat meriah. Dua tangannya ia selipkan pada saku celana, angan Damian tak jauh-jauh dari sosok Gladys yang di cintainya.&#xA;&#xA;Dengan langkah gontai wanita itu menghampiri Damian yang tengah menikmati panorama malam. Ia peluk tubuh tegap dan gagah itu, mengusap sensual perut juga dada lelaki itu. Damian tidak bergeming, ia tengah mati-matian menahan hasrat ketika Gladys terus menggodanya.&#xA;&#xA;&#34;Dam.. I&#39;m yours, please stay here. Gue cuma punya lo Dam, apapun. Tubuh gue, bahkan nyawa gue sekalipun milik lo. Please, jangan tinggalin gue.&#34; Ujarnya. Gladys jelas tidak bisa jauh-jauh dari Damian. Bukan tanpa sebab, lelaki itu selalu ada 24/7 dalam kehidupannya. Mulai dari memejamkan mata hingga ia membuka kembali matanya. Tugas Damian bahkan melebihi seorang manager, apapun di lakukannya demi Gladys.&#xA;&#xA;Lelaki itu menoleh ke belakang saat wajah Gladys menempel pada ceruk lehernya. Hembusan nafas wanita itu terasa jelas menembus permukaan kulitnya. Damian kemudian membalikkan badannya, dan membawa tubuh Gladys ke hadapannya. Menyudutkan sang puan dalam kungkungan hingga tubuh wanita itu melekat pada dinding kaca di belakangnya. Damian membelai rambut wanitanya lembut, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Dua netra beradu seakan mereka menemukan titik temu.&#xA;&#xA;Tangan Damian mengusap lembut pipi Gladys sebelum akhirnya mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. Damian sungguh tidak bisa jauh dari Gladys, namun berada di dekatnya-pun seperti menyakiti diri sendiri. Ciuman yang awalnya lembut kelamaan menjadi sangat menuntut. Tangan Damian tak bisa diam, satu persatu melepaskan kancing kemeja kebesaran yang di kenakan Gladys, tak lain itu adalah pakaian milik Damian. Wanita itu-pun tak mau kalah, tangannya menelusup pada kaos tipis yang di kenakan oleh Damian. Meraba perut dan dada sang tuan dengan sensual. Tanpa melepaskan pagutan diantara keduanya, Damian berhasil melucuti pakaian yang menempel pada tubuh Gladys.&#xA;&#xA;&#34;Promise me.. Don&#39;t leave me alone.&#34; Ucap Gladys dengan wajah memohon, namun Damian sama sekali tidak bergeming. &#xA;&#xA;&#34;Gue gak akan ninggalin lo Dys, asalkan lo nurut sama perintah gue.&#34; Timpal lelaki itu, ia mulai jengah dengan sikap Gladys yang menurutnya egois dan keras kepala. Gladys mengangguk bener kali tanda setuju dengan permintaan Damian. Detik berikutnya wanita itu beraksi sangat beringas, Gladys melepaskan kaus yang di kenakan Damian dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian melepaskan belt melucuti celana jeans milik lelaki itu hingga tersisa boxer-nya saja. Di hadapannya aset milik Damian terlihat hampir ereksi sem